Sabtu, 20 Mei 2017

Renungan harian GML : "Jika kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti segala perintahKu"

JIKALAU KAMU MENGASIHI AKU, KAMU AKAN MENURUTI SEGALA PERINTAHKU
 
Saudari-saudara yang terasih, hari ini kita merayakan Hari Minggu Paska ke-6. Bacaan-bacaan pada hari Minggu Paska ke-6 menceritakan bagaimana para murid Yesus melakukan perintah Yesus, perbuatan-perbuatan ajaib pun terjadi di antara mereka, dan karya mereka menghasilkan banyak buah dengan banyak orang yang percaya dan bergabung dengan mereka.  Namun jangan salah. Mereka berkarya bukan sekedar mencari anggota apalagi mencari popularitas demi mendapatkan banyak pendukung. Para murid berkarya karena mereka mengasihi Kristus. Para murid mempertanggungjawabkan kehidupan iman mereka kepada Kristus yakni menghayati dan mewartakan khabar sukacita Injil tentang karya keselamatan Allah. Allah begitu mencintai manusia dan menghendaki agar manusia selamat. Untuk itu manusia harus bertobat. Karya pertanggungjawaban dan karya pertobatan ini, menurut Petrus, harus dilaksanakan bukan dengan kekerasan tetapi dengan lemah lembut: “Tetapi semua itu haruslah kamu lakukan dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, yang saleh di dalam Kristus” (1 Ptr 3:15-16). Para murid melakukan perbuatan yang besar karena mendapat “Penolong” yaitu “Roh Kudus” bukan untuk main kuasa apalagi membinasakan sesama manusia melainkan untuk kabaikannya: “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat .. Sebab Yesus pun telah mati untuk orang-orang yang tidak benar supaa Ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr 3:17-18).
Saya memilih judul renungan ini: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” dengan beberapa alasan. Alasan yang pertama adalah karena orang seringkali menyitir perintah ini begitu saja dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Betapa banyak orangtua yang tega menganiaya anak hanya karena merasa bahwa anak tidak mau mendengarkan orangtua. Betapa banyak anak yang tega menyengsarakan orangtua dengan tuntutan-tuntutan yang berlebihan hanya karena merasa bahwa orangtua punya kewajiban terhadap anaknya. Lebih mengerikan lagi berapa banyak wanita yang menjadi korban lelaki hidung belang yang menuntut rasa cintanya dipenuhi dengan tindakan-tindakan demi kesenangan sendiri. Alasan yang kedua adalah bahwa kata-kata Yesus itu harus ditempatkan dalam kerangka ajakan Yesus: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti peritah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh 15:10). Yesus tidak seang mengintimidasi ataupun menuntut para murid malainkan mengajak dan menempatkan para murid di dalam kesatuan kasih-Nya kepada Bapa. Dalam kesatuan kasih itu para murid akan menerima Penolong yang lain yakni Roh Kebenaran yang akan menyertai mereka melanjutkan karya-karya Yesus mengasihi manusia yang terus-menerus ada dan hadir dalam kehidupan dunia. Alasan yang ketiga adalah untuk menegaskan bahwa karya-karya buat Yesus atau karya-karya pelayanan Umat Allah bukanlah demi merebut cinta Yesus atau demi supaya kita masuk sorga. Karya-karya pelayanan murid Yesus merupakan ungkapan atau buah-buah dari kasih mereka kepada Yesus. Karena kasih itulah maka mereka tabah, tidak mudah “mutung” ataupun patah arang. Karena kasih itulah maka para murid tidak mudah terluka karena issue atau iri hati ataupun dugaan-dugaan yang mencederai diri. Apalagi kasih Kristus itu akan menjauhkan dari emosi tak terkendali untuk mencelakakan orang lain. Menderita pun kalau untuk perbuatan baik yang dikehendahi Allah, siap untuk dijalani.
Saudari-saudara sekalian. Apakah kita telah menjadi murid Yesus yang mengasihi-Nya? Apakah kita telah melakukan perbuatan-perbuatan baik? Apakah kita telah menghasilkan banyak buah? Sebagai murid-murid Yesus semoga kita tidak terjebak dalam upaya-upaya karya demi popularitas atau demi untuk mencari pendukung, bukan karya-karya politis demi memperoleh posisi ataupun kedudukan. Semoga karya-karya pelayanan kita bukan berorientasi demi ‘kebaikan diri’ melainkan demi menghidupkan dan melanjutkan kasih bekaikan Kristus yang kita yakini sebagai sharing demi kebaikan mereka yang kita layani: “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, …. Ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia, dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya”(Yoh 14:21). Selamat melayani dalam semangat kasih kepada Yesus dan kasih Yesus. Tuhan selalu memberkati. 

Disusun oleh : Rm. Yohanes Purwanta MSC

0 komentar:

Posting Komentar