menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Selasa, 27 Juni 2017

Renungan harian GML : “Sejauh mana aku beriman pada zaman ini dalam situasi hidupku saat ini?”

Bacaan Liturgi 25 Juni 2017

Minggu Biasa XII

Bacaan Injil
Mat 10:26-33
Orang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus, tetapi Ia luput dari tangan mereka.
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.
Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Renungan:

1. Konteks dalam bacaan Injil hari ini adalah “kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan yang akan datang dalam mengikuti Yesus”. Yesus menyampaikan pesannya dengan jelas, “Jangan takut!” Ini adalah salah satu tanda orang beriman. 
2. Namun, “takut” itu wajar (terutama di hadapan berbagai kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan dalam hidup kita). “Takut” adalah bagian dari hidup manusia. Kalau orang tidak pernah takut, itu juga aneh. 
3. Lalu, apa yang dimaksud dengan Yesus dengan mengatakan “Jangan Takut”?
 Jawabannya dapat kita temukan di ayat 32-33: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Jadi intinya, “Jangan takut mengakui bahwa kita adalah pengikut-pengikut Kristus bahkan jika kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan ada di depan kita!” Intinya: “Tetaplah beriman sesulit apapun itu!” Imanlah yang memberi pengharapan dalam hidup.
4. Yang menjadi menarik adalah ketika mengaitkannya dengan Film “Silence”, yang menceritakan seorang Yesuit (di abad ke-17) yang menyangkal imannya di Jepang, untuk menyelamatkan orang-orang Katolik yang akan dibunuh di hadapannya. Di sana digambarkan pergulatannya yang sungguh otentik, “(1) Aku menginjak gambar Yesus dan mereka semua selamat?; atau (2) Aku menolak menginjak gambar Yesus dan mereka semua mati?” Akhirnya, Romo itu menginjak gambar Yesus dan menyelamatkan semua orang di hadapannya. Bagi penguasa Jepang pada saat itu, Romo ini menyangkal imannya. Namun, ketika ia meninggal, ia tetap memegang salib kecil di dalam genggamannya, di mana Yesus tergantung di sana. Ini ingin mengatakan bahwa ia tetap seorang pengikut Kristus sampai mati, walaupun di hadapan penguasa Jepang ia bukan seorang Katolik atau pengikut Kristus lagi. Inilah “penderitaan” yang ia alami, bahkan mungkin melebihi kematian. Hidup dengan membawa “beban” sebagai “penyangkal Kristus”. Namun, ia tidak berhenti berharap tuk tetap beriman pada Kristus. Ia tetap beriman pada Kristus dengan caranya sendiri, dalam situasi zaman itu.

Lalu pertanyaannya bagi kita, “Sejauh mana aku beriman pada zaman ini dalam situasi hidupku saat ini?”

Disusun oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Minggu, 18 Juni 2017

Renungan harian GML : Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus



YESUS HADIR DALAM EKARISTI: DAGINGKU BENAR-BENAR MAKANAN DARAHKU BENAR-BENAR MINUMAN
 
                Saudari-saudara sekalian, kita jumpa lagi dalam hari Minggu ke-11. Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Pada hari ini kita diajak untuk menyadari dan mensyukuri setiap kali kita menghadiri Ekaristi dan menerima komuni suci. Ketika kita menerima komuni suci, kita bukan hanya menerima roti seperti kalau kita menerima hadiah ulang tahun atau ketika kita menerima oleh-oleh dari Holland Bakery ataupun Delicious ataupun Roti Boy ataupun roti yang enak dan mahal harganya. Hosti yang kita terima dalam komuni tidak bisa diganti dengan roti tawar, kue-kue ataupun makanan-makanan tradisional dari beras, terigu, ataupun tepung gandum sekalipun. Hosti yang kita terima dalam Ekaristi, dibuat secara khusus dari tepung gandum tanpa ragi. Oleh kehendak Kristus sendiri yang diulangi oleh imam dalam Konsekrasi Ekaristi; roti buatan tangan manusia itu dijadikan Tubuh Kristus sendiri. Jadi kalau yang kita terima adalah Kristus sendiri, sudah tentulah ada konsekwensi yang harus kita ikuti baik dalam persiapan maupun sesudah menerimanya: Gereja mengajar kita agar setidak-tidaknya mengaku dosa setahun sekali sebelum sambiut Paskah, Gereja mengajarkan bahwa kalau kita berdosa berat maka tidak diperkenankan menyambut komuni sebelum mengaku dosa, Gereja mengajarkan supaya kita mencari kesempatan secepatnya jika kita melakukan dosa-dosa kecil. Gereja mengajak kita untuk sesering mungkin menerima komuni dan tentu sesering mungkin menerima sakramen tobat sebagai persiapannya. Menerima komuni berarti menerima dan bersatu dengan Kristus, membawa konsekwensi bahwa semakin bersatu dengan Kristus seharusnya semakin menyerupi Kristus, semakin menghasilkan buah-buah karunia cinta kasih Kristus.
                Bagaimana kita tahu bahwa yang kita sambut itu adalah Kristus sendiri? Kitab Suci mengatakannya. Dalam pengajaran tentang Roti Hidup seperti bacaan Injil pada hari ini, Yesus menegaskan bahwa Diri-Nya adalah roti kehidupan: yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya “tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia” akan mempunyai hidup yang kekal. Di tempat lain, dalam perjamuan terakhir,  kata-kata yang sama diucapkan oleh Yesus ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan dan memberikan roti itu kepada para murid: “ Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang dikorbankan bagi kamu.” Demikian pula dengan anggur, Ia mengatakan :” terimalah dan minumlah, inilah Piala Darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang, demi pengampunan dosa; lakukanlah ini sebagai peringatan akan Daku.” Yesus menghendaki agar Tubuh dan Darah-Nya menjadi makanan dan minuman keselamatan. Dan untuk Tubuh dan Darah itu, Yesus memberikan kepada murid-murid-Nya Roti dan Anggur, roti tidak beragi dan anggur dari buah anggur.  Yang kita terima adalah roti dengan bentuk roti dengan rasa roti tetapi substansinya adalah Kristus sendiri. Yang kita minum adalah anggur dari buah anggur dengan rasa anggur tetapi substansinya atau isi intinya adalah Darah Kristus. Dalam istilah liturgy peristiwa ini kita  kenal dengan kata “transubstansiasi” atau mengalami perubahan dari substansi yang alami.
                Roti dipilih oleh Yesus menjadi Tubuh-Nya karena roti menjadi makanan utama dari orang Yahudi. Roti menyertakan seluruh perjuangan para petani yang mencari rezeki untuk mempertahankan hidup. Roti juga mengingatkan bangsa Yahudi akan manna, roti dari langit yang diberikan oleh Yahwe kepada umat Israel di padang gurun ketika mereka mengalami kelaparan. Anggur sebagai hasil pertanian yang diperas oleh para petani dipilih oleh Yesus menjadi cikal bakal Darah-Nya yang harus ditumpahkan melalui pengorbanan salib demi keselamatan dunia. Manna dan air menjadi pemeliharaan Tuhan bagi orang Israel untuk mengantar mereka kepada Tanah Terjanji. Roti dan anggur, Tubuh dan Darah Yesus menjadi perjanjian baru yang menjadi daya pemeliharaan dan penyelamatan Allah bagi umat-Nya. Dalam persatuan erat mesra dengan Yesus, manusia diselamatkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia.” (Yoh 6:56). Persatuan dengan Yesus Kristus laksana roti dan anggur, makanan yang merasuk ke dalam seluruh tubuh kita; menjadi sangat erat. Persatuan dengan Kristus itu juga menjadi alasan ataupun berkosekwensi untuk hidup di dalam dan oleh Yesus; dan di dalam Yesus kita hidup dalam persatuan satu dengan yang lain: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:17).  Dalam Tubuh dan Darah yang dikorbankan sampai mati, dikuburkan dan lalu bangkit pada hari ketiga; Yesus memberikan hidup kepada manusia yang telah mati karena dosa: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:55).
                Kita bersyukur atas karunia Ekaristi bagi kita, atas Tubuh dan Darah yang telah mempersatukan kita dengan Kristus dan memperstukan kita satu dengan yang lain. Semoga persatuan kita ini menjadi kesaksian dan daya pemersatu di antara umat manusia yang dalam keanekaragaman memperoleh daya hidup dari Tuhan Yang Mahaesa sebagai asal dan sumber kehidupan. Amalkan Pancasila: bersatu dalam kebhinekaan. Tuhan memberkati. (Rm Y.  Purwanto MSC) 

Sabtu, 17 Juni 2017

Renungan harian GML : " Katakan Ya jika Memang Ya dan Katakan Tidak jika Memang Tidak"

Sabtu, 17 Juni 2017,
Pw. Karolus Lwanga, dkk. Mrt (M)
Bacaan : 2 Kor 5:14-21; Mzm 103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat 5:33-37;

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Renungan:
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus bukan mau mengharamkan sumpah. Sebaliknya, Yesus mau mengajak para pendengarnya untuk menghidupinya secara lebih mendalam dan sungguh-sungguh. Dalam kehidupan kita, sumpah seringkali harus diambil oleh mereka yang menduduki jabatan-jabatan penting seperti hakim, pejabat pemerintahan atau pemimpin lembaga-lembaga sosial atau pendidikan dalam masyarakat. Bahkan, dalam perpolitikan ada yang rela bersumpah untuk mendapatkan keyakinan masyarakat. Misalnya, ada artis Indonesia yang bersumpah akan memotong kemaluannya jika Jokowi terpilih menjadi presiden. Dalam hidup sehari-hari kata “sumpah” seringkali diucapkan seseorang ketika mau meyakinkan orang lain bahwa ia mengatakan yang sebenarnya. “Sumpah, bukan saya yang melakukannya” atau “Sumpah, aku cinta sama kamu”, misalnya. Sumpah diperlukan dalam kehidupan kita karena di satu sisi kehidupan bersama mesti dijamin tetapi di sisi lain ada kelemahan manusiawi dalam diri orang-orang yang mengambil sumpah itu.
Namun, dalam praktiknya, banyak hal yang nyatanya berlawanan dengan apa yang ada dalam sumpah itu. Ada orang yang memangku jabatan pemerintahan malah korupsi. Ada hakim yang justru menerima suap untuk mengubah keputusan tertentu. Ada juga pejabat di lembaga pendidikan yang malah melakukan plagiarisme. Dengan kata lain banyak orang bersumpah tetapi tidak melakukan sesuatu yang disumpahkannya atau mengucapkan “sumpah” hanya untuk menutupi kebohongan atau hal yang belum pasti.
Sikap yang demikianlah yang dikritik oleh Yesus: sumpah palsu atau menggunakan kata-kata sumpah untuk menutupi kebohongan atau ketidakjujuran. Karena itu, Yesus mengingatkan para pendengarnya untuk tidak bersumpah demi apapun, melainkan untuk mengatakan ya jika memang ya dan mengatakan tidak jika memang tidak. Yesus mau mengajak kita untuk sungguh-sungguh menghidupi kejujuran dan kebenaran. Jika tercapai suatu masyarakat yang sungguh menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, tidak diperlukan sumpah-sumpah lagi. Kalaupun sumpah harus diambil demi kepentingan umum, hal itu harus dihidupi dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ajakan Yesus ini merupakan bagian dari ajakan Yesus untuk menggenapi hukum Taurat. Ketaatan pada hukum harus disertai dengan cinta kasih dan tidak hanya dengan sikap kaku melaksanakan setiap hukum. Sumpah adalah bagian dari hukum, dan Yesus mengajak melaksanakannya dengan landasan cinta kasih agar menjadi semakin penuh. Dalam bahasa Rasul Paulus, hidup baru yang ditawarkan atau diajarkan oleh Yesus itu baru menjadi bagian dari hidup kita ketika kita sudah menjadi ciptaan baru, yakni ketika kita sudah diperdamaikan kembali dengan Bapa, melalui iman akan Yesus, meliputi seluruh hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Oleh : Fr.  A.  Wahyu Dwi A,  SJ

Selasa, 13 Juni 2017

video Goa Maria Lawangsih


video ini berisi slide show beberapa foto dari goamaria lawangsih terutama waktu sekitar pembuatan gapura yang bertuliskan wiwaraning swarga luhurung panembah untuk maknanya bisa di lihat disini

Senin, 12 Juni 2017

Renungan harian GML : Ikhlas menjalani dan menerima apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini sebagai anugerah dan pemberian Allah



Senin, 12 Juni 2017, 
Dukacita yang Mendahului Kemenangan
Senin Biasa X
Bacaan : 2 Kor 1:1-7; Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Mat 5:1-12.

Bacaan Injil:
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, 
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, 
karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, 
karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, 
karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, 
karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, 
karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, 
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, 
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Renungan:
Dalam bacaan pertama, Paulus menulis: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.”
Sedangkan dalam bacaan Injil, kita mendengar kata-kata penghiburan dari Yesus sendiri, berupa delapan Sabda Bahagia untuk menghibur mereka yang miskin, menderita, kelaparan, dianiaya, dsb. Tema mengenai penghiburan merupakan tema bacaan-bacaan hari ini. Delapan Sabda Bahagia dalam versi Matius ini bernuansa eskatologis. Artinya, penghiburan yang Ia janjikan adalah penghiburan di akhir zaman, penghiburan setelah semua penderitaan dan kesengsaraan di dunia ini berakhir. Bukan berarti bahwa untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga kelak, kita harus miskin, menderita dan dianiaya di dunia ini. Tetapi, berarti bahwa siapapun yang menderita di dunia ini akan mendapatkan hadiah atau imbalan kelak di surga.
Hidup di dunia tidak akan terlepas dari penderitaan, seberapapun kecilnya. Dari segi filosofis, ini merupakan ‘nasib’ sebagai manusia yang melalui kelahirannya terlempar ke dunia. Dari segi teologis, ini merupakan dosa Adam yang membuat seluruh umat manusia harus menanggung akibat untuk bekerja keras dan menderita seumur hidupnya. Melalui hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, penderitaan itu mendapat terang dan makna baru. Penderitaan tidak lagi merupakan nasib yang harus dijalani manusia, tetapi dapat dijalani dengan ikhlas sebagai sikap ambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus. Hanya dengan itulah penderitaan menjadi bermakna dan kita berhak atas imbalan penghiburan di surga.
Dengan demikian, tidak perlulah kita di dunia ini mencari-cari penderitaan atau kesusahan seakan-akan itu merupakan tiket bagi kita untuk dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Ikhlas menjalani dan menerima apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini sebagai anugerah dan pemberian Allah adalah jauh lebih baik. Dalam kesusahan dan penderitaan, kita mengingat bahwa kita pada saatnya akan menerima penghiburan. Sementara dalam kegembiraan, kita harus bersyukur dan mengingat bahwa semuanya berasal dari Allah semata.

Disusun oleh : Fr.  A.  Wahyu Dwi A, SJ.

Sabtu, 10 Juni 2017

Renungan Harian GML : Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus



TERPUJILAH ALLAH BAPA, PUTERA, DAN ROH KUDUS KARENA BESARLAH KASIH SETIANYA BAGI KITA

Saudari-saudara sekalian, kita berjumpa pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Rangkaian perayaan Paska mengajak kita untuk memahami dan meresapkan karya penyelamatan Allah atas kita manusia. Allah yang menciptakan manusia bersama dengan bumi dan seluruh isinya menghendaki seluruh ciptaan-Nya baik adanya. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa yang membuat manusia itu sengsara, yakni jauh dari kebahagiaan Allah; Allah merancangkan karya keselamatan dengan mengutus Putera-Nya sendiri. Melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Sang Putera Allah Yesus Kristus memenkuhi janji keselamatan Allah itu. Kedatangan Roh Kudus yakni Roh Penolong yang dijanjikan oleh Yesus sebelum pemuliaan-Nya ke sorga, melengkapi dan melanjutkan karya keselamatan tersebut dalam diri para beriman untuk seterusnya dan sepanjang seagala masa. Perayaan hari ini mengajak kita menyadari dan mengimani kasih Allah yang luar biasa besar kepada kita manusia. Kasih Allah itu sudah ada sejak awal mula, semakin nyata dalam diri Yesus Kristus dan kasih-Nya itu tetap kekal bersama kita lewat Roh Kudus yang diutus.
Bacaan pertama hari ini mengisahkan bagaimana Musa mengalami perjumpaan dengan Tuhan di dalam percakapan kasih-Nya. Tuhan menyapa Musa sambil berseru: “Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!” Musapun segera berlutut dan menyembah lalu berkata: “Jikalau aku telah mendapatkan kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami….. Ambillah kami menjadi milik-Mu.” (Kel. 34:6,9). Nampak di sini, Musa mendapat kesempatan mengalami relasi yang erat dengan Allah. Rasul Paulus dalam bacaan kedua, menasehati orang-orang Korintus agar mereka hidup sehati sepikir dalam damai sejahtera karena dengan demikian Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai mereka. (2Kor. 13:11). Bacaan Injil menegaskan bahwa kasih Allahlah yang mengerjakan karya keselamatan-Nya, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Aanak-Nya yang tunggal, supaya yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekeal.” (Yoh 3:16). Dogma Allah Tritunggal adalah misteri cinta kasih Allah kepada manusia. Allah rela mengaruniakan Anak-Nya yakni Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita. Allah juga menghendaki agar kasih-Nya itu tetap tinggal bersama kita dan bahkan bersatu dengan diri kita. Oleh karena itu  Allah Bapa dan Allah Putera mengutus Roh Kudus untuk tinggal bersama dan bersatu dengan kita.  Allah Tritunggal bukan hanya satu dalam hakekat tetapi juga dalam kehendak dan cinta kasih kepada manusia yang merindukan keselamatan.
Perayaan Tritunggal Mahakudus mengajak kita belajar dari persatuan Allah Tritunggal. Kita yang telah bersatu dengan Allah Tritunggal, hendaknya membina persatuan yang erat dengan sesama kita. Dalam hidup sekarang di mana persatuan atau persaudaraan sejati yang mengandung saling menerima, saling mengerti dan saling menghargai, apalagi saling berkorban, sedang mengalami ujian; kesatuan kasih Allah Tritunggal menjadi harapan untuk menimba kekuatan. Dalam perayaan ini kita diingatkan agar kita belajar dan meneladani persatuan Allah Tritunggal. Kita yang merayakan dan mengimani Allah Tritunggal dipanggil dan sekaligus diutus ke tengah dunia untuk membagikan kasih Allah kepada sesama kita dengan hidup bersama dengan sesama, hidup menjalin persaudaraan sejati dengan sesama kita. Seperti Allah Tritunggal yang satu bukan hanya dalam hakekat saja tetapi juga dalam kehendak untuk mengasihi manusia, maka demikian juga kita hendaknya membina persatuan/persaudaraan dengan sesama untuk membagikan cinta kasih kepada sesama. Dalam konteks Indonesia, NKRI harga mati, Pancasila dasar negara,  menjadi tindakan nyata dari ketakwaan kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah Allah yang Mahaesa.  Aku Katolik, aku Indonesia, aku Pancasila. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (rm pur msc)

Renungan harian GML : “Kita ingin model beriman macam apa?”



Bacaan Liturgi 10 Juni 2017

Sabtu Pekan Biasa IX

Bacaan Injil
Mrk 12:38-44
Janda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada semua orang lain.

Pada suatu hari Yesus dalam pengajaran-Nya berkata, "Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat. Mereka suka berjalan-jalan dengan pakaian panjang dan suka menerima penghormatan di pasar.

Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan.
Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Pada kali lain sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu.
Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin. Ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

Maka Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya: semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Renungan
Ada dua tokoh yang ditonjolkan dalam Injil hari ini: (1) Ahli-Ahli Taurat; dan (2) Janda Miskin.

1. Ahli-Ahli Taurat itu (a) suka jalan-jalan dengan pakaian panjang; (b) suka menerima penghormatan di pasar; (c) suka duduk di tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat; (d) mencaplok rumah janda-janda; dan (e) suka mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang. Inti yang ingin disampaikan Yesus sederhana: “Ada yang lebih penting dari sekadar ‘tampilan luar’ semata!”

1. Bukan berarti, kita tidak boleh lagi memakai atribut-atribut keagamaan kita (“pakaian panjang”); [2] Bukan berarti, setiap kali kita “dihormati” oleh orang lain itu buruk. Tidak! Bahkan kadang, bisa “menerima apresiasi” dari orang lain dengan tulus, itu sebuah kerendahan hati dan salah satu cara menghargai orang lain dengan tulus pula; [3] Bukan berarti, “duduk di depan” di rumah ibadat dan [4] “berdoa panjang” itu tidak baik; melainkan persoalannya “jika TIDAK duduk di depan dan TIDAK berdoa panjang” lalu kita merasa “tidak suci atau tidak layak di hadapan Tuhan”, di sanalah letak persoalannya. Dan, jika semua hal ini hanya ingin mengelabuhi orang banyak agar kita dinilai baik dan menggunakan kebaikan orang lain hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, maka kita harus mengingat kata-kata Cinta kepada Rangga dalam Film “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC 2), “Kamu Jahat!”

Jadi, inti dari semuanya ini ada dalam “niatan (intensi) dalam hati kita.” Semua bisa baik “tampilan”-nya, tapi jika semua dipenuhi dengan “niatan yang tidak tulus”, semua menjadi “tidak baik”.

2. Selain itu, ada problem yang tidak sederhana di sini, Yesus mengatakan bahwa Ahli-Ahli Taurat itu “menelan (mencaplok) rumah janda-janda” (Mrk 12:40). “Apa maksudnya ini?” (a) Salah satu cara memahaminya adalah dengan mengingat kembali bahwa Hukum Warisan di Perjanjian Lama (Lih. Bil. 27:9-11) menyatakan bahwa seorang janda tidak berhak menerima warisan suaminya. (b) “Siapa yang menjelaskan dan menafsirkan hukum ini?” Ya.. ahli-ahli taurat itu sendiri. Di sinilah peran mereka. Mereka seringkali ingin benar-benar berusaha melaksanakan hukum secara “literal” – “Apa yang tertulis, itu yang dilakukan,” namun tanpa pernah mencoba mencari inti dari “hukum” itu sendiri, yaitu “Kasih”. (c) Jadi, tampaknya Yesus mengkritik “pelaksanakan hukum agama (taurat)” pada saat itu, yang terkesan sangat “legalistik” tanpa pernah menemukan “inti terdalam”-nya, yaitu “Kasih”. Dan dalam hal ini, seringkali para janda kehilangan rumah mereka (jatuh ke tangan orang lain). Mungkin inilah yang dimaksud dengan “menelan (mencaplok) rumah janda-janda” itu.

3. Lalu, kisah ini berlanjut dengan kisah seorang janda miskin yang memberikan persembahan (ay. 41-42). (a) Kemungkinan besar, ia pun “kehilangan” rumahnya; namun (b) ia tetap berusaha menjadi “umat” yang baik dengan memberikan persembahan di Bait Allah. Ia datang dengan memberikan apa yang ia punya: “dua peser, yaitu satu duit” (merupakan kepingan mata uang terkecil Romawi pada saat itu). Ia memberikan “semua yang ia miliki” dan dipersembahkan kepada Allah.

4. Akhirnya, kita bisa melihat dua model orang dalam “beriman”: Pertama, lebih menekankan “tampilan luar” dengan berbagai “aksesoris”-nya dan dipamerkan ke mana-mana. Kedua, beriman dengan sederhana seperti janda miskin itu – tanpa perlu dipamerkan ke mana-mana, ia mempersembahkan seluruh yang ia punya kepada Allah.

“Kita ingin model beriman macam apa?”
Jawabannya ada di tangan kita masing-masing.

Disusun oleh Rm.  Nikolas Kristiyanto, SJ.

Minggu, 04 Juni 2017

MEREKA PENUH ROH KUDUS DAN MULAI BERBICARA


Saudari-saudara sekalian, hari ini kita merayakan Hari raya Pentakosta ataupun hari turun-Nya Roh Kudus atas para Rasul. Hari ini juga sering disebut sebagai hari kelahiran Gereja. Ya, Gereja yang dipersiapkan oleh Tuhan Yesus seperti dalam kandungan: mendapatkan nutrisi melalui sabda dan karya serta mukjizat-mukjizat dan teristimewa peristiwa kebangkitan Yesus; dalam kehadiran Roh Kudus, Gereja Perdana ataupun para rasul dan para murid pertama menjadi hidup dan mulai beraktivitas.  Dulu seperti bayi dikumpulkan dan mererima makan dan minum dari Yesus, kini mereka siap dan mulai melaksnakan perutusan dan bertindak menjangkau semua pihak untuk mengajarkan khabar sukacita bagi semua orang.
Bacaan pertama mengisahkan bagaimana para rasul dalam kepenuhan Roh Kudus mulai berkata-kata dalam bahasa lain seperti yang diilhamkan Roh itu kepada mereka dan mereka pun menjangkau setiap orang dari pelbagai suku bangsa dan bahasa yang ada di perkumpulan itu: “..kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah” (Kis 2:11b). Rasul Paulus dalam bacaan kedua menegaskan bahwa ada banyak karunia, bukan hanya karunia berbicara tetapi rupa-rupa karunia, dan dimiliki oleh masing-masing rasul secara berbeda; namun berasal dari Roh yang satu dan sama, untuk kepentingan bersama (bdk.: 1 Kor 12: 6-7). Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus memberi “Salam Damai” kepada para murid-Nya, kemudian mengutus mereka dan mengembusi mereka dengan Roh Kudus. Dalam Roh Kudus itu mereka diberi kuasa untuk mengampuni atau menyatakan dosa orang tetap ada (Yoh 20:23). Dari bacaan-bacaan ini kita bisa melihat bahwa dalam Roh Kudus Tuhan memberikan kuasa kepada para murid yang disertai dengan pelbagai karunia. Kuasa itu diberikan bukan untuk kepentingan mereka pribadi atau untuk main kuasa atau unjuk kebolehan melainkan untuk kepentingan bersama sebagai tanggungjawab atas satu kesatuan “Tubuh Kristus”.
Saudari-saudara, dalam keadaan bangsa kita yang sedang mengalami krisis identitas sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, di saat kita berupaya menegaskan kembali dan memulihkan Pancasila sebagai dasar negara republic Indonesia; perayaan Pentakosta ini menjadi sangat relevan. Yesus mau menanggung penderitaan dan maut agar mendapatkan kehidupan dan keselamatan bagi para murid-Nya, Ia pun rela meninggalkan dunia ini kembali kepada Bapa agar mendapatkan “Penolong yang lain” bagi para murid-Nya. Yesus sangat merindukan agar semua murid-Nya bersatu. Ia mendoakan mereka semua dan bahkan juga mereka yang di luar perkumpulan para murid. Dalam terang Roh Kudus, dengan pelbagai karunia masing-masing para murid melaksanakan tugas perutusan Yesus menjangkau semua orang. Kepelbagaian bukan menjadi hambatan atau rintangan tetapi menjadi alasan untuk berusaha menyapa secara pribadi dengan bahasa pribadi masing-masing. Pada masa kini, khususnya di Indonesia ini, kitalah yang mendapatkan tugas untuk melanjutkan perutusan para murid itu. Roh Kudus yang mengaruniakan aneka karunia, juga Roh Pemersatu semoga kita beri tempat di hati kita dan kita beri kesempatan untuk berkarya melalui diri kita untuk kerukunan, kedamaian, keadilan, dan cinta kasih di antara kita. Dalam kepenuhan Roh Kudus berani kita nyatakan: “Saya Katolik, saya Indonesia, saya Pancasila” demi keutuhan kesatuan dan perdamaian bangsa Indonesia. Pancasila dasar negara – NKRI harga mati. Tuhan memberkati. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC) 

Sabtu, 03 Juni 2017

Renungan harian GML : "It’s All about You"


Sabtu, 3 Juni 2017,
It’s All about You
Pw. Karolus Lwanga, dkk. Mrt (M)
Bacaan : Kis 28:16-20.30-31; Mzm 11:4.5.7; Yoh 21:20-25;

Bacaan Injil:
Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?" Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku." Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu." 
Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Renungan:
Injil hari ini merupakan kelanjutan Injil hari kemarin dan merupakan epilog dari Injil Yohanes. Dialog Petrus dan Yesus berlanjut, dengan pokok bergeser dari Petrus kepada murid yang dikasihi. Petrus bertanya kepada Yesus mengenai apa yang akan terjadi dengan murid yang dikasihi. Yesus tidak menjawab pertanyaan Petrus ini melainkan mengembalikan pokok pembicaraan kepada panggilan Petrus untuk mengikuti Yesus. Yesus mau menegaskan kepada Petrus bahwa ia tidak perlu mencampuri urusan nasib orang lain, melainkan mengambil keputusan tegas dan sikap terhadap panggilan Yesus untuk mengikuti-Nya ini. 
Kerap kali dalam hidup kita juga terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain dan tidak berfokus pada hidup kita sendiri. Sejak dulu mencampuri urusan orang lain memang terasa lebih mengasyikkan daripada bergulat dengan permasalahan diri sendiri. Kebiasaan ngrasani, nggosip, atau ngerumpi telah menjadi kebiasaan orang Indonesia sejak dulu kala. Kini kebiasaan itu diperkuat dengan adanya internet, media sosial dan gadget, sehingga kapanpun dan di manapun, kita bisa kepo atau mau tahu urusan orang lain. Secara psikologis, hal seperti nggosip atau kepo dengan hidup orang lain itu menyenangkan karena kita sejenak teralihkan dari permasalahan pribadi kita sendiri. 
Hari ini Yesus mengingatkan kita bahwa hidup kita, jawaban kita terhadap panggilan Yesus adalah yang lebih penting. Tidak perlu menunjuk-nunjuk orang lain yang entah lebih baik atau lebih buruk dari pada kita. Tidak perlu membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dan lalu membuat penilaian macam-macam. Membuat perbandingan semacam itu layaknya orang yang ditilang polisi karena melanggar lampu merah tapi malah mempermasalahkan mengapa orang lain yang melanggar tidak ditilang dan hanya dia sendiri yang ditilang. Urusan melanggar lampu merah adalah urusan dia sebagai warga negara dan hukum publik, bukan urusan nasib orang lain tidak kena tilang dan dia tidak kena tilang. Hal yang sama jugalah yang hendak disampaikan melalui Injil hari ini. Yesus, dengan menegur Petrus, juga mau menegur kita semua bahwa apa yang harus kita gulati adalah masalah hidupku di hadapan Tuhan, bagaimana aku menjawab panggilan Tuhan melalui hidup harianku, bukannya mengurusi nasib orang lain yang atau relasi orang lain dengan Tuhan. 

Disusun oleh :
Fr.  Agustinus Wahyu Dwi A.  SJ