Minggu, 10 September 2017

Renungan Harian GML : Menasihati Sesama Saudara



Matius 18:15-20: Menasihati Sesama Saudara

A. Bacaan Injil hari ini berbicara tentang “Menasihati Sesama Saudara”. Mari kita baca perikop ini dalam konteks Injil Matius 18.

Sebelum perikop ini, Mat 18:12-14 berbicara tentang “Perumpamaan tentang domba yang hilang”. Sedangkan setelah perikop “Menasihati Sesama” ini, Mat 18: 21-35 berbicara tentang “Perumpamaan tentang pengampunan”. Jadi, kita bisa melihat secara umum :

1.Mat 18:12-14 : Allah Bapa itu begitu mengasihi umat-Nya. Jika ada satu ekor domba tersesat, Ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu. Ia tidak menghendaki anak-anak-Nya tersesat.
2.Mat 18:21-35 : Kita diajak untuk mengampuni sesama kita bukan sampai tujuh kali, melainkan sampat tujuh puluh kali tujuh kali. Singkatnya, mengampuni terus-menerus – tidak terbatas.

B. Jadi, jika kita membaca Injil hari ini, perikop “Menasihati Sesama Saudara”, ini harus dipahami dalam konteks untuk (1) mencari yang hilang, dan (2) salah satu cara tuk mengampuni terus-menerus. “Bagaimana caranya?” Injil kita hari ini memberikan solusi praktisnya : “Nasihatilah satu dengan yang lain”.

C. Ada 3 tahapan dalam memberi nasihat : (1) tegurlah di bawah empat mata. Jika tidak berhasil maka selanjutnya (2) bawalah seorang atau dua orang lagi. Jika tetap tidak berhasil, (3) sampaikan pada jemaat. Jika tidak berhasil lagi, “Cukup! Anggap saja dia tidak mengenal Allah.” Bagi saya ini menarik. Mungkin kita akan bertanya-tanya, “Dibawa kepada jemaat..? Bukankah itu justru menghakimi-Nya di muka umum..? Mempermalukannya..?” Jika kita coba memandangnya dengan lebih cermat, sebenarnya tidak. Ini justru salah satu cara untuk membantu sesama kita untuk menjadi lebih baik. Dan lebih menariknya, cukup berhenti pada jemaat (komunitas tertutup). Mereka tidak ingin membawa persoalan ini kepada khalayak umum (masyarakat luas). Berhenti pada mereka! Tidak mempermalukannya di depan umum.

D. Lalu bagaimana dengan situasi kita saat ini, “Lalu kita hanya diam saja kalau ada ketidakadilan di sekitar kita; ada sesuatu yang salah dan hanya bungkam; bahkan jika terjadi suatu kriminalitas dan kita tidak melaporkannya?” Tentu tidak! Bukan itu maksudnya. Dalam Injil hari ini, ini lebih berkaitan dengan “cara hidup”. Konteksnya adalah “konflik internal” pada saat itu – dalam kehidupan Gereja Perdana. Jika kita memandangnya saat ini, ini lebih berkaitan dengan “cara hidup kristiani, hidup berkomunitas, hidup bersama sebagai Anak-Anak Allah”. Kita dituntut untuk “lebih” dari kebanyakan orang. Lebih banyak memperhatikan antara yang satu dengan yang lain! Lebih banyak berbagi satu dengan yang lain! Lebih banyak mengasihi! Lebih banyak berbuat baik! Intinya, “Lebih.. lebih.. dan lebih..”. Jadi, tidak ada kaitannya  sama sekali dengan “tindakan kriminalitas atau ketidakadilan sosial”. Jika itu yang terjadi (kriminalitas dan ketidakadilan sosial), itu sudah jelas, kita tidak bisa menerimanya begitu saja. Bahkan, Yesus pun akan bertindak dan berkata-kata dengan “keras” jika melihat hal itu (bisa ditemukan dalam beberapa perikop di Injil).

E. Jadi, Injil hari ini lebih mengajak kita tuk peduli “mencari sesama kita yang hilang” dan “berusaha mengampuni mereka” dengan cara “menasihati mereka” sebagai bentuk “kasih sayang kepada sesama”. Bukan berarti juga bahwa kita lebih baik dari mereka, “Tidak sama sekali!” Dengan “menasihati”, kita pun diajak tuk mengintrospeksi diri, “Apakah aku juga melakukan hal yang sama?” Kebijaksanaan dan kerendahan hati dibutuhkan di sini.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar