Sabtu, 29 Juli 2017

Renungan Harian GML : Ora et Labora


Sabtu, 29 Juli 2017, Pw. S. Marta, Maria dan Lazarus, Sahabat Tuhan
Bacaan : Kel 24:3-8; Mzm 50:1-2.5-6.14-15; Mat13:24-30
Bacaan Injil:
Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.

Renungan
Banyak orang berpendapat bahwa sikap yang diinginkan dari kita oleh Yesus adalah meneladan Maria yang duduk mendengarkan Yesus dan bukan seperti Marta yang sibuk bekerja. Kiranya, apa yang dimaksud oleh Yesus adalah “biarkanlah keduanya tumbuh bersama” sebagaimana gandum dan ilalang yang dibiarkan tumbuh bersama. Artinya kedua sikap dalam menyambut kedatangan Tuhan itu sama-sama baik.
Marta melambangkan keaktifan kita dalam menyambut Tuhan. Ia juga melambangkan kegiatan bekerja. Dalam menjalani hidup ini, kita diajak pula untuk bekerja bersama Tuhan dan tidak hanya tinggal diam terhadap permasalahan dunia di sekitar kita. Dibutuhkan orang-orang yang mau aktif seperti Marta. Sebaliknya, Maria melambangkan kepasifan kita dalam menyambut Tuhan, mendengarkan dan membiarkan Tuhan berbicara. Ia juga melambangkan sikap doa. Doa menjadi penting, bukan sebagai satu-satunya senjata menghadapi masalah dunia ini, tetapi sebagai yang melengkapi kerja.
Ora et Labora. Demikianlah semboyan yang dipakai Santo Benediktus untuk menggambarkan panggilan hidup manusia di dunia ini. Manusia diajak tidak hanya untuk berdoa melulu dan menenggelamkan diri dalam kemesraan dengan Tuhan. Manusia lalu dituntut untuk kembali ke dunia, menghadapinya bersama semua persoalan yang ada. Kesalahan kita adalah jika kita jatuh ke dalam ekstrim salah satu, entah hanya mementingkan doa atau kerja. Masalah tidak akan selesai dengan kita berdoa adorasi berlama-lama tanpa kita berjuang menghadapinya. Demikian juga bekerja atau bergelut dengan masalah tetapi melupakan doa membuat kita kehilangan makna dan semangat untuk menjalani hidup. Keseimbangan keduanyalah yang Yesus inginkan dari kita dengan meneladan hidup Maria dan Marta. St. Ignatius pernah mengatakan, “Berdoalah sekeras mungkin seakan-akan semuanya bergantung pada Allah, tetapi bekerjalah sekuat mungkin seakan-akan semuanya tergantung kepadamu.”

Oleh : Fr Wahyu Dwi A. SJ

0 komentar:

Posting Komentar