Sabtu, 17 Juni 2017

Renungan harian GML : " Katakan Ya jika Memang Ya dan Katakan Tidak jika Memang Tidak"

Sabtu, 17 Juni 2017,
Pw. Karolus Lwanga, dkk. Mrt (M)
Bacaan : 2 Kor 5:14-21; Mzm 103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat 5:33-37;

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Renungan:
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus bukan mau mengharamkan sumpah. Sebaliknya, Yesus mau mengajak para pendengarnya untuk menghidupinya secara lebih mendalam dan sungguh-sungguh. Dalam kehidupan kita, sumpah seringkali harus diambil oleh mereka yang menduduki jabatan-jabatan penting seperti hakim, pejabat pemerintahan atau pemimpin lembaga-lembaga sosial atau pendidikan dalam masyarakat. Bahkan, dalam perpolitikan ada yang rela bersumpah untuk mendapatkan keyakinan masyarakat. Misalnya, ada artis Indonesia yang bersumpah akan memotong kemaluannya jika Jokowi terpilih menjadi presiden. Dalam hidup sehari-hari kata “sumpah” seringkali diucapkan seseorang ketika mau meyakinkan orang lain bahwa ia mengatakan yang sebenarnya. “Sumpah, bukan saya yang melakukannya” atau “Sumpah, aku cinta sama kamu”, misalnya. Sumpah diperlukan dalam kehidupan kita karena di satu sisi kehidupan bersama mesti dijamin tetapi di sisi lain ada kelemahan manusiawi dalam diri orang-orang yang mengambil sumpah itu.
Namun, dalam praktiknya, banyak hal yang nyatanya berlawanan dengan apa yang ada dalam sumpah itu. Ada orang yang memangku jabatan pemerintahan malah korupsi. Ada hakim yang justru menerima suap untuk mengubah keputusan tertentu. Ada juga pejabat di lembaga pendidikan yang malah melakukan plagiarisme. Dengan kata lain banyak orang bersumpah tetapi tidak melakukan sesuatu yang disumpahkannya atau mengucapkan “sumpah” hanya untuk menutupi kebohongan atau hal yang belum pasti.
Sikap yang demikianlah yang dikritik oleh Yesus: sumpah palsu atau menggunakan kata-kata sumpah untuk menutupi kebohongan atau ketidakjujuran. Karena itu, Yesus mengingatkan para pendengarnya untuk tidak bersumpah demi apapun, melainkan untuk mengatakan ya jika memang ya dan mengatakan tidak jika memang tidak. Yesus mau mengajak kita untuk sungguh-sungguh menghidupi kejujuran dan kebenaran. Jika tercapai suatu masyarakat yang sungguh menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, tidak diperlukan sumpah-sumpah lagi. Kalaupun sumpah harus diambil demi kepentingan umum, hal itu harus dihidupi dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ajakan Yesus ini merupakan bagian dari ajakan Yesus untuk menggenapi hukum Taurat. Ketaatan pada hukum harus disertai dengan cinta kasih dan tidak hanya dengan sikap kaku melaksanakan setiap hukum. Sumpah adalah bagian dari hukum, dan Yesus mengajak melaksanakannya dengan landasan cinta kasih agar menjadi semakin penuh. Dalam bahasa Rasul Paulus, hidup baru yang ditawarkan atau diajarkan oleh Yesus itu baru menjadi bagian dari hidup kita ketika kita sudah menjadi ciptaan baru, yakni ketika kita sudah diperdamaikan kembali dengan Bapa, melalui iman akan Yesus, meliputi seluruh hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Oleh : Fr.  A.  Wahyu Dwi A,  SJ

0 komentar:

Posting Komentar