menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Senin, 31 Juli 2017

Renungan Harian GML : MENEMUKAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN TIAP HARI

SABDA, Senin, 31-7-2017


BACAAN
Kel 32:15-24.30-34 – “Bangsa itu telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat Allah emas
Mat 13:31-35 – “Biji sesawi itu menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan dua perumpamaan pendek, yaitu biji sesawi dan ragi. Lewat perumpamaan, Tuhan mengungkapkan tentang Kerajaan Allah lewat kejadian sehari-hari.

2.Ay 31-32 – Perumpamaan tentang biji sesawi: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.” Yesus tidak menerangkan arti perumpamaan ini. Pada kesempatan lain Ia mengatakan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mt 13:9.43). Dari perumpamaan ini ada dua pokok penting: (a) Kerajaan Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi  Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kita (Luk 17:21). Kehadirannya seperti biji sesawi: sangat kecil, sederhana, hampir tidak terlihat. Ia adalah Yesus. Dalam Yesus, Kerajaan Allah tidak mengikuti kriteria dunia, melainkan memiliki cara berpikir dan berproses yang berbeda. (b) Biji sesawi, walau pun kecil tetapi tumbuh dan memberi harapan. Bila biji tumbuh menjadi besar, maka jadilah pohon. Pohon adalah Komunitas beriman, di mana orang diterima, merasa krasan, memiliki harapan akan masa depan.

3.Ay 33 – Perumpamaan tentang ragi. Dikisahkan: seorang perempuan mengambil ragi dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Yesus juga tidak menerangkan arti perumpamaan ini. Jadi terserah dari kita mau memaknai perumpaan ini.

4.Ayh 34-35 – “Mengapa Yesus bicara dalam perumpamaan? Pertama, agar apa yang ditulis Pemazmur terpenuhi: “Aku mau membuka mulut mengatakan perumpamaan, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala” (Maz 78:2). Kedua, menyesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan kemampuan para pendengar (Mrk 4:34). Dengan perumpamaan ini Yesus mengharapkan kepada para pendengar-Nya agar mereka menemukan Allah lewat kehidupan tiap hari; agar mereka menangkap tanda-tanda Allah dalam kehidupan keseharian mereka atau “menemukan Allah dalam segala” (St. Ignasius Loyola).

5.Dari dua perumpamaan di atas, apa yang paling mengesan bagi  Anda?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Minggu, 30 Juli 2017

Renungan Harian GML : MENGGENGGAM YESUS DAN INJIL-NYA SAMPAI AKHIR HAYAT

SABDA, Minggu Biasa XVI, 30-7-17
MENGGENGGAM YESUS DAN INJIL-NYA SAMPAI AKHIR HAYAT

BACAAN
1Raj 3:5.7-12 – “Salomo minta hikmat dan pengertian”
Rom 8:28-30 – “Mereka ditentukan Allah dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya”
Mat 13:44-52 – “Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini memuat tiga perumpamaan: harta terpendam, pedagang yang mencari mutiara yang indah, dan pukat yang dilabuhkan di laut. Perumpamaan membantu kita untuk melihat lebih baik kehadiran Kerajaan Allah dalam kehidupan setiap hari.

2.Ay 44 – Perumpamaan harta terpendam. Tak seorang pun tahu bahwa ada harta terpendam di sebuah ladang. Secara kebetulan, seseorang menemukannya. Ia begitu bergembira dan bersukacita. Maka ia menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang tersebut. Dengan membeli ladang, berarti ia menguasai harta terpendam tersebut. Yesus tidak menerangkan arti perumpamaan itu. Ia hanya mengatakan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mt 13:9.43).

3.Ay 45-46 – Perumpamaan pedagang yang mencari mutiara yang indah. Dalam perumpamaan ini, si pedagang aktif mencari mutiara tersebut. Setelah mendapatkan mutiara tersebut, ia pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.

4.Makna kedua perumpamaan di atas: Kerajaan Allah itu ada dan tersembunyi dalam kehidupan, dan menunggu orang menemukannya. Menemukan Kerajaan Allah berarti mengenal Tuhan dan hidup menurut Injil. Hal tersebut merupakan harta yang paling berharga dalam kehidupan. Hanya melalui Yesus dan Injil, kita mengenal dan memahami arti kehidupan yang sesungguhnya dan merupakan hal yang paling penting dalam hidup kita.

5.Ay 47-50 – Perumpamaan tentang pukat yang dilabuhkan di laut. Pukat tersebut mengumpulkan segala jenis ikan, yang baik maupun yang kurang baik. Ketika di darat, mereka akan memisahkan ikan yang baik dan berharga dari ikan yang kurang baik dan tidak berharga. Pada akhir jaman, orang benar akan dipisahkan dari orang jahat. Orang jahat dicampakkah ke dalam dapur api.

6.Ay 51-52 – Kesimpulan. Kesimpulan berupa dialog singkat antara Yesus dengan para pendengar-Nya: “Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Kemudian Yesus menyimpulkan: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Apa arti kesimpulan tersebut? Seorang ahli Taurat memang sungguh ahli dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Hukum. Seandainya mereka terbuka dan menerima Yesus sebagai Penyelamat, maka mereka memiliki harta rohani yang luar biasa yang bisa dibagikan demi keselamatan banyak orang. Sayang sekali, mereka tidak terbuka dan tidak percaya kepada Yesus.

7.Yesus dan Injil-Nya sudah kita genggam. Selanjutnya, apa yang harus kita buat agar pada akhir jaman kita masuk bilangan orang yang dibenarkan?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Sabtu, 29 Juli 2017

Renungan Harian GML : Ora et Labora


Sabtu, 29 Juli 2017, Pw. S. Marta, Maria dan Lazarus, Sahabat Tuhan
Bacaan : Kel 24:3-8; Mzm 50:1-2.5-6.14-15; Mat13:24-30
Bacaan Injil:
Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.

Renungan
Banyak orang berpendapat bahwa sikap yang diinginkan dari kita oleh Yesus adalah meneladan Maria yang duduk mendengarkan Yesus dan bukan seperti Marta yang sibuk bekerja. Kiranya, apa yang dimaksud oleh Yesus adalah “biarkanlah keduanya tumbuh bersama” sebagaimana gandum dan ilalang yang dibiarkan tumbuh bersama. Artinya kedua sikap dalam menyambut kedatangan Tuhan itu sama-sama baik.
Marta melambangkan keaktifan kita dalam menyambut Tuhan. Ia juga melambangkan kegiatan bekerja. Dalam menjalani hidup ini, kita diajak pula untuk bekerja bersama Tuhan dan tidak hanya tinggal diam terhadap permasalahan dunia di sekitar kita. Dibutuhkan orang-orang yang mau aktif seperti Marta. Sebaliknya, Maria melambangkan kepasifan kita dalam menyambut Tuhan, mendengarkan dan membiarkan Tuhan berbicara. Ia juga melambangkan sikap doa. Doa menjadi penting, bukan sebagai satu-satunya senjata menghadapi masalah dunia ini, tetapi sebagai yang melengkapi kerja.
Ora et Labora. Demikianlah semboyan yang dipakai Santo Benediktus untuk menggambarkan panggilan hidup manusia di dunia ini. Manusia diajak tidak hanya untuk berdoa melulu dan menenggelamkan diri dalam kemesraan dengan Tuhan. Manusia lalu dituntut untuk kembali ke dunia, menghadapinya bersama semua persoalan yang ada. Kesalahan kita adalah jika kita jatuh ke dalam ekstrim salah satu, entah hanya mementingkan doa atau kerja. Masalah tidak akan selesai dengan kita berdoa adorasi berlama-lama tanpa kita berjuang menghadapinya. Demikian juga bekerja atau bergelut dengan masalah tetapi melupakan doa membuat kita kehilangan makna dan semangat untuk menjalani hidup. Keseimbangan keduanyalah yang Yesus inginkan dari kita dengan meneladan hidup Maria dan Marta. St. Ignatius pernah mengatakan, “Berdoalah sekeras mungkin seakan-akan semuanya bergantung pada Allah, tetapi bekerjalah sekuat mungkin seakan-akan semuanya tergantung kepadamu.”

Oleh : Fr Wahyu Dwi A. SJ

Renungan Harian GML: MELAYANI DENGAN SEPENUH HATI DAN SEPENUH JIWA

SABDA, Sabtu, 29-7-2017

BACAAN
Kel 24:3-8 – “Inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu”
Yoh 11:19-27 – “Aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja memperingati St. Marta. Dengan memperingati St. Marta, kita juga memperingati St. Maria dari Betani, dan Lazarus, saudaranya.

2.Penginjil Yohanes mengisahkan tentang Marta dan Maria dalam dua episode. Pertama, dalam kematian Lazarus (Yoh 11:1-54). Kedua, di Betani (Yoh 12:1-7) sebelum Yesus memasuki Yerusalem dan enam hari sebelum Paskah.

3.Injil hari ini (Yoh 11:19-27) menunjukkan iman Marta yang begitu dalam. Pertama, ia percaya, jika Yesus hadir ketika Lazarus sakit, maka Yesus dapat menyembuhkannya dan saudaranya tidak akan mati (ay 21). Kedua, ia percaya walaupun saudaranya telah mati selama empat hari, Yesus tetap mampu membuat mukjijat. Ia tidak minta hal tersebut kepada Yesus, namun ia percaya sepenuhnya pada Yesus (ay 22). Ketiga, ia percaya akan kebangkitan pada akhir jaman (ay 24). Keempat, ia percaya bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak pernah akan mati (ay 25). Kelima, ia percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, yang datang ke dunia ini (ay 27).

4.Yoh 12:1-7 - Marta menunjukkan pelayanan yang murah hati. “Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani” (Yoh 12:2). Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya. Marta tahu bahwa saudarinya mengambil bagian yang lebih baik, dan Marta tidak lagi cemas dan terganggu  bahwa ia harus melayani sendirian. Marta tidak bimbang dalam melayani, tetapi dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa melayani Tuhan Yesus dan yang lain dengan kasih.

5.Pelayanan (seperti yang dilakukan Marta), tidak dapat dipisahkan dengan duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan Sabda-Nya (seperti dilakukan Maria). Bagaimana pengalaman Anda?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉwww.berkat.id

Jumat, 28 Juli 2017

Renungan Harian GML : Mendengarkan dan Mengerti

SABDA, Jumat, 28-7-2017
MENDENGARKAN DAN MENGERTI

BACAAN
Kel 20:1-17 – “Hukum Taurat diberikan lewat Musa”
Mt 13:18-23 – “Orang yang mendengarkan Sabda dan mengerti, menghasilkan buah”

RENUNGAN
1.Ay 18 – Mendengar dan mengerti. Yesus telah membuka hati para murid untuk memahami perumpamaan, karena mereka terbuka dan percaya kepada Yesus serta mendengarkan pengajaran- Nya. Sedangkan orang kebanyakan hanya sesekali mendengarkan pengajaran Yesus. Bagi kita sangatlah penting  “menyingkir” sejenak bersama Yesus untuk mendengarkan Sabda-Nya, merenungkan dan menanggapi lewat doa, agar hidup kita menghasilkan buah limpah.

2.Ay 19 – Halangan untuk mengerti. Biji yang jatuh di tepi jalan. Yesus mengingatkan tentang halangan terhadap pewartaan Kerajaan Allah. Biji yang tersebar di pinggir jalan pasti akan terinjak-injak orang yang lewat. Hal ini mau mengatakan bahwa masing-masing orang bertanggungjawab secara pribadi apakah akan menerima Sabda Allah atau “menginjak-injak” Sabda Allah. Halangan kelompok ini adalah: tidak peka terhadap Sabda dan acuh tak acuh. Bagi orang ini: hidup rohani tidak penting.

3.Ay 20-22 – Biji yang jatuh di tanah bebatuan dan semak berduri. Kelompok ini adalah mereka yang membenamkan hati dalam dunia yang palsu dan semu serta hidup melulu duniawi. Hidup seperti ini menghalangi Sabda Allah untuk tumbuh dan menghasilkan buah. Sejenak ia mendengarkan Sabda, tapi segera menolaknya karena tidak seperti yang ia harapkan. Orang ini memiliki kehidupan yang dangkal, semu, duniawi dan tidak stabil.

4.Ay 23 – Tanah yang baik. Tanah yang baik melambangkan hati yang mendengarkan dan mengerti Sabda Tuhan. Hanya orang yang demikian akan menghasilkan buah. Buah yang dihasilkan menjadikan dia terlibat dalam tindakan Allah, yaitu mewujudkan kasih nyata di dunia ini.

5.Anda termasuk jenis tanah yang mana? Apa arti “tanah yang baik” bagi hidup Anda?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Kamis, 27 Juli 2017

Renungan Harian GML : Mereka adalah Orang-orang Tuli dan Buta Terhadap Kerajaan Allah


SABDA, Kamis, 27-7-2017
MEREKA ADALAH ORANG-ORANG TULI DAN BUTA TERHADAP KERAJAAN ALLAH

BACAAN
Kel 19:1-2.9-11.16-20 – “Tuhan turun ke gunung Sinai di hadapan seluruh umat”
Mt 13:10-17 – “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak”

RENUNGAN
1.Pasal 13 Injil Matius berbicara tentang Perumpamaan-perumpamaan. Ada tujuh perumpamaan (Mt 13:1-50).

2.Ay 10 – Pertanyaan. Para murid ingin tahu mengapa Yesus, ketika Ia berbicara kepada orang-orang, selalu dengan perumpamaan: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?”

3.Ay 11-13 – “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak.” Mengapa demikian? Para murid adalah orang-orang yang menerima Yesus sebagai Mesias Hamba, maka mereka mengerti dan menerima apa yang diajarkan Yesus. Tetapi rahasia Kerajaan Surga tersembunyi bagi orang-orang yang memahami bahwa Yesus adalah Mesias Raja Agung yang penuh kemewahan. Yesus mengajar mereka melalui perumpamaan, namun mereka tidak mengerti juga maknanya. Karena para murid terbuka terhadap Yesus, maka mereka akan semakin ditambahkan dengan karunia yang semakin melimpah, sedangkan orang lain , apa saja yang ada padanya akan diambil. Banyak orang sekarang mengalami hidup yang kosong, gersang dan tak bermakna karena menutup hati dan pikiran terhadap Yesus. Mereka tuli dan buta.

4.Ay 14-15 – Pemenuhan nubuat Yesaya. Karena ketertutupan hati mereka, maka mereka tidak mampu melihat, mendengar dan mengerti apa yang diajarkan dan dibuat Yesus. Maka terpenuhilah nubuat nabi Yesaya: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, ..... “ (Yes 6:9-10).

5.Ay 16-17 – “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Kita hendaknya selalu bersyukur karena boleh mengenal dan percaya kepada Yesus, berarti boleh mengenal rahasia Kerajaan Surga. Tetapi adakah yang menghalangi Anda untuk semakin akrab dengan Tuhan Yesus?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Rabu, 26 Juli 2017

Renungan Harian GML : Memiliki Keheningan Batin

SABDA, Rabu, 26-7-2017

BACAAN
Sir 44:1.10-15 – “Nama mereka hidup terus turun temurun”
Mt  13:16-17 – “Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat”

RENUNGAN
1.Ay 16 – “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Para murid  telah memberi tanggapan kepada Mesias, maka mereka menjadi penerima warisan yang sangat didambakan oleh para nabi dan orang benar. Berkat iman, kita pun menjadi pewaris ajaran Tuhan.

2.Ay 17 – “Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Kita menjadi orang yang berbahagia karena menyaksikan mukjijat Yesus, sedangkan para nabi dan orang-orang benar yang hidup sebelum Yesus, tidak mendapatkan kesempatan melihatnya.

3.Banyak orang mencari, tetapi tidak mendapatkan; banyak orang melihat tetapi tidak mengetahuinya; banyak orang mendengar tetapi tidak menyadarinya. Hal ini dialami oleh orang-orang maju dan modern. Mereka tidak memiliki ketenangan dan keheningan batin. Mereka tertimbun oleh kesibukan duniawi dengan segala kesenangannya.

4.Sebaliknya orang yang memiliki keheningan batin, ia melihat lebih banyak daripada orang lain; ia mendengar lebih mendalam dibanding yang lain. Akibatnya ia mendapat lebih banyak daripada orang lain.

5.Bagaimana caranya agar kita memiliki ketenangan dan keheningan batin?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Selasa, 25 Juli 2017

Renungan Harian GML : Permohonan Seorang Ibu

Selasa 25 Juli 2017

Matius 20:20-28: “Permohonan Seorang Ibu”

1.Bacaan hari ini adalah mengenai “Permintaan Ibu Yakobus dan Yohanes agar kelak anak-anaknya dapat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kerajaan-Nya.” Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apakah ada yang salah jika seorang Ibu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya?” Jawabannya jelas, “Tidak ada yang salah! Setiap Ibu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.” Lalu, “Apa yang menjadi persoalan?” Marilah kita lihat satu per satu.

2.Ada sebagian para ahli yang menginterpretasikan bahwa permintaan ini sebenarnya bukanlah berasal dari kehendak Sang Ibu, melainkan pertama-tama adalah “keinginan Yakobus dan Yohanes.” Mereka meminta Ibu mereka tuk memohon pada Yesus. Jika ini yang benar-benar terjadi, maka sebenarnya Yakobus dan Yohanes tak memahami apa yang dikatakan Yesus pada perikop sebelumnya (Mat 20:17-19) bahwa Yesus harus menderita, diolok-olok, disesah dan bahkan disalibkan. Itulah yang akan terjadi pada Yesus, bukan pertama-tama sebuah “kemuliaan” melainkan sebuah “penderitaan”.

3.Lalu, jika ini benar-benar sebuah keinginan yang tulus dari seorang Ibu bagi anak-anaknya. Tidak ada yang salah dengan Ibu Yakobus dan Yohanes. Lalu, “Bagaimana reaksi Yesus berhadapan dengan permohonan tulus dari seorang Ibu bagi anak-anaknya?” Kita bisa melihat dalam teks aslinya dalam bahasa Yunani, Yesus tidak menjawab langsung permohonan itu kepada Sang Ibu, melainkan ditujukan kepada anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes). Dalam teks bahasa Yunani, “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta”, ‘kamu’ di sini dalam bentuk plural. Jadi, jelas ini ditujukan kepada anak-anak Zebedeus bukan kepada Ibu mereka. Ini merupakan sebuah tindakan yang sopan, yang dilakukan Yesus pada Ibu ini. Yesus tidak menyalahkan permohonan Ibu ini, melainkan fokus pada anak-anaknya. Dengan kata lain, Yesus ingin mengatakan kepada anak-anak Zebedeus ini, “Mengapa sampai Ibumu meminta sesuatu yang tidak ia ketahui? Kemungkinan besar, kalian menceritakan sesuatu mengenai diri-Ku, namun tampaknya kalian sendiri tak memahami-Ku!”

4.Kemudian Yesus menjelaskan lebih lanjut kepada para murid-Nya bahwa “duduk di sebelah kanan atau kiri-Nya hanya Bapa-lah yang tahu dan berhak.” ‘Duduk di sebelah kanan atau kiri’ tentunya ini berkaitan dengan ide “kuasa”, “kemuliaan”, “kebesaran”, “keagungan”, dlsb. Namun, Yesus di sini mencoba untuk mengubah cara pandang para murid ini dengan mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu, sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Maka, ‘kuasa-kemuliaan-kebesaran-keagungan’ itu hanya dapat ditemukan dalam bentuk “pelayanan”.

5.“Pelayanan” di sini tidak hanya aktif dalam kegiatan gereja, namun melupakan keluarga dan sesama. “Pelayanan” di sini tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial, namun bertindak sewenang-wenang kepada bawahan atau bahkan memberi upah yang tidak wajar bagi para pekerjanya. “Pelayanan” di sini tidak hanya sekadar berbuat baik agar dikenal baik dan mendapatkan reputasi yang baik. Melainkan pertama-tama, “pelayanan” di sini adalah “memberikan diri seutuhnya bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita (apapun bentuknya), tanpa mengharapkan kembali!” Saya jadi ingat lirik lagu anak-anak “Kasih Ibu”, yang sering saya nyanyikan waktu kecil :

“Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi, tak harap kembali,
Bagai sang surya menyinari dunia.”

Disusun oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto, SJ.

Senin, 24 Juli 2017

Renungan Harian GML : Bertobat

SABDA, 24-7-2017

BERTOBAT: MENGUBAH GAGASAN DAN CARA BERPIKIR MENURUT GAGASAN DAN CARA BERPIKIR YESUS

BACAAN

Kel 14:5-18 – “Mereka akan insaf bahwa Aku ini Tuhan, apabila Aku menampakkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun”

Mat 12:38-42 – “Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”

RENUNGAN
1.Ay 38 – Tujuan Orang-orang Parisi dan ahli kitab minta sebuah tanda/mukjijat, supaya mereka bisa memverifikasi dan menguji apakah Yesus benar-benar utusan Allah menurut gambaran dan harapan mereka. Mereka menginginkan Yesus mengikuti kriteria mereka dan menempatkan-Nya dalam kerangka Mesias menurut gambaran mereka. Mereka tidak mau membuka dialog dengan Yesus. Mereka tidak mau memahami apa saja yang telah dibuat oleh Yesus.

2.Ay 39 – Yesus tidak menuruti apa yang mereka mau. “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Menurut orang-orang Parisi dan ahli Kitab, kata-kata Yesus tersebut dianggap mengadili  mereka. Karena tidak mau membuka hati terhadap Yesus, maka orang-orang Parisi dan ahli kitab digolongkan sebagai buta. Seseorang yang menutup mata pasti tidak bisa melihat. Maka hanya tanda Yunus yang diberikan kepada mereka.

3.Ay 40-41 – Ada yang lebih besar daripada Yunus. “Seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Melihat ke masa depan, tanda yang paling besar yang akan diberikan Yesus kepada mereka adalah kebangkitan –Nya. Yesus yang mereka hukum mati dan mati di kayu salib, dibangkitkan oleh Allah. Yesus berkata: “Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus.” Kunci untuk melihat tanda-tanda Yesus adalah bertobat. Orang Parisi dan ahli Kitab tidak mau bertobat, padahal Yesus lebih besar daripada Yunus.

4.Ay 42 – Pertobatan orang-orang Niniwe dikaitkan dengan ratu dari Selatan, sebab ketika ia mendengarkan kebijaksanaan Salomo, ia bertobat dan ia akan menghukumnya juga; menghukum orang-orang yang tidak mau bertobat, seperti orang-orang Parisi dan para ahli Taurat itu.

5.Bertobat berarti berubah total secara moral. Berarti juga mengubah gagasan dan cara berpikir, sesuai dengan gagasan dan cara berpikir Yesus. Bagaimana dengan diriku?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Minggu, 23 Juli 2017

Renungan Harian GML : Memelihara Benih Kasih Allah

Minggu 23 Juli 2017

Saudari-saudara, kita jumpa lagi dalam hari Minggu Biasa ke-16. Bacaan Injil hari ini diambil dari Injil Matius, melanjutkan kisah-kisah perumpamaan yang kita dengarkan pada minggu yang lalu. Jika minggu yang lalu kita diajak untuk melihat bagaimana benih yang ditabur itu sungguh diharapkan bertumbuh bagus dan menghasilkan banyak buah, minggu ini kita diajak untuk melihat kenyataan bahwa benih yang ditabur itu bisa lebih kecil daripada benih yang lain dan juga bahwa ada tumbuhan lalang yang tumbuh di antara tumbuhan yang ditabur tersebut. Bagaimana menyikapi tumbuhan lalang yang ada di antara gandum itu?
Dalam bacaan Injil, Yesus menyampaikan 3 (tiga) perumpamaan secara berturut-turut: ‘lalang yang tumbuh di antara gandum’, ‘biji sesawi’, dan ‘ragi’. Tentang yang pertama, Yesus menyatakan bahwa tidak perlu mencabuti lalang yang tumbuh di antara gandum untuk bisa mendapatkan hasil gandum. Sebaliknya  Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi yang paling kecil ketika ditabur tetapi yang sanggup tumbuh tinggi dan lebat sehingga burung-burung di udara pun boleh bersarang di dahan dan cabang-cabangnya. Kerajaan Allah itu seperti ragi kecil yang keberadaannya berfungsi untuk mengembangkan terigu 40 liter. Akan tiba waktunya panen di saat mana lalang akan diberkas tersendiri terpisah dari gandum. Gandum dimasukkan ke dalam lumbung tetapi lalang akan dibakar. Pesan pokoknya adalah bahwa Kerajaan Allah – anggota-anggotanya - harus bersabar dalam kenyataan bahwa harus hidup di antara yang lain-lain bahkan yang tidak sejalan dengan Kerajaan Allah itu. Yang baik-baik harus tinggal di antara yang tidak baik. Dalam hal ini identitas kebaikan harus menjadi nyata (tumbuh menjadi besar ataupun mempengaruhi adonan) bukan karena meniadakan atau membinasakan yang jahat melainkan dengan meningkatkan kebaikan itu sendiri. Di tempat lain dikatakan “vince in bono malum” kalahkanlah kejahatan dengan kabaikan. Menjadikan anggota menjadi puritan atau fanatic yang mengarah kepada sikap mempertahankan diri dengan membasmi yang lain hanyalah membuat bahwa yang baik menjadi tidak baik juga. Yang baik janganlah terprovokasi oleh ketidakbaikan dan menjadi tidak baik juga.
Mengapa harus bersabar? Bacaan pertama kiranya memberikan jawaban tentang hal ini. Kita diajak untuk menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahakuasa tetapi sekaligus Allah yang Adil dan Berbelaskasih. Sifat Allah yang utama adalah Kasih. Dalam kasih itu, Allah senantiasa membuka hati untuk kembalinya orang-orang jahat ataupun orang berdosa. “Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: apabila mereka berdosa, kauberikan kesempatan untuk bertobat” (Keb 12:19). Kita ingat kiranya kisah penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus itu. Di saat-saat dirinya sudah tergantung di kayu salib, ketika ia meminta kepada Yesus untuk diberi belaskasihan, Yesus menyatakan: “sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43). Senantiasa ada kesempatan untuk bertobat. Namun demikian, tidaklah berarti bahwa kita boleh enak-enak berbuat dosa dan terus berdosa. Pada waktunya, yang tidak mau memanfaatkan kesempatan bertobat untuk bertobat, akan kehilangan kesempatannya.
Tidak mudah untuk bertobat. Tidak gampang bertumbuh dalam kebenaran kasih Tuhan. Kita menemukan diri kita yang sering jatuh dan jatuh lagi terlilit oleh yang jahat. Tidak usah putus asa. Rasul Paulus memberikan peneguhan bahwa Roh akan membantu kita dalam kelemahan kita. Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan. Demikian kata kuncinya: sebagai benih-benih Kerajaan Allah kita bertumbuh di antara tantangan kejatuhan karena kelemahan ataupun kesekitaran yang jahat yang memprovokasi kita untuk membalasnya. Semoga kita tetap tekun dan tabah dalam menghidupi Kerajaan Allah, Kerajaan Kasih-Nya. Tidak perlu kecil hati dan takut tetapi sekaligus juga perlu meneguhkan identitas dan menampakkan kwalitas hidup kita sebagai anak-anak Allah yang baik. Amalkan Pancasila, makin adil makin beradap. Salam sejahtera. (rm pur msc)

Salam Pancasila
Rm. Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 22 Juli 2017

Renungan Harian GML : Jangan Takut


Sabtu, 22 Juli 2017, Pesta S. Maria Magdalena
Bacaan : Kid 3:1-4b atau 2Kor 5:14-17; Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; Yoh 20:1.11-18

Bacaan Injil:
Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan

Renungan
Banyak orang menyamakan Maria Magdalena dengan wanita yang kedapatan berzinah (Yoh 8:1-11). Namun, dalam Injil hanya disebutkan bahwa ia adalah wanita yang daripadanya Yesus mengusir tujuh roh jahat (Mrk 16:9). Keterangan lain mengenai wanita ini ada dalam kisah sengsara dan kebangkitan Yesus. Dia adalah wanita yang setia menemani Yesus dalam sengsaranya hingga di Kalvari dan salah satu dari para murid yang ditampaki Yesus setelah kebangkitan-Nya. Injil hari ini adalah Kisah penampakan Yesus pada Maria Magdalena tersebut.
Maria Magdalena adalah satu dari banyak wanita yang membantu Yesus dalam perjalanan dan pengajaran-Nya. Kemungkinan, setelah Yesus mengusir tujuh roh jahat darinya, ia sangat terkesan (mungkin terpesona) dengan pribadi Yesus dan berniat untuk membantu karya Yesus. Bisa jadi ia adalah seorang wanita pengusaha atau cukup kaya sehingga mampu membiayai perjalanan dan pengajaran Yesus, yang kalau di zaman sekarang dapat diumpamakan sebagai donatur yang membantu banyak karya-karya Gereja.
Kemudian Maria Magdalena tidak berhenti sampai di situ. Ia setia menemani Yesus bahkan dalam sengsara-Nya hingga di bawah kayu salib, bersama dengan Yohanes dan Maria, Ibu Yesus. Ini menunjukkan cinta dan pengabdian yang sungguh besar, mengingat bahwa bahkan para murid yang lain melarikan diri.
Mengapa Yesus menampakkan diri pada Maria Magdalena dan bukan para murid, yang memang dipilih-Nya untuk menjadi pewarta-pewarta kabar gembira? Mungkin dapat dijawab bahwa kebetulan saja Maria sedang menjenguk kubur Yesus sehingga Yesus menampakkan diri kepadanya. Namun, dapat juga dijawab demikian. Maria adalah salah satu dari sekian banyak murid yang larut dalam kesedihan dan duka saat menemani Yesus dalam sengsara-Nya. Artinya, ia turut merasakan sengsara Yesus. Sementara, para murid yang melarikan diri tidak larut dalam kesedihan, melainkan ketakutan. Karena turut dalam sengsara Yesus dan merasakan kesedihan yang mendalam inilah, Yesus merasa Maria Magdalena akan lebih siap menerima kebangkitan dan turut bergembira bersama-Nya. Terbukti ketika murid yang lain juga diberitahu bahwa Kristus telah bangkit, mereka tidak langsung percaya begitu saja. Lain halnya dengan Maria Magdalena. Begitu mendapat penampakan Tuhan dan diberitahu bahwa Yesus telah bangkit, ia percaya.
Keikutsertaan dalam penderitaan Yesus telah menguatkan iman Maria untuk percaya bahwa dengan melalui sengsara dan wafat itulah, Yesus dibangkitkan. Tak ada keraguan dalam diri Maria ketika tahu bahwa Yesus telah bangkit. Dalam hal ini ia menjadi teladan iman kita semua. Bahkan, dalam gereja Bizantin, dipercaya bahwa Yesus menjadikan Maria Magdalena sebagai rasul dari para rasul karena imannya yang dapat dikatakan melebihi iman kedua belas rasul.

Oleh : Fr. A.  Wahyu Dwi Anggoro, S.J.

Jumat, 21 Juli 2017

Renungan Harian GML : Anak Manusia Adalah Tuhan Atas Hari Sabat

SABDA, Jumat, 21-7-2017
ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT

BACAAN
Kel 11:10-12:14 – “Hendaknya kamu menyembelih anak domba pada waktu senja”
Mat 12:1-8 – “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, kita melihat adanya  konflik antara Yesus dan para penguasa agama pada waktu itu. Konflik sekitar  Sabat. Yang mengejutkan adalah cara Yesus menghadapi konflik tersebut. Yesus tidak merasa diri-Nya benar, tetapi lebih memberi pengalaman tentang relasi-Nya dengan Allah Bapa. Allah yang selama itu dipahami sebagai Hakim yang keras, oleh Yesus diperkenalkan sebagai Allah yang penuh belas kasih.

2.Ay 1-2 – Pada hari Sabat, para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Orang-orang Parisi sangat marah.  Perbuatan mereka dianggap melanggar hukum Sabat (Kel 20:8-11).

3.Ay 3-4 – Yesus menanggapi mereka dengan bersumber dari Kitab Suci: Daud telah melanggar Hukum, karena ia mengambil roti persembahan di Bait Allah dan memberikan kepada para tentaranya untuk dimakan, karena mereka lapar (1Sam 21:2-7). Tidak ada orang Parisi yang berani mengkritik Raja Daud.

4.Ay 5-6 – Yesus memberi contoh para imam yang melanggar hari Sabat. Pada hari Sabat, di Bait Allah, para imam harus mengorbankan binatang untuk persembahan, harus menyembelih binatang. Tak seorang pun mempersoalkan.

5.Ay 7 – Yesus juga memberi contoh tentang para nabi dengan mengutip  nabi Hosea: “Saya menghendaki belaskasih, bukan persembahan.” Kata belas kasih berarti memiliki hati atas penderitaan orang lain, dekat dengan orang yang menderita, dan mengindentifikasi diri dengan mereka. Ia secara total mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan bagi orang lain agar penderitaan mereka diringankan. Orang Parisi tidak pernah memikirkan hal-hal tersebut.

6.Ay 8 – “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Hal ini berarti: Yesus sendiri merupakan tolok ukur untuk tafsir Hukum Allah. Yesus sangat paham Kitab Suci dan melibatkan pemahaman-Nya tersebut untuk menunjukkan bahwa argumentasi orang-orang pada waktu itu tidak memiliki dasar. Melihat rakyat-Nya berada dalam penindasan oleh Hukum, Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa. Allah yang penuh belas kasih. Allah yang menghendaki anak-anak-Nya hidup dalam  persaudaraan. Hukum, yang benar,  tidak bertujuan untuk menindas, tetapi melayani kehidupan dan persaudaraan sejati. “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Karena begitu besar kesetiaan-Nya terhadap pesan-Nya, Yesus dijatuhi hukuman mati. Ia dianggap telah mengganggu sistem yang mapan, maka Ia harus dilenyapkan.

7.Gereja, Umat Allah,  tidak memahami Kitab Suci secara benar dan mendalam, sehingga perubahan dan pembaharuan hidup seperti dikehendaki Tuhan tidak terjadi. Bagaimana dengan Anda?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Kamis, 20 Juli 2017

Renungan Harian GML : Memikul Kuk Bersama Yesus

SABDA, Kamis, 20-7-2017

BACAAN
Kel 3:13-20 – “Sang Aku telah mengutus aku kepadamu”
Mat 11:28-30 – “Aku ini lemah lembut dan rendah hati”

RENUNGAN
1.Ay 28 – “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Siapa yang letih lesu dan berbeban berat? Mereka adalah orang-orang miskin, orang buta, orang kusta, orang-orang terlantar, orang-orang kecil tanpa status sosial. Mengapa mereka berbeban berat? Dalam keadaan mereka yang serba kekurangan, mereka masih diwajibkan mentaati dan melaksanakan semua hukum yang dibuat oleh para ahli Kitab dan kaum Parisi. Orang-orang Parisi dan para ahli Taurat tidak mau tahu dan tidak bertanggungjawab atas keadaan mereka.

2.Ay 29-30 – “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Dengan kata-kata tersebut, Yesus minta agar mereka tidak mendengarkan “orang bijak dan orang pandai,” yang hanya mengagungkan diri sendiri karena pengetahuan mereka. Kita diajak untuk memikul kuk Yesus. Kuk Yesus tidak lain adalah cinta kasih terhadap sesama, lemah lembut, rendah hati, membangun persaudaraan sejati, kejujuran, dan hidup bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama. Memiliki cara hidup demikian akan membawa kepada kebebasan dan sukacita. Yesus selalu berada bersama orang-orang miskin, tertindas dan direndahkan. Yesus tahu apa yang mereka rasakan dan mereka alami. Yesus bersama kita sambil ikut membawa beban-beban hidup kita.

3.Kita harus membedakan beban hidup karena dosa-dosa kita dan beban hidup yang disebabkan karena iman kita kepada Kristus. Bila beban hidup kita karena dosa-dosa kita sendiri, maka kita harus berani bertobat dan mengambil langkah baru agar kita menjadi orang bebas. Banyak orang tetap menyembunyikan dosa-dosanya dan tidak mau melepas. Bila beban hidup kita disebabkan oleh iman akan Kristus, maka kita pantas bersyukur karena boleh mengalami apa yang dialami oleh Yesus. Kita boleh mengatakan pada Tuhan: “Tuhan, beban hidupku terlalu berat. Tolonglah aku!” Dan Yesus pasti menjawab: “Datanglah kepada-Ku.”

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Rabu, 19 Juli 2017

Renungan Harian GML : Yesus Bersyukur dengan Penuh Sukacita

SABDA, Rabu, 19-7-2017
YESUS BERSYUKUR DENGAN PENUH SUKACITA

BACAAN
Kel 3:1-6.9-12 – “Tuhan menampakkan diri dalam nyala api yang keluar dari semak duri”
Mat 11:25-27 – “Yang Kau sembunyika n kepada kaum cerdik pandai, Kau nyatakan kepada orang kecil”

RENUNGAN
1.Latar belakang Injil hari ini (Mat 11:25-27) adalah dari sebuah pertanyaan mengenai kedatangan Kerajaan Surga. Orang pertama yang bertanya adalah Yohanes Pembaptis: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (11:3). Dan orang-orang Parisi dan ahli Kitab mengadili Yesus: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat” (12:2). Dari Pasal 1 sampai Pasal 10, kedatangan Kerajaan Surga tidak menjadi masalah. Menjadi masalah mulai Pasal 11. Banyak orang meninggalkan Yesus, dan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (11:6). Kota-kota sepanjang danau Galilea tidak bertobat (11:20). Orang-orang Parisi bersekongkol untuk membunuh Dia (12:14).

2.Ay 25-26 – Perutusan untuk menyampaikan pertobatan berarti panggilan untuk menjadi yang kecil. Yesus menyampaikan hal ini dalam sebuah doa syukur (11:27), yang disebut Himne Kegembiraan. Himne diawali dengan “Aku bersyukur kepada-Mu” Yesus menyebut Allah dengan ungkapan: “Bapa, Tuhan langit dan bumi”; Allah sebagai Pencipta dan Penjaga alam semesta. Alasan bersyukur: “Karena semuanya ini Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Dengan demikian pemakluman Kerajaan Allah dikhususkan untuk mereka yang tidak ahli dalam Hukum, dan tidak berpendidikan. Kerajaan Allah tidak lain adalah Yesus Kristus. Yesus adalah satu-satunya pribadi yang memiliki mandat untuk menyatakan tentang Allah, bukan  orang bijak dan orang pandai, yang adalah orang-orang Parisi dan ahli Kitab.

3.Ay 27 – Dalam konteks kedatangan Kerajaan Allah, Yesus memiliki peran dan misi untuk menyatakan Bapa Surgawi dalam segala sesuatu. Dalam tugas ini, Yesus menerima kekuasaan, pengetahuan dan otoritas untuk menghakimi semua  orang. Hanya Bapa yang mengenal Yesus: “Tak seorang pun mengenal Putera selain Bapa.” Dan sebaliknya. Kepada para pembaca, Penginjil menyatakan bahwa pernyataan Bapa sebagai Allah hanya melalui Putera.

4.Kalau kita berdoa syukur, apa sebenarnya alasan kita bersyukur?

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Selasa, 18 Juli 2017

Renungan Harian GML : MUKJIJAT YES, IMAN NO

SABDA, Selasa, 18-7-2017

BACAAN
Kel 2:1-15 – “Anak itu diberi nama Musa, sebab ia telah ditarik dari air”
Mat 11:20-24 – “Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini mengisahkan tentang  kota-kota besar sekitar danau Galilea, yang mendengarkan pengajaran Yesus dan menyaksikan mukjijat-mukjijat-Nya, namun tidak membuka hati terhadap pesan-Nya.

2.Ay 20 – Kata-kata Yesus melawan kota-kota yang tidak menerima Dia. Selama tiga tahun, wilayah perutusan Yesus sangat terbatas; hanya beberapa kilometer sepanjang Laut Galilea, meliputi kota-kota Kaparnaum, Bethsaida, dan Korazin. Di kota-kota itu Yesus mengajar dan membuat mukjijat. Ia datang untuk menyelamatkan semua manusia, namun Ia tidak pernah keluar dari daerah tersebut. Sangat tragis, Yesus sadar bahwa orang-orang di kota-kota tersebut tidak mau menerima pesan tentang Kerajaan Allah dan tidak mau bertobat. Sebaliknya, mereka semakin kaku dan keras dalam agama mereka dan tidak mau menerima undangan Yesus untuk mengubah kehidupan mereka.

3.Ay 21-24 – Korazin, Bethsaida dan Kaparnaum lebih buruk dibanding Tirus dan Sidon. Di masa lalu Tirus dan Sidon merupakan musuh Israel. Karena hal itu, mereka dikutuk oleh para nabi (Yes 23:1; Yer 25:22). Oleh Yesus, Tirus dan Sidon dikatakan sebagai simbol segala kejahatan, namun akan bertobat jika mereka menyaksikan mukjijat-mukjijat yang terjadi di Korasin dan Bethsaida. Kota Sodom, simbol perbuatan yang tidak wajar, dihancurkan oleh kemarahan Allah (Kej 18:16 sampai 19:29). Dan Yesus mengatakan bahwa Sodom akan bertahan sampai sekarang, karena  Sodom akan bertobat jika melihat mukjijat yang dibuat Yesus di Kaparnaum.

4.Apakah sifat-sifat Korazin, Bethsaida dan Kaparnaum ada dalam diri Anda?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id

Senin, 17 Juli 2017

Renungan Harian GML : "MENYERUPAI YESUS DAN ALLAH"

SABDA, Senin, 17-7-2017

BACAAN
Kel 1:8-14.22 – “Marilah kita bertindak terhadap orang Israel dengan bijaksana, agar mereka jangan semakin bertambah banyak”
Mat 10:34-11:1 – “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”

RENUNGAN
1.Ay 34-36 – Aku datang tidak untuk membawa damai tetapi pedang. Serem. Padahal Yesus selalu bicara tentang damai. Terus bagaimana kita memahami Injil hari ini? Pernyataan Yesus tidak berarti bahwa Yesus mendukung pemisahan dan pedang. Yesus tidak menghendaki (Yoh 18:11). Ia menghendaki kesatuan semua orang dalam kebenaran (Yoh 17:17-23). Pada waktu itu, pernyataan bahwa Yesus adalah Mesias menjadi alasan utama terjadinya perpecahan di antara orang-orang Yahudi. Dalam keluarga ada yang menerima dan ada yang menolak Yesus sebagai Mesias. Dalam hal ini Kabar Gembira benar-benar menjadi tanda perpisahan (Luk 2:34). Hal tersebut sekarang ini terjadi juga, ketika dalam satu keluarga ada yang menerima Yesus sebagai Mesias dan ada yang menolak.

2.Ay 37 – “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; ... “ Bagaimana kata-kata Yesus tersebut bisa dipadukan dengan perintah keempat: kasihilah dan hormatilah ayahmu dan ibumu? Jawabannya: Kabar Gembira Allah harus menjadi nilai yang paling tinggi bagi hidup kita. Nilai-nilai keluarga dan masyarakat harus tunduk pada nilai Kabar Gembira Allah.

3.Ay 38-39 – Tuntutan perutusan para murid. Pertama: memanggul salib dan mengikuti Yesus. Bila tidak demikian maka ia tidak layak di hadapan Yesus. Rasul Paulus memberi kesaksian: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, ...” (Gal 6:14). Kedua:  keberanian untuk menyerahkan nyawa: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Hal ini berarti penyerahan diri total dalam pelayanan terhadap orang lain.

4.Ay 40 – “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Dalam pemberian diri secara total, seorang murid mengidentifikasikan diri dengan Yesus. Dengan demikian ia juga menyerupai  Allah.

5.Ay 41-42 – Upah seorang nabi, seorang benar dan seorang murid. Percakapan tentang tugas perutusan diakhiri dengan sebuah kalimat tentang ganjaran: “Barangsiapa menyambut nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, .... “ Seorang nabi dikenal karena tugasnya sebagai seorang yang diutus Allah. Seorang benar dikenal karena sikap dan tingkah lakunya dan ia melaksanakan hukum-hukum Allah. Seorang murid dikenal karena menjadi yang paling kecil di antara orang-orang. Kerajaan Allah tidak dibangun oleh hal-hal yang besar, tetapi dibangun dari hal-hal kecil. Segelas air pun bisa menjadi bagian dalam membangun Kerajaan Allah.

6.Ps 11:1 – Akhir percakapan tentang perutusan. Yesus memberi kesempatan kepada para murid-Nya untuk  mempraktekkan apa yang telah Ia ajarkan. Maka “Pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.”

7.Bagaimana Anda bergulat agar menyerupai Yesus?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.berkat.id
Oleh Rm Maxi Srianto

Minggu, 16 Juli 2017

Renungan Harian GML : MENYIAPKAN TANAH YANG SUBUR DEMI BERKEMBANGNYA KERAJAAN ALLAH

SABDA, Minggu, 16-7-2017
MENYIAPKAN TANAH YANG SUBUR DEMI BERKEMBANGNYA KERAJAAN ALLAH

BACAAN
Yes 55:10-11 – “Hujan menyuburkan bumi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan”
Rom 8:18-23 – “Dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah menyatakan”
Mat 13:1-9 – “Ada seorang penabur keluar untuk menabur”

RENUNGAN
1.Ay 1-3 – Lukas membuka perikop ini dengan pengantar singkat: Yesus duduk di dalam perahu, banyak orang mengelilingi Dia untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus tidaklah belajar secara formal. Ia berasal dari desa di Nasaret. Ia tidak dikenal, seorang petani dan tukang kayu. Tanpa minta ijin dari para pejabat keagamaan, Ia mengajar banyak orang. Mereka suka mendengarkan pengajaran-Nya. Yesus mengajar dengan perumpamaan. Perumpaan tersebut mengungkap aktifitas Yesus dan misteri Kerajaan Allah yang hadir di tengah-tengah umat Israel.

2.Ay 4-8 – Perumpamaan tentang biji diambil dari kehidupan petani. Pada waktu itu tidaklah mudah hidup dari pertanian. Tanah berbatu-batu, sedikit hujan, terlalu banyak panas. Namun demikian, setiap tahun, petani menabur dan menanam dengan percaya pada kekuatan biji dan kemurahan alam. Biji disebarkan oleh petani. Ada yang jatuh di sepanjang  pematang, sebagian jatuh di atas bebatuan dan semak berduri. Sebagian yang lain jatuh di tanah yang subur dan menghasilkan tiga puluh, enampuluh dan bahkan seratus kali lipat. Perumpamaan ini hendak mengatakan bahwa Kerajaan Allah merupakan hal yang tidak kelihatan dan tidak diketahui.

4.Ay 9 – Ia yang mempunyai telinga hendaklah mendengarkan. Untuk bisa memahami perumpamaan, orang harus “mencoba untuk mengerti.” Perumpamaan mendorong seseorang untuk berpikir dan mengambil kesimpulan tentang kehidupan dalam terang Kerajaan Allah. Setelah seseorang mendengarkan, maka ia mengerti dan menerima, selanjutnya ia melaksanakan apa yang ia dengar.

5.Di hadapan Allah, Anda termasuk jenis tanah yang mana? Buah mana yang Anda hasilkan dalam hidup Anda sendiri, dalam keluarga Anda, dan dalam komunitas/lingkungan Anda: tiga puluh, enampuluh, atau seratus?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉRm Maxi Srianto๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ www.sabda.id

Sabtu, 15 Juli 2017

Renungan harian GML : "Janganlah Kamu Takut"



Sabtu, 15 Juli 2017, Pw. S. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan : Kej 49:29-32;50:15-24; Mzm 105:1-2.3-4.6-7; Mat 10:24-33

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”
“Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.

Renungan
Bacaan Injil pada hari ini adalah bagian dari pengutusan Yesus kepada kedua belas rasul. Mereka diutus Yesus kepada suku-suku Israel seperti ‘domba ke tengah serigala’. Kemudian Yesus memberi wejangan mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pokok penting yang disampaikan Yesus adalah JANGANLAH KAMU TAKUT. Berkali-kali Yesus menegaskan hal itu.
Ketakutan adalah bagian dari hidup manusia. Ada ketakutan yang biasa, ada pula ketakutan yang berlebihan hingga menjadi sebuah fobia. Obyek ketakutan juga bermacam-macam. Ada orang yang takut ular. Ada yang takut dengan ketinggian. Ada yang takut setan. Ada pula yang takut dengan orang lain. Kadang kala, untuk kasus fobia, ketakutan menjadi tidak rasional. Hal yang bagi orang lain biasa saja atau bahkan lucu dapat menjadi obyek ketakutan bagi orang tertentu. Misalnya ada yang fobia dengan badut. Ada yang fobia dengan angsa. Ada yang takut berada di ruangan sempit. Ada yang takut berada di tengah keramaian, dlsb.
Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajak kita untuk rasional dengan ketakutan. Banyak ketakutan bukan berasal dari rasionalitas, tetapi pada prasangka, perasaan khawatir, atau trauma masa lalu. Orang yang takut menghadapi ujian biasanya adalah orang yang berprasangka terlalu banyak, jangan-jangan nanti soal yang keluar sulit, atau jangan-jangan nanti kalau tidak bisa mengerjakan lalu tidak naik kelas atau tidak lulus. Bersikap rasional terhadapnya, berarti mempersiapkan ujian sebaik-baiknya, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Yesus sendiri mengajak untuk takut kepada Dia yang berkuasa membinasakan jiwa dan tubuh, yakni Allah sendiri. Ini adalah takut yang rasional. Takut pada hantu menjadi tidak rasional karena hantu tidak dapat membinasakan jiwa, bahkan mungkin juga tidak dapat membinasakan tubuh kita.
Ketika kita memiliki Allah dan Allah memiliki kita, tak ada hal lain yang perlu ditakutkan. Allah begitu mengasihi kita dan di mata-Nya kita adalah berharga. Hal inilah yang ingin ditekankan Yesus. Namun, Allah juga menuntut kita untuk bergerak, maju, berjuang. Tinggal aman dalam kenyamanan kita memang tidak akan menakutkan, tetapi juga tidak menghasilkan apa-apa. Yang dituntut dari kita justru adalah keluar dari kenyamanan itu, memberitakan dari atas atap rumah apa yang kita terima. Kita diutus, sebagaimana para rasul, untuk berkarya dan berjuang di tengah para serigala. Di sanalah, meski ada banyak hal yang menakutkan, kita akan berbuah.

Disusun oleh Fr. Agustinus Wahyu Dwi A, SJ.

Senin, 10 Juli 2017

Renungan harian GML : “iman” pertama-tama bukan hanya sekadar “kata-kata belaka”


Bacaan Liturgi 10 Juli 2017

Senin Pekan Biasa XIV

Bacaan Injil
Mat 9:18-26
Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup

Sekali peristiwa
datanglah kepada Yesus seorang kepala rumah ibadat.
Ia menyembah Dia dan berkata, "
Anakku perempuan baru saja meninggal,
tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya,
maka ia akan hidup."
Lalu Yesus pun bangun,
dan bersama murid-murid-Nya mengikuti orang itu.
Pada waktu itu
seorang wanita yang sudah dua belas tahun lamanya
menderita pendarahan
maju mendekati Yesus dari belakang
dan menjamah jumbai jubah-Nya.
Karena katanya dalam hati,
"Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata,
"Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku,
imanmu telah menyelamatkan dikau."
Maka sejak saat itu juga sembuhlah wanita itu.

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu,
dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak yang ribut,
berkatalah Ia, "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur."
Tetapi mereka menertawakan Dia.
Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk.
Dipegangnya tangan si anak, lalu bangkitlah anak itu.
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah.

10 Juli – Mat 9:18-26

A. Ada beberapa hal yang menarik dalam Injil hari ini :

1.Seorang “Kepala Rumah Ibadat” menyembah Yesus.
2.Lalu, ia meminta Yesus untuk membangkitkan anak perempuannya dari kematian.
3.Dan, di tengah-tengah cerita, kita dapat menemukan ada sebuah kisah tentang mukjizat kesembuhan seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun lamanya.
4.Dan pada akhirnya, Yesus “menyelamatkan” kedua-duanya : (a) anak perempuan kepala ibadat hidup lagi; dan (b) wanita yang sakit pendarahan itu sembuh.

B. Bacaan hari ini, pertama-tama tidak hanya berbicara mengenai “mukjizat”, melainkan mengenai “iman”.

1.Iman itulah yang membawa seorang “Kepala Rumah Ibadat” menyembah Yesus dan meminta Yesus menghidupkan kembali putrinya yang baru saja meninggal. Ini tentunya bukanlah hal yang mudah baginya. Kita bisa membayangkan, “Bagaimana mungkin seorang kepala rumah ibadat ‘menyembah’ dan ‘meminta’ suatu mukjizat pada Yesus? Apa yang akan dikatakan oleh para pengikutnya? Bukankah justru itu akan mempermalukan dirinya?” Tapi apa yang terjadi, ia melakukan semua itu karena ia percaya bahwa Yesus dapat berbuat sesuatu bagi putrinya yang tercinta. Itulah “iman”, berani mempertaruhkan “harga diri” karena tahu persis siapa yang dipercaya.

2.Seorang wanita sederhana yang ingin sebuah kesembuhan, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Perkataan sederhana namun tak sesederhana yang kita bayangkan. Dari perkataan itulah, imannya ditampakkan. Dengan kata lain, “Tak perlu Yesus memandangku; Tak perlu Yesus menjamahku; Tak perlu berkata-kata padaku; hanya menyentuh jubah-Nya saja itu cukup!” Hal ini juga menggambarkan betapa wanita ini merasa tak pantas untuk berhadapan dengan Yesus. Ia dianggap “kotor” (najis) pada saat itu. Jadi, cukuplah menyentuh jubah-Nya saja. Itu tak akan membuat sebuah skandal (kesulitan) pada Yesus. “Jika Yesus berbicara, memandang dan menyentuhku.. apa yang akan dikatakan orang banyak mengenai-Nya..? Aku kan orang kotor (najis)?” Dari kerendahan hati itulah muncul sebuah gambaran “iman” yang besar. Dan mukjizat terjadi di sana, bahkan Yesus tak berbuat apa-apa (hanya jubah-Nya yang disentuh) dan mukjizat itu terjadi.

C. Jadi, “iman” pertama-tama bukan hanya sekadar “kata-kata belaka”, melainkan sebuah “pilihan dari dalam hati” dan berusaha mewujudkannya dalam hal-hal sederhana: “menyembah”, “memohon”, dan bahkan “menyentuh”. Semua itu bukanlah hal-hal yang luar biasa. Semua itu adalah hal-hal sederhana dalam hidup kita. Namun yang terpenting, “Tahu persis kepada siapa aku percaya.” Dan di sanalah mukjizat itu akan terjadi: “Bahwa hidupku berubah!”

Minggu, 02 Juli 2017

Renungan harian GML : Mengikuti Yesus dengan Sepenuh Diri"


Saudari-saudara terkasih,  kita masuk dalam Hari Minggu ke-13 dalam Tahun A. Bacaan-bacaan pada hari ini menantang kita untuk menilai diri, sejauh manakah kita benar-benar sudah menjadi orang katolik ataupun murid-murid Yesus. Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis  dalam kematian-Nya. Baptisan dikenal sebagai sakramen inisiasi. Inisiasi berasal dari kata bahasa Latin, initium, yang berarti masuk atau permulaan, secara harafiah berarti masuk ke dalam. Dalam perlambangan, masuk ke dalam air berarti ikut mati bersama Kristus dan keluar dari air berarti bangkit dan hidup baru bersama Kristus. Pemaknaannya, ketika kita dibaptis, kita dimasukkan ke dalam keanggotaan Kristus. Dari pihak Kristus kita telah ditebus dengan kematian-Nya, dari pihak yang dibaptis ada kemauan untuk hidup baru menurut cara hidup Yesus. Sesudah dibaptis semestinya kita akan hidup menurut cara hidup Yesus.
Bacaan Injil mengajak kita untuk mengevaluasi apakah kita memang sudah hidup menurut Yesus Kristus. Sepertinya ini sangat tidak Indonesia banget. Dari kecil kita diajar untuk mencintai keluarga lebih dari segala sesuatu. Namun bagi murid-murid Yesus, Ia berkata: “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Dan siapa saja yang mengasihi putranya atau putrinya lebih dari mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Sangat radikal atau Yesus sangat egois? Tapi sebentar, dalam ayat berikutnya Yesus mengatakan: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, …..barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat 10: 40, 42). Di satu pihak Yesus mengatakan bahwa yang mengasihi keluarga lebih dari mengasihi Yesus tidak layak, di pihak lain yang mau memberi segelas air sejuk saja kepada seorng kecil karena Yesus tidak akan kehilangan upahnya. Kita ingat di tempat lain ada pernyataan Yesus: “jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu saja, apalah jasamu?” Dalam pernyataan di atas kiranya Yesus tidak menghendaki supaya kita membuang keluarga untuk mencintai Yesus. Sebaliknya kita diajak untuk menjadikan ikatan kita atau kesatuan kita dengan Yesus untuk menjadi dasar atau semangat dalam membangun relasi dengan keluarga sekalipun. Dalam hal yang baik-baik, efek hal ini tidak terlalu kentara, namun dalam hal yang sulit hal ini menjadi sangat penting. Ketika relasi dengan keluarga terjalin baik tentu tidak ada masalah tetapi ketika ada keadaan yang menantang terjadinya keretakan, sabda Yesus itu menjadi berbicara. Ketika saya merasa sakit hati atas perlakuan salah seorang saudara, dapatkah saya tetap mencintai dia? Secara spontan kita mudah mengatakan: “Saya kan hanya manusia, kesabaran saya terbatas.” Sebagai murid Yesus yang telah dipersatukan dengan Dia di dalam pembaptisan, kita wajib mencintai atas nama Yesus, juga kepada saudara yang menyakitkan hati itu. Aku lebih mencintai Yesus ketika aku melaksanakan perintah Yesus dan bukan karena seorang saudara itu atau karena diriku sendiri. Dalam hal ini perintah Yesus menjadi ukuran apakah kita telah menjadi murid Yesus yang sungguh-sungguh. Di dalam Yesus tidak ada kebencian. Yang ada adalah pengampunan. Karena itu kasihilah musuh-musuhmu, kata Yesus.
Saudari-saudara, bacaan pertama menceritakan  bagaimana di dalam Perjanjian Lama, seorang perempuan kaya di Sunem itu menerima berkat  keturunan karena ia menghargai yang mampir ke rumahnya sebagai Abdi Allah yang kudus. Yesus dalam Perjanjian Baru mengajak bukan saja menghargai orang yang kelihatan baik, malahan kita diajak untuk membalas kejahatan dengan kebaikan – vince in bono malum. Jelaslah, menjadi murid Yesus kita tidak diajak untuk berbuat baik atau mencintai atas cara yang biasa-biasa saja atau umum-umum saja atau atas cara kodrat manusia saja. Kita diajak untuk melaksanakan hidup kita dalam berbuat baik, dalam mencinta berdasar pada kesatuan kita dengan Kristus. Menghargai setiap orang bahkan yang paling kecil sekalipun, menghargai keragaman dan perbedaan menjadi mungkin di dalam dan bersama dengan Yesus.
Mari kita meneguhkan identitas kita sebagai murid Yesus, mari kita memuliakan Yesus dengan memberi “segelas air sejuk” kepada siapa saja yang kita jumpai bahkan seorang yang paling kecil sekalipun. Amalkan Panca Sila makin adil makin beradab. (rm pur msc)

Sabtu, 01 Juli 2017

Renungan harian GML : "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh"



Sabtu, 1 Juli 2017, 
Sabtu Biasa XII
Bacaan : Kej 18:1-15; Luk 1:46-47.48-49.50.53.54-55; Mat 8:5-17;

Bacaan Injil:
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia.
Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Renungan:
Alkisah, ada seorang pria mempunyai dua anak. Yang satu menjadi penyair sementara yang lain menjadi tentara. Suatu hari, dalam mimpi pria itu ditampaki malaikat yang mengatakan bahwa kata-kata salah seorang anaknya akan terus dikenang hingga akhir zaman. Pria itu terbangun dari mimpinya dan begitu gembira. Ia kemudian selalu memberi semangat kepada anaknya yang penyair agar terus berkembang karena yakin kelak putranya akan menjadi terkenal. Tak lama, pria itu mati dan bertemu dengan malaikat yang pernah menampakinya. Ia pun berterima kasih pada malaikat karena telah memberi tahu dia bahwa putranya akan menjadi penyair terkenal. Malaikat itu balik berkata bahwa kata-kata yang akan dikenang orang adalah kata-kata puteranya yang tentara, yaitu kata-kata yang diucapkannya kepada Putera Allah ketika ia mencari tabib untuk hambanya yang sakit.
Kata-kata perwira dalam Injil hari inilah yang dimaksud oleh malaikat dalam kisah di atas. Dalam perayaan ekaristi kata-kata ini selalu kita ucapkan setelah Anak Domba Allah dan sebelum menyambut Tubuh Kristus. Kata-kata ini mau menggambarkan ketidakpantasan kita menyambut tubuh Tuhan sebagaimana perwira di Kapernaum juga merasa tidak pantas menerima Yesus di rumahnya karena ia pendosa, seorang kafir.
Yang mau kita teladan dari sang perwira Romawi adalah imannya yang begitu besar. Yesus sendiri menunjukkan betapa imannya tidak disamai oleh siapapun yang pernah Ia jumpai di Israel. Si perwira begitu yakin bahwa hambanya akan sembuh meskipun Yesus hanya bersabda dan tidak berkunjung ke rumahnya atau melihat sendiri si sakit. Keyakinan yang seperti inilah yang diharapkan Tuhan Yesus dari para muridnya dan kita semua.
Iman sang perwira adalah iman yang rendah hati. Pertama, ia menyadari diri pendosa. Kesadaran ini mesti menjadi kesadaran kita semua. Sebaik apapun dan sesaleh apapun kita, pasti pernah berdosa. Menyadari kedosaan adalah langkah awal menuju pembaharuan hidup dan iman yang sejati. Kedua, perwira ini datang menemui Yesus. Artinya, ia mempunyai inisiatif untuk mencari dan meminta. Rahmat memang berasal dari Allah. Namun, dituntut kerja sama pula dari pihak kita. Kerja sama itu berupa keterbukaan kita agar rahmat dapat bekerja. Keterbukaan inilah yang ditunjukkan sang perwira dengan datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan bagi hambanya. Meski kafir, ia terbuka terhadap kemungkinan bahwa Yesus akan menaruh belas kasih pada dirinya. Ketiga, ia tidak mau merepotkan Tuhan. Keyakinan bahwa rahmat Allah akan bekerja sesuai dengan cara dan rencana Allah mesti menjadi bagian dari iman kita. Si perwira menunjukkannya dengan meminta diri setelah permohonannya didengarkan dan meyakini bahwa hambanya akan sembuh, tanpa harus membawa Tuhan ke rumahnya. Kita terlalu sering merepotkan Tuhan dengan banyak hal. Padahal Ia yang Mahatahu tentu sudah tahu permasalahan kita dan kebutuhan kita. Yang kita perlu bangun adalah mencari tahu rencana dan cara Allah bekerja, mengimaninya, dan berbuat sesuai rencana tersebut.