Jumat, 25 Agustus 2017

Renungan Harian GML : “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu.”


25 Agustus 2017

Bacaan Injil Mat 22:34-40

Bacaan Injil hari ini merupakan sebuah bacaan yang sudah sering kita dengar, mungkin juga kita sudah hafal di luar kepala, “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu.”

Mari kita baca teks Matius ini dalam terang Perjanjian Lama:

1. Ulangan 6:4b-5
“Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” 

a. “Dengan segenap hatimu” : Dalam dunia Perjanjian Lama (hingga zaman Yesus), “hati” merupakan pusat dari rasio (akal budi) dan afeksi (perasaan). Dalam Kitab Ulangan, “hati” juga dipahami sebagai tempat tumbuh-kembangnya hal-hal positif dalam diri manusia. Dalam Antropologi Ibrani, “hati” juga merupakan sebuah tempat bagi manusia tuk menimbang-nimbang berbagai pilihan tuk mengambil sebuah keputusan, terutama tuk “mengikuti Tuhan” atau “meninggalkan-Nya”. Maka,  mengasihi Tuhan “dengan segenap hati” itu berarti mengasihi Tuhan “dengan segenap totalitas intelektual, perasaan,  dan juga seluruh orientasi pertimbangan kita yang diarahkan semata-mata bagi Tuhan.” Sederhananya, “Tuhan menjadi fokus pikiran, perasaan, dan pertimbanganku dalam hidup.”

b. “Dengan segenap jiwamu” : “Jiwa” di sini dapat dipahami sebagai “kekuatan hidup”. Dalam dunia Perjanjian Lama, “jiwa” di sini juga memiliki arti yang lebih luas dan dapat dipahami sebagai “gairah spiritual”. “Jiwa” juga dipahami sebagai “organ” yang menghasilkan “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan” (bisa dibandingkan dengan “otak”. “Otak” adalah organ dari tubuh kita yang menghasilkan “pikiran, ide, mimpi, dlsb”; Sedangkan, “Jiwa” di sini adalah organ dari tubuh kita yang menghasilakn “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan.”). Maka, mengasihi Tuhan “dengan segenap jiwamu” itu berarti Tuhan di sini menjadi “obyek” dari “gairah, kehendak, afeksi atau perasaan”-ku, di mana secara emosional, orientasiku pertama-tama dan utama tertuju pada Tuhan. 

c. “Dengan segenap kekuatanmu” : “Kekuatan”, dalam Perjanjian Lama, dapat dipahami sebagai “kekuatan (fisik)” atau “kuasa” yang kita miliki. Dan juga dapat dipahami sebagai “sumber-sumber kekayaan” yang kita miliki. Secara sederhana, mengasihi Tuhan “dengan segenap kekuatanmu” itu berarti mengasihi Tuhan dengan segala apa yang kita punya (di sini lebih menekankan pada dimensi fisik dan material). Namun, yang menarik Matius di sini mengubahnya dengan kata “akal budi” (dimensi fisik sepertinya agak ditinggalkan, namun lebih menekankan dimensi intelektual [“kekuatan intelektual”]).  

Dari ini semua, secara singkat, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam mengasihi Tuhan, kita perlu menggunakan “ketiga daya jiwa manusia” (istilah yang digunakan St. Ignatius Loyola), yaitu : Akal-Budi, Perasaan dan Kehendak. Intinya, “Mengasihi Tuhan dengan totalitas – dengan segala daya yang kita punya!” 

2. Imamat 19:18b
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

a. Konsep “sesama” dalam Perjanjian Lama, lebih dipahami sebagai “tetangga” dalam komunitas-komunitas kecil dari suatu keluarga atau di desa-desa (khususnya setelah Bangsa Israel kembali dari pembuangan). Kalau di Indonesia, kita masih bisa memahaminya sebagai “tetangga satu RT, RW atau Desa”. Itulah “sesama”! Orang-orang di sekitar kita; orang-orang yang kita lihat sehari-hari; orang-orang yang kita kenal dengan baik keluarganya; orang-orang yang masih satu bangsa, suku dan sama rasnya dengan kita; Itulah “sesama”!. 

b. Namun, konsep “sesama” ini berkembang pada Imamat 19:34, di mana dikatakan, “orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah Tuhan, Allahmu.” Di sini, “sesama” dipahami lebih luas lagi, tidak hanya orang-orang yang kita kenal, orang-orang satu bangsa, suku dan rasnya. Melainkan, lebih luas lagi, “orang-orang asing yang tinggal di sekitar kita”. “Sesama” mendapatkan makna yang lebih luas dan universal – “sesama manusia” yang ada di sekitar kita. Itulah “sesama” kita! Tak peduli lagi apa bangsanya, apa sukunya, apa rasnya, atau bahkan apa agamanya? Itu semua tak perlu lagi ditanyakan, “Ia sesamaku. Itu cukup!”

c. “Seperti dirimu sendiri” : Lalu, “Apa maksudnya ini?” 
Hal ini ingin mengatakan bahwa kita perlu memperlakukan sesama kita dengan baik, sama seperti kita memperhatikan diri kita sendiri. Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa kita perlu “melakukan sesuatu yang lebih”. Teks ini perlu dihadapkan pada realitas bahwa “manusia diciptakan sebagai citra Allah” (Kej 1:27; 5:1). Maka, kita pun diharapkan untuk tidak saja memperlakukan “sesama” kita sama seperti memperhatikan diri kita sendiri, melainkan kita diharapkan untuk berbuat “lebih” – “memperhatikan, mengasihi dan memperlakukan sesama kita seperti Tuhan sendiri yang ada di hadapan kita.” Maka, “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi Tuhan sendiri!”

----------------------------------------

Akhirnya, ini semua tidak berhenti pada teori belaka. Pertanyaannya sederhana, “Apa yang sudah aku perbuat untuk sesamaku (sebagai bukti bahwa aku juga mencintai-Nya)?” Jawabannya ada dalam tindakan kita sehari-hari.

Oleh: Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar