Sabtu, 01 Juli 2017

Renungan harian GML : "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh"



Sabtu, 1 Juli 2017, 
Sabtu Biasa XII
Bacaan : Kej 18:1-15; Luk 1:46-47.48-49.50.53.54-55; Mat 8:5-17;

Bacaan Injil:
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.
Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Renungan:
Alkisah, ada seorang pria mempunyai dua anak. Yang satu menjadi penyair sementara yang lain menjadi tentara. Suatu hari, dalam mimpi pria itu ditampaki malaikat yang mengatakan bahwa kata-kata salah seorang anaknya akan terus dikenang hingga akhir zaman. Pria itu terbangun dari mimpinya dan begitu gembira. Ia kemudian selalu memberi semangat kepada anaknya yang penyair agar terus berkembang karena yakin kelak putranya akan menjadi terkenal. Tak lama, pria itu mati dan bertemu dengan malaikat yang pernah menampakinya. Ia pun berterima kasih pada malaikat karena telah memberi tahu dia bahwa putranya akan menjadi penyair terkenal. Malaikat itu balik berkata bahwa kata-kata yang akan dikenang orang adalah kata-kata puteranya yang tentara, yaitu kata-kata yang diucapkannya kepada Putera Allah ketika ia mencari tabib untuk hambanya yang sakit.
Kata-kata perwira dalam Injil hari inilah yang dimaksud oleh malaikat dalam kisah di atas. Dalam perayaan ekaristi kata-kata ini selalu kita ucapkan setelah Anak Domba Allah dan sebelum menyambut Tubuh Kristus. Kata-kata ini mau menggambarkan ketidakpantasan kita menyambut tubuh Tuhan sebagaimana perwira di Kapernaum juga merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya karena ia pendosa, seorang kafir.
Yang mau kita teladan dari sang perwira Romawi adalah imannya yang begitu besar. Yesus sendiri menunjukkan betapa imannya tidak disamai oleh siapapun yang pernah Ia jumpai di Israel. Si perwira begitu yakin bahwa hambanya akan sembuh meskipun Yesus hanya bersabda dan tidak berkunjung ke rumahnya atau melihat sendiri si sakit. Keyakinan yang seperti inilah yang diharapkan Tuhan Yesus dari para muridnya dan kita semua.
Iman sang perwira adalah iman yang rendah hati. Pertama, ia menyadari diri pendosa. Kesadaran ini mesti menjadi kesadaran kita semua. Sebaik apapun dan sesaleh apapun kita, pasti pernah berdosa. Menyadari kedosaan adalah langkah awal menuju pembaharuan hidup dan iman yang sejati. Kedua, perwira ini datang menemui Yesus. Artinya, ia mempunyai inisiatif untuk mencari dan meminta. Rahmat memang berasal dari Allah. Namun, dituntut kerja sama pula dari pihak kita. Kerja sama itu berupa keterbukaan kita agar rahmat dapat bekerja. Keterbukaan inilah yang ditunjukkan sang perwira dengan datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan bagi hambanya. Meski kafir, ia terbuka terhadap kemungkinan bahwa Yesus akan menaruh belas kasih pada dirinya. Ketiga, ia tidak mau merepotkan Tuhan. Keyakinan bahwa rahmat Allah akan bekerja sesuai dengan cara dan rencana Allah mesti menjadi bagian dari iman kita. Si perwira menunjukkannya dengan meminta diri setelah permohonannya didengarkan dan meyakini bahwa hambanya akan sembuh, tanpa harus membawa Tuhan ke rumahnya. Kita terlalu sering merepotkan Tuhan dengan banyak hal. Padahal Ia yang Mahatahu tentu sudah tahu permasalahan kita dan kebutuhan kita. Yang kita perlu bangun adalah mencari tahu rencana dan cara Allah bekerja, mengimaninya, dan berbuat sesuai rencana tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar