menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Minggu, 31 Desember 2017

Renungan Harian GML : Pesan Paus Fransiskus tentang KELUARGA.

Bacaan Liturgi 31 Desember 2017

Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf

Bacaan Injil
Luk 2:22-40
Anak itu bertambah besar dan penuh hikmat.

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat,
Maria dan Yusuf membawa Kanak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan,
seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan:
     Semua anak laki-laki sulung
     harus dikuduskan bagi Allah.
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban
menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya,
yang menantikan penghiburan bagi Israel.
Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Atas dorongan Roh Kudus
Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika Kanak Yesus dibawa masuk oleh orangtua-Nya
untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
    "Sekarang Tuhan,
     biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,
     sesuai dengan firman-Mu,
     sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
     yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
     yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
     dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu
yang dikatakan tentang Kanak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
-- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Pada waktu itu
ada pula di Yerusalem seorang nabi perempuan,
anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana.
Ia sudah sangat lanjut umurnya.
Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya,
dan sekarang ia sudah janda,
berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah,
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada hari itu Hana pun datang ke Bait Allah
dan mengucap syukur kepada Allah,
serta berbicara tentang Kanak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus
ke kota kediaman mereka,
yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.


ATAU BACAAN SINGKAT:
Luk 2:22.39-40

Anak itu bertambah besar dan penuh hikmat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat,
Maria dan Yusuf membawa Kanak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan.

Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus
ke kota kediaman mereka,
yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.


Renungan
Dalam Perayaan Keluarga Kudus, saya ingat kata-kata Paus Fransiskus ini:

Pesan Paus Fransiskus
tentang KELUARGA.

"Tidak ada keluarga yang sempurna.
  Kita tidak punya orang tua yang sempurna,
  kita tidak sempurna,
  tidak menikah dgn orang yg sempurna,
  kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.

Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain.
  Kita kecewa dengan satu sama lain.
  Oleh karena itu,
  tidak ada pernikahan yang sehat
  atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan.

Pengampunan adalah
  penting untuk kesehatan emosional kita
  dan kelangsungan hidup spiritual.

Tanpa pengampunan
  keluarga menjadi
  sebuah teater konflik &
  benteng keluhan.

Tanpa pengampunan
  keluarga menjadi sakit.

Pengampunan adalah
  sterilisasi jiwa,
  penjernihan pikiran &
  pembebasan hati.

Siapa pun
  yang tidak memaafkan
  tidak memiliki ketenangan jiwa & persekutuan dengan Allah.

Rasa sakit adalah
  racun yg meracuni &  membunuh.

Mempertahankan luka hati adalah
  tindakan merusak diri sendiri.
Ini adalah Autofagi.

Dia yang tidak memaafkan
  memuakkan fisik, emosional dan spiritual.

Itulah sebabnya
  keluarga harus menjadi
  tempat kehidupan &
  bukan tempat kematian;
  sebuah tempat penyembuhan
  bukan tempat penuh dgn penyakit;
  sebuah panggung pengampunan dan
  bukan panggung rasa bersalah.

Pengampunan
  membawa sukacita
sedangkan kesedihan
  membuat hati luka.

Dan pengampunan
  membawa penyembuhan,
sedangkan rasa sakit
  menyebabkan penyakit."

Rm Mart

Sabtu, 30 Desember 2017

Renungan Harian GML : IA BERTAMBAH BESAR DAN MENJADI KUAT, PENUH HIKMAT, DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADA-NYA

SABDA, Sabtu, 30-12-2017


BACAAN
1Yoh 2:12-17 – “Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya”

Luk 2:36-40 – “Hana berbicara tentang kanak-kanak Yesus”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang seorang nabi wanita yang bernama Hana. Ia seorang janda, sudah sangat tua, 84 tahun. Ia tinggal di kenisah, penuh iman dan berdoa siang dan malam.

2.Hana dan Kanak-kanak Yesus. ”Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” Ia datang ke kenisah ketika Simeon menatang  kanak-kanak Yesus dan berbicara kepada Maria mengenai masa depan anaknya itu (Luk 2:25-35). Hana melihat seorang Anak yang digendong ibunya dan Hana mengetahui bahwa Anak tersebut adalah Penyelamat dunia.

3.Kehidupan Yesus di Nazaret. “... kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Anak Manusia menjadi sama dengan kita dalam semua hal dan mengambil rupa sebagai seorang Hamba, yang taat sampai mati bahkan mati di kayu salib (Phil 2:7-8).

4.Yesus hidup di Nazaret selama 30 tahun.  Penuh hikmat berarti memahami pengetahuan dan pengalaman manusia. Hal ini didapat melalui pengalaman hidup bersama masyarakat-Nya. Bertambah besar dan menjadi kuat berarti menjadi dewasa dalam kepribadian. Semuanya berproses melalui suka duka, melalui penemuan-penemuan baru dengan segala frustrasinya, kemarahan dan kasih-Nya. Hal ini terjadi dalam keluarga bersama orang tua-Nya, saudara-saudari dan teman-teman-Nya. Tumbuh dalam kasih karunia Allah berarti menemukan kehadiran Allah di dalam kehidupan, di dalam semua  tindakan yang Ia buat, dan panggilan hidup-Nya. Ia telah belajar taat dalam seluruh penderitaan-Nya (Hibr 5:8).

5.”Bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Bagaimana pengalaman Anda?

Rm Maxi Suyamto

Senin, 25 Desember 2017

Renungan Natal : “Firman telah menjadi manusia”

Natal 25 Desember 2017

Yoh 1:1-18
“Firman telah menjadi manusia”

“Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan Allah” (Yoh 1:1-2). Dari ayat ini, kita diajak tuk kembali kepada Kisah Penciptaan di Kejadian 1:1-2:4.

Pada Kejadian 1:3, pada hari pertama penciptaan, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah Terang.’ Lalu terang itu jadi.” Dari ayat ini, kita diajak tuk memahami Injil hari ini, bahwa “terang” itu telah benar-benar hadir di tengah-tengah kita – “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh 1:9). Dan di hari yang terakhir, Allah menciptakan manusia (Kej 1:26), dan kini “Firman” itu telah benar-benar menjadi manusia dalam diri Tuhan Kita, Yesus Kristus (Yoh 1:14), “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Jadi, Natal pada intinya adalah sebuah perayaan yang merayakan kehadiran Tuhan kita yang mau bersolider dengan kita. Tuhan yang mau menjadi (a) “terang” dan (b) “manusia” bagi kita. Tuhan yang tidak lagi jauh, melainkan Tuhan yang begitu dekat. Tuhan yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Ia dilahirkan; Ia disusui; Ia berjalan di tanah yang kita injak; Ia makan makanan yang kita makan; bahkan Ia menghirup udara yang kita hirup saat ini. Inilah Tuhan kita – “Tuhan Yang Maha Dekat”.

Maka pesan Natal pun sungguh sangat sederhana, “Maukah kita menjadi ‘terang’ dan ‘manusia’ bagi sesama kita, khususnya mereka yang tersingkirkan, terlupakan, dan tak dicintai?”

Selamat Natal 2017
Semoga Damai Natal selalu menyertai kita!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Kamis, 21 Desember 2017

Salam Elisabeth dan Doa Rosario


Bacaan Liturgi 21 Desember 2017

Masa Adven 21 Desember
PF S. Petrus Kanisius, Imam dan Pujangga gereja
Bacaan Injil
Luk 1:39-45 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, 
bergegaslah Maria ke pegunungan 
menuju sebuah kota di wilayah Yehuda. 
Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, 
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, 
dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, 
lalu berseru dengan suara nyaring, 
"Diberkatilah engkau di antara semua wanita, 
dan diberkatilah buah rahimmu. 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 
Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, 
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 
Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, 
sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana." 

Renungan
Saya masih ingat, setiap kali pergi berziarah ke Sendang Sono, saya melihat kelompok-kelompok peziarah mendoakan Doa Rosario sambil berjalan kaki. Saya waktu itu masih SD. Saya pun ikut mendoakannya sepanjang jalan. Bedanya saya tidak menggunakan untaian kalung Rosario karena saya tidak memilikinya waktu itu. Persepuluhan Salam Maria saya doakan dengan menggunakan jari tangan, yang jumlahnya pas sepuluh. Kini saya tahu bahwa Doa Salam Maria itu bersumber dari kisah dalam Injil hari ini. Kata-kata dalam doa itu diucapkan pertama kali oleh Elisabeth. Dengan mendoakannya saya diingatkan kembali untuk meneladani iman Maria.
Maria adalah teladan orang yang menunjukkan imannya dalam tindakan, dalam perbuatan, dan dalam perjuangan hidup. Imanya nyata dalam kesaksian hidup. Dia tidak hanya mengatakan, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu" (lihat  Luk 1:38), namun dia juga "bergegas" untuk melihat karya Tuhan dalam kehidupan Elizabeth, sanaknya. Perjalanan ke Yudea, tempat Elisabeth tinggal, bukanlah perjalanan mudah seperti berkunjung ke tetangga kota. Perjalanan ke Yudea pada waktu itu adalah perjalanan yang panjang dan sulit, kurang lebih memakan waktu tiga hari. Maria tidak mengurungkan niatnya hanya karena sulitnya perjalanan itu. Ia pergi mengunjungi Elizabeth untuk bersukacita dengannya dan memuji Tuhan yang telah memenuhi janji-Nya.
Ketika terjadi pertemuan antara Maria dan Elizabeth, Yohanes Pembaptis yang masih bayi dan di dalam rahim itu, melonjak kegirangan.  Dia member isyarat bahwa bayi yang dikandung Maria adalah Yang Diurapi Tuhan. Elizabeth sendiri sebenarnya belum diberitahu bahwa Maria mengandung. Oleh karena itu semua kata yang diucapan oleh Elizabeth bersumber dari Roh Kudus (Luk 1:41). Roh Kudus itulah yang membuat Elisabeth mengetahui bahwa Maria adalah “yang diberkati”. Maria "diberkati" karena dia telah dipilih secara khusus oleh Tuhan. Roh Kudus juga membuat Elizabeth mengerti bahwa bayi yang dikandung Maria adalah - Putra Allah, Mesias yang dijanjikan. Mesias inilah yang akan melakukan menebus dosa dunia. Elisabeth menyebut Maria sebagai ibu dari Tuhan. Hanya Roh Kudus yang bisa membuat Elizabeth mengerti dan memahami semua itu. Maria dan Elisabet dan juga Zakharia,  meskipun dia telah menjadi tuli dan bisu (Luk 1:20) adalah orang-orang yang pertama di bumi yang melihat kuasa Tuhan janji keselamatan yang telah ratusan tahun diberikan.
Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Maria adalah ibu Yesus. Maria adalah wanita yang diberkati, berkat satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang wanita. Bersama dengan Elizabeth, kita dapat bersukacita atas karya Tuhan dalam kehidupan Maria. Berama Elizabeth dan Maria, kita dapat memuji Tuhan karena keselamatan kita melalui Yesus. Melalui wafat dan kebangkitan Yesus, keselamatan kita dijamin. Tiap kali berdoa Rosario dan berdoa Salam Maria, kita mengenangkan kembali keselamatan kita ini.

Rm Supriyono Venantius SVD

Renungan Harian GML : BERBAGI KEBAHAGIAAN DAN SUKACITA SEPERTI BUNDA MARIA

SABDA, Kamis, 21-12-2017


BACAAN
Kid 2:8-14 – “Lihatlah, kekasihku datang, melompat-lompat di perbukitan”

Luk 1:39-45 – “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”

RENUNGAN
1.Lukas menekankan kesiapan Maria dalam melayani sebagai hamba. Setelah diberi tahu tentang kehamilan Elisabeth, tanpa diperintah oleh malaikat, Maria, dengan segera, menuju ke rumah Elisabeth untuk membantu dia. Hal ini menandakan bahwa Maria percaya pada perkataan malaikat.

2.Dalam kisah ini, Elisabeth mewakili Perjanjian Lama yang hampir selesai, sedangkan Maria mewakili Perjanjian Baru. Perjanjian Lama menerima Perjanjian Baru dengan penuh syukur, percaya, dan suka cita: “Ketika Elisabeth  mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (ay 41). Dalam perjumpaan dua wanita ini dinyatakan pemberian Roh Kudus: “Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus” (ay 41). Maria sudah terlebih dahulu menerima Roh Kudus: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

3.Elisabeth berseru dengan suara lantang: “Diberkatilah engkau ...” (ay 42). Diberkatilah berarti berbahagialah, semacam kegembiraan dari dalam, tanpa dipengaruhi unsur dari luar. Maria terberkati, karena menjadi ibu dari Anak Allah dan percaya kepada Sabda Allah. Berkat itu pula yang akan menjadi pedang yang menembus hati Maria, yang terlaksana ketika Anaknya mati disalib.

4.Dipilih oleh Allah merupakan anugerah, sekaligus membawa tanggung jawab. Anugerah yang diterima oleh Maria berupa mahkota, baik mahkota suka cita maupun mahkota duka cita mulai dari palungan sampai palang salib.

5.Suka cita Maria tidak luntur dan tidak hilang hanya karena kepedihan dukacitanya. Maria selalu dikuatkan oleh iman, harapan, dan janji Allah yang akan  terpenuhi. Maria yakin bahwa tak ada seorang pun yang akan merampas suka cita dari dirinya (Yoh 16:23). Allah memberikan suka cita secara ajaib yang memungkinkan kita untuk menanggung setiap kepedihan dan derita karena salib.

6.Sikap Maria dalam Injil hari ini mengajarkan kepada kita: 1) Jangan menutup diri, tetapi keluar dan memberi perhatian kepada orang yang memiliki kebutuhan konkret dan membantu mereka sedapat mungkin. 2) Berbagi suka cita dan kebahagiaan. Ketika suka cita dan kebahagiaan  kita bagikan, maka akan menghasilkan buah lipat yang bisa dirasakan oleh banyak orang. 3) Hidup kita ini terlalu pendek untuk menangis atau sedih. Hidup kita ini terlalu pendek untuk tidak berbagi atau untuk tidak berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

7.Mohon rahmat Tuhan untuk mampu meneladani Bunda Maria.

Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 19 Desember 2017

Renungan Harian GML : APA YANG TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA, MUNGKIN BAGI ALLAH


SABDA, Selasa, 19-12-2017


BACAAN
Hak 13:2-7.24-25a – “Kelahiran Simson diberitahukan oleh malaikat”

Luk 1:5-25 – “Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitahukan oleh Gabriel”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bicara tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Zakaria (Luk 1:5-25), sedangkan Injil besok pagi bicara tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria (Luk 1:26-38). Lukas menyusun urutan sedemikian supaya kita bisa membaca teks dengan penuh perhatian dan  bisa membedakan keduanya.

2.Pesan pertama malaikat kepada Zakaria ialah: “Jangan takut” (ay 13). Sampai saat itu, Allah masih dianggap sebagai Yang Menakutkan bagi kebanyakan orang. Maka  malaikat segera menambahkan: “doamu telah dikabulkan” (ay 13). Dalam kehidupan kita tiap hari, harus kita yakini, bahwa segala sesuatu adalah buah dari doa.

3.Dibandingkan dengan kabar malaikat kepada Maria, Zakaria mewakili Perjanjian Lama. Ia percaya kepada Tuhan, tetapi imannya sangat lemah, maka sesudah kunjungan itu, ia menjadi bisu, tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain sampai janji Allah itu terpenuhi.

4.Gabriel mengungkapkan semua hal penting tentang anak yang akan dilahirkan, yang akan disebut Yohanes: “ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh  dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya” (ay 15-17).

5.Tugas perutusan Yohanes nantinya sangat penting. Sebagai seorang seorang nabi (Mk 11:32), ia diharapkan sebagai Elia yang akan kembali untuk melaksanakan pembangunan kembali  kehidupan masyarakat dan menata kembali moral bangsa yang sudah hancur.

6.Apa yang penting bagi kita? 1) Kita dipanggil untuk percaya, bahwa Allah dapat melakukan apa yang tidak mungkin  di mata manusia. Bila Allah menghendaki, maka hanya dengan satu kata saja, Allah mampu membuat segalanya. 2) Kita belajar dari Elisabeth, bahwa ia tidak larut dalam kegembiraan semata, lebih dari itu, ia larut dalam pujian atas kuasa Allah. Dan semua yang terjadi atas dirinya merupakan “suatu perbuatan Tuhan bagiku” (ay 25).

Rm.  Maxi Suyamto

Senin, 18 Desember 2017

Renungan Harian GML : YOSEPH: PRIBADI YANG BERTANGGUNGJAWAB


SABDA, Senin, 18-12-2017

BACAAN
Yer 23:5-8 – “Aku akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud”

Mat 1:18-24 – “Yesus akan lahir dari Maria, yang bertunangan dengan Yoseph, anak Daud”

RENUNGAN
1.Dalam Injil Lukas, kisah kanak-kanak Yesus (Bab 1 dan 2) berpusat di sekitar Maria. Tetapi di dalam Injil Matius, kisah kanak-kanak Yesus (Bab 1 dan 2 Injil Matius) berpusat di sekitar Yoseph, tunangan Maria. Yoseph adalah keturunan Daud. Melalui dia, maka Yesus termasuk garis keturunan Daud. Dengan demikian, dalam Yesus, janji Allah terhadap Daud dan keturunannya terpenuhi.

2.Kesatuan Maria dengan Yoseph merupakan hal yang tidak biasa, dan bertentangan dengan hukum pada waktu itu, karena Maria hamil sebelum hidup bersama Yoseph. Kalau Yoseph mengikuti paham keadilan  para ahli kitab dan orang-orang Parisi, ia akan  mengadukan Maria ke pengadilan, dan Maria akan dijatuhi hukuman mati dengan dilempari batu.

3.Namun Yoseph memiliki paham keadilan yang berbeda dengan mereka. Ia melaksanakan apa yang di kemudian hari diajarkan Yesus: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Parisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Dengan alasan ini, Yoseph, tidak ingin menolak Maria dengan meninggalkannya diam-diam.

4.Panggilan Allah ditanggapi dengan cara berbeda-beda. Yoseph mampu memahami apa yang terjadi dalam diri Maria lewat mimpi. Dalam mimpinya, seorang malaikat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk memperjelas asal-muasal kehamilan Maria. Bayi yang ada dalam rahim Maria berasal dari Roh Kudus.

5.Ketika segala sesuatu jelas bagi Maria, ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ketika segala sesuatu jelas bagi Yoseph, “Yoseph berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24).

6.Sejauh mana, kita telah menghayati masa Adven sampai sekarang ini agar perayaan Natal menjadi saat yang penuh rahmat?

Rm Maxi Suy

Sabtu, 16 Desember 2017

Renungan Harian GML : KITA MESTI MERAYAKAN SAKRAMEN TOBAT AGAR LEBIH PANTAS MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA



Sabtu, 16 Desember 2017, Sabtu Adven II
Bacaan: Sir 48:1-4.9-11; Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19; Mat 17:10-13;

Bacaan Injil:
Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.


Renungan:
Semakin mendekati Hari Raya Natal, semakin banyak tokoh penting dalam Kitab Suci diperkenalkan atau ditampilkan agar menarik perhatian kita. Dalam bacaan Injil hari ini, diperkenalkan tiga tokoh penting: Elia, Yohanes Pembaptis, dan Tuhan Yesus sendiri.
Elia dikenal dalam Kitab Suci sebagai nabi yang akan datang kembali dan memulihkan segala sesuatu. Dalam Kitab Maleakhi, disebutkan, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Ini digemakan kembali dalam bacaan pertama dari kitab Putera Sirakh.
Dalam Injil Matius, Yesus memang menyejajarkan peran Yohanes dengan Elia. Yohanes datang untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, sama seperti dinubuatkan oleh nabi Maleakhi. Kotbah Yohanes pun menyerukan agar orang-orang bertobat karena kerajaan Sorga sudah dekat. 
Mempersiapkan kedatangan Tuhan dalam Hari Raya Natal nanti, kita dapat mengikuti apa yang dianjurkan Yohanes Pembaptis: bertobat. Apa artinya? Artinya kita mesti merayakan sakramen tobat agar lebih pantas menyambut kedatangan Tuhan. Dosa membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus, dan hanya sakramen tobat yang dapat memulihkan hubungan itu. 
Kita dapat pula berbuat sebagaimana menjadi tugas nabi Elia yang adalah memperdamaikan orang tua dan anak-anak mereka. Maka, menyambut Hari Raya Natal, mungkin kita dapat juga berdamai dan rukun kembali dengan anggota keluarga dan sanak saudara kita. Ini dapat menjadi wujud konkret pertobatan kita.Meneladan hidup Yohanes pembaptis yang sederhana dapat juga kita lakukan. Yohanes adalah pribadi yang sederhana (berpakaian bulu onta), penuh matiraga (makan belalang dan madu hutan), dan lurus hati (tidak mudah dihasut orang Yahudi). Menghayati sikap-sikap ini merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan Natal. Bahkan, jika mungkin tidak hanya dalam masa Advent ini, tetapi dalam hidup sehari-hari senantiasa mengusahakannya, karena kedatangan Tuhan tidak hanya dalam Hari Raya Natal, melainkan setiap hari dalam hidup kita. Dengan demikian, kita senantiasa siap menanti kedatangan-Nya.

Fr A.  Wahyu Dwi Anggoro,  SJ

Jumat, 15 Desember 2017

Renungan Harian GML : MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN YESUS, ANAK ALLAH


SABDA, Jumat, 15-12-2017


BACAAN
Yes 48:17-19 – “Ah, sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku!”

Mat 11:16-19 – “Mereka tidak mendengarkan Yohanes Pembaptis maupun Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Para pemimpin, orang-orang bijak tidak selalu senang ketika seseorang mengkritik atau menantang mereka. Hal itu terjadi pada jamannya Yesus dan terjadi juga sekarang ini, baik di dalam masyarakat maupun di dalam Gereja. Yohanes Pembaptis dikritik dan tidak diterima. Mereka berkata: “Ia dikuasai oleh roh jahat!” Yesus juga dikritik dan tidak diterima. Mereka berkata: “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21). “Ia kerasukan Beelzebul!” (Mrk 3:22). “Orang Samaria dan kerasukan setan” (Yoh 8:48). “Orang ini tidak datang dari Allah” (Yoh 9:16). Mereka tidak mau menerima jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Bagi mereka, apa pun yang dikatakan atau dibuat oleh Yesus dianggap salah. Dan Yesus harus dihukum mati.

2.Hal yang sama terjadi sekarang ini, bahkan dalam Gereja. Ada orang-orang yang mati-matian mempertahankan apa yang diajarkan dan tidak mau menerima pandangan baru dari orang lain atau tidak mau menerima iman yang hidup. Mereka menilai bahwa pandangan baru  dianggap sebagai ketidak-taatan terhadap tradisi dan pengajaran Gereja. Banyak pemimpin Gereja yang berpendapat demikian, bahkan merasa diri paling benar, tidak terbuka terhadap pendapat umat, anti kritik, dan otoriter.

3.Para ahli kitab dan orang-orang Parisi  menganggap diri bijak tetapi seperti anak-anak yang bermaksud menyenangkan orang-orang di pasar dengan meniup seruling tetapi tidak ada yang menari. Mereka menganggap diri bijak, namun menolak Allah dan menolak Yesus, Anak Allah. Dengan sikap ini mereka tidak memperoleh hikmat dan , bahkan, menghukum diri  sendiri.

Rm. Maxi Suyamto

Kamis, 14 Desember 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH ADALAH CARA HIDUP BARU

SABDA, Kamis, 14-12-2017


BACAAN
Yes 41:13-20 – “Yang menebus engkau ialah Yang Mahakuasa, Allah Israel”

Mat 11:11-15 – “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus memberi pandangan tentang Yohanes Pembaptis. Dibandingkan dengan pribadi-pribadi Perjanjian lama, tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes. Yohanes adalah yang paling besar. Ia lebih besar daripada Yeremia, Abraham, Yesaya. Tetapi dibandingkan dengan Perjanjian Baru, Yohanes lebih kecil dari semuanya. Yang paling kecil dalam Kerajaan Allah, lebih besar daripada Yohanes. Bagaimana kita memahami hal ini?

2.Sebelum perikope ini, Yohanes, lewat para muridnya, bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Rupanya Yohanes ragu-ragu tentang Yesus, karena ia memiliki gambaran tentang Mesias yang keras yang akan melaksanakan penghukuman (Mt 3:7), dan pandangan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dalam diri Yesus. Yesus  adalah sahabat bagi semua orang, lemah lembut dan rendah hati, menerima para pendosa dan makan bersama mereka.

3.Yesus menanggapi Yohanes dengan mengutip Nabi Yesaya: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan ... kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mt 11:5). Dari ungkapan tersebut, Yesus menghendaki agar Yohanes mengubah cara pandang tentang Mesias.

4.Orang yang percaya kepada Yesus dan tinggal bersama-Nya menerima terang yang membuat mereka memiliki mata baru untuk memahami makna Sabda Tuhan yang memberi gambaran baru tentang Mesias, tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan merupakan ajaran, melainkan cara hidup baru, di mana Allah sebagai Bapa dan kita adalah saudara satu sama lain.

 Rm Maxi Suyamto

Rabu, 13 Desember 2017

Renungan Harian GML : DATANG DAN BELAJARLAH KEPADA-KU !

SABDA, Rabu, 13-12-2017


BACAAN
Yes 40:25-31 – “Tuhan yang mahakuasa memberi kekuatan kepada yang lelah”

Mat 11:28-30 – “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban bert. Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan bagian yang terasa lembut, penuh kasih dan mesra. Tuhan Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Apa maksud Tuhan dengan: “Marilah kepada-Ku”? Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh kepada-Nya. Percaya berarti  meneladani  dan tidak menyingkirkan Dia dari kehidupan kita setiap hari.

2.Orang-orang pada zamannya Yesus merasa lelah dan berbeban berat oleh tuntutan hukum yang dipaksakan oleh para ahli Taurat dan kaum Parisi. Namun demikian para ahli Taurat dan kaum Parisi tidak bertanggungjawab atas keadaan mereka. Mereka bagaikan domba tanpa gembala. Kepada mereka Yesus bersabda: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Tuhan minta kepada mereka untuk tidak mendengarkan para ahli Kitab, yang menamakan diri “orang-orang bijak dan pandai.” Yesus memanggil mereka untuk belajar dari pada-Nya.

3.Apa beban kita? Kita ingin menjadi seperti Allah: ingin menguasai apa saja dan siapa saja. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang kita membenci, tidak bisa mengampuni, iri hati, marah dan serakah. Kita tidak mau melepas dan bahkan menyembunyikannya. Akibatnya: kita mengalami belenggu dan beban yang seringkali tak tertahankan.

4.Datang dan belajar kepada Yesus berarti: a) Melepas beban yang membelenggu kita. b) Mengubah cara hidup seperti ditawarkan oleh Yesus: berbelas kasih, rendah hati, lemah lembut, bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama. Itulah kuk Yesus yang dikenakan kepada kita. Kuk yang membawa kemerdekaan sebagai anak-anak Allah; kuk yang membawa kelegaan, damai, dan sukacita.

5.Maukah kita datang dan belajar kepada Yesus dengan hati yang terbuka dan keinginan untuk mendengarkan Sabda-Nya?

Rm Maxi Suyamto

Selasa, 12 Desember 2017

Renungan Harian GML : TINDAKAN ALLAH YANG BODOH: MENYELAMATKAN YANG HILANG


SABDA, Selasa, 12-12-2017

BACAAN
Yes 40:1-11 – “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Tuhan kita! Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit harus diratakan”

Mat 18:12-14 – “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang”

RENUNGAN
1.Yesus menceriterakan sebuah kisah  pendek dan dengan cara yang sederhana: “Seorang mempunyai 100 ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?” Atas ceitera itu Yesus bertanya: “Bagaimana pendapatmu?” Dengan kata lain Yesus bertanya kepada para pendengar-Nya dan kepada kita: “Apakah engkau juga akan melakukan hal yang sama?” Apakah jawaban kita?

2.Kita tahu bahwa pegunungan merupakan tempat yang sukar untuk didaki karena adanya tebing yang curam, di mana binatang buas tinggal dan para perampok bersembunyi. Semestinya kehilangan seekor domba adalah sesuatu yang kecil, karena masih punya 99 ekor yang lain, yang akan beranak pinak. Apakah kita harus meninggalkan  99 ekor di pegunungan seperti itu? Mari kita berpikir sungguh-sungguh!

3.Para gembala yang mendengar kisah tersebut, mungkin berpikir: “Hanya seorang gembala yang tanpa perhitungan dan bodoh akan bertindak meninggalkan yang 99 ekor domba tanpa penjagaan.” Pasti mereka akan bertanya kepada Yesus: “Siapa gembala yang Engkau maksudkan, karena melakukan hal tersebut merupakan sebuah kebodohan?”

4.Yesus menjawab: “Gembala tersebut adalah Allah, Bapa kita, dan domba yang hilang itu adalah kamu!” Dengan kata lain, Allah tergerak oleh belas kasihan yang begitu besar  terhadap orang kecil, orang miskin, dan orang-orang yang tersingkirkan. Hanya dengan kasih yang begitu besar, orang  berbuat  sebodoh itu. Kasih Allah kepada kita melampaui akal sehat kita. Dengan kasih  yang tanpa batas itu, Allah telah melakukan hal-hal bodoh demi keselamatan kita. Syukur kepada-Mu Tuhan! Apabila Engkau tidak bertindak seperti itu, kami tidak akan selamat dan hilang.

Rm Maxi Suyamto

Senin, 11 Desember 2017

Renungan Harian GML : MENERIMA DAN MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH

SABDA, Senin, 11-12-2017

BACAAN
Yes 35:1-10 – “Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu”

Luk 5:17-26 – “Hari ini kita telah menyaksikan hal-hal sangat menakjubkan”

RENUNGAN
1.Yesus selalu berbicara tentang Allah, Bapa-Nya, tetapi Ia berbicara dengan cara baru dan menarik, berbeda dengan para ahli kitab dan orang-orang Parisi (Mrk 1:22.27). Yesus mewakili Allah sebagai Kabar Sukacita bagi kehidupan manusia; Allah  mengasihi dan menerima semua orang, dan Allah  tidak mengancam dan tidak menghukum.

2.Seorang lumpuh dibawa oleh empat orang. Yesus datang untuk mereka ini, dan Ia adalah satu-satunya harapan mereka. Pada zaman itu orang beranggapan bahwa orang miskin, lumpuh, kusta merupakan hukuman karena dosa-dosa mereka. Mereka ini dikucilkan dari masyarakat. Yesus mengajarkan kebalikannya. Dengan alasan ini, Yesus mengatakan: “Dosamu sudah diampuni.” Dengan kata lain, Allah tidak menolak orang-orang miskin, lumpuh dan kusta

3.Dengan menyatakan “dosamu sudah diampuni,” maka para ahli Taurat dan orang-orang Parisi mengatakan: “Ia menghojat Allah.” Menurut pengajaran mereka, hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menurut mereka, bagaimana mungkin, Yesus, sebagai seorang awam biasa, mengampuni orang lumpuh dan membersihkan orang itu dari dosa-dosanya? Kalao orang sederhana, seperti Yesus, dapat mengampuni dosa-dosa, maka para ahli Taurat dan para imam akan kehilangan peran mereka. Dengan alasan ini, dapat diketahui mengapa mereka bereaksi dan mempertahankan diri mereka.

4.Yesus membenarkan tindakan-Nya dengan berkata: “Manakah lebih mudah, mengatakan: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah dan berjalanlah.” Dalam nama Allah, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, dan Ia berkata kepada orang lumpuh itu: “Bangunlah dan berjalanlah.” Dari sini Yesus membuktikan bahwa orang lumpuh bukan disebabkan oleh dosa-dosanya. Penyembuhan orang lumpuh juga menunjukkan bahwa Allah menerima orang itu di dalam kasih-Nya yang tanpa batas.

5.Dengan Injil hari ini, kita diajak untuk bersatu dengan Allah menerima mereka yang disebut orang kecil dan menyembuhkan mereka.

Rm Maxi Su

Minggu, 10 Desember 2017

Renungan Harian GML : Apakah Aku Sudah "selesai" dengan Diriku Sendiri

10 Desember 2017

*Yohanes Pembaptis*
Minggu Adven II – Mrk 1:1-8

Pada bacaan Injil hari ini, saya ingin fokus pada kata-kata yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis :

“Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku;
membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.
Aku membaptis kamu dengan air, 
tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8)

Dari kata-kata ini, kita dapat menemukan ciri-ciri seorang “utusan” yang sebenarnya: 

(1) *Identitas*
Secara umum, Yohanes memahami benar identitas dirinya sebagai “utusan” dan menyampaikan pesan dengan “gamblang dan apa adanya” – tanpa perlu menambahi atau mengurangi, apalagi memutarbalikkan fakta yang sebenarnya (Lih. Mrk 1:7-8); ia tidak melakukan itu sama sekali!

(2) *Kuasa*
Ia mengatakan dengan jujur bahwa “sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku.” Ia tak butuh lagi pengakuan dan dapat menerima dengan damai bahwa ada yang lebih “besar” dari dirinya sendiri. Ia tak merasa sama sekali tuk disaingi.

(3) *Rendah Hati*
“Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Yang dimaksud dengan “tali kasut” pada saat itu adalah “hak seseorang”. Yohanes ingin menunjukkan bahwa ia pun tak punya “hak” untuk berbuat sesuatu seperti Ia yang akan datang setelah dirinya. Ia dengan rendah hati mengakui hal itu: “hak yang ia miliki tak sebesar ‘hak’ yang dimiliki Ia yang akan datang setelah dirinya.”  

(4) *Kapasitas*
Selain itu, Yohanes Pembaptis pun tahu persis kapasitas dirinya, “Aku membaptis kamu dengan air.” Ia mengakui bahwa ia punya “sesuatu” – pembaptisan dengan air (untuk penebusan dosa) (Lih. Mrk 1:4). Ia menerima perannya dengan “pas” – tak berlebihan dan tidak begitu saja mengingkarinya. Dengan kata lain, Yohanes pun ingin mengatakan, “Ya.. aku punya sesuatu yang dapat aku bagikan kepada orang lain!” Mengakui “kapasitas diri” (kelebihan dirinya) dengan rendah hati, tanpa perlu berlebihan dan tidak menunjukkan kesombongan sama sekali.    

(5) *Kebenaran*
Yohanes Pembaptis pun menyampaikan sebuah pesan kebenaran bahwa seseorang yang akan datang sesudahnya akan membaptis mereka dengan Roh Kudus (Mrk 1:8). Roh yang akan mendampingi umat-Nya hingga akhir zaman. 

(6) *Kualitas*
Dari pembahasan di atas, tampak sekali di sini bahwa Yohanes Pembaptis sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Inilah kualitas diri dari seorang Yohanes Pembaptis. Ia tidak ingin mencari-cari popularitas dan menyombongkan dirinya sebagai “Utusan Allah”, melainkan justru sebaliknya – ia menganggap dirinya “kecil” dibandingkan Ia yang akan datang sesudahnya (yaitu Yesus Kristus sendiri). Ia sungguh sangat sederhana dan rendah hati.

Lalu pertanyaan yang dapat kita ajukan bagi diri kita sendiri, “Apakah aku sudah ‘selesai’ dengan diriku sendiri? Dan mulai berusaha membagikan dan mewartakan kabar gembira Tuhan bagi sesama di sekitarku dengan konkrit, sebagai ‘utusan-utusan’-Nya di dunia dewasa ini?” Inilah pesan Injil yang dapat kita renungkan hari ini.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 09 Desember 2017

Renungan Harian GML : TUGAS PERUTUSAN KITA: MENYEMBUHKAN ORANG LAIN

SABDA, Sabtu, 9-12-2017

BACAAN
Yes 30:19-21.23-26 – “Pastilah Tuhan mengasihi kamu, apabila kamu berser-seru”

Mat 9:35-10:1.6-8 – “Melihat orang banyak itu tergerak hati Yesus oleh belas kasihan”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dan berkhotbah dalam rumah-rumah ibadat. Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah. Ia juga menyembuhkan banyak penyakit dan kelemahan. Penginjil Matius mengatakan: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Yesus merasakan betapa mereka terlantar, lapar dan sendirian. Sungguh, mereka seperti domba tanpa gembala; tak seorang pun yang memberi perhatian terhadap mereka.

2.Yesus memanggil duabelas (12) murid-Nya. Kemudian Yesus memerintahkan mereka untuk mencari domba-domba yang hilang dari Israel. Ia memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan setiap penyakit dan mengusir roh-roh jahat.

3.Dalam melibatkan para murid untuk tugas perutusan, Yesus minta agar mereka berdoa agar Tuhan mengirimkan para pekerja untuk tuaian. Doa menjadi teramat penting dalam setiap tugas perutusan, bahkan menjadi komitmen utama dalam hidup kita.

4.Sekarang ini Yesus juga memberi kuasa kepada kita untuk menyembuhkan. Kita bisa menyembuhkan dengan menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan orang lain, menyapa dengan ramah dan dengan senyuman, meneguhkan iman mereka, memberi kata-kata penghiburan. Sebagai orang beriman, kita tidak bisa tutup mata dan acuh tak acuh terhadap kesusahan, kesulitan dan penderitaan orang lain. Percayakah bahwa kita mampu menyembuhkan mereka?

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 08 Desember 2017

Renungan Harian GML : TERJADILAH PADAKU MENURUT KEHENDAKMU

SABDA, Jumat, 8-12-2017

BACAAN
Kej 3:9-15.20 – “Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu”

Ef 1:3-6.11-12 – “Di dalam Kristus Allah telah memilik kita”

Luk 12:26-38 – “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Perayaan ini mengingatkan kepada seluruh umat betapa luhurnya martabat Maria sebagai Bunda Penebus. Maria adalah satu-satunya manusia yang dikecualikan Allah dari warisan dosa Adam. Sama seperti kita, Maria hidup di dunia yang penuh dosa ini. Namun ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun juga. Ia sudah sejak kekal ditentukan Allah untuk menjadi bunda Putera-Nya, Penebus dunia. Ia ditentukan untuk melahirkan Yesus, Anak Allah, dan karena itu sejak awal hidupnya, ia dipersiapkan untuk mengemban tugas luhur ini.

2.Untuk melaksanakan rencana keselamatan tersebut, Allah mengutus malaikat kepada Maria. Dalam Injil hari ini nampak jelas bahwa Allah berdialog dengan manusia; Ia ingin melibatkan manusia dalam rencana-Nya tersebut.

3.Era baru keselamatan mulai dengan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria. Sebagaimana Hawa adalah ibu semua umat manusia yang menemui ajal karena dosa, sekarang Maria menjadi ibu Adam Baru yang menjadi Bapa umat baru karena iman (Rom 5:12-21).

4.Anak yang dikandung dalam rahim Maria menggenapi semua janji Allah. Ia akan menjadi “besar” dan “Anak Allah yang maha tinggi” dan “Raja” (Luk 1:32-33), dan nama-Nya akan disebut Yesus, yang berarti Allah yang menyelamatkan. ”Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat1:21). Janji kerajaan terhadap rumah Daud (Yes 9:6-7) digenapi dalam diri Raja yang dikandung oleh rahim Maria.

5.Bagaimana Maria menanggapi rencana Allah tersebut? Ia bertanya: “Bagaimana hal ini akan terjadi karena aku belum bersuami?” Maria diliputi keheranan, tetapi ia benar-benar seorang pendengar Sabda dan ia segera menanggapi dengan iman dan kepercayaan. Jawaban Maria adalah ya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria percaya pada janji Allah, bahkan ketika hal itu tampak tidak mungkin. Ia penuh rahmat, karena ia percaya bahwa apa yang dikatakan Allah adalah benar dan akan dipenuhi.

6.Maria disebut “ibuning Allah,” karena Allah menjilma menjadi manusia saat dikandung dalam rahim Maria. Bercermin dari Maria, kita diharapkan menjawab panggilan Tuhan dan menjalaninya dengan penuh kesediaan, ketaatan, dan iman.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 29 November 2017

Renungan Harian GML : SETIA KEPADA KRISTUS SAMPAI AKHIR


SABDA, Rabu, 29-11-2017

BACAAN

Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28 – “Tampaklah jari-jari tangan manusia yang menulis pada dinding”

Luk 21:12-19 – “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”

RENUNGAN

1.Injil hari ini berbicara  tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Ketika bersama para muridNya, Yesus sering mengingatkan bahwa mereka akan ditangkap, disiksa dan dibunuh karena nama Yesus. Ketika terjadi penyiksaan, “semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang jaman baru” (Mark 13:8). Tidak ada alasan untuk takut, melainkan harus bersuka cita karena dalam iman, kita memiliki pengharapan.

2.Penindasan tidak perlu menjadi hal yang fatal atau alasan untuk putus asa, tetapi menjadi saat untuk bersaksi tentang kabar gembira. Yang dibutuhkan adalah keteguhan hati sebagai pengikut Kristus, selanjutnya “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” Karena kita “menerima kuasa” (Kis 1:8) dari Tuhan.

3.Perlakuan kejam terhadap pengikut Kristus tidak hanya datang dari luar, tetapi  bahkan dari keluarga sendiri. Hal ini terjadi karena dalam keluarga tersebut ada yang menerima Kabar Sukacita dan menolaknya. Karena menjadi pengikut Kristus, maka ia diusir dari keluarganya dan tidak mendapatkan hak waris. Bahkan membunuh pengikut Kristus adalah halal.

4.Dalam situasi sulit tersebut, Kristus adalah satu-satunya pengharapan: “Tdk sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.” Tuhan juga menguatkan: “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24).

5.Kita mohon rahmat kesetiaan dalam Kristus sampai akhir hidup kita.

Selasa, 28 November 2017

Renungan Harian GML : Batu Hidup bagi Gereja


Bacaan Liturgi 28 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXIV

Bacaan Injil
Luk 21:5-11
Tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain.

Ketika itu beberapa orang berbicara tentang Bait Allah 
dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu indah, 
dan berbagai macam barang persembahan.
Tetapi Yesus berkata kepada mereka, 
"Akan tiba harinya segala yang kalian lihat di situ diruntuhkan, 
dan tidak akan ada satu batu pun 
dibiarkan terletak di atas batu yang lain." 

Lalu murid-murid bertanya, 
"Guru, bilamanakah hal itu akan terjadi? 
Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?"
Jawab Yesus, "Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan. 
Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku, 
dan berkata, 
'Akulah Dia' dan 'Saatnya sudah dekat.' 
Janganlah kalian mengikuti mereka. 
Dan bila kalian mendengar kabar tentang perang dan pemberontakan, 
janganlah kalian terkejut. 
Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, 
tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." 

Kemudian Yesus berkata kepada mereka, 
"Bangsa akan bangkit melawan bangsa 
dan kerajaan melawan kerajaan. 
Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, 
dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. 
Dan akan terjadi juga 
hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit."

Renungan
Di Kampung Kush, sekelompok umat Katolik yang tiap hari Minggu merayakan misa di dalam gedung Sekolah Dasar. Mereka belum punya bangunan gereja untuk beribadah. Mereka sudah bertahun-tahun berusaha mendirikan bangunan untuk gereja tetapi tidak pernah berhasil. Tanah sudah mereka miliki. Dana mereka tidak kekurangan. Sumber daya tenaga dan material banyak yang akan menyediakan. Satu-satunya halangan bagi mereka ialah, izin pendirian bangunan tidak pernah mereka dapat. Pernah ada yang mendirikan gereja tanpa mengantongi surat izin. Setelah jadi gereja itu dibakar oleh sekolompok orang yang datang dari luar kampung. 
Pada suatu hari Bapa Uskup di wilayah itu datang berkunjung ke Kampung Kush. Umat kemudian menyatakan persoalan yang mereka alami. Seorang umat menyatakan keprihatinan mendalam tentang gereja di Keuskupan. Banyak gereja besar, megah dan indah di tempat lain, tapi di Kampung Kush situasinya sangat memprihatinkan. Tidak ada di Kampung ini bangunan yang disebut gereja. 
Bapa Uskup yang mendengar keluhan dan keprihatinan umat tentang bangunan gereja, kemudian mengajak umat membaca Kitab Suci. Ayat-ayat yang dibaca tepat seperti yang dibacakan dalam Liturgi hari ini. Para murid Yesus mengagumi bangunan Bait Allah. Begitu indah dan megahnya Bait Allah itu. Bangunan begitu luas, tinggi, besar dan kokoh perkasa. Bahan bangunannya pun mahal. Dekorasinya sangat mewah dengan batu-batu indah. Juga segala kegiatan ibadahnya begitu ramai dan penuh dengan persembahan-persembahan mulia. Alangkah semuanya itu menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. 
Bapa Uskup kemudian memberikan wejanganannya dengan kata-kata yang disusun perlahan-lahan. Dia mengatakan bahwa, melihat kemegahan bangunan Bait Allah, Tuhan Yesus menyatakan pandangan yang berbeda yang mengejutkan para murid-Nya. Bagi Yesus, semua kemegahan yang terlihat oleh mata di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Semuanya akan diruntuhkan. Kata-kata Yesus itu menjadi kenyataan. Pada tahun 70, tentara Roma dalam komando Jendral Titus, menghancurkan Bait Allah itu. Kehancuran itu begitu dahsyat, rata dengan tanah. Kini bangunan itu tidak ada lagi. Yang masih ada hanyalah pondasinya yang didatangi oleh para peziarah yang meratap di situ. Oleh karena itu tempat itu dikenal dengan nama Tembok Ratapan.
Kemudian Bapa Uskup memberikan peneguhan bahwa Bait Allah yang sesungguhnya bukanlah bangunan fisik. Gereja yang sesungguhnya juga bukan bangunan gedung. Gereja yang sesungguhnya adalah umat Allah yang terdiri dari manusia-manusia. Manusia-manusia yang merupakan umat Allah ini seolah menjadi batu-batu yang hidup. Bila umat hidup rukun, damai, saling membantu, saling memperhatikan; bila umat punya perhatian kepada yang lainnya, terutama pihak yang paling kecil, yang paling hina, yang tersingkirkan; bila umat mengunjugi yang sakit dan menolong yang miskin, maka itulah bangunan Gereja yang sesungguhnya. Batu-batu yang hidup itu tersusun dengan indah dan mengagumkan. Bangunan yang demikian itu tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Tak ada orang yang mampu meruntuhkan dan membakarnya. 
Sudahkah aku menjadi batu hidup yang menyusun Gereja? Beranikah aku menjadi salah satu batu hidup bagi Gereja?

Rm Supriyono Venantius

Senin, 27 November 2017

Renungan Harian GML : PERSEMBAHAN JANDA MISKIN

SABDA, Senin, 27-11-2017


BACAAN
Dan 1:1-6.8-20 – “Di antara mereka tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya”

Luk 21:1-4 – “Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti derma”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus memuji seorang janda miskin yang tahu bagaimana berbagi melebihi orang-orang kaya. Ada banyak orang kaya memiliki apa saja, tetapi tidak tahu bagaimana berbagi. Ada banyak orang miskin yang hampir tidak memiliki sesuatu, tetapi ingin berbagi dari apa yang mereka miliki.

2.Pada awal mula, Gereja terdiri dari orang-orang miskin (1Kor 1:26). Tetapi dalam waktu singkat, orang-orang kaya juga masuk ke dalam komunitas Kristen dan hal ini menyebabkan banyak masalah. Masalah tampak ketika mereka mengadakan perjamuan makan (1Kor 11:20-22) atau ketika mereka mengadakan pertemuan (Yak  2:1-4). Inilah alasan mengapa pengajaran tentang persembahan janda miskin sangat berarti bagi mereka dan juga bagi kita.

3.Ay 1-2 – Yesus berada dekat bendahara Bait Allah dan mengamat-amati orang-orang yang memasukkan uang persembahan. Orang-orang miskin memasukkan beberapa sen, sedangkan orang-orang kaya memberikan sejumlah uang yang nilainya sangat besar. Uang persembahan dipakai untuk sarana peribadatan, membantu para imam dan untuk merawat bangunan. Sebagian dari uang persembahan juga dipakai untuk membantu orang-orang miskin, karena mereka hidup tanpa jaminan dan hanya mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Mereka yang memiliki kebutuhan terbesar adalah yatim piatu dan para janda. Mereka sangat tergantung dari belas kasihan orang dalam segala sesuatu. Namun demikian mereka masih berusaha untuk berbagi dengan orang lain dari apa yang mereka punya. Seorang janda yang sangat miskin memasukkan uang sebesar dua sen.

4.Ay 3-4 – Komentar Yesus. Mana yang lebih berharga: beberapa sen dari janda miskin atau sejumlah besar uang dari orang-orang kaya? Menurut kebanyakan orang, uang dari orang-orang kaya lebih berguna untuk amal daripada beberapa sen dari janda miskin. Kalau pikiran kita seperti itu, maka 2 (dua) sen persembahan janda miskin tidak berguna untuk apa pun. Tetapi Yesus berkata: “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.” Yesus memiliki kriteria yang berbeda dengan kita. Dari persembahan janda miskin tersebut, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya dan kepada kita, di mana kita harus mencari kehendak Allah. Dan kehendak Allah kita temukan di dalam diri orang-orang miskin dan dalam berbagi. Mengapa? “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

 Rm Maxi Suyamto

 

Minggu, 26 November 2017

Renungan Harian GML : HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM


SABDA, Minggu, 26-11-2017

BACAAN
Yeh 34:11-12.15-27 – “Wahai domba-domba-Ku, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba”

1Kor 15:20-26a.28 – “Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, supaya Allah menjadi semua di dalam semua”

Mat 25:31-46 – “Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya dan akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang”

RENUNGAN
1.Perumpamaan tentang Pengadilan Terakhir mengatakan kepada kita apa yang harus kita buat agar  memiliki Kerajaan, yaitu menerima orang yang lapar, haus, asing, telanjang, orang sakit dan para tawanan.

2.Ay 31-33 – Anak Manusia mengumpulkan semua bangsa. Ia memisahkan orang-orang seperti domba dan kambing. Para gembala itu tahu bagaimana membuat pertimbangan. Ia tidak pernah membuat kesalahan. Yesus tidak menghakimi maupun mengutuk, tetapi yang menghakimi adalah orangnya sendiri, karena ia tidak berbuat apa pun untuk orang-orang kecil dan tersingkir.

3.Ay 34-36 – Mereka yang berada di sebelah kanan hakim disebut “Yang diberkati oleh Bapa-Ku.” Mereka menerima berkat yang telah dijanjikan kepada Abraham dan keturunannya (Kej 12:3). Mereka diundang untuk masuk ke dalam Kerajaan, yang sudah disiapkan bagi mereka sejak dunia diciptakan, karena “Ketika aku lapar, sebagai orang asing, ketika aku telanjang, sakit dan dalam penjara engkau menerima dan membantu aku.” Yang dimaksud “aku” adalah Yesus, yang menyamakan diri dengan orang-orang kecil. Dengan menerima, berbuat dan berbagi untuk orang kecil sama dengan berbuat untuk Yesus.

4.Ay 37-40 – Kerajaan Allah tidak diperoleh dengan menjalankan hukum dan peraturan-peraturan, melainkan menerima mereka yang membutuhkan. Mereka yang membutuhkan bahkan ada di dalam komunitas Kristen sendiri. Mereka adalah “saudaraku yang paling hina ” dan mereka adalah anggota komunitas yang tidak memiliki tempat tinggal. Jadi orang yang dianggap “adil” dan “diberkati oleh Bapa” adalah semua orang dari semua bangsa yang menerima dan menyambut orang lain dengan total.

5.Ay 41-43 – Mereka yang berada di sebelah kiri Hakim disebut “yang terkutuk.” Mereka sudah disiapkan untuk masuk ke dalam api abadi, yang diperuntukkan bagi Iblis dan sekutunya. Alasannya adalah karena mereka tidak menerima dan menyambut Yesus yang lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit dan dipenjara. Mereka disebut buta, karena tidak mampu melihat Yesus dalam diri orang-orang kecil.

6.Ay 44-46 – Mereka tidak mau disebut buta, karena minta penjelasan. Mereka ini adalah orang-orang yang mapan, kaya, damai-damai saja, dan rajin melakukan semua perintah Allah. Mereka ini adalah orang-orang baik. Hanya satu kekurangan mereka: tidak mau berbuat baik dan berbagi kepada mereka yang miskin, sakit, terlantar, dan tersingkirkan.

Rm.  Maxi Suyamto

Sabtu, 25 November 2017

Renungan Harian GML : “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”


25 November 2017
Luk 20:27-40
“Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”

Bacaan hari ini sungguh menarik.
Kita akan menemukan tiga aktor utama dalam Injil hari ini :
1)Yesus
2)Orang-Orang Saduki
3)Ahli-Ahli Taurat (Farisi)

Saya tertarik pada Luk 20:39, “Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: ‘Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.’” Hal ini sungguh menarik, karena dalam Luk 20, sejak awal kita telah menemukan bahwa Ahli-Ahli Taurat (Farisi) itu berusaha mencobai Yesus: (1) Luk 20:1-2, mereka (Ahli-Ahli Taurat) mempertanyakan “Kuasa Yesus” – “Dengan kuasa apa dan dari mana asalnya?” (2) Luk 20:19, mereka juga berusaha menangkap Yesus, tapi mereka takut kepada orang banyak. (3) Tidak berhenti di situ saja, pada Luk 20:20-26, Ahli-Ahli Taurat  (Farisi) juga berusaha menjebak Yesus dan menyerahkan-Nya kepada penguasa wali negeri. 

Namun, yang menarik setelah itu, pada bacaan hari ini (Luk 20:27-40), orang-orang Farisi ini justru memuji Yesus, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Salah satu kata kuncinya adalah “Saduki”. “Orang-Orang Saduki” adalah golongan imam yang tidak percaya pada kebangkitan, malaikat, dan roh (Lih. Kis 23:8). Mereka sangat menaati  hukum Musa (Taurat), namun menolak penafsiran yang diperluas oleh tradisi. Hal ini sangat bertentangan dengan “Orang-Orang Farisi” (Para Ahli Taurat). Mereka percaya akan kebangkitan, malaikat, roh, dan memegang teguh tradisi. Dan, jumlah orang Farisi lebih banyak dibandingkan jumlah orang-orang Saduki.

Jadi, sebenarnya di sini ada perselisihan pula antara orang-orang Saduki dan orang-orang Farisi. Maka, bacaan hari ini sungguh menyajikan sebuah kompleksitas yang cukup menarik (dengan melihat Lukas 20 secara keseluruhan) :

1.Saduki vs Yesus
2.Farisi vs Yesus
3.Saduki vs Farisi

Jadi, ketika orang-orang Saduki bertanya mengenai kebangkitan, sebenarnya mereka tidak benar-benar bertanya, melainkan ingin mencobai Yesus. Hal ini jelas sekali karena mereka tidak percaya sama sekali akan kebangkitan. Selain itu, orang-orang Saduki pun sangat rasional, mereka mencobai Yesus secara rasional, “Apakah jawaban Yesus itu rasional atau tidak mengenai kebangkitan?” 

Dan yang sungguh menarik, Yesus pun “meladeni” (menanggapi) pertanyaan orang-orang Saduki ini dan menjawabnya dengan baik, (1) “dalam kebangkitan, tidak ada orang yang kawin dan dikawinkan” (Luk 20:35); (2) “mereka tidak dapat mati lagi, mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36); dan (3) Yesus pun berusaha menginterpretasikan Taurat, di mana Tuhan bersabda kepada Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Menurut Yesus, dengan menyebut nama “Abraham, Ishak dan Yakub”, sebenarnya Allah ingin menunjukkan bahwa “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup [termasuk para Bapa Bangsa – Abraham, Ishak dan Yakub]” (Luk 20:37). Dari jawaban inilah, orang-orang Farisi (para ahli Taurat) itu merasa “takjub”, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Orang-orang Farisi, pada saat itu, merasa sangat terbantu dengan jawaban Yesus untuk melawan orang-orang Saduki. Namun, Yesus tak tertarik dengan pertikaian mereka. 

Yesus, dalam perikop ini, lebih fokus untuk menjelaskan mengenai “kebangkitan” dan “siapa Allah itu” – yaitu “Allah orang hidup”. Maka, yang perlu diperhatikan di sini, Yesus tampaknya ingin mengajak kita untuk melihat “hidup” kita masing-masing. Jika Allah itu Allah orang hidup, “Mengapa kita khawatir akan kematian?” Pertama-tama yang perlu dikhawatirkan adalah hidup kita itu sendiri, “Apakah sudah sejalan dengan Kehendak Allah atau belum?” Jika belum, maka kita diharapkan untuk “bangkit saat ini”, bukan nanti pada saat kita mati. “Kebangkitan” dimulai saat kita hidup – saat ini dan di sini. “Kebangkitan setelah kematian” hanyalah sebuah konsekuensi dan kelanjutan kehidupan kita saat ini. 

Lalu pertanyaan selanjutnya yang bisa kita ajukan, “Apakah aku sudah benar-benar hidup ‘saat ini’ dan ‘di sini’; dan apakah aku sudah berusaha bangkit menjadi lebih baik dari hari ke hari?” Inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan pada kita hari ini.

Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Jumat, 24 November 2017

Renungan Harian GML : YESUS KRISTUS ADALAH BAIT ALLAH YANG BARU

SABDA, Jumat, 24-11-2017

BACAAN
1Mak 4:36-37.52-59 – “Mereka mentahbiskan mezbah dan dengan sukacita mempersembahkan kurban”

Luk 19:45-48 – “Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”

RENUNGAN
1.Sesampainya Yesus di Yerusalem, tujuan utamanya adalah memasuki Bait Allah. Hal ini sesuai dengan nubuat nabi Maleakhi: “Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke Bait-Nya.” Ia disertai oleh para murid-Nya. “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah.”

2.Didapati-Nya, Bait Allah telah menjadi sarang para bandit, seperti dikatakan oleh nabi Yeremia: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?” Aktivitas bisnis dan sampingannya telah menjadikan Bait Allah sebagai sarang penyamun yang menghilangkan fungsi eksklusif Bait Allah, yaitu sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan. Maka Yesus mengusir para pedagang tersebut dari Bait Allah.

3.Yesus menuntut perubahan total terhadap Bait Allah, yaitu dengan memurnikan Bait Allah dari hal-hal negatif yang dibuat manusia dan mengembalikan ke fungsi aslinya, yaitu sebagai tempat menyembah Allah. Untuk itu maka para pedagang harus diusir, seperti dinubuatkan nabi Zakaria: “Tidak akan ada lagi pedagang di rumah Tuhan, ketika Hari itu datang” (Zak 14:21).

4.Pengajaran Yesus yang radikal dan menutup kesempatan  korupsi dan maksiat dalam Bait Allah telah menyulut kemarahan orang-orang yang dirugikan, yaitu para imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel. Mereka berusaha untuk membinasakan Yesus, “tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.” Dari Bait Allah, sengsara Yesus dimulai.

5.Paus Benedictus: “Penyiksaan dan penyaliban Yesus berarti akhir  Bait Allah. Era Bait Allah telah usai. Ibadah yang baru diperkenalkan, yaitu menyembah Allah dalam diri Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Bait Allah yang baru mengumpulkan orang dan menyatukan mereka dalam Sakramen Tubuh dan Darah-Nya.”

Rm Maxi Suyamto

Kamis, 23 November 2017

Renungan Harian GML : YESUS MENANGISI YERUSALEM


SABDA, Kamis, 23-11-2017

BACAAN
1Mak 2:15-29 –“Kami akan mentaati hukum nenek moyang kami”

Luk 19:41-44 – “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyatakan kepada kita bahwa Yesus menangisi Yerusalem dan Ia bernubuat tentang kehancuran kota tersebut. Yerusalem menjadi tempat tindakan Yesus yang paling besar, yaitu Sengsara, Wafat dan Kebangkitan. Dari Yerusalem juga akan muncul komunitas orang beriman yang dibangun atas nama-Nya. Mereka ditugasi untuk melanjutkan pekerjaan yang telah Ia mulai.

2.Ay 41-42 – Ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya dan berkata: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Yesus menangis, karena Ia begitu mengasihi tanah air-Nya, orang-orang-Nya, ibu kota dan Bait Allah. Ia menangis, karena Ia tahu bahwa segala sesuatu akan dihancurkan karena kesalahan bangsa-Nya yang tidak menyadari panggilan Allah lewat kehadiran dan pelayanan-Nya. Umat Israel tidak menyadari jalan menuju Damai; kehadiran Yesus tersembunyi bagi mereka. Allah “murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Rom 2:8). Yesus kecewa dengan perbuatan Israel: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu. Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu ... tetapi kamu tidak mau” (Lk 13:34).

3.Ay 43-44 – Yesus melukiskan apa yang akan terjadi dengan Yerusalem. Ia menggunakan gambaran tentang perang yang sudah biasa pada waktu itu, ketika sebuah pasukan menyerang sebuah kota. Mereka membunuh para penduduknya dan menghancurkan secara total tembok-tembok kota dan semua rumah. Kejadian tersebut pernah dialami Yerusalem ketika diserang oleh Nebukadnezar. Pasukan Romawi menggunakan cara tersebut terhadap kota-kota yang memberontak, dan hal inilah yang akan terjadi lagi 40 tahun kemudian terhadap Yerusalem. Sungguh terjadi, tahun 70 Yerusalem dikepung dan diserang oleh tentara Romawi. Segala sesuatu yang ada dihancurkan. Apa yang dikatakan Yesus harus menjadi peringatan yang sangat serius bagi semua orang yang menolak Kabar Gembira. Mereka harus mendengarkan peringatan terakhir dari Yesus, “engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat Engkau.”

4.Bait Allah Yerusalem telah hancur dan, sebagai gantinya, Yesus adalah Bait Allah Baru tempat kita menyembah. Bagi kita, tidak ada tempat khusus yang suci, selain Yesus, walaupun ada beberapa tempat yang mempunyai arti bagi kita. Bukan basilika St. Petrus di Roma, bukan gereja-gereja megah yang menentukan identitas kita sebagai orang beriman, melainkan kesatuan kita dengan Kristus dan kedekatan kita dengan saudara-saudari yang lain.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 22 November 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH TERWUJUD MELALUI TINDAKAN KASIH, PELAYANAN DAN BERBAGI


SABDA, Rabu, 22-11-2017

BACAAN
2Mak 7:20-31 – “Pencipta alam semesta akan memberi kembali roh dan hidup kepadamu”

Luk 19:11-28 – “Mengapa uangku tidak kau berikan kepada orang yang menjalankan uang?”

RENUNGAN
1.Uang mina melambangkan kekayaan milik Allah, yang diberikan kepada manusia agar dia tumbuh dan menghasilkan buah. Uang mina juga melambangkan kehadiran Allah dalam kasih, pelayanan, dan berbagi. Orang yang takut tumbuh berarti menutup diri karena takut kehilangan apa yang ia miliki. Sedangkan orang yang mengasihi dan berbagi akan tumbuh dan akan menerima ganjaran berkelimpahan: “Orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat” (Mk 10:30).

2.Orang ketiga yang takut dan tidak berbuat apa-apa, tidak ingin kehilangan sesuatu. Justru dengan demikian ia akan kehilangan seluruh apa yang ia punya. Artinya: ia akan kehilangan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah harus diusahakan dan diperjuangkan. Siapa pun yang tidak mengusahakannya,  Kerajaan Allah akan hilang dari padanya.

3.Lukas mengakhiri perikope ini: “Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.” Dengan menuju Yerusalem menunjukkan bahwa Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Yesus sudah begitu dekat dan terjadi di Yerusalem. Kerajaan Allah terwujud melalui Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Yesus. Setiap murid Kristus harus selalu mengusahakan hadirnya Kerajaan Allah; ia tidak bisa berpangku tangan dengan hanya mengharapkan datangnya Kerajaan Allah. Kerajaan Allah terwujud melalui tindakan kita.

Rm Maxi Suyamto

Selasa, 21 November 2017

Renungan Harian GML : Jika Kita Keinginan Besar untuk Bertemu Yesus, Yesus pun Berkenan Menjumpai Kita

Bacaan Liturgi 21 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXIII
PW S. Maria Dipersembahkan kepada Allah
Bacaan Injil
Luk 19:1-10
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan melintasi kota itu.
Di situ ada seorang kepala pemungut cukai yang amat kaya, bernama Zakheus. 
Ia berusaha melihat orang apakah Yesus itu, 
tetapi tidak berhasil karena orang banyak 
dan ia berbadan pendek.
Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, 
lalu memanjat pohon ara 
untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. 

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata, 
"Zakheus, segeralah turun. 
Hari ini Aku mau menumpang di rumahmu." 
Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya, 
"Ia menumpang di rumah orang berdosa." 

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, 
"Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, 
dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang 
akan kukembalikan empat kali lipat."

Kata Yesus kepadanya, 
"Hari ini terjadilah keselamatan atas rumah ini, 
karena orang ini pun anak Abraham.
Anak Manusia memang datang 
untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Renungan
Hari itu saya mendapat tugas membawa berkas penting untuk disampaikan kepada seorang suster di Batu. Suster Stefani namanya. Suster ini biasanya sangat sibuk. Saya tidak yakin apakah bisa menemuinya. Sebenarnya saya bisa berusaha mendapatkan nomor telponnya untuk mengontak dia terlebih dahulu. Entah mengapa, hal itu tidak saya lakukan. Saya berangkat saja dan langsung menuju kediamannya. 

Biasanya kalau saya tiba di tempat itu, semua suster anggota rumah ada di tempat, kecuali Suster Stefani yang harus saya temui itu. Anehnya kali ini, saya menjumpai tempat itu kosong. Tak ada satu pun suster di tempat. Untunglah saya bertemu dengan seorang ibu yang adalah karyawati di tempat itu. Dia menjelaskan bahwa semua suster sedang keluar. Ada yang sedang sakit dan berada di Surabaya, di rumah sakit. Ada yang sedang ke pasar untuk belanja. Ada pula yang sedang ke kampus untuk mengajar. Satu-satunya suster yang ada di rumah adalah Suster Stefani, yang baru saja masuk ke ruangan kantor. 

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Berita dari ibu itu tentu sangat menggembirakan saya. Saya memang hari itu sedang punya keperluan dengan Suster Stefani. Ternyata ketika semua suster lain tak ada di tempat, Beliau ada. Saya pun segera menemuinya di kantor. Dia juga sangat senang menjumpai saya. Saya merasa bahwa Tuhan memperkenankan saya bertemu dengan Suster itu. Tepat seperti Zakeus yang ingin melihat Yesus, dalam Injil hari ini, dan Yesus berkenan malahan menumpang di rumahnya.

Zakeus punya keinginan besar untuk berjumpa dengan Yesus. Sayang ada halangan besar yang membuat dia sulit mewujudkan keinginannya itu. Halangan pertama adalah dari dirinya sendiri. Badannya pendek. Halangan yang kedua adalah dari lingkungannya. Begitu banyak orang mengerumuni Yesus. Untuk mengatasi halangan itu, Zakeus lari, meninggalkan orang banyak yang berkerumun itu. Lalu untuk mengatasi badannya yang pendek, Zakeus naik pohon. Usaha itu membuahkan hasil. Bukan hanya dia yang dapat melihat Yesus. Yesus pun melihat dia dan menyapa dia secara khusus. Lalu Yesus masuk dan makan bersama di rumahnya.
Seperti Zakeus, jika ada keinginan besar untuk bertemu Yesus, Yesus pun berkenan menjumpai kita dan tinggal bersama kita. Jika ada keinginan biasanya juga ada halangan. Halangan dari diri sendiri dan dari lingkungan. Kita diajak untuk mengatasi dua halangan itu. Beranikah saya mengatasi kelemahan aku untuk berjumpa dengan Yesus? Beranikah aku mengatasi halangan dari lingkunganku untuk bertemu dengan Yesus?

Rm Supriyono Venantius SVD

Senin, 20 November 2017

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN


SABDA, Senin, 20-11-2017

BACAAN
1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64 – “Kemurkaan hebat menimpa umat”

Luk 18:35-43 – “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menggambarkan kedatangan Yesus di Yeriko,  tempat terakhir sebelum Ia sampai di Yerusalem, di mana “Eksodus”-Nya yang Ia umumkan sewaktu Berubah Wajah akan terjadi.

2.Ay 35-37 – Seorang buta duduk di tepi jalan. Ketika mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?” Kata mereka: “Yesus orang Nasaret lewat.” Ia tidak bisa mengikuti perjalanan Yesus, karena buta.

3.Ay 38-39 – Orang buta itu berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Ia memanggil Yesus dengan sebutan Anak Daud. Memang pengajaran waktu itu mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud. Teriakan orang buta itu menjengkelkan orang-orang lain yang mengikuti Yesus. Ia berteriak semakin keras: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Teriakan tersebut juga terjadi sekarang ini dalam diri orang-orang miskin, para pengungsi, pengemis, orang-orang terlantar yang mungkin juga menjengkelkan orang-orang mapan yang tidak mau peduli terhadap penderitaan mereka. Mungkin orang mapan itu adalah kita.

4.Ay 40-41 – Reaksi Yesus. Ia berhenti dan memerintahkan mereka untuk membawa orang itu kepada-Nya. Yesus mendengarkan teriakan orang buta dan orang-orang miskin, di mana kita tidak ingin memperhatikan mereka. Yesus bertanya kepadanya: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Dari pertanyaan Yesus ini, orang tidak cukup berteriak saja,  tetapi harus tahu mengapa mereka berteriak. Orang buta itu menjawab: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

5.Ay 42-43 – “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu ia dapat melihat dan  mengikuti Yesus sambil memuji Allah. “Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” Imannya akan Yesus melampaui gagasannya tentang Yesus yang ia sebut sebagai “Anak Daud.” Penyembuhan merupakan buah iman akan Yesus. Sekali disembuhkan, ia berjalan mengikuti Yesus menuju Yerusalem. Dalam hal ini, ia merupakan salah satu model seorang murid bagi kita. Keputusannya untuk berjalan bersama Yesus merupakan sumber keberanian dan  benih kemenangan Salib. Salib bukanlah hal yang fatal tetapi lebih merupakan pengalaman bersama Allah. Salib merupakan konsekuensi mengikuti Yesus dalam ketaatan-Nya terhadap Bapa.

 Rm Maxi Suyamto

Sabtu, 18 November 2017

Renungan Harian GML : SELALU BERDOA DAN JANGAN KENDOR


SABDA, Sabtu, 18-11-2017

BACAAN
Keb 18:14-16; 19:6-9 – “Jalan  tanpa rintangan muncul di Laut Merah, dan rakyat melonjak-lonjak bagaikan anak domba”

Luk 18:1-8 – “Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya?”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan unsur yang sangat akrab dengan Lukas, yaitu Doa. Ini yang kedua kali Lukas menyampaikan kata-kata Yesus bagaimana Ia mengajar berdoa.  Yang pertama (Luk 11:1-13), Ia mengajarkan doa Bapa Kami, di mana kita harus berdoa terus menerus dan tidak mengenal lelah. Hari ini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus terus mendesak dalam berdoa.

2.Ay 1 – Pengantar. Lukas menulis “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Anjuran “untuk berdoa tanpa jemu-jemu” muncul banyak kali dalam Perjanjian Baru (1Tes 5:17; Rom 12:12; Eph 6:18; dll). Doa tanpa jemu-jemu merupakan ciri khas spiritualitas jemaat Kristen awal. Apakah juga menjadi ciri khas kita?

3.Ay 2-5 – Perumpamaan. Kemudian Yesus menyampaikan dua tokoh dalam kehidupan nyata: hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, dan seorang janda yang berjuang untuk mendapatkan haknya dari hakim tersebut. Perumpamaan menghadirkan orang miskin yang berjuang di pengadilan untuk mendapatkan haknya. Hakim memberi perhatian terhadap janda tersebut dan memberikan keadilan. Alasannya adalah untuk membebaskan diri dari janda tersebut yang selalu mengganggunya. Alasan yang menarik. Tetapi janda tersebut mendapatkan apa yang ia inginkan. Dari sini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus berdoa.

4.Ay 6-8 – Penerapan. Yesus menerapkan perumpamaan tersebut: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” Di sini Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang lalim tersebut. Tetapi kemudian Yesus menyampaikan sebuah keraguan: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Dengan kata lain, apakah kita memiliki keberanian untuk menanti dan memiliki kesabaran, bahkan jika Allah menunda melakukan apa yang kita minta kepada-Nya?

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 17 November 2017

Renungan Harian GML : MEMBANGUN HIDUP UNTUK MENYONGSONG SAAT ANAK MANUSIA DATANG


SABDA, Jumat, 17-11-2017

BACAAN
Keb 13:1-9 – “Jika mereka mampu menyelidiki jagat raya, mengapa mereka tidak menemukan penguasa semuanya itu?”

Luk 17:26-37 – “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya”

RENUNGA
1.Injil hari ini melanjutkan refleksi tentang akhir jaman dan bagaimana menyiapkannya. Tentang akhir jaman sudah menjadi problem pada waktu itu. Allah merupakan satu-satunya yang menentukan saat terjadinya akhir jaman. Tetapi saat Allah tidak bisa diukur dengan ukuran waktu kita. Dan kita tidak tahu, kapan hal itu akan terjadi. Tetapi yang menguatkan kita bukanlah kapan saat itu terjadi, tetapi Sabda Tuhan Yesus yang hadir dalam diri kita.

2.Ay 26-29 – Tiap hari hidup kita berjalan rutin: makan, minum, bekerja, main hp, ... Saking rutinnya, kita tidak lagi memperhatikan dimensi yang lebih dalam untuk kehidupan kita. Kita membiarkan ngengat mengancam hidup dan iman kita, sehingga ketika badai menerjang rumah kita, kita menyalahkan tukang bangunan. Tetapi sejatinya kita sendiri yang tidak merawat bangunan dengan baik. Kehancuran Sodom merupakan gambaran yang akan terjadi pada akhir jaman.

3.Ay 30-32 – Kehancuran Yerusalem pada tahun 70, bisa menjadi gambaran betapa mengerikannya saat akhir jaman. Agar supaya mereka mampu menghadapi penderitaan, Yesus menggunakan gambaran kehidupan: “Baragsiapa pada waktu itu berada di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya ... “ Kehancuran akan berjalan begitu cepat. Isteri Lot yang menoleh ke belakang saja, langsung menjadi tiang garam (Kej 19:26). Maka kita tidak boleh main-main dan sembarangan dalam hidup ini.

4.Ay 33 – “Barangsiapa memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya.” Dengan Sabda tersebut, hanya orang yang mampu memberikan diri secara total kepada orang lain, akan memperoleh kepenuhan hidup. Seseorang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri, ia akan kehilangan hidupnya. Padahal tak seorang pun dapat menjamin dan menyelamatkan hidupnya sendiri (Mzm 49:8-10).

5.Ay 34-37 –  Apa yang dikatakan dalam ayat-ayat di sini, mengingatkan perumpamaan tentang sepuluh gadis, lima bijaksana dan lima lainnya bodoh (Mt 25:1-11). Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu siap siaga supaya layak menyongsong saat Anak Manusia datang.

6.Bagaimana dengan Anda?

Rm.  Maxi Suyamto

Kamis, 16 November 2017

Renungan Harian GML: KERAJAAN ALLAH ADA DI TENGAH-TENGAH KITA

SABDA, Kamis, 16-11-2017

BACAAN
Keb 7:22-8:1 – “Kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cerminan tak bernoda kegiatan Allah”

Luk 17:20-25 – “Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berupa diskusi antara Yesus dengan orang-orang Parisi tentang kedatangan Kerajaan Allah. Inji hari ini dan hari-hari berikutnya berbicara tentang akhir jaman.

2.Ay 20-21 –  Ketika orang-orang Parisi bertanya kapan Kerajaan Allah datang, Yesus menjawab: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!” Orang-orang Parisi berpikir bahwa Kerajaan Allah dapat datang hanya kalau sesudah orang-orang mencapai kesempurnaan dalam menjalankan Hukum Allah dan Mesias akan datang sebagai raja agung. Yesus berkata sebaliknya. Datangnya Kerajaan Allah tidak bisa diamati seperti datangnya raja duniawi. Bagi Yesus, Kerajaan Allah sudah datang. Ia berada di antara kita, tidak tergantung dari usaha dan jasa kita.

3.Ay 22-24 – Tanda-tanda untuk mengenal datangnya Anak Manusia. Untuk mengenal kedatangan Anak Manusia, Yesus menggunakan gambaran ramalan akhir jaman pada waktu itu. Menurut ramalan tersebut, sebelum jaman akhir tiba, orang-orang mengalami krisis dan penderitaan hebat. Ramalan akhir jaman berusaha menerangi situasi putus asa agar orang-orang tidak kehilangan harapan dan tetap memiliki keberanian. Tetapi harus disadari bahwa kedatangan Anak Manusia tidak tergantung pada ramalan yang dibuat manusia. Bagi orang-orang yang percaya, Kerajaan Allah sudah berada di tengah mereka, seperti kilat yang memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, suatu fakta yang tidak bisa diragukan.

4.Ay 25 – Dari Salib menuju Kemuliaan. “Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.” Rasul Paulus mengingatkan: “Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Jalan menuju kemuliaan harus melalui Salib. Kehidupan Yesus adalah Ukuran; ukuran bagi kita semua untuk sampai pada kehidupan kekal.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 15 November 2017

Renungan Harian GML : MENGUCAP SYUKUR ATAS SETIAP PEMBERIAN DARI ALLAH

SABDA, Rabu, 15-11-2017

BACAAN
Keb 6:2-11 – “Dengarkanlah, hai para raja, dan pelajarilah kebijaksanaan”

Luk 17:11-19 – “Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, tetapi hanya satu yang kembali untuk bersyukur. Dia adalah orang Samaria. Ungkapan syukur merupakan salah satu tema Injil Lukas. Banyak kali orang-orang mengagumi dan memuji Allah karena hal-hal yang dibuat oleh Yesus (Lk 2:28-38; 5:25-26; 7:16; 13:13;). Lukas juga menyampaikan madah dan nyanyian yang mengungkapkan pengalaman syukur (Lk 1:46-55; 1:68-79; 2:29-32).

2.Ay 11 – Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Dari awal perjalanan-Nya (Luk 9:52) sampai sekarang (Luk 17:11), Yesus berjalan melewati Samaria. Baru sekarang Ia meninggalkan  Samaria, melewati Galilea supaya sampai Yerusalem. Hal ini berarti pengajaran yang diberikan Yesus terjadi di daerah-daerah yang tidak didominasi oleh orang-orang Yahudi. Dalam pengajaran-Nya, Yesus menyingkirkan segala macam perbedaan atau ketidaksamaan yang dibuat manusia. Karena hal ini, maka Yesus menerima sepuluh orang kusta.

3.Ay 12-13 – Sepuluh orang kusta datang kepada Yesus, dari jarak yang agak jauh mereka berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Orang kusta adalah kelompok yang disingkirkan, direndahkan, dan tidak punya hak untuk tinggal bersama keluarga. Bila bepergian, mereka harus memakai baju yang sobek-sobek dan dengan rambut acak-acakan, sambil berteriak: “Najis! Najis!” (Im 13:45-46). Setiap orang yang disentuh oleh orang kusta, ia ikut menjadi najis dan dilarang untuk beribadat kepada Allah. Dengan berteriak, mereka mengungkapkan iman mereka kepada Yesus yang dapat menyembuhkan mereka. Bagi mereka, sembuh berarti diterima kembali oleh Allah dan mampu menerima berkat seperti dijanjikan kepada Abraham.

4.Ay 14 – Yesus berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Jawaban Yesus ini membutuhkan iman yang besar dari orang kusta. Ketika mereka pergi kepada imam, sembuhlah kusta mereka. Hal ini mengingatkan kisah Naaman dari Siria. Naaman percaya pada kata-kata nabi Elisa. Orang-orang kusta percaya pada kata-kata Yesus.

5.Ay 15-16 –  Hanya orang Samaria yang kembali kepada Yesus. Mengapa yang lain tidak kembali kepada Yesus? Karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang menepati hukum, maka mereka berhak mendapatkan keadilan Allah dan tidak perlu kembali kepada Yesus. Sedangkan orang Samaria adalah orang yang tidak menepati hukum Yahudi. Ia mewakili orang-orang yang menyadari bahwa ia tidak punya hak di hadapan Allah.

6.Ay 17-19 – Orang Samaria, yang telah disembuhkan, memberi sebuah pelajaran kepada kita: Orang yang merasa tidak layak di hadapan Allah adalah mereka yang melaksanakan peran orang Samaria. Ia telah membantu kita menemukan kembali dimensi syukur dalam kehidupan. Segala sesuatu yang kita terima harus dipikirkan  sebagai sebuah pemberian dari Allah yang datang kepada kita melalui saudara-saudari kita yang lain.

Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 14 November 2017

Renungan Harian GML : SABDA TUHAN MENJADI DASAR HIDUP BERIMAN


Bacaan Liturgi 14 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXII

Bacaan Injil
Luk 17:7-10
Kami  hamba-hamba tak berguna; 
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.


Yesus bersabda kepada para murid, 
"Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba 
yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, 
akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang, 
'Mari segera makan'?
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu, 
'Sediakanlah makananku. 
Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku 
sampai selesai aku makan dan minum! 
Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.'
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, 
karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

Demikian jugalah kalian. 
Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu 
yang ditugaskan kepadamu, 
hendaklah kalian berkata, 
'Kami adalah hamba-hamba tak berguna; 
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan'."


Renungan
Di suatu perguruan tinggi, diadakan pemilihan ketua organisasi mahasiswa. Anehnya tidak satu pun mahasiswa bersedia dicalonkan untuk menjadi pengurus. Kelas yang bersangkutan akhirnya menunjuk dua mahasiswa untuk calon ketua. Saat pemilihan dilakukan, yang seorang ternyata tidak datang. Oleh karena itu pemilihan itu dilangsungkan dengan calon tunggal. Dengan berat hati, sang calon tunggal pun akhirnya menerima tugas menjadi ketua. 
Beberapa bulan bertanggung jawab mengurus organisasi mahasiswa, keluhan mulai bermunculan ditujukan kepadanya. Berbagai sindiran, kritikan dan sikap-sikap negatif dari pihak mahasiswa diarahkan kepadanya. Ada yang mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya itu tidak ada giginya. Ada yang mengatakan bahwa dia membiarkan mahasiswa jalan sendiri. Yang lain lagi mengatakan bahwa dia merencanakan terlalu banyak kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan oleh pengurus yang lain. Bukan hanya kata-kata saja yang diarahkan kepadanya, melainkan orang mulai tidak mau lagi melakukan kerja sama dengan dia. Mendapatkan reaksi negatif dari para mahasiswa itu, sang ketua tetap berusaha menjalankan tugasnya.
Setahun kemudian, ketika sampai pada penghujung masa tugasnya, dia menyelenggarakan pemilihan ketua baru. Setelah terpilih pengurus baru, dia menyelenggarakan acara pelantikan. Berbagai pihak memberikan sambutan dalam acara itu. Seperti yang sudah ia duga, sambutan demi sambutan isinya adalah kritikan dan penilaian negatif terhadap setahun kerja sang ketua. Tibalah giliran sang ketua itu memberi sambutan pertanggungjawaban. Dalam sambutannya itu, sang ketua menyadur kutipan ayat Kitab Suci, kurang lebih berbunyi demikian, “Setelah selesai melaksanakan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kami sebagai pengurus,  kami hendak berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.“ Penutup sambuatan itu ternyata bisa meluluhkan semua reaksi negatif dari para mahasiswa lain. Acara pertanggungjawaban itu menjadi semacam rekonsiliasi yang mendamaikan pihak-pihak yang selama ini saling berseberangan dan saling tidak percaya. Acara itu juga  menjadi awal pembangunan semangat baru untuk saling mengabdi di antara sesama mahasiswa.
Begitulah akhir dari tanggung jawab yang dilandasi oleh semangat dari Sabda Tuhan. Tuhan memberikan Sabda yang dapat mencairkan suasana. Sabda Tuhan dalam Injil hari ini menjadi dasar hidup beriman khusus bagi orang yang telah berhasil melaksanakan tugas tertentu. Tugas yang kita emban adalah sarana untuk mengabdikan segala kemampuan kita kepada Tuhan yang kita abdi. Keberhasilan yang kita dapat bukanlah alasan untuk menyombongkan diri. Keberhasilan itu kita dapat karena Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi. Maka dimana pun ada keberhasilan, orang beriman dihantar pada satu hal yakni memuliakan nama Tuhan. Ketika orang beriman memuliakan nama Tuhan, dirinya mengalami kebahagiaan dan umat beriman lainnya dapat bersatu dalam kebahagiaan itu. Kebahagiaan dalam kemuliaan nama Tuhan adalah kebahagiaan bersama.

Rm Supriyono Venantius SVD

Senin, 13 November 2017

Renungan Harian GML : MENGAMPUNI SEPERTI ALLAH MENGAMPUNI


SABDA, Senin, 13-11-2017

BACAAN
Keb 1:1-7 – “Kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia”

Luk 17:1-6 – “Jika saudaramu berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali kembali kepadamu dan berkata ‘Aku menyesal’, engkau harus mengampuni dia”

RENUNGAN
1.Injil hari ini terdiri tiga kata-kata berbeda dari Yesus: penyesatan terhadap orang kecil dan lemah (ay 1-2), mengampuni (ay 3-4), dan minta tambahnya iman  (ay 5-6).

2.Ay 1-2 – Kata-kata pertama: menghindari skandal. Skandal yang dimaksud adalah penyesatan terhadap orang-orang kecil dan lemah, artinya membuat mereka ini terjegal dan jatuh. Dalam tataran iman berarti menjauhkan mereka dari iman dan Tuhan, akhirnya mereka kehilangan iman. Hukuman terhadap penyesat yang demikian adalah mengalungi leher penyesat tersebut dengan batu kilangan dan dilemparkan ke dalam laut. Hukuman ini begitu keras, karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang kecil dan lemah (Mt 25:40.45). Bahkan kita sendiri sering menyesatkan mereka, sehingga mereka kehilangan iman. “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain” (Rom2:24).

3.Ay 3-4 – Kata-kata kedua: Ampunilah saudaramu. Mengampuni tujuh kali dalam sehari. Bukan hal yang mudah, tetapi Yesus menuntut sangat banyak. Dalam Injil Matius, kita dituntut mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali (Mt 18:22). Pengampunan dan rekonsiliasi merupakan misi Yesus yang paling utama. Kuasa untuk mengampuni diberikan Tuhan kepada Petrus (Mt 16:19), kepada para Rasul (Yoh 20:23) dan kepada komunitas (Mt 18:18). Mengampuni orang lain tidak diragukan lagi, karena jika kita tidak mengampuni saudara kita, kita tidak akan menerima pengampunan dari Allah (Mt 18:22-35; 6:12.15; Mk 11:26). Tidak sebanding antara pengampunan yang kita terima dari Allah dan pengampunan yang kita berikan kepada sesama kita.

4.Ay 5-6 – Kata-kata ketiga: Tambahkanlah iman kami. Mereka minta ditambahkan iman, karena didorong oleh perintah Yesus untuk mengampuni tersebut. Sungguh tidak mudah untuk mengampuni. Hanya dengan iman yang besar, kita bisa mengampuni. Secara manusiawi, di mata dunia, mengampuni seperti dikehendaki Tuhan merupakan hal yang bodoh. Tetapi, bagi kita, sikap untuk mengampuni sampai tujuh kali sehari merupakan kebijaksanaan Allah yang telah mengampuni kita dengan tanpa batas.

 Rm.  Maxi Suyamto