Sabtu, 14 Oktober 2017

Renungan Harian GML : Beranikah saya mentaati Sabda Allah untuk mengalami kebahagiaan sejati?

Bacaan Liturgi 14 Oktober 2017

Sabtu Pekan Biasa XXVII
PF S. Kalistus, Paus dan Martir
Bacaan Injil
Luk 11:27-28
Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau!

Pada suatu hari, 
Ketika Yesus sedang berbicara kepada orang banyak, 
berserulah seorang wanita dari antara orang banyak itu, 
dan berkata kepada Yesus, 
"Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!"

Tetapi Yesus bersabda, "Yang berbahagia ialah 
mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya."

Renungan
Akhir-akhir ini saya beberapa menerima undangan dan ajakan untuk reuni. Di antaranya ada reuni sekolah, reuni keluarga, reuni rekan kerja juga reuni teman jalan-jalan. Memang dalam suatu reuni ada sesuatu yang layak dikenang. Kita mendapat sesuatu yang berharga ketika mengalami perjumpaan dengan orang yang pernah dikenal. Selain itu, ada juga arti khusus ketika bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kita kenal dan ternyata mereka punya hubungan kekerabatan dengan kita. 
Lebaran yang lalu saya menghadiri reuni keluarga di Kulon Progo. Dalam reuni keluarga itu, masing-masing orang memperkenalkan diri. Kami menjelaskan silsilah keluarga masing-masing. Ibu-ibu kelihatannya cenderung menunjukkan siapa anak mereka. Anak-anak yang sukses menjadi kebanggaan bagi ibu-ibu mereka. Bapa-bapak cenderung menunjukkan keturuan siapa mereka. Nenek-moyang yang terkenal memberi kebanggaan tersendiri bagi orang laki-laki, para bapak. Mereka bangga kalau berasal dari silsilah keluarga terkenal. 
Kita memang merasa bangga dengan kekerabatan. Kita bertumbuh dalam hubungan darah. Kita berakar dari keluarga. Kita lebih merasa berarti ketika melihat silsilah keturunan. Silsilah bisa membawa rasa bahagia kepada kita, terlebih bila anggota-anggota dalam silsilah itu adalah orang terkenal. Seorang ibu dalam Injil hari ini menunjukkan hal naluriah kebanggaan itu. Ketika Yesus sedang berbicara di hadapan orang banyak, seorang wanita berkata, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!“ Tetapi Yesus menjawab, “Yang berbahagia adalah mereka yang telah mendengarkan Sabda Allah dan mentaatinya!“ Yesus menunjukkan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berbahagia. Siapa pun orang itu, entah dari keturunan keluarga tidak terkenal, keluarga miskin, keluarga yang dilupakan, keluarga terlantar, semua memiliki kesempatan untuk mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan sejati datang dari Allah. Kebahagiaan sempurna datang bukan dari manusia. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukan berasal dari silsilah dan hubungan darah dengan orang-orang terkenal. Kebahagiaan sejati dialami oleh setiap orang yang mendengarkan Sabda Allah dan mentaatinya. 
Sadarkah saya bahwa membaca Kitab Suci merupakan pintu menuju kebahagiaan? Beranikah saya mentaati Sabda Allah untuk mengalami kebahagiaan sejati? 

Oleh Rm Supriyono Venantius

0 komentar:

Posting Komentar