Senin, 28 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Celakalah Kalian, Hai Pemimpin-Pemimpin Buta!


Bacaan Liturgi 28 Agustus 2017

Senin Pekan Biasa XXI
PW S. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil
Mat 23:13-22

Pada suatu hari
Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
"Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian orang-orang munafik, 
karena kalian menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. 
Sebab kalian sendiri tidak masuk 
dan kalian merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian, orang-orang munafik, 
sebab kalian menelan rumah janda-janda 
sementara mengelabui indra orang dengan doa yang panjang-panjang. 
Sebab itu kalian pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, 
hai kalian, orang-orang munafik, 
sebab kalian mengarungi lautan dan menjelajah daratan 
untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu 
dan sesudah ia bertobat, kalian menjadikan dia orang neraka, 
yang dua kali lebih jahat dari pada kalian sendiri.

Celakalah kalian, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata, 
'Bila bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; 
tetapi bersumpah demi emas bait suci, sumpah itu mengikat.'
Hai kalian, orang-orang bodoh dan orang-orang buta, 
manakah yang lebih penting, 
emas atau bait suci yang menguduskan emas itu?
Dan kalian berkata, 'Bila bersumpah demi mezbah, 
sumpah itu tidak sah; 
tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, 
sumpah itu mengikat.'
Hai kalian orang-orang buta, manakah yang lebih penting, 
persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?

Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, 
ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu 
yang terletak di atasnya.
Dan barangsiapa bersumpah demi bait suci, 
ia bersumpah demi bait suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.
Dan barangsiapa bersumpah demi surga, 
ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, 
yang bersemayam di atasnya."

Renungan 
Konon dahulu kala, raja pertama Tanah Jawa bernama Aji Saka. Ia berasal dari Bumi Majeti. Di sana ia memiliki dua hamba, bernama Dora dan Sembada. Keduanya diserahi tugas untuk menjaga pusaka sakti. Setelah menjadi raja di Tanah Jawa, Aji Saka mengutus orang dengan perintah untuk mengambil pusaka saktinya. Utusan tersebut diterima oleh Dora. Dora kemudian memberitahukan perintah Aji Saka itu kepada Sembada. Sembada masih ingat pesan Aji Saka bahwa tidak boleh seorang pun mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Sembada curiga bahwa Dora ingin memiliki pusaka itu. Oleh karena itu Sembada tidak mengijinkan pusaka itu dibawa pergi. Dora pun juga mencurigai Sembada ingin memilikinya. Mereka berdua saling curiga. Saling mempertahankan pendirian masing-masing, lalu mereka saling bertengkar, saling bertarung, dan sama-sama menjadi korban. Dua hamba ini lupa pada tugas utamanya untuk melayani Aji Saka. Mereka malah melayani rasa curiga dalam diri mereka masing-masing. Mati-matian mempertahankan pendirian sendiri mengantar Dora dan Sembada menemui akhir nasib celaka.
Dalam Injil hari ini Yesus menegur keras ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang celaka. Bukan hanya keras mempertahankan pendirian dan ajarannya, mereka juga bersifat munafik. Mereka berlaku seolah sebagai pemegang kebenaran agama, supaya semua yang lain mengikuti mereka. Akan tetapi justru kelakuan mereka itu menghalangi orang untuk mengalami rahmat Allah. Mereka mempergunakan doa dan agama untuk mencari pujian dan mencari keuntungan. Ambisi mereka untuk memperbanyak pengikut hanya semakin menambah banyak orang jahat. Mereka menghayati agama hanya sebatas aturan yang harus diikuti. Mereka tidak melibatkan Tuhan di dalam hidup mereka. Mereka menggantikan Tuhan dengan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melayani Tuhan tetapi melayani aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Segala yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk melayani diri sendiri. Mereka berusaha mempertahankan apa yang sudah dibangun untuk diri sendiri itu. Mereka lupa bahwa hanya Tuhan saja yang harus dilayani. Hanya Tuhan saja yang harus dimuliakan. Hanya Tuhan saja yang harus dijunjung tinggi. Karena mereka telah menggantikan posisi Tuhan dengan pendirian mereka sendiri, Yesus menyatakan bahwa akhir dari semua itu adalah nasib celaka. Hidup beragama hendaknya dijadikan sarana untuk mengabdi dan melayani Tuhan dan bukan untuk melayani diri sendiri.
Sadarkah aku bahwa hanya Tuhan yang menguasai hidupku? Kemanakah arah hidupku selama ini: merupakan usaha agar nama Tuhan semakin dimuliakan ataukah untuk meninggikan namaku sendiri?

Oleh: Rm. Supriyono Venantius SVD

0 komentar:

Posting Komentar