menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Minggu, 30 April 2017

Renungan harian GML " Bayangkan kamu menghadapi tawaran sesaat yang menggiurkan."



Sabda Hidup
Senin, 01 Mei 2017
St. Yusuf Pekerja
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29. BcO Why 7:1-17

Bacaan Injil: Yoh 6:22-29
22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. 24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. 25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Renungan
Sering kita temui kala ada uang orang gampang sekali mengubah pilihannya. Recehan 50 atau 100 ribu cukup untuk membuat orang melepaskan masa depannya selama 5 tahun ke depan. Coba kalau uang itu dibagi 5 th berapa rupiah tiap harinya, tidak seberapa. Tapi itu kenyataannya, orang mencari rejeki sesaat tanpa memperhitungkannya secara panjang dan terukur.
Orang-orang mencari keberadaan Yesus. Namun Yesus tahu kenapa mereka mencari Dia. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Yesus mengingatkan mereka mencari kehendak Allah yang akan mengenyangkan mereka secara kekal.
Ada banyak godaan agar kita mendapatkan kepuasan sesaat. Kita perlu hati-hati dengan semua itu. Kita mesti menemukan sesuatu yang berjangka panjang dan bisa memenuhi kebutuhan hidup kita jauh lebih lama. Mengikuti godaan sesaat hanya akan mebawa kita pada kekecewaan.

Kontemplasi
Bayangkan kamu menghadapi tawaran sesaat yang menggiurkan.

Refleksi
Bagaimana menemukan sesuatu yang jauh lebih bernilai dan mempunyai daya yang panjang?

Doa
Tuhan semoga aku tidak tergoda oleh dorongan-dorongan sesaat yang menggiurkan. Semoga aku mampu membangun rencana jangka panjang bagi hidupku. Amin.

Perutusan
Aku akan membangun rencana jangka panjang hidupku.


Disusun oleh:Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr Ketua Komsos KAS

Sabtu, 29 April 2017

Renungan harian GML"Refleksi Bagaimana caranya membebaskan diri dari kegelapan"


Minggu, 30 April 2017
HARI MINGGU PASKAH III
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 2:14,22-33; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35. BcO Why 6:1-17

Bacaan Injil: Luk 24:13-35
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" 33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." 35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Renungan
Pada tanggal 21 April yang lalu kita menjumpai anak-anak sekolah dari TK sampai tingkat tinggi memakai kebaya dan beskapan. Mereka merayakan hari Kartini dengan cara itu. Cara itu pasti memberi tanda tertentu namun cukupkah itu untuk mengenang sang “Dari Gelap Terbitlah Terang”? Kartini memberi cahaya bagi para perempuan untuk memperoleh pendidikan. Ia membawa perempuan keluar dari kegelapan menuju jalan terang.
Dua orang murid pulang dengan hati yang gelap. Mereka kehilangan pribadi yang menjadi tumpuan harapannya. Yesus telah mati. Mereka pun tidak tahu di mana jenasah Yesus berada. Yesus datang menemui mereka. Mereka tidak sadar bahwa yang datang adalah Yesus. Yesus pun menuntun mereka melepaskan diri dari suasana gelap menuju terang. Merekapun terbuka dan melihat jalan terang tersebut.
Ada banyak orang yang mengalami gelap dalam hidupnya. Mereka membutuhkan penuntun menuju terang. Maka kiranya kita perlu menjaga jalan terang kita agar bisa menuntun mereka yang lagi ada dalam kegelapan untuk menemukan jalan terang.

Kontemplasi
Bayangkan kisah dalam Injil Luk 24:13-35. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi
Bagaimana caranya membebaskan diri dari kegelapan?

Doa
Tuhan Engkau penuntunku. Di jalan-Mu semua terlihat dengan baik. Semoga aku bisa bertahan dalam jalan-Mu dan menuntun sesamaku ke sana. Amin.

Perutusan
Aku akan membebaskan diri dari kuasa kegelapan.

#saksikan bagian pertama film “Di Mataku” di TVRI Jogja antara jam 15an WIB hari Minggu, 30 April 2017#

Disusun oleh:Rm. P. Noegroho Agoeng S, PrKetua Komsos KAS

Renungan harian GML "Para murid meihat Yesus berjalan di atas air"

Sabda Hidup
Sabtu, 29 April 2017
Peringatan Wajib St. Katarina dr Siena
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; Yoh. 6:16-21. BcO Why 5:1-14

Bacaan Injil: Yoh 6:16-21
16 Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu 17 dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, 18 sedang laut bergelora karena angin kencang. 19 Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. 20 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" 21 Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui.

Renungan
Sesuatu yang spektakuler seringkali mengejutkan kita. Beberapa hari terakhir kita pun dikejutkan oleh ribuan rangkaian ucapan terima kasih untuk pemimpin yang kalqh dalam pilkada. Belum pernah hal seperti itu terjadi di negeri ini bahkan mungkin di dunia. Mereka yang kagum pun terpesona namun mereka yang tidak suka akan nyinyir. Namun pasti hal tersebut menggetarkan yang menerima.
Yesus berjalan di atas air. Ia mendatangi para murid yang sedang berada di dalam perahu. Para murid pun terkejut dan takut dengan peristiwa mengagumkan tersebut. Namun Yesus menguatkan hati mereka untuk tidak takut (lih Yoh 6:20). Mereka pun diherankan kembali kala mereka mau menaikkan Yesus ke perahu seketika itu juga perahu sampai ke tempat yang mereka tuju.
Ada banyak hal mengagumkan di sekitar kita. Ketika kita membuka hati dan pikiran kita kita akan menemukan banyak hal mengagumkan. Namun ketika kita nyinyir maka banyak hal yang mengagumkan tidak bisa kita lihat atau bahkan kita anggap sebagai tindakan cari pesona. Mari kita temukan hal-hal mengagumkan di sekitar kita. Jangan takut.

Kontemplasi
Bayangkan kisah dalam injil Yoh 6:16-21. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi
Bagaimana menyikapi hal-hal yang mengagumkan?

Doa
Tuhan semoga aku bisa menangkap karya-karya-Mu yang mengagumkan. Semoga aku mampu mengakui keagungan-Mu. Amin

Perutusan
Aku akan mengagumi karya Tuhan yang agung.

Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

#saksikan bagian pertama film “Di Mataku” di TVRI Jogja antara jam 15an WIB hari Minggu, 30 April 2017#

Kamis, 27 April 2017

Renungan harian GML "Lima roti dan dua ikan"

Sabda Hidup
Jumat, 28 April 2017
Petrus Chanel, Ludovikus Maria Grignion de Montfort, Lukhesius
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 5:34-42; Mzm. 27:1,4,13-14; Yoh. 6:1-15. BcO Why 4:1-11

Bacaan Injil: Yoh 6:1-15
1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. 3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. 4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. 5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" 6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. 7 Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." 8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: 9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" 10 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. 11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. 12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." 13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. 14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia." 15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Renungan
Suatu kali sebuah keluarga mengadakan hajatan. Tamu yang hadir banyak sekali. Salah seorang anak dari luar kota resah apakah hidangan yang disediakan cukup. Keresahannya sempat membuat resah yang lain pula. Namun kemudian ada yang menenangkan. Ia mengatakan bahwa tidak perlu khawatir semua bisa diatasi. Dan ternyata semua tamu mendapatkan hidangan dan bisa makan sampai puas.
Banyak orang mengikuti pengajaran Yesus. Mereka begitu setia mendengarkan pengajaran-Nya. Melihat itu Yesus tahu kalau mereka membutuhkan makanan. Maka Ia meminta para murid mencari dan menyediakan makanan itu untuk mereka. Para murid pun bingung bagaimana mesti menjalankan tugas tersebut. Namun Yesus telah punya jawaban atas pertanyaan mereka. Ia memberi mereka makan sampai puas.
Kadang kita pun perlu memberikan ketenangan kepada mereka yang sedang panik. Pada saat-saat seperti itu dibutuhkan pikiran jernih dan tindakan cepat dan tepat. Maka rasanya kita pun perlu terus belajar untuk menghadirkan ketenangan pada lingkungan sekitar kita yang sedang panik.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu berada dalam komunitas yang sedang panik. Hadirkan ketenangan kepada mereka.

Refleksi
Bagaimana memberikan ketenangan pada mereka yang sedang panik?

Doa
Tuhan semoga aku bisa menghadirkan ketenangan-Mu pada mereka yang sedang mengalami kepanikan. Semoga kehadiranku memberikan ketenangan dan solusi. Amin.

Perutusan
Aku akan berusaha menghadirkan ketenangan dan solusi.

Disusun oleh:
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Renungan harian GML " Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal"

Sabda Hidup
Kamis, 27 April 2017
Petrus Kanisius
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36. BcO Why 3:1-22

Bacaan Injil: Yoh 3:31-36
31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. 32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu. 33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. 34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. 35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. 36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."

Renungan
Bahasa menentukan keterlibatan pendengarnya. Bahasa yang pas akan sangat kena pada audien. Suatu kali saya pun merasa kesulitan berbicara dengan seorang anak kecil. Tapi saat anak itu bicara dengan kakaknya mereka bisa ngobrol gayeng dan penuh canda. Saya mengamati cara sang kakak berbicara dan mempraktekkan. Saya pun jadi bisa bercanda dengan anak tersebut.
Saya merasakan di awal-awal kisah Injil Yohanes bahasa Yesus tidak mudah ditangkap oleh para pendengar-Nya. Maka tidak mengherankan kalau, “Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu” (Yoh 3:32). Yesus pun mengubah cara berbahasa-Nya. Dan perubahan bahasa menghantar banyak orang mengikuti-Nya.
Kita memang perlu menemukan bahasa-bahasa yang tepat agar apa yang kita sampaikan bisa diterima. Setiap segmen mempunyai bahasa sendiri. Maka kalau kita ingin agar apa yang kita sampaikan diterima dengan baik kita perlu terus menerus mengenali pendengar kita.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu dipanggil untuk mengisi acara di hadapan orang yang sama sekali baru kamu hadapi.

Refkeksi
Apa yang perlu kita lakukan agar materi kita diterima pendengar kita?

Doa
Tuhan berikanlah kemampuan padaku agar aku bisa menyampaikan gagasan-gagasanku dan diterima para pendengarku. Amin

Perutusan
Aku akan mempelajari pendengarku dan bahasanya.

Disusun ole
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Rabu, 26 April 2017

Sekilas tentang bunda maria bag 1


(sumber:katolisitas )

I. Menuju Yesus melalui Bunda Maria
“ Ad Jesum per Mariam” (Menuju Yesus melalui Bunda Maria) adalah istilah yang sering kita dengar. Namun sudahkah kita menghayati pepatah ini, dan menjadikannya sebagai semboyan hidup sendiri? Barangkali proses pemahaman tentang hal ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita, dan semoga hari demi hari Tuhan menambahkan kepada kita pemahaman yang semakin mendalam.
Pemahaman tentang ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria tidak terlepas dari apa yang dipaparkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang juga diteruskan dalam Tradisi Suci, yang dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Peran Bunda Maria telah digambarkan secara samar- samar dalam Kitab Perjanjian Lama. Jadi, dengan melihat tipologi, kita dapat melihat kaitan antara penggambarannya di Perjanjian Lama dan penggenapannya di Perjanjian Baru.

2. Peran Bunda Maria disampaikan secara eksplisit dalam Kitab Suci terutama dalam Injil.

3. Peran Bunda Maria kemudian banyak disampaikan oleh Tradisi Suci, yaitu dari ajaran yang disampaikan oleh para Bapa Gereja, dan yang dilestarikan juga dalam liturgi suci dan oleh pengajaran Magisterium, yang menunjukkan bahwa Bunda Maria selalu menjadi bagian dalam sejarah kehidupan Gereja di sepanjang jaman.
“ Ad Jesum per Mariam“, pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria. Mengapa? Karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria. Maka, secara prinsip, dapat dikatakan demikian:

1. Seluruh gelar dan kehormatan Maria yang diberikan Allah kepadanya adalah demi kehormatan Yesus Kristus Putera-Nya, dan penghormatan ini selalu berada di bawah penghormatan kepada Kristus.
2. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah.
3. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam keseluruhan rencana keselamatan Allah.

a. Untuk itu Maria dipersiapkan Allah, dengan dibebaskan dari dosa asal sejak terbentuknya di dalam kandungan (Immaculate Conception ). Pemahaman akan kaitan makna penggambaran Perjanjian Lama dalam penggenapannya dengan Perjanjian Baru menjelaskan kekudusan Maria ini sebagai: i) Sang Hawa Baru yang bekerjasama dengan Kristus Sang Adam yang baru; dan ii) Sang Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, yang adalah Tanda Perjanjian Baru.
b. Bunda Maria menjalankan perannya sebagai Bunda Allah dan bekerjasama dalam rencana keselamatan Allah. Kerjasama Maria ini terlihat dari ketaatan-Nya dalam mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Oleh sebab itu, kerjasama Bunda Maria ini tidak hanya terbatas oleh kesediaannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus; namun juga kesetiaannya dalam membesarkan dan mendampingi Yesus dalam menjalankan misi keselamatan Allah. Maria juga menjadi
mediatrix/ pengantara yang menghantar orang- orang kepada Kristus, [dan ini dilakukannya tidak saja selama hidupnya di dunia, tetapi juga saat ia telah kembali ke surga].
c. Kerjasama Bunda Maria dengan rahmat Allah yang diterimanya, menghasilkan: i)
persatuannya dengan Kristus, baik saat ia hidup di dunia ini, maupun pada saat ia beralih dari dunia ini dan sesudahnya dalam kehidupan kekal; ii) Oleh jasa pengorbanan Kristus, Bunda Maria diangkat ke surga; iii) Maria menjadi
bunda semua umat beriman, karena Kristus telah memberikannya kepada kita sebagai ibu kita juga; iv) Setelah ia diangkat ke surga, Bunda Maria tetap menjadi
pengantara kita kepada Kristus dengan doa- doa syafaatnya ; v) Bunda Maria diangkat oleh Allah menjadi Ratu Surga .
4. Pengaruh doktrin Maria kepada kita umat beriman.
a. Ketaatan dan kekudusan Bunda Maria adalah teladan bagi kita umat beriman.
b. Maria adalah Bunda Gereja, Bunda kita umat beriman.
c. Maria adalah Ibu dan Perawan, maka Gereja juga adalah ibu dan perawan.
d. Pengangkatan Bunda Maria ke surga adalah gambaran akhir bagi kita kelak.


II. Seluruh gelar dan kehormatan Maria adalah demi Putera-Nya Yesus dan selalu berada di bawah penghormatan kepada Yesus.
Cardinal Newman mengatakan “ the Glories of Mary are for the sake of her Son”[ 1 ]. Ini berarti bahwa apapun gelar dan penghormatan kepada Maria selalu “ secondary ” (berada di bawah) setelah Puteranya, Yesus Kristus. Ini juga berarti bahwa semua penghormatan dan gelar yang diberikan kepada Maria, senantiasa berakar pada hubungannya yang begitu istimewa dengan Tritunggal Maha Kudus. Ia menjadi puteri Allah Bapa, Bunda Allah Putera dan mempelai Roh Kudus. Sebagai puteri Allah Bapa, Bunda Maria senantiasa taat dan senantiasa melaksanakan kehendak Allah Bapa di sepanjang langkah hidupnya. Sebagai puteri Allah Bapa, Maria menunjukkan ketaatannya untuk bekerjasama dengan Allah dalam karya keselamatan. Sebagai bunda Allah Putera, Maria berpartisipasi dalam karya penyelamatan manusia dan senantiasa membawa seluruh umat Allah kepada Puteranya. Sebagai mempelai Allah Roh Kudus, Maria menjadi sosok yang kudus dan tak bercela.
Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:
“Karena pahala putera-Nya ia ditebus secara lebih unggul, serta dipersatukan dengan-Nya dalam ikatan yang erat dan tidak terputuskan. Ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi Puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus . Karena anugerah rahmat yang sangat istimewa itu ia jauh lebih unggul dari semua makhluk lainnya, baik di sorga maupun di bumi….” (Lumen Gentium , 53)
Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: “Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang” (1Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi. Pengaruh tersebut mengalir dari kelimpahan pahala Kristus,
bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya. Pengaruh itu sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya.” (Lumen Gentium 60)
Sebab tiada makluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita. Namun seperti imamat Kristus secara berbeda-beda ikut dihayati oleh para pelayan (imam) maupun oleh Umat beriman, dan seperti satu kebaikan Allah terpancarkan secara nyata kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan cara yang berbeda-beda, begitu pula satu-satunya pengantaraan Penebus tidak meniadakan, melainkan membangkitkan pada mereka aneka bentuk kerja sama yang berasal dari satu-satunya sumber. Adapun Gereja tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa Maria memainkan peran yang berada di bawah Kristus seperti itu. Gereja tiada hentinya mengalaminya, dan menganjurkan kepada kaum beriman, supaya mereka ditopang oleh perlindungan Bunda itu lebih erat menyatukan diri dengan Sang Pengantara dan Penyelamat.” (Lumen Gentium 62)

III. Dasar penghormatan kepada Bunda Maria adalah karena perannya sebagai Bunda Allah (Theotokos)
Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Bahkan dapat dikatakan bahwa seluruh gelar tentang Maria bersumber pada kenyataan bahwa Maria adalah Bunda Allah, bunda Sang Penebus. Oleh karena itu, semua gelar Maria senantiasa bersumber pada misteri Inkarnasi Kristus. Jadi, seluruh gelar Maria adalah untuk semakin memperkuat pengajaran tentang Inkarnasi Kristus.
III.1. Dasar Kitab Suci: Theotokos:
1. Kejadian 3:15 : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya. ” Janji ini tentang ‘perempuan itu ( the woman) dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya.
2. Lukas 1:42-43 , Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” Elisabeth juga menyebutkan Maria sebagai seseorang yang terberkati di antara wanita, oleh karena ia mengandung Yesus.
3. Yesaya 7:14; Matius 1:23 , “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.”
4. Lukas 1:35 : Kata malaikat itu, “…. sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.”
5. Matius 2:11 . “Maka masuklah mereka … dan melihat Anak itu bersama dengan ibu-Nya . ”
6. Galatia 4:4 : “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. ”
III.2. Dasar Tradisi Suci: Theotokos
Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan bahwa Maria adalah sungguh Bunda Allah:
1. St. Irenaeus (180): “Perawan Maria, yang taat kepada Sabda-Nya menerima dari kabar gembira malaikat bahwa ia akan melahirkan Tuhan.”[ 2].
2. St. Petrus dari Alexandria (260-311): “Kami mengakui kebangkitan orang mati, di mana Yesus kristus Tuhan kita menjadi yang pertama; Ia mempunyai tubuh yang sungguh, bukan hanya kelihatan sebagai tubuh, tetapi tubuh yang diperoleh dari Maria Bunda Allah.[3 ]
3. St. Cyril dari Jerusalem (350): “Banyaklah saksi sejati tentang Kristus. Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya dari Surga, Roh Kudus turun dengan mengambil rupa seperti burung merpati: Penghulu malaikat memberikan kabar gembira kepada Maria: Perawan Bunda Allah memberikan kesaksian …..”[ 4]
4. St. Athanasius (365): “Sabda Allah Bapa di tempat yang Maha tinggi, …. adalah Ia yang dilahirkan di bawah ini, oleh Perawan Maria, Bunda Allah.[5 ]
5. St. Epifanus (374): Ia [Kristus] membentuk manusia menjadi sempurna di dalam Diri-Nya sendiri, dari Maria Bunda Allah, melalui Roh Kudus.”[ 6]
6. St. Ambrosius (378): “Biarkan hidup Maria …. memancar seperti penampakan kemurnian dan cermin bentuk kebajikan…. Hal utama yang mendorong semangat dalam proses belajar adalah kebesaran sang guru. Apakah yang lebih besar daripada Bunda Tuhan?[ 7 ]
7. St. Jeromus/ Jerome (384): “Jadikan teladanmu, Maria yang terberkati, yang karena kemurniannya yang tak tertandingi menjadikannya Bunda Allah.”[ 8 ]
8. St. Gregorius Naziansa (382) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga secara manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia).[ 9 ]
9. St. Yohanes Cassian (430): “….Kami akan membuktikan oleh kesaksian Ilahi bahwa Kristus adalah Allah dan bahwa Maria adalah Bunda Allah.”[ 10].
10. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?”[ 11].
11. St. Vincent dari Lerins (450): “Semoga Tuhan melarang siapapun yang berusaha merampas dari Maria yang kudus, hak- hak istimewanya yaitu rahmat ilahi dan kemuliaannya. Sebab dengan keistimewaannya yang unik dari Tuhan, ia disebut sebagai Bunda Allah [Theotokos ] yang sungguh dan yang sangat terberkati. Santa Maria adalah Bunda Allah, sebab di dalam rahimnya yang kudus digenapilah misteri yang karena kesatuan Pribadi yang unik dan satu- satunya, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, sehingga manusia itu adalah Tuhan dan di dalam Tuhan.[ 12]
12. St. Yohanes Damaskinus (749): “Biarkanlah Nestorius menjadi malu dan menutup mulutnya. Anak ini adalah Allah. Bagaimana mungkin ia yang melahirkan-Nya bukan Bunda Allah?”[13 ].
III.3. Pengajaran Magisterium Gereja: Theotokos
Gereja Katolik mengajarkan:
“Maria adalah sungguh- sungguh Bunda Allah” (De fide)[ 14 ].
Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “ Theotokos ” ……. dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan
Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda
Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “ Theotokos ” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. Konsili Efesus mengajarkan:
“Jika seseorang tidak mengakui bahwa Emmanuel adalah Tuhan sendiri dan oleh karena itu Perawan Suci Maria adalah Bunda Tuhan (Theotokos ); dalam arti di dalam dagingnya ia [Maria] mengandung Sabda Allah yang menjelma menjadi daging [seperti tertulis bahwa “Sabda sudah menjadi daging”], terkutuklah ia.” (D113)
Bahwa Maria adalah Bunda Allah adalah pengajaran Gereja sepanjang sejarah dan ini ditegaskan kembali dalam Konsili Vatikan II:
“Sebab perawan Maria , yang sesudah warta Malaikat menerima Sabda Allah dalam hati maupun tubuhnya, serta memberikan Hidup kepada dunia, diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan [Bunda] penebus yang sesungguhnya.” ( Lumen Gentium 53)

IV. Sebagai Bunda Allah, Maria dikuduskan Allah dan mengambil peran istimewa dalam rencana keselamatan Allah.
Karena peran Bunda Maria sebagai Bunda Allah ini maka ia dipersiapkan dan dikuduskan oleh Allah. Peran sebagai Bunda Allah dalam rencana keselamatan ini menjadikan Maria sebagai Hawa yang baru, yang bekerja sama dengan Kristus sang Adam yang baru, untuk menyelamatkan manusia. Hal- hal yang berkaitan dengan keistimewaan Bunda Maria sebagai Bunda Allah, dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok: a) persiapan Allah untuk menjadikan Maria sebagai Bunda-Nya b) kerja sama Bunda Maria dalam rencana keselamatan Allah c) buah/hasil yang diterima Maria dari perannya sebagai Bunda Allah.
IV.1 Persiapan Bunda Maria sebagai Bunda Allah
Kepenuhan rahmat Tuhan dalam diri Maria dan martabatnya diperoleh dari perannya sebagai Bunda Allah. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru, dan Tabut Perjanjian Baru. Keberadaan Bunda Maria telah dinubuatkan sejak awal mula, yaitu setelah kejatuhan Adam dan Hawa. Jika melalui Hawa, manusia memperoleh maut, maka melalui Maria, manusia memperoleh hidup kekal di dalam Kristus Tuhan yang dilahirkannya. Untuk misi utamanya sebagai Hawa Baru dan Ibu Tuhan, maka Maria dikuduskan Allah. Dikuduskan di sini artinya dibebaskan dari noda dosa asal, dan karenanya Maria tidak berdosa dan tetap perawan sepanjang hidupnya.
IV.1.a Dasar Kitab Suci: Maria telah dipersiapkan Allah
1. Kejadian 3:15 : “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” ‘Perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (Iblis) ini adalah Bunda Maria. Karena perannya sebagai sang perempuan yang mengalahkan Iblis ini, maka Maria oleh Allah dibebaskan dari noda dosa; sebab jika ia berdosa/ tercemar oleh Iblis, bagaimana mungkin ia mengalahkan Iblis, seperti disebut dalam Kej 3:15.
Yohanes 2:4; 19:26 , juga menyebutkan Maria sebagai ‘perempuan’, dan dengan demikian mengacu pada ‘perempuan’ yang dijanjikan Allah yang akan melahirkan keturunan yang akan meremukkan kepala Iblis, seperti disebutkan pada Kej 3:15.
2. Wahyu 11:19- 12:1-2 : Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru
Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1) ! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.
Selanjutnya, berikut ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan perbandingan antara tabut perjanjian lama dengan Maria
2 Sam 6:7; 1 Taw 13:9-10; Tabut Allah adalah sesuatu yang kudus. Pada PL, ketika Uza karena keteledorannya menyentuh tabut itu, Allah menghukumnya dan Uza wafat seketika.
2 Sam 6:16 dengan Luk 1:41: Seperti halnya Raja Daud, Yohanes Pembaptis melompat kegirangan di hadapan Tabut Allah (Bunda Maria).
2 Sam 6:9: “Bagaimana tabut Tuhan itu dapat sampai kepadaku?” dengan Luk 1:43: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”
2 Sam 6:11, 1 Taw 13:14 dengan Luk 1:56: Bunda Maria tetap tinggal di rumah persinggahannya selama tiga bulan.
3. Lukas 1:28 : Bunda Maria dikatakan sebagai ‘full of grace/ penuh rahmat’ [kecharitomene -bahasa Yunani] pada saat menerima Kabar Gembira dari Malaikat. Kecharitomene sendiri artinya adalah diubahkan seluruhnya oleh rahmat Tuhan, jadi artinya Maria telah disucikan
seluruhnya oleh Tuhan sendiri. Dengan demikian Maria dikuduskan bukan baru pada saat menerima kabar gembira (sebab jika demikian ia tidak
seluruhnya diubah/ dipenuhi oleh rahmat Allah) melainkan sejak awal mula konsepsinya di dalam rahim ibunya, Allah telah menguduskan dan membebaskannya dari segala noda dosa.
Hal ini diperoleh Maria oleh karena jasa pengorbanan Kristus, hanya saja ia memperoleh lebih dahulu, sebelum orang- orang yang lain, dan bahkan sebelum korban salib Kristus terjadi. Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu berhak memberikan rahmat-Nya menurut kebijaksanaan-Nya.
4. Lukas 1:34 : Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami (“ I know not man “)?” (Douay Rheims Bible – terjemahan Vulgate)
5. Keluaran 13:2,12; 34:19 dan Lukas 2:7 : Anak sulung artinya adalah anak pertama yang lahir dari rahim ibu. Sulung tidak berarti anak pertama dari banyak anak yang lain.
6. Yehezkiel 44:2 “Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab Tuhan Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.” Nabi Yehezkiel bernubuat bahwa tak seorangpun boleh melalui gerbang yang olehnya Tuhan masuk ke dunia.
7. Markus 6:3 : Yesus selalu dikenal sebagai “ the son of Mary”/ anak Maria satu- satunya (“ the “/ ‘sang’ anak Maria) bukan sekedar “a son of Mary” (anak Maria). Sayangnya perkataan ‘the ‘ ini tidak diterjemahkan dalam Kitab Suci terjemahan LAI
8. Lukas 2:41-51 : Pada saat Yesus diketemukan di Bait Allah, tidak disebut adanya saudara- saudara Yesus yang lain.
9. Yohanes 19:26-27 : Tidak mungkin Yesus menitipkan Ibu-Nya kepada sahabat-Nya (murid yang dikasihi-Nya) jika Ia masih mempunyai saudara kandung.
Yoh 19:25, “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan
saudara ibu-Nya , Maria istri Klopas dan Maria Magdalena.” Ayat ini menjelaskan bahwa karena Maria istri Kleopas adalah saudara Bunda Maria, maka anak Maria istri Kleopas, yang bernama Yakobus dan Yusuf (Mat 27:56 dan Mrk 15:47) adalah saudara sepupu Yesus. Mat 27:61, 28:1 menyebutkan bahwa Maria istri Kleopas sebagai ‘Maria yang lain’/ the other Mary .
IV.1.b. Dasar Tradisi Suci: Maria telah dipersiapkan Allah – Tanpa dosa dan perawan
Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyebutkan Bunda Maria sebagai seorang yang dipenuhi rahmat Tuhan, Tabut Perjanjian Baru , dan karena itu tidak berdosa. Para Bapa Gereja mengajarkan demikian:
1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.”[ 15]
2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.”[ 16 ]
3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu- satunya”[ 17].
4. St. Gregorius (213-270): “Mari menyanyikan melodi yang diajarkan kepada kita oleh inspirasi harpa Raja Daud dan berkata, “Bangunlah, O Tuhan, kepada peristirahatanmu; Engkau, dan tabut tempat kudus-Mu.” Sebab sesungguhnya Sang Perawan Suci adalah sebuah tabut, yang dilapisi emas dari dalam dan luar, yang telah menerima keseluruhan harta dari tempat kudus.”[ 18]
5. St. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu…[ 19] “Biarkan para wanita memuji-Nya, Maria yang murni.”[ 20]
6. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan,
O Tabut Perjanjian , yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.”[ 21 ]
7. St. Epifanius (376): “Barangsiapa yang menghormati Tuhan, menghormati juga bejana kudus-Nya; mereka yang tidak menghormati bejana kudus itu, juga tidak menghormati Pemiliknya. Maria itulah adalah Perawan yang kudus, yaitu sang bejana kudus itu.”[ 22]
8. St. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa[ 23 ]”.
9. St. Gregorius Nazianza (390): “Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti seseorang yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar.”[ 24]
10. St. Agustinus (415): “Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa.”[ 25 ]
11. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.”[ 26].
12. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda.[ 27]
13. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.”[ 28].
14. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.”[ 29]
Para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa selain Maria tidak berdosa, ia juga
tetap perawan seumur hidupnya, baik sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Kristus. Demikian tulisan mereka:
1. St. Ignatius dari Antiokhia (meninggal tahun 110), Origen (233),
Hilarius dari Poiters (m. 367) dan St.Gregorius Nissa (m. 394), mengajarkan tentang keperawanan Bunda Maria.[ 30]
2. Tertullian (213), “Dan sungguh, ada seorang perawan… yang melahirkan Kristus, supaya semua gelar kekudusan dapat dipenuhi di dalam diri orang tua Kristus, melalui seorang ibu yang adalah perawan dan istri dari satu orang suami.”[ 31 ]
3. St. Athanasius (293-373) menyebutkan
Maria sebagai Perawan selamanya/ Ever Virgin.[32]
4. St. Epifanus (374): Allah Putera …. telah lahir sempurna dari Maria yang suci dan tetap Perawan oleh Roh Kudus….”[ 33]
5. St. Jerome (347- 420) tidak hanya menyebutkan keperawanan Maria, tetapi juga keperawanan Yusuf.[34]
6. St. Agustinus dan St. Ambrosius (415), mengajarkan keperawanan Maria sebelum, pada saat dan sesudah melahirkan Yesus Kristus, sehingga Maria adalah perawan selamanya.[ 35]
“Dengan kuasa Roh Kudus yang sama, Yesus lahir tanpa merusak keperawanan Bunda
Maria, seperti halnya setelah kebangkitan-Nya, Dia dapat datang ke dalam ruang tempat para murid-Nya berdoa, tanpa merusak semua pintu yang terkunci (Lih. Yoh 20:26).”[ 36] Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari mati adalah Roh Kudus yang sama yang membentuk Yesus dalam rahim Bunda Maria. Maka kelahiran Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan peristiwa yang ajaib: kelahirannya tidak merusak keperawanan Maria, seperti kebangkitan-Nya tidak merusak pintu yang terkunci.
Selanjutnya, St. Agustinus mengajarkan, “It is not right that He who came to heal corruption should by His advent violate integrity.” (Adalah tidak mungkin bahwa Ia yang datang untuk menyembuhkan korupsi/kerusakan, malah merusak keutuhan pada awal kedatangan-Nya.”[ 37]
7. St. Petrus Kristologus (406- 450): “Sang Perawan mengandung, Sang Perawan melahirkan anaknya, dan ia tetap perawan”[38 ]. Paus St. Leo Agung (440-461) :“ a Virgin conceived, a Virgin bare and a Virgin she remained.- [Ia adalah seorang Perawan yang mengandung, Perawan melahirkan, dan ia tetap Perawan.”[ 39]. St. Yohanes Damaskinus (676- 749) juga mengatakan hal yang serupa: “Ia yang tetap Perawan, bahkan tetap perawan setelah kelahiran [Kristus] tak pernah sampai akhir hidupnya berhubungan dengan seorang pria… Sebab meskipun dikatakan Ia [Kristus] sebagai yang ‘sulung’…. arti kata ‘sulung’ adalah ia yang lahir pertama kali, dan tidak menunjuk kepada kelahiran anak- anak berikutnya.”[ 40]
IV.1.c Pengajaran Magisterium Gereja:
Maria disucikan dan tetap perawan seumur hidupnya
Atas perannya sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru, Bunda Maria dipersiapkan Allah, sebagai berikut:
1. Maria dikandung tanpa noda, dibebaskan dari dosa asal ( De fide) ((lih. Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, ed. James Canon Bastible, D.D, (Rockford, Illinois: TAN books and publishers, Inc. 1974) p.203)).
Pembebasan dari dosa ini adalah persyaratan yang layak bagi seorang perempuan dan keturunannya, yang akan melawan Iblis (lih. Kej 3:15). Bagaimanakah sang perempuan itu dapat melawan Iblis, jika ia sendiri telah jatuh ke dalam perangkap Iblis itu?
Maka pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX dalam Bulla, “ Ineffabilis Deus” mengajarkan doktrin untuk diimani oleh semua umat beriman:
“Dengan rahmat yang unik dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh jasa Yesus Kristus Sang Penebus umat manusia, Perawan Maria yang tersuci pada saat konsepsinya, dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (D 1641)
2. Sejak di kandungan, Maria dibebaskan dari
concupiscence /kecenderungan berbuat dosa ( Sententia communis).
Walaupun hal ini bukan merupakan pengajaran de fide, namun para teolog secara umum mengajarkan demikian berdasarkan ajaran St. Thomas Aquinas dalam ST III q. 27, a.3.
3. Akibat dari rahmat yang istimewa dari Tuhan, Maria dibebaskan dari setiap dosa sepanjang hidupnya ( Sententia fidei proxima ). Konsili Trente (1545-1563) mengajarkan:
“Tidak ada orang yang benar dapat untuk sepanjang hidupnya menghindari semua dosa, bahkan dosa- dosa ringan, kecuali atas dasar hak istimewa dari Tuhan, yang diyakini Gereja diberikan kepada Perawan Maria yang terberkati.” (D 833)
Paus Pius XII dalam surat ensikliknya, Mystici Corporis , tentang Perawan dan Bunda Tuhan, bahwa: “Ia tidak berdosa, baik dosa pribadi maupun dosa asal yang diturunkan.”
4. Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus ( De fide).
Konsili Konstantinopel II
(553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “ kudus, mulia, dan
tetap–Perawan Maria ”.[41 ]
Konsili ini merangkum ajaran-ajaran penting sehubungan dengan ajaran bahwa Yesus, adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Termasuk dalam ajaran ini adalah tentang keperawanan Maria.
Selanjutnya, pemahaman tentang Maria dikuduskan Allah diperoleh dengan memahami perbandingannya dengan Tabut Perjanjian di PL. Jika Tabut Perjanjian Lama saja begitu dikuduskan Allah, betapa Allah akan lebih lagi secara istimewa menguduskan Maria, Tabut Perjanjian Baru, yang mengandung dan melahirkan Kristus, Sang Sabda yang telah menjadi daging, Sang Roti Hidup dan Sang Imam Agung. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan:
“Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan] dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
Keperawanan Maria termasuk 1) keperawanan hati, 2) kemerdekaan dari hasrat seksual yang tak teratur dan 3) integritas fisik. Namun doktrin Gereja secara prinsip mengacu kepada keperawanan tubuh/ fisik Maria.[ 42 ]
5. Maria mengandung dari Roh Kudus, tanpa campur tangan manusia (De fide)
Ini sesuai dengan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel (lih. Luk 1: 35). Maria mengandung dari Roh Kudus dinyatakan dalam Syahadat Aku Percaya, “ Qui conceptus est de Spiritu Sancto .” (D 86, 256,993)
6. Maria melahirkan Putera-Nya tanpa merusak keperawanannya ( De fide)
Keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus termasuk dalam gelar, “tetap perawan” yang diberikan kepada Maria oleh Konsili Konstantinopel (553) (D214, 218, 227). Doktrin ini diajarkan oleh Paus Leo I dalam Epistola Dogmatica ad Flavianum
(Ep 28,2), disetujui oleh Konsili di Kalsedon, dan diajarkan dalam Sinode Lateran (649). Prinsipnya adalah ajaran dari St. Agustinus ( Enchiridion
34) yang mengajarkan dengan analogi- Yesus keluar dari kubur tanpa merusaknya, Ia masuk ke dalam ruangan terkunci tanpa membukanya, menembusnya sinar matahari dari gelas, lahirnya Sabda dari pangkuan Allah Bapa, keluarnya pikiran manusia dari jiwanya.
7. Setelah melahirkan Yesus, Maria tetap perawan ( De fide).
Konsili Konstantinopel (553) dan Sinode Lateran menyebutkan gelar “tetap perawan”(D 214, 218, 227). St. Agustinus dan para Bapa Gereja mengartikan ayat yang disampaikan oleh Bunda Maria, “karena aku tidak bersuami (I know not man )” (Luk 1:34) (Douay Rheims Bible) adalah suatu ungkapan kaul Bunda Maria untuk hidup selibat sepanjang hidupnya.
8. Konsili Vatikan II mengajarkan demikian:
“Kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, begitu pula Tradisi yang terhormat, memperlihatkan peran Bunda Penyelamat dalam tata keselamatan dengan cara yang semakin jelas … Dalam terang itu ia [Maria] sudah dibayangkan secara profetis dalam janji yang diberikan kepada leluhur pertama [Adam dan Hawa] yang jatuh berdosa. Ia adalah Perawan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki- laki, yang akan diberi nama Imanuel (lih. Yes 7:14; bdk. Mi 5:2-3; Mat 1:22-23).” ( Lumen Gentium 55)
Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dahulu seorang wanita mendatangkan maut, maka kini seorang wanitalah yang mendatangkan kehidupan. Itu secara amat istimewa berlaku tentang Bunda Yesus, yang telah melimpahkan kepada dunia Hidup sendiri yang membaharui segalanya, dan yang oleh Allah danugerahkan kurnia-kurniayang layak bagi tugas seluhur itu. Maka mengherankan juga, bahwa di antara para Bapa suci menjadi lazim untuk menyebut Bunda Allah suci seutuhnya dan
tidak terkena oleh cemar dosa manapun juga , bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus…” (Lumen Gentium 56)

Selasa, 25 April 2017

Renungan harian GML "Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih. Dia berkendak menyelamatkan bukan menghakimi"

Sabda Hidup
Rabu, 26 April 2016
Hari biasa Pekan II Paskah
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 5:17-26; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; Yoh. 3:16-21. BcO Why 3:1-22

Bacaan Yoh 3:16-21
16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Renungan
Seorang anak merasa nyaman sekali di pelukan ibunya. Kala mengalami ketakutan ia akan berlari ke perlindungan ibu atau ayahnya. Ia sadar bahwa merekalah orang-orang yang mengasihi dan tak akan membiarkannya ketakutan. Mereka akan memberikan ketentraman, keamanan dan kenyamanan.
Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih. Dia berkendak menyelamatkan bukan menghakimi. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:17). Maka Ia mengutus anak-Nya untuk menyelamatkan.
Kita bisa berlari kepada Tuhan kala kita mengalami ketakutan. Dia tidak akan membiarkan kita kesulitan. Kalau orang tua kita pun tidak membiarkan kita berada dalam kesulitan apalagi Tuhan. Maka marilah kita selalu mengandalkan Tuhan, terutama saat kita mengalami kesulitan.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu berada dalam kesulitan. Temui Tuhan dan orang tuamu.

Refleksi
Siapa yang selalu kaudatangi kala dirimu lagi ada dalam kesulitan?

Doa
Tuhan terima kasih atas keselamatan dan cinta yang Kautawarkan. Aku akan selalu berlindung pada-Mu. Amin.

Perutusan
Aku akan selalu berlari pada Tuhan yang mengasihiku.

Disusun oleh:
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Renungan harian GML:"Aku akan menempa diri menjadi utusan-Nya yang mengusir para setan masyarakat."


Sabda Hidup
Selasa, 25 April 2017
Pesta St. Markus
warna liturgi Merah

Bacaan
1Ptr. 5:5b-14; Mzm. 89:2-3,6-7,16-17; Mrk. 16:15-20. BcO Ef 4:1-16

Bacaan Injil: Mrk 16:15-20
15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. 16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. 17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, 18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." 19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Renungan
Dalam dunia kotor memang sulit menerima mereka yang bersih. Mereka yang biasa kotor akan terusik dan tergerak hatinya untuk menyingkirkan yang bersih. Yang bersih kemungkinan tersingkir karena ia berpatokan pada prosedural resmi dan tertib. Yang kotor tak memikirkan prosedur dan tatacara, yang penting bisa menyingkirkan dan mengalahkan yang bersih. Yang kotor sanggup melakukan hal-hal kotor.
Yesus mengutus para murid untuk mengusir setan-setan dalam nama-Nya, berbicara dalam bahasa-bahasa baru. Mereka tidak akan memegang ular, tidak celaka walau meminum racun dan menyembuhkan orang sakit. Mereka yang percaya dilindungi dari ancaman dan akan menghadirkan kebaikan.
Rasanya kita masih terus perlu berjuang dan berharap para utusan Tuhan itu menguasai negeri ini. Saat ini orang-orang seperti masih sedikit. Mereka masih sulit nengubah sikap masyarakat yang gampang tersulut sentimen emosional dan tergoda rupiah. Kita sungguh perlu berdoa sungguh bagi hadirnya sang utusan dan kita sendiri perlu berjuang menjadi utusan-Nya.

Kontemplasi
Bayangkan setan-setan jaman sekarang dan dirimu sebagai utusan untuk mengusirnya.

Refleksi
Bagaimana memenangkan yang bersih di dunia sekitar kita?

Doa
Tuhan tambahkanlah utusan-utusan-Mu. Semoga kami bisa menjadikan dunia tempat kami berpijak ini bersih dan berdaya. Amin.

Perutusan
Aku akan menempa diri menjadi utusan-Nya yang mengusir para setan masyarakat. -

Sumber= Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Minggu, 23 April 2017

Renungan harian GML " Apa arti kelahiran baru bagimu? "


Sabda Hidup
Senin, 24 April 2017
Fidelis dr Sigmaringen, Maria Eufrasia Pelletier
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8. BcO Why 1:1-20

Bacaan Injil: Yoh 3:1-8
1 Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7BJanganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Renungan
Kita sudah memasuki minggu paskah ke-2. Pada hari minggu didengarkan bacaan tentang bagaimana Yesus yang mengunjungi para murid yang bersembunyi di rumah karena takut pada pemuka Yahudi. Hari ini kita mendengar percakapan Yesus dan Nikodemus tentang kelahiran kembali dari Roh. Hanya mereka yang dilahirkan dari air dan Roh yang bisa masuk kerajaan Allah.
Paskah menjadi kesempatan bagi kita untuk lahir kembali. Kita lahir kembali bersama Kristus yang wafat dan telah bangkit. Kita memperbaharui janji baptis kita. Kita ikut lahir kembali bersama Kristus yang bangkit.
Kiranya paskah ini sungguh menjadi syukur bagi kita. Paskah ini menjadi masa meraih rahmat yang tak terbatas. Kita mendapat rahmat pemurnian yang meyentuh dasar hidup kita. Maka kelahiran kembali ini menguatkan kita untuk menjadi saksi-saksi kehidupan. Kita bangkit dan hidup, bukan tak berdaya dan mati.

Kontemplasi
Bayangkan kasih Tuhan melalui peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Tuhan mencintai kita tanpa batas.

Refleksi
Apa arti kelahiran baru bagimu?

Doa
Tuhan kelahiran baruku menjadi daya bagiku sebagai saksi-saksi kehidupan. Semoga aku pun mampu membangkitkan hidup sesamaku. Amin.

Perutusan
Dengan semangat kelahiran baru aku akan menjadi saksi-saksi kehidupan. -nasp-

Sabtu, 22 April 2017

Renungan harian GML:" Aku percaya Tuhan hadir menopang dan menuntunku"


Renungan harian GML

Sabda Hidup
Minggu, 23 April 2017
HARI MINGGU PASKAH II
Hari Minggu Kerahiman Ilahi
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 2:42-47; Mzm. 118:2-4,13-15,22-24; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31. BcO Kol 3:1-17

Bacaan Injil: Yoh 20:19-31
19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." 24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." 30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, 31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Renungan
Yesus kembali menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya. Yesus hadir untuk menguatkan hati para murid yang masih ketakutan. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Yesus memberikan salam yang menyejukkan, damai sejahtera bagi kamu. Melihat kehadiran Tuhan para murid pun dikuatkan dan mendapatkan semangat untuk tampil kembali.
Pada saat-saat tertentu kita mungkin mengalami masa-masa yang menakutkan. Kita menjadi orang tidak takut untuk bertemu dengan orang lain. Aneka perjumpaan pun membuat kita was-was. Akibatnya kita pun mengurung diri di dalam rumah.
Ketika mengalami kondisi seperti itu kita membutuhkan dorongan dan kekuatan untuk bangkit kembali. Dorongan dari sesama akan sangat membantu. Namun yang lebih utama adalah dorongan dari dalam diri kita sendiri. Untuk mendapatkan kekuatan dari dalam diri sendiri kita perlu berdekatan dengan Tuhan sang sumber segala rahmat.

Kontemplasi
Bayangkan kisah dalam Injil Yoh 20:19-31. Bandingkan dengan pengalamanmu.

Refleksi
Bagaimana mengatasi rasa takut dalam dirimu?

Doa
Tuhan aku percaya Engkau sang penguatku. Pada-Mu aku bersandar. Teguhkan dan kuatkan hatiku. Amin.

Perutusan
Aku percaya Tuhan hadir menopang dan menuntunku.


Sumber :
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Renungan harian GML : " Aku akan menerima warta yang tak masuk dalam kerangka pikirku. "


Sabda Hidup
Sabtu, 22 April 17
HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 4:13-21; Mzm. 118:1,14-15,16ab-18,19-21; Mrk. 16:9-15. BcO 1Ptr 4:12-5:14

Bacaan Injil: Mrk 16:9-15
9 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. 10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. 14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. 15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Renungan
Seringkali orang sulit mempercayai suatu berita yang tidak masuk akal baginya. Terhadap berita tersebut ia bisa cuek, menganggap itu berita palsu atau juga mengabaikan berita tersebut. Tidak jarang ia menolak memdengar berita itu disampaikan.
Para murid pun degil hatinya ketika mendengar kabar dari orang-orang yang telah bertemu dengan Yesus yang bangkit. Maria Magdalena sebagai saksi pertama menyampaikan kabar tersebut tetapi mereka tidak percaya. Dua orang murid lain menyampaikan berita itu juga tapi tetap tidak dipercaya. Akhirnya Yesus sendiri menemui dan mereka baru percaya.
Memang mengakui yang tidak ada di pikiran kita itu sulit adanya. Namun bukan berarti yang tidak ada dalam pikiran kita bukan kenyataan. Ada banyak kenyataan yang tak tertampung di dalam pikiran kita. Maka kita pun perlu membuka hati untuk percaya walau itu tidak masuk dalam pemikiran kita.

Kontemplasi
Pejamkan mata sejenak. Bayangkan dirimu mendapat suatu berita yang tidak masuk dalam kerangka pikirmu.

Refleksi
Bagaimana cara mempercayai sesuatu yang tidak masuk dalam kerangka pikir kita?

Doa
Tuhan banyak kenyataan yang belum kuketahui. Semoga aku mempunyai kerendahan hati untuk mempercayai kenyataan yang tidak masuk dalam kerangka pikirku. Amin.

Perutusan
Aku akan menerima warta yang tak masuk dalam kerangka pikirku.

Sumber: Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr Ketua Komsos KAS

Jumat, 21 April 2017

jadwal misa GML bulan mei 2017

Jadwal misa bulan mei 2107 di goa maria lawangsih ,Goa Maria Lawangsih adalah Goa maria di paroki administratif Santa Maria Fatima PelemDukuh .
1.minggu kliwon 30 april 2017 ,pukul 10:00 wib ...keterangan : misa mingguan paroki dan misa pembukaan bulan Maria

2.minggu wage 14 mei 2017 ,pukul 10:00 wib... ket:pf.St.Maria Fatima,misa mingguan paroki dan misa devosi bulam Maria

3.minggu pon 28 mei 2017 pukul 10:00 wib ...ket :misa mingguan paroki dan misa devosi bulan Maria

4.rebo legi 31 mei 2017 pukul 16:00 wib ... ket : misa penutupan bulan Maria