Jumat, 15 September 2017

Renungan Harian GML : BELAJAR BERIMAN DARI BUNDA MARIA YANG BERDUKA CITA


SABDA, Jumat, 15-9-2017

BACAAN
Ibr 5:7-9 – “Kristus telah belajar menjadi taat, dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi”
Yoh 19:25-27 – “Inilah anakmu! Inilah ibumu!”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan Bunda Maria yang berduka cita.

2.Di kayu salib, Yesus sendirian. Para murid lari tercerai berai karena takut. Tidak tahu kemana. Tetapi di bawah salib berdiri Maria, ibu-Nya, wanita-wanita lain dan Yohanes, murid yang dikasihi Yesus. Mereka ini menunjukkan cinta yang begitu besar kepada Yesus. Bagi mereka, cinta kepada Yesus mengalahkan takut. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4:18).

3.Ketika malaikat Gabriel pertama kali memberitahukan kabar dari Allah, dia tidak menyinggung tentang kesengsaraan yang bakal dialami oleh Maria. Tetapi, segera sesudah Yesus lahir, Simeon menggenapi perutusan Maria: “ ... dan sebilah pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:35). Dalam mengikuti puteranya selama penyaliban, Maria begitu rindu untuk memenuhi rencana Allah, yang baginya tetap misteri, dengan berdiri dekat Yesus dengan semua duka yang ia alami.

4.Kata-kata yang diucapkan Yesus kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya merupakan pesan Yesus yang terakhir. Ia mewariskan yang paling berharga kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya. Kepada Maria, Yesus memberikan sahabat-Nya yang begitu Ia kasihi, yang akan membutuhkan bantuan Maria pada saat kesulitan. Kepada Yohanes, Yesus memberikan Maria, ibu-Nya, yang merupakan murid yang paling baik. Yesus tahu bahwa Maria akan membutuhkan Yohanes untuk menghibur dan menyertainya.

5.Kisah Bunda Maria yang berduka cita adalah kisah cinta sejati yang menopang kita untuk tetap berharap, walaupun mengalami dukacita, kesengsaraan dan pencobaan. Maria tak pernah putus asa dalam menghadapi sengsara puteranya, karena ia memiliki iman dan harapan yang ia peroleh karena percaya kepada Allah.

6.Yang kita timba dari Bunda Maria yang berduka cita:
a) Maria tidak pernah mengeluh. b) Dalam penderitaannya,  Bunda Maria tetap tegar dan teguh beriman kepada Allah. Hati Maria hancur luluh, tetapi ia tetap beriman. c) Menyerah secara total kepada Allah. Dengan demikian, ia mampu melewati semua penderitaannya. d) Bunda Maria adalah ibu Keheningan. Hening di bawah salib lebih mengesankan daripada ribuan kata.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

0 komentar:

Posting Komentar