menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Kamis, 31 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Syukur atas Kehidupan


Bacaan Liturgi 31 Agustus 2017

Kamis Pekan Biasa XXI

Bacaan Injil
Mat 24:42-51
Hendaknya kalian selalu siap siaga.

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
"Berjaga-jagalah, 
sebab kalian tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
Tetapi ketahuilah ini: 
Jika tuan rumah tahu 
pada waktu mana pencuri datang waktu malam, 
pastilah ia berjaga-jaga dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar.
Sebab itu hendaklah kalian selalu siap siaga, 
sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga."

Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, 
yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya 
untuk memberi makan kepada mereka pada waktunya?
Berbahagialah hamba, 
yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya itu, 
ketika tuannya datang.
Aku berkata kepadamu: 
Sungguh, tuan itu akan mengangkat dia 
menjadi pengawas segala miliknya.

Akan tetapi jika hamba itu jahat, dan berkata di dalam hatinya,
'Tuanku tidak datang-datang,' 
lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, 
dan makan minum bersama para pemabuk,
maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak ia sangka, 
dan pada saat yang tidak ia ketahui.
Maka hamba itu akan dibunuhnya 
dan dibuatnya senasib dengan orang-orang munafik. 
Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi
Demikianlan sabda Tuhan.

Renungan
“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."
Mat 24:44

Teks di atas mengingatkan saya atas tulisan yang biasa terpampang di beberapa makan katolik lama “Memento Mori”. Kata itu secara bebas diterjemahkan sebagai “Ingatlah akan kematian”. Masing-masing dari kita tidak mengetahui kapan kita akan mati. Kita tidak paham sebenarnya kapan hidup kita akan berakhir, maka setiap hari kita diminta untuk selalu siap sedia. Namun, saya mencoba memaknai sabda ini secara lain. Dalam pemaknaan saya, saya memahami kehidupan saya ini sebagai bonus. Di sepanjang perjalanan hidup saya sampai dengan hari ini, saya sudah mengalami puluhan orang-orang terdekat saya dipanggil oleh Tuhan. Tak sedikit dari antara mereka yang belum mencapai usia seperti saya sekarang. Bahkan, beberapa teman sepantaran saya harus terlebih dahulu menghadap Sang Tuhan. Di dalam kesadaran seperti itulah, saya menangkap bahwa hidup saya saat ini bukanlah hidup yang harus siap sedia saja, melainkan hidup yang penuh syukur. Hidup saya saat ini adalah bonus dari Tuhan. Ada banyak orang harus berpulang sebelum sampai pada usia saya dan kalau saya masih diberi kehidupan sampai dengan hari ini, itu berarti bahwa saya masih diberkati dan Tuhan punya rencana atas kehidupan saya.

Rasanya dengan cara demikian, ada semacam kesadaran bahwa hidup ini hanyalah sebuah ungkapan syukur atas apa yang Tuhan berikan. Hidup bukan menjadi sebuah beban dengan penuh keinginan untuk meraih banyak hal hanya untuk diri sendiri. Ada kesadaran yang muncul bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah anugerah. Seperti dalam bacaan Injil hari ini, ada orang-orang yang masih merasa terpaksa untuk menjadi hamba dan mencari-cara cara untuk menyiksa yang lain, bisa jadi kita tergoda untuk terus menerus meminta kehidupan memberi sesuatu bagi kita. Namun, seperti halnya juga hamba yang baik yang selalu siap sedia, ada kesempatan bagi kita masing-masing untuk memandang bahwa mengabdi Allah itu pada dasarnya sudah sebuah anugerah. Saya jadi bisa memahami apa yang dikatakan oleh St. Ignatius Loyola ketika ia mengatakan:

“Ambillah Tuhan kemerdekaanku dan kehendak serta pikiranku.

Trimalah Tuhan yang ada padaku, gunakanlah seturut hasrat-Mu.

Hanya rahmat dan kasih dari-Mu yang kumohon menjadi hartaku.

Hanya rahmat dan kasih dari-Mu kumohon menjadi hartaku.”


Hidup ini sudahlah anugerah, semoga selalu ada kesadaran untuk mensyukurinya.



Rm. M. Joko Lelono, Pr


Rabu, 30 Agustus 2017

Renungan Harian GML : HIDUP BERSANDIWARA DAN BERPURA-PURA


SABDA, Rabu 30-8-2017

BACAAN
1Tes 2:9-13 – “Sambil bekerja siang malam, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu”
Mt 23:27-32 – “Kamu ini keturunan pembunuh nabi-nabi”

RENUNGAN
1.Injil hari ini melanjutkan bacaan Injil kemarin. Yesus menyampaikan dua “sabda celaka” kepada orang-orang Parisi dan para ahli Taurat. Yesus mengkritik mereka karena tidak adanya kecocokan antara kata dan tindakan, antara apa yang di dalam batin dan yang nampak di luar.

2.Ay 27-28 – Sabda celaka ketujuh: “Celakah kamu, ... sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, ....” Kita tahu seperti apa kuburan itu, walau dilabur putih sekali pun. Dari kata-kata ini, Yesus mengutuk mereka yang memiliki penampilan luar yang dibuat-buat dan berpura-pura, tetapi bagian dalamnya berlawanan total dengan apa yang mereka nampakkan keluar. Sebuah kemunafikan sempurna.

3.Ay 29-32 – Sabda celaka kedelapan: “Celakalah kamu ... sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh.” Mereka berkata: “Jika kami hidup di jaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.”  Yesus menyimpulkan kata-kata mereka: mereka berpura-pura. Orang-orang yang berbicara seperti ini justru merupakan keturunan mereka yang membunuh nabi-nabi. Yang ada dalam hati mereka, sebenarnya, ialah ingin membunuh Yesus. Sama seperti nenek moyang mereka yang telah membunuh nabi-nabi.

4.Realitas yang menyedihkan ialah bahwa kita memiliki “sifat-sifat” orang Parisi di dalam diri kita. Banyak dari antara kita yang berusaha keras agar nampak bagus. Kita ingin sukses dan bahagia. Manusiawi dan normal. Tetapi, sejujurnya, kita sering mencoba untuk menyembunyikan sisi kelemahan dan ketakutan kita. Kita lebih suka memakai topeng.  Kita tidak ingin orang lain melihat realitas kita sebenarnya. Kita ingin nampak bahagia dan “tak ada masalah.”

5.Tuhan Yesus saat ini memandang kita. Maka kita harus bertanya: Apakah aku suka bertindak munafik? Apakah aku suka menampilkan diri yang baik dan saleh, namun sebenarnya aku bersandiwara dan berpura-pura?

6.Tuhan Yesus tidak mengharapkan kita sempurna, namun Ia menghendaki agar kita berani menjadi diri sendiri seperti apa ada kita, tidak berpura-pura menjadi saleh, dan sok hebat. Menjadi diri sendiri, apa sulitnya?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Selasa, 29 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BENAR


SABDA, Selasa, 29-8-2017

BACAAN
Yer 1:17-19 – “Sampaikan kepada Yehuda segala yang Kuperintahkan kepadamu”
Mrk 6:17-29 – “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis

RENUNGAN
1.Hari ini kita memperingati Kemartiran St. Yohanes Pembaptis. Injil melukiskan bagaimana Yohanes Pembaptis dibunuh, tanpa proses, dalam sebuah pesta pora, kurban dari Herodes yang busuk dan arogan.

2.Siapa Herodes? Ia seorang pejabat bawahan Kekaisaran Romawi, yang memerintah Palestina sejak tahun 63 sebelum Kristus. Perhatian Herodes hanyalah demi mendapatkan promosi dan keamanan bagi dirinya. Ia bertindak sebagai diktator terhadap bangsa Yahudi. Ia selalu takut terhadap gerakan rakyat yang mengancam kekuasaannya melalui pemberontakan.

3.Berhadapan dengan Yohanes, ia seorang penguasa yang “segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya” (ay 20). Ia tidak punya ketetapan hati: “hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.” Ia terguncang ketika anaknya meminta hadiah kepala Yohanes di sebuah talam. Herodes gampang dimanipulasi orang lain, tidak mampu melawan tekanan dan takut kehilangan harga diri. Maka, di depan para tamunya, ia memilih membunuh Yohanes Pembaptis.

4.Bagi Yohanes Pembaptis, kebenaran lebih penting daripada hidupnya sendiri. Yohanes memiliki keteguhan hati dan integritas sebagai nabi. Dengan keras, ia mengkritik  Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu.” Hal ini sebagai pelanggaran berat terhadap Hukum Yahudi. Dengan tindakannya tersebut, Herodes dicap sebagai penguasa yang amoral. Resiko bagi Yohanes: ditangkap, dibelenggu, dipenjara dan dibunuh.

5.Yohanes kehilangan kepalanya, tetapi ia memperoleh kemenangan bagi jiwanya. Maka ia maju terus demi membela kebenaran. Sedangkan Herodes kehilangan kepalanya sekaligus kehilangan jiwanya.

6.Adakah sifat-sifat pribadi Herodes ada dalam diri Anda? Adakah sifat-sifat Yohanes Pembaptis ada dalam diri Anda?

7.Tuhan memanggil kita untuk: menjadi milik Allah, membela kebenaran apa pun resikonya, bekerja sebaik mungkin untuk membawa keadilan, dan hidup berbelas kasih terhadap semua orang. Mampukah kita melaksanakan panggilan ini?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 berkat.id

Senin, 28 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Celakalah Kalian, Hai Pemimpin-Pemimpin Buta!


Bacaan Liturgi 28 Agustus 2017

Senin Pekan Biasa XXI
PW S. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil
Mat 23:13-22

Pada suatu hari
Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
"Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian orang-orang munafik, 
karena kalian menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. 
Sebab kalian sendiri tidak masuk 
dan kalian merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian, orang-orang munafik, 
sebab kalian menelan rumah janda-janda 
sementara mengelabui indra orang dengan doa yang panjang-panjang. 
Sebab itu kalian pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian, orang-orang munafik, 
sebab kalian mengarungi lautan dan menjelajah daratan 
untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu 
dan sesudah ia bertobat, kalian menjadikan dia orang neraka, 
yang dua kali lebih jahat dari pada kalian sendiri.

Celakalah kalian, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata, 
'Bila bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; 
tetapi bersumpah demi emas bait suci, sumpah itu mengikat.'
Hai kalian, orang-orang bodoh dan orang-orang buta, 
manakah yang lebih penting, 
emas atau bait suci yang menguduskan emas itu?
Dan kalian berkata, 'Bila bersumpah demi mezbah, 
sumpah itu tidak sah; 
tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, 
sumpah itu mengikat.'
Hai kalian orang-orang buta, manakah yang lebih penting, 
persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?

Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, 
ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu 
yang terletak di atasnya.
Dan barangsiapa bersumpah demi bait suci, 
ia bersumpah demi bait suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
Dan barangsiapa bersumpah demi surga, 
ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, 
yang bersemayam di atasnya."

Renungan 
Konon dahulu kala, raja pertama Tanah Jawa bernama Aji Saka. Ia berasal dari Bumi Majeti. Di sana ia memiliki dua hamba, bernama Dora dan Sembada. Keduanya diserahi tugas untuk menjaga pusaka sakti. Setelah menjadi raja di Tanah Jawa, Aji Saka mengutus orang dengan perintah untuk mengambil pusaka saktinya. Utusan tersebut diterima oleh Dora. Dora kemudian memberitahukan perintah Aji Saka itu kepada Sembada. Sembada masih ingat pesan Aji Saka bahwa tidak boleh seorang pun mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Sembada curiga bahwa Dora ingin memiliki pusaka itu. Oleh karena itu Sembada tidak mengijinkan pusaka itu dibawa pergi. Dora pun juga mencurigai Sembada ingin memilikinya. Mereka berdua saling curiga. Saling mempertahankan pendirian masing-masing, lalu mereka saling bertengkar, saling bertarung, dan sama-sama menjadi korban. Dua hamba ini lupa pada tugas utamanya untuk melayani Aji Saka. Mereka malah melayani rasa curiga dalam diri mereka masing-masing. Mati-matian mempertahankan pendirian sendiri mengantar Dora dan Sembada menemui akhir nasib celaka.
Dalam Injil hari ini Yesus menegur keras ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang celaka. Bukan hanya keras mempertahankan pendirian dan ajarannya, mereka juga bersifat munafik. Mereka berlaku seolah sebagai pemegang kebenaran agama, supaya semua yang lain mengikuti mereka. Akan tetapi justru kelakuan mereka itu menghalangi orang untuk mengalami rahmat Allah. Mereka mempergunakan doa dan agama untuk mencari pujian dan mencari keuntungan. Ambisi mereka untuk memperbanyak pengikut hanya semakin menambah banyak orang jahat. Mereka menghayati agama hanya sebatas aturan yang harus diikuti. Mereka tidak melibatkan Tuhan di dalam hidup mereka. Mereka menggantikan Tuhan dengan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melayani Tuhan tetapi melayani aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Segala yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk melayani diri sendiri. Mereka berusaha mempertahankan apa yang sudah dibangun untuk diri sendiri itu. Mereka lupa bahwa hanya Tuhan saja yang harus dilayani. Hanya Tuhan saja yang harus dimuliakan. Hanya Tuhan saja yang harus dijunjung tinggi. Karena mereka telah menggantikan posisi Tuhan dengan pendirian mereka sendiri, Yesus menyatakan bahwa akhir dari semua itu adalah nasib celaka. Hidup beragama hendaknya dijadikan sarana untuk mengabdi dan melayani Tuhan dan bukan untuk melayani diri sendiri.
Sadarkah aku bahwa hanya Tuhan yang menguasai hidupku? Kemanakah arah hidupku selama ini: merupakan usaha agar nama Tuhan semakin dimuliakan ataukah untuk meninggikan namaku sendiri?

Oleh: Rm. Supriyono Venantius SVD

Sabtu, 26 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Sedikit Tetapi Memberi Rasa


Sabtu, 25 Agustus 2017, Sabtu Biasa XX
Bacaan: Rut 2:1-3.8-11;4:13-17; Mzm 128:1-5; Mat 2:1-12

Bacaan Injil:
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk menjadi berbeda dengan orang Yahudi pada umumnya. Memang mereka sama-sama beribadat di sinagoga dan mematuhi hukum Taurat yang sama. Namun, Yesus mengajak untuk menjadi lebih menunjukkan diri sebagai pengikut-Nya dengan tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Perbuatan-perbuatan orang Farisi seringkali munafik dan tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Selain itu, mereka juga senang menerima penghormatan di depan publik. Yesus tidak menginginkan itu. Ia ingin pengikutnya rendah hati dan tidak munafik.
Santo Matius menulis Injilnya untuk jemaat perdana yang masih hidup bersama dengan orang Yahudi. Karena itu, ia merasa perlu menegaskan apa yang membedakan mereka dengan orang Yahudi pada umumnya. Memang, selain beribadat di sinagoga, jemaat perdana ini juga berkumpul setiap hari Minggu untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus. Namun, lebih dari itu, tidak tampak perbedaan dengan orang Yahudi. Mereka sama-sama disunat dan mematuhi aturan Taurat lainnya. Matius, dengan menegaskan sikap-sikap yang mesti diambil jemaat perdana ini, menunjukkan bagaimana mereka dapat tampil sebagai pengikut Kristus di antara umat Yahudi lainnya. Ini dilakukan salah satunya dengan sikap rendah hati dan tidak munafik.
Memetik pesan dari Injil hari ini, kita juga mesti mewujudkan iman kita akan Yesus Kristus dalam hidup harian kita. Kita orang Kristiani berbeda dari umat lain bukan hanya dalam soal peribadatan, melainkan juga harus dalam kehidupan bermasyarakat kita. Dengan menghidupi nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran (tidak munafik), kerendahan hati, dll., kita secara nyata mewujudkan iman kita dalam hidup bersama.
Ada sebuah sharing dari seorang ibu yang dimuat di majalah UTUSAN, tentang bagaimana ia menghidupi iman Kristiani dalam hidup bermasyarakat. Dalam kisah itu, ia menceritakan bahwa dalam banyak kepanitiaan dan organisasi kemasyarakatan, entakh PKK, Dharma Wanita, atau kepengurusan lainnya, hampir selalu ia ditunjuk sebagai bendahara. Alasannya sederhana: karena ia Katolik. Umat beriman lain ternyata melihat bahwa orang Katolik dapat diandalkan, jujur, dan tidak korup. Contoh ini menunjukkan bahwa dengan menghidupi nilai-nilai Kristen, bahkan yang sederhana sekalipun, orang lain akan melihat keutamaan Kristiani tersebut. Dengan cara ini, kita dapat sungguh menjadi garam dunia: sedikit tetapi memberi rasa.

Oleh : Fr Wahyu Dwi Anggoro SJ

Jumat, 25 Agustus 2017

Renungan Harian GML : “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu.”


25 Agustus 2017

Bacaan Injil Mat 22:34-40

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah bacaan yang sudah sering kita dengar, mungkin juga kita sudah hafal di luar kepala, “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu.”

Mari kita baca teks Matius ini dalam terang Perjanjian Lama:

1. Ulangan 6:4b-5
“Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” 

a. “Dengan segenap hatimu” : Dalam dunia Perjanjian Lama (hingga zaman Yesus), “hati” merupakan pusat dari rasio (akal budi) dan afeksi (perasaan). Dalam Kitab Ulangan, “hati” juga dipahami sebagai tempat tumbuh-kembangnya hal-hal positif dalam diri manusia. Dalam Antropologi Ibrani, “hati” juga merupakan sebuah tempat bagi manusia tuk menimbang-nimbang berbagai pilihan tuk mengambil sebuah keputusan, terutama tuk “mengikuti Tuhan” atau “meninggalkan-Nya”. Maka,  mengasihi Tuhan “dengan segenap hati” itu berarti mengasihi Tuhan “dengan segenap totalitas intelektual, perasaan,  dan juga seluruh orientasi pertimbangan kita yang diarahkan semata-mata bagi Tuhan.” Sederhananya, “Tuhan menjadi fokus pikiran, perasaan, dan pertimbanganku dalam hidup.”

b. “Dengan segenap jiwamu” : “Jiwa” di sini dapat dipahami sebagai “kekuatan hidup”. Dalam dunia Perjanjian Lama, “jiwa” di sini juga memiliki arti yang lebih luas dan dapat dipahami sebagai “gairah spiritual”. “Jiwa” juga dipahami sebagai “organ” yang menghasilkan “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan” (bisa dibandingkan dengan “otak”. “Otak” adalah organ dari tubuh kita yang menghasilkan “pikiran, ide, mimpi, dlsb”; Sedangkan, “Jiwa” di sini adalah organ dari tubuh kita yang menghasilakn “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan.”). Maka, mengasihi Tuhan “dengan segenap jiwamu” itu berarti Tuhan di sini menjadi “obyek” dari “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan”-ku, di mana secara emosional, orientasiku pertama-tama dan utama tertuju pada Tuhan. 

c. “Dengan segenap kekuatanmu” : “Kekuatan”, dalam Perjanjian Lama, dapat dipahami sebagai “kekuatan (fisik)” atau “kuasa” yang kita miliki. Dan juga dapat dipahami sebagai “sumber-sumber kekayaan” yang kita miliki. Secara sederhana, mengasihi Tuhan “dengan segenap kekuatanmu” itu berarti mengasihi Tuhan dengan segala apa yang kita punya (di sini lebih menekankan pada dimensi fisik dan material). Namun, yang menarik Matius di sini mengubahnya dengan kata “akal budi” (dimensi fisik sepertinya agak ditinggalkan, namun lebih menekankan dimensi intelektual [“kekuatan intelektual”]).  

Dari ini semua, secara singkat, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam mengasihi Tuhan, kita perlu menggunakan “ketiga daya jiwa manusia” (istilah yang digunakan St. Ignatius Loyola), yaitu : Akal-Budi, Perasaan dan Kehendak. Intinya, “Mengasihi Tuhan dengan totalitas – dengan segala daya yang kita punya!” 

2. Imamat 19:18b
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

a. Konsep “sesama” dalam Perjanjian Lama, lebih dipahami sebagai “tetangga” dalam komunitas-komunitas kecil dari suatu keluarga atau di desa-desa (khususnya setelah Bangsa Israel kembali dari pembuangan). Kalau di Indonesia, kita masih bisa memahaminya sebagai “tetangga satu RT, RW atau Desa”. Itulah “sesama”! Orang-orang di sekitar kita; orang-orang yang kita lihat sehari-hari; orang-orang yang kita kenal dengan baik keluarganya; orang-orang yang masih satu bangsa, suku dan sama rasnya dengan kita; Itulah “sesama”!. 

b. Namun, konsep “sesama” ini berkembang pada Imamat 19:34, di mana dikatakan, “orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah Tuhan, Allahmu.” Di sini, “sesama” dipahami lebih luas lagi, tidak hanya orang-orang yang kita kenal, orang-orang satu bangsa, suku dan rasnya. Melainkan, lebih luas lagi, “orang-orang asing yang tinggal di sekitar kita”. “Sesama” mendapatkan makna yang lebih luas dan universal – “sesama manusia” yang ada di sekitar kita. Itulah “sesama” kita! Tak peduli lagi apa bangsanya, apa sukunya, apa rasnya, atau bahkan apa agamanya? Itu semua tak perlu lagi ditanyakan, “Ia sesamaku. Itu cukup!”

c. “Seperti dirimu sendiri” : Lalu, “Apa maksudnya ini?” 
Hal ini ingin mengatakan bahwa kita perlu memperlakukan sesama kita dengan baik, sama seperti kita memperhatikan diri kita sendiri. Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa kita perlu “melakukan sesuatu yang lebih”. Teks ini perlu dihadapkan pada realitas bahwa “manusia diciptakan sebagai citra Allah” (Kej 1:27; 5:1). Maka, kita pun diharapkan untuk tidak saja memperlakukan “sesama” kita sama seperti memperhatikan diri kita sendiri, melainkan kita diharapkan untuk berbuat “lebih” – “memperhatikan, mengasihi dan memperlakukan sesama kita seperti Tuhan sendiri yang ada di hadapan kita.” Maka, “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi Tuhan sendiri!”

----------------------------------------

Akhirnya, ini semua tidak berhenti pada teori belaka. Pertanyaannya sederhana, “Apa yang sudah aku perbuat untuk sesamaku (sebagai bukti bahwa aku juga mencintai-Nya)?” Jawabannya ada dalam tindakan kita sehari-hari.

Oleh: Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Kamis, 24 Agustus 2017

Renungan Harian GML : IMAN YANG BERPROSES

SABDA, Kamis, 24-8-2017
PESTA St. BARTOLOMEUS, RASUL

BACAAN
Why 21:9-14 – “Di atas dua belas batu dasar tertulis nama kedua belas rasul Anak Domba”
Yoh 1:45-51 – “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya”

RENUNGAN
1.St. Bartolomeus, yang pestanya kita rayakan hari ini, tercatat di antara Duabelas Rasul. Ia juga muncul sebagai salah satu saksi Kenaikan Tuhan. Namanya tercatat dalam Injil-injil Sinoptik. Penginjil Yohanes tidak mengatakan apa-apa tentang Bartolomeus ini. Ia hanya menulis tentang Natanael, sahabat karib Philipus yang kemudian mengikuti Yesus (Yoh 1:45-51). Ahli sejarah Kitab Suci menyimpulkan bahwa antara Natanael dan Bartolomeus orangnya sama.

2.Ay 45-46 - Philipus bertemu Natanael dan bicara kepadanya tentang Yesus: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Natanael berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Dari kata-kata ini sepertinya ada persaingan antar kampung dalam satu wilayah: antara Nazaret dan Kanaan. Di samping itu, menurut para ahli kitab, Mesias akan datang dari Betlehem, di Yudea. Ia tidak datang dari Nazaret di Galilea (Yoh 7:41-42).

3.Ay 47-51 – Philipus tidak memaksakan, tetapi mengajak supaya Natanael melihat dan mengalami: “Mari dan lihatlah!” Akhirnya ia datang, mengalami, dan bersaksi tentang Yesus. Yesus melihat Natanael dan berkata: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.” Ia disebut orang Israel sejati, karena ia berani melepaskan  pendapatnya sendiri ketika tidak sesuai dengan rencana Allah. Semula ia menanti Mesias seperti diajarkan para ahli kitab. Setelah ia ketemu dengan Yesus, ia dibantu untuk memahami bahwa rencana Allah tidak selalu seperti yang ia bayangkan. Ia mengakui kesalahannya, kemudian ia mengubah gagasannya, menerima Allah sebagai Mesias dan mengaku: “Rabi,  Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Pengakuan Natanael barulah tahap awal. Seseorang yang beriman kepada Yesus akan  melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia. Mimpi Yakob menjadi kenyataan (Kej 28: 10-22).

4.Sudah pantaskah kita disebut sebagai “orang Kristen sejati?” Apa tandanya bahwa proses iman kita sudah sampai pada puncak seperti dikehendaki Tuhan Yesus?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Rabu, 23 Agustus 2017

Renungan Harian GML : YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG TERDAHULU DAN YANG TERDAHULU AKAN MENJADI YANG TERAKHIR


SABDA, Rabu, 23-8-2017

BACAAN
Hak 9:6-15 – “Kamu berkata: “Seorang raja akan memerintah kami, padahal Tuhanlah Allahmu”
Mt 20:1-16 – “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”

RENUNGAN
1.Ay 1-7 – Lima kali seorang tuan tanah pergi keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. “Hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan tanah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.” Kisah tersebut sudah jelas dan tidak membutuhkan keterangan. Kepada pekerja pertama dijanjikan upah satu dinar sehari. Kepada pekerja yang dipanggil jam sembilan dikatakan: “apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.” Kepada pekerja sesudahnya, tidak dikatakan apa-apa.

2.Ay 8-10 – Ketika hari malam, dibayarkan upah kepada para pekerja. Dimulai dengan mereka yang bekerja paling akhir. Terjadi keanehan yang tidak biasa. Mereka mendapat upah satu dinar sehari.  Melihat hal tersebut, mereka yang bekerja sejak pagi akan mendapat upah lebih banyak. Namun mereka juga menerima satu dinar. Mengapa tuan tanah bertindak demikian? Adilkah dia?

3.Ay 11-12 – Karena yang pertama juga menerima satu dinar, maka mereka bersungut-sungut terhadap tuan tanah itu: “Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.” Reaksi yang normal. Mungkin kita juga akan bereaksi yang sama.

4.Ay 13-16 – Jawaban tuan tanah menjadi kunci perumpamaan ini: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku .... Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” Jawaban tuan tanah tersebut menunjukkan pesan Yesus: a) Tuan tanah bukanlah tidak adil, karena sudah disepakati upah sedinar sehari. b) Adalah hak si tuan tanah untuk membayar yang terakhir sama dengan yang pertama. Maka tidak ada hak bagi mereka untuk mengeluh dan menuntut. c) Adalah hak tuan tanah untuk menggunakan miliknya. Para pekerja mempunyai hak yang sama. d) Pertanyaan terakhir menyentuh titik sentral: mengapa engkau iri hati, karena aku murah hati? Allah sungguh berbeda. Pikiran-Nya bukan pikiran kita (Yes 55:8-9).

5.Pekerja yang dipanggil pertama adalah orang-orang Yahudi. Mereka dipanggil sejak dari Abraham sampai Musa. Lebih dari seribu tahun. Yang dipanggil belakangan adalah orang-orang bukan-Yahudi yang berkenan di hati Allah. “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Anda termasuk yang terdahulu atau yang terakhir?

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Selasa, 22 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MENGIKUTI CARA HIDUP YESUS AKAN MENUNTUN KEPADA KEHIDUPAN KEKAL


SABDA, Selasa, 22-8-2017

BACAAN

Hak 6:11-24a –Gideon, engkau akan menyelamatkan Israel. Ketahuilah Aku yang mengutus engkau

Mat 19:23-30 – “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga”

RENUNGAN

1.Sesudah mendengarkan kisah sedih seorang muda kaya yang tidak siap menerima undangan untuk menjadi seorang murid, Yesus memberi tanggapan.

2.Ay 23-24 –  Yesus berkata: “Sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. ... lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Hal tersebut mau mengatakan sesuatu yang mustahil. Mustahil bagi pemuda kaya tadi masuk dalam Kerajaan Allah. Ia egois dan tidak memiliki belas kasih. Dalam hidupnya hanya ada kekayaan dan ia tidak mau berbagi kepada orang-orang miskin dan melayani mereka.

3.Ay 25-26 –  Para murid heran bahwa seorang yang kaya tidak bisa masuk surga. Padahal, pandangan waktu itu, ia kaya karena diberkati Tuhan, dan orang miskin karena dikutuk oleh Tuhan. Para murid gagal paham terhadap kata-kata Yesus: “pergi, juallah semua milikmu, berikanlah kepada orang miskin dan kemudian datanglah dan ikutlah Aku!” Kalau mereka memahami , mereka tidak akan heran dengan permintaan Yesus tersebut. Ketika kekayaan menguasai hati, maka seseorang tidak akan mengerti gaya hidup menurut Injil. Tuhan sendiri yang dapat membantu. “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Supaya mungkin, maka kita dituntut untuk mengikuti cara hidup Yesus.

4.Ay 27 –  “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Walaupun mereka telah meninggalkan sesuatu, namun, ternyata, mereka masih memiliki mentalitas lama:  meninggalkan sesuatu agar memperoleh imbalannya. Mereka tetap belum mengerti arti mengikuti Yesus.

5.Ay 28-30 – Jawaban Yesus:  “ ... kamu yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas duabelas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang meninggalkan rumahnya, saudaranya ... akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akanmenjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Dalam jawaban ini, Yesus menggambarkan dunia baru. Yesus menekankan tiga pokok: a) Para murid akan duduk di atas takhta kemuliaan Allah untuk menghakimi kedua belas suku Israel. b) Sebagai ganti dari apa yang mereka tinggalkan, mereka akan menerima banyak hal termasuk kehidupan kekal. c) Dunia yang akan datang kebalikan dari dunia sekarang. Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan mengikuti cara hidup-Nya merupakan biji untuk dunia baru tersebut.

6.Hidup dengan mengikuti jalan Yesus sebenarnya sederhana: hidup demi kebaikan dan keselamatan orang lain. Siapa pun mereka. Hal ini berarti: berbagi, memberi perhatian, membantu, berpihak dan tanpa pamrih, apalagi demi mendapat imbalan. Bagaimana dengan Anda?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Senin, 21 Agustus 2017

Renungan Harian GML :Beranikah Aku Menggunakan Kempampuan dan Kekayaanku untuk Melayani Yesus dan Sesama?


Bacaan Liturgi 21 Agustus 2017

Senin Pekan Biasa XX
PW S. Pius X, Paus
Bacaan Injil
Mat 19:16-22

Jika engkau hendak sempurna, 
juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada suatu hari ada seorang datang kepada Yesus dan berkata, 
"Guru, perbuatan baik apakah yang harus kulakukan 
untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Yesus menjawab, 
"Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku 
tentang apa yang baik? 
Hanya Satu yang baik! 
Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, 
turutilah segala perintah Allah."
Kata orang itu kepada Yesus, "Perintah yang mana?" 
Kata Yesus, "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, 
jangan mengucapkan saksi dusta,
hormatilah ayah dan ibumu, 
dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Kata orang muda itu, 
"Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?"
Lalu Yesus berkata, 
"Jika engkau hendak sempurna, 
pergilah, juallah segala milikmu, 
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, 
maka engkau akan memperoleh harta di surga. 
Kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku."

Ketika mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, 
sebab hartanya banyak.

Renungan :
Beberapa tahun yang lalu sebuah bencana alam melanda Aceh. Tsunami besar menerjang sepanjang pantainya. Rumah-rumah indah dan bangunan megah lainnya diluluhlantakkannya. Air laut secara menggila meluap ke darat. Hempasannya menerjang dan memukul semua yang ada. Semua yang hancur terpukul kemudian bergulung bersama terjangannya yang merendam daratan. Setelah memukul dan menggulung, genangan air itu berubah menjadi banjir yang menyeret benda-benda di dalamnya. Bukan hanya benda-benda, manusia pun banyak yang terseret dalam terjangan air itu. Sebagian besar akhirnya menjadi korban memilukan dan dikuburkan secara masal. Ada beberapa memang yang selamat. Pengalaman terselamatkan dari bencana besar itu pun menjadi titik balik untuk sujud dan menggantungkan diri hanya kepada Tuhan. 
Salah seorang memberi kesaksian bagaimana ia terselamatkan. Ia orang yang masih muda. Selama ini hidupnya sukses, baik di sekolah, di tempat kerja dan dalam masyarakat. Nilai ijazahnya selalu memuaskan. Teman-teman dekatnya adalah orang-orang pintar dan terkenal. Jabatan dan gajinya tinggi. Simpanan di bank banyak. Semua yang telah dicapainya itulah andalan dalam hidup. Dirinya merasa terjamin oleh apa yang dimiliki. Kini dia terombang-ambing dalam arus air. Di situ ia mengingat kembali semua yang telah dicapainya itu. Ternyata tak satu pun dari apa yang dipunyainya itu bisa menolong dirinya. Semua kenalannya tak ada yang peduli. Jabatannya tidak berengaruh. Simpanan di bank tidak berfungsi. Segala sandaran hidupnya selama ini ternyata rapuh. Semuanya tidak bisa diandalkan untuk menyelamatkan dirinya. Akhirnya ia ingat pada Tuhan. Dia sebutkan nama Tuhan. Dia pasrahkan diri dan hidupnya kepada Tuhan. Secara ajaib, tubuhnya menjadi ringan. Ia merasa terangkat dan melayang ke permukaan air lalu menyangkut di satu tiang. Akhirnya selamatlah ia. Ia memperoleh hidup karena menyerahkan diri kepada Tuhan.
Injil hari ini mengisahkan seorang pemuda yang mencari hidup. Ia bertanya kepada Yesus tentang syarat memperoleh hidup kekal. Semua perbuatan baik dan perintah Tuhan sudah diikutinya sejak kecil. Tapi ia ingin jaminan yang lebih sempurna. Yesus memintanya supaya ia pergi, menjual segala harta miliknya, dan membagikannya kepada orang miskin. Dengan begitu ia akan memperoleh harta di surga. Setelah itu ia diminta datang kembali untuk mengikuti Yesus. Pemuda itu pergi dengan sedih karena hartanya banyak. Rupanya pemuda ini masih mengandalkan semua yang dicapainya. Ia menyandarkan diri pada harta kekayaannya. Hartanya itu membuat dia tidak dapat berpasrah kepada Yesus. Padahal hanya Yesus yang menjadi jaminan hidup kekal. Harta benda tidak bisa menolong apa-apa ketika orang harus menghadapi kematian. 
Percayakah aku bahwa hanya Yesus yang menjamin hidupku? Beranikah aku menggunakan kempampuan dan kekayaanku untuk melayani Yesus dan sesama?

Oleh : Rm Supriyono Venantius, SVD

Sabtu, 19 Agustus 2017

Renungan Harian GML : ORANG-ORANG YANG EMPUNYA KERAJAAN SURGA


SABDA, Sabtu, 19-8-2017

BACAAN
Yos 24:14-29 – “Pilihlah pada hari ini, kamu mau beribadah kepada siapa?”
Mt 19:13-15 – “Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yesus menerima anak-anak. Anak-anak , dalam arti luas berarti juga orang-orang miskin, sakit dan cacat, orang-orang yang disingkirkan.

2.Ay 13 – Sikap para murid terhadap anak-anak. Orang-orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus agar Ia menumpangkan tangan atas mereka dan berdoa. Tetapi para murid memarahi para ibu itu. Mengapa? Karena para murid masih hidup dalam tatanan Yahudi, yaitu mentaati Hukum tentang kemurnian. Dalam Hukum tersebut, anak-anak digolongkan kelompok najis. Termasuk golongan najis ini adalah orang-orang sakit, terutama sakit pendarahan, orang kusta, orang miskin, dan orang terlantar. Kalau mereka ini menyentuh Yesus, maka Yesus ikut menjadi najis. Karena itu, para murid melarang mereka mendekat dan menyentuh Yesus, agar Yesus tidak ikut menjadi najis. Orang najis tidak boleh masuk kota, dan Yesus harus berada di tempat yang sunyi (Mk 1:4-45).

3.Ay 14-15 – Sikap Yesus: Ia menerima dan membela anak-anak kecil tersebut. Yesus memarahi para murid dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab  orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Yesus tidak peduli dan melawan norma-norma yang menghalangi anak-anak kecil atau “orang-orang seperti itu” membangun persaudaraan. Dengan sikap-Nya ini, Yesus membuka lembaran baru relasi antar pribadi. Yesus berdiri di samping “orang-orang seperti itu.”

4.Sikap anak-anak antara lain: melihat segala sesuatu seperti apa adanya, belum dibutakan oleh egoisme, kesombongan, dan kemunafikan. Mereka jujur dan tidak menipu, mengandalkan orang tua,  puas dengan apa yang mereka terima,  tidak membutuhkan banyak dan tidak mengharapkan banyak. Dunia mereka adalah dunia suka cita. “Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Bagaimana dengan Anda?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Jumat, 18 Agustus 2017

Renungan Harian GML : APA YANG TELAH DIPERSATUKAN OLEH ALLAH , TIDAK BOLEH DICERAIKAN MANUSIA


SABDA, Jumat, 18-8-2017

BACAAN
Yos 24:1-13 – Aku telah mengambil bapamu dari Mesopotamia; mengeluarkan engkau dari Mesir, dan menuntun engkau masuk ke tanah perjanjian”
Mat 19:3-12 – “Karena ketegaran hatimu Musa mengijinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi semula tidaklah demikian”

RENUNGAN
1.Ay 3 - Ketika Yesus mendekati Yerusalem, orang-orang Parisi datang kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya:  “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Pertanyaan yang sengaja menempatkan Yesus dalam kesulitan. Tujuan orang Parisi sungguh jahat: ingin menjebak Yesus karena pengajaran-Nya.

2.Ay 4-6 – Menjawab mereka,Yesus mengutip Kitab Kejadian: “Tidakkah kamu baca bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Kej  1:27). “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Kej 2:24). Dari jawaban ini, Yesus ingin menekankan tentang  kehendak absolut Allah, yaitu menyatukan laki-laki dan perempuan. Jawaban Yesus sampai pada puncaknya bahwa perkawinan itu tak terceraikan: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

3.Ay 7-9  – Orang-orang Parisi tidak puas dengan jawaban Yesus. Maka mereka berkata: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Yesus menjawab: “Karena ketegaran hatimu Musa mengijinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Lebih konkretnya: “Karena kamu tidak patuh terhadap Sabda Allah.”

4.Sebagaimana kita ketahui, perceraian, walaupun secara sipil, sangat umum terjadi. Sekarang ini apa saja yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki sudah menjadi alasan untuk bercerai. Sepertinya lebih mudah mengganti daripada memperbaiki. Dalam menghadapi masalah, pasangan lebih memilih bercerai daripada menyelesaikan masalah. Komitmen perkawinan hanya sejauh semuanya berjalan baik saja.

5.Lewat bacaan hari ini, Yesus menekankan: a) Relasi dan komitmen dalam perkawinan amat sangat serius. b) Cinta dan kesetiaan Allah harus menjadi cinta dan kesetiaan dalam sebuah perkawinan. c) Perkawinan adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk membangun kesatuan. Maka perkawinan harus dipandang sebagai anugerah Allah, bukan semata-mata usaha kita. Maka suami-isteri harus mengandalkan Allah.

6.Cobaan menghadang, badai menerjang, perkawinan terguncang. Semuanya tergantung dari pondasi yang kita bangun dan cara merawatnya. Bagaimana dengan perkawinan Anda? Bagaimana dengan relasi, komunikasi, keterbukaan, kejujuran, dan tanggungjawab sebagai pasangan hidup?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Kamis, 17 Agustus 2017

Renungan Harian GML : PERAYAAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE-72


SABDA, 17-8-2017

BACAAN
Sir 10:1-8 – “Para penguasa bertanggungjawab atas rakyatnya”
1Ptr 2:13-17 – “Berlakulah sebagai orang yang merdeka”
Mt 22:15-21 – “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”

RENUNGAN
1.Akhir-akhir ini muncul kata-kata: “Saya Pancasila saya Indonesia” dan “NKRI harga mati.” Slogan tersebut muncul setelah ada segolongan orang yang ingin mengubah dasar negara kita. Sejak awal, Indonesia dibangun oleh berbagai suku, agama, dan budaya yang berbeda-beda. Para Bapak Bangsa dan seluruh rakyat sudah sepakat tentang: Pancasila sebagai ideologi bangsa, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Maka tidak boleh seorang pun atau organisasi apa pun mengganti kesepakatan tersebut.

2.Pada hari bersejarah ini, kita diingatkan oleh pesan-pesan Allah lewat Kitab Suci. Kitab Putra Sirakh (Sir 10:1-8) menyajikan sejumlah nasehat bagaimana menjadi pemimpin bijaksana, bertanggungjawab dan mencintai rakyatnya: “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur ... Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.”

3.Semangat yang disampaikan oleh Kitab Putra Sirakh adalah sebuah kemerdekaan rohani, artinya seorang pemimpin hidupnya tidak terbelenggu oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Ia hanya memuliakan Allah dan memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Ia tidak  terbelenggu oleh tindakan kelaliman, kekerasan dan uang. Pemimpin yang terbelenggu hanya akan menghancurkan rakyatnya.

4.Rasul Petrus, dalam bacaan kedua, mengingatkan kita tentang sikap warga negara yang harus taat kepada pemimpin negara. Yesus merangkum semua itu dalam kata-kata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mt 22:21).

5.Kepada penguasa kita harus hormat dan mengikuti semua peraturan yang ada. Di tengah masyarakat, kita harus berani menyuarakan kebenaran dan kejujuran, menyiapkan generasi yang berkualitas, jujur dan bertanggungjawab. Karena hanya orang-orang yang berkualitas yang dibutuhkan negara.

6.Sebagai orang beriman, kita harus sadar bahwa kita kurang terlibat aktip dalam percaturan politik kemasyarakatan. Seolah-olah hal tersebut bukan urusan kita. Kita sudah puas bila rajin berdoa dan ke gereja. Seharusnya doa dan ibadah di gereja membangkitkan semangat kita untuk prihatin dan terlibat aktip dalam kehidupan politik kemasyarakatan. MERDEKA!!! 🇮🇩

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Rabu, 16 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MENGAMPUNI ADALAH TANDA BAHWA KERAJAAN ALLAH HADIR


SABDA, Rabu, 16-8-2017

BACAAN
Ul 34:1-12 – “Musa tutup usia sesuai dengan sabda Tuhan, dan tiada lagi seorang nabi seperti dia yang muncul”
Mt 18:15-20 – “Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu, engkau telah mendapatnya kembali”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang menasehati saudara (ay 15-18) dan doa pada umumnya (ay 19-20). Kata kuncinya adalah: mengampuni agar terjadi rekonsiliasi. Hanya dengan demikian Gereja menjadi tanda Kerajaan Allah. Namun, tidak mudah untuk bisa mengampuni.

2.Ay 15-18 – Menasehati saudara dan kekuatan mengampuni. Bila ada salah satu saudara yang berbuat dosa, tidak boleh serta merta dicela. Pertama, harus bicara dengan dia berdua. Bila ia tidak mendengarkan maka perlu dihadirkan dua atau tiga orang seiman, dengan harapan ia bisa kembali. Dan jika ia tidak mau mendengarkan, maka dipanggillah warga komunitas untuk memeriksa apakah ia perlu digolongkan sebagai pendosa. Bukan kita yang memisahkan diri, melainkan dia memisahkan diri dari komunitas atau lingkungan beriman. Semua ini harus dibuat dalam rangka cinta kasih.

3.Ay 19 – Doa pada umumnya. Dengan pemisahan, karena berdosa, tidak berarti bahwa ia kita tinggalkan sendirian bergulat dengan nasibnya. Tidak! Ia terpisah dari Gereja, tetapi tidak terpisah dari Allah. Maka jalan yang harus kita tempuh adalah berdoa untuk orang tersebut agar ia mau berdamai lagi dengan Gereja. Yesus menjamin bahwa Bapa akan mendengarkan: “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.”

4.Ay 20 – Kehadiran Kristus dalam Gereja. Alasan kepastian bahwa doa didengarkan oleh Bapa adalah janji Yesus sendiri: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Yesus merupakan pusat dan poros Gereja. Bersama Kristus kita berdoa kepada Bapa agar saudara kita yang berdosa tadi kembali ke dalam pangkuan Gereja.

5.Mengampuni sungguh tidak mudah. Ada yang mengatakan: “Saya mengampuni, tetapi tidak bisa melupakan.” Masih ada kemarahan, ketegangan, bahkan balas dendam. Bagaimana pengalaman Anda?

6.Kita lebih banyak menjauhi dan mencela orang-orang yang “terpisah” dari Gereja. Kita tidak berbuat apa-apa, berdoa untuk mereka pun tidak. Siapa yang harus bertanggungjawab?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Selasa, 15 Agustus 2017

Renungan harian GML: GEREJA KAUM MISKIN: ORANG KECIL DAN ORANG MISKIN MENJADI PRIORITAS PELAYANAN


SABDA, Selasa, 15-8-2017

BACAAN
Ul 31:1-8 – “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama bangsa ini ke tanah perjanjian”
Mat 18:1-5.10.12-14 – “Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan Percakapan tentang Gereja (Mt 18:1-14), di mana kata kuncinya adalah: “orang kecil.” Orang kecil tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang miskin dan tersingkir. “Orang kecil” harus menjadi perhatian utama Gereja, karena “Bapamu yang di surga tidak menghendaki  seorang pun dari anak-anak ini hilang’ (ay 14).

2.Ay 1 – Pertanyaan para murid: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Dengan pertanyaan ini, para murid sejatinya tidak tahu tentang pesan pewartaan Yesus. Maka lewat Percakapan tentang Gereja (Mt 18), Yesus menghendaki jiwa pelayanan harus kuat, memberikan diri, mengampuni, rekonsiliasi dan perbuatan kasih tanpa mencari pujian dan kepentingan diri.

3.Ay 2-5 – Dengan pertanyaan pada ayat 1 di atas, para murid menginginkan sebuah kriteria tentang seorang murid yang dianggap paling besar dalam Gereja. Bagi Yesus, satu-satunya kriteria adalah: orang kecil. Orang kecil tidak memiliki peran dalam masyarakat, tidak memiliki status sosial. Para murid harus menjadi orang kecil ini. Mereka harus turun ke bawah, di mana orang miskin dan orang kecil tinggal. Alasannya adalah: “Setiap orang yang menerima salah satu dari orang-orang kecil ini, ia menerima Aku.” Yesus mengidentifikasikan diri dengan mereka yang kecil dan miskin ini. Maka setiap pengikut Kristus harus menjadi sama seperti Kristus.

4.Ay 10-11 – Yesus berkata: “Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.” Yesus mengingatkan kembali Mazmur 91. Bagi orang-orang Kecil, Yahwe adalah tempat perlindungan mereka” (Mzm 91:9).

5.Ay 12-14 – Perumpamaan tentang seekor domba yang hilang. Maksud perumpamaan ini: Bapa tidak menghendaki satu orang kecil hilang. Dengan kata lain, orang kecil dan orang miskin harus menjadi prioritas pastoral Gereja. Kalau tidak, maka jati diri Gereja sebagai Gereja Kaum Miskin menjadi bohong dan omong kosong.

6.Benarkah Gereja adalah Gereja Kaum Miskin? Banyak anggota Gereja yang “hilang.” Siapa yang harus bertanggungjawab? Perlu pastoral dan evangelisasi baru yang mengena dan menyentuh.

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Senin, 14 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MEMBERI DIRI DEMI KESELAMATAN ORANG LAIN DAN TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN


SABDA, Senin, 14-8-2017

BACAAN
Ul 10:12-22 – “Tunjukkanlah kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu orang asing”
Mt 17:22-27 – “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan  pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang dua hal yang berbeda. Pertama, pemberitahuan kedua tentang penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus (ay 22-23). Kedua, pembicaraan Yesus dengan Petrus tentang membayar pajak (ay 24-27).

2.Ay 22-23 – Pemberitahuan tentang wafat dan kebangkitan Yesus. Pada pemberitahuan pertama (Mt 16:21), Petrus bereaksi dengan keras bahwa tidak boleh terjadi penderitaan atau pun Salib. Yesus menjawab: “Enyahlah iblis. Engkau batu sandungan bagi-Ku” (Mt 16:23). Pada pemberitahuan kedua ini, reaksi para murid tidak begitu kuat dan agresif. Para murid hanya sedih. Rupanya mereka mulai menyadari bahwa salib merupakan bagian dari perjalanan mengikuti Yesus.

3.Ay 24-25a – Pertanyaan tentang pajak. Ketika sampai di Kaparnaum, seorang tukang pajak bertanya: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Petrus menjawab: “Memang membayar.” Dari jawaban Petrus ini, Yesus dan para murid pun membayar pajak seperti orang Yahudi lainnya.

4.Ay 25b-27 – Pertanyaan Yesus kepada Petrus mengenai pajak. Ketika sudah di rumah, Yesus bertanya: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja di dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Petrus menjawab: “Dari orang asing!” Kata Yesus: “Jadi bebaslah rakyatnya.” Percakapan tersebut sebenarnya sebuah percakapan antara orang-orang Yahudi Kristen sebelum Bait Allah dihancurkan tahun 70. Mereka, sebagai rakyat Yahudi, tidak perlu membayar pajak. Tetapi Yesus menganjurkan: agar supaya tidak menjadi batu sandungan, maka mereka pun harus membayar pajak.

5.Penderitaan Salib telah membuat para murid sedih. Apakah hal demikian juga terjadi dalam diri Anda? Hidup Yesus secara total dipersembahkan untuk orang lain dan tidak ingin menjadi batu sandungan. Untuk situasi sekarang, di tengah masyarakat kita, batu sandungan apa yang sering dibuat oleh orang beriman?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Sabtu, 12 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Karena Kamu Kurang Percaya


Sabtu, 12 Agustus 2017, Sabtu Biasa XVIII
Bacaan: Ul 6:4-13; Mzm 18 2-4.47.51ab; Mat 17: 14-20.

Bacaan Injil:
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Renungan
Yesus tidak mengatakan pada para muridnya bahwa mereka tidak percaya, melainkan kurang percaya. Artinya, mereka sudah percaya pada Yesus, melebih orang-orang Yahudi lainnya yang tidak percaya. Namun, iman kepercayaan para murid belum cukup. Kiranya, masih ada keraguan dalam diri mereka, sehingga masih belum dapat sungguh-sungguh percaya. 
Sikap percaya berbeda dengan mengetahui. Ketika orang tahu atau mengetahui, berarti ada fakta atau kenyataan yang mendasari pengetahuan itu. Saya tahu bahwa setiap manusia akan mati karena ada fakta yang menunjukkan itu. Sementara saya hanya bisa beriman dan percaya mengenai keberadaan sorga karena memang belum pernah ada bukti tentangnya. Maka, ketika para murid belum sungguh-sungguh percaya atau masih menyimpan keraguan, memang mungkin mereka masih butuh bukti atau tanda. Kiranya banyaknya mukjizat yang diperbuat Yesus dan disaksikan para murid sudah membuat mereka sungguh percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Namun, bahwa mereka dipilih menjadi murid, dan bahkan rasul, untuk menjadi alat di tangan-Nya, mungkin mereka belum yakin. 
Panggilan para murid sedang ditantang dalam kisah Injil hari ini. Yesus seakan menanyakan apakah mereka sungguh-sungguh mau mengikuti Dia, tidak hanya secara fisik mengikuti ke mana pun Yesus pergi, tetapi lebih-lebih mengikuti ajaran, tindakan, dan teladan-Nya. Jika memang mau mengikuti Dia, maka tidak perlu ragu bahwa mereka juga mampu mengusir kuasa roh jahat karena dengan mengkikuti Yesus mereka dikembalikan martabatnya dari pendosa keturunan Adam menjadi anak-anak Allah.
Injil ini juga seakan bertanya kepada kita: sungguhkah kita sudah percaya dan beriman dalam mengikuti Dia. Pertandanya bukan apakah kita bisa mengusir roh jahat atau tidak. Pertandanya adalah apakah kita mau dan sanggup menolak segala perbuatan setan, sebagaimana kita ucapkan dalam janji baptis. Kuasa roh jahat akan selalu ada dalam diri kita, sebagaimana kuasa roh baik juga ada di sana. Tinggal kita mau mengikuti dorongan roh yang mana, jahat atau baik. Dengan demikian, kemampuan mengusir roh jahat juga ada dalam diri kita pengikut Yesus, yakni kuasa mengusir roh jahat dari dalam diri kita masing-masing. Santo Ignatius, dalam pedoman pembedaan Roh, menyebut bahwa dalam diri setiap manusia ada dua macam dorongan: yang satu menuju Allah dan yang satu menjauh dari-Nya. Setiap saat hidup kita atau saat kita membuat keputusan adalah saat pertarungan kedua dorongan ini. Keputusan kita ditentukan oleh dorongan mana yang kita ikuti. 
Membedakan yang baik dan yang buruk adalah mudah. Tetapi, roh jahat mempunyai taktik juga untuk berpura-pura punya maksud baik, padahal tujuan akhir menjauhkan kita dari Tuhan. Semakin dekat kita pada Tuhan, semakin canggih taktik roh jahat ini. Menjadi beriman atau percaya lalu juga dapat diartikan sebagai kemauan atau kesanggupan (yang kita ungkapkan saat baptis) dan kemampuan untuk membedakan roh-roh ini, bahkan membaca taktik-taktik setan yang juga canggih ini. Beriman adalah mau dan mampu.

Oleh : Fr.  Agustinus  Wahyu Dwi A, S. J

Jumat, 11 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MEMANGGUL SALIB: BAHAGIA DAN SELAMAT

SABDA, Jumat, 11-8-2017

BACAAN
Ul 4:32-40 – “Allah mengasihi leluhurmu dan memilih keturunan mereka”
Mt 16:24-28 – “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan permintaan Yesus kepada para murid dan kepada kita. Permintaan tersebut jelas dan tegas dan menuntut sikap yang rela, tanpa ragu dan total.

2.Ay 24 – Kepada murid-murid-Nya, Yesus menegaskan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Pada waktu itu, salib merupakan sebuah penghinaan dan hukuman mati yang dikenakan pada para bandit dan orang-orang tersingkirkan. Memanggul salib berarti menerima penyingkiran karena sistem yang tidak adil. Karena itu Salib merupakan konsekuensi mengikuti Yesus. Ia telah disiksa dan disalib. Ia tidak takut untuk memberikan hidup-Nya demi keselamatan orang lain: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

3.Ay 25-26 – “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Nyawa adalah milik Tuhan, maka harus kita persembahkan hanya kepada Tuhan, bukan kepada harta dan kepuasan. Orang yang hanya mencari kekayaan semata, apalagi dengan menghalalkan segala cara, tidaklah pernah puas. Namun orang yang memberikan diri demi kebahagiaan orang lain, menyangkal diri sendiri, mengalami kebahagiaan yang datang dari Allah. Orang tersebut telah berani kehilangan nyawa demi Yesus, maka ia menerima Hidup.

4.Ay 27-28 – “Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Sabda Tuhan tersebut merupakan sebuah pengharapan saat kedatangan Anak Manusia pada akhir jaman, sebagai Hakim atas seluruh umat manusia. Sabda tersebut juga merupakan keadilan yang datang dari Hakim Agung: masing-masing orang akan menerima pembalasan sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya.

5.Memikul salib berarti menerima perlakuan tidak adil, dan kita pada posisi tidak bisa melawan, kecuali hanya menerima. Adakah Anda melihat pengalaman orang lain memanggul salib? Dan bagaimana dengan Anda sendiri? Dalam hidup Anda, kapan Anda mengalami kebahagiaan yang dari Allah?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Kamis, 10 Agustus 2017

Renungan Harian GML :“Hidup yang Kekal” dimulai “Saat Ini” dan “Di Sini”

Yoh 12:24-26 – Hidup Kekal (?)

Konteks dalam perikop ini adalah percakapan antara Yesus dan orang-orang Yunani. Mereka dipertemukan oleh bantuan Filipus. Kemudian Filipus mengatakannya kepada Andreas dan keduanya pergi kepada Yesus. Kemudian, Yesus menyatakan beberapa pernyataan yang tidak mudah tuk dipahami. Paling tidak ada dua jalan yang ditawarkan Yesus : (1) Jalan Penderitaan dan (2) Jalan Kemuliaan.

A. Jalan Penderitaan :
1. “Biji Gandum” harus mati
2. Tidak mencintai nyawanya di dunia ini
3. Mengikuti Yesus dan melayani-Nya (jalan penderitaan; jalan salib) 

B. Jalan Kemuliaan :
1. Menghasilkan banyak buah
2. Memelihara hidupnya untuk hidup yang kekal
3. Ia akan dihormati Bapa

Sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk ikut “mati” bersama Kristus. Itu artinya bahwa bukan lagi “Aku” yang hidup, melainkan “Kristus” yang hidup dalam diri kita. Itu bukan berarti kita harus “mengabaikan hidup kita”, melainkan justru sebaliknya, “kita diharapkan untuk menghargai dan merawat hidup kita sebaik-baiknya”. Menghargai dan merawat hidup adalah jalan untuk membiarkan Yesus hidup dalam hidup kita. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana caranya?” 

Menghargai dan merawat hidup adalah berusaha dengan sekuat tenaga (dengan segala ‘jatuh-bangun’-nya) untuk tetap setia mengikuti-Nya. Jalan-Nya tidak mudah. Jalan-Nya adalah jalan salib. Menjadi orang baik di dunia saat ini sangat tidak mudah. Kadang kita dianggap “kolot”, “lucu”, “tidak gaul”, “ketinggalan zaman”, “konyol”, dlsb. Jalan hidup kita kadang bertentangan dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini. Dunia yang mencari “nama besar”, “kekuasaan” dan “segala kenikmatan sesaat”. Inilah dunia kita. Kita diajak oleh Yesus untuk melampaui ini semua. Kita diharapkan untuk “menjadi kecil”, “melayani” dan “berani berkorban bagi sesama kita”. Inilah penderitaan, inilah salib, inilah kematian. Ini tidak mudah. 

Namun, melalui jalan yang tidak mudah ini. Yesus menjanjikan kepada kita bahwa ini semua akan “menghasilkan banyak buah”, “hidup yang kekal” dan “Bapa akan menghormatinya”. Benar bahwa hidup kita tidak hanya berhenti di dunia ini. Ada hidup yang kekal. Namun, “kekekalan” itu dimulai dari “awal mula – saat ini – dan yang akan datang”. Saat kita dilahirkan di dunia. “Kekekalan” hidup kita pun dimulai. Kekekalan bukan hanya soal “masa depan”, melainkan juga “saat ini”. Dengan begitu, “hidup yang kekal” itu dimulai saat ini dan di sini, dengan mengusahakan “hidup yang lebih baik”. Dengan begitu “buah-buah”-nya pun dapat kita rasakan dan Bapa pun akan menghormatinya “saat ini” dan “di sini”. 

Maka sekali lagi, jangan tunggu “besok” untuk sebuah “hidup yang kekal”. “Hidup yang kekal” dimulai “saat ini” dan “di sini”.

Oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto, S. J. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Renungan Harian GML : IMAN PERLU DIUJI

SABDA, Rabu, 9-8-2017

BACAAN
BIL 13:1-2A.25-14:1.26-29.34-35 – “Israel mengolah tanah yang diidamkan”
Mt 15:21-28 – “Hai ibu, sungguh besar imanmu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bercerita tentang seorang wanita Kanaan yang datang kepada Yesus dan memohon belaskasihan untuk anaknya perempuan yang kerasukan setan dan sangat menderita. Dalam Kitab Ulangan, penduduk Kanaan dikenal sebagai orang-orang yang penuh dosa, jahat, dan penyembah berhala.

2.Ay 21-22 – Dalam  perjalanan-Nya ke Tirus dan Sidon, seorang perempuan dari Kanaan datang dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, ....” (ay 21). Penyebutan “Anak Daud” menyatakan bahwa perempuan tersebut mempunyai iman dan kepercayaan bahwa Yesus adalah Penyelamat. Hal ini dinyatakan oleh Yesus sendiri: “Hai ibu, besar imanmu” (ay 28).

3.Ay 23-26 – “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Dari sini jelas ada jarak antara umat Israel dan orang bukan-Israel. Dalam permohonan pertama: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud” Yesus sama sekali tidak menanggapi (ay 23). Ketika para murid menyela agar Yesus mendengarkan permintaan wanita itu, Yesus menekankan adanya jarak antara umat pilihan dengan orang-orang kafir (ay 23b-24). Tetapi ketika perempuan itu menyembah dan memohon, tanggapan Yesus: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Perempuan itu menyadari bahwa rencana Allah diperuntukkan bagi umat pilihan. Itu prioritas Yesus.

4.Ay 27-28 – Sadar akan prioritas Yesus, perempuan tersebut semakin mendesak: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Perempuan itu merasa tidak layak untuk menerima keselamatan, tapi ia mendesak agar boleh mengalami keselamatan . Dengan demikian ia telah lulus dalam pengujian iman: “Hai ibu, besar imanmu.” Karena iman, maka apa yang ia mohon dikabulkan.

5.Yesus menerima seorang perempuan yang memohon belas kasihan. Bagaimana sikap Anda bila ada seseorang, berlainan suku dan agama, datang minta pertolongan kepada Anda? Perempuan yang datang kepada Yesus telah lulus dalam ujian iman. Bagaimana pengalaman Anda lulus dalam ujian iman? Pernahkah Anda kalah dalam ujian iman?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Selasa, 08 Agustus 2017

Renungan Harian GML : KATA-KATA, SIKAP DAN TINGKAH LAKU MENENTUKAN APAKAH DIA NAJIS ATAU TIDAK

SABDA, Selasa, 8-8-2017

BACAAN
Mt 15:1-2.10-14 – “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut sampai akar-akarnya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menampilkan diskusi antara Yesus dengan orang-orang Parisi mengenai najis dan tidak najis. Yesus membantu orang-orang dan para murid-Nya mengerti  dengan lebih baik tema ini.

2.Ay 1-2 – Orang-orang Parisi mengkritik kelakuan murid-murid Yesus: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Sebenarnya mereka mengkritik Yesus karena Ia mengijinkan para murid-Nya melanggar norma-norma tentang kemurnian. Ada tiga catatan: (a) Orang-orang Parisi dan ahli Taurat datang dari Yerusalem. Mereka datang untuk mengamati apa yang diperbuat Yesus. (b) Hidup bersama Yesus memberi keberanian untuk melanggar norma-norma yang dipaksakan kepada orang-orang Israel. (c) Tujuan adat istiadat, misal mencuci tangan, untuk mengontrol setiap orang, taat hukum atau tidak.

3.Ay 10-11 – Yesus membuka jalan baru agar orang-orang dekat dengan Allah. Ia berkata: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Yesus membalikkan ajaran orang-orang Parisi. Dengan ajaran tersebut, orang tidak perlu memperhatikan suatu makanan itu najis atau tidak. Yesus menempatkan najis atau tidak najis pada tataran etika tingkah laku. Yesus menyadari kerinduan terbesar manusia, yaitu damai bersama Allah. Dengan ini maka melalui iman kepada Yesus dimungkinkan orang menjadi suci tanpa perlu menjalani “Tradisi Lama.” Ajaran Yesus adalah kemerdekaan. Kabar Baru dinyatakan oleh Yesus untuk membebaskan orang dari ketakutan dan mengembalikan sukacita anak-anak Allah.

4.Ay 12-14 – Yesus menegaskan kembali apa yang telah Ia katakan. Para murid berkata kepada Yesus bahwa kata-kata-Nya telah menjadi skandal bagi orang-orang Parisi, karena bertentangan dengan apa yang mereka ajarkan. Dengan mengikuti ajaran Yesus, berarti seluruh tradisi lama akan usang dan orang-orang Parisi dan ahli hukum akan kehilangan sumber mata pencaharian. Yesus menanggapi tanpa ragu: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” Yesus tidak surut dengan pernyataan-Nya itu dan Ia menegaskan kembali apa yang telah Ia katakan sebelumnya.

5.Dalam kata-kata, sikap, dan tingkahlaku kita, seringkali ada yang membuat kita najis di hadapan Allah dan sesama. Refleksikanlah mana kata-kata, sikap dan tingkah laku yang membuat kita najis.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Senin, 07 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Yesus Memberikan Rahmat hingga Berkelimpahan.

Bacaan Liturgi 07 Agustus 2017

Senin Pekan Biasa XVIII
PF S. Kayetanus, Imam
PF S. Sustus II. Paus, dan teman-temannya, Martir

Bacaan Injil
Mat 14:13-21

Sekali peristiwa, setelah mendengar berita pembunuhan Yohanes Pembaptis, menyingkirlah Yesus; dengan naik perahu 
Ia bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang sunyi. 

Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat, dari kota-kota mereka.
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam para murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya dapat membeli makanan di desa-desa."

Tetapi Yesus berkata kepada mereka, 
"Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja memberi makan mereka."
Jawab mereka, "Pada kami hanya ada lima buah roti dan dua ekor ikan." Yesus berkata, "Bawalah ke mari." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. 
Setelah itu Ia mengambil kelima buah roti dan kedua ekor ikan itu. Sambil menengadah ke langit diucapkan-Nya doa berkat, dibagi-bagi-Nya roti itu dan diberikan-Nya kepada para murid.
Para murid lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan sampai dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu orang pria, tidak termasuk wanita dan anak-anak.

Renungan
Kira-kira 18 tahun yang lalu saya mengalami peristiwa mengenaskan di dekat Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ketika itu saya turun dari bus. Lalu saya mau mengecek uang kembalian yang baru saja diberikan oleh kernet bus. Saku kiri celana saya rogoh, kosong. Saku kanan saya rogoh juga kosong. Bukan hanya uang kembalian yang tidak ada, semua uang yang saya bawa raib. Saya kecopetan di atas bus. Tidak sepeser pun ada pada saya. Padahal rumah berada di gunung. Saya tidak punya bekal untuk makan dan untuk transport pulang ke rumah. Maka saya masuk dari pintu ke pintu mengemis mulai dari Malioboro hingga Wirobrajan, jalan kaki. Di daerah Patangpuluhan, ada seorang Suster Gembala Baik menolong saya. Ia memberi uang kepada saya, dan setelah saya gunakan bahkan masih sisa, hingga saya sampai di rumah dengan selamat. Peristiwa itu saya kenang dan saya rasakan bahwa Yesus sendiri, Sang Gembala yang Baik yang datang memberikan apa yang saya perlukan bahkan lebih dari apa yang saya perlukan. Itulah hal luar biasa yang dilakukan oleh Yesus.

Kira-kira 2000 tahun yang lalu Yesus, Sang Gembala yang Baik telah melakukan hal yang luar biasa semacam itu. Injil Matius yang kita yang dibacakan dalam kalender Liturgi hari ini mengisahkan hal itu. Para murid Yesus melihat peristiwa yang mengenaskan. Begitu banyak orang mengikuti Yesus. Mereka kelaparan. Hari sudah mulai gelap. Tempat mereka berada sangat sepi. Orang banyak yang kelaparan tidak mungkin mendapat makanan di situ. Yang ada pada mereka hanya 5 roti dan 2 ikan. Para murid meminta kepada Yesus supaya orang banyak itu segera disuruh pergi ke tempat yang memungkinkan mereka untuk mendapat makanan. Itulah hebatnya para murid. Mereka melihat adanya masalah. Mereka juga peduli pada orang banyak yang menghadapi masalah itu. Lebih dari itu mereka juga punya solusi untuk mengatasi masalah itu. Solusi mereka adalah, orang banyak harus segera pergi. Dengan demikian Yesus dan para murid tidak akan terganggu dan lebih tenang dan damai.

Yesus ternyata memberikan solusi yang lebih memberi rasa damai. Para muridlah yang harus memberi orang banyak itu makan dengan lima roti dan dua ikan yang ada pada para murid itu. Caranya adalah membawa apa yang ada itu kepada Yesus. Yesus melipatgandakan apa yang ada pada para murid itu. Ternyata akhirnya mereka semua dapat makan hingga kenyang dan bahkan masih sisa 12 bakul. Dari sisa yang ada itu para murid bisa mendapatkan masing-masing satu bakul. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Yesus bisa memberikan rahmat hingga berkelimpahan. Caranya adalah dengan memberikan apa yang sedikit yang ada kepada kita kepada Yesus. Lalu Yesus akan melipatgandakan itu sehingga bisa memberikan kelegaan kepada banyak orang hingga berkelimpahan.
Mari kita bawa apa yang ada pada kita. Entah itu bakat, kemampuan, ilmu pengetahuan, harta kekayaan, dan apa saja yang kita miliki itu kepada Yesus. Kita persembahkan semua kepada Yesus karena sebenarnya semua itu juga rahmat pemberian Tuhan kepada kita. Kalau kita membawa semua yang kita punya kepada Yesus, maka banyak masalah akan menemukan solusinya. Banyak situasi mengenaskan akan dirubah ke dalam damai sejahtera.  

Oleh : Romo Supriyono Venantius SVD

Minggu, 06 Agustus 2017

Renungan Harian GML : YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA: KEMULIAAN DIPEROLEH MELALUI SALIB

SABDA, Minggu, 6-8-2017

BACAAN
Dan 7:9-10.13-14 – “Pakaian-Nya putih seperti salju”
2Petr 1:16-19 – Suara itu kami dengar datang dari surga”
Mat 17:1-9 – “Wajah-Nya bercahaya seperti matahari”

RENUNGAN
1.Kisah kemuliaan Tuhan begitu sentral dalam ketiga Injil (Mt 17:1-9; Mk 9:2-9; Lk 9:28-36). Rasul Petrus juga merujuk kisah tersebut (2Ptr 1:13-19). Peristiwa agung dan mulia ini dikatakan paling menakjubkan dari seluruh pengalaman Yesus di dunia ini. Hanya tiga murid yang diperkenankan bersama-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes.

2.”Wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Dalam suasana seperti itu identitas Tuhan tidak hilang, tetapi bentuk-Nya berubah sedemikian sehingga keallahan-Nya bersinar melalui kemanusiaan-Nya. Bagi ketiga murid, dengan melihat kemuliaan Tuhan tersebut, akan menopang  mereka ketika melihat perendahan dan kematian Tuhan. Penampakan kemuliaan Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan surgawi harus dilalui lewat  penderitaan salib.

3.Musa dan Elia berbicara dengan Tuhan tentang kematian-Nya di Yerusalem (Luk 9:31). Elia hadir mewakili nabi-nabi semasa Perjanjian Lama. Musa adalah pemimpin besar dan pemberi hukum kepada bangsa Israel. Ketika Elia dan Musa berbicara dengan Tuhan, Petrus meyela: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini ... “ Sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Kata-kata tersebut merupakan pernyataan tegas dari pihak Allah bahwa Yesus adalah Mesias Hamba. Maka sudah seharusnya kita mendengarkan Dia. Penampakan kemuliaan merupakan pengalihan kekuasaan dari tangan Musa dan para nabi ke dalam tangan Yesus Kristus.

4.Mengikuti Yesus berarti:  berjalan bersama Dia untuk  melayani dari Galilea sampai Yerusalem. Bagaimana pengalaman Anda tentang penderitaan karena salib?  Bukan penderitaan karena dosa!

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Sabtu, 05 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MEMBELA KEBENARAN

SABDA, Sabtu, 5-8-2017

BACAAN
Im 25:1.8-17 – “Dalam tahun suci semua hendaknya pulang ke tanah miliknya”
Mt 14:1-12 – Herodes menyuruh memenggal kepala Yohanes Pembaptis”

RENUNGAN
1.Injil hari ini melukiskan Yohanes Pembaptis sebagai kurban korupsi dan arogansi Herodes. Ia dibunuh tanpa sebuah proses. Herodes telah menyalahgunakan kekuasaannya.

2.Ay 1-2 – Siapa Yesus bagi Herodes? “Inilah Yohanes Pembaptis, Ia telah bangkit dari antara orang mati, dan itulah mengapa kuasa-kuasa bekerja pada diri-Nya.” Ia mencoba memahami Yesus berawal dari ketakutannya sesudah membunuh Yohanes Pembaptis. Herodes sangat percaya pada takhayul dan menyembunyikan ketakutannya di balik kekayaan dan kekuasaannya.

3.Ay 3-5 – Alasan tersembunyi mengapa Yohanes dibunuh. Herodes menguasai Galilea, yang merupakan tanah kelahiran Yesus. Ia berkuasa selama 43 tahun. Ia seorang penguasa absolut, ia bisa melakukan apa saja yang terlintas di dalam pikirannya. Arogan, tidak memiliki etika, memiliki kekuasaan absolut, tanpa kontrol dari siapa pun. Ia berusaha menyenangkan kekaisaran Romawi dengan tujuan demi promosi  dan keamanan dirinya. Dengan alasan ini, ia berusaha agar tidak ada subversi. Alasan membunuh Yohanes, karena ia mencela Herodes yang menikahi Herodias, isteri Philipus saudaranya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias.” Dan Yohanes dipenjara.

4.Ay 6-12 – Komplotan pembunuh. Sebuah pesta ulang tahun dan jamuan makan, dengan dansa dan pesta pora. Mereka yang hadir adalah “pembesar-pembesar, perwira-perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea” (Mk 6:21). Suasana ini merupakan kesempatan untuk merancang pembunuhan terhadap Yohanes yang mengkritik sistem dan moral Herodes. Dalam kemeriahan pesta, Herodes berjanji kepada Salome, seorang penari, anak perempuan Herodias, akan mengabulkan segala permintaannya. Salome minta kepala Yohanes untuk ditaruh di atas talam.

5.Kekayaan, kekuasaan, kehormatan sering membuat banyak orang menjadi sombong dan arogan. Ia berusaha mempertahankannya dengan segala cara, bahkan bila harus mengorbankan orang lain. Adakah dalam hati Anda sifat-sifat seperti dimiliki oleh Herodes?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Jumat, 04 Agustus 2017

Renungan Harian GML : TUGAS PERUTUSAN PARA MURID KRISTUS

SABDA, Jumat, 4-8-2017

BACAAN
Mat 9:35-10:1 – “Melihat orang banyak, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”

RENUNGAN
1.Injil hari ini ada dua bagian: Ringkasan kegiatan Yesus (ay 35-38) dan awal dari “Kotbah Pengutusan” (Mt 10:1).

2.Ay 35 – Ringkasan kegiatan kerasulan Yesus: (a) “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa.” Yesus tidak menunggu orang datang kepada-Nya. Ia mencari orang-orang dengan berkeliling ke semua kota dan desa. (b) “Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat.” Yesus pergi ke tempat-tempat di mana orang yang percaya kepada Allah berkumpul. Di sana Ia menyampaikan Kabar Gembira Kerajaan Allah.” Ia tidak menyampaikan doktrin, tetapi menyampaikan Kabar Gembira dengan kata dan tindakan-Nya. (c) Ia “melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Kerasulan Yesus: memberi penghiburan, sukacita dan pengharapan.

3.Ay 36 – Yesus berbelas kasihan: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Yesus menerima mereka yang sakit, terlantar, dan capai. Ia bertindak sebagai seorang Gembala dan Hamba (Yes 40:1). Sebagai seorang Hamba, Yesus menjadi murid Bapa dan semua umat. Dari komunikasi dengan Bapa, Yesus menerima penghiburan untuk menyampaikannya kepada orang miskin.

4.Ay 37-38 – Yesus melibatkan para murid dalam tugas perutusan. Sebelum menjalankan tugas perutusan, satu hal yang diminta kepada para murid-Nya adalah berdoa: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Doa merupakan komitmen utama dalam tugas perutusan.

5.Mt 10:1 – Yesus memberikan kekuatan untuk menyembuhkan dan mengusir setan-setan. Hal penting kedua yang diminta kepada para murid dalam tugas perutusan  adalah membantu orang-orang untuk mengatasi ketakutan akan roh-roh jahat dan membantu mereka untuk mengatasi penyakit

6.Apa yang harus kita buat? Mengajar agama? Menyampaikan kotbah? Dalam kehidupan setiap hari,  banyak orang  susah karena berbagai hal. Mereka membutuhkan kawan yang bisa mendengarkan dengan penuh perhatian. Dengan mendengarkan, Yesus memberi kekuatan kepada kita untuk menyembuhkan mereka.

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Kamis, 03 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MENYIAPKAN HIDUP MENYONGSONG AKHIR ZAMAN

SABDA, Kamis, 3-8-2017

BACAAN
Kel 40:16-21.34-38 – “Awan menutupi Kemah Pertemuan dan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci”
Mt 13:47-53 – “Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang”

RENUNGAN
1.Ay 47-48 – Perumpamaan tentang pukat yang dilabuhkan di laut. Perumpamaan ini sangat dikenal oleh orang-orang Galilea yang hidup di sekitar danau. Kisah ini menunjukkan dengan jelas kegiatan akhir sebuah hari. Para nelayan melaut hanya dengan satu tujuan: menebarkan pukat, menangkap banyak ikan, menyeret pukat ke pantai dan memilih ikan yang baik untuk dibawa pulang dan membuang ikan-ikan yang tidak baik. Para nelayan senyum puas ketika mendengarkan pengajaran Yesus. Suatu hal yang buruk ketika  mereka tidak mendapatkan ikan satu pun (Yoh 21:3).

2.Ay 49-50 – Penerapan. Yesus mendorong para pendengar-Nya untuk berpikir bagaimana menerapkannya dalam kehidupan mereka: “Demikianlah juga pada akhir jaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam tanur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” Tanur api: tempat dicampakkannya  orang yang memisahkan diri dari Allah atau orang yang acuh tak acuh terhadap Allah. Tuhan tidak pernah ingin menghukum dan mencampakkan seseorang. Ia menghendaki  “supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Kita sendiri yang menghukum diri sendiri dengan memisahkan diri dari Allah.

3.Ay 51-53 – Akhir perumpamaan: “Mengertikah kamu semuanya itu? Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Yesus menghendaki agar komunitas orang-orang beriman mengerti tentang Kerajaan Allah dan menyampaikannya kepada orang-orang beriman lainnya. Sayang sekali, para ahli Taurat tidak mau terbuka dan percaya kepada Yesus. Maka mereka tidak memiliki hidup, apalagi hidup yang berkelimpahan

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Rabu, 02 Agustus 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH MERUPAKAN NILAI PALING TINGGI DALAM KEHIDUPAN

SABDA, Rabu, 2-8-2017

BACAAN
Kel 34:29-35 – Melihat wajah Musa, orang-orang Israel takut mendekat”
Mat 13:44-46 – “Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menampilkan dua perumpamaan pendek. Keduanya kelihatan sama, tetapi ada perbedaan penting untuk memperjelas aspek misteri Kerajaan Allah.

2.Ay 44 – Perumpamaan harta terpendam. Yesus tidak menerangkan perumpamaan tersebut. Ia hanya berkata: Kerajaan Surga itu sama dengan harta yang terpendam di ladang. Pesan dari perumpamaan ini: (a) Harta terpendam adalah Kerajaan Allah. Ia ditemukan di ladang, artinya ditemukan dalam kehidupan setiap hari; ia tersembunyi dan sering tidak kita sadari. (b) Seseorang menemukan harta tersebut tanpa sengaja. Ia tidak mengharapkan untuk menemukan karena ia tidak mencari. Bila Allah menghendaki, maka siapa pun bisa memiliki Kerajaan Allah. (c) Ia ingin menguasai harta tersebut. Maka ia pergi dan menjual segala miliknya untuk membeli ladang tersebut. Kerajaan Allah merupakan nilai yang paling tinggi, maka ia berani mengurbankan segalanya untuk mendapatkan Kerajaan Allah tersebut. (d) Mendapatkan Kerajaan Allah berarti mendapatkan nilai baru dalam kehidupan. Nilai lama ditinggalkan. (e) Bila kita sudah memiliki Kerajaan Allah, maka merupakan saat yang penuh rahmat untuk menghasilkan buah limpah.

3.Ay 45-46 – Perumpamaan tentang seorang pedagang yang menemukan mutiara yang sangat mahal. Ada beberapa pesan dari perumpamaan tersebut: (a) Mutiara yang sangat mahal adalah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan suatu kebetulan, tetapi harus dicari dalam waktu yang lama. (b) Pedagang itu tahu nilai sebuah mutiara, maka tidak seorang pun boleh mengambil dari padanya. (c) Ketika ia sudah menemukan mutiara tersebut, maka ia pergi dan menjual segala sesuatu yang ia miliki dan membeli mutiara tersebut. Baginya Kerajaan Allah merupakan nilai yang paling besar dalam hidupnya.

4.Kerajaan Allah bagaikan harta terpendam dan mutiara yang mahal. Beranikah Anda menjadikan Kerajaan Allah sebagai nilai paling tinggi dalam hidup Anda dan berani mempertahankannya sampai akhir?

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Selasa, 01 Agustus 2017

Renungan Harian GML : MEMBERSIHKAN “LALANG” DARI HIDUP KITA

SABDA, Selasa, 1-8-2017

BACAAN
Kel 33:7-11; 34:5-9.28 – “Tuhan bersabda kepada Musa dengan berhadapan muka”
Mat 13:36-43 – “Seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman”

RENUNGAN
1.Ay 36 – Ketika sudah di rumah para murid minta kepada Yesus untuk menjelaskan arti perumpamaan gandum dan lalang (Mt 13:24-30). Sudah biasa Yesus mengajar para murid-Nya ketika berada di rumah (Mk 7:17; 9:28.33; 10:10). Dalam kesempatan tersebut, Yesus melengkapi pengajaran-Nya dan membentuk para murid-Nya.

2.Ay 37-39 – Arti masing-masing elemen dalam perumpamaan. Yang pasti Anak Manusia hanya menaburkan benih baik, tidak pernah menaburkan benih buruk. Ladang ialah dunia; benih baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir jaman dan penuai ialah para malaikat.

3.Ay 40-43 – Penerapan. Sebagaimana lalang diikat dan dibakar dalam api, demikian juga apa yang akan terjadi pada akhir jaman. Anak Manusia akan mengutus para malaikat dan mereka akan mengumpulkan semua orang berdosa yang tidak mau bertobat dan melemparkan mereka ke dalam dapur api dan akan ada ratap tangis dan kertakan gigi. Sedangkan orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah.

4.Dalam diri setiap orang ada “gandum” dan “lalang.” Allah, dalam kerahiman-Nya yang tanpa batas, memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat selama kita masih berada di dunia ini. Maka saat ini adalah saat kerahiman Allah ditawarkan kepada kita agar bertobat. Apabila kita tidak mau bertobat, maka saat kerahiman Tuhan akan berubah menjadi saat pengadilan. Kita akan dipisahkan seperti gandum dipisahkan dari lalang. Akhirnya tergantung dari kebebasan kita untuk memilih.

5.Pilahlah: mana “gandum” dan mana “lalang” dalam diri Anda. Mohon rahmat Tuhan agar   mampu membersihkan “lalang” dalam diri Anda. Manfaatkan saat kerahiman Tuhan sekarang ini!.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id