Selasa, 27 Juni 2017

Renungan harian GML : “Sejauh mana aku beriman pada zaman ini dalam situasi hidupku saat ini?”

Bacaan Liturgi 25 Juni 2017

Minggu Biasa XII

Bacaan Injil
Mat 10:26-33
Orang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus, tetapi Ia luput dari tangan mereka.
Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.
Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Renungan:

1. Konteks dalam bacaan Injil hari ini adalah “kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan yang akan datang dalam mengikuti Yesus”. Yesus menyampaikan pesannya dengan jelas, “Jangan takut!” Ini adalah salah satu tanda orang beriman. 
2. Namun, “takut” itu wajar (terutama di hadapan berbagai kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan dalam hidup kita). “Takut” adalah bagian dari hidup manusia. Kalau orang tidak pernah takut, itu juga aneh. 
3. Lalu, apa yang dimaksud dengan Yesus dengan mengatakan “Jangan Takut”?
 Jawabannya dapat kita temukan di ayat 32-33: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Jadi intinya, “Jangan takut mengakui bahwa kita adalah pengikut-pengikut Kristus bahkan jika kesulitan, penderitaan, dan bahkan penganiayaan ada di depan kita!” Intinya: “Tetaplah beriman sesulit apapun itu!” Imanlah yang memberi pengharapan dalam hidup.
4. Yang menjadi menarik adalah ketika mengaitkannya dengan Film “Silence”, yang menceritakan seorang Yesuit (di abad ke-17) yang menyangkal imannya di Jepang, untuk menyelamatkan orang-orang Katolik yang akan dibunuh di hadapannya. Di sana digambarkan pergulatannya yang sungguh otentik, “(1) Aku menginjak gambar Yesus dan mereka semua selamat?; atau (2) Aku menolak menginjak gambar Yesus dan mereka semua mati?” Akhirnya, Romo itu menginjak gambar Yesus dan menyelamatkan semua orang di hadapannya. Bagi penguasa Jepang pada saat itu, Romo ini menyangkal imannya. Namun, ketika ia meninggal, ia tetap memegang salib kecil di dalam genggamannya, di mana Yesus tergantung di sana. Ini ingin mengatakan bahwa ia tetap seorang pengikut Kristus sampai mati, walaupun di hadapan penguasa Jepang ia bukan seorang Katolik atau pengikut Kristus lagi. Inilah “penderitaan” yang ia alami, bahkan mungkin melebihi kematian. Hidup dengan membawa “beban” sebagai “penyangkal Kristus”. Namun, ia tidak berhenti berharap tuk tetap beriman pada Kristus. Ia tetap beriman pada Kristus dengan caranya sendiri, dalam situasi zaman itu.

Lalu pertanyaannya bagi kita, “Sejauh mana aku beriman pada zaman ini dalam situasi hidupku saat ini?”

Disusun oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar