menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Selasa, 31 Oktober 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH HADIR DAN MENGUBAH HIDUP MENJADI BARU


SABDA, Selasa, 31-10-2017

BACAAN
Rom 8:18-25 – “Dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan”

Luk 13:18-21 – Kerajaan Allah “seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.”

RENUNGAN
1.Kerajaan Allah seumpama biji sesawi. Biji sesawi dikenal umum di Palestina, terutama dekat Danau Galilea. Dikenal karena biji tersebut sangat kecil. Para murid diharapkan memiliki iman sebesar biji sesawi ini (Luk 17:6). Keistimewaan dari biji ini adalah ketika ditaburkan dan ketika ia sudah menjadi pohon. Proses pertumbuhan dari biji menjadi pohon sangat luar biasa. Kerajaan Allah berproses seperti biji sesawi tersebut. Kerajaan Allah tumbuh dalam hati manusia yang menerima Sabda Kristus. Pertumbuhannya tidak bisa dilihat, namun membawa perubahan dari dalam. Ia menjadi manusia baru dalam Kristus; ia berbagi sukacita kepada orang lain.

2.Kerajaan Allah sama dengan ragi. Dalam kebudayaan Hibrani, ragi dianggap sebagai sesuatu yang buruk, maka ragi disingkirkan dari rumah-rumah mereka agar tidak mencemari pesta Paskah yang selalu memakai roti tanpa ragi. Para pemimpin keagamaan menolak Kerajaan Allah diumpamakan dengan ragi. Tetapi para pembaca menyadari kekuatan dari ragi tersebut: dari jumlah yang sangat sedikit tetapi mampu membuat adonan mengembang. Ragi ini, yang tercampur dan tersembunyi dalam tiga takar tepung, setelah beberapa saat mengkhamiri seluruh adonan dan mengembang.

3.Ketika seseorang menerima Sabda Tuhan,  ia menghasilkan perubahan dalam dirinya; ia menerima kehidupan baru, yaitu hidup dalam kasih. Ia dipanggil untuk membagi kasih Kristus tersebut kepada setiap orang yang ia jumpai. Mulai dari cara yang sederhana: tersenyum, memberi bantuan, menjadi pendengar yang baik. Dengan cara tersebut Kerajaan Allah hadir. Pertanyaan bagi kita adalah: apakah kita siap membangun Kerajaan Allah atau mengabaikan Kerajaan Allah?

4.”Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.”

Rm.  Maxi Suyamto

Senin, 30 Oktober 2017

Renungan Harian GML : ALLAH BERKUASA ATAS ROH-ROH JAHAT


SABDA, Senin, 30.10.2017

BACAAN
Rom 8:12-17 – Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah”

Luk 13:10-17 – “Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekali pun pada hari Sabat?”

RENUNGAN
1.Di salah satu rumah ibadat, Yesus berjumpa dengan “seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.” Kepadanya, Yesus menyampaikan kata-kata iman dan membebaskan serta memulihkan kesehatannya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.”

2. Melihat hal tersebut “kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat.” Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, karena Allah tidak bisa berhenti untuk mengasihi. Allah tidak bisa dibatasi oleh apa pun dan siapa pun dalam mencipta dan mengasihi. Yesus mengecam kepala rumah ibadat di depan umum: “Hai orang-orang munafik,  bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat ..... Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” “Semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.”

3. Dari Injil hari ini, Yesus mengajarkan siapa Allah? a) Allah itu penuh belas kasih. Ia berinisiatip menyembuhkan. b) Allah tahu beban derita manusia dan bagaimana menyembuhkannya. c) Sabat bukan hari berkabung, tetapi hari untuk memuji dan bersyukur karena Allah tidak berhenti berkarya dan mengasihi manusia. d) Allah membenci kemunafikan. e) Allah jauh lebih besar daripada roh-roh jahat dan memiliki kuasa untuk mengatasi mereka.

4.Dengan rendah hati mohon rahmat kepada Tuhan, agar kita mampu mengalahkan roh-roh jahat yang membelit hidup kita saat ini yang membuat hidup kita tidak berdaya dan iman menjadi layu.

Rm Maxi Suyamto                                                       

Sabtu, 28 Oktober 2017

Renungan Harian GML : Bukan karena Hebatku Tuhan Berkenan


Bacaan Liturgi 28 Oktober 2017

Pesta S. Simon dan Yudas, Rasul

Bacaan Injil
Luk 6:12-19
Yesus memilih dari antara murid-murid-Nya
dua belas orang yang disebut-Nya rasul.

Sekali peristiwa, 
Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. 
Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Keesokan harinya, ketika hari siang, 
Ia memanggil murid-murid-Nya, 
lalu memilih dari antara mereka 
dua belas orang yang disebut-Nya rasul.
Mereka itu ialah: 
Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, 
Andreas saudara Simon, 
Yakobus dan Yohanes, 
Filipus dan Bartolomeus,
Matius dan Tomas, 
Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot,
Yudas anak Yakobus, 
dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

Lalu Yesus turun bersama mereka 
dan berhenti pada suatu tempat yang datar. 
Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya, 
dan banyak orang lain 
yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, 
dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
Mereka datang untuk mendengarkan Dia 
dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; 
juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.
Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, 
karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, 
dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Renungan
Waktu SMP, pernah terjadi teman sebangku saya menyebut nama saya. Waktu itu sedang diadakan pemilihan ketua kelas. Dia mengusulkan supaya saya menjadi salah satu calon ketua kelas. Spontan tanggapan saya waktu itu marah. Saya pukul teman saya itu. Saya minta dia berhenti menyebut nama saya. Teman-teman lainnya tertawa melihat tingkah saya tersebut. Mereka paham bahwa saya tidak mau menjadi ketua kelas.
Saya memang paling tidak suka menjadi pemimpin. Saya tidak suka karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Saya ini pemalu. Penampilan juga kampungan. Bicara saya gagap. Sikap saya di muka umum salah tingkah. Hampir semua aspek kepribadian saya tidak bisa diandalkan untuk memimpin. Oleh karena itu sebenarnya seandainya saya membiarkan nama saya masuk bursa calon ketua kelas, belum tentu juga orang memilih saya. Pada umumnya orang anggota kelompok saja akan akan menggunakan kriteria khusus. Apa lagi memilih pemimpin, pasti ada standard an kriteria khusus.
Berbeda dengan Yesus, dalam bacaan Injil hari ini. Dalam Injil hari ini dikisahkan Yesus memilih 12 murid. Nama-nama yang dipilih ternyata orang-orang biasa. Beberapa dari mereka adalah penjala ikan. Yang paling aneh adalah nama yang kemudian dijelaskan menjadi pengkhianat. Yesus menentukan orang-orang yang dipilih di luar kriteria yang digunakan oleh manusia pada umumnya. Yesus memilih orang tanpa melihat kemampuan manusiawi. Yesus memilih orang orang bukan karena orang itu kaya, bukan karena orang itu berkedudukan dan punya jabatan tinggi, bukan karena orang itu pandai, bukan karena orang itu karir dan pekerjaannya bagus. Yesus memilih orang sederhadan dan biasa. Yesus mengandalkan daya dan kuasa ilahi yang akan bekerja pada orang-orang yang dipilih-Nya. Kuasa ilahi itulah yang akan bekerja dalam orang-orang yang dipilih-Nya. Yang paling penting ialah, orang itu mendengarkan Yesus dan melaksanakan apa yang difirmankan Yesus. Iman adalah satu-satunya bekal untuk menjadi orang pilihan Yesus. Entah secara manusiawi seseorang tidak berdaya dan rapuh, Tuhan dapan menguatkan dan memberdayakan orang yang beriman kepada-Nya.
Sadarkan aku bahwa iman dapat mengatasi kerapuhan manusiawiku? Beranikah aku mempercayakan segala kerapuhanku kepada Tuhan dan mengikuti kehendak-Nya?
Oleh Rm Supriyono Venantius

Kamis, 26 Oktober 2017

Renungan Harian GML : YESUS DATANG MEMBAWA PERTENTANGAN

SABDA, Kamis, 26-10-2017

BACAAN

Rom 6:19-23 – “Sekarang kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba Allah”

Luk 12:49-53 – “Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan”

RENUNGAN

1.Ay 49 – Yesus mengguncang para murid-Nya dengan kata-kata keras: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!”  Api adalah lambang kehadiran Allah (Kel 3:2), kemuliaan Allah (Yeh 1:4.13), kehadiran Allah yang melindungi (2Raj 6:17), kesucian Allah (Ul 4:24), pengadilan Allah (Zak 13:9), kemarahan Allah (Yes 66:15-16), lambang kehadiran Roh Kudus (Kis 2:3). Api Allah itu menyucikan, membersihkan, dan menginspirasi untuk takut akan Allah. Yesus mengharapkan api Allah telah menyala.

2.Ay  50 – Guncangan kedua: “Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung.” Yesus begitu rindu agar baptisan-Nya segera digenapi. Baptisan Yesus adalah membenamkan diri-Nya ke dalam penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib. Dengan baptisan-Nya ini, manusia diselamatkan.

3.Ay 51 – Guncangan ketiga: “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Kata-kata Yesus ini mengulangi nubuat nabi Mika (Mika 7:6). Damai yang dibawa Yesus dan diteruskan oleh para murid selalu mendapat pertentangan, terutama dari mereka yang merasa terancam baik ideologi, ajaran maupun posisi mereka. Maka sudah sewajarnya kalau kehadiran dan pewartaan Gereja selalu ditentang, dan murid-murid Yesus mengalami penganiayaan. Membawa pertentangan karena orang tidak mau menerima pewartaan Yesus. Maka kita harus memilih: mengasihi Allah atau mengasihi yang duniawi saja. Keselamatan kita ditentukan oleh pilihan kita.

4.Mohon rahmat Tuhan agar kita memiliki cinta kepada Allah di atas segala-galanya.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 25 Oktober 2017

Renungan Harian GML : SIKAP BERJAGA-JAGA

Bacaan Liturgi 25 Oktober 2017

Rabu Pekan Biasa XXIX

Bacaan Injil
Luk 12:39-48
Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya.


Pada suatu ketika 
berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, 
"Camkanlah ini baik-baik! 
Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, 
ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
Hendaklah kalian juga siap-sedia, 
karena Anak Manusia akan datang 
pada saat yang tak kalian sangka-sangka."
Petrus bertanya, 
"Tuhan, kami sajakah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan ini 
ataukah juga semua orang?"
Tuhan menjawab, 
"Siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana 
yang akan diangkat oleh tuannya 
menjadi kepala atas semua hambanya 
untuk membagikan makanan kepada mereka pada waktunya?
Berbahagialah hamba, 
yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya, 
ketika tuan itu datang.
Aku berkata kepadamu: 
Sungguh, tuan itu akan mengangkat dia 
menjadi pengawas segala miliknya.
Tetapi jika hamba itu jahat dan berkata dalam hatinya, 
'Tuanku tidak datang-datang.' 
Lalu ia mulai memukuli hamba-hamba lain, pria maupun wanita, 
dan makan minum serta mabuk,
maka tuannya akan datang 
pada hari yang tidak disangka-sangkanya 
dan pada saat yang tidak diketahuinya, 
dan tuan itu akan membunuh dia 
serta membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.

Hamba yang tahu akan kehendak tuannya, 
tetapi tidak mengadakan persiapan 
atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, 
ia akan menerima banyak pukulan.
Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya 
dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, 
ia akan menerima sedikit pukulan. 
Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya. 
Dan barangsiapa dipercaya banyak, 
lebih banyak lagi yang dituntut daripadanya.

Renungan
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang “Sikap Berjaga-Jaga”.

“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang […] Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” (Luk 12:37a, 40)

Seringkali kita memandang bahwa kedatangan Tuhan itu terjadi pada (1) akhir hidup kita (kematian), dan (2) pada akhir zaman. Jadi, perspektif yang dibawa adalah “perspektif masa depan”. Namun, kita pun perlu memahami dengan sungguh bahwa (1) kedatangan Tuhan itu pun telah terjadi “di masa lampau” (Yesus yang telah hadir di dunia sekitar 2000 tahun yang lalu), dan (2) “kini” bersama-sama dengan kita dan menyertai hidup kita dengan Roh Kudus-Nya. Maka dari itu, perspektif “kedatangan Tuhan” pun perlu dilihat lebih luas, dari konteks “masa lalu”, “kini” dan “masa depan”. 

Sederhananya, kita bisa membaca Sabda Tuhan hari ini sebagai berikut:

(1) Di “masa lalu”, Ia telah hadir dengan memberikan kita Sabda-Nya, termasuk bacaan hari ini (Luk 12:39-48), yang pesannya (2) “Berjaga-jagalah!” (saat ini), agar (3) jika tiba waktunya Ia datang, kita siap menyambut-Nya (di masa depan).

Maka dari itu, “Berjaga-jagalah!” akan selalu bersifat “saat ini” (bukan kemarin, bukan besok). Menyambut kedatangan Tuhan, itu berarti juga menyambut “sesama kita” yang ada di sekitar kita saat ini, karena mereka pun Citra Allah di dunia ini. Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apa yang perlu dilakukan secara konkrit dalam ‘berjaga-jaga’?” 

Salah satu jawabannya bisa kita temukan dalam perikop sebelumnya (Luk 12: 33-34). Di situ dikisahkan bahwa Yesus memberi nasihat kepada murid-murid-Nya, “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harga di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Pesannya jelas, “Carilah ‘harta surgawi’ yang tak lekang dimakan waktu (tak dapat dicuri dan tak rusak dimakan ngengat) dan hal itu dapat diwujudkan dengan konkrit, dengan saling berbagi dengan sesama kita saat ini”.  Dan hal ini pun dipertegas lagi dalam bacaan kita hari ini (ay. 42), “[…] menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya.” Jadi, inilah salah satu sikap konkrit “berjaga-jaga” yang dapat kita temukan dalam teks Lukas, “berbagi sedekah dan makanan (ay.33,42)” (sangat konkrit dan bukan sesuatu yang di awang-awang).

Akhirnya, “Maukah kita berjaga-jaga dengan saling berbagi dengan sesama kita saat ini?” Inilah tugas seorang hamba.

Oleh Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Selasa, 24 Oktober 2017

Renungan Harian GML : BERBAHAGIALAH HAMBA YANG DIDAPATI TUANNYA BERJAGA-JAGA KETIKA IA DATANG

SABDA, Selasa, 24-10-2017

BACAAN
Rom 5:12.15.17-19.20-21 – “Jika karena dosa satu orang maut telah berkuasa, betapa hebatnya mereka akan berkuasa dalam kehidupan”
Luk 12:35-38 – “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”

RENUNGAN
1.Ay 35 – Nasehat untuk berjaga-jaga. Sebelum lari dari Mesir, saat merayakan Paskah, orang-orang Israel harus bersiap diri, siap untuk pergi (Kel 12:11). Surat kepada jemaat di Efesus mengingatkan: “Berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan” (Ef 6:14). Lampu harus tetap bernyala, karena tanpa terang seseorang tidak dapat pergi dalam kegelapan malam.

2.Ay 36 – Sebuah perumpamaan. Dalam perumpamaan tersebut, tugas untuk menunggu kedatangan tuan membutuhkan kesiapsiagaan terus menerus, khususnya pada waktu malam, karena seseorang tidak tahu kapan tuannya akan kembali.

3.Ay 37 – Janji kebahagiaan. “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” Yesus menjanjikan kebahagiaan kepada hamba yang siap siaga: tuan akan menjadi hamba dan mulai melayani hamba yang menjadi tuan. Dalam Perjamuan Malam terakhir, Yesus mengajarkan bahwa walaupun Ia adalah Tuhan dan Guru, Ia menjadi hamba bagi semua (Yoh 13:4-17).

4.Ay 38 – Yesus mengulangi janji kebahagiaan. “Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.” Untuk mendapatkan kebahagiaan dibutuhkan kesiap-siagaan total. Tuan rumah dapat saja kembali pada tengah malam, pada jam tiga pagi, atau pada saat yang lain. Seorang hamba harus siap siaga, dan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan segera. Apakah aku sudah siap siaga penuh dan total?

 Rm Maxi Suyamto

Senin, 23 Oktober 2017

Renungan Harian GML :APA YANG KITA PUNYA ADALAH MILIK ALLAH

SABDA, Senin, 23-10-2017

BACAAN
Rom 4:20-25 – “Kita pun dibenarkan karena mengimani Allah”

Luk 12:13-21 – “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya”

RENUNGAN
1.Kebiasaan pada jamannya Yesus: segala perselisihan dibawa kepada seorang Rabbi (Guru) untuk penyelesaian. Yesus menolak ketika sebuah kasus diajukan kepada-Nya, malahan Ia memberi perumpamaan agar dipertimbangkan.

2.Yesus tidak menyalahkan seseorang yang kaya. Yang dikritik Yesus adalah orang yang egois, mementingkan diri sendiri, dan abai terhadap kebutuhan orang lain. Orang kaya, dalam kisah Lazarus, telah kehilangan rasa dan daya untuk terlibat dan membantu orang lain. Hidupnya hanya dihabiskan dengan hartanya dan yang menjadi perhatian hanyalah dirinya sendiri. Kematiannya menjadi akhir dari jiwanya.

3.Yesus mengingatkan kita untuk hati-hati atas semua keangkaraan yang menjurus kepada keserakahan. Keangkaraan adalah keinginan seseorang untuk mendapatkan harta secara salah, tidak wajar, dan menghalalkan segala cara, misalnya dengan cara korupsi, pungli,  suap, mengedarkan narkoba atau menghambur-hamburkan harta yang Tuhan berikan. Kebanyakan hidup dan karier mereka tamat di rutan KPK.

4.Apa yang kita miliki adalah pemberian Allah, diberikan kepada kita untuk kebaikan sesama, dunia, tetangga, komunitas, lingkungan, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kita disebut sebagai orang kaya dalam Tuhan, jika kita murah hati, memiliki cinta kasih, suka mengampuni dan adil.

 Rm Maxi Suyamto

Minggu, 22 Oktober 2017

Renungan Harian GML: KEWAJIBAN KITA: SETIA KEPADA NEGARA DAN SETIA KEPADA ALLAH

SABDA, Minggu Biasa XXIX, 22-10-17

BACAAN
Yes 45:1.4-6 – “Aku memegang tangan Koresh, supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya”
1Tes 1:1-5b – “Kami selalu teringat akan amal imanmu, akan usaha kasihmu dan ketekunan harapanmu”
Mat 22:15-21 – “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, orang-orang Parisi dan Herodian bertanya kepada Yesus apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar. Pertanyaan yang penuh akal bulus yang membelah pendapat umum, dan bertujuan ingin menyalahkan Yesus dan memperlemah pengaruh Yesus di antara orang-orang Yahudi.

2.Ay 15-17 – Pertanyaan orang-orang Parisi dan Herodian. Orang-orang Parisi dan Herodian adalah para penguasa lokal yang tidak populer di Galilea. Mereka memutuskan telah tiba waktunya untuk membunuh Yesus (Mt 12:14; Mk 3:6). Atas perintah para imam dan tua-tua, mereka bertanya kepada Yesus apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar. Pertanyaan yang penuh akal bulus dan kebencian. Mereka berusaha menjebak Yesus dan menuduh Dia. Jika Yesus menjawab:  membayar, mereka akan menuduh Dia bahwa Ia menjadi sahabat penjajah. Bila Ia menjawab tidak, mereka akan menuduh Dia sebagai subversif. Dan semuanya berakhir pada kematian Yesus.

3.Ay 21a – Jawaban Yesus: tunjukkan kepada-Ku sekeping mata uang logam. Yesus sadar akan tipu daya dan kemunafikan mereka. Yesus tidak membuang-buang waktu dan langsung pada inti pertanyaan: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan kaisar.”

4.Ay 21b – Kesimpulan Yesus: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

5.Kita ini warga dari dua kerajaan, yaitu warga sebuah Negara dan warga negara Kerajaan Allah. Keduanya membutuhkan kesetiaan tertentu dari kita. Apa yang diselenggarakan oleh negara untuk kepentingan umum, membutuhkan partisipasi rakyatnya, antara lain dengan membayar pajak. Kepada pemimpin negara kita harus hormat dan mengikuti semua peraturan yang ada, berani menyuarakan kebenaran, kejujuran, dan bertanggung jawab.

6.Apa saja yang kita punyai adalah pemberian Allah. Kepada Dia kita harus memberikan ketaatan tertinggi. Dan sebagai umat-Nya kita dituntut kesetiaan sempurna sampai akhir.

7.Kita mohon rahmat Tuhan agar  mampu menjalankan kewajiban kita terhadap negara dan kewajiban terhadap Allah.

Rm Maxi Suyamto

Sabtu, 21 Oktober 2017

Renungan Harian GML : BERANI MENJADI SAKSI KRISTUS SECARA TEGAS

SABDA, Sabtu, 21-10-2017

BACAAN
Rom 4:13.16-18 – “Sekali pun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya”
Luk 12:8-12 – “Barangsiapa menghujat  Roh Kudus, ia tidak akan diampuni”

RENUNGAN
1.Injil hari ini kelanjutan Injil kemarin (Luk 12:1-7): takut kepada Allah membawa seseorang untuk mengakui Yesus di depan semua orang, apa pun konsekuensinya.

2.Ay 8-9 – “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manausia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah.” Kadang-kadang sukar untuk mengakui Yesus di depan umum. Ketika kita mengetahui ada penghinaan terhadap Kristus, perusakan gereja-gereja, kita tidak melawan,  seperti tidak terjadi  apa-apa, seolah-olah menyetujui. Bahkan kita takut-takut untuk berdiri di depan Yesus, contohnya kalau kita harus membuat tanda salib di depan umum. Ketika di rumah tidak masalah untuk membuat tanda salib, bagaimana kalau sewaktu kita makan di restoran? Beban batin kita adalah: “Orang-orang pikir bahwa kita adalah orang Katulik. Malu.”

3.Ay 10 – “Barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Apakah ada dosa yang tak terampuni? Tidak ada. Semua dosa diampuni, karena cinta dan belas kasih Allah begitu kuat melebihi dosa. Kalau begitu apa arti Sabda tersebut? Begini: Roh Kudus selalu menyadarkan kita akan dosa-dosa kita, tetapi kita tidak mau menerimanya, tidak mau menyesal dan tidak mau bertobat.Kita menganggap bahwa dosa tersebut bukan dosa. Karena kita menolaknya, maka kita tidak mendapat pengampunan. Bila kita mati dalam keadaan seperti ini, maka kita baru  menyesal. Terlambat. Sesal kemudian tak berguna.

4.Ay 11-12 – Memberi kesaksian iman melalui hidup setiap hari. Mungkin kita belum cemas, karena belum akan diseret ke pengadilan karena iman. Kita mesti sadar, tidak penting ke mana kita pergi atau apa yang kita buat, kita ini adalah saksi-saksi Kristus. Dalam keseharian kita  memerlukan Roh Kudus selalu berbicara kepada kita agar kita mampu setia dalam iman ketika kita berhadapan dengan orang lain. Kita pun dituntut untuk selalu rendah hati dan hidup menurut keutamaan-keutamaan Kristen. Orang lain membutuhkan teladan dan kesaksian kita.

5.Kita mohon rahmat Tuhan agar Roh Kudus selalu menguasai hidup kita, karena kita sering lemah dalam bersaksi. Dan mohon agar kita memiliki kasih yang lebih besar agar pantas disebut orang beriman sejati.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 18 Oktober 2017

Renungan harian GML : HIDUP DENGAN CARA BARU DALAM KRISTUS


SABDA, Rabu, 18-10-2017

BACAAN
2Tim 4:10-17a – “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku”
Luk 10:1-9 – “Tuaian memang  banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan Santo Lukas Rasul. Bacaan Injil dipilih tentang pengutusan tujuhpuluh dua murid yang harus menyampaikan Kabar Gembira Allah.   Melalui perutusan tersebut, Yesus ingin  memulihkan kembali nilai-nilai tradisi hidup bersama yang telah hilang karena penjajahan Romawi, sehingga hidup bersama menjadi sebuah Perjanjian dan menjadi contoh Kerajaan Allah.

2.Ay 1-3 –   Yesus mengutus para murid untuk pergi ke tempat-tempat yang akan Ia kunjungi. Mereka sebagai juru bicara Yesus. Ia mengutus mereka berdua-dua. Hal ini menandakan agar mereka saling membantu, karena perutusan merupakan tugas komunitas orang beriman.

3.Ay 2-3 – Tanggung jawab bersama. Tugas pertama adalah berdoa agar supaya Tuhan mengirim para pekerja. Semua murid merasa mempunyai tanggung jawab untuk tugas perutusan ini. Yesus mengirim mereka seperti domba di tengah serigala. Artinya: misi itu merupakan tugas sulit dan berbahaya, karena sistem masyarakat di mana mereka hidup dan sering bertentangan dengan rencana pembaruan yang dibuat oleh Yesus.

4.Ay 4-6 – Keramahtamahan. Mereka tidak diperkenankan membawa barang-barang yang tidak perlu. Satu hal yang mereka bawa adalah damai. Mereka harus percaya terhadap orang-orang yang mereka jumpai. Para murid yakin bahwa orang-orang akan menerima mereka. Sikap ini merupakan kritik terhadap sistem masyarakat yang  menyingkirkan orang-orang miskin, sakit, orang-orang berdosa. “Janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan” artinya tidak boleh ada waktu yang disia-siakan dengan hal-hal yang tidak terkait dengan perutusan.

5.Ay 7 – Sharing. “Makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu ... Janganlah berpindah pindah rumah.” Mereka diwajibkan tinggal bersama orang lain, berpartisipasi dalam kehidupan dan pekerjaan mereka. Mereka harus percaya pentingnya sharing. Dengan cara ini para murid menyatakan sebuah model baru tentang hidup bersama.

6.Ay 8 – Berkumpul di sekitar meja. Orang-orang Parisi tidak percaya “kemurnian” makanan yang disediakan oleh masyarakat umum, maka kemana pun mereka membawa makanan sendiri. Sebaliknya, para murid harus makan yang disediakan oleh orang-orang yang dikunjungi. Mereka tidak boleh hidup terpisah dengan mereka; harus duduk semeja dengan mereka dalam keakraban.

7.Ay 9a – Menerima mereka yang disingkirkan. Para murid harus memperhatikan orang-orang sakit, menyembuhkan orang-orang kusta dan mengusir setan-setan. Hal ini berarti mereka harus menerima mereka yang disingkirkan, yang tidak pernah dibuat oleh orang-orang Parisi.

8.Ay 9b – Kehadiran Kerajaan Allah. Jika tugas-tugas di atas terpenuhi, maka para murid harus berseru kepada seluruh dunia: “Kerajaan Allah sudah dekat kepadamu.” Untuk menyatakan Kerajaan Allah,  bukan mengajarkan doktrin dan dogma, tetapi membawa orang ke arah hidup dengan cara baru, hidup bersama sebagai saudara, dan menyatakan bahwa Allah adalah Bapa.

Rm Maxi Suyamto

Selasa, 17 Oktober 2017

Renungan Harian GML : MEMBANGUN INNER SPIRIT AGAR MAMPU MENGASIHI DENGAN RELA DAN MURAH HATI


SABDA, Selasa, 17-10-2017

BACAAN
Rom 1:16-25 – “Sekali pun mereka mengenal Allah, namun mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah”
Luk 11:37-41 – “Berikanlah sedekah dan semuanya menjadi bersih”

RENUNGAN
1.Seorang Parisi, setelah mendengar khotbah Yesus, mengundang Dia untuk makan malam, karena ia ingin mendengarkan lebih jauh dari orang istimewa ini yang berbicara tentang Sabda Allah. Tetapi orang Parisi ini mengamati Yesus yang tidak menjalankan ritual cuci tangan sebelum makan. Bagi orang-orang Parisi selalu menjalankan ritual seperti itu: membasuh tangan, sunat, sabat, puasa. Artinya, kalau dibuat maka mereka otomatis masuk surga.

2.Justru karena itu, Yesus mencerca mereka, karena di balik menjalankan ritual keagamaan tersebut, mereka menyembunyikan kejahatan yang tidak pernah mereka persoalkan, antara lain: keserakahan, kesombongan, kebencian, iri hati, kecongkaan, merasa paling benar, dan kemunafikan. Di samping itu, mereka tidak pernah menaruh belas kasih dan derma terhadap orang-orang miskin, bahkan menyingkirkan mereka dari tengah-tengah masyarakat.

3.Mengapa Yesus mendesak mereka supaya mereka berbelas kasih dan memberi derma kepada orang-orang miskin? Karena Yesus ingin menekankan perubahan batin, berupa hati yang rela, murah hati dan berbelas kasih. Ketika hati seseorang bersih dan rela, maka tidak perlu cemas dan takut terhadap hal-hal yang dari luar. Di samping itu memberi derma menetralisir keserakahan, nafsu menggarong, korup dan merampok.

4.Kalau kita memberi dengan sikap rela dan dilandasi kasih kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang mewujudkan kasih dan kemurahan hati. Dan ketika hati penuh cinta kasih, maka tidak ada ruang di hati kita untuk iri hati, serakah, congkak dan yang serupa. Ini yang dikehendaki Tuhan Yesus. Mudah bukan?

Rm Maxi Suyamto

Senin, 16 Oktober 2017

Renungan Harian GML : JANGAN MEREMEHKAN DOSA !!!


SABDA, Senin, 16-10-2017

BACAAN
Rom 1:1-7 – “Dengan perantaraan Kristulah kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa supaya percaya”
Luk 11:29-32 – “Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus”

RENUNGAN
1. Injil hari ini menghadirkan tuduhan yang sangat keras dari Yesus terhadap orang-orang Parisi dan ahli Kitab. Mereka minta agar Yesus membuat suatu tanda, karena mereka tidak percaya dengan pengajaran Yesus dan mukjijat-mukjijat yang Ia buat. Mereka menghendaki agar Yesus menunjukkan diri sebagai Mesias seperti yang mereka bayangkan, dengan cara membuat mukjijat yang hebat-hebat sesuai dengan keinginan mereka. Yesus tak pernah menuruti kehendak mereka.

2. Tiap hari mereka mendengarkan pengajaran Yesus dan menyaksikan mukjijat-mukjijatNya, tapi tidak ada kemungkinan mereka  menyesal dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka juga tidak sampai pada komitmen nyata untuk mengikuti Yesus, bahkan mereka menolak Yesus, sampai Yesus mengatakan: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.”

3.Orang-orang Ninive mengenal peringatan Allah ketika Yunus berbicara kepada mereka dan mereka bertobat. Yunus adalah tanda dari Allah, Yesus lebih besar daripada Yunus, lebih bear daripada Salomo. Tanda yang akan ditunjukkan kepada orang-orang Parisi dan ahli Kitab adalah Kebangkitan.

4.Orang-orang Israel menolak pesan Yohanes Pembaptis dan sekarang mereka menolak Yesus sebagai Yang Diurapi (Mesias). Mereka gagal total memperhatikan pesan-Nya.  Sesungguhnya Allah Yahwe pun kesal terhadap bangsa ini: “Sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk” (Kel 32:9). Bangsa yang keras hati (1Sam 6:6). “Pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka” (2Kor 3:14). Simeon telah mengatakan tentang Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel ... “ (Luk 2:34), tetapi bangsa Israel menolak Yesus bahkan membunuh-Nya.

5.Selalu ada bahaya  bahwa kita, sebagai orang beriman, merasa lebih hebat dan merasa paling diselamatkan dibanding orang lain seperti dialami orang-orang Parisi dan ahli Kitab. Kita mengaku sebagai orang Kristiani belum cukup, dan baptisan yang kita terima juga belum menjadi jaminan keselamatan, kalau kita tidak mau menyesali dosa-dosa kita dan bertobat serta hidup menurut Sabda Tuhan. Jangan pernah meremehkan dosa dan jangan membiarkan diri berdosa!

Rm Maxi Suyamto

Minggu, 15 Oktober 2017

Renungan Harian GML : UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA, KITA DITUNTUT BERTOBAT SECARA KONKRET NYATA

SABDA, Minggu Biasa XXVIII, 15-10-2017

BACAAN
Yes 25:6-10a – “Tuhan akan menghidangkan suatu jamuan, dan menghapus air mata dari wajah semua orang”
Flp 4:12-14.19-20 – “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”
Mat 22:1-14 – “Undanglah setiap orang yang kamu jumpai ke pesta nikah ini”

RENUNGAN
1.Kerajaan Allah diumpamakan dengan perjamuan kawin; pesta yang penuh kegembiraan dan sukacita, dan setiap orang ingin diundang untuk pesta tersebut. Undangan, pertama-tama, ditujukan kepada bangsa Israel, sebagai bangsa terpilih. Namun, sebagai bangsa terpilih, bangsa ini tidak mengindahkan undangan Allah, malah menolak dengan berbagai alasan.

2.Dalam sejarahnya, bangsa Israel tidak mau mendengarkan para nabi yang menyampaikan keselamatan dari Allah, bahkan para nabi mereka bunuh. Yesus pun mengalami nasib yang sama: mereka jatuhi hukuman mati dengan disalib. Bangsa Israel menganggap bahwa Yesus adalah orang yang selalu bikin onar dan batu sandungan yang mengusik kepentingan kaum Parisi dan para pejabat agama. Mereka tidak mau percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Utusan Allah. Karena penolakan ini, maka pesta perjamuan nikah diperuntukkan bagi siapa saja di luar bangsa Israel.

3.Bangsa manusia berduyun-duyun masuk ke dalam pesta nikah. Tetapi ada yang kedapatan tidak berpakaian pesta. Artinya, mereka dengan senang mengikuti jalan keselamatan, namun tidak mau bertobat dan tidak mau berubah menjadi baik. Tentu orang-orang tersebut tidak layak untuk menerima suka cita Kerajaan Allah, dan hanya layak dicampakkan ke dalam kegelapan. Orang tersebut tidak layak untuk masuk  ke dalam Kerajaan Allah, karena tidak berusaha untuk memiliki persyaratan seperti dikehendaki Yesus.

4.Tuntutan bagi kita adalah bertobat secara konkret nyata dari segala kesalahan, kekeliruan dan dosa-dosa kita selama ini dan  hidup baru dalam Tuhan, maka sukacita Kerajaan Allah kita dapatkan.

Rm Maxi Suyamto

Sabtu, 14 Oktober 2017

Renungan Harian GML : Beranikah saya mentaati Sabda Allah untuk mengalami kebahagiaan sejati?

Bacaan Liturgi 14 Oktober 2017

Sabtu Pekan Biasa XXVII
PF S. Kalistus, Paus dan Martir
Bacaan Injil
Luk 11:27-28
Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau!

Pada suatu hari, 
Ketika Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, 
berserulah seorang wanita dari antara orang banyak itu, 
dan berkata kepada Yesus, 
"Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!"

Tetapi Yesus bersabda, "Yang berbahagia ialah 
mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya."

Renungan
Akhir-akhir ini saya beberapa menerima undangan dan ajakan untuk reuni. Di antaranya ada reuni sekolah, reuni keluarga, reuni rekan kerja juga reuni teman jalan-jalan. Memang dalam suatu reuni ada sesuatu yang layak dikenang. Kita mendapat sesuatu yang berharga ketika mengalami perjumpaan dengan orang yang pernah dikenal. Selain itu, ada juga arti khusus ketika bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kita kenal dan ternyata mereka punya hubungan kekerabatan dengan kita. 
Lebaran yang lalu saya menghadiri reuni keluarga di Kulon Progo. Dalam reuni keluarga itu, masing-masing orang memperkenalkan diri. Kami menjelaskan silsilah keluarga masing-masing. Ibu-ibu kelihatannya cenderung menunjukkan siapa anak mereka. Anak-anak yang sukses menjadi kebanggaan bagi ibu-ibu mereka. Bapa-bapak cenderung menunjukkan keturuan siapa mereka. Nenek-moyang yang terkenal memberi kebanggaan tersendiri bagi orang laki-laki, para bapak. Mereka bangga kalau berasal dari silsilah keluarga terkenal. 
Kita memang merasa bangga dengan kekerabatan. Kita bertumbuh dalam hubungan darah. Kita berakar dari keluarga. Kita lebih merasa berarti ketika melihat silsilah keturunan. Silsilah bisa membawa rasa bahagia kepada kita, terlebih bila anggota-anggota dalam silsilah itu adalah orang terkenal. Seorang ibu dalam Injil hari ini menunjukkan hal naluriah kebanggaan itu. Ketika Yesus sedang berbicara di hadapan orang banyak, seorang wanita berkata, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!“ Tetapi Yesus menjawab, “Yang berbahagia adalah mereka yang telah mendengarkan Sabda Allah dan mentaatinya!“ Yesus menunjukkan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berbahagia. Siapa pun orang itu, entah dari keturunan keluarga tidak terkenal, keluarga miskin, keluarga yang dilupakan, keluarga terlantar, semua memiliki kesempatan untuk mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan sejati datang dari Allah. Kebahagiaan sempurna datang bukan dari manusia. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukan berasal dari silsilah dan hubungan darah dengan orang-orang terkenal. Kebahagiaan sejati dialami oleh setiap orang yang mendengarkan Sabda Allah dan mentaatinya. 
Sadarkah saya bahwa membaca Kitab Suci merupakan pintu menuju kebahagiaan? Beranikah saya mentaati Sabda Allah untuk mengalami kebahagiaan sejati? 

Oleh Rm Supriyono Venantius

Jumat, 13 Oktober 2017

Renungan Harian GML : HARUS MENANG TERHADAP GODAAN DAN PENCOBAAN DAN TETAP BERIMAN DENGAN TEGUH


SABDA, Jumat, 13-10-2017

BACAAN
Yoel 1:13-15; 2:1-2 – “Hari Tuhan yang gelap gulita dan kelam kabut”
Luk 11:15-26 – “Jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka Kerajaan Allah sudah datang kepadamu”

RENUNGAN
1.Inji hari ini berbicara tentang pengusiran setan-setan yang dibuat Yesus di hadapan orang banyak.

2.Ay 14-16 – Tiga reaksi terhadap pengusiran setan: heran, kagum, dan gembira. Tetapi para ahli kitab bereaksi lain: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Yang lain masih minta sebuah tanda dari surga, karena mereka tidak yakin dengan pengusiran setan yang dibuat di depan orang banyak itu.

3.Ay 17-19 – Yesus menunjukkan kengawuran cara pikir para musuh. Yesus menggunakan dua argumen untuk menghadapi tuduhan bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Pertama, jika setan mengusir setan, berarti ia memecah belah dirinya sendiri dan tidak akan hidup. Kedua, Yesus mengembalikan argumen mereka: Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apa para pengikutmu mengusir setan? Dengan kata-kata ini, mereka mengusir setan juga dengan bantuan Beelzebul.

4.Ay 20-23 – Yesus adalah orang yang paling kuat yang pernah datang ke dunia ini, dan kedatangan Yesus merupakan pertanda bahwa Kerajaan Allah telah hadir. Yesus mengajak kita untuk fokus pada argumen yang Ia kemukakan: “Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya.” Setan, pada waktu itu, dipahami sebagai orang yang kuat dan bersenjata lengkap, tetapi kenyataannya, Yesus berhasil mengusir mereka. Hal ini merupakan sebuah tanda bahwa Yesus sebagai orang yang paling kuat yang pernah datang ke dunia ini. Dengan kedatangan Yesus, maka kerajaan Beelzebul terkalahkan dan kekuasaannya pudar.

5.Ay 24-26 – Kejatuhan yang kedua lebih buruk daripada yang pertama. Pada jamannya Lukas, sekitar tahun 80, merupakan saat penganiayaan dan penyiksaan terhadap umat Allah. Banyak dari mereka yang berbalik meninggalkan iman dan meninggalkan komunitas Kristen dan kembali hidup dengan cara yang lama supaya tidak ditangkap dan dianiaya. Untuk memperingatkan mereka dan kita semua, Lukas menggunakan kata-kata Yesus tersebut untuk menyatakan bahwa meninggalkan iman akan berakibat sangat buruk. Bagaimana aku?

Rm Maxi Suyamto

Kamis, 12 Oktober 2017

Renungan Harian GML : JANGAN PERNAH MENYERAH


SABDA, Kamis, 12-10-2017

BACAAN
Maleaki 3:13-14:2a – “Hari Tuhan akan datang, menyala seperti api”
Luk 11:5-13 – “Mintalah, maka kamu akan diberi”

RENUNGAN
1.Injil hari  ini melanjutkan  tentang tema doa, yang diawali dengan pengajaran doa Bapa Kami (Lk 11:1-4). Hari ini Yesus mengajarkan bahwa kita harus berdoa dengan penuh iman dan tanpa henti, tidak boleh menyerah. Untuk ini Yesus menggunakan sebuah perumpamaan.

2.Yesus menyampaikan sebuah kisah  yang berakhir dengan sebuah pertanyaan: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.” Sebelum Yesus menjawab, Ia ingin tahu pendapat kita. Apa jawaban kita: ya atau tidak?

3.Yesus memberikan tanggapan: “Aku berkata kepadamu: Sekali pun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.”  Tanggapan Yesus ini memperkuat pesan  bahwa Allah selalu mengharapkan doa dari kita. Kisah yang sama ketika seorang janda mendesak untuk mendapatkan haknya di hadapan hakim yang tidak takut terhadap Allah maupun keadilan.

4.Penerapan pertama dari doa ini: “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; .... “ Kita diminta oleh Yesus untuk minta, mencari, dan mengetuk pintu. Jika kita minta, maka kita akan menerima. Jika kita mencari, kita akan mendapatkan. Jika kita mengetuk, maka pintu akan dibukakan. Yesus tidak mengatakan berapa lama dan kapan permohonan itu harus berhenti, namun hasilnya pasti.

5.Penerapan kedua dari doa ini: “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular ... ?” Para pendengarnya pasti akan mengatakan: tidak mungkin seorang bapak akan memberikan ular jika anaknya minta ikan.

6.“Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapamu di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”  Pemberian yang paling besar dari Allah kepada kita adalah Roh Kudus. Roh Kudus tidak bisa dibeli dengan uang. Cara untuk mendapatkan Roh Kudus hanyalah melalui doa. Sesudah sembilan hari berdoa, Roh Kudus dicurahkan kepada para murid-Nya pada hari Pentakosta (Kis 1:14; 2:1-4).

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 11 Oktober 2017

Renungan Harian GML : DOA BAPA KAMI (menurut St. Lukas)


SABDA, Rabu, 11-10-2017


BACAAN
Luk 11:1-4 – “Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya”

RENUNGAN
1.Setelah Yesus memberi pujian kepada Maria yang menghabiskan waktu untuk mendengarkan Yesus, Lukas melanjutkan dengan pengajaran tentang Doa. Maka Injil Lukas dapat disebut sebagai Injil tentang Doa. Dalam Injil Lukas disajikan tentang doa Yesus, khususnya sebelum memasuki hidup publik, saat Ia dibaptis, pemilihan duabelas rasul dan di taman Jaitun.

2.Doa dimulai dengan menyebut Bapa. Allah sebagai Bapa. Pada jaman Yesus, kata Bapa mengandung makna: perhatian, cinta, tanggung jawab, disiplin, pengharapan, kekuasaan dan berkat. Bandingkan dengan tokoh ayah dalam perumpamaan anak yang hilang. Ayah tersebut menunjukkan sikap Allah sebagai Bapa (Luk 15:11-32).

3.”Dikuduskanlah namaMu.” Dengan ini berarti kita harus mendekati Bapa dengan rasa hormat dan takzim karena keagungan dan kesucian-Nya.

4.”Datanglah Kerajaan-Mu.” Dalam kitab Keluaran, Allah menyatakan diri sebagai Raja Israel (Kel 19:3-6). Waktu pengembaraan di padang gurun, Yahwe Allah bertindak sebagai raja mereka. Yohanes berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2). Yesus menyampaikan pesan yang sama (Mat 4:17). Yesus minta para murid-Nya agar menyampaikan pesan yang sama pula (Luk 10:9). Jadi kalau kita berdoa “datanglah Kerajaan-Mu” maksudnya agar Tuhan meraja, menyatakan kekuasaan dan Kerajaan-Nya dalam diri kita. Juga mohon agar Bapa mempercepat kedatangan Yesus ke dunia ini.

5.”Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya.” Dalam doa ini juga tercakup semua kebutuhan kita yang lain. Doa ini mengajak kita untuk bergantung pada Bapa, karena Allah memperhatikan kebutuhan kita.

6.”Ampunilah dosa kami.” Dosa berarti adanya relasi yang rusak dan terputus, maka diperlukan pengampunan tidak hanya sekali tapi terus menerus: “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mt 18:22). Kita menipu diri jika kita mengaku tidak punya dosa, maka dari itu perlu mengaku dosa (1Yoh 1:8-2:2).

7.”Sebab kamipun mengampuni setiap orang ...” Kita tidak hanya menerima pengampunan tapi juga memberikan pengampunan. Matius dengan jelas mengatakan: “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga ...” (6:14-15). Ketidak mampuan kita untuk mengampuni akan menghalangi berkat Allah dan kepenuhan Allah dalam diri kita.

8.”Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Pencobaan artinya kecenderungan untuk bertindak dosa. Rasul Yakobus mengatakan bahwa pencobaan  itu datang dari manusia sendiri (1:13-15). Kita sering tertarik pada hal-hal yang berdosa, bahkan sukar menghindar karena daya tahan rendah. Allah ingin melindungi kita dan kita diharapkan bergantung pada Allah. Allah tahu kelemahan kita dan ingin membebaskan kita agar kita menjadi utuh.

9.Doakanlah doa Bapa Kami ini secara pribadi, dalam keheningan, pelan-pelan, dicerna, dirasakan dan diresapkan. Ambillah buah-buah Roh dari doa ini.

Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 10 Oktober 2017

Renungan Harian GML : “Apakah aku sudah berdoa dan berbuat sesuatu bagi sesamaku?”


Bacaan Liturgi 10 Oktober 2017

Selasa Pekan Biasa XXVII

Bacaan Injil
Luk 10:38-42
Marta menerima Yesus di rumahnya.  
Maria telah memilih bagian yang paling baik.


Dalam perjalanan ke Yerusalem
Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung.
Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
Wanita itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria.
Maria itu duduk dekat kaki Tuhan
dan terus mendengarkan sabda-Nya.

Tetapi Marta sangat sibuk melayani.
Ia mendekati Yesus dan berkata,
"Tuhan, tidakkah Tuhan peduli,
bahwa saudariku membiarkan daku melayani seorang diri?
Suruhlah dia membantu aku."
Tetapi Tuhan menjawabnya,
"Marta, Marta,
engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
padahal hanya satu saja yang perlu.
Maria telah memilih bagian yang terbaik,
yang tidak akan diambil dari padanya."


Renungan :
Kita pasti sudah sangat familiar dengan teks hari ini, “Maria dan Marta”. (1) Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan (2) Marta sibuk sekali melayani Yesus.

Lalu, ada beberapa nasihat yang seringkali dipakai berdasarkan teks ini:
(1)“Jangan terlalu sibuk, kuatir, dan menyusahkan diri dengan banyak hal, melainkan yang lebih penting, ‘Dengarkanlah Sabda Tuhan’. Maka, contohlah Maria!”
(2)“Hal ini ingin menggambarkan bahwa hidup kita ini memiliki dua sisi: aktif dan pasif. Aktif melayani seperti Marta; dan pasif dalam hening (doa), mendengarkan Sabda-Nya, seperti Maria.”

Namun selain itu, kita perlu melihat teks ini ditempatkan dalam Injil Lukas. Teks ini (Luk 10:38-42) berada tepat di “tengah-tengah”. (a) Sebelumnya, Luk 10:25-37 bercerita tentang “Orang Samaria yang Murah Hati”, yang menolong orang yang tak dikenalnya di tengah jalan, bahkan membawa ke penginapan dan membiayai semuanya agar ia sembuh. (b) Setelah teks kita hari ini (Luk 10:38-42), kita dapat menemukan kisah di mana Yesus setelah berdoa, mengajarkan “Doa” kepada para muridnya, “Doa Bapa Kami” (Luk 11:1-4).

Jadi, kita bisa melihatnya seperti ini :
(1)Luk 10:25-37: “Orang Samaria yang Murah Hati” (“aktif”)
(2)Luk 10:38-42 : “Marta dan Maria” (“aktif – pasif”)
(3)Luk 11:1-4     : “Doa Bapa Kami” (“pasif”)

Maka, kisah “Maria dan Marta” itu, jika dilihat dari komposisi ini, maka jelas bahwa penulis Injil Lukas ingin menggunakan kisah ini sebagai “jembatan” antara kisah “Orang Samaria yang Murah Hati” dan “Doa Bapa Kami”. Dalam kisah Maria dan Marta ini sebenarnya ingin ditekankan bahwa (1) “Berbuat baik seperti “Marta” dan “Orang Samaria yang Murah Hati” itu tidak ada salahnya, bahkan kita justru harus berbuat sesuatu bagi sesama kita. Namun, (2) Yesus mengingatkan, jangan hanya berhenti pada perbuatan. “Bawalah perbuatan baik kita itu dalam doa-doa kita. Bawalah itu bersama Tuhan. Pusatnya bukan lagi ‘Aku’, melainkan ‘Tuhan’ sendiri. Dipersembahkan kepada-Nya. Dan salah satu caranya dengan berdoa, dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri, ‘Doa Bapa Kami’.”

Maka pertanyaannya, “Apakah aku sudah berdoa dan berbuat sesuatu bagi sesamaku?”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Senin, 09 Oktober 2017

Renungan Harian GML : GEREJA DIPANGGIL UNTUK IKUT TERLIBAT MENGATASI MASALAH KEMANUSIAAN


SABDA, Senin, 9-10-2017

BACAAN
Yun 1:1-17; 2:10 – “Yunus siap melarikan diri dari hadapan Tuhan”
Luk 10:25-37 – “Siapakah sesamaku?”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan perumpamaan tentang orang Samaria yang Baik Hati. Kita semua tahu tentang perumpamaan ini. Pertanyaan yang selalu relevan: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Para ahli kitab datang kepada Yesus tidak untuk mendengarkan pengajaran-Nya, tetapi untuk mencobai dan menjerat Dia dengan berpura-pura bertanya. Untuk keselamatan kekal, mereka mengandalkan kekuatan mereka sendiri dengan cara menepati hukum-hukum.

2.Yesus menjawab ahli kitab yang munafik tersebut dengan bertanya: “Apa yang tertulis dalam Kitab Suci?” Ia menjawab dengan mengutip Kitab Ulangan 6:5 dan Kitab Imamat 19:18. Yesus membenarkan jawaban orang itu: “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Jawaban yang penting dan prinsip adalah  mengasihi Allah. Tetapi Allah datang kepada kita melalui sesama. Sesama kita merupakan pewahyuan Allah kepada kita. Oleh karena itu, kita juga harus mengasihi sesama kita dengan segenap hati, dengan segenap jiwa,  dan dengan segenap kekuatan dan akal budi kita.

3.Siapa sesamaku? Pertanyaan ahli kitab tersebut untuk membenarkan dirinya sendiri. Tetapi ia ingin tahu: sesama yang mana yang dimaksud Allah? Bagi ahli kitab tersebut yang dimaksud sesama adalah: orang-orang sebangsa, yaitu orang-orang Israel. Yesus mematahkan pandangan tersebut dengan menampilkan seorang Samaria yang Baik Hati. Orang Samaria penuh belas kasih terhadap orang yang dirampok tersebut. Padahal orang Samaria dianggap musuh oleh orang Yahudi. Dan ahli kitab membenarkan bahwa yang disebut sesama adalah dia yang menolong orang yang dirampok itu. Maka Yesus berkata: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Ahli kitab itu tak berkutik terhadap jawaban Yesus, maka ia pergi meninggalkan Yesus dengan malu.

4.Sebagai refleksi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: “Siapa yang bukan sesamaku? Mengapa ia bukan sesamaku? Siapa yang saat ini tersingkirkan dari hidupku?”

5.Ketika ditanya oleh ahli kitab: “Siapa sesamaku?” Yesus menjawab dengan tidak menyebutkan orang tertentu, tetapi berkata: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Gereja dipanggil untuk ikut terlibat mengatasi masalah-masalah kemanusiaan tanpa memandang asal, suku, dan agama.

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

Sabtu, 07 Oktober 2017

Renungan Harian GML : BERBAHAGIA DAN BERSUKACITA SEBAGAI MURID YESUS


SABDA, Sabtu, 7-10-2017

BACAAN
Barukh 4:5-12.27-29 – “Allah yang telah mengirimkan segala bencana itu kepadamu, dan Dia pulalah yang akan mengirimkan sukacita”
Luk 10:17-24 – “Bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini para murid kembali dari menjalankan tugas perutusan dengan penuh suka cita: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Mereka mampu mengerjakan hal yang sama seperti  yang dibuat oleh Yesus.

2.Namun Yesus mengingatkan mereka supaya jangan bersuka cita karena mampu menaklukkan roh-roh itu, tetapi bersuka cita karena Allah yang memberikan daya dan kekuatan. Dalam tanggapan-Nya, Yesus mengatakan: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.” Kekuatan jahat dibalikkan. Untuk itulah Yesus datang ke dunia: untuk menaklukkan kekuatan jahat; dengan kehadiran Yesus, maka kekuatan Iblis mendekati ajal.

3.Selanjutnya Yesus meyakinkan para murid: “Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Ular dan kalajengking melambangkan semua kekuatan jahat. Para murid diberi kuasa mengalahkan kekuatan jahat, karena mereka penuh komitmen sebagai murid-murid Yesus.

4.Yesus mengatakan alasan, mengapa para murid bersukacita: bukan karena mereka memiliki kekuatan khusus atas roh-roh jahat, melainkan “karena namamu ada terdaftar di surga.” Sukacita bukan karena kekuatan manusiawi mereka, tetapi karena mereka terpilih sebagai alat di tangan Tuhan untuk melakukan karya-karya-Nya; untuk membuat Kerajaan Allah menjadi kenyataan.

5.Dalam doa-Nya, Yesus bersyukur kepada Bapa karena semua yang diwartakan Yesus bukan diketahui oleh orang-orang bijak dan orang-orang pandai (=orang-orang Parisi dan ahli Taurat), tetapi diterima dan diimani oleh “orang-orang kecil” seperti para murid, yang di mata masyarakat tidak diperhitungkan. Yesus mengatakan: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. ... Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

6.Kita sepantasnya menjadi orang yang berbahagia dan bersukacita, karena diperkenankan mendengar Sabda Tuhan, yang adalah Jalan yang menuju kepada Kebenaran dan Kehidupan.

7.Apa pun masalah yang sekarang kita hadapi, selayaknya kita bersyukur atas berkat-berkat yang kita terima. Satu-satunya cara kita bersyukur adalah dengan mengatakan: YES kepada Yesus dan Injil-Nya. Kita mulai dari sekarang.

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 06 Oktober 2017

Renungan Harian GML : UNTUK MENERIMA KESELAMATAN DIPERLUKAN PERTOBATAN


SABDA, Jumat, 6-10-2017

BACAAN
Barukh 1:15-22 – “Kami telah berdosa terhadap Tuhan dan tidak taat”
Luk 10:13-16 – “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menekankan ancaman terhadap mereka yang menolak Kabar Gembira Allah.

2.Selama tiga tahun menjalankan misi-Nya, Yesus hanya bergerak di sepanjang danau Galilea, seputar kota Kaparnaum, Betzaida dan Korazin. Di tempat ini Yesus membuat mukjijat dan mengajar. Mereka suka menikmati mukjijat-mukjijat Yesus, tetapi, tragisnya, orang-orang di kota ini tidak mau menerima pesan pengajaran Yesus dan tidak mau bertobat. Dengan kata lain, mereka tidak mau menerima keselamatan. Maka Yesus marah atas kesombongan mereka. Yesus sampai harus membandingkan kota-kota ini dengan Tirus dan Sidon yang adalah musuh orang-orang Israel. Tirus dan Sidon akan bertobat jika mukjijat terjadi seperti di Korazin dan Betsaida. Orang-orang Kaparnaum menolak untuk bertobat. Maka terhadap Kaparnaum, Yesus mengulangi kutukan nabi Yesaya: “Sekarang kau akan dicampakkan ke dalam syeol” (Yes 14:15).

3.Untuk menerima keselamatan, orang perlu mendengarkan Sabda Yesus dan bertobat. Hal ini berarti perubahan: perubahan hati dan cara hidup. Sabda Tuhan adalah Sabda Kehidupan yang menyelamatkan kita dari kehancuran, maka diperlukan pertobatan. Yesus marah terhadap setiap perbuatan dosa yang menghalangi seseorang untuk melakukan kehendak Allah dan tidak mau berjalan pada jalan-Nya.

4.Apakah saat ini Yesus kecewa dan marah terhadap Anda?

 Oleh Rm Maxi Suyamto

Kamis, 05 Oktober 2017

Renungan Harian GML : PENGUTUSAN TUJUH PULUH MURID: MEMULIHKAN NILAI-NILAI YANG HILANG


SABDA, Kamis, 5-10-2017

BACAAN
Neh 8:1-5a.6-7.8b-13 – “Ezra membuka Kitab dan memuji Tuhan. Maka seluruh umat menjawab, “Amin! Amin!”
Luk 10:1-12 – “Camkanlah, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”

RENUNGAN
1.Yesus mengutus tujuh puluh murid ke tempat yang akan Ia kunjungi. Yesus mengirim mereka berdua-dua. Maksudnya agar mereka saling membantu dan kesaksian mereka bisa dipertanggungjawabkan.

2.Yesus mengirim mereka seperti seekor anak domba ke tengah-tengah serigala. Hal ini menegaskan bahwa misi para murid begitu sukar dan berbahaya, bahkan sering terjadi pengejaran dan penganiayaan, karena apa yang mereka sampaikan sering bertentangan dengan yang biasa terjadi di tengah masyarakat. Yesus menghendaki agar para murid memulihkan nila-nilai yang telah hilang dalam masyarakat pada waktu itu. Ada lima nilai yang harus dipulihkan.

Pertama: Keramahtamahan. Hal ini mereka tunjukkan dengan tidak membawa apa-apa dalam perjalanan. Mereka hanya membawa Damai Sejahtera. Mereka diharuskan ramah dengan orang-orang yang mereka jumpai.

Kedua: Sharing atau berbagi. Para murid tidak boleh pergi dari satu rumah ke rumah lain. Mereka hanya boleh di satu rumah. Mereka tinggal di rumah itu, terlibat aktif dalam kehidupan mereka setiap hari dan ikut bekerja bersama mereka.

Ketiga: Membangun komunio di sekitar meja makan. Makan bersama mereka menjadi keharusan. Para murid harus makan apa yang dihidangkan oleh tuan rumah, tidak boleh berbeda dan terpisah dari mereka. Para murid harus duduk semeja dengan mereka, dan tidak perlu mengikuti peraturan najis yang dibuat oleh kaum Parisi. Jadi nilai baru yang ingin ditanamkan adalah keakraban dengan Allah yang diwujudkan dalam kebersamaan dengan mereka.

Keempat: Menerima mereka yang bukan anggota atau kelompoknya. Mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit, penderita kusta dan kerasukan setan (Mt 10:8). Mereka ini adalah orang-orang tersingkir. Para murid harus menerima dan merangkul mereka ini ke dalam komunitas.

Kelima: Nilai kedatangan Kerajaan Allah. Para murid harus menyerukan: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” Yang dimaksud Kerajaan Allah adalah cara hidup baru dan hidup bersama dengan orang lain dengan dasar kasih. Allah adalah Bapa dan kita semua adalah Saaudara.

3.Kelima nilai tersebut tidak mungkin dibuat oleh murid-murid orang Parisi, karena, bagi orang Parisi, mereka yang bukan kelompoknya adalah najis. Nilai apa yang harus kita perbarui dalam keluarga dan lingkungan kita?
🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id
===================
NOTE
Kepada para devosan Kerahiman Ilahi, selamat merayakan pesta St. Faustina.

Dalam kesempatan pesta ini bacalah tulisan hari ini: KERAHIMAN ALLAH BAGI SEMUA ORANG
di www.berkat.id

Renungan Harian GML : PENGUTUSAN TUJUH PULUH MURID: MEMULIHKAN NILAI-NILAI YANG HILANG


SABDA, Kamis, 5-10-2017

BACAAN
Neh 8:1-5a.6-7.8b-13 – “Ezra membuka Kitab dan memuji Tuhan. Maka seluruh umat menjawab, “Amin! Amin!”
Luk 10:1-12 – “Camkanlah, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”

RENUNGAN
1.Yesus mengutus tujuh puluh murid ke tempat yang akan Ia kunjungi. Yesus mengirim mereka berdua-dua. Maksudnya agar mereka saling membantu dan kesaksian mereka bisa dipertanggungjawabkan.

2.Yesus mengirim mereka seperti seekor anak domba ke tengah-tengah serigala. Hal ini menegaskan bahwa misi para murid begitu sukar dan berbahaya, bahkan sering terjadi pengejaran dan penganiayaan, karena apa yang mereka sampaikan sering bertentangan dengan yang biasa terjadi di tengah masyarakat. Yesus menghendaki agar para murid memulihkan nila-nilai yang telah hilang dalam masyarakat pada waktu itu. Ada lima nilai yang harus dipulihkan.

Pertama: Keramahtamahan. Hal ini mereka tunjukkan dengan tidak membawa apa-apa dalam perjalanan. Mereka hanya membawa Damai Sejahtera. Mereka diharuskan ramah dengan orang-orang yang mereka jumpai.

Kedua: Sharing atau berbagi. Para murid tidak boleh pergi dari satu rumah ke rumah lain. Mereka hanya boleh di satu rumah. Mereka tinggal di rumah itu, terlibat aktif dalam kehidupan mereka setiap hari dan ikut bekerja bersama mereka.

Ketiga: Membangun komunio di sekitar meja makan. Makan bersama mereka menjadi keharusan. Para murid harus makan apa yang dihidangkan oleh tuan rumah, tidak boleh berbeda dan terpisah dari mereka. Para murid harus duduk semeja dengan mereka, dan tidak perlu mengikuti peraturan najis yang dibuat oleh kaum Parisi. Jadi nilai baru yang ingin ditanamkan adalah keakraban dengan Allah yang diwujudkan dalam kebersamaan dengan mereka.

Keempat: Menerima mereka yang bukan anggota atau kelompoknya. Mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit, penderita kusta dan kerasukan setan (Mt 10:8). Mereka ini adalah orang-orang tersingkir. Para murid harus menerima dan merangkul mereka ini ke dalam komunitas.

Kelima: Nilai kedatangan Kerajaan Allah. Para murid harus menyerukan: “Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” Yang dimaksud Kerajaan Allah adalah cara hidup baru dan hidup bersama dengan orang lain dengan dasar kasih. Allah adalah Bapa dan kita semua adalah Saaudara.

3.Kelima nilai tersebut tidak mungkin dibuat oleh murid-murid orang Parisi, karena, bagi orang Parisi, mereka yang bukan kelompoknya adalah najis. Nilai apa yang harus kita perbarui dalam keluarga dan lingkungan kita?
🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id
===================
NOTE
Kepada para devosan Kerahiman Ilahi, selamat merayakan pesta St. Faustina.

Dalam kesempatan pesta ini bacalah tulisan hari ini: KERAHIMAN ALLAH BAGI SEMUA ORANG
di www.berkat.id

Rabu, 04 Oktober 2017

Renungan Harian GML : MENGIKUTI YESUS ADALAH PRIORITAS


SABDA, Rabu, 4-10-2017

BACAAN
Neh 2:1-8 – “Jika Raja menganggap baik, utuslah hamba ke kota makam leluhur hamba, untuk membangunnya kembali”
Luk 9:57-62 – “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi”

RENUNGAN
1.Ada orang, setelah melihat mukjijat-mukjijat Yesus, dengan penuh semangat ingin mengikuti-Nya: “Aku akan mengikut Engkau, kemana pun Engkau pergi.” Orang ini mengira bahwa mengikuti Yesus merupakan suatu hal yang menyenangkan, romantis, dan serba terjamin. Padahal jalan Yesus tidak ada romantisnya sama sekali dan tidak ada jaminan selama di dunia ini. Malah dituntut sikap tidak terikat terhadap apa saja terhadap barang-barang dunia ini, bahkan nyawanya sendiri harus siap dikorbankan.

2.”Biarlah orang mati mengubur orang mati ...” Mengikuti Yesus tidak bisa ditawar-tawar. Ketika Yesus memanggil seseorang untuk menjadi murid-Nya, pada saat itu ia harus siap. Untuk menjadi murid Kristus tidak perlu menunggu saat yang baik; tidak perlu menunggu saat pensiun atau ketika sudah kaya atau menduduki jabatan tertentu. Terlambat sudah.

3.”Setiap orang yang membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Bila kita sudah mengikuti Yesus dan menoleh ke belakang, maka jalan kita akan menyimpang dan akan kehilangan arah. Mengikuti Yesus harus selalu mengarahkan pandangan ke depan, yaitu Kerajaan Allah.

4.Banyak orang ingin menjadi murid Yesus, tetapi juga ingin merengkuh kenikmatan-kenikmatan duniawi sesaat yang tidak sejalan dengan kehendak Allah. Hidup mendua seperti ini tidak pernah akan menemukan kegembiraan. Kegembiraan dan sukacita sejati hanya ada dalam Yesus

5.Kesimpulan: mengikuti Yesus adalah masalah prioritas. Hal ini bukan perkara ringan, karena jalan Yesus adalah jalan sempit dan sukar (Mt 7:13.14). Kita memilih jalan yang sempit karena merupakan jalan yang benar menuju kepada kepenuhan hidup. Tuhan bersabda: “Carilah dahulu Kerajaan Allah, yang lain akan ditambahkan” (Mt 6:33).

6.Tetap setiakah aku pada jalan Allah dan mengusahakan yang terbaik?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

INFO BARU
Dalam rangka menyongsong pesta St. Faustina, tgl 5 Oktober, bacalah: JALAN TERJAL MENUJU KESEMPURNAAN.
Penderitaan telah menghantar Faustina bersatu erat dengan Allah.
Klik: www.berkat.id

Selasa, 03 Oktober 2017

Renungan Harian GML : KETAATAN YESUS TERHADAP KEHENDAK BAPA-NYA


SABDA, Selasa, 3-10-2017

BACAAN
Za 8:20-23 – “Banyak bangsa akan datang mencari Tuhan di Yerusalem”
Luk 9:51-56 – “Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem”

RENUNGAN
1.Yesus mengarahkan pandangan ke Yerusalem. Tindakan yang simpel, tetapi mengungkapkan maksud hati-Nya, kecenderungan jiwa-Nya dan ketetapan kehendak-Nya, yaitu seutuhnya melaksanakan kehendak Bapa ke mana Bapa menghendaki. Ia taat total: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42).

2.Ketika hendak melalui Samaria, Yesus ditolak oleh para pemimpin setempat. Ini merupakan rintangan. Bila Yesus mau, Dia bisa mengurungkan niatnya ke Yerusalem. Kalau mau, Yesus bisa melawan orang-orang Samaria lewat Yohanes dan Yakobus dengan membumi hanguskan Samaria. Tetapi Yesus memilih berbelok melalui desa-desa lain untuk pergi ke Yerusalem.

3.Dengan pergi ke Yerusalem berarti Yesus siap mengalami penyiksaan brutal dan mati di kayu salib. Saat yang paling berat bagi Yesus ialah saat Ia merasa ditinggalkan Bapa-Nya ketika dalam pergulatan sakratul maut. Pada saat itulah Ia mengalami kegelapan dan seolah terpisah dari Bapa-Nya. Maka Ia hanya dapat mengeluh: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” (Mat 27:46).

4.Dari bacaan Injil hari ini, kita belajar tentang ketaatan dari Yesus. Dalam doanya di taman Getsemane, kita diingatkan bahwa Yesus menyingkirkan keinginan-Nya sendiri dan hanya taat pada kehendak Bapa-Nya. Bagaimana ketaatan imanku?

🇮🇩MS🇮🇩 www.berkat.id

NOTE:
Dalam rangka merayakan pesta St. Faustina tgl 5 Oktober, saya menampilkan dua tulisan:
1. ST. FAUSTINA KOWALSKA: RASUL KERAHIMAN ILAHI.
2. PAUS YOHANES PAULUS II: PAUS KERAHIMAN.

Silahkan klik: www.berkat.id

Senin, 02 Oktober 2017

Renungan Harian GML : TUNTUTAN BAGI SETIAP MURID KRITUS: MENJADI SAMA SEPERTI KRISTUS


SABDA, Senin, 2-10-2017

BACAAN
Kel 23:20-23a – Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu”
Mat 18:1-5.10 –  “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?”

RENUNGAN
1.Dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem menyongsong kematian-Nya, justru para murid berebut siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka belum memiliki jiwa dan semangat Yesus. Mereka sangat berambisi dan ingin menampilkan kesombongan duniawi yang sebenarnya semu. Yesus menuntut agar mereka memiliki spirit: “anak kecil” atau “orang kecil.”

2.Yesus menanggapi sikap para murid. Ia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Tindakan Yesus ini dianggap tidak lazim pada waktu itu, karena anak kecil adalah mereka yang tidak pernah diperhitungkan dalam masyarakat. Anak kecil dikelompokkan dalam kelompok orang-orang miskin, cacat, dan tidak berguna. Namun amak kecil tidak memiliki ambisi seperti orang dewasa, tidak sombong, rendah hati, tidak ada tipu daya dan apa adanya. Pribadi seperti ini yang dikehendaki Tuhan, dan pribadi seperti itulah yang mampu memandang Kristus.

3.Kepada para murid-Nya, Yesus menuntut  mereka memiliki jiwa dan semangat anak kecil atau jiwa orang kecil, yaitu rendah hati. Wujud dari rendah hati adalah melayani, memilih tempat yang rendah, tidak mencari perhatian dan tidak mengejar sensasi serta status.

4.Yesus mengidentifikasi diri dengan mereka yang direndahkan: anak-anak kecil, orang miskin dan orang-orang tersingkir. Maka setiap murid Kristus harus menjadi sama seperti Kristus.

🇮🇩MS🇮🇩 berkat.id