Kamis, 21 September 2017

Renungan Harian GML : Bukan orang sehat yang memerlukan tabib melainkan orang sakit

Bacaan Liturgi 21 September 2017

Pesta S. Matius, Rasul dan Pengarang Injil

Bacaan Injil
Mat 9:9-13
Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus.

Pada suatu hari,
Yesus melihat seorang yang bernama Matius
duduk di rumah cukai.
Yesus berkata kepadanya, "Ikutlah Aku!"
Maka berdirilah Matius, lalu mengikuti Dia.
Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Matius,
datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa,
makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.
Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi
kepada murid-murid Yesus,
"Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
Yesus mendengarnya dan berkata,
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
melainkan orang sakit.
Maka pergilah dan pelajarilah arti firman ini:
Yang Kukehendaki ialah belas-kasihan dan bukan persembahan,
karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa."

Pernahkah Anda mengalami kegagalan? Siapa yang memberitahukan kegagalan itu? Bagaimana cara memberitahukannya? Lalu bagaimana perasaan hati Anda ketika diberitahukan hal itu?
Saya pribadi pernah mengalami kegagalan. Pada tahun 2012, saya gagal, tidak lulus ujian mata kuliah Arkheologi di Institut Biblikum Roma. Dengan bahasa Italia yang sepotong-sepotong, saya berusaha menjawab pertanyaan Dosen. Lalu, Dosen menanggapi, “Pulanglah dulu, pelajari terlebih dahulu baik-baik bahannya!” Saya sangat sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya memang tidak bisa menjelaskan pertanyaan yang diberikan. Saya gagal, tapi Dosen tetap memberi peluang untuk menebus kegagalan itu. Saya harus mempelajari lagi mata kuliah itu.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menunjukkan kegagalan orang-orang Farisi. Ia berkata, “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Orang Farisi adalah tokoh-tokoh agama Yahudi. Sebagai tokoh tentu saja mereka sangat mengenal Kitab Suci. Akan tetapi perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Oleh karena itu Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa mereka gagal memahami Kitab Suci. Mereka gagal dalam hidup menurut perintah Kitab Suci. Yesus menunjukkannya dengan mengutip Kitab Nabi Hosea. Kutipan itu bisa dilihat dalam Hos 6:6. Nabi Hosea menyampaikan kritik terhadap praktek keagamaan yang tidak berbuah. Buah hidup beragama adalah belas kasihan kepada sesama. Belas kasihan hanya bisa ditujukan kepada orang yang lemah, tersingkir dan berdosa. Orang-orang yang berkuasa pada zaman Nabi Hosea rajin beribadah. Akan tetapi mereka melakukan ketidakadilan terhadap sesama. Mereka menyembah Allah, tetapi hidup mereka bertentangan dengan kehendak Allah. Nabi Hosea sebagai penyambung lidah Allah, menyerukan dengan tegas, kehendak Allah. Belas kasihan adalah hal yang lebih dikehendaki Allah dari pada persembahan.
Orang-orang Farisi menghakimi Yesus yang memanggil Matius, si pemungut cukai. Memungut cukai adalah pekerjaan yang penuh dosa. Mereka mencari keuntungan dari bangsanya sendiri dan bekerjasama dengan bangsa penjajah, yakni Roma. Selain menjajah, Roma juga merupakan bangsa yang tidak menyembah Allah. Oleh karena itu para memungut cukai disingkiri oleh orang Farisi. Sebaliknya, Yesus mengajak seorang pemungut cukai itu menjadi pengikut-Nya. Setelah itu Yesus berpesta bersama para pemungut cukai. Tentu saja perbuatan Yesus ini tidak bisa diterima oleh orang-orang Farisi. Penolakan orang-orang Farisi ini, bagi Yesus merupakan kegagalan mereka dalam memahami isi Kitab Suci. Mereka gagal menangkap kehendak Allah. Sikap Yesus dibenarkan oleh Kitab Suci. Sikap Yesus sesuai dengan kehendak Allah. Allah berbelas kasih kepada orang yang berdosa. Seperti seorang tabib datang untuk melayani orang sakit, demikianlah Allah datang untuk orang berdosa yang  memerlukan pertobatan. Orang-orang Farisi telah gagal. Akan tetapi Yesus memberi peluang untuk menebus kegagalan itu. Mereka harus mempelajari lagi isi Kitab Suci. Kitab Suci dengan jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki belas kasihan. Kita manusia berdosa membutuhkan belas kasihan Allah itu.
Sadarkah aku akan keberdosaanku yang membutuhkan belas kasih Allah? Sudahkah aku berbelas kasih kepada orang-orang yang disingkiri oleh sesamanya?

Oleh Rm Supriyono Venantius SVD

0 komentar:

Posting Komentar