Sabtu, 26 Agustus 2017

Renungan Harian GML : Sedikit Tetapi Memberi Rasa


Sabtu, 25 Agustus 2017, Sabtu Biasa XX
Bacaan: Rut 2:1-3.8-11;4:13-17; Mzm 128:1-5; Mat 2:1-12

Bacaan Injil:
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan:
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk menjadi berbeda dengan orang Yahudi pada umumnya. Memang mereka sama-sama beribadat di sinagoga dan mematuhi hukum Taurat yang sama. Namun, Yesus mengajak untuk menjadi lebih menunjukkan diri sebagai pengikut-Nya dengan tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Perbuatan-perbuatan orang Farisi seringkali munafik dan tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Selain itu, mereka juga senang menerima penghormatan di depan publik. Yesus tidak menginginkan itu. Ia ingin pengikutnya rendah hati dan tidak munafik.
Santo Matius menulis Injilnya untuk jemaat perdana yang masih hidup bersama dengan orang Yahudi. Karena itu, ia merasa perlu menegaskan apa yang membedakan mereka dengan orang Yahudi pada umumnya. Memang, selain beribadat di sinagoga, jemaat perdana ini juga berkumpul setiap hari Minggu untuk mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus. Namun, lebih dari itu, tidak tampak perbedaan dengan orang Yahudi. Mereka sama-sama disunat dan mematuhi aturan Taurat lainnya. Matius, dengan menegaskan sikap-sikap yang mesti diambil jemaat perdana ini, menunjukkan bagaimana mereka dapat tampil sebagai pengikut Kristus di antara umat Yahudi lainnya. Ini dilakukan salah satunya dengan sikap rendah hati dan tidak munafik.
Memetik pesan dari Injil hari ini, kita juga mesti mewujudkan iman kita akan Yesus Kristus dalam hidup harian kita. Kita orang Kristiani berbeda dari umat lain bukan hanya dalam soal peribadatan, melainkan juga harus dalam kehidupan bermasyarakat kita. Dengan menghidupi nilai-nilai Kristiani seperti kasih, kejujuran (tidak munafik), kerendahan hati, dll., kita secara nyata mewujudkan iman kita dalam hidup bersama.
Ada sebuah sharing dari seorang ibu yang dimuat di majalah UTUSAN, tentang bagaimana ia menghidupi iman Kristiani dalam hidup bermasyarakat. Dalam kisah itu, ia menceritakan bahwa dalam banyak kepanitiaan dan organisasi kemasyarakatan, entakh PKK, Dharma Wanita, atau kepengurusan lainnya, hampir selalu ia ditunjuk sebagai bendahara. Alasannya sederhana: karena ia Katolik. Umat beriman lain ternyata melihat bahwa orang Katolik dapat diandalkan, jujur, dan tidak korup. Contoh ini menunjukkan bahwa dengan menghidupi nilai-nilai Kristen, bahkan yang sederhana sekalipun, orang lain akan melihat keutamaan Kristiani tersebut. Dengan cara ini, kita dapat sungguh menjadi garam dunia: sedikit tetapi memberi rasa.

Oleh : Fr Wahyu Dwi Anggoro SJ

0 komentar:

Posting Komentar