Senin, 25 September 2017

Renungan Harian GML : “Apakah aku sudah membawa ‘benih’ dan ‘pelita’ bagi sesamaku?"


Sabda 25 September 2017

Lukas 8:16-18: Perumpamaan Tentang Pelita

A. Injil kita hari ini berbicara mengenai “Perumpamaan Tentang Pelita”. Perikop ini perlu dibaca dengan perikop sebelumnya (Luk 8:4-15) yang berbicara tentang “Perumpamaan Tentang Seorang Penabur”.

B. Benih itu adalah Firman Allah. Lalu ditabur, sebagian jatuh di pinggir jalan, sebagian jatuh di berjalan berbatu-batu, sebagian lagi di tengah semak duri, dan sebagian lagi jatuh di tanah yang baik. Lalu Yesus menerangkan arti perumpamaan ini kepada para murid di ayat 9-15. Lalu pada 16 (Injil hari ini), Yesus berkata bahwa “tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupnya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.” Ini berarti bahwa “perumpamaan tentang penabur” di perikop sebelumnya yang dipahami oleh para murid sebagai “pelita” hendaknya diwartakan pula kepada banyak orang sehingga “tumbuh di tanah yang baik” dan semua orang dapat melihat cahaya-Nya. Itu berarti bahwa “Firman Allah” ini harus disampaikan. Lalu, “Apa Firman Allah itu sendiri?”

C. Firman Allah itu adalah Yesus itu sendiri. Yesus-lah yang perlu diwartakan. Yesus-lah yang menjadi benih. Yesus-lah yang harus tumbuh dalam diri setiap orang, bukan lagi dirinya sendiri. Dan, “Yesus”-lah Sang Pelita yang perlu ditempatkan di atas kaki dian, sehingga semua orang dapat melihat cahaya-Nya.

D. Lalu Yesus menasihati pada ayat 8b, “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar.” Dan hal ini diperjelas lagi pada ayat 18a, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.” Lalu pertanyaannya, “Apa artinya kedua ayat ini?”

E. Ini artinya, “Kita diajak untuk mendengarkan Firman Allah (ayat 8b), tapi perhatikan juga cara mendengarnya (ayat 18a). Jangan sampai, setelah mendengarkan kita melupakannya dan ‘benih’ itu tidak tumbuh, dan ‘pelita’ itu tidak ditempatkan di kaki dian!” Singkatnya, ini berarti kita diajak untuk membawa “Firman Allah” (Yesus itu sendiri) dalam hidup kita sehari-hari dan membiarkan-Nya tumbuh dalam hidup kita dan mewujud dalam tindakan baik kita sehari-hari. Sehingga, dari hari ke hari “Firman” itu tumbuh dan orang-orang di sekitar kita dapat merasakan “buah” dan “terang”-Nya.

F. Lalu pertanyaannya buat kita saat ini, “Apakah aku sudah membawa ‘benih’ dan ‘pelita’ bagi sesamaku?”

Oleh : Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar