menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Sabtu, 30 September 2017

Renungan Harian GML : JALAN YESUS ADALAH JALAN SALIB

SABDA, Sabtu, 30-9-2017

BACAAN
Za 2:1-5.10-11a – “Aku datang dan tinggal di tengah-tengahmu”
Luk 9:43b-45 – “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menghadirkan pemberitahuan kedua tentang Sengsara, Kematian dan Kebangkitan Yesus. Para murid tidak memahami kata-kata tentang salib, karena mereka tidak mampu memahami seorang Mesias yang menjadi hamba bagi saudara-saudara-Nya. Para murid masih bermimpi tentang Mesias yang perkasa, penakluk dan mulia.

2.Ay 43b-44 – Pandangan yang berlawanan. “Setiap orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu.” Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Perbedaan itu sangat besar. Di satu sisi, orang-orang heran dan kagum atas segala sesuatu yang telah dikatakan dan diperbuat Yesus. Yesus menanggapi terhadap semua impian, dan harapan semua orang. Di sisi lain, penegasan Yesus bahwa Ia akan dijatuhi hukuman mati dan diserahkan ke tangan manusia oleh para penguasa agama, sama sekali berlawanan dengan pendapat khalayak umum.

3.Ay 45 – Pemberitahuan tentang Salib. “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.” Para murid mendengarkan Dia tetapi mereka tidak memahami tentang salib, tetapi mereka tidak berani bertanya. Mereka takut untuk menunjukkan ketidaktahuan mereka.

4.Setelah Yesus bangkit dan menampakkan diri, para murid baru tahu siapa sebenarnya Mesias. Setelah mereka bersentuhan dengan Kristus yang bangkit, mereka dapat melihat dan mengerti arti penderitaan yang dialami Mesias dan mereka tahu sepenuhnya jalan Yesus. Akhirnya mereka tidak ada keraguan sedikit pun akan pilihan mengikuti Yesus dan tahu resiko yang harus dihadapi.

5.Yesus harus merasakan dan mengalami sendirian dalam perjalanan menuju Golgota. Seringkali kita juga merasakan sendirian ketika menghadapi kesulitan. Sebenarnya satu hal yang harus kita sadari ialah bahwa Tuhan selalu beserta kita (Mat 1:23; 28:10). Maka tidak perlu ada keraguan bagi kita menjadi murid-murid Kristus dalam menjalani hidup ini.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Jumat, 29 September 2017

Runungan Harian GML : PARA MALAIKAT MELINDUNGI KITA

SABDA, Jumat, 29-9-2017

BACAAN
Dan 7:9-10.13-14 – “Seribu kali beribu-ribu orang melayani Dia”
Yoh 1:47-51 – “Engkau akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan pesta para malaikat Mikhael, Gabriel, dan Raphael. Malaikat berarti utusan. Ia diutus untuk membawa pesan dari Allah. Malaikat Gabriel menerangkan kepada nabi Daniel arti dari penampakan (Dan 8:16; 9:21). Ia menyampaikan pesan Allah kepada Elisabet (Luk 1:19) dan Maria, ibu Yesus (Luk 1:26). Gabriel berarti Allah yang begitu kuat. Raphael muncul dalam Kitab Tobit. Ia menyertai Tobias dalam perjalanan dan melindungi dia dari segala bahaya. Ia membantu Tobias untuk membebaskan Sara dari roh jahat dan menyembuhkan Tobit, ayah Tobias, dari kebutaan. Raphael berarti Allah menyembuhkan. Mikhael membantu nabi Daniel dalam perjuangan dan kesulitannya (Dan 10:13.21; 12:1). Mikhael melawan  roh jahat dan menang (Yud 1:9). Mikhael berarti Ia seperti Allah.

2.Yesus kembali ke Galilea. Ia berjumpa dengan Philipus dan memanggilnya: “Ikutlah Aku!” Setelah berjumpa dengan Yesus, Philipus tidak bisa tinggal diam. Ia menemui Natanael dan bersaksi tentang Yesus: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusup dari Nasaret.”  Dari ungkapan ini nampak bahwa seluruh Perjanjian Lama merujuk kepada Yesus.

3.Natanael menolak kesaksian Philipus, tetapi Philipus  menjawab: “datang dan lihatlah.” Selanjutnya Natanael bertanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik dari Nazaret?”  Menurut para ahli Kitab, Mesias akan datang dari Betlehem, di Yudea. Ia tidak mungkin datang dari Nazaret , Galilea (Yoh 7:41-42).

3.Yesus melihat Natanael dan berkata: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Natanael disebut seorang Israel sejati, karena ia menantikan Mesias menurut pengajaran resmi pada waktu itu (Yoh 7:41-42.52). Dan alasan inilah yang membuat dia tidak bisa menerima Mesias yang datang dari Nazaret. Tetapi setelah bertemu dengan Yesus, ia terbantu untuk memahami rencana Allah. Natanael mengakui kesalahannya, ia mengubah gagasannya, menerima Allah sebagai Mesias dan mengaku: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Dengan pengakuan ini, ia “akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Yesus menjadi jembatan antara surga dan bumi.

4.Pesta para malaikat agung memberi pesan kepada kita bahwa Allah tidak hanya duduk manis di surga. Ia bukanlah Allah yang hanya menciptakan dunia dan membiarkannya begitu saja. Tetapi Allah kita adalah Allah yang berhubungan erat dengan dunia, hadir dan berada di dalam dunia. Allah kita adalah Allah yang terlibat dalam dunia kita dan mengulurkan tangan-Nya ketika dari antara kita berada dalam kesulitan dan penderitaan.

4.Masihkah kita percaya pada malaikat yang melindungi kita? Dan masihkah kita berdoa mohon perlindungannya?

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Kamis, 28 September 2017

Renungan Harian GML : Sudahkah Aku Memberi Kesaksian Tentang Yesus Kepada Orang di Sekitarku? "


Bacaan Liturgi 28 September 2017

Kamis Pekan Biasa XXV
PF S. Wenseslaus, Martir
Bacaan Injil
Luk 9:7-9
Yohanes kan telah kupenggal kepalanya. 
Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?

Ketika Herodes, raja wilayah Galilea, mendengar segala yang terjadi, 
ia merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, 
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.
Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, 
dan ada pula yang mengatakan, 
bahwa seorang dari nabi-nabi zaman dahulu telah bangkit.
Tetapi Herodes berkata, "Yohanes kan telah kupenggal kepalanya. 
Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?" 
Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Renungan : 

Ada satu peristiwa di SMP Negri 2 Girimulyo yang masih saya ingat hingga sekarang. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1985. Saat itu saya masih kelas 1 SMP. Teman-teman saya kebanyakan badannya lebih besar dibandingkan dengan badan saya. Beberapa teman yang badannya lebih besar kadang-kadang mengganggu saya. Salah seorang menendang saya. Saya hanya diam saja. Dia ulangi lagi menendang saya. Saya tetap diam saja. Saya tidak marah, tidak merasa jengkel, tidak merasa tersakiti. Saya tersenyum saja. Saya bahkan tidak merasa direndahkan. 

Pada waktu itu saya sedang merasa sangat bahagia. Saya bahagia karena baru saja mengikuti pelajaran Agama Katolik. Dalam pelajaran itu dijelaskan bagaimana Yesus menderita sengsara dan dalam penderitaan itu Yesus mendoakan orang yamg menganiaya Dia. Itulah keutamaan yang mengagumkan dari Yesus yang membuat saya begitu bahagia. Kebahagiaan itu tidak bisa dikalahkan dan disingkirkan oleh sikap teman yang mau mengganggu saya. 
Ada teman yang melihat reaksi saya itu. Dia seorang muslim. Dia berkomentar, “Kok orang Katolik kalau disakiti tidak mau membalas ya!” Kata-kata itulah yang membuat saya masih ingat akan peristiwa itu. 

Sikap tidak membalas dendam ternyata menjadi kekhasan orang Katolik. Orang mengetahui adanya sesuatu yang berbeda pada orang Katolik. Sesuatu yang berbeda itulah yang membuat orang penasaran dan bertanya-tanya, “Kok bisa begitu ya?”
Seperti dalam Injil hari ini Yesus juga telah membuat Herodes penasaran. “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:9). Begitulah, seperti Yesus membuat banyak orang penasaran pada masa hidup-Nya, karya Allah yang terungkap dalam Gereja Katolik sering juga membuat penasaran orang. Banyak orang berusaha member jawaban tentang siapa Yesus. Kalau ada orang di sekitar kita penasaran dan mempertanyakan siapa Yesus, kita dipanggil untuk memberikan kesaksian iman kita. Siapa Yesus bagi kita. Dia adalah Tuhan yang akan memberikan damai sejati kepada orang yang percaya. 

Kita bisa mengenal Yesus dari bacaan Kitab Suci.
Sudahkah aku membaca Kitab Suci setiap hari? Sudahkah aku memberi kesaksian tentang Yesus kepada orang di sekitarku? 

Oleh : Romo Supriyono Venantius SVD

Rabu, 27 September 2017

Renungan Harian GML : DIPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA


SABDA, Rabu, 27-9-2017

BACAAN
Ezra 9:5-9 – “Dalam masa perbudakan, kami tidak Engkau tinggalkan, ya Tuhan”
Luk 9:1-6 – “Ia mengutus para murid mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit”

RENUNGAN
1.Ay 1-2 – Pengutusan Duabelas murid. “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.” Sebelum menjalankan tugas perutusan, mereka menerima tenaga dan kuasa untuk mengusir setan-setan, menyembuhkan penyakit dan mengumumkan Kerajaan Allah.

2.Ay 3 – Yesus mengirim mereka dengan syarat ini: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” Arti dari kata-kata Yesus tersebut:  Yesus mewajibkan para murid-Nya untuk percaya pada keramahtamahan  orang-orang yang dikunjungi. Para murid harus yakin bahwa mereka akan diterima dan disambut. Sebaliknya, murid-murid orang-orang  Parisi, Esseni, dan Zelot membawa kantong berisi bekal makanan, karena mereka tidak percaya yang diberikan orang lain karena najis dan haram. Bagi Yesus, pewartaan Kabar Gembira tidak boleh memisahkan diri dari orang lain, bersedia makan dengan makanan yang mereka hidangkan.

3.Ay 4-5 – Mereka harus tetap berada di rumah pertama di mana mereka masuk sampai mereka meninggalkan tempat itu. Artinya: Para murid harus tinggal dan  bekerja bersama mereka. Dengan kata lain, mereka harus berpartisipasi di dalam hidup dan kerja mereka. Dalam suasana seperti itu, para murid berkesempatan berbagi iman dan pergulatan hidup.

4.Ay 6 – Mereka berangkat. Tidak hanya Yesus, tetapi semua kelompok pergi untuk mengumumkan Kabar Gembira kepada semua orang. Jika khotbah Yesus menyebabkan konflik, sekarang, dengan khotbah semua kelompok orang beriman, akan ada konflik yang lebih besar.

5.Perutusan yang sama dipercayakan kepada kita. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan membantu membebaskan orang-orang dari kekuatan-kekuatan negatip, ketergantungan obat bius, orang-orang  yang terbelenggu oleh karena kekurangan mereka. Kita dipanggil untuk menjadi sumber penyembuhan. Kita dipanggil untuk hidup sederhana namun tetap rendah hati.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Selasa, 26 September 2017

Renungan Harian GML : KITA ADALAH KELUARGA ALLAH


SABDA, Selasa, 26-9-2017

BACAAN
Ezra 6:7-8.12.14-20. – “ Mereka mentahbiskan rumah Allah dan merayakan Paskah”
Luk 8:19-21 – “Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan tanggapan keras  terhadap saudara-saudara dan ibu-Nya yang mencari Dia. Mereka datang dari Nasaret menuju Kapernaum yang jaraknya 40 km. Mereka tidak bisa masuk karena saking banyaknya orang yang memadati rumah, di mana Yesus sedang mengajar. Ada orang yang memberitahu Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Yesus menjawab: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

2.Kata-kata Yesus tersebut harus kita lihat dalam konteks tugas perutusan Yesus. Dalam perutusan-Nya, Yesus tidak mau terikat oleh keluarga berdasarkan keturunan darah. Yesus prihatin terhadap semua orang, tidak hanya terhadap keluarga-Nya. Dengan kata-kata-Nya tersebut, Yesus sedang membangun keluarga besar. Setiap orang diundang, walaupun tidak setiap orang menanggapinya.

3.Keluarga yang dibangun Yesus adalah Keluarga Allah, Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Allah sebagai Bapa, dan anak-anak-Nya adalah mereka “yang mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukannya.” Jadi ikatan keluarga yang dibangun Yesus bukanlah ikatan karena keturunan darah dan daging, tetapi ikatan oleh Roh yang dibangun oleh Yesus Kristus melalui sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya demi keselamatan kita.

4.Siapa ibunya? Menurut Santo Cyprianus dari Kartago, ibu kita adalah Gereja: “Engkau tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapamu, jika engkau tidak memiliki Gereja sebagai Ibumu.”

5.Lebih jauh lagi: bahwa kemuridan kita tidak ditentukan karena kita lahir dari keluarga Katolik, atau baptisan, tetapi oleh komitmen kita secara total terhadap Injil dan selalu mengikuti Yesus dalam kondisi dan keadaan apa pun. Hanya dengan demikian kita dapat dikatakan sebagai saudara dan saudari Kristus.

6.Sudah layakkah kita disebut anggota Keluarga Allah, saudara dan saudari Kristus?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Senin, 25 September 2017

Renungan Harian GML : “Apakah aku sudah membawa ‘benih’ dan ‘pelita’ bagi sesamaku?"


Sabda 25 September 2017

Lukas 8:16-18: Perumpamaan Tentang Pelita

A. Injil kita hari ini berbicara mengenai “Perumpamaan Tentang Pelita”. Perikop ini perlu dibaca dengan perikop sebelumnya (Luk 8:4-15) yang berbicara tentang “Perumpamaan Tentang Seorang Penabur”.

B. Benih itu adalah Firman Allah. Lalu ditabur, sebagian jatuh di pinggir jalan, sebagian jatuh di berjalan berbatu-batu, sebagian lagi di tengah semak duri, dan sebagian lagi jatuh di tanah yang baik. Lalu Yesus menerangkan arti perumpamaan ini kepada para murid di ayat 9-15. Lalu pada 16 (Injil hari ini), Yesus berkata bahwa “tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupnya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.” Ini berarti bahwa “perumpamaan tentang penabur” di perikop sebelumnya yang dipahami oleh para murid sebagai “pelita” hendaknya diwartakan pula kepada banyak orang sehingga “tumbuh di tanah yang baik” dan semua orang dapat melihat cahaya-Nya. Itu berarti bahwa “Firman Allah” ini harus disampaikan. Lalu, “Apa Firman Allah itu sendiri?”

C. Firman Allah itu adalah Yesus itu sendiri. Yesus-lah yang perlu diwartakan. Yesus-lah yang menjadi benih. Yesus-lah yang harus tumbuh dalam diri setiap orang, bukan lagi dirinya sendiri. Dan, “Yesus”-lah Sang Pelita yang perlu ditempatkan di atas kaki dian, sehingga semua orang dapat melihat cahaya-Nya.

D. Lalu Yesus menasihati pada ayat 8b, “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.” Dan hal ini diperjelas lagi pada ayat 18a, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.” Lalu pertanyaannya, “Apa artinya kedua ayat ini?”

E. Ini artinya, “Kita diajak untuk mendengarkan Firman Allah (ayat 8b), tapi perhatikan juga cara mendengarnya (ayat 18a). Jangan sampai, setelah mendengarkan kita melupakannya dan ‘benih’ itu tidak tumbuh, dan ‘pelita’ itu tidak ditempatkan di kaki dian!” Singkatnya, ini berarti kita diajak untuk membawa “Firman Allah” (Yesus itu sendiri) dalam hidup kita sehari-hari dan membiarkan-Nya tumbuh dalam hidup kita dan mewujud dalam tindakan baik kita sehari-hari. Sehingga, dari hari ke hari “Firman” itu tumbuh dan orang-orang di sekitar kita dapat merasakan “buah” dan “terang”-Nya.

F. Lalu pertanyaannya buat kita saat ini, “Apakah aku sudah membawa ‘benih’ dan ‘pelita’ bagi sesamaku?”

Oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Minggu, 24 September 2017

Renungan Harian GML : KECEWA, IRI HATI, DAN MARAH SANGAT MERUGIKAN DIRI SENDIRI


SABDA, Minggu, 24 September 2017

BACAAN
Yes 55:6-9 – Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku”
Flp 1:20c-24.27a – “Bagiku hidup adalah Kristus”
Mat 20:1-16a – “Orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berupa perumpamaan seorang tuan tanah yang keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Sebanyak lima kali ia mencari pekerja. Kepada yang pertama disepakati upah sedinar sehari. Kepada pekerja yang dipanggil jam sembilan dikatakan: “Apa yang pantas akan kuberikan kepadamu.” Kepada pekerja sesudahnya tidak dikatakan apa-apa.  Ketika petang hari, dibayarkannya upah kepada mereka. Mereka yang bekerja mulai jam 5 sore mendapat upah satu dinar. Dan mereka yang bekerja selama satu hari berharap akan mendapat upah lebih banyak. Ternyata mereka mendapat upah yang sama:  satu dinar. Mereka sangat kecewa, iri hati, marah, dan menganggap tuan tanah itu sangat tidak adil.

2.Di antara kita, mungkin, sangat mendukung para pekerja pertama yang kecewa dan marah. Pernyataan Yesus sepertinya tidak sesuai dengan keadilan. Di sini Yesus menantang kita untuk melangkah melampaui kriteria masyarakat kita. Tuan tanah tersebut adalah seorang yang murah hati dan ia membuat pilihan untuk membayar para pekerjanya sehari penuh, apakah mereka bekerja 8 jam atau 30 menit. Ia fair dan adil terhadap pekerja yang bekerja seharian; ia membayar mereka dengan sejumlah uang yang sudah disepakati.

3.Kita tahu bahwa pekerja-pekerja ini kecewa, iri hati dan marah. Apakah kita iri hati atau marah ketika orang lain mendapat sebuah ganjaran, anugerah, atau pujian, yang menurut pikiran kita, mereka tidak sepantasnya mendapatkan? Kecewa, iri hati dan kemarahan kita tidak  berpengaruhi terhadap orang lain, tetapi berpengaruh atas kita sendiri. Kita akan menderita karena sikap kita tersebut. Ketika kita membandingkan diri kita dengan orang lain, kita akan menempatkan diri kita lebih tinggi daripada mereka atau lebih rendah daripada mereka. Kedua penghakiman tersebut akan merugikan orang lain dan juga diri kita sendiri.

4.Kita bersyukur atas segala rahmat Tuhan yang boleh kita terima sampai saat ini. Kita jauhkan sikap menghakimi orang lain, sikap cemburu dan iri hati. Jika kita memilih hal ini, kita akan lebih bahagia dan lebih damai.

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 berkat.id

Sabtu, 23 September 2017

Renungan Harian GML : MENDENGARKAN SABDA, MENYIMPAN DALAM HATI, DAN MEWUJUDKAN DALAM TINDAKAN




SABDA, Sabtu, 23-9-2017

BACAAN
Luk 8:4-15 – “Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

RENUNGAN
1.Ay 4 – Kumpulan orang mengikuti Yesus. Ia menyampaikan perumpamaan kepada mereka. Dalam Injil Markus, agar supaya Yesus tidak terhimpit oleh kerumunan orang, Ia mengajar dari atas perahu.

2.Ay 5-8 – Perumpamaan tentang biji merupakan cerminan kehidupan para petani. Sungguh sangat tidak mudah hidup dari pertanian. Tanah penuh batu, sedikit hujan, banyak  panas. Namun demikian, setiap tahun, para petani menebar benih. Mereka percaya pada kekuatan benih dan kemurahan alam.

3.Ay 8b – “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.” Perumpamaan mengajak orang untuk berpikir, kreatip dan terlibat. Perumpamaan bukanlah pengajaran siap saji, bukan seperti air dalam botol yang siap diteguk, melainkan berupa sumber yang harus digali dan dikembangkan.

4.Ay 9-10 –  Ketika di rumah, para murid ingin tahu arti perumpamaan tersebut. Yesus menanggapi: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan ...” Yesus menggunakan perumpamaan “sesuai dengan pengertian mereka” (Mrk 4:33). Perumpamaan mengungkapkan kepada mereka yang menerima Yesus sebagai Mesias Hamba, tetapi tersembunyi bagi mereka yang melihat Yesus sebagai Mesias Raja Agung.

5.Ay 11 – Yesus menerangkan bagian demi bagian dari perumpamaan. Yesus mengatakan bahwa rahasia Kerajaan Allah diperuntukkan bagi setiap murid Yesus yang sungguh-sungguh mengikuti-Nya: mereka yang telah meninggalkan perahu, jala, keluarga, rasa aman dan pergi bersama Yesus.

6.Ay 12 – Biji yang jatuh di pinggir jalan mewakili orang yang mendengarkan Sabda,  tetapi terus terenggut dari mereka sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menanggapi. Dunia sekitar mereka yang mayoritas anti Kristus begitu kuat menghalangi untuk menerima Sabda Tuhan.

7.Ay 13 - Biji yang jatuh di tanah yang berbatu-batu adalah mereka yang mendengar Sabda Tuhan dengan gairah dan penuh sukacita. Tetapi ketika ada pencobaan dan godaan, mereka jatuh. Mereka mewakili orang-orang Kristen awal yang tidak tahan terhadap penganiayaan.

8.Ay 14 - Biji yang jatuh di antara semak berduri mewakili mereka yang mendengarkan dan menerima Sabda Tuhan. Tetapi tekanan dan bujuk rayu duniawi yang begitu masif, membuat mereka hidup dalam dua dunia: antara mengikuti Kristus dan mengikuti nilai-nilai duniawi. Lama kelamaan nilai-nilai Kerajaan Allah makin menghilang dan digantikan dengan uang, harta kekayaan demi mengejar kesenangan. Pelan-pelan, nilai-nilai Kerajaan Allah menghilang punah.

9.Ay 15 - Biji yang jatuh di tanah yang baik mewakili mereka yang mendengarkan Sabda dengan hati yang terbuka dan menerima sepenuhnya. Sabda berakar dalam-dalam di hati dan meluap di dalam segala tindakan baik, belas kasih, dan pelayanan tanpa pamrih.

10. Anda masuk  kelompok  mana?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id
 .

Jumat, 22 September 2017

Renungan Harian GML : PARA WANITA MURID-MURID YESUS


SABDA, Jumat, 22-9-2017

BACAAN
1Tim 6:2c-12 – “Bertandinglah dalam pertandingann iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal
Luk 8:1-3 – “Beberapa wanita menyertai Yesus dan melayani Dia dengan harta bendanya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menggambarkan Yesus  berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa di Galilea. Ia tidak hanya disertai para murid laki-laki, tetapi juga para murid wanita.

2.Ay 1 – Dua belas murid mengikuti Yesus. Lukas melukiskan situasi Yesus dan para murid-Nya: “Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil  Kerajaan Allah. Keduabelas murid-Nya bersama-sama dengan Dia.” Ungkapan “bersama-sama dengan Dia” menyatakan kondisi para murid: Mereka mengikuti Sang Guru, duapuluh empat jam sehari, mencoba untuk mengikuti contoh-Nya dan berpartisipasi penuh dalam tugas perutusan-Nya.

3.Ay 2-3 – Para wanita mengikuti Yesus. Yang sangat mengagumkan bahwa di samping para pria, juga ada para wanita “bersama-sama dengan Yesus.” Lukas menempatkan laki-laki dan wanita pada level yang sama, karena mereka semua mengikuti Yesus. Dalam Injil Lukas disebutkan tujuh wanita yang disebut sebagai orang-orang yang berpengaruh dalam perutusan Yesus: Maria Magdalena, Yohana (isteri Khuza), Susana (Luk 8:3), Martha dan Maria (Luk 10:38), Maria, ibu Yakobus (Luk 24:10) dan Hanna (Luk 2:36).

4.Lukas disebut sebagai Injil kaum wanita, karena menampilkan banyak wanita dalam perutusan Yesus. Lukas menggaris bawahi relasi Yesus dengan mereka. Yesus menumpangkan tangan atas mereka dan mengijinkan mereka untuk menjamah-Nya tanpa takut najis (Luk 7:39; 8:44-45.54). Berbeda dengan para guru pada waktu itu yang tidak bisa menerima kaum wanita, sedangkan Yesus menerima kaum wanita yang mengikuti Dia dan ingin menjadi murid-Nya (Luk 8:2-3; 10:39). Yesus sangat sensitip terhadap penderitaan seorang janda yang kehilangan anak laki-lakinya dan Ia terlibat dalam penderitaannya (Luk 7:13). Yesus menerima para wanita dan menjadikan mereka saksi kematian-Nya (Luk 23:49), saksi pemakaman-Nya (Luk 22:55-56), dan saksi kebangkitan-Nya (Luk 24:1-11.22-24).

5.Menurut Anda, bagaimana peran wanita dalam Gereja?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩www.berkat.id

Kamis, 21 September 2017

Renungan Harian GML : Bukan orang sehat yang memerlukan tabib melainkan orang sakit

Bacaan Liturgi 21 September 2017

Pesta S. Matius, Rasul dan Pengarang Injil

Bacaan Injil
Mat 9:9-13
Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus.

Pada suatu hari,
Yesus melihat seorang yang bernama Matius
duduk di rumah cukai.
Yesus berkata kepadanya, "Ikutlah Aku!"
Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia.
Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius,
datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa,
makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi
kepada murid-murid Yesus,
"Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
Yesus mendengarnya dan berkata,
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
melainkan orang sakit.
Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini:
Yang Kukehendaki ialah belas-kasihan dan bukan persembahan,
karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa."

Pernahkah Anda mengalami kegagalan? Siapa yang memberitahukan kegagalan itu? Bagaimana cara memberitahukannya? Lalu bagaimana perasaan hati Anda ketika diberitahukan hal itu?
Saya pribadi pernah mengalami kegagalan. Pada tahun 2012, saya gagal, tidak lulus ujian mata kuliah Arkheologi di Institut Biblikum Roma. Dengan bahasa Italia yang sepotong-sepotong, saya berusaha menjawab pertanyaan Dosen. Lalu, Dosen menanggapi, “Pulanglah dulu, pelajari terlebih dahulu baik-baik bahannya!” Saya sangat sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya memang tidak bisa menjelaskan pertanyaan yang diberikan. Saya gagal, tapi Dosen tetap memberi peluang untuk menebus kegagalan itu. Saya harus mempelajari lagi mata kuliah itu.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan kegagalan orang-orang Farisi. Ia berkata, “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama Yahudi. Sebagai tokoh tentu saja mereka sangat mengenal Kitab Suci. Akan tetapi perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Oleh karena itu Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa mereka gagal memahami Kitab Suci. Mereka gagal dalam hidup menurut perintah Kitab Suci. Yesus menunjukkannya dengan mengutip Kitab Nabi Hosea. Kutipan itu bisa dilihat dalam Hos 6:6. Nabi Hosea menyampaikan kritik terhadap praktek keagamaan yang tidak berbuah. Buah hidup beragama adalah belas kasihan kepada sesama. Belas kasihan hanya bisa ditujukan kepada orang yang lemah, tersingkir dan berdosa. Orang-orang yang berkuasa pada zaman Nabi Hosea rajin beribadah. Akan tetapi mereka melakukan ketidakadilan terhadap sesama. Mereka menyembah Allah, tetapi hidup mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Nabi Hosea sebagai penyambung lidah Allah, menyerukan dengan tegas, kehendak Allah. Belas kasihan adalah hal yang lebih dikehendaki Allah dari pada persembahan.
Orang-orang Farisi menghakimi Yesus yang memanggil Matius, si pemungut cukai. Memungut cukai adalah pekerjaan yang penuh dosa. Mereka mencari keuntungan dari bangsanya sendiri dan bekerjasama dengan bangsa penjajah, yakni Roma. Selain menjajah, Roma juga merupakan bangsa yang tidak menyembah Allah. Oleh karena itu para memungut cukai disingkiri oleh orang Farisi. Sebaliknya, Yesus mengajak seorang pemungut cukai itu menjadi pengikut-Nya. Setelah itu Yesus berpesta bersama para pemungut cukai. Tentu saja perbuatan Yesus ini tidak bisa diterima oleh orang-orang Farisi. Penolakan orang-orang Farisi ini, bagi Yesus merupakan kegagalan mereka dalam memahami isi Kitab Suci. Mereka gagal menangkap kehendak Allah. Sikap Yesus dibenarkan oleh Kitab Suci. Sikap Yesus sesuai dengan kehendak Allah. Allah berbelas kasih kepada orang yang berdosa. Seperti seorang tabib datang untuk melayani orang sakit, demikianlah Allah datang untuk orang berdosa yang  memerlukan pertobatan. Orang-orang Farisi telah gagal. Akan tetapi Yesus memberi peluang untuk menebus kegagalan itu. Mereka harus mempelajari lagi isi Kitab Suci. Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki belas kasihan. Kita manusia berdosa membutuhkan belas kasihan Allah itu.
Sadarkah aku akan keberdosaanku yang membutuhkan belas kasih Allah? Sudahkah aku berbelas kasih kepada orang-orang yang disingkiri oleh sesamanya?

Oleh Rm Supriyono Venantius SVD

Rabu, 20 September 2017

Renungan Harian GML : PEKA TERHADAP KEHADIRAN DAN TINDAKAN YESUS DALAM HIDUP KITA SETIAP HARI


SABDA, Rabu, 20-9-2017

BACAAN
1Tim 3:14-16 – “Sungguh agunglah rahasia iman kita”
Luk 7:31-35 – “Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, kita melihat Kabar Gembira membuka jalan terhadap orang-orang yang melekat pada tradisi keagamaan lama dan yang tidak memahami lagi tanda-tanda kehadiran dan tindakan Allah. Mereka berusaha menyembunyikan kekurangan mereka dengan berbagai dalih sebagai pembenaran. Yesus menanggapi dengan sebuah perumpamaan untuk mencela pembicaraan mereka yang ngawur: “Mereka seperti anak-anak yang tidak tahu apa yang mereka inginkan.”

2.Yesus jengah dengan mereka dan berkata: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?” Yesus melanjutkan: “Mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar yang tidak ada perhatian dan respon.” Mereka adalah anak-anak manja. Mereka mengeluh ketika yang lain tidak melakukan dan bertindak seperti apa yang mereka katakan.  Yesus mengkritik mereka, karena mereka dengan sewenang-wenang mengadili Yohanes Pembapis dan mengadili Yesus.

3.Yohanes yang tidak makan roti dan tidak minum anggur, mereka katakan: “Ia kerasukan setan.” Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, mereka katakan: “Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Yohanes mereka katakan kerasukan setan, karena ia hidup dengan sangat keras, lebih asketis, tidak makan roti dan tidak minum anggur. Ia tetap tinggal di padang gurun dan mengancam orang-orang Yahudi dengan penghukuman pada Pengadilan Terakhir (Luk 3:7-9). Sedangkan Yesus makan dan minum seperti setiap orang yang lain. Ia menerima para pemungut cukai dan para pelacur. Kalau Yesus mengatakan “orang-orang dari angkatan ini”, yang dimaksud adalah para penguasa keagamaan yang tidak percaya kepada Yesus (Mk 11:29-33).

4.Yesus menyimpulkan: “Hikmat diberikan kepada semua orang yang menerimanya.” Ketidak-seriusan para penguasa agama nampak dari pendapat mereka terhadap Yesus dan Yohanes. Mereka tidak akan mendapatkan hikmat yang dari Allah, berarti tidak mendapatkan keselamatan.

5.Apa yang akan dikatakan Yesus terhadap orang-orang generasi sekarang ini? Apakah kita melihat tanda-tanda kehadiran dan tindakan Yesus di dalam hidup kita? Kita harus selalu membuka mata, hati dan pikiran, karena Yesus akan hadir. Semoga kita tidak kehilangan Dia.

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Selasa, 19 September 2017

Peziarah dari Hongkong Misa bersaman di GML


DARI HONGKONG KE LAWAGSIH

Terdengar suara asing yang tidak familier di telinga warga Pelem Dukuh dari pelataran Goa Maria Lawangsih pada hari Minggu 10 September 2017. Ternyata serombongan peziarah dari Hongkong sedang berfoto-foto di depan patung Bunda Maria sambil bercengkerama dengan bahasa Mandarin. 


Sebuah peristiwa langka untuk Goa Maria Lawangsih dikunjungi oleh peziarah dari Negara Asing. Kali ini merupakan serombongan peziarah dari Hongkong yang dipandu oleh guide Pak Eko, mereka berjumlah sekitar 30 orang. Sebagai wakil dari tuan rumah, Tim Publikasi menyambut dan sedikit memberikan penjelasan tentang sejarah Goa Maria Lawangsih, yag disambut dengan antusias oleh para peziarah. Setelah itu para peziarah dari Hongkong ini mengadakan Misa Ekaristi Kudus di Goa Maria Lawangsih. Pada akhir perjumpaan, mereka memberikan kenang-kenangan untuk Goa Maria Lawagsih. 


Yang dari Hongkong sudah ke Lawangsih, kamu ???

Jadwal Perayaan Ekaristi bulan Oktober di Goa Maria Lawangsih


Bagi saudara-saudari yang ingin bergabung dalam perayaan Ekaristi Mingguan di Goa Maria Lawangsih selama Bulan Oktober 2017 bisa dicermati jadwal berikut :


Renungan Harian GML : YESUS BERADA DI TENGAH-TENGAH KITA DAN MENGATASI KEMATIAN


SABDA, Selasa, 19-9-2017

BACAAN
1Tim 3:1-13 – “Penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat”
Luk 7:11-17 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menampilkan episode tentang kebangkitan anak laki-laki seorang janda di Nain. Cara Yesus menyampaikan Kerajaan Allah sungguh mengagumkan orang-orang Yahudi, karena mereka tidak biasa melihat hal-hal demikian. Bahkan Yohanes Pembaptis pun kagum, sampai dia harus bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk 7:19).

2.Ay 11-12 – Perjumpaan dua perarakan. Yesus pergi ke sebuah kota yang disebut Nain. Para murid dan sejumlah besar orang mengikuti Dia. Ketika sampai dekat pintu gerbang kota, ada seorang pemuda yang meninggal yang dibawa ke kuburan. Ia satu-satunya anak laki-laki seorang janda. Perarakan pembawa jenasah dan rombongan yang menyertai janda menuju kuburan berjumpa dengan perarakan rombongan Yesus yang masuk ke kota. Kedua rombongan berjumpa di sebuah lapangan kecil di samping pintu gerbang kota Nain.

3.Ay 13 – Hati Yesus tergerak oleh belaskasihan. “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Jangan menangis!’” Melihat janda tersebut, hati Yesus terharu, dan tergerak untuk bicara dan bertindak. Dengan peristiwa ini, Yesus menampakkan kuasa kehidupan yang mengatasi kematian.

4.Ay 14-15 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” “Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.” Dari ungkapan ini, Injil membantu kita untuk mengalami lebih baik kehadiran Yesus di tengah-tengah kita. Ia mampu mengatasi kematian. Saat ini Ia berada bersama kita, dan ketika kita menghadapi problem penderitaan yang memukul kita, Ia bersabda: “Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

5.Ay 16-17 – Reaksi orang-orang. “Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: ‘Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita; Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. Yesus adalah nabi yang telah diumumkan oleh Musa (Ul 18:15). Ialah Allah yang datang melawati kita dan Ia adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” (Mz 68:6).

6.Apa yang harus kita buat bagi orang lain untuk mengatasi kepedihan penderitaannya dan menciptakan kehidupan baru?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Senin, 18 September 2017

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN


SABDA, Senin, 18-9-2017

BACAAN
1Tim 2:1-8 – “Kita harus berdoa untuk semua orang, karena Allah ingin semua orang diselamatkan”
Luk 7:1-10 – “Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai”

RENUNGAN
1.Bab 7 Injil Lukas memperlihatkan panggilan terhadap orang-orang kafir untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Seorang perwira telah menjadi pelopor bagaimana beriman kepada Yesus.

2.Aspek pertama yang muncul dari bacaan adalah situasi penderitaan yang dialami oleh seorang perwira yang hambanya sakit. Kaparnaum merupakan sebuah kota di mana berkat Allah hampir tidak pernah terjadi. Dalam kota tersebut, seorang hamba dari perwira mengalami sakit berat, hampir mati. Yesus masuk dalam situasi tersebut.

3.Ia dengan penuh percaya yakin bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya dari jarak jauh. Ia seolah-olah menjadi penunjuk jalan iman, bahkan model beriman. Ia menerima pemberitaan, ia mendengar Kabar Baik dan menyimpannya dalam hati. Maka ia menyuruh tua-tua untuk bertemu Yesus, “untuk meminta supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.” Dengan penuh rendah hati, lewat sahabat-sahabatnya, ia mengatakan: “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.” Pernyataan ini mau mengatakan: bahwa ia sungguh membutuhkan Yesus, ia menyadari sebagai orang berdosa, namun Allah mengasihi.

4.”Katakan saja.” Di sinilah letak lompatan besar dalam iman: ia percaya dengan sepenuh hati. Ketika Yesus datang kepadanya, ia juga menyempurnakan perjalanan batinnya, dengan berubah, dan menjadi baru. Ia menerima pribadi Yesus dan Sabda-Nya. Segala keraguan yang ada padanya benar- benar musnah, tidak ada sesuatu yang lain kecuali iman bahwa keselamatan ada dalam Yesus.

5.Dari kisah seorang perwira tersebut, kita belajar tentang beriman:
a) Beriman berarti tidak ada keraguan, tidak ada keputusasaan, percaya bahwa segala sesuatu mungkin dalam Allah.
b) Berjalan dalam iman berarti percaya seutuhnya, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
c) Beriman: mengijinkan Allah bertindak sepenuhnya dalam diri kita.

6.Bagaimana imanku?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Sabtu, 16 September 2017

Renungan Harian GML : KITA DINILAI DARI BUAH YANG KITA HASILKAN


SABDA, Sabtu, 16-9-2017


BACAAN
1Tim 1:15-17 – “Kristus datang di dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa”
Luk 6:43-49 – “Mengapa kamu berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ padahal kamu tidak melakukan apa yang Kukatakan?

RENUNGAN
1.Injil hari ini mengakhiri “Ucapan bahagia dan peringatan” versi Lukas,  yang dalam Injil Matius disebut Khotbah di Bukit.

2.Ay 43-45 – Perumpamaan tentang pohon dan buahnya. Bagaimana mengetahui apa yang tersembunyi dalam jiwa seseorang? Dari buah yang dihasilkan. Kalau hidup kita memberi teladan belas kasih, iman, kesabaran dan kemurahan hati, kita tahu bahwa jiwa kita sehat dan kuat. Jika hidup kita penuh kemarahan, iri hati, egois, malas maka jiwa kita lemah dan sakit. Jika kita ingin mengubah, tidak cukup hanya mengubah apa yang nampak dan berpura-pura menjadi orang yang baik. Cepat atau lambat akan ketahuan, karena jiwa menyembunyikan sesuatu yang busuk. Kita harus mengubah dari dalam, masuk ke akar masalah dan menyembuhkannya.

3.Ay 46-49 - Rasa aman yang palsu. Ketika matahari bersinar dan semuanya nampak tenang, sebuah rumah yang dibangun dengan pondasi yang rapuh nampak sangat kokoh dan kuat. Sukar dipercaya bahwa rumah tersebut tidak mampu menahan kuatnya hujan, angin dan banjir. Seringkali kita memiliki rasa aman atau rasa tenang yang palsu dalam hidup ini, ketika semuanya berjalan baik, ketika tidak ada pencobaan besar, ketika tidak ada kesulitan yang berarti. Dalam kondisi seperti itu, kita sering merasa bahwa kita berada dalam pondasi hidup yang kokoh. Bahkan kita merasa bahwa iman kita begitu kuat dan kita tidak akan pernah jatuh ke dalam dosa. Bila hal ini kita rasakan, kita harus hati-hati karena bisa merupakan rasa aman yang palsu.

4.Pengujian. Ujian yang sebenarnya tentang pondasi, apakah kuat atau tidak, datang ketika hujan datang, angin menerjang, dan banjir bandang. Ujian atas iman kita datang lewat pencobaan dan godaan, kesulitan-kesulitan, kegagalan, kekecewaan, penghinaan, dan penganiayaan. Jika kita membangun hidup rohani dengan pondasi yang kuat dan dalam kesatuan dengan Allah, tidak masalah seberapa banjir datang menghantam kita: kita tetap akan bertahan dengan kuat. Dalam kondisi banjir, kita tidak akan mampu buru-buru memasang pondasi. Sudah sangat terlambat. Maka kita harus membangun pondasi iman yang kuat selama matahari bersinar, sehingga kita akan siap bila ada badai.

5.Seringkali kita terkejut menyaksikan beberapa orang yang rajin ke gereja, berdoa, dan nampak  saleh, tetapi ketika mereka menghadapi banyak kesulitan, tantangan dan kegagalan yang bertubi-tubi, mereka tidak lagi berdoa atau ke gereja, malah belakangan mereka pindah agama. Bagaimana dengan Anda?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

Jumat, 15 September 2017

Renungan Harian GML : BELAJAR BERIMAN DARI BUNDA MARIA YANG BERDUKA CITA


SABDA, Jumat, 15-9-2017

BACAAN
Ibr 5:7-9 – “Kristus telah belajar menjadi taat, dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi”
Yoh 19:25-27 – “Inilah anakmu! Inilah ibumu!”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan Bunda Maria yang berduka cita.

2.Di kayu salib, Yesus sendirian. Para murid lari tercerai berai karena takut. Tidak tahu kemana. Tetapi di bawah salib berdiri Maria, ibu-Nya, wanita-wanita lain dan Yohanes, murid yang dikasihi Yesus. Mereka ini menunjukkan cinta yang begitu besar kepada Yesus. Bagi mereka, cinta kepada Yesus mengalahkan takut. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

3.Ketika malaikat Gabriel pertama kali memberitahukan kabar dari Allah, dia tidak menyinggung tentang kesengsaraan yang bakal dialami oleh Maria. Tetapi, segera sesudah Yesus lahir, Simeon menggenapi perutusan Maria: “ ... dan sebilah pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:35). Dalam mengikuti puteranya selama penyaliban, Maria begitu rindu untuk memenuhi rencana Allah, yang baginya tetap misteri, dengan berdiri dekat Yesus dengan semua duka yang ia alami.

4.Kata-kata yang diucapkan Yesus kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya merupakan pesan Yesus yang terakhir. Ia mewariskan yang paling berharga kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya. Kepada Maria, Yesus memberikan sahabat-Nya yang begitu Ia kasihi, yang akan membutuhkan bantuan Maria pada saat kesulitan. Kepada Yohanes, Yesus memberikan Maria, ibu-Nya, yang merupakan murid yang paling baik. Yesus tahu bahwa Maria akan membutuhkan Yohanes untuk menghibur dan menyertainya.

5.Kisah Bunda Maria yang berduka cita adalah kisah cinta sejati yang menopang kita untuk tetap berharap, walaupun mengalami dukacita, kesengsaraan dan pencobaan. Maria tak pernah putus asa dalam menghadapi sengsara puteranya, karena ia memiliki iman dan harapan yang ia peroleh karena percaya kepada Allah.

6.Yang kita timba dari Bunda Maria yang berduka cita:
a) Maria tidak pernah mengeluh. b) Dalam penderitaannya,  Bunda Maria tetap tegar dan teguh beriman kepada Allah. Hati Maria hancur luluh, tetapi ia tetap beriman. c) Menyerah secara total kepada Allah. Dengan demikian, ia mampu melewati semua penderitaannya. d) Bunda Maria adalah ibu Keheningan. Hening di bawah salib lebih mengesankan daripada ribuan kata.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Kamis, 14 September 2017

Renungan Harian GML : KITA DISELAMATKAN KARENA ANAK MANUSIA DITINGGIKAN

SABDA, Kamis, 14-9-2017

BACAAN
Bil 21:4-9 – “Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga ia akan tetap hidup”
Yoh 3:13-17 – “Anak Manusia harus  ditinggikan”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja  semesta merayakan pesta Salib Suci. Bacaan Injil diambil dari Yohanes, karena sangat sesuai dengan misteri salib Tuhan. Dari awal Injil dikatakan dengan jelas: “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” Surat kepada umat di Efesus menggunakan gerakan paradoks ini untuk menerangkan misteri Kristus: Dikatakan “Ia telah naik , berarti  bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah” (Ef 4:9).

2.Yesus adalah Anak Allah yang menjadi Anak  Manusia (Yoh 3:13) membuat kita tahu tentang misteri Allah (Yoh 1:18). Hanya Ia sendiri yang dapat melakukan hal ini, maka hanya Ia sendiri yang telah melihat Allah (Yoh 6:46). Misteri Sabda yang turun dari Surga menanggapi kerindungan para nabi.

3.Peninggian Yesus di kayu Salib persis seperti ketika Ia datang kepada kita sampai Ia mati di Salib. Dengan itu Yesus ditinggikan seperti ular di padang gurun, di mana “setiap orang ... yang melihatnya akan hidup” (Bil 21:7-9). Yohanes mengingatkan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam” (Yoh 19:37). Dalam konteks Injil Yohanes, memandang berarti mengetahui, melihat dan memahami.

4.Sering, dalam Injil Yohanes, Yesus berbicara tentang peninggian-Nya: “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:28); “’Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.’ Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati” (Yoh 12:32-33).

5.Misteri Salib menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita. Ia adalah Anak yang diberikan kepada kita, sehingga “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, melainkan akan memiliki hidup yang kekal.” Ia adalah Anak Allah yang kita tolak dan kita salibkan. Namun demikian Allah tetap setia dan memberikan kasih-Nya kepada kita.  Allah mengutus Anak-Nya tidak untuk menghukum dunia, melainkan agar dunia diselamatkan melalui Dia.

6.Apa yang harus kita buat sebagai tanggapan terhadap tindakan Allah dalam diri Yesus ini?

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Rabu, 13 September 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH >< NILAI-NILAI DUNIAWI

SABDA, Rabu, 13-9-2017


BACAAN
Kol 3:1-11 – “Kamu telah mati bersama Kristus. Maka matikanlah dalam dirimu segala yang duniawi”
Luk 6:20-26 – “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”

RENUNGAN
1.Ay 20 – “Berbahagialah, hai kamu yang miskin.” Pernyataan ini menyatakan kategori sosial para murid. Mereka adalah orang-orang miskin. Yesus berjanji: “Kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Hal tersebut bukanlah janji untuk masa depan, tetapi sekarang ini. Mereka memiliki Kerajaan Allah, karena mereka tidak menumpuk kekayaan, tetapi berjuang bersama Yesus untuk kehidupan bersama yang lebih baik, membangun persaudaraan, berbagi apa yang mereka miliki, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain.

2.Ay 21 - “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar dan menangis.” Hidup dan penderitaan kita sekarang ini bukanlah hal yang definitif. Yang definitif hanyalah Kerajaan Allah yang sedang kita bangun dengan kekuatan Roh Kristus. Untuk membangun Kerajaan Allah mensyaratkan rasa sakit, penderitaan, penghinaan dan siksaan, tetapi satu hal pasti: Kerajaan Allah akan diperoleh, dan kita akan dipuaskan dan tertawa.

3.Ay 22-23 – “Berbahagialah kamu jika orang membenci kamu ...” Kata-kata bahagia ini menunjuk ke masa depan. “Bersukacitalah bila saat itu tiba, ... upahmu besar di surga.” Dengan kata-kata ini, Lukas menyemangati umatnya, karena mereka sedang mengalami penganiayaan. Penderitaan bukanlah kematian yang konyol, tetapi rasa sakit yang tiba-tiba datang. Dan penderitaan merupakan sumber pengharapan. Penderitaan dan siksaan merupakan sebuah tanda bahwa masa depan yang dinyatakan oleh Yesus sedang datang. Umat yang sedang mengalami penderitaan sudah berada pada jalan yang tepat.

4.Ay 24-25 – “Celakalah kamu, hai kamu yang kaya.” Sesudah empat Sabda Bahagia, selanjutnya diikuti empat kutukan terhadap orang kaya, mereka yang mengalami kebahagiaan duniawi, dan mereka yang dipuji setiap orang. Kutukan ini hanya ada dalam Injil Lukas, karena Lukas sangat radikal dalam mencela ketidak adilan. Lukas mengarahkan kutukannya kepada jemaatnya sendiri, di mana ada diskriminasi orang-orang kaya terhadap orang miskin yang sama-sama Kristen. Yesus mengkritik dengan keras dan langsung terhadap orang-orang kaya tersebut. Bagi Yesus kemiskinan merupakan buah dari ketidakadilan. Ketidakadilan dan penyebabnya inilah yang dikutuk Yesus.

5.Ay 26 – “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; ... “ Kutukan keempat ini menunjuk kepada mereka yang memuji-muji nabi palsu. Para penguasa Yahudi selalu menggunakan kekuasaan dan kehormatannya untuk mengkritik Yesus. Maka Yesus tidak hanya mengkritik balik mereka, tetapi juga mengutuk habis.

6.Menurut pengalaman Anda, seperti apa yang dikatakan Hidup Bahagia itu? Apakah seperti para pemain sinetron dan pesohor yang selalu menghiasi layar tv? Apakah seperti para pejabat yang suka pamer kekayaan, walaupun hasil dari korupsi? Bolehkah kita, sebagai murid Kristus, kaya raya?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Selasa, 12 September 2017

Renungan Harian GML : DOA MENJADI DASAR UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN DAN PEMILIHAN


SABDA, Selasa, 12-9-2017

BACAAN
Kol 2:6-15 – “Allah telah menghidupkan kamu bersama dengan Kristus, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”
Luk 6:12-19 – “Semalam-malaman Yesus berdoa. Lalu Ia memilih dua belas orang yang disebut-Nya Rasul”

RENUNGAN
1.Ay 12 – Doa menjadi bagian terpenting dalam hidup dan tugas perutusan Yesus. Keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan yang Ia buat telah melalui proses komunikasi yang lama dan intensip dengan Allah yang Ia sebut Abba. Penginjil Lukas meringkaskan way of life Yesus: doa, membangun kelompok para murid, berkhotbah, dan menyembuhkan.

2.Ay 13 – Pemilihan duabelas rasul. Sebelum memilih duabelas rasul secara definitip, Yesus semalam-malaman berdoa. Ia berdoa agar tahu siapa yang pantas Ia pilih sebagai rasul. Rasul artinya yang diutus, pemberita Injil. Mereka dipanggil untuk menjalankan sebuah perutusan; perutusan yang sama yang diterima Yesus dari Bapa (Yoh 20:21). Penginjil Markus lebih konkret dan mengatakan bahwa Allah memanggil mereka untuk berada bersama Dia dan Ia mengutus mereka untuk tugas perutusan (Mrk 3:14).

3.Ay 14-16 – Nama-nama duabelas rasul. Kebanyakan nama-nama para rasul berasal dari Perjanjian Lama. Misalnya, Simon adalah nama salah satu dari anak Yakob (Kej 29:33). Yakobus adalah nama yang sama dari Yakob (Kej 25:26). Yuda adalah nama anak lain dari Yakob (Kej 35:23). Matius adalah nama lain dari Levi, anak lain dari Yakob (Kej 35:23). Nama-nama yang diambil dari Kitab Suci mengajarkan kepada Umat Israel bahwa mereka harus mempertahankan tradisi nenek moyang dan membantu anak keturunan mereka agar tidak kehilangan identitas sebagai bangsa Yahudi.

4.Ay 17-19 – Yesus turun dari gunung dan orang-orang mencari Dia. Turun dari gunung bersama duabelas rasul, Yesus mendapati kerumunan orang yang berusaha untuk mendengarkan Sabda-Nya dan menjamah-Nya, karena orang-orang tahu bahwa daripada-Nya keluar kuasa kehidupan. Dari kerumunan orang itu ada orang-orang Yahudi dan orang asing, dari Yudea dan juga dari Tirus dan Sidon. Mereka adalah orang-orang yang ditinggalkan, tidak punya arah tujuan. Yesus menerima mereka semua.

5.Siapa para rasul itu? Mereka adalah orang-orang biasa, bukan orang profesional, tidak memiliki kekayaan, tidak punya jabatan, tidak punya pendidikan khusus, dan tidak memiliki keuntungan sosial apa pun. Mereka dipilih dari orang kebanyakan, tetapi mampu menjalankan tugas perutusan dengan baik. Yesus memilih mereka tidak untuk apa yang mereka mau, tetapi untuk apa yang mereka mampu di bawah arahan dan kuasa Yesus.

6.Yesus “berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” untuk mengetahui siapa yang harus Ia pilih dan kemudian Ia memilih duabelas rasul. Kesimpulan apa yang bisa Anda tarik? Sesuai dengan Renungan no 3, apa maksud nama baptis yang Anda pakai?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

BARU - ANYAR GRESS
Devosi Kerahiman Ilahi

PENGALAMAN FAUSTINA TENTANG EKARISTI: EKARISTI SEBAGAI PUNCAK KESATUAN DENGAN ALLAH

Klik www.berkat.id

Senin, 11 September 2017

Renungan Harian GML : TINDAKAN CINTKASIH BERADA DI ATAS HUKUM


SABDA, Senin, 11-9-2017

BACAAN
Kol 1:24-2:3 – “Aku telah menjadi pelayan jemaat, untuk menyampaikan rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad”
Luk 6:6-11 – Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh tangan kanannya. Tangan kanan mengungkapkan tindakan manusia. Yesus memulihkannya pada hari Sabat. Hari itu merupakan hari yang penuh sukacita, hari pemulihan, hari pembebasan manusia dan bukan pembatasan.

2.Pada hari Sabat, orang-orang Parisi, diam-diam, membawa seorang yang lumpuh tangan kanannya. Tujuannya: untuk mengamat-amati dan menjerat Yesus ketika Ia menyembuhkan dia. Dengan menyembuhkan berarti Yesus telah melanggar dan menghancurkan Hukum Sabat.

3.Yesus mengetahui pikiran mereka yang jahat. Pikiran mereka berisi kemarahan terhadap Yesus, karena Ia menyembuhkan pada hari Sabat. Orang-orang Parisi telah terjerat oleh legalisme hukum yang mereka buat sendiri. Mereka tidak memandang manusia yang menginginkan kesembuhan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bahkan dengan hukum yang mereka buat, Allah dilarang berkarya pada hari Sabat. Maka Yesus menunjukkan kesalahan cara berpikir orang-orang Parisi.

4.Pada hari Sabat pun, cinta kasih Allah terus terjadi; karya Allah tidak pernah berhenti. Allah memberi hukum untuk membantu manusia agar menjadi lebih baik, termasuk di dalam mengabdi dan memuliakan Allah. “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku juga bekerja.” Hal ini berarti Tuhan bekerja setiap hari, bahkan pada hari Sabat. Apa yang dibuat Yesus dengan menyembuhkan pada hari Sabat merupakan spirit (jiwa) Perjanjian Lama (Yes 1:11-17; 58:1-14; Amos 4:1-8).

5.Setiap hari Minggu (Sabat) kita ke gereja untuk bersyukur dan mengalami sukacita yang datang dari Allah. Sekembali dari perayaan Ekaristi, kita diutus untuk mewartakan kabar sukacita tersebut kepada orang lain. Kalau kita mengasihi Allah di atas segalanya, berarti kita juga mengasihi sesama kita dengan memperhatikan apa yang mereka butuhkan, walaupun hari Sabat.

6.Kondisi apa yang harus kita buat agar orang lain memiliki hidup yang lebih baik dan berkualitas?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Minggu, 10 September 2017

Renungan Harian GML : Menasihati Sesama Saudara



Matius 18:15-20: Menasihati Sesama Saudara

A. Bacaan Injil hari ini berbicara tentang “Menasihati Sesama Saudara”. Mari kita baca perikop ini dalam konteks Injil Matius 18.

Sebelum perikop ini, Mat 18:12-14 berbicara tentang “Perumpamaan tentang domba yang hilang”. Sedangkan setelah perikop “Menasihati Sesama” ini, Mat 18: 21-35 berbicara tentang “Perumpamaan tentang pengampunan”. Jadi, kita bisa melihat secara umum :

1.Mat 18:12-14 : Allah Bapa itu begitu mengasihi umat-Nya. Jika ada satu ekor domba tersesat, Ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu. Ia tidak menghendaki anak-anak-Nya tersesat.
2.Mat 18:21-35 : Kita diajak untuk mengampuni sesama kita bukan sampai tujuh kali, melainkan sampat tujuh puluh kali tujuh kali. Singkatnya, mengampuni terus-menerus – tidak terbatas.

B. Jadi, jika kita membaca Injil hari ini, perikop “Menasihati Sesama Saudara”, ini harus dipahami dalam konteks untuk (1) mencari yang hilang, dan (2) salah satu cara tuk mengampuni terus-menerus. “Bagaimana caranya?” Injil kita hari ini memberikan solusi praktisnya : “Nasihatilah satu dengan yang lain”.

C. Ada 3 tahapan dalam memberi nasihat : (1) tegurlah di bawah empat mata. Jika tidak berhasil maka selanjutnya (2) bawalah seorang atau dua orang lagi. Jika tetap tidak berhasil, (3) sampaikan pada jemaat. Jika tidak berhasil lagi, “Cukup! Anggap saja dia tidak mengenal Allah.” Bagi saya ini menarik. Mungkin kita akan bertanya-tanya, “Dibawa kepada jemaat..? Bukankah itu justru menghakimi-Nya di muka umum..? Mempermalukannya..?” Jika kita coba memandangnya dengan lebih cermat, sebenarnya tidak. Ini justru salah satu cara untuk membantu sesama kita untuk menjadi lebih baik. Dan lebih menariknya, cukup berhenti pada jemaat (komunitas tertutup). Mereka tidak ingin membawa persoalan ini kepada khalayak umum (masyarakat luas). Berhenti pada mereka! Tidak mempermalukannya di depan umum.

D. Lalu bagaimana dengan situasi kita saat ini, “Lalu kita hanya diam saja kalau ada ketidakadilan di sekitar kita; ada sesuatu yang salah dan hanya bungkam; bahkan jika terjadi suatu kriminalitas dan kita tidak melaporkannya?” Tentu tidak! Bukan itu maksudnya. Dalam Injil hari ini, ini lebih berkaitan dengan “cara hidup”. Konteksnya adalah “konflik internal” pada saat itu – dalam kehidupan Gereja Perdana. Jika kita memandangnya saat ini, ini lebih berkaitan dengan “cara hidup kristiani, hidup berkomunitas, hidup bersama sebagai Anak-Anak Allah”. Kita dituntut untuk “lebih” dari kebanyakan orang. Lebih banyak memperhatikan antara yang satu dengan yang lain! Lebih banyak berbagi satu dengan yang lain! Lebih banyak mengasihi! Lebih banyak berbuat baik! Intinya, “Lebih.. lebih.. dan lebih..”. Jadi, tidak ada kaitannya  sama sekali dengan “tindakan kriminalitas atau ketidakadilan sosial”. Jika itu yang terjadi (kriminalitas dan ketidakadilan sosial), itu sudah jelas, kita tidak bisa menerimanya begitu saja. Bahkan, Yesus pun akan bertindak dan berkata-kata dengan “keras” jika melihat hal itu (bisa ditemukan dalam beberapa perikop di Injil).

E. Jadi, Injil hari ini lebih mengajak kita tuk peduli “mencari sesama kita yang hilang” dan “berusaha mengampuni mereka” dengan cara “menasihati mereka” sebagai bentuk “kasih sayang kepada sesama”. Bukan berarti juga bahwa kita lebih baik dari mereka, “Tidak sama sekali!” Dengan “menasihati”, kita pun diajak tuk mengintrospeksi diri, “Apakah aku juga melakukan hal yang sama?” Kebijaksanaan dan kerendahan hati dibutuhkan di sini.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 09 September 2017

Renungan Harian GML : MAKNA SABAT BAGI KITA: YESUS SEBAGAI IDENTITAS UMAT PERJANJIAN BARU


SABDA, Sabtu, 9-9-2017

BACAAN
Kol 1:21-23 – “Sekarang kamu diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya”
Luk 6:1-5 – “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara mengenai konflik tentang hari Sabat. Kepatuhan terhadap  Sabat merupakan Hukum yang paling  sentral, karena pada hari itu orang beristirahat dan mengkhususkan diri untuk saling bertemu dan beribadah. Jika tidak demikian, maka iman mereka akan hilang. Maka ketaatan terhadap Hukum Sabat terus dihidupkan.

2.Ay 1-2 – Penyebab konflik. Pada hari Sabat para murid berjalan melewati ladang gandum dan mereka mengambil bulir-bulir gandum. Penginjil Matius mengatakan: “Mereka lapar” (Mt 12:1). Bagi orang-orang Parisi, hal tersebut merupakan pelanggaran  berat: “Mengapa kamu melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” (Kel 20:8-11).

3.Ay 3-4 – Tanggapan Yesus. Yesus menanggapi dengan menyebut bahwa Daud sendiri juga melakukan hal-hal yang dilarang, karena ia mengambil roti persembahan dari Bait Allah dan memberikannya kepada para tentaranya, karena mereka lapar (1Sam 21:2-17). Yesus tahu Kitab Suci dan ingin menunjukkan bahwa argumentasi orang-orang Parisi tanpa dasar. Dalam Injil Matius, tanggapan Yesus lebih lengkap. Ia tidak hanya mengingatkan kisah Daud, tetapi juga mengutip Hukum yang membolehkan para imam bekerja pada hari Sabat. Ia mengutip kitab nabi Hosea: “Yang kukehendaki ialah belas kasih, bukan korban.”

4.Ay 5 – Kesimpulan bagi kita. Yesus mengakhiri konflik dengan berkata: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Yesus, Anak Manusia, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah menemukan makna Kitab Suci tidak dari luar, tetapi dari dalam, mulai dari kesatuan-Nya yang mendalam dengan penulis Kitab Suci sendiri yang adalah Allah. Karena hal ini, maka Ia menyebut diri-Nya Tuhan atas hari Sabat. Dalam Injil Markus, Yesus mengatakan: “Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27).

5.Sabat merupakan salah satu identitas bangsa Yahudi pada waktu itu, di samping Bait Allah dan Taurat. Siapa pun menghina ketiga identitas tersebut, bangsa Yahudi akan sangat marah. Tetapi Yesus telah mengatakan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Apa artinya? Kata-kata Yesus dimaksudkan bahwa Sabat, dan dua yang lain, tidak lagi menjadi identitas bangsa. Identitas tersebut digantikan secara baru  oleh Anak Manusia yang tidak lain adalah Tuhan kita Yesus Kristus.

6.Makna Sabat yang sesungguhnya adalah hari yang dikhususkan bagi Umat untuk mengingat dan merayakan kemurahan Allah, baik karena penciptaan maupun karena penebusan-Nya. Dalam Sabat, kita memiliki kesempatan khusus untuk membangun relasi dengan Allah dan membarui relasi dengan orang lain. Dan ini terjadi dalam Ekaristi, di mana Yesus sebagai pusat.

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id

Jumat, 08 September 2017

Renungan Harian GML : SILSILAH YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK ABRAHAM


SABDA, Jumat, 8-9-2017

BACAAN
Mi 5:2-5 – “Tibalah saatnya perempuan yang mengandung itu melahirkan”
Mat 1:1-16.18-23 – “Anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja Semesta merayakan kelahiran St.Maria. Kelahiran St. Maria tidak termuat dalam Kitab Suci, tetapi ditemukan dalam kitab Apokrip pada akhir abad kedua. Dalam kitab tersebut, St. Anna dan St Yoakim diketahui sebagai orang tua St. Maria. Pesta kelahiran St. Maria ini dimulai pada abad keenam dan dirayakan oleh Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, dan Anglikan.

2.Ay 1-16 – Awal dan akhir silsilah. Pada awal dan akhir silsilah, Matius menampilkan identitas Yesus. Ia adalah Mesias, Anak Daud dan Anak Abraham. Sebagai keturunan Daud, Yesus adalah jawaban Allah terhadap pengharapan orang-orang Yahudi (2Sam 7:12.16). Sebagai keturunan Abraham, Ia sumber berkat dan harapan semua bangsa di bumi. Dapat disimpulkan bahwa harapan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi terpenuhi dalam diri Yesus.

3.Memperhatikan daftar para nenek moyang Yesus, Matius membuat pola  3 x 14. Angka 14 adalah angka kesempurnaan. Dengan ini Matius menyatakan kehadiran Allah melalui semua generasi, dan dengan kehadiran Yesus, sejarah mencapai kepenuhannya.

4.Ada lima wanita disebut dalam silsilah. Empat di antara mereka sangat tidak biasa. Mereka adalah orang asing. Tamar, seorang wanita Kanaan, janda. Dengan Yuda ia memberi seorang anak (Kej 38:1-30). Rahab, seorang pelacur dari Yeriko. Ia membantu Israel masuk ke Tanah Perjanjian dan mengakui iman akan Allah. Bathsheba, seorang suku Hitit, isteri Uria, yang hamil oleh Raja Daud (2Sam 11:1-27). Ruth, seorang suku Moab, seorang janda miskin, tetap ingin bersama Naomi dan percaya pada Allah Israel (Ruth 1:16-18). Dengan Boaz, Ruth memperanakkan Obed, kakek Raja Daud (Ruth 3:1-15; 4:13-17). Melalui mereka ini, Allah mewujudkan rencana-Nya dan mengutus Mesias yang dijanjikan. Bagaimana dengan Maria? Jawaban ada pada  kisah Yoseph (ay 18-23).

5.Ay 18-23 – Yoseph seorang yang tulus hati. Ketidak-wajaran dalam diri Maria adalah bahwa ia mengandung sebelum hidup bersama dengan Yoseph, seorang yang tulus hati. Seandainya Yoseph mengikuti keadilan orang-orang Parisi, ia pasti menuduh dan mengadukan Maria ke pengadilan dan ia akan dilempari batu sampai mati. Yoseph seorang yang tulus hati dan mengikuti kehendak Allah, maka Yesus lahir ke dunia ini.

6.Nenek moyang Yesus ternyata ada orang-orang asing, pelacur dan orang berdosa. Apa artinya? Dengan silsilah Yesus Kristus tersebut, apa pandangan Anda tentang Allah?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 berkat.id

Kamis, 07 September 2017

Renungan Harian GML : Sudahkan Aku Membiarkan Yesus Masuk dalam Perahu Hidupku?


Bacaan Liturgi 07 September 2017

Kamis Pekan Biasa XXII

Bacaan Injil
Luk 5:1-11

Mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus.


Pada suatu ketika Yesus berdiri di pantai danau Genesaret.
Orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan sabda Allah.
Yesus melihat dua perahu di tepi pantai.
Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon,
dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu itu sedikit jauh dari pantai.
Lalu Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Setelah berbicara, Ia berkata kepada Simon,
"Bertolaklah ke tempat yang dalam
dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
Simon menjawab,
"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras
dan kami tidak menangkap apa-apa.
Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga."

Dan setelah mereka melakukannya,
mereka menangkap ikan dalam jumlah besar,
sehingga jala mereka mulai koyak.
Lalu mereka memberi isyarat
kepada teman-temannya di perahu yang lain,
supaya mereka datang membantu.
Maka mereka itu datang,
lalu mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Melihat hal itu Simon tersungkur di depan Yesus dan berkata,
"Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa."
Sebab Simon dan teman-temannya takjub
karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.
Demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus,
yang menjadi teman Simon.
Yesus lalu berkata kepada Simon,
"Jangan takut. Mulai sekarang engkau akan menjala manusia."

Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat,
mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus.

Renungan
Pada tahun 2010 saya memulai kuliah di Roma. Kuliah dibawakan dalam bahasa Italia. Buku sumber yang digunakan berbahasa Inggris. Mata kuliah yang digeluti adalah bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Sementara itu bahasa yang paling saya kuasai hanya bahasa ngoko. Ngoko adalah bahasa Jawa tingkat paling rendah. Tahun-tahun pertama di tempat asing sungguh menakutkan sampai terkencing-kencing.
Pelan-pelan pola belajar mulai tumbuh sehingga mengurangi rasa takut dalam menggulati hal-hal asing. Ketakutan muncul lagi bahkan lebih besar ketika harus menghadapi ujian. Oleh karena itu saya berusaha sekuat tenaga memahami buku yang akan diujikan. Frustrasi dan putus asa melanda ketika dosen meminta saya untuk mengulang ujian mata kuliah Arkheologi.
Setelah merasa lebih siap saya pun datang kepada dosen untuk mengulang ujian itu secara lisan. Satu dua pertanyaan bisa saya jawab. Terakhir, dosen membuka buku halaman agak belakang dan meminta penjelasan atas persoalan di dalamnya. Bagian itu belum sempat saya dalami. Saya tidak bisa memberi penjelasan. Dosen pun berkomentar, “Anda membaca buku hanya bagian depan, dan bagian belakang tidak disentuh. Anda nanti datang lagi untuk mengulang ujian!” Ini adalah pengalaman traumatis bagi saya. Pengalaman ini membuat saya sama sekali berani kembali lagi untuk mengulangi ujian mata kuliah Arkeologi ini.
Celakanya ujian mata kuliah yang lain sudah menanti. Kali ini adalah mata kuliah Kebijaksanaan Mesopotamia. Jam 10.00 pagi saya harus menghadap dosen melakukan ujian lisan lagi. Gugup tiada tara dan saya sudah memastikan bahwa kali ini akan gagal lagi. Tidak ada hal lain yang bisa saya buat selain berserah kepada Tuhan. Jam 08.00 saya masuk kapel dan berlutut memohon kekuatan untuk bisa menerima diri bila gagal lagi.
Sampai di tempat ujian terlihat beberapa mahasiswa masih mengantri. Saya pun duduk di kursi antrian sambil garuk sana garuk sini gelisah. Tak sengaja tangan menjamah kursi kosong di samping saya. Sentuhan tangan saya merasakan lembaran kertas tergeletak di kursi itu. Iseng-iseng saya amati, saya buka-buka dan saya baca tulisan dalam kertas itu. Ternyata isinya adalah ringkasan bahas ujian yang sebentar lagi saya hadapi. Tidak menyia-nyiakan waktu langsung saya bawa kertas itu ke dalam kelas dan saya tulis kembali rangkumannya di papan tulis lalu dari kejauhan saya hafalkan alur rangkuman itu. Alhasil saya dinyatakan lulus. Mukjizat telah saya alami. Ketika mengerahkan dan mengandalkan seluruh kemampuan, saya gagal. Ketika berserah dan mengandalkan rahmat Tuhan, saya berhasil.
Bacaan hari ini mengisahkan Petrus yang pasrah kepada Tuhan Yesus. Petrus adalah seorang penjala ikan dan tahu persis segala sesuatu tentang pekerjaan menjala. Yesus berlatarbelakang tukang kayu, yang tidak ada kaitannya dengan ikan. Akan tetapi Petrus menanggalkan segala kemampuan dan pengetahuannya dan mengikuti begitu saja apa yang dikatakan oleh Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.“ Kerja keras tanpa Yesus tidak menghasilkan apa-apa. Kerja dalam perintah Yesus, ikan berkelimpahan didapat bahkan hampir mengoyakkan jala. Ketika Petrus menjadikan Yesus sebagai komando, mukjizat pun terjadi. Ketika Petrus merasa tidak layak di hadapan Yesus, malahan dia diangkat Yesus untuk berkarya bagi-Nya.
Sudahkan aku membiarkan Yesus masuk dalam perahu hidupku? Sudahkah aku menjadikan Yesus sebagai komando dalam pekerjaanku?

Oleh Rm.  Supriyono Venantius SVD

Rabu, 06 September 2017

Renungan Harian GML : DOA MENJADI SUMBER KEKUATAN TUGAS PERUTUSAN


SABDA, Rabu, 6-9-2017

BACAAN
Kol 1:1-8 – “Sabda kebenaran telah sampai kepadamu, demikian juga kepada seluruh dunia”
Luk 4:38-44 – “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil, sebab untuk itulah Aku diutus”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menceriterakan empat kejadian yang berbeda: penyembuhan ibu mertua Petrus (Lk: 38-39), penyembuhan banyak orang sakit pada malam hari sesudah Sabat (ay 40-41), doa Yesus di tempat yang sunyi (ay 42), dan tugas perutusan-Nya (ay 43-44).

2.Ay 38-39 – Yesus memulihkan kehidupan demi pelayanan. Sesudah mengikuti perayaan Sabat di Sinagoga, Yesus pergi ke rumah Petrus dan menyembuhkan mertuanya. Kesembuhannya membuat orang tersebut menempatkan diri untuk siap melayani.

3.Ay 40-41 – Yesus menerima dan menyembuhkan orang-orang yang terpinggirkan. Pada malam hari, sesudah Sabat selesai, Yesus menerima dan menyembuhkan orang-orang sakit dan yang kerasukan setan. Mereka ini adalah orang-orang yang paling terpinggirkan pada waktu itu. Mereka tidak mempunyai seorang pun untuk bisa didatangi. Hidup mereka sangat tergantung pada belaskasihan orang lain. Di samping itu, agama menyatakan bahwa mereka adalah najis, sehingga mereka tidak bisa terlibat dalam kegiatan umum masyarakat. Sepintas, seolah-olah, Allah menghukum dan menyingkirkan mereka. Yesus menerima dan menyembuhkan mereka dengan menumpangkan tangan atas masing-masing dari mereka. Dengan tindakan Yesus tersebut, Ia menerima dan menyatukan mereka ke tengah masyarakat, untuk hidup bersama orang lain.

4.Ay 42a – Yesus bersatu dengan Bapa lewat doa. Di tempat yang sunyi Yesus berdoa. Yesus selalu berusaha  sungguh-sungguh untuk memiliki waktu berdoa. Ia memilih tempat yang sepi agar selalu tinggal bersama Allah. Melalui doa, Ia mempertahankan semangat perutusan-Nya.

5.Ay 42b-44 – Mempertahankan semangat perutusan tanpa memikirkan hasil. Yesus menjadi sangat terkenal. Orang-orang mengikuti Dia dan mereka tidak ingin Ia meninggalkan mereka. Yesus tidak menanggapi permintaan mereka, dan Ia berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Tugas perutusan Yesus: tidak berhenti pada hasil yang telah Ia dapatkan, tetapi Ia menghendaki untuk selalu menghidupkan semangat kesadaran tentang perutusan; betapa pentingnya tugas perutusan. Itulah perutusan yang diterima dari Bapa.

6.Yesus menghabiskan banyak waktu untuk berdoa agar selalu bersama Bapa-Nya. Berapa lama dan berapa intensip aku mempersembahkan waktu untuk berdoa?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 berkat.id

Selasa, 05 September 2017

Renungan Harian GML : DALAM YESUS, KITA MENJADI DIRI SENDIRI


SABDA, Selasa,5-9-2017

BACAAN
1Tes 5:1-6.9-11 – “Kristus telah wafat untuk kita, agar kita hidup bersama Dia”
Luk 4:31-37 – “Aku tahu siapa Engkau: Engkaulah Yang Kudus dari Allah”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini (Lk 4:31-37) kita melihat  kekaguman orang-orang karena cara Yesus mengajar dan menyembuhkan orang yang kerasukan roh jahat.

2.Ay 31 –  “Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat.” Penginjil Matius mengatakan bahwa Yesus tinggal di Kapernaum (Mt 4:13). Dengan tinggal di Kapernaum, memudahkan kontak dengan orang-orang setempat dan memudahkan penyebaran Kabar Baik.

3.Ay 32 – Kekaguman orang-orang terhadap pengajaran Yesus. Hal pertama yang dirasakan orang-orang ialah bahwa Yesus mengajar dengan cara yang berbeda. Ia menciptakan hatinurani yang kritis di antara penduduk Kapernamun sehubungan dengan para penguasa keagamaan. Bukan masalah isi pengajaran yang membuat mereka kagum, tetapi cara Ia mengajar: “perkataan-Nya penuh kuasa.” Penginjil Markus menulis: “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mk 1:22). Para ahli kitab mengajar dengan mengutip Hukum dan ajaran yang sudah ada. Tidak demikian dengan Yesus. Ia berbicara berdasarkan pengalaman-Nya akan Allah dan hidup pribadi-Nya.

4.Ay 33-35 – Yesus berperang melawan kuasa jahat.  Mukjijat pertama ialah mengusir kuasa jahat. Kuasa jahat merasuki orang-orang. Yesus memulihkan mereka menjadi diri mereka sendiri, memulihkan kesadaran dan kebebasan mereka. “Diam, keluarlah dari padanya!” Sekarang ini banyak orang  terasing dari diri mereka sendiri, karena dikuasai oleh sarana-sarana komunikasi (HP), dikuasai oleh propaganda organisasi tertentu. Mereka menjadi terasing terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Mereka kehilangan jati diri. Sangatlah sukar mengusir kekuatan ini dan memulihkan mereka menjadi diri mereka sendiri.

5.Ay 36-37 – Yesus tidak hanya berbeda dalam cara Ia mengajar tentang Allah, tetapi ada aspek lain yang membuat orang-orang kagum adalah kuasa-Nya terhadap roh-roh jahat: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Yesus telah membuka jalan sehingga orang dapat menempatkan diri di hadapan Allah dan menerima berkat-berkat yang dijanjikan kepada Abraham.

6.Yesus membuat orang-orang kagum dan heran. Apakah aku, keluargaku, lingkunganku, parokiku menjadikan orang-orang  sekitar menjadi kagum?

7.Orang sekarang kecanduan HP, sehingga komunikasi antar pribadi sangat minim. Orang saling acuh tak acuh dan terasing. Bagaimana Anda dapat membantu mereka untuk mengatasi hal tersebut, sehingga mereka menjadi diri mereka sendiri?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 www.berkat.id

BARU:
Devosi Kerahiman Ilahi
KATA-KATA KRISTUS BAGI PARA IMAM lewat St. Faustina.
Klik www.berkat.id

Senin, 04 September 2017

Renungan Harian GML : MENJADI GEREJA KAUM MISKIN DAN TERTINDAS


SABDA, Senin, 4-9-2017

BACAAN
1Tes 4:13-17 – “Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan oleh Allah bersama Yesus”
Luk 4:16-30 – “Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orng miskin, ... “

RENUNGAN
1.Mulai hari ini kita merenungkan Injil Lukas sampai akhir tahun liturgi. Injil hari ini bicara tentang kunjungan Yesus ke Nasaret dan Ia membeberkan rencana-Nya di dalam Sinagoga. Pada awalnya, orang-orang kagum, tetapi ketika Yesus menerima semua orang, tanpa kecuali, mereka memberontak dan hendak membunuh-Nya.

2.Ay 16-19 – Didorong oleh Roh Kudus, Yesus kembali ke Galilea dan  mengumumkan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah. Ia mengajar di Sinagoga-sinagoga dan sampailah di Nasaret di mana Ia dibesarkan. Pada hari Sabat, Ia pergi ke Sinagoga. Ia memilih teks kitab Yesaya yang bicara tentang orang miskin, orang yang dipenjara, orang buta dan orang yang tertindas (Yes 61:1-2). Teks ini merupakan gambaran situasi orang-orang Galilea pada jamannya Yesus. Atas nama Allah yang berbelas kasih, Yesus berpihak kepada mereka dan mengumumkan tugas perutusan-Nya: (1) Menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin. (2) Menyatakan pembebasan kepada orang tawanan. (3) Memberikan penglihatan kepada orang buta. (4) Membebaskan orang yang tertindas. (4) Memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Keempat perutusan tersebut, sesungguhnya, adalah tugas perutusan Gereja sekarang ini. Gereja kaum miskin.

3.Ay 20-22 – Sesudah selesai membaca, Yesus mengatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dengan mengatakan demikian, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias  yang datang untuk menggenapi nubuat para nabi. Secara spontan, orang-orang dalam Sinagoga melawan-Nya. Dan mereka tidak mau tahu segala sesuatu tentang Yesus. Mereka tidak menerima bahwa Yesus adalah Mesias sebagaimana dikatakan oleh Yesaya. Ia diusir dari Sinagoga.

4.Ay 23-30 – Untuk mengatasi keributan yang terjadi, Yesus mengatakan dua kisah Kitab Suci, yaitu kisah nabi Eliya dan nabi Elisa. Dua kisah tersebut mengecam ketertutupan hati dan pikiran orang-orang Nasaret. Eliya diutus kepada seorang janda di Sarfat (1Raj 17:7-16). Elisa diutus  kepada Naaman, orang Siria (2Raj 5:14). Mereka tidak diutus kepada orang-orang Israel. Kisah tersebut justru membuat orang-orang makin marah. Mereka hendak membunuh Yesus. Lukas ingin mengatakan kepada kita bahwa sangat sukarlah mengatasi dan mengubah mentalitas sebagai bangsa istimewa dan pikiran dan hati yang tertutup.

5.Sudahkah program Yesus menjadi program Gereja, baik di tingkat keluarga, lingkungan, paroki dan keuskupan?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Minggu, 03 September 2017

Renungan Harian : MENGIKUTI JALAN YESUS: MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIBNYA


SABDA, Sabtu, 3-9-2017


BACAAN
Yer 20:7-9 – “Firman Tuhan telah menjadi cela dan cemooh bagiku sepanjang hari”
Rom 12:1-2 – “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup”
Mat 16:21-27 – “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini ditempatkan sesudah pengakuan iman Petrus (Mt 16:13-20) dan sebelum Yesus menampakkan kemuliaan-Nya (Mt 17:1-8). Teks dibagi dua: Ayat 21-23, Yesus meramalkan kematian dan kebangkitan-Nya. Ia telah ditentukan untuk mengikuti rencana Allah. Ay 24-27, Yesus menunjukkan konsekuensi  mengenal dan mengikuti Dia sebagai Mesias yang menderita. Tak seorang pun bisa menjadi murid-Nya kecuali jika ia berjalan pada jalan yang sama.

2.Ay 21-23 – Yesus mulai memperjelas kepada para murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menderita sengsara di tangan para tua-tua, imam-imam kepala, dan para ahli kitab dan Ia dijatuhi hukuman mati dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menarik Yesus kesamping, dan menegor-Nya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Yesus berpaling dan memarahi Petrus: “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

3.Ay 24 – Syarat mengikuti Yesus: menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Dia. Menyangkal diri dan memikul salib adalah cara hidup Yesus seturut rencana Allah. Dengan cara itu Ia telah memberikan nyawa-Nya untuk para sahabat-Nya (Yoh 15:13). Mengikut Dia berarti mengikuti jalan hidup-Nya.

4.Ay 25-26 – “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Nyawa adalah milik Tuhan, maka harus kita persembahkan hanya kepada Tuhan, bukan kepada harta atau kepuasan sesaat. Kita akan kehilangan nyawa apabila dalam hidup ini  hanya mencari kekayaan untuk diri sendiri, apalagi dengan menghalalkan segala cara, seperti diakukan oleh para koruptor bangsa ini. Orang yang memberikan diri demi kebahagiaan orang lain, menyangkal diri sendiri, mengalami kebahagiaan yang datang dari Allah. Ia telah memperoleh hidup.

5.Ay 27 – “Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya .... Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Sabda Tuhan tersebut merupakan sebuah pengharapan saat kedatangan Anak Manusia pada akhir jaman. Ia akan bertindak sebagai Hakim atas seluruh umat manusia. Dalam Sabda tersebut, keadilan Sang Hakim Agung dinampakkan: masing-masing orang akan menerima pembalasan sesuai dengan tingkah laku dan perbuatannya.

6.Mengapa Petrus mencoba menghalangi Yesus dari penderitaan? Mengapa Yesus menyebut Petrus Setan? Apa sulitnya mengikuti Yesus?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id
INFO: telah terbit
Lima unsur pokok dalam Devosi Kerahiman Ilahi. Klik www.berkat.id

Sabtu, 02 September 2017

Renungan Harian GML : GAMBARAN ALLAH YANG BENAR HANYA ADA DALAM YESUS


SABDA, Sabtu, 2-9-2017

SABDA
1Tes 4:9-11 – “Kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah”
Mt 25:14-30 – “Karena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan perumpamaan tentang talenta. Maksud perumpamaan: hendaknya kita bertindak agar Kerajaan Allah tumbuh. Masing-masing dari kita menerima pemberian dan kharisma dari Allah, sehingga kita bisa saling belajar bagaimana menumbuhkan Kerajaan Allah.

2.Ay 14-15 – Sebelum tuan itu pergi, ia memberi lima, dua, dan satu talenta menurut kemampuan masing-masing orang. Satu talenta sama dengan 34 kg emas. Jumlah yang tidak sedikit. Orang tidak tahu untuk maksud apa tuan itu mempercayakan uangnya kepada hamba-hambanya.

3.Ay 16-18 – Dua orang yang pertama bekerja dan mampu melipatgandakan uangnya, tapi yang terakhir menyembunyikan uangnya sehingga uang itu tidak hilang. Setiap orang menerima  talenta dari Tuhan, tetapi tidak semua orang menanggapi dengan cara yang sama.

4.Ay 19-23 – Sesudah waktu yang lama, tuan itu kembali. Dua hamba yang pertama mengatakan hal yang sama: “Tuan, lima/dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima/dua talenta.” Tuan itu memberi tanggapan yang sama: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

5.Ay 24-25 – Orang ketiga menuduh si tuan itu kejam, maka ia menyembunyikan uangnya dan mengembalikannya kepada tuan itu. Dari hamba yang ketiga ini, kita dihadapkan gambaran Allah yang keliru yang dikritik oleh Yesus. Hamba itu memikirkan Allah sebagai tuan yang kejam. Di hadapan Allah yang demikian, orang menjadi takut. Orang yang demikian sebenarnya tidak percaya kepada Allah, tetapi hanya percaya kepada dirinya sendiri dan kemampuannya dalam menjalankan Hukum. Ia memisahkan diri dari Allah dan tidak mau terlibat dengan orang lain. Allah yang dipahami sebagai kejam mengucilkan orang,  mematikan komunitas, mengakhiri sukacita dan mempermiskin kehidupan.

6.Ay 26-27 – Hamba yang ketiga dihukum bukan oleh Allah, tetapi oleh gambaran yang salah tentang Allah yang membuat dia takut dan tidak bertanggungjawab.

7.Ay 28-30 – Tuan itu memerintahkan untuk mengambil talenta dari dia dan memberikannya kepada orang yang memiliki sepuluh talenta. Yang dimaksud dengan talenta adalah kasih, pelayanan, dan berbagi; segala sesuatu yang membantu kita untuk menumbuhkan dan menyatakan kehadiran Allah. Seseorang yang tidak memikirkan dirinya sendiri dan memberikan diri untuk orang lain, akan menerimanya kembali dengan cara yang tidak disangka-sangka. Setiap orang yang kehilangan hidupnya akan memperolehnya. Bagaimana dengan Anda?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Jumat, 01 September 2017

Renungan Harian GML : MENEMUKAN KEHADIRAN DAN PANGGILAN ALLAH KINI DAN DI SINI


SABDA, Jumat, 1-9-2017

BACAAN
1Tes 4:1-8 – “Inilah kehendak Allah, yaitu supaya kamu semua kudus”
Mt 25:1-13 – “Lihatlah pengantin datang, pergilah menyongsong dia!”

RENUNGAN
1.Ay 1a – “Pada waktu itu.” Tak seorang pun tahu waktu yang ditetapkan itu, hanya Bapa yang tahu (Mt 24:36). “Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mt 24:44). Bisa hari ini bisa besok. Maka dalam perumpamaan dikatakan: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

2.Ay 1b-4 – Sepuluh gadis siap menunggu kedatangan mempelai laki-laki. Mereka harus membawa lampu untuk menerangi jalan, dan agar suasana pesta lebih meriah dengan adanya lampu-lampu. Ada sepuluh gadis, lima bijaksana dan lima bodoh. Perbedaan dapat dilihat ketika harus menyiapkan diri untuk tugas mereka. Gadis yang bijak: selain membawa lampu, juga membawa persediaan minyak. Gadis yang bodoh hanya membawa lampu dan mereka tidak pernah berpikir tentang minyak sebagai persediaan.

3.Ay 5-7 – Karena kedatangan mempelai yang tidak tepat waktu, maka mengantuklah mereka dan tertidur. Tiba-tiba pada tengah malam ada suara orang berseru: “Mempelai datang! Songsonglah dia!” Mereka bangun dan menyiapkan lampu. Mereka harus menambahkan minyak agar lampu  tidak mati.

4.Ay 8-9 – Sikap yang berbeda. Gadis yang bodoh menjadi sadar bahwa mereka harus membawa persediaan minyak. Mereka minta minyak kepada gadis yang bijak. Gadis yang bijak tidak menanggapi permintaan mereka dan mereka menyertai mempelai masuk ke dalam ruang pesta. Mereka menyarankan kepada gadis yang bodoh: “Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.”

5.Ay 10-12 – Nasib gadis yang bijak dan gadis yang bodoh. Gadis yang  bodoh mengikuti saran gadis yang bijak: mereka pergi untuk membeli minyak. Selama kepergian mereka, mempelai datang dan gadis bijak mengikuti dia dan masuk bersama dia ke dalam pesta perkawinan. Kemudian pintu ditutup. Gadis yang bodoh datang dan mengetuk-ngetuk pintu: “Tuan-tuan, bukakanlah kami pintu!” Mereka mendapat jawaban: “Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.”

6.Ay 13 – Nasehat Yesus kepada kita semua. Perumpamaan ini sangat sederhana, namun isinya terang dan jelas: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Oleh Tuhan Yesus kita diajak untuk melihat saat sekarang ini, dan berusaha menemukan kehadiran dan panggilan Allah dalam hal-hal paling kecil dan sederhana dalam kehidupan kita. Siapkah aku?

 ðŸ‡®ðŸ‡©MS🇮🇩 berkat.id