menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Selasa, 30 Mei 2017

Renungan harian GML : "Adakah aku bisa merasakan kehadiran-Nya dalam diriku dan dalam diri sesamaku?"


Bacaan Liturgi 31 Mei 2017

Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet

Bacaan Injil
Luk 1:39-56
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, bergegaslah Maria ke pegunungan menuju sebuah kota diwilayah Yehuda. Ia masuk ke rumah Zakharia
dan memberi salam kepada Elisabet.

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,
lalu berseru dengan suara nyaring, "Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu.
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana."

Lalu kata Maria,
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa
telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar,
dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."

Kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama dengan Elisabet lalu pulang kembali ke rumahnya.

Renungan
Perayaan pesta hari ini memperingati dua orang yang dipilih Tuhan saling berjumpa, saling meneguhkan. Maria dengan bayi Yesus dalam kandungannya dan Elisabeth dengan bayi Yohanes Pembaptis di dalam kandungannya. Keduanya mengandung pribadi-pribadi istimewa yang masih dikenang sampai dengan hari ini. Rasanya peristiwa hari ini adalah pengenangan akan pribadi-pribadi pilihan Allah yang tidak berjalan sendiri melainkan berjalan bersama untuk melakukan kehendak Tuhan.
Sebagai para pengikut Kristus, di kanan kiri perjalanan kita juga terdapat banyak orang yang berjalan bersama kita menuju kepada Tuhan. Sudahkah kita menyadari dua hal penting dalam hidup kita? Pertama, apakah kita sudah menyadari bahwa masing-masing dari kita mengandung kebaikan yang hadir dari iman kita kepada Tuhan? Kedua, sudahkah kita saling meneguhkan dalam usaha kita untuk melakukan kehendak Allah?
Semoga perayaan hari ini menjadi peneguh bagi langkah kita untuk melahirkan kebaikan Tuhan di dalam kebersamaan dengan saudara-saudari di sekitar kita.
Selamat bersaudara dalam Tuhan.

Kontemplasi
Bayangkan dan rasakan betapa kuat dukungan yang saling dirasakan oleh Bunda Maria dan Bunda Elisabet.

Refleksi
Adakah aku bisa merasakan kehadiran-Nya dalam diriku dan dalam diri sesamaku?

Doa
Tuhan semoga kami boleh terus menerus menyadari kehadiran-Mu dalam hidup kami dan boleh saling mendukung untuk menghadirkan Engkau di mana pun kami berada.

Perutusan
Ada hati yang menunggu untuk kita jumpai dan bersamanya kita bisa menghadirkan Tuhan.

Disusun oleh:
Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Senin, 29 Mei 2017

Renungan harian GML : "Jangan takut, Aku besertamu"



‘JANGAN TAKUT, AKU BESERTAMU”: KOMUNIKASIKAN HARAPAN DAN IMAN



 Saudari-saudara sekalian, kita jumpa lagi di Hari Minggu Paska ke-7. Minggu ini juga dirayakan sebagai Hari Komuniasi Sedunia. Bacaan Injil hari ini menyampaikan kepada kita doa Yesus dan harapan Yesus atas murid-murid-Nya sesudah Ia dimuliakan ke dalam sorga. Yesus berdoa agar para murid yang telah dididik-Nya dan telah mengenal Dia, mengenal Bapa dan percaya kepada-Nya senantiasa dipelihara oleh Bapa supaya mereka akan menghidupi dan melanjutkan pewartaan karya keselamatan Allah bagi dunia di tengah dunia. Demikianlah seperti dalam bacaan pertama, setelah Yesus naik ke sorga, para murid lebih sering berkumpul dalam paguyuban. Mereka bertekun dalam doa dan tinggal bersama. Bahkan dalam bacaan kedua disampaikan bagaimana semangat kemuridan mereka berkobar. Dengan sukacita dan berani mereka mewartakan Injil. Semangat mereka jelas. “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri, penjahat atau pengacau. Tetapi, jika kamu harus menderita sebagai orang Kristen, janganlah malu karena itu. Malah kamu harus memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”, demikian nasehat Petrus. 
 Dalam kerangka hidup sebagai persekutuan untuk menjadi saksi atau pewarta karya keselamatan Allah inilah Hari Komunikasi Se Dunia menjadi relevan. MEDIA memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Namun tidak semua yang diberitakan media dapat bermanfaat bagi masyarakat. Perlu kebijakan dan banyak pertimbangan dalam menerima ataupun menyampaikan berita. Berita itu bisa baik atau buruk, benar atau salah (hoax). Memang kita bisa melihat dari sisi lain, missalnya untuk pembelajaran supaya tidak berbuat seperti itu; akan tetapi  berita-berita buruk seperti kriminal, peperangan,  sara, dapat mempengaruhi atau menuntun pada rasa takut, cemas dengan keamanan diri dan lingkungannya. Diharapkan bahwa para pelaku media memperhatikan keseimbangan berita serta dampak yang mungkin ditimbulkan oleh berita tersebut bagi para pembaca atau pendengar dan penontonnya. Bagi orang Kristen ada tanggungjawab khusus agar dalam berita yang diterima atau terutama yang disampaikan hendaknya bisa menjadi refleksi akan hakekat Allah yang Mahacinta. Kehadiran Yang Ilahi dalam hidup manusia beriman, menjadi kekuatan agar semakin berani menegakkan kebenaran iman, harapan dan kasih dalam hidup manusia masa kini. 
Paus Fransiskus dalam pesannya di Hari Komunikasi se dunia ini mengajak agar kita umat kristiani mau memutuskan lingkaran setan dan spiral ketakutan karena terlalu berfokus pada ‘berita buruk’. “Saya mengajak setiap orang untuk terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif, menampik prasangka terhada orang lain dan menggalakkan budaya perjumpaan”, kata Paus. “Saya mengajak semua orang untuk menjadi agen ‘kabar baik’ bagi dunia ini”, tambahnya. Bagi umat Kristiani kriteria kabar baik adalah Kristus sendiri. Penginjil Markus menyampaikan kabar baik bukan saja kabar yang dibawa atau diwartakan oleh Yesus, melainkan Yesus sendiri. Hidup Yesuslah kabar baik. Bukan berarti tanpa penderitaan, sebaliknya penderitaan menjadi bagian dari gambar kehidupan yang lebih besar. Dalam Kristus dan juga penderitaan-Nya, Allah menunjukkan solidaritas-Nya terhadap manusia. Yesus telah menyatakan bahwa kita tidak sendiri melainkan bahwa kita punya Bapa yang selalu memperhatikan anak-anak-Nya. Dalam cara pandang ini, tragedy baru dunia dapat dilihat menjadi seperti cinta yang menggerakkan hati, menimbulkan simpati, dan siap membantu. Kabar baik ini memberi pengharapan. Paus Fransiskus, melihat pentingnya iman dan harapan dikomunikasikan kepada manusia yang hidup pada masa kini. Maka untuk hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-51 yang akan dirayakan 28 Mei 2017, Bapa Suci mengangkat tema : “Jangan Takut, Aku Besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman”.  Melalui tema ini, Bapa Suci mengundang kita semua untuk merenungkan khabar baik bahwa Allah tidak pernah berhenti menjadi sosok Bapa – untuk semua orang, dalam segala situasi. Marilah kita belajar untuk mengkomunikasikan iman dan harapan dalam sejarah masa kini. Media dan para penanggungjawab komunikasi menjadi ‘kabar baik’ jika mampu menyuarakan harapan yang didasarkan atas iman, dengannya manusia mampu untuk menghadapi segala tantangan apapun guna mencapai hidup kekal di Surga. Selamat merayakan Hari Komunikasi se Dunia. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC)

Misa Penutupan Bulan Maria

Jumat, 26 Mei 2017

Renungan harian GML : "Dukacita yang Mendahului Kemenangan"



Sabtu, 27 Mei 2017, 
Dukacita yang Mendahului Kemenangan
Sabtu Biasa Pekan VI Paskah
Bacaan : Kis. 18:23-28; Mzm. 47:2-3, 8-9, 10; Yoh. 16:23b-28

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

Renungan:
Injil hari ini ingin menegaskan kembali apa yang telah dikatakan Yesus dalam bagian sebelumnya, yakni bahwa dukacita harus mendahului sukacita. Dalam konteks bacaan ini, dukacita dapat berarti sengsara dan wafat-Nya, sementara sukacita adalah kebangkitan-Nya. Tetapi, dalam konteks kemudian, dukacita itu adalah kenaikan-Nya ke surga meninggalkan para murid sementara sukacita yang Yesus janjikan adalah kedatangan-Nya kembali kelak. Tanpa dukacita, sukacita itu tidak akan dirasakan secara penuh. Tanpa sengsara dan wafat, tidak ada kebangkitan Yesus. Tanpa keneikan-Nya ke surga, tidak terbuka jalan manusia kepada Bapa dan tidak ada kedatangan-Nya yang akan membuat kita bersuka cita. Lebih lanjut, Yesus menganjurkan kita untuk meminta kepada Bapa agar sukacita kita menjadi semakin penuh.
Yesus juga mengatakan bahwa hal itu Ia nyatakan kepada para murid dengan kiasan. Namun, akan tiba saatnya Ia mengatakan semua itu dengan terus terang. Salah satu yang akan dinyatakan oleh Yesus dengan terus terang adalah BAPA. Di dalamnya, Yesus menampilkan kembali kesatuan khas yang terbangun antara Putera dan Bapa serta Putera dan para murid, dan antara Bapa dan para murid. Kesatuan itu sedemikian khas sehingga Yesus tidak dapat dimengerti hanya sebagai pengantara para murid kepada Bapa. Ia tidak hanya menjadi pengantara, tetapi juga membawa mereka kepada Bapa. Kasih yang diberikan oleh Bapa kepada Yesus diberikan-Nya juga kepada para murid.
Hari-hari ini adalah hari penantian kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Dalam tradisi, biasanya didoakan novena memohon tujuh karunia Roh Kudus karena memang ada jeda sembilan (atau sepuluh) hari antara kenaikan Tuhan dan turunnya Roh Kudus. Mengikuti nasihat Yesus, baik bagi kita untuk memohon kepada Bapa agar sukacita kita menjadi semakin penuh oleh turunnya Roh Kudus yang akan kita rayakan dalam Hari Raya Pentakosta nanti.
Selain itu, patut diingat bahwa kata ‘dukacita mendahului kemenangan (sukacita)’ juga berlaku dalam hidup kita. Dalam saat-saat pergulatan, kita harus sadar bahwa akan ada kemenangan setelahnya. Dalam bahasa St. Ignatius Loyola, kadang kala Tuhan memberi kita desolasi (kesepian rohani) agar dalam konsolasi (penghiburan rohani) kita dapat merasakan sukacita dan rahmat Tuhan secara lebih mendalam.

Disusun oleh :
Fr. Agustinus Wahyu Dwi A. 

Rabu, 24 Mei 2017

Renungan Harian GML : "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman"



25 Mei 2017 – Hari Raya Kenaikan Tuhan
Matius 28:16-20
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.”


Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati, 
kesebelas murid berangkat ke Galilea, 
ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, 
tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Yesus mendekati mereka dan berkata, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, 
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu 
yang telah Kuperintahkan kepadamu. 
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Renungan
       1. Pada renungan kali ini, saya tertarik untuk menjelaskan lebih dulu mengenai Injil Sinoptik. Injil Sinoptik adalah “Injil-Injil yang mirip”, kurang lebih menulis kisah yang sama mengenai Yesus, dengan menggunakan penggunaan kata-kata yang sama, istilah-istilah yang sama, namun tetap ada perbedaan di sana-sini. Yang termasuk dalam Injil Sinoptik adalah Matius, Markus, dan Lukas.
       2. Yang menarik pada Injil kita pada hari ini adalah mengenai “Kisah Kebangkitan Yesus”. Hanya dalam Injil Matius, kita bisa menemukan bahwa Yesus tidak naik ke surga setelah kebangkitan-Nya. Di kedua Injil lainnya (Markus dan Lukas), secara eksplisit kita bisa menemukan kisah Yesus yang naik ke surga.
       3. Dalam perikop hari ini, dikisahkan Yesus bertemu dengan murid-murid-Nya di sebuah bukit di daerah Galilea. Di sana Yesus meminta para murid untuk pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya. Dan di akhir kisah ini (ayat terakhir dalam Injil Matius), Yesus mengatakan “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Di sini kita benar-benar dapat menemukan Yesus sebagai Emanuel – “Tuhan beserta kita”.
      4. Yesus tidak meninggalkan kita, bahkan sampai hari ini. Yesus ada di dekat kita, menyertai setiap perjalanan hidup kita. Dalam jatuh-bangun hidup kita, Yesus selalu ada di sana. Dalam kebahagiaan dan kesusahan, Yesus tidak meninggalkan kita. Dalam  tawa dan tangis, Yesus ada bersama kita. Setiap menit bahkan setiap detik dalam hidup kita, Yesus hadir di sana.
      5. Pertanyaannya sekarang bagi kita masing-masing, “Apakah aku dapat merasakan kehadiran-Nya dalam hidupku sehari-hari? Dalam rutinitasku? Dalam setiap momen hidupku? Bahkan dalam saat-saat tersulit dan paling gelap dalam hidupku? Apakah mungkin Ia hadir di sana, dalam diri sesamaku, orang-orang terdekatku, yang seringkali kulupakan selama ini, yang menyertaiku dalam setiap momen hidupku?” Ehmm.. Mungkin saja..! 
     Mari kita rasakan kembali kehadiran-Nya dalam hidup kita masing-masing.

Nikolas Kristiyanto, SJ

Sabtu, 20 Mei 2017

Renungan harian GML : "Jika kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahKu"

JIKALAU KAMU MENGASIHI AKU, KAMU AKAN MENURUTI SEGALA PERINTAHKU
 
Saudari-saudara yang terasih, hari ini kita merayakan Hari Minggu Paska ke-6. Bacaan-bacaan pada hari Minggu Paska ke-6 menceritakan bagaimana para murid Yesus melakukan perintah Yesus, perbuatan-perbuatan ajaib pun terjadi di antara mereka, dan karya mereka menghasilkan banyak buah dengan banyak orang yang percaya dan bergabung dengan mereka.  Namun jangan salah. Mereka berkarya bukan sekedar mencari anggota apalagi mencari popularitas demi mendapatkan banyak pendukung. Para murid berkarya karena mereka mengasihi Kristus. Para murid mempertanggungjawabkan kehidupan iman mereka kepada Kristus yakni menghayati dan mewartakan khabar sukacita Injil tentang karya keselamatan Allah. Allah begitu mencintai manusia dan menghendaki agar manusia selamat. Untuk itu manusia harus bertobat. Karya pertanggungjawaban dan karya pertobatan ini, menurut Petrus, harus dilaksanakan bukan dengan kekerasan tetapi dengan lemah lembut: “Tetapi semua itu haruslah kamu lakukan dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, yang saleh di dalam Kristus” (1 Ptr 3:15-16). Para murid melakukan perbuatan yang besar karena mendapat “Penolong” yaitu “Roh Kudus” bukan untuk main kuasa apalagi membinasakan sesama manusia melainkan untuk kabaikannya: “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat .. Sebab Yesus pun telah mati untuk orang-orang yang tidak benar supaa Ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr 3:17-18).
Saya memilih judul renungan ini: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” dengan beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena orang seringkali menyitir perintah ini begitu saja dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Betapa banyak orangtua yang tega menganiaya anak hanya karena merasa bahwa anak tidak mau mendengarkan orangtua. Betapa banyak anak yang tega menyengsarakan orangtua dengan tuntutan-tuntutan yang berlebihan hanya karena merasa bahwa orangtua punya kewajiban terhadap anaknya. Lebih mengerikan lagi berapa banyak wanita yang menjadi korban lelaki hidung belang yang menuntut rasa cintanya dipenuhi dengan tindakan-tindakan demi kesenangan sendiri. Alasan yang kedua adalah bahwa kata-kata Yesus itu harus ditempatkan dalam kerangka ajakan Yesus: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti peritah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh 15:10). Yesus tidak seang mengintimidasi ataupun menuntut para murid malainkan mengajak dan menempatkan para murid di dalam kesatuan kasih-Nya kepada Bapa. Dalam kesatuan kasih itu para murid akan menerima Penolong yang lain yakni Roh Kebenaran yang akan menyertai mereka melanjutkan karya-karya Yesus mengasihi manusia yang terus-menerus ada dan hadir dalam kehidupan dunia. Alasan yang ketiga adalah untuk menegaskan bahwa karya-karya buat Yesus atau karya-karya pelayanan Umat Allah bukanlah demi merebut cinta Yesus atau demi supaya kita masuk sorga. Karya-karya pelayanan murid Yesus merupakan ungkapan atau buah-buah dari kasih mereka kepada Yesus. Karena kasih itulah maka mereka tabah, tidak mudah “mutung” ataupun patah arang. Karena kasih itulah maka para murid tidak mudah terluka karena issue atau iri hati ataupun dugaan-dugaan yang mencederai diri. Apalagi kasih Kristus itu akan menjauhkan dari emosi tak terkendali untuk mencelakakan orang lain. Menderita pun kalau untuk perbuatan baik yang dikehendahi Allah, siap untuk dijalani.
Saudari-saudara sekalian. Apakah kita telah menjadi murid Yesus yang mengasihi-Nya? Apakah kita telah melakukan perbuatan-perbuatan baik? Apakah kita telah menghasilkan banyak buah? Sebagai murid-murid Yesus semoga kita tidak terjebak dalam upaya-upaya karya demi popularitas atau demi untuk mencari pendukung, bukan karya-karya politis demi memperoleh posisi ataupun kedudukan. Semoga karya-karya pelayanan kita bukan berorientasi demi ‘kebaikan diri’ melainkan demi menghidupkan dan melanjutkan kasih bekaikan Kristus yang kita yakini sebagai sharing demi kebaikan mereka yang kita layani: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, …. Ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia, dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”(Yoh 14:21). Selamat melayani dalam semangat kasih kepada Yesus dan kasih Yesus. Tuhan selalu memberkati. 

Disusun oleh : Rm. Yohanes Purwanta MSC

Jumat, 19 Mei 2017

Renungan harian GML : Bertekun dalam Penderitaan


Sabtu, 20 Mei 2017, Bagaimana Bertekun dalam Penderitaan
Sabtu Biasa Pekan V Paskah
Bacaan : Kis. 16:1-10; Mzm. 100:1-2,3,5; Yoh. 15:18-21

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para murid-Nya, "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”
Renungan:
Pertanyaan besar yang dihadapi para murid, menjelang sengsara dan wafat Yesus dan juga nanti menjelang kenaikan-Nya ke surga, adalah bagaimana kesatuan dengan Yesus dapat terus dipelihara. Ini menjadi penting karena waktu itu Yesus terus menerus berkata mengenai “meninggalkan dunia ini”, sementara para murid merasa tidak berdaya menghadapi dunia ini tanpa kehadiran Yesus. Bacaan Injil hari ini menjadi bagian dari wejangan terakhir Yesus sebelum wafat-Nya. Sebagian besar berbicara mengenai bagaimana kesatuan itu dapat dipertahankan, tetapi juga mengenai penderitaan yang juga akan dialami oleh para murid. Di satu sisi, Yesus tidak menjanjikan kemudahan bagi mereka yang mengikuti-Nya, melainkan penolakan, kebencian, dan penganiayaan dari dunia. Di sisi lain, Yesus menjanjikan Roh Kudus yang akan memebimbing mereka melewati semuanya itu.
Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, dapat kita lihat bagaimana Roh Allah itu sungguh membimbing para murid, terlebih Paulus dalam menyebarkan kabar gembira kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Namun, tidak berarti semua berjalan lancar begitu saja karena ‘hamba tidaklah lebih besar dari tuannya’. Dalam perjalanannya yang pertama, Paulus dan Barnabas dituduh mengajarkan ajaran sesat dan diusir dari Antiokhia di Pisidia. Mereka juga hampir diserang dan dilempari batu di Ikonium. Di Listra, Paulus dilempari batu dan diseret keluar kota.
Rahmat Roh Kudus, selain memberikan kepada kita pengetahuan mengenai apa yang harus kita lakukan dalam kebimbangan, juga memberikan rahmat perseverantia, ketekunan dalam kesulitan dan penderitaan. Maka, dalam kebimbangan, kita selayaknya memohon rahmat dari Roh Kudus sendiri agar diberi arahan untuk menentukan keputusan. Dan, keputusan yang dianjurkan Roh Kudus seringkali bukan keputusan yang mudah, melainkan terjal dan penuh liku. Yesus sendiri sudah memperingatkan itu dalam bacaan hari ini, yakni bahwa jalan mengikuti Dia adalah jalan yang berseberangan dengan jalan yang ditawarkan dunia, yang serba enak dan mudah. Dalam saat-saat seperti inilah kita perlu memohon rahmat ketekunan atau perseverantia.

Disusun oleh:
Fr.  Agustinus Wahyu Dwi A.  SJ

Senin, 15 Mei 2017

Renungan harian GML : "Apakah anda ingin terkenal? Mengapa?"



Sabda Hidup
Senin, 15 Mei 2017
Pakomius
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 14:5-18; Mzm. 115:1-2,3-4,15-16; Yoh. 14:21-26
BcO Why 19:11-21

Bacaan Injil: Yoh 14:21-26
21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." 22 Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" 23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. 24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. 25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; 26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Renungan
Banyak orang menginginkan dirinya terkenal. Tidak sedikit yang ingin dikenal secara luas dan mendunia. Mereka pun kemudian mengambil langkah-langkah yang bisa menghantarnya menjadi orang terkenal.
Yudas Iskariot ingin menjadi orang terkenal di dunia. Dengan mengikuti Yesus dia pun berharap bisa ikut terkenal. Namun ia kecewa karena Yesus tidak memproklamirkan diri kepada dunia. Maka ia pun mempertanyakan sikap Tuhan, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" (Yoh 14:22).
Setiap orang tentu boleh-boleh saja mempunyai kerinduan untuk terkenal. Namun rasanya terkenal itu bukan tujuan hidup. Terkenal itu buah dari aneka perbuatan baik yang kita kerjakan. Perbuatan-perbuatan baik tersebut akan menghadirkan sikap hormat dan kekaguman yang menghantar seseorang dikenal oleh yang lain.

Kontemplasi
Pejamkan matamu sejenak. Bayangkan dirimu dikenal karena kebaikanmu.

Refleksi
Apakah anda ingin terkenal? Mengapa?

Doa
Tuhan semoga aku tidak tergoda untuk menjadi orang terkenal. Semoga aku setia dengan kebaikan-kebaikan harian. Amin

Perutusan
Aku akan setia menjalankan kebaikan harian.

Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Minggu, 14 Mei 2017

Misa Minggu 14 Mei 2017

Misa di Goa Maria Lawangsih
14 Mei 2017


Misa dimulai pd pukul 10.00 yang dipimpin oleh Rm.  Modestus Suprianta Pr.  Beliau adalah Romo Paroki Gereja St Maria Tak Bernoda Nanggulan dan sekaligus Romo Paroki Adm St Maria Fatima Pelem Dukuh.  Misa diikuti oleh umat Pelem Dukuh dan para peziarah dengan iringan koor dr kelompok Bina Iman Anak Pelem Dukuh.

Misa ini merupakan misa kedua di bulan Mei 2017 yang di adakan di Goa Maria Lawangsih.  Misa yang pertama adalah misa pembukaan bulan Maria yang diadakan pada hari Minggu tgl 30 Mei 2017. Misa tersebut dipimpin oleh Rm.  Bonifasius Dwi Yuniarto Pr, beliau saat ini bertugas di Gereja Pringwulung Yogyakarta. Tema yang diangkat Goa Maria Lawangsih di bulan Maria ini adalah " Bersama Bunda Maria kita wujudkan peradaban kasih dalam kehidupan keluarga dan masyarakat"

Dalam homilinya hari ini,  Rm Pri memberikan penjelasan tentang sabda Yesus :"Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah dan percayalah kepadaKu,  Akulah jalan kebenaran dan hidup". Kita sudah memasuki minggu Paskah ke V.  Kalau kita sejenak kembali ke belakang,  setiap hari minggu kita mengenang karya-karya, kebaikan dan cinta Tuhan untuk kita secara terus menerus.   Setelah kebangkitan Tuhan, yang merupakan muara seluruh aktifitas kegiatan gereja,  muara iman, kita kemudian memasuki minggu Paskah ke II.  Minggu tersebut merupakan minggu kerahiman,  Alah yang berbelas kasih.  Kita hidup bukan karena usaha,  upaya,  kekayaan,  martabat, derajat pangkat kita, tetapi karena kerelaan Allah memberi kehidupan kepada kita.

Pada minggu Paskah ke III,   yang merupakan minggu kasih setia Tuhan,  Tuhan yang setia menyertai, mendekati,  tinggal bersama,  berjalan bersama,  makan bersama. Bacaan pada minggu ini mengisahkan tentang perjalanan ke emaus,  identik dengan menjelang malam (surup),  yang menggambarkan perjalanan menuju akhir kehidupan.  Tuhan di gambarkan seperti arloji,  walaupun tidak kita lihat,  di taruh,  tidak digubris,  arloji ini tetap berdetak,  tetap hidup.  Begitu juga Tuhan yang tetap setia,  selalu datang walaupun kita tidak peduli dan belum tersadar.

Pada minggu Paskah ke IV,  minggu ini merupakan minggu panggilan.  Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik.  Gembala yang baik adalah gembala yang "nggiring", "ngopeni" dan mengarahkan dombanya ke padang rumput yang hijau,  ke air yang tenang.  Tidak pernah Tuhan tidak berbuat untuk kawanannya,  Dia tidak akan membiarkan 1 dombapun lepas, jika terjadi demikian akan tetap dicarinya dan dibawaNya kembali.

Pada minggu Paskah ke V,  Yesus mengisyaratkan untuk pergi,  kepergiannya untuk mempersiapkan tempat, dan setelah semua siap, seperti sabdanya "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku,  supaya ditempat-Ku berada kamupun berada".  Yesus nenunjukan jalan menuju ke Bapa dengan bersabda "Aku adalah jalan kebenaran dan hidup". Yesus adalah jalan menuju ke Bapa dan Dialah kebenaran tentang Bapa yang menjelma dan memberikan hidup dari atas kepada manusia. Yesus mengatakan demikian agar orang tidak perlu cemas,  bingung dan khawatir karena Bapa bisa dilihat dari Yesus yg merupakan sumber pengetahuan tentang Bapa.



Pada hari ini juga diadakan baptisan bayi, jumlah bayi yang di baptis 3 orang.


Renungan Harian GML : AKULAH JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP



AKULAH JALAN, KEBENARAN, DAN HIDUP
 
Saudari-saudara sekalian, salam jumpa di hari Minggu Paska ke-5 Tahun A. Minggu yang lalu kita diajak untuk merenung tentang Yesus Sang Gembala Baik yang mengidentikkan diri sebagai “Pintu” membutuhkan gembala-gembala pelaksana yang mau masuk ke kandang melalui Dia-Sang Pintu, yang mau hidup dalam Dia dan oleh Dia untuk mengenal dan membawa kawanan domba kepada hidup dan hidup yang berkelimpahan. Dalam rangka hari Minggu Panggilan, minggu lalu kita diajak untuk secara khusus berdoa bagi para anggota gereja agar ada yang mau menjadi imam atau bruder atau suster.  Hari ini kita diajak untuk merenung tentang Yesus yang menyatakan Diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Sebagai pintu, Yesus adalah titik awal. Sebagai jalan, kebenaran, dan hidup; Yesus adalah arah dan tujuan kehidupan gereja-Nya. Bacaan kedua yang diambil dari surat pertama Rasul Petrus sekali lagi menegaskan tentang jati diri ataupun identitas kita, Gereja: “..kamulah bangsa yang terpilih, kaum Imam yang rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Maka, kamu harus memaklumkan perbuatan-perbuatan agung Allah. Ia telah memanggil kamu keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang-Nya yang menakjubkan“ (1 Ptr. 2:9). Untuk mewujudkan permakluman perbuatan-perbuaan agung Allah itu, para Rasul menghendaki adanya pembagian dan diversifikasi tugas. Para Rasul menghendaki agar dipilih tujuh orang yang terkenal  baik dan penuh dengan Roh dan hikmat untuk tugas pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda supaya para Rasul dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman (Kis 6:3-4).  Para Rasul menghendaki agar  jalan hidup Yesus yang memperhatikan ‘orang-orang kecil’ bisa diteruskan.
 Saudari-saudara sekalian, dalam kerata basa bahasa Jawa ada ungkapan “agama ageming aji”. Dalam ungkapan itu mau dijelaskan bahwa beragama itu adalah laksana mengenakan busana berharga. Pakaian berharga, pakaian resmi tidak mudah untuk diganti-ganti. Ungkapan istimewa ini belum memadai untuk menyatakan identitas keagamaan kita. Dalam penegasan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup; gereja diajak untuk menegaskan bahwa Yesus adalah jalan hidup -‘way of life’- dan lebih daripada sebagai pakaian berharga yang sekali waktu dapat diganti. Di tempat lain Yesus mengatakan: “Jika kehidupan keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat 5:20). Murid Yesus tidak menjadikan Yesus sebagai pakaian tanda pengenal saja, melainkan harus mendarah daging. Identifikasi Yesus sebagai ‘Gembala yang baik’, sebagai ‘pintu’, hari ini dilengkapi dengan ‘jalan, kebenaran, dan kehidupan’. Ia dapat dibayangkan sebagai ‘gembala yang baik’. Ia juga berlaku sebagai ’pintu’. Ia juga adalah ‘jalan’. Jalan ialah arah yang perlu dilalui, ditempuh agar sampai ke tujuan. Ada tumpang-tindih antara  ‘pintu’ dan ‘jalan’. Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. Pintu merupakan  titik awal dan di luar itu ada jalan yang perlu ditempuh. Di luar pintu itu banyak bahaya. Pada jalan yang benar ada jaminan akan sampai ke tujuan. Jalan yang sejati itu bukan barang yang berhenti, bukan tanah atapun aspal, melainkan cara hidup.
Sebagai yang percaya kepada Yesus, yang menjadikan Yesus sebagai jalan hidup, gereja akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus bahkan yang lebih besar daripada itu. Apakah pekerjaan itu adalah mukjizat? Mungkin. Tetapi Yesus tidak mendoakan murid-murid menjadi pembuat mukjizat. Ia medoakan murid-murid supaya mereka ‘bersatu’ dalam kesatuan Bapa dan Putra. Kesatuan itu ada maksudnya yakni  ‘agar dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku (Yoh 17:20). Praktisnya, hidup mengGereja, hidup sebagai kumpulan orang yang percaya, terpanggil untuk meluangkan tempat bagi kenyataan ilahi di dalam hidup ini dan mengakuinya di hadapan orang banyak. Inspirasai persatuan dengan Bapa dan Putera harus menjadi kesaksian dalam menjalani hidup dalam kesatuan persatuan dengan banyak pihak di dunia ini. Itulah pekerjaan besar. Dalam kehidupan dunia yang plural, persatuan mengandaikan adanya toleransi. Toleransi tidak sama dengan indifferent atau menganggap semuanya sama saja. Toleransi membutuhkan penghayatan iman yang mendalam sehingga menghayati kebenaran bukan karena kesalahan-kesalahan yang lain melainkan sampai pada titik keyakinn dan titik temu bahwa yang lain bukan menjadi ancaman. Agama lebih daripada pakaian berharga yang sekali waktu bisa ditukar. Agama bukan  menjadi pakaian yang dipakai sebagai identitas yang membedakan dengan yang lain apalagi untuk menggapai sesuatu yang duniawi, melainkan menjadi cara kehidupan. Di dalamnya orang sampai pada kebenaran. Dalam kebenaran orang bisa sampai kepada keyakinan akan jati dirinya dan pun pula menghargai orang lain. Hidup adalah kesaksian dan bukan pemaksaan apalagi menyalah-nyalahkan. Mari kita perdalam kehidupan keimanan kita sambil mengupayakan agar sikap toleransi  menjadi cara kehidupan kita khususnya di Indonesia ini. Saya baik dan berharga bukan karena menemukan banyak kesalahan pada orang lain melainkan karena mengenal betul dan menemukan kebenaran dalam keyakinanku dan dengan demikian tidak dipengaruhi oleh keyakinan lain malahan terbuka untuk menghargai dan mampu bekerjasama dengan orang yang  berkeyakinan lain juga.  Salam NKRI. Makin beriman, tetap semangat, amalkan Pancasila. Tuhan memberkati. 

Disusun oleh 
Rm Yohanes Purwanto MSC

Renungan harian GML :"Aku akan selalu merindukan kembali ke rumah Tuhan"



Sabda Hidup
Minggu, 14 Mei 2017
HARI MINGGU PASKAH V
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 6:1-7; Mzm. 33:1-2,4-5,18-19; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12. BcO Why 18:21-19:10

Bacaan Injil: Yoh 14:1-12
1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." 8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." 9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. 12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

Renungan
Seseorang pasti merasa senang ketika bisa kembali ke rumah. Tidak jarang mereka yang telah lama bepergian dan walau tempat dia berada jauh lebih bagus dari rumahnya namun ia tetap akan rindu kembali ke rumah. Bahkan tidak sedikit orang yang sulit untuk krasan berada di tempat lain. Rumah adalah istananya.
Tuhan mengatakan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh 14:1-2). Tuhan menyediakan tempat bagi kita. Di rumah-Nya ada banyak tempat tinggal.
Sebagaimana kita selalu merindukan kembali ke rumah kita Tuhan pun telah menyediakan tempat bagi kita. Tuhan menempatkan kita sebagai bagian dalam rumah-Nya. Kita bangun kerinduan kita untuk kembali ke rumah Tuhan, rumah yang penuh kedamaian dan ketenangan.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu berada di dalam rumah Tuhan.

Refleksi
Tulislah pengalamanmu merindukan pulang rumah.

Doa
Tuhan terima kasih atas tempat tinggal yang telah kausediakan bagiku. Semoga aku selalu mempunyai kerinduan untuk kembali ke rumah-Mu.

Perutusan
Aku akan selalu merindukan kembali ke rumah Tuhan.


Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Sabtu, 13 Mei 2017

Renungan Harian GML: "Yesus Tak Hanya Bisa Bersikap Keras"





Sabtu, 13 Mei 2017,
Sabtu Biasa Pekan IV Paskah
Bacaan : Kis 13:44-52;
Mzm 98:1.2-3b.3c-4; Yoh 14:7-14

Bacaan Injil:
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
Kata Filipus kepada-Nya, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu; Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Renungan:
Sabtu lalu, renungan di laman ini berbicara tentang tiga golongan orang yang mengikuti Yesus, yakni yang percaya setelah melihat tanda, yang percaya tanpa perlu tanda dan yang tidak percaya juga meski telah melihat tanda. Agaknya, ketiga golongan ini terdapat juga dalam kalangan kedua belas rasul (Dapatkah Anda menentukan siapa masuk golongan mana?). Filipus, setelah sekian lama mengikuti Yesus belum mudheng juga bahwa Yesus adalah Putera dan utusan Allah Bapa, sehingga kedua-Nya adalah satu. Yesus menegurnya dengan halus. Ia juga memintanya percaya saja (seperti orang-orang golongan kedua) atau paling tidak percaya dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya (seperti orang-orang golongan pertama). Jelas Yesus tidak ingin Filipus menjadi orang golongan ketiga, yang meski telah melihat tanda tidak mau percaya juga.
Kita melihat sikap Yesus yang tidak sekeras waktu itu terhadap orang-orang yang mengikutinya. Orang-orang mendengar perkataan keras Yesus lalu mutung  dan tidak mau mengikuti-Nya lagi. Dalam Injil hari ini, dimunculkan sosok Yesus yang lembut, yang dalam Bahasa Jawa ngèman atau menahan jangan sampai sesuatu lepas atau hilang. Dalam hal ini, Yesus tidak ingin Filipus lepas atau hilang. Maka, ketika sampai saat itu iapun belum percaya atau belum mudheng, Yesus dengan lembut menuntun pengertian-Nya.
Berkaca dengan pengalaman hidup kita, kita mungkin akan mengalami juga saat Allah berlaku keras atau berlaku lembut kepada kita. Biasanya, Allah akan berlaku keras ketika kita dalam posisi bergerak menjauh dan semakin menjauh dari-Nya. Misalnya, kita menjadi jarang pergi ke Gereja karena sibuk dengan banyak kegiatan di sekolah atau kampus. Tamparan keras itu akan datang dengan tiba-tiba, entah melalui orang tua, pengalaman buruk, teguran alam, atau apapun. Sementara, biasanya Allah akan berlaku lembut jika kita dalam posisi bergerak mendekati-Nya. Misalnya, karena sedang naksir dengan cewek anak seorang prodiakon, kita jadi sering pergi ke Gereja, aktif di kegiatan OMK, ikut organisasi kekatolikan ini-itu, dll. Memang motivasinya tidak terlalu luhur, tapi paling tidak jadi lebih dekat pada Tuhan. Ketika sedikit saja kita menjauh dari-Nya, misalnya tergoda untuk korupsi di organisasi, akan ada teguran (dalam hati) yang lembut dari Allah.
Masalahnya bukan keras atau lembut sikap Allah pada kita, karena kita tahu Allah bersikap demikian demi cinta-Nya pada kita. Masalahnya adalah seberapa peka kita terhadap teguran itu. Tentu Allah tidak akan menegur seperti Yesus berbicara dengan Filipus. Ia akan menegur lewat orang-orang di sekitar kita, bahkan kadang alam dan pengalaman-pengalaman kita. Sadarkah kita bahwa itu teguran Allah???

Disusun oleh:
Fr.  Agustinus Wahyu Dwi A.  SJ

Jumat, 12 Mei 2017

Renungan harian GML : "Bagaimana bisa menjadi penghuni rumah Tuhan?"

Sabda Hidup
Jumat, 12  Mei 2017
Nereus dan Akhilleus, Pankrasus, William Tirri, Leopoldus Mandic, Margaretha Bloching, Fransiskus dari Siena
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 13:26-33; Mzm. 2:6-7,8-9,10-11; Yoh. 14:1-6. BcO Why 17:1-18

Bacaan Injil: Yoh 14:1-6
1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Renungan
Pada umumnya orang tua ingin menjamin kehidupan anaknya. Tidak sedikit di antara mereka yang mengupayakan banyak hal agar anaknya bisa hidup lebih baik dan nyaman. Tidak sedikit pula yang menyediakan rumah untuk masa depan anaknya. Tentu hal seperti itu membuat sang anak ayem.
Tuhan pun menyediakan banyak tempat tinggal untuk kita. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh 14:1-2). Tuhan tidak membiarkan kita mengalami kesulitan pada kehidupan kita nantinya.
Kita bersyukur mempunyai Tuhan yang sungguh mencintai kita. Ia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk kita. Maka marilah kita hidup selaras dengan-Nya sang jalan, kebenaran dan kehidupan.

Kontemplasi
Bayangkan rumah yang disiapkan Tuhan bagi kita.

Refleksi
Bagaimana bisa menjadi penghuni rumah Tuhan?

Doa
Tuhan semoga aku selalu layak menjadi bagian dalam rumah kasih-Mu. Perkenkanlah aku menjadi bagian dari anggota rumah-Mu. Amin

Perutusan
Aku akan menjaga kemungkinan untuk tinggal di rumah Tuhan.


Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Kamis, 11 Mei 2017

Renungan harian GML : "Bagaimana menjaga kemurnian perutusan?"


Sabda Hidup
Kamis, 11 Mei 2017
Ignatius dari Laconi, Benincasa
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 13:13-25; Mzm. 89:2-3,21-22,25,27; Yoh. 13:16-20. BcO Why 15:5-16:21

Bacaan Injil: Yoh 13:16-20
16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

Renungan
Menyadari diri-Nya sebagai utusan Bapa telah kita baca kemarin tanggal 10 Mei. Kini Yesus pun menyiapkan orang-orang untuk menerima para utusan-Nya. Sebagaimana Ia menyatakan diri pengutus-Nya maka saatnya nanti para utusan pun akan menampilkan diri-Nya. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20).
Yesus tidak akan panjang hidup dan berjuang bersama para murid. Namun para murid menjadi kepanjangan tangan perutusan-Nya. Pada mereka Ia telah memberikan banyak hal dan menghembusi dengan Roh yang akan menuntun mereka dalam bersaksi. Para murid pun menampilkan jatidiri Yesus sendiri.
Kita pun sekarang ini menerima warta dari para utusan-Nya yang telah ganti berganti seiring dengan perjalanan waktu. Namun kita bisa percaya bahwa apa yang mereka sampaikan masih selalu selaras dengan kehendak Tuhan sendiri. Maka mari kita jaga daya otentisitas perutusan tersebut.

Kontemplasi
Bayangkan perjalanan generasi perutusan Tuhan.

Refleksi
Bagaimana menjaga kemurnian perutusan?

Doa
Tuhan semoga para utusan-Mu selalu bersatu dengan diri-Mu. Dengan demikian merekapun mampu menjaga kemurnian perutusan-Mu. Amin.

Perutusan
Aku akan turut menjaga kemurnian perutusan Tuhan.

Disusun oleh:
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Rabu, 10 Mei 2017

Renungan harian GML : “Apakah aku mau menerima Yesus sebagai ‘Terang’ dalam hidupku? "


Bacaan Liturgi 10 Mei 2017

Rabu Pekan Paskah IV

Bacaan Injil
Yoh 12:44-50
Aku telah datang ke dunia sebagai terang.


Sekali peristiwa,
Yesus berseru di hadapan orang-orang Farisi
yang percaya kepada-Nya,
"Barangsiapa percaya kepada-Ku,
ia percaya bukan kepada-Ku,
tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku;
dan barangsiapa melihat Aku,
ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku,
jangan tinggal di dalam kegelapan.
Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku,
tetapi tidak melakukannya, bukan Aku yang menjadi hakimnya,
sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya.

Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku,
ia sudah ada hakimnya,
yaitu firman yang telah Kukatakan;
itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.
Sebab bukan dari diri-Ku sendiri Aku berkata-kata,
tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku,
untuk mengatakan
apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.
Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal.
Jadi apa yang Aku katakan,
Aku menyampaikannya
sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku."

Renungan

1. Injil Yohanes pada hari ini ingin mengajak kita melihat Yesus sebagai ‘Terang’, “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan (ay.46).” Lalu, “Apa yang dimaksud dengan ‘terang’  dan ‘jangan tinggal di dalam kegelapan’ dalam ayat ini?”
2. Kita bisa menemukan jawabannya di ayat 44-45, di mana kedua ayat itu, ingin menyatakan, “Barangsiapa percaya dan melihat Yesus, ia percaya dan melihat yang mengutus-Nya, yaitu Bapa.” Maka, kita para pengikut Yesus diajak untuk tidak tinggal dalam “kegelapan”, melainkan melihat “Terang” bahwa Bapa mengutus “Anak-Nya Yang Terkasih” – yaitu Yesus – untuk datang ke dalam dunia. Bapa mengutus Anak-Nya untuk kita.
3. Seburuk apa pun hidup kita, Yesus datang ke dunia bukan untuk menghakimi kita. Melainkan, Ia datang untuk menyelamatkan manusia (ay. 47). Ia justru mewartakan kasih-Nya kepada kita dan mengajak kita untuk melihat harapan – “Terang” di depan kita. Tak pernah ada kata “terlambat” dalam hidup ini. Ada peribahasa mengatakan, “Seorang penjahat selalu memiliki masa depan; Dan seorang Santo/a selalu memiliki masa lalu.”
4. Pertanyaannya sekarang, “Apakah aku mau menerima Yesus sebagai ‘Terang’ dalam hidupku? Yang menuntun jalan hidupku ke depan? Meninggalkan kegelapan masa lalu? Dan melihat terang di depan?” Dan jawabannya hanya ada di dalam hati kita masing-masing!

Disusun oleh:
Rm.  Nikolas Kristiyanto, SJ

Selasa, 09 Mei 2017

Renungan harian GML : "Siapakah Tuhan itu bagimu?"


Sabda Hidup
Selasa, 9 Mei 2017
Gregorius Preca, Katarina dari Bologna
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 11:19-26; Mzm. 87:1-3,4-5,6-7; Yoh. 10:22-30. BcO Why 14:1-13

Bacaan Injil: Yoh 10:22-30
22 Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. 23 Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. 24 Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." 25 Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, 26 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. 27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, 28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. 29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. 30 Aku dan Bapa adalah satu."

Renungan
Kadang kita bingung melihat siapa orang yang sedang berperan penting dalam kehidupan bersama. Kita tidak tahu apakah dia orang yang sungguh-sungguh baik atau jahat. Seringkali perkataan-perkataannya baik, namun cara-caranya sering membuat hati kita kurang berkenan. Ya memang hanya orang terdekatlah yang bisa tahu siapa orang tersebut.
Banyak orang Yahudi pun merasa bimbang terhadap Yesus. Apakah Dia ini mesias atau bukan. Yesus tidak menjawab langsung. Ia hanya memberi tanda dengan pekerjaan yan Dia kerjakan. Mereka yang ada dalam kawanan-Nya akan mengenali Dia.
Sejauh mana kita mengenal Tuhan? Siapakah Tuhan bagi hidup kita? Pengenalan akan Tuhan menghantar kita untuk mengerti kehendak-Nya dan mampu menjalankan-Nya. Mereka yang mengenal Tuhan telah dikenal Tuhan. Tuhan pun tidak akan membiarkannya direbut oleh yang lainnya.

Kontemplasi
Pejamkan matamu sejenak. Renungkan perkenalanmu dengan Tuhan.

Refleksi
Siapakah Tuhan itu bagimu?

Doa
Tuhan aku ingin selalu dekat dengan-Mu. Hanya berdekatan dengan-Mu aku merasa tenang. Perkenankan aku bersandar di bahu-Mu. Amin

Perutusan
Aku akan menjaga dan mempererat perkenalanku dengan Tuhan.


Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Minggu, 07 Mei 2017

Renungan harian GML "Gembala yang baik"


Sabda Hidup
Senin, 8 Mei 2017
Aloisius Rabata, Yeremias dari Salakhia, Magdalena dari Kanossa
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4; Yoh. 10:11-18. BcO Why 13:1-18

Bacaan Injil: Yoh 10:11-18
11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Renungan
Suatu kali aku melihat deretan itik sedang berjalan berurutan. Ternyata ada beberapa rombongan. Di setiap rombongan ada satu orang yang menggembalakan. Itik-itik itu pun selalu bersatu dengan rombongannya. Jarang sekali mereka memisah dan gabung dengan rombongan lain. Mereka seakan nyaman dengan rombongan dan gembalanya.
Yesus menampilkan diri sebagai gembala yang baik. Sebagai gembala baik Ia akan menjaga dan melindungi kawanannya dari bahaya. Gembala yang baik berbeda dengan gembala yang tidak baik. Gembala yang baik akan selalu memberikan perlindungan dan jaminan.
Kita bersyukur mempunyai gembala yang baik. Pada Dia kita bisa mendapatkan penjagaan dan perlindungan. Dalam Dia kita pun akan merasa aman dan tenang. Mari kita bersatu dengan gembala baik kita.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu dalam penjagaan gembala yang baik.

Refleksi
Tulislah pengalamanmu dijaga oleh gembala baik.

Doa
Tuhan terima kasih atas penjagaan dan perlindungan-Mu. Aku bersandar pada-Mu. Amin.

Perutusan
Aku akan bersatu dengan gembala baikku. -nasp-

Silakan diintip video pendek Erman-Indro’s series. Ada uskup terpilih KAS lo.

video-pendek-Erman-Indro-series

Renungan harian GML Hari Minggu Panggilan : "Gembala di era Gen 4.0"



YESUS GEMBALA YANG BAIK – GEMBALA DI ERA Gen 4.0
HARI MINGGU PANGGILAN

    Saudari-saudara sekalian, hari ini kita merayakan Hari Minggu Paskah ke-4. Minggu ini dirayakan juga sebagai Hari Minggu Panggilan.

 Bacaan-bacaan hari ini,  Injil  khususnya, menjadi sangat inspiratif untuk perayaan Hari Minggu Panggilan tahun ini. Dalam Bacaan I, Kisah Para Rasul, Petrus menyerukan inti terpenting kehidupan ini:

“Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36) “
Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38).
Selanjutnya dalam Bacaan Kedua, Petrus memberi semangat kepada umat yang tertebus itu: “Jika kamu berbuat baik dank arena itu harus menderita, itu adalah kasih karunia Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil…supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (Kis 2:20-21).
Bacaan Injil menegaskan bahwa gembala yang baik, gembala yang sejati adalah yang masuk ke kandang melalui pintu. Ia mengenal domba-dombanya dan akan mengantar domba-domba itu keluar dan masuk ke dalam kandangnya. Ia diikuti oleh domba-domba karena ia mengenal masing-masing domba dan domba-domba pun mendengarkan suaranya. Pintu Kandang itu adalah Yesus, melalui-Nya domba-domba akan sampai ke padang rumput,  akan diselamatkan.
    Bacaan-bacaan ini mengispirasikan bahwa Yesus adalah Gembala Utama. Yesus adalah alasan dan tujuan dari pengembaraan ataupun peziarahan para domba. Sebagai Gembala Utama Yesus membutuhkan gembala-gembala pelaksana yang akan mengantar domba-domba keluar dan masuk kandang melalui Pintu yakni Yesus sendiri. Gembala-gembala pelaksana akan bekerja atas nama Yesus dan kalau begitu juga harus melaksanakan kehendak Yesus. Ia harus hidup seperti Yesus, oleh Yesus dan untuk Yesus. Dalam konteks Minggu Panggilan, pembicaraan tentang gembala ini terfokus kepada mereka-mereka yang secara khusus mau menghayati hidup seperti Yesus sebagai imam dan biarawan-biarawati. Siapakah yang masih akan memilih untuk membaktikan hidupnya sebagai imam ataupun biarawan-biarawati? Bagaimanakah dari antara generasi “millennium” dan bahkan “titanium” ( Gen 4.0) akan bisa muncul imam ataupun biarawan-biarawati, orang-orang terpanggil itu?
    Jaman dulu, generasi kami, keteladanan itu sangat jelas. Pastor dan frater atau suster adalah sosok-sosok yang terlihat menjadi model: ikut Yesus ya menjadi seperti suster atau frater dan pastor itu. Bagaimana kami tertarik pada cara berpakaian pastor lalu masuk seminari karena mau memakai jubah seperti pastor. Betapa senangnya jika diminta untuk mengantar pastor atau frater, ke manapun mereka berjalan, kami mengikuti. Alangkah bahagianya ketemu dan bercerita dengan suster, biarpun susternya galak tetap saja ingin menjadi seperti suster.  Maka banyak teman dan beberapa angkatan sesudah kami terpanggil menjadi imam, bruder, frater, dan suster. Di antara mereka sekarang berperan menjadi pemimpin-pemimpin keuskupan, biara, paroki ataupun sekolah dan lembaga-lembaga social lain.
    Bagaiana dengan sosok gembala teladan di era millennium dan platinum? Bagaimanakah panggilan imam sedangkan pekerja-pekerja tersohor setingkat CEO pun akan tergusur oleh intelligence buatan.. Namun, kata pakar yang lain kita tidak perlu pesimis. Intelligence  buatan itu kan hasil karya manusia juga maka bagaimanakah manusia itu akan menghadirkan diri di tengah hasil ciptaannya sendiri menjadi penting. Intelligence buatan tetaplah alat bantu yang memerlukan operator yang punya insight dan intuisi positif inovatif agar intelligence buatan itu berguna bagi kebaikan manusia. Intinya, kemajuan teknologi & komunikasi tetap membutuhkan moralitas supaya tidak menjadi boomerang. Nilai-nilai kemanusiaan dan pribadi manusia tetap yang utama di tengah kepandaian buatan serta informasi-informasi instant yang dalam sedetik tersaji jadi wawasan. Informasi harus disaring berdasar pada ajaran dan pandangan keilmuan kebijaksanaan serta theology yang benar agar tidak kasar dan nyasar.
    Bersama dengan Gen 4.0, generasi millennium dan titanium, dan para ulama kita perlu berdoa untuk mendapat gembala-gembala yang baik dan murah hati, yang berorientasi pada karya Tuhan untuk keselamatan manusia dan bukan untuk kepentingan diri sementara apalagi fana. GBU.


Disusun oleh :
Rm. Yohanes Purwanta MSC

Jumat, 05 Mei 2017

renungan harian GML:Pengikut Macam Apa Kamu Ini?


Sabtu, 6 Mei 2017, Sabtu Biasa Pekan III Paskah
Bacaan : Kis 9:31-42; Mzm 116:12-13.14-15.16-17; Yoh 6:60-69
Bacaan Injil:
Murid-murid yang mengundurkan diri di Galilea
Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Renungan
Pengikut Yesus tidak semuanya memiliki kesepahaman dengan Yesus. Tentu ada yang hanya terpukau dengan mukjizat-mukjizatnya. Ada pula yang hanya latah ikut-ikutan teman atau saudaranya. Ada juga yang memimpikan Yesus menjadi pemimpin mereka membebaskan Israel dari penjajahan Roma. Dapat dibayangkan betapa sedih Yesus melihat bahwa dari sekian banyak pengikut hanya sedikit yang sungguh paham maksud-Nya. Lalu bagaimana dipisahkan antara pengikut sejati dan pengikut abal-abal itu? Waktulah yang akan menentukan.
Dalam Injil Yohanes dapat dibedakan tiga macam orang: mereka yang butuh tanda untuk percaya, mereka yang tidak butuh tanda untuk percaya, dan mereka yang meski ada tanda tidak akan percaya juga. Orang yang masuk dalam kelompok pertama misalnya adalah perempuan Samaria yang ditemui Yesus di sumur Yakub (Yoh 4:1-42). Ia percaya kepada Yesus setelah Ia mengatakan status perkawinannya. Orang yang masuk kelompok kedua misalnya adalah pegawai istana yang anaknya disembuhkan Yesus (Yoh 4:46-54). Sebelum melihat anaknya sembuhpun, ia sudah percaya. Sementara orang-orang yang meninggalkan Yesus dalam Injil hari ini dapat dikatakan masuk dalam kelompok ketiga. Mereka pergi dan tidak lagi mengikuti Dia padahal telah mengikuti-Nya dari Kana, sejak Yesus membuat mukjizat pertama. Artinya, mereka telah melihat banyak tanda, tetapi karena satu perkataan keras Yesus, mereka gentar dan mundur.
Seleksi pengikut Yesus tidak akan berhenti sampai di sini. Hingga nanti di puncak Golgota, seleksi itu terus ada. Kita tahu hanya segelintir murid yang menyertai Yesus sampai di Golgota. Yohanes menyebut paling tidak ada Maria, ibu-Nya, Maria istri Kleopas, Maria Magdalena, dan Yohanes sendiri.
Seleksi semacam itu kiranya terjadi juga dalam hidup kita. Sebagai manusia, wajar jika kita membutuhkan tanda, sesuatu yang meneguhkan atau memberi penegasan. Misalnya, kita memohon suatu mukjizat lewat sebuah doa, dan itu terkabul. Bagi beberapa orang itu sudah menjadi cukup tanda untuk menjadi beriman dan percaya. Namun, ada juga orang yang dengan sendirinya percaya. Tak peduli bahwa Tuhan tidak memberi tanda atau bahkan memberi tanda sebaliknya (kemalangan, sakit, penderitaan), ia tetap mau percaya. Memang tidak banyak orang yang sampai ke level ini. Lebih banyak orang yang justru tidak mau tahu dengan banyak tanda yang telah Allah berikan. Sudah diberi kekayaan, anaknya nggantheng dan cantik, rejeki lancar, jabatan tinggi, tetapi malah tidak mau mengakui itu pemberian Tuhan, seakan-akan semua hasil usaha manusiawinya sendiri.
Maka, patut kita bertanya pada diri kita pengikut macam apakah kita: yang percaya karena melihat tanda, yang percaya tanpa perlu tanda, atau yang belum percaya juga meski sudah ada beribu tanda. Murid macam apakah juga kita: yang gentar karena perkataan keras atau tamparan lembut dari Allah, atau yang akan terus berjuang sampai penghabisan, sampai Golgota?

disusun oleh : wahyu dwi anggoro

Kamis, 04 Mei 2017

Renungan harian GML " Menyatu dengan hidup dan kehendak Tuhan. "



Sabda Hidup
Jumat, 5 Mei 2017
Vinsen Soler, Angelus
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59. BcO Why 10:1-11

Bacaan Injil: Yoh 6:52-59
52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan." 53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. 54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. 55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. 56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. 57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. 58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." 59 Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.

Renungan
Tidak mudah mengerti maksud perkataan Yesus kali ini. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:53-54). Spontan akan terkesan kanibalisme. Tentu bukan itu yang dimaksud oleh Yesus. Lalu apa?
Saya menemuman salah satu jawabannya di ayat 57, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Rasanya makan tubuh dan minum darah-Nya adalah menyatu dengan hidup Yesus sendiri sebagaimana Ia menyatu dengan Bapa yang hidup yang mengutus diri-Nya.
Maka kiranya bila kita ingin hidup selama-lamanya maka kita perlu menyatu dengan Dia sang sumber kehidupan ini. Kesatuan dengan Dia membawa kita pada kehidupan abadi.

Kontemplasi
Bayangkan dirimu menyatu dengan Yesus Kristus.

Refleksi
Bagaimana menyatu dengan Tuhan?

Doa
Tuhan semoga aku layak menimba daya tubuh dan darah-Mu. Semoga aku pun menyatu dengan kehendak-Mu. Amin

Perutusan
Aku akan menyatu dengan hidup dan kehendak Tuhan.

disusun oleh:
Rm. P. Noegroho Agoeng S, PrKetua Komsos KAS

Renungan harian GML "Bagaimana berbagi roti hidup?"


Sabda Hidup
Kamis, 4 Mei 2017
Yosef Maria Rubio, Peregrinus Laziosi
warna liturgi Putih

Bacaan
Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9,16-17,20; Yoh. 6:44-51. BcO Why 9:13-21

Bacaan Injil: Yoh 6:44-51
44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. 45 Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. 46 Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. 49 Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. 50 Inilah roti yang turun dari sorga: Barang siapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. 51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

Renungan
Seorang anak merasakan orang tua adalah pribadi yang menjadi jaminan hidupnya. Pada mereka ia bisa mengandalkan dan berharap. Orang tua adalah roti hidupnya. Mereka tak akan membiarkannya kelaparan dan kehausan.
Yesus menunjukkan diri-Nya adalah roti hidup. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51). Roti itu yang menjadi bekal yang takkan pernah habis.
Pada saat tertentu kita mengandalkan orang tua sebagai jaminan. Pada saat lain kita yang akan diandalkan oleh orang lain. Rasanya ada perjalanan generatif roti kehidupan. Maka marilah kita bersiap-siap untuk berbagi roti kehidupan dalam sejarah generasi kita.

Kontemplasi
Bayangkan perjalanan generasi roti hidup dalam sejarah hidupmu.

Refleksi
Bagaimana berbagi roti hidup?

Doa
Tuhan semoga aku bisa berbagi roti kehidupan dalam sejarah hidupku. Semoga antar generasi mampu menjaga pembagian roti kehidupan. Amin

Perutusan
Aku akan berbagi roti hidup.

Disusun oleh:
Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr
Ketua Komsos KAS

Selasa, 02 Mei 2017

Renungan harian GML "Tuhan semoga aku mampu menangkap dan menyerap rahmat-Mu. Semoga aku tidak kehilangan kesempatan menangkapnya"



Sabda Hidup
Rabu, 3 Mei 2017
Pesta St. Filipus dan Yakobus, Rasul
warna liturgi merah

Bacaan
1Kor. 15:1-8; Mzm. 19:2-3,4-5; Yoh. 14:6-14. BcO Kis5:12-32 atau 1Kor 1:17-2:5

Bacaan Injil: Yoh 14:6-14
6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." 8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." 9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. 12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; 13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. 14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Renungan
Suatu kali aku melihat tanaman pot di dekat kolam layu dan hampir mati. Ketika kuliat ternyata pot itu kering. Tampaknya sudah lama ia tidak disiram, padahal dia berada di dekat air. Seorang anak sering tidak merasakan besarnya cinta orang tua kepada mereka. Baru saat ditunjukkan oleh orang lain mereka baru sadar.
Filipus telah lama bersama Yesus. Maka ketika ia meminta Tuhan menunjukkan Bapa kepadanya Yesus heran. Filipu selalu bersama Yesus. Maka mengherankan kala ia tidak tahu Bapa, karena Yesus ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia.
Seringkali kedekatan dengan sumber tidak menentukan kemampuan merasakan rahmat tersebut. Rahmat itu berlimpah. Dia ada di antara kita. Kita buka hati dan pikiran kita agar menangkap rahmat-Nya dan menyerap dayanya.

Kontemplasi
Bayangkan rahmat Tuhan yang ada di sekitarmu.

Refleksi
Bagaimana mengenali dan menyerap rahmat Tuhan?

Doa
Tuhan semoga aku mampu menangkap dan menyerap rahmat-Mu. Semoga aku tidak kehilangan kesempatan menangkapnya. Amin.

Perutusan
Aku akan menagkap rahmat Tuhan di sekitarku.

Disusun oleh:Rm. P. Noegroho Agoeng S, Pr Ketua Komsos KAS