Senin, 29 Mei 2017

Renungan harian GML : "Jangan takut, Aku besertamu"



‘JANGAN TAKUT, AKU BESERTAMU”: KOMUNIKASIKAN HARAPAN DAN IMAN



 Saudari-saudara sekalian, kita jumpa lagi di Hari Minggu Paska ke-7. Minggu ini juga dirayakan sebagai Hari Komuniasi Sedunia. Bacaan Injil hari ini menyampaikan kepada kita doa Yesus dan harapan Yesus atas murid-murid-Nya sesudah Ia dimuliakan ke dalam sorga. Yesus berdoa agar para murid yang telah dididik-Nya dan telah mengenal Dia, mengenal Bapa dan percaya kepada-Nya senantiasa dipelihara oleh Bapa supaya mereka akan menghidupi dan melanjutkan pewartaan karya keselamatan Allah bagi dunia di tengah dunia. Demikianlah seperti dalam bacaan pertama, setelah Yesus naik ke sorga, para murid lebih sering berkumpul dalam paguyuban. Mereka bertekun dalam doa dan tinggal bersama. Bahkan dalam bacaan kedua disampaikan bagaimana semangat kemuridan mereka berkobar. Dengan sukacita dan berani mereka mewartakan Injil. Semangat mereka jelas. “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri, penjahat atau pengacau. Tetapi, jika kamu harus menderita sebagai orang Kristen, janganlah malu karena itu. Malah kamu harus memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”, demikian nasehat Petrus. 
 Dalam kerangka hidup sebagai persekutuan untuk menjadi saksi atau pewarta karya keselamatan Allah inilah Hari Komunikasi Se Dunia menjadi relevan. MEDIA memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Namun tidak semua yang diberitakan media dapat bermanfaat bagi masyarakat. Perlu kebijakan dan banyak pertimbangan dalam menerima ataupun menyampaikan berita. Berita itu bisa baik atau buruk, benar atau salah (hoax). Memang kita bisa melihat dari sisi lain, missalnya untuk pembelajaran supaya tidak berbuat seperti itu; akan tetapi  berita-berita buruk seperti kriminal, peperangan,  sara, dapat mempengaruhi atau menuntun pada rasa takut, cemas dengan keamanan diri dan lingkungannya. Diharapkan bahwa para pelaku media memperhatikan keseimbangan berita serta dampak yang mungkin ditimbulkan oleh berita tersebut bagi para pembaca atau pendengar dan penontonnya. Bagi orang Kristen ada tanggungjawab khusus agar dalam berita yang diterima atau terutama yang disampaikan hendaknya bisa menjadi refleksi akan hakekat Allah yang Mahacinta. Kehadiran Yang Ilahi dalam hidup manusia beriman, menjadi kekuatan agar semakin berani menegakkan kebenaran iman, harapan dan kasih dalam hidup manusia masa kini. 
Paus Fransiskus dalam pesannya di Hari Komunikasi se dunia ini mengajak agar kita umat kristiani mau memutuskan lingkaran setan dan spiral ketakutan karena terlalu berfokus pada ‘berita buruk’. “Saya mengajak setiap orang untuk terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif, menampik prasangka terhada orang lain dan menggalakkan budaya perjumpaan”, kata Paus. “Saya mengajak semua orang untuk menjadi agen ‘kabar baik’ bagi dunia ini”, tambahnya. Bagi umat Kristiani kriteria kabar baik adalah Kristus sendiri. Penginjil Markus menyampaikan kabar baik bukan saja kabar yang dibawa atau diwartakan oleh Yesus, melainkan Yesus sendiri. Hidup Yesuslah kabar baik. Bukan berarti tanpa penderitaan, sebaliknya penderitaan menjadi bagian dari gambar kehidupan yang lebih besar. Dalam Kristus dan juga penderitaan-Nya, Allah menunjukkan solidaritas-Nya terhadap manusia. Yesus telah menyatakan bahwa kita tidak sendiri melainkan bahwa kita punya Bapa yang selalu memperhatikan anak-anak-Nya. Dalam cara pandang ini, tragedy baru dunia dapat dilihat menjadi seperti cinta yang menggerakkan hati, menimbulkan simpati, dan siap membantu. Kabar baik ini memberi pengharapan. Paus Fransiskus, melihat pentingnya iman dan harapan dikomunikasikan kepada manusia yang hidup pada masa kini. Maka untuk hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-51 yang akan dirayakan 28 Mei 2017, Bapa Suci mengangkat tema : “Jangan Takut, Aku Besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman”.  Melalui tema ini, Bapa Suci mengundang kita semua untuk merenungkan khabar baik bahwa Allah tidak pernah berhenti menjadi sosok Bapa – untuk semua orang, dalam segala situasi. Marilah kita belajar untuk mengkomunikasikan iman dan harapan dalam sejarah masa kini. Media dan para penanggungjawab komunikasi menjadi ‘kabar baik’ jika mampu menyuarakan harapan yang didasarkan atas iman, dengannya manusia mampu untuk menghadapi segala tantangan apapun guna mencapai hidup kekal di Surga. Selamat merayakan Hari Komunikasi se Dunia. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC)

0 komentar:

Posting Komentar