menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Kamis, 21 Februari 2019

Renungan Harian GML : APAKAH KRISTUS MEMPERHITUNGKAN AKU?

Kamis, 21 Pebr 2019


BACAAN
Kej 9:1-13– “Pelangi-Ku akan Kutempatkan di awan sebagai tanda perjanjian antara Aku dan bumi”
Mrk 8:27-33* – “Engkaulah Mesias”

RENUNGAN
1.”Menurutmu, siapakah Aku ini?” Doa-doa kita harus mampu membawa kita untuk menanggapi pertanyaan Kristus tersebut. Pertanyaan tersebut merupakan test untuk perjalanan iman kita. Kita harus menanggapi pertanyaan tersebut dari perspektif ini: “Siapa Kristus bagiku?” Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pengalaman berelasi dengan Kristus secara pribadi. Ketika relasi kita dengan Kristus intim dan mendalam, maka tanggapan kita akan terasa menyentuh kehidupan, bahkan orang lain pun  ikut merasakannya. Bila relasi kita dengan Kristus dangkal dan hampa, maka jawaban kita hanya akan mengulang-ulang apa yang diajarkan oleh para katekis. Tanpa makna.

2. Petrus menerima Yesus sebagai Mesias, tetapi bukan Mesias seperti dikehendaki Yesus. Petrus menginginkan Mesias seperti  yang ia mau, yaitu Mesias yang mampu menyelesaikan segala kesulitan dan membebaskan Israel dari penjajahan Romawi. Ia keracunan “ragi Herodes dan Parisi.”

3. Petrusku malang Petrusku sayang. Pada suatu saat ia menyatakan pikirannya tentang Bapa, tetapi pada kesempatan lain, ia menyatakan pikiran setan. Maka Petrus menjadi target pencobaan setan agar lepas dari Kristus. Penderitaan Kristus akan menjadi ikrar bahwa iman para rasul tidak pernah akan gagal: “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur ... “ (Luk 22:32). Doa Yesus menghasilkan buah: Petrus lahir kembali pada hari Pentakosta. Ia menjadi rasul Gereja yang gagah perkasa.  Bagaimana dengan aku?

Selasa, 19 Februari 2019

Renungan Harian GML : SELALU INGAT TUHAN

Selasa, 19 Pebr 19


BACAAN
Kej 6:5-8; 7:1-5.10 – “Aku akan menghapuskan manusia yang Kuciptakan dari muka bumi”
Mrk 8:14-21 – “Awaslah terhadap ragi orang Parisi dan ragi Herodes”

RENUNGAN
1.Dari Injil, betapa gampangnya kita kehilangan warta Allah, karena kita begitu dikuasai oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan serba cepat. Kita begitu haus akan kesuksesan dan terobsesi memiliki banyak uang. Hati yang gelisah dan merasa tidak aman dijauhkan dari visi kehidupan yang sehat, karena tidak memiliki pondasi yang kuat. Jiwa yang hidup dari pondasi yang benar tahu bahwa ia milik Kristus dan melaksanakan kehendak-Nya.

2.Salah satu dosa paling besar umat Israel adalah melupakan karya agung Allah yang dikerjakan Allah bagi mereka. Kita bisa memiliki sikap yang sama, jika tidak bersukur walau pun menerima banyak dari Allah. Kita harus ingat hal ini: Allah yang menciptakan kita dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik dalam diri kita, menyelamatkan kita dan menyertai kita. Cepat lupakah kita?

3.Dalam kehidupan, kita perlu “detox” untuk membebaskan kita dari tujuan-tujuan yang kurang/tidak penting. Detox ini hanya bisa dijalankan lewat doa. Dengan doa, kita menguji dan  melatih keinginan-keinginan dan menyucikannya kembali dan mengarahkannya kepada Allah. Bila “detox” ini kita jalankan secara rutin dan sungguh-sungguh, Allah dapat menyembuhkan banyak penyakit kejiwaan yang ada pada kita.

Senin, 18 Februari 2019

Renungan Harian GML : MENCINTAI KRISTUS?

Senin, 18 Pebr 2019

BACAAN
Kej 4:1-15.25 – “Kain memukul Habel, adiknya, lalu membunuh dia”
Mrk 8:11-13 – “Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

*RENUNGAN*
1. Yesus sungguh mencintai kita dan tidak pernah menolak jiwa yang rendah hati yang meminta apa yang baik yang ia butuhkan demi keselamatan dan kepenuhan jiwanya. Jika kita menginginkan seperti apa yang diinginkan oleh orang-orang Parisi, maka Allah akan pergi meninggalkan kita dan kehidupan rohani kita menjadi dingin dan beku. Bila hal ini terjadi, maka saatnya bagi kita untuk memurnikan kembali hati kita yang egois. Kita menghendaki kebahagiaan banyak hal, tetapi Kristus menginginkan kita untuk menerima apa yang menjadi kehendak-Nya. Itulah kepenuhan hidup.

2. Yesus hadir dan berbicara kepada jiwa kita agar kita selalu tumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Tetapi Tuhan akan diam dan pergi, jika kita menyeret Dia untuk mengikuti pikiran dan kalkulasi kita. Dia bukanlah Superman yang hanya datang ketika kita menghadapi hal-hal buruk. Lebih dari itu, Kristus ingin selalu campur tangan dalam kehidupan kita. Dia menginginkan kita selalu bersatu dengan-Nya dan mencurahkan rahmat-Nya dari hari ke hari, dan membagikan hidup-Nya untuk kita. Ia menghendaki hidup yang penuh percaya kepada-Nya seperti kepercayaan seorang anak kecil

3. Kristus memberikan tanda-tanda pasti kedatangan-Nya dalam hidup kita. Pertama, dalam tanda salib. Hanya iman yang akan memahami tanda salib ini. Di sana terjadi perjumpaan antara dosa kita dan belaskasih Allah. Dosa merupakan kejahatan yang membuat hidup kita menyimpang. Obat untuk itu adalah Salib Kristus. Tanda yang lain adalah Ekaristi. Ekaristi merupakan tanda yang paling kuat, karena di dalamnya Kristus hadir, merendahkan diri-Nya untuk tinggal bersama kita. Dalam rupa roti dan anggur Ia mengunjungi kita. (MS,berkat.id)

Kamis, 07 Februari 2019

Renungan Harian GML : BERDUA-DUA

Kemis Pon, 7 Pebr 2019

BACAAN
Ibr 12:18-19.21-24 – “Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi”
Mrk 6:7-13 – “Yesus memanggil kedua murid dan mengutus mereka berdua-dua”

RENUNGAN
1. Tuhan Yesus mengutus para rasul berdua-dua untuk menjadi saksi-Nya lewat teladan hidup mereka. Mereka diharap mengembangkan kerukunan dan kebaikan hati di antara mereka, sehingga orang lain yang melihat akan terdorong untuk berseru, “lihat, betapa mereka mengasihi satu sama lain.” Tim para rasul ini menunjukkan kesatuan budi dan hati, saling berbagi apa yang mereka peroleh: penginapan, keberhasilan maupun kegagalan. Dengan sikap ini Kristus ada di tengah-tengah mereka.

2. Kesaksian hanya oleh satu orang bisa dianggap omong kosong, tetapi jika kesaksian itu lebih dari satu orang, maka bukti itu menjadi lebih kuat. Para rasul memberikan kesaksian tentang apa yang dibuat Yesus dan tanda-tanda yang Ia kerjakan: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, dan seterusnya. Sangat indahlah bila kita bisa memberi kesaksian seperti para rasul ini di tempat kerja atau dalam keluarga masing-masing.

3. Yesus mengajarkan  prinsip teamwork. Teman sejawat akan membantu kita untuk waspada melawan bahaya yang mengancam kesehatan badan dan kerohanian, doa pun bisa bersama-sama. Yesus memberi jaminan “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:19). Kerja tim juga akan membantu keefektipan kerasulan: keduanya akan saling berbagi pengetahuan, pengalaman pribadi, dan cara pandang terhadap peristiwa. Satu sama lain saling melengkapi, berbagi rahmat, kemampuan dan mutu. “Dua kepala lebih baik daripada satu kepala.”
(MS,www.berkat.id)

Sabtu, 02 Februari 2019

Renungan Harian GML : BERBICARA DARI HATI TUHAN



Sabtu, 2 Pebr 2019, Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

BACAAN
Maleaki 3:1-4 – “Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya”
Ibr 2:14-18 – “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya”
Luk 2:22-40 – “Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”

RENUNGAN
1. Anak Manusia, Yesus Kristus, untuk pertama kalinya memasuki Bait Allah. Ia memasuki rumah Bapa. Ia, sebagai Anak Domba sempurna, sudi dipersembahkan di tempat buatan manusia. Dan di Bait Allah itu, semua manusia mengharapkan kedatangan-Nya. Anak Domba sejati datang untuk terakhir kalinya ke tempat persembahan. Bait Allah merupakan sebuah tempat pengorbanan untuk memperoleh penebusan dari dosa-dosa mereka, dan tempat penyembahan kepada Allah yang benar. Pada hari ini, lewat Maria, datanglah satu-satunya kurban penyelamat. Dengan itu seluruh kurban yang dibuat manusia dengan mengurbankan kambing, domba, sapi, tak ada gunanya.

2. Melalui ritual persembahan sederhana, Sang Anak menjadi milik Bapa. Adakah orang yang dapat berbicara melalui kedalaman hatinya, hati yang lapar dan haus akan keselamatan jiwa-jiwa? Ialah Maria. Ia memiliki hati murni dan sederhana karena penyerahannya. Maria memantulkan kepada dunia apa yang telah dikomunikasikan Anaknya kepadanya. Yesus adalah daging dari dagingnya. Yesus adalah daging kita oleh karena rahmat. Ia memampukan kita untuk menjadi persembahan bagi Tuhan dalam tugas perutusan dalam nama-Nya. Hal itu mungkin karena kehadiran Kristus yang hidup yang menggerakkan hati dan kehendak kita.

3. Karena pengorbanan Kristus, maka Bait Suci yang sesungguhnya adalah Tubuh Kristus yang tergantung di kayu salib yang merupakan persembahan sempurna. Karena baptisan, kita diberi keistimewaan untuk berbicara tentang Kristus yang terpantul dalam hidup kita. Maka terlebih dahulu kita harus mengalami “sebilah pedang akan menusuk hatimu ...” artinya kita mampu mengubah hati kita yang keras seperti batu menjadi hati yang baru seperti hati Yesus.


Sabtu, 12 Januari 2019

Renungan Harian GML : KRISTUS HARUS MAKIN BESAR

Setu Pahing, 12 Jan 19


BACAAN
1Yoh 5:14-21 – “Allah mengabulkan doa kita”
Yoh 3:22-30 – “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”

RENUNGAN
1. _”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”_ Sebuah tuntutan yang harus membakar hati setiap rasul Tuhan dan pemimpin Gereja. Yang terjadi pada kita sering sabaliknya: kita mencari diri sendiri, entah pujian atau sanjungan. Ada orang yang mau pelayanan ketika memberikan kehormatan dan nama besar bagi dirinya. Orang seperti itu akan gampang kecewa, marah dan mutung ketika tidak ada yang berterima kasih kepadanya. Kita perlu mencontoh Yohanes Pembaptis: rendah hati, Kristus nomer satu dan harus makin besar, walaupun kita dicela dan tidak ada orang berterima kasih atas jerih payah kita.

2. Setiap hari, hati Yohanes penuh cinta yang selalu mengarah kepada Mesias yang akan datang. Pelayanan dan hidup rohaninya berpusat pada Kristus. Keheningannya di padang gurun membuat cintanya tumbuh murni. Sebagaimana Yohanes katakan, apa yang ia terima ia terima dari surga. Cintanya kepada Kristus bukanlah usaha semalam, tetapi hasil usaha bertahun-tahun lewat doa, penyangkalan diri, dan kesetiaan terhadap hidup pertobatan.

Kamis, 10 Januari 2019

Renungan Harian GML : KEHADIRAN YANG MENGAGUMKAN

Kemis Kliwon, 10 Jan 2019


BACAAN
1Yoh 4:19-5:4 – “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya”
Luk 4:14-22 – “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya”

RENUNGAN
1. Dalam kuasa Roh, Yesus kembali ke Galilea. Seluruh misi Kristus tidak ada lain kecuali menggenapi pasal yang Ia baca. Panggilan hidup kita tidak lain kecuali mewujudkan dan menggenapi tugas baptisan yang ditentukan oleh Roh Kudus. Tuhan tidak bekerja sendirian. Ia diutus Bapa dan dalam kesatuan dengan Roh Kudus. Dari sini semua buah perutusan dan kuasa-Nya mengalir. Kita harus menjadikan diri kita sebagai orang yang “diutus.” Hal tersebut mengharuskan kita menghasilkan buah limpah melalui tindakan cinta dan ketaatan kepada Allah

2. Yesus menutup gulungan Kitab itu. “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Jawablah pertanyaan dalam kitab Wahyu 5:2, _“Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”_ Banyak orang bisa membaca Kitab, tetapi hanya Satu yang mampu membuka kunci keselamatannya. Banyak orang bisa menghapal teks, tetapi hanya Satu yang mampu membakar hati manusia. Banyak orang bisa berkhotbah dengan mengagumkan, tetapi hanya Satu yang mampu memuaskan mereka yang lapar akan kebenaran. Kata-kata yang kita sampaikan hanya asbun, omdo dan nato bila tanpa suara Kristus. Hanya Satu pribadi yang mampu mengubah hati manusia, dan kita hanya sebagai rasul ketika Kristus menggerakkan tangan kita.

3. _”Semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya.”_ Kristus, dalam seluruh totalitas pribadi-Nya, datang untuk meringankan beban-beban kita dan mengangkat jiwa kita dengan pengajaran, mukjizat, dan penyembuhan. Tuhan juga menjanjikan banyak hal yang baik bagi kita, tetapi semuanya itu akan sia-sia jika tidak berasal dari Kristus.