Sabtu, 15 Juli 2017

Renungan harian GML : "Janganlah Kamu Takut"



Sabtu, 15 Juli 2017, Pw. S. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan : Kej 49:29-32;50:15-24; Mzm 105:1-2.3-4.6-7; Mat 10:24-33

Bacaan Injil:
Yesus berkata kepada para rasul-Nya: “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”
“Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.

Renungan
Bacaan Injil pada hari ini adalah bagian dari pengutusan Yesus kepada kedua belas rasul. Mereka diutus Yesus kepada suku-suku Israel seperti ‘domba ke tengah serigala’. Kemudian Yesus memberi wejangan mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pokok penting yang disampaikan Yesus adalah JANGANLAH KAMU TAKUT. Berkali-kali Yesus menegaskan hal itu.
Ketakutan adalah bagian dari hidup manusia. Ada ketakutan yang biasa, ada pula ketakutan yang berlebihan hingga menjadi sebuah fobia. Obyek ketakutan juga bermacam-macam. Ada orang yang takut ular. Ada yang takut dengan ketinggian. Ada yang takut setan. Ada pula yang takut dengan orang lain. Kadang kala, untuk kasus fobia, ketakutan menjadi tidak rasional. Hal yang bagi orang lain biasa saja atau bahkan lucu dapat menjadi obyek ketakutan bagi orang tertentu. Misalnya ada yang fobia dengan badut. Ada yang fobia dengan angsa. Ada yang takut berada di ruangan sempit. Ada yang takut berada di tengah keramaian, dlsb.
Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajak kita untuk rasional dengan ketakutan. Banyak ketakutan bukan berasal dari rasionalitas, tetapi pada prasangka, perasaan khawatir, atau trauma masa lalu. Orang yang takut menghadapi ujian biasanya adalah orang yang berprasangka terlalu banyak, jangan-jangan nanti soal yang keluar sulit, atau jangan-jangan nanti kalau tidak bisa mengerjakan lalu tidak naik kelas atau tidak lulus. Bersikap rasional terhadapnya, berarti mempersiapkan ujian sebaik-baiknya, dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Yesus sendiri mengajak untuk takut kepada Dia yang berkuasa membinasakan jiwa dan tubuh, yakni Allah sendiri. Ini adalah takut yang rasional. Takut pada hantu menjadi tidak rasional karena hantu tidak dapat membinasakan jiwa, bahkan mungkin juga tidak dapat membinasakan tubuh kita.
Ketika kita memiliki Allah dan Allah memiliki kita, tak ada hal lain yang perlu ditakutkan. Allah begitu mengasihi kita dan di mata-Nya kita adalah berharga. Hal inilah yang ingin ditekankan Yesus. Namun, Allah juga menuntut kita untuk bergerak, maju, berjuang. Tinggal aman dalam kenyamanan kita memang tidak akan menakutkan, tetapi juga tidak menghasilkan apa-apa. Yang dituntut dari kita justru adalah keluar dari kenyamanan itu, memberitakan dari atas atap rumah apa yang kita terima. Kita diutus, sebagaimana para rasul, untuk berkarya dan berjuang di tengah para serigala. Di sanalah, meski ada banyak hal yang menakutkan, kita akan berbuah.

Disusun oleh Fr. Agustinus Wahyu Dwi A, SJ.

0 komentar:

Posting Komentar