menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 29 November 2017

Renungan Harian GML : SETIA KEPADA KRISTUS SAMPAI AKHIR


SABDA, Rabu, 29-11-2017

BACAAN

Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28 – “Tampaklah jari-jari tangan manusia yang menulis pada dinding”

Luk 21:12-19 – “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”

RENUNGAN

1.Injil hari ini berbicara  tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Ketika bersama para muridNya, Yesus sering mengingatkan bahwa mereka akan ditangkap, disiksa dan dibunuh karena nama Yesus. Ketika terjadi penyiksaan, “semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang jaman baru” (Mark 13:8). Tidak ada alasan untuk takut, melainkan harus bersuka cita karena dalam iman, kita memiliki pengharapan.

2.Penindasan tidak perlu menjadi hal yang fatal atau alasan untuk putus asa, tetapi menjadi saat untuk bersaksi tentang kabar gembira. Yang dibutuhkan adalah keteguhan hati sebagai pengikut Kristus, selanjutnya “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.” Karena kita “menerima kuasa” (Kis 1:8) dari Tuhan.

3.Perlakuan kejam terhadap pengikut Kristus tidak hanya datang dari luar, tetapi  bahkan dari keluarga sendiri. Hal ini terjadi karena dalam keluarga tersebut ada yang menerima Kabar Sukacita dan menolaknya. Karena menjadi pengikut Kristus, maka ia diusir dari keluarganya dan tidak mendapatkan hak waris. Bahkan membunuh pengikut Kristus adalah halal.

4.Dalam situasi sulit tersebut, Kristus adalah satu-satunya pengharapan: “Tdk sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.” Tuhan juga menguatkan: “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24).

5.Kita mohon rahmat kesetiaan dalam Kristus sampai akhir hidup kita.

Selasa, 28 November 2017

Renungan Harian GML : Batu Hidup bagi Gereja


Bacaan Liturgi 28 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXIV

Bacaan Injil
Luk 21:5-11
Tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain.

Ketika itu beberapa orang berbicara tentang Bait Allah 
dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu indah, 
dan berbagai macam barang persembahan.
Tetapi Yesus berkata kepada mereka, 
"Akan tiba harinya segala yang kalian lihat di situ diruntuhkan, 
dan tidak akan ada satu batu pun 
dibiarkan terletak di atas batu yang lain." 

Lalu murid-murid bertanya, 
"Guru, bilamanakah hal itu akan terjadi? 
Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?"
Jawab Yesus, "Waspadalah, jangan sampai kalian disesatkan. 
Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku, 
dan berkata, 
'Akulah Dia' dan 'Saatnya sudah dekat.' 
Janganlah kalian mengikuti mereka. 
Dan bila kalian mendengar kabar tentang perang dan pemberontakan, 
janganlah kalian terkejut. 
Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, 
tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." 

Kemudian Yesus berkata kepada mereka, 
"Bangsa akan bangkit melawan bangsa 
dan kerajaan melawan kerajaan. 
Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, 
dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. 
Dan akan terjadi juga 
hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit."

Renungan
Di Kampung Kush, sekelompok umat Katolik yang tiap hari Minggu merayakan misa di dalam gedung Sekolah Dasar. Mereka belum punya bangunan gereja untuk beribadah. Mereka sudah bertahun-tahun berusaha mendirikan bangunan untuk gereja tetapi tidak pernah berhasil. Tanah sudah mereka miliki. Dana mereka tidak kekurangan. Sumber daya tenaga dan material banyak yang akan menyediakan. Satu-satunya halangan bagi mereka ialah, izin pendirian bangunan tidak pernah mereka dapat. Pernah ada yang mendirikan gereja tanpa mengantongi surat izin. Setelah jadi gereja itu dibakar oleh sekolompok orang yang datang dari luar kampung. 
Pada suatu hari Bapa Uskup di wilayah itu datang berkunjung ke Kampung Kush. Umat kemudian menyatakan persoalan yang mereka alami. Seorang umat menyatakan keprihatinan mendalam tentang gereja di Keuskupan. Banyak gereja besar, megah dan indah di tempat lain, tapi di Kampung Kush situasinya sangat memprihatinkan. Tidak ada di Kampung ini bangunan yang disebut gereja. 
Bapa Uskup yang mendengar keluhan dan keprihatinan umat tentang bangunan gereja, kemudian mengajak umat membaca Kitab Suci. Ayat-ayat yang dibaca tepat seperti yang dibacakan dalam Liturgi hari ini. Para murid Yesus mengagumi bangunan Bait Allah. Begitu indah dan megahnya Bait Allah itu. Bangunan begitu luas, tinggi, besar dan kokoh perkasa. Bahan bangunannya pun mahal. Dekorasinya sangat mewah dengan batu-batu indah. Juga segala kegiatan ibadahnya begitu ramai dan penuh dengan persembahan-persembahan mulia. Alangkah semuanya itu menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. 
Bapa Uskup kemudian memberikan wejanganannya dengan kata-kata yang disusun perlahan-lahan. Dia mengatakan bahwa, melihat kemegahan bangunan Bait Allah, Tuhan Yesus menyatakan pandangan yang berbeda yang mengejutkan para murid-Nya. Bagi Yesus, semua kemegahan yang terlihat oleh mata di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Semuanya akan diruntuhkan. Kata-kata Yesus itu menjadi kenyataan. Pada tahun 70, tentara Roma dalam komando Jendral Titus, menghancurkan Bait Allah itu. Kehancuran itu begitu dahsyat, rata dengan tanah. Kini bangunan itu tidak ada lagi. Yang masih ada hanyalah pondasinya yang didatangi oleh para peziarah yang meratap di situ. Oleh karena itu tempat itu dikenal dengan nama Tembok Ratapan.
Kemudian Bapa Uskup memberikan peneguhan bahwa Bait Allah yang sesungguhnya bukanlah bangunan fisik. Gereja yang sesungguhnya juga bukan bangunan gedung. Gereja yang sesungguhnya adalah umat Allah yang terdiri dari manusia-manusia. Manusia-manusia yang merupakan umat Allah ini seolah menjadi batu-batu yang hidup. Bila umat hidup rukun, damai, saling membantu, saling memperhatikan; bila umat punya perhatian kepada yang lainnya, terutama pihak yang paling kecil, yang paling hina, yang tersingkirkan; bila umat mengunjugi yang sakit dan menolong yang miskin, maka itulah bangunan Gereja yang sesungguhnya. Batu-batu yang hidup itu tersusun dengan indah dan mengagumkan. Bangunan yang demikian itu tidak dapat dihancurkan oleh siapa pun. Tak ada orang yang mampu meruntuhkan dan membakarnya. 
Sudahkah aku menjadi batu hidup yang menyusun Gereja? Beranikah aku menjadi salah satu batu hidup bagi Gereja?

Rm Supriyono Venantius

Senin, 27 November 2017

Renungan Harian GML : PERSEMBAHAN JANDA MISKIN

SABDA, Senin, 27-11-2017


BACAAN
Dan 1:1-6.8-20 – “Di antara mereka tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya”

Luk 21:1-4 – “Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti derma”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus memuji seorang janda miskin yang tahu bagaimana berbagi melebihi orang-orang kaya. Ada banyak orang kaya memiliki apa saja, tetapi tidak tahu bagaimana berbagi. Ada banyak orang miskin yang hampir tidak memiliki sesuatu, tetapi ingin berbagi dari apa yang mereka miliki.

2.Pada awal mula, Gereja terdiri dari orang-orang miskin (1Kor 1:26). Tetapi dalam waktu singkat, orang-orang kaya juga masuk ke dalam komunitas Kristen dan hal ini menyebabkan banyak masalah. Masalah tampak ketika mereka mengadakan perjamuan makan (1Kor 11:20-22) atau ketika mereka mengadakan pertemuan (Yak  2:1-4). Inilah alasan mengapa pengajaran tentang persembahan janda miskin sangat berarti bagi mereka dan juga bagi kita.

3.Ay 1-2 – Yesus berada dekat bendahara Bait Allah dan mengamat-amati orang-orang yang memasukkan uang persembahan. Orang-orang miskin memasukkan beberapa sen, sedangkan orang-orang kaya memberikan sejumlah uang yang nilainya sangat besar. Uang persembahan dipakai untuk sarana peribadatan, membantu para imam dan untuk merawat bangunan. Sebagian dari uang persembahan juga dipakai untuk membantu orang-orang miskin, karena mereka hidup tanpa jaminan dan hanya mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Mereka yang memiliki kebutuhan terbesar adalah yatim piatu dan para janda. Mereka sangat tergantung dari belas kasihan orang dalam segala sesuatu. Namun demikian mereka masih berusaha untuk berbagi dengan orang lain dari apa yang mereka punya. Seorang janda yang sangat miskin memasukkan uang sebesar dua sen.

4.Ay 3-4 – Komentar Yesus. Mana yang lebih berharga: beberapa sen dari janda miskin atau sejumlah besar uang dari orang-orang kaya? Menurut kebanyakan orang, uang dari orang-orang kaya lebih berguna untuk amal daripada beberapa sen dari janda miskin. Kalau pikiran kita seperti itu, maka 2 (dua) sen persembahan janda miskin tidak berguna untuk apa pun. Tetapi Yesus berkata: “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu.” Yesus memiliki kriteria yang berbeda dengan kita. Dari persembahan janda miskin tersebut, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya dan kepada kita, di mana kita harus mencari kehendak Allah. Dan kehendak Allah kita temukan di dalam diri orang-orang miskin dan dalam berbagi. Mengapa? “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

 Rm Maxi Suyamto

 

Minggu, 26 November 2017

Renungan Harian GML : HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM


SABDA, Minggu, 26-11-2017

BACAAN
Yeh 34:11-12.15-27 – “Wahai domba-domba-Ku, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba”

1Kor 15:20-26a.28 – “Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, supaya Allah menjadi semua di dalam semua”

Mat 25:31-46 – “Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya dan akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang”

RENUNGAN
1.Perumpamaan tentang Pengadilan Terakhir mengatakan kepada kita apa yang harus kita buat agar  memiliki Kerajaan, yaitu menerima orang yang lapar, haus, asing, telanjang, orang sakit dan para tawanan.

2.Ay 31-33 – Anak Manusia mengumpulkan semua bangsa. Ia memisahkan orang-orang seperti domba dan kambing. Para gembala itu tahu bagaimana membuat pertimbangan. Ia tidak pernah membuat kesalahan. Yesus tidak menghakimi maupun mengutuk, tetapi yang menghakimi adalah orangnya sendiri, karena ia tidak berbuat apa pun untuk orang-orang kecil dan tersingkir.

3.Ay 34-36 – Mereka yang berada di sebelah kanan hakim disebut “Yang diberkati oleh Bapa-Ku.” Mereka menerima berkat yang telah dijanjikan kepada Abraham dan keturunannya (Kej 12:3). Mereka diundang untuk masuk ke dalam Kerajaan, yang sudah disiapkan bagi mereka sejak dunia diciptakan, karena “Ketika aku lapar, sebagai orang asing, ketika aku telanjang, sakit dan dalam penjara engkau menerima dan membantu aku.” Yang dimaksud “aku” adalah Yesus, yang menyamakan diri dengan orang-orang kecil. Dengan menerima, berbuat dan berbagi untuk orang kecil sama dengan berbuat untuk Yesus.

4.Ay 37-40 – Kerajaan Allah tidak diperoleh dengan menjalankan hukum dan peraturan-peraturan, melainkan menerima mereka yang membutuhkan. Mereka yang membutuhkan bahkan ada di dalam komunitas Kristen sendiri. Mereka adalah “saudaraku yang paling hina ” dan mereka adalah anggota komunitas yang tidak memiliki tempat tinggal. Jadi orang yang dianggap “adil” dan “diberkati oleh Bapa” adalah semua orang dari semua bangsa yang menerima dan menyambut orang lain dengan total.

5.Ay 41-43 – Mereka yang berada di sebelah kiri Hakim disebut “yang terkutuk.” Mereka sudah disiapkan untuk masuk ke dalam api abadi, yang diperuntukkan bagi Iblis dan sekutunya. Alasannya adalah karena mereka tidak menerima dan menyambut Yesus yang lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang, sakit dan dipenjara. Mereka disebut buta, karena tidak mampu melihat Yesus dalam diri orang-orang kecil.

6.Ay 44-46 – Mereka tidak mau disebut buta, karena minta penjelasan. Mereka ini adalah orang-orang yang mapan, kaya, damai-damai saja, dan rajin melakukan semua perintah Allah. Mereka ini adalah orang-orang baik. Hanya satu kekurangan mereka: tidak mau berbuat baik dan berbagi kepada mereka yang miskin, sakit, terlantar, dan tersingkirkan.

Rm.  Maxi Suyamto

Sabtu, 25 November 2017

Renungan Harian GML : “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”


25 November 2017
Luk 20:27-40
“Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”

Bacaan hari ini sungguh menarik.
Kita akan menemukan tiga aktor utama dalam Injil hari ini :
1)Yesus
2)Orang-Orang Saduki
3)Ahli-Ahli Taurat (Farisi)

Saya tertarik pada Luk 20:39, “Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: ‘Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.’” Hal ini sungguh menarik, karena dalam Luk 20, sejak awal kita telah menemukan bahwa Ahli-Ahli Taurat (Farisi) itu berusaha mencobai Yesus: (1) Luk 20:1-2, mereka (Ahli-Ahli Taurat) mempertanyakan “Kuasa Yesus” – “Dengan kuasa apa dan dari mana asalnya?” (2) Luk 20:19, mereka juga berusaha menangkap Yesus, tapi mereka takut kepada orang banyak. (3) Tidak berhenti di situ saja, pada Luk 20:20-26, Ahli-Ahli Taurat  (Farisi) juga berusaha menjebak Yesus dan menyerahkan-Nya kepada penguasa wali negeri. 

Namun, yang menarik setelah itu, pada bacaan hari ini (Luk 20:27-40), orang-orang Farisi ini justru memuji Yesus, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Lalu pertanyaan selanjutnya, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”

Salah satu kata kuncinya adalah “Saduki”. “Orang-Orang Saduki” adalah golongan imam yang tidak percaya pada kebangkitan, malaikat, dan roh (Lih. Kis 23:8). Mereka sangat menaati  hukum Musa (Taurat), namun menolak penafsiran yang diperluas oleh tradisi. Hal ini sangat bertentangan dengan “Orang-Orang Farisi” (Para Ahli Taurat). Mereka percaya akan kebangkitan, malaikat, roh, dan memegang teguh tradisi. Dan, jumlah orang Farisi lebih banyak dibandingkan jumlah orang-orang Saduki.

Jadi, sebenarnya di sini ada perselisihan pula antara orang-orang Saduki dan orang-orang Farisi. Maka, bacaan hari ini sungguh menyajikan sebuah kompleksitas yang cukup menarik (dengan melihat Lukas 20 secara keseluruhan) :

1.Saduki vs Yesus
2.Farisi vs Yesus
3.Saduki vs Farisi

Jadi, ketika orang-orang Saduki bertanya mengenai kebangkitan, sebenarnya mereka tidak benar-benar bertanya, melainkan ingin mencobai Yesus. Hal ini jelas sekali karena mereka tidak percaya sama sekali akan kebangkitan. Selain itu, orang-orang Saduki pun sangat rasional, mereka mencobai Yesus secara rasional, “Apakah jawaban Yesus itu rasional atau tidak mengenai kebangkitan?” 

Dan yang sungguh menarik, Yesus pun “meladeni” (menanggapi) pertanyaan orang-orang Saduki ini dan menjawabnya dengan baik, (1) “dalam kebangkitan, tidak ada orang yang kawin dan dikawinkan” (Luk 20:35); (2) “mereka tidak dapat mati lagi, mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan” (Luk 20:36); dan (3) Yesus pun berusaha menginterpretasikan Taurat, di mana Tuhan bersabda kepada Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Kel 3:6). Menurut Yesus, dengan menyebut nama “Abraham, Ishak dan Yakub”, sebenarnya Allah ingin menunjukkan bahwa “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup [termasuk para Bapa Bangsa – Abraham, Ishak dan Yakub]” (Luk 20:37). Dari jawaban inilah, orang-orang Farisi (para ahli Taurat) itu merasa “takjub”, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Orang-orang Farisi, pada saat itu, merasa sangat terbantu dengan jawaban Yesus untuk melawan orang-orang Saduki. Namun, Yesus tak tertarik dengan pertikaian mereka. 

Yesus, dalam perikop ini, lebih fokus untuk menjelaskan mengenai “kebangkitan” dan “siapa Allah itu” – yaitu “Allah orang hidup”. Maka, yang perlu diperhatikan di sini, Yesus tampaknya ingin mengajak kita untuk melihat “hidup” kita masing-masing. Jika Allah itu Allah orang hidup, “Mengapa kita khawatir akan kematian?” Pertama-tama yang perlu dikhawatirkan adalah hidup kita itu sendiri, “Apakah sudah sejalan dengan Kehendak Allah atau belum?” Jika belum, maka kita diharapkan untuk “bangkit saat ini”, bukan nanti pada saat kita mati. “Kebangkitan” dimulai saat kita hidup – saat ini dan di sini. “Kebangkitan setelah kematian” hanyalah sebuah konsekuensi dan kelanjutan kehidupan kita saat ini. 

Lalu pertanyaan selanjutnya yang bisa kita ajukan, “Apakah aku sudah benar-benar hidup ‘saat ini’ dan ‘di sini’; dan apakah aku sudah berusaha bangkit menjadi lebih baik dari hari ke hari?” Inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan pada kita hari ini.

Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Jumat, 24 November 2017

Renungan Harian GML : YESUS KRISTUS ADALAH BAIT ALLAH YANG BARU

SABDA, Jumat, 24-11-2017

BACAAN
1Mak 4:36-37.52-59 – “Mereka mentahbiskan mezbah dan dengan sukacita mempersembahkan kurban”

Luk 19:45-48 – “Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”

RENUNGAN
1.Sesampainya Yesus di Yerusalem, tujuan utamanya adalah memasuki Bait Allah. Hal ini sesuai dengan nubuat nabi Maleakhi: “Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke Bait-Nya.” Ia disertai oleh para murid-Nya. “Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah.”

2.Didapati-Nya, Bait Allah telah menjadi sarang para bandit, seperti dikatakan oleh nabi Yeremia: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?” Aktivitas bisnis dan sampingannya telah menjadikan Bait Allah sebagai sarang penyamun yang menghilangkan fungsi eksklusif Bait Allah, yaitu sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan. Maka Yesus mengusir para pedagang tersebut dari Bait Allah.

3.Yesus menuntut perubahan total terhadap Bait Allah, yaitu dengan memurnikan Bait Allah dari hal-hal negatif yang dibuat manusia dan mengembalikan ke fungsi aslinya, yaitu sebagai tempat menyembah Allah. Untuk itu maka para pedagang harus diusir, seperti dinubuatkan nabi Zakaria: “Tidak akan ada lagi pedagang di rumah Tuhan, ketika Hari itu datang” (Zak 14:21).

4.Pengajaran Yesus yang radikal dan menutup kesempatan  korupsi dan maksiat dalam Bait Allah telah menyulut kemarahan orang-orang yang dirugikan, yaitu para imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel. Mereka berusaha untuk membinasakan Yesus, “tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.” Dari Bait Allah, sengsara Yesus dimulai.

5.Paus Benedictus: “Penyiksaan dan penyaliban Yesus berarti akhir  Bait Allah. Era Bait Allah telah usai. Ibadah yang baru diperkenalkan, yaitu menyembah Allah dalam diri Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Bait Allah yang baru mengumpulkan orang dan menyatukan mereka dalam Sakramen Tubuh dan Darah-Nya.”

Rm Maxi Suyamto

Kamis, 23 November 2017

Renungan Harian GML : YESUS MENANGISI YERUSALEM


SABDA, Kamis, 23-11-2017

BACAAN
1Mak 2:15-29 –“Kami akan mentaati hukum nenek moyang kami”

Luk 19:41-44 – “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyatakan kepada kita bahwa Yesus menangisi Yerusalem dan Ia bernubuat tentang kehancuran kota tersebut. Yerusalem menjadi tempat tindakan Yesus yang paling besar, yaitu Sengsara, Wafat dan Kebangkitan. Dari Yerusalem juga akan muncul komunitas orang beriman yang dibangun atas nama-Nya. Mereka ditugasi untuk melanjutkan pekerjaan yang telah Ia mulai.

2.Ay 41-42 – Ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya dan berkata: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Yesus menangis, karena Ia begitu mengasihi tanah air-Nya, orang-orang-Nya, ibu kota dan Bait Allah. Ia menangis, karena Ia tahu bahwa segala sesuatu akan dihancurkan karena kesalahan bangsa-Nya yang tidak menyadari panggilan Allah lewat kehadiran dan pelayanan-Nya. Umat Israel tidak menyadari jalan menuju Damai; kehadiran Yesus tersembunyi bagi mereka. Allah “murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Rom 2:8). Yesus kecewa dengan perbuatan Israel: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu. Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu ... tetapi kamu tidak mau” (Lk 13:34).

3.Ay 43-44 – Yesus melukiskan apa yang akan terjadi dengan Yerusalem. Ia menggunakan gambaran tentang perang yang sudah biasa pada waktu itu, ketika sebuah pasukan menyerang sebuah kota. Mereka membunuh para penduduknya dan menghancurkan secara total tembok-tembok kota dan semua rumah. Kejadian tersebut pernah dialami Yerusalem ketika diserang oleh Nebukadnezar. Pasukan Romawi menggunakan cara tersebut terhadap kota-kota yang memberontak, dan hal inilah yang akan terjadi lagi 40 tahun kemudian terhadap Yerusalem. Sungguh terjadi, tahun 70 Yerusalem dikepung dan diserang oleh tentara Romawi. Segala sesuatu yang ada dihancurkan. Apa yang dikatakan Yesus harus menjadi peringatan yang sangat serius bagi semua orang yang menolak Kabar Gembira. Mereka harus mendengarkan peringatan terakhir dari Yesus, “engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat Engkau.”

4.Bait Allah Yerusalem telah hancur dan, sebagai gantinya, Yesus adalah Bait Allah Baru tempat kita menyembah. Bagi kita, tidak ada tempat khusus yang suci, selain Yesus, walaupun ada beberapa tempat yang mempunyai arti bagi kita. Bukan basilika St. Petrus di Roma, bukan gereja-gereja megah yang menentukan identitas kita sebagai orang beriman, melainkan kesatuan kita dengan Kristus dan kedekatan kita dengan saudara-saudari yang lain.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 22 November 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH TERWUJUD MELALUI TINDAKAN KASIH, PELAYANAN DAN BERBAGI


SABDA, Rabu, 22-11-2017

BACAAN
2Mak 7:20-31 – “Pencipta alam semesta akan memberi kembali roh dan hidup kepadamu”

Luk 19:11-28 – “Mengapa uangku tidak kau berikan kepada orang yang menjalankan uang?”

RENUNGAN
1.Uang mina melambangkan kekayaan milik Allah, yang diberikan kepada manusia agar dia tumbuh dan menghasilkan buah. Uang mina juga melambangkan kehadiran Allah dalam kasih, pelayanan, dan berbagi. Orang yang takut tumbuh berarti menutup diri karena takut kehilangan apa yang ia miliki. Sedangkan orang yang mengasihi dan berbagi akan tumbuh dan akan menerima ganjaran berkelimpahan: “Orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat” (Mk 10:30).

2.Orang ketiga yang takut dan tidak berbuat apa-apa, tidak ingin kehilangan sesuatu. Justru dengan demikian ia akan kehilangan seluruh apa yang ia punya. Artinya: ia akan kehilangan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah harus diusahakan dan diperjuangkan. Siapa pun yang tidak mengusahakannya,  Kerajaan Allah akan hilang dari padanya.

3.Lukas mengakhiri perikope ini: “Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.” Dengan menuju Yerusalem menunjukkan bahwa Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Yesus sudah begitu dekat dan terjadi di Yerusalem. Kerajaan Allah terwujud melalui Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Yesus. Setiap murid Kristus harus selalu mengusahakan hadirnya Kerajaan Allah; ia tidak bisa berpangku tangan dengan hanya mengharapkan datangnya Kerajaan Allah. Kerajaan Allah terwujud melalui tindakan kita.

Rm Maxi Suyamto

Selasa, 21 November 2017

Renungan Harian GML : Jika Kita Keinginan Besar untuk Bertemu Yesus, Yesus pun Berkenan Menjumpai Kita

Bacaan Liturgi 21 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXIII
PW S. Maria Dipersembahkan kepada Allah
Bacaan Injil
Luk 19:1-10
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan melintasi kota itu.
Di situ ada seorang kepala pemungut cukai yang amat kaya, bernama Zakheus. 
Ia berusaha melihat orang apakah Yesus itu, 
tetapi tidak berhasil karena orang banyak 
dan ia berbadan pendek.
Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, 
lalu memanjat pohon ara 
untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. 

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata, 
"Zakheus, segeralah turun. 
Hari ini Aku mau menumpang di rumahmu." 
Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. 
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya, 
"Ia menumpang di rumah orang berdosa." 

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, 
"Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, 
dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang 
akan kukembalikan empat kali lipat."

Kata Yesus kepadanya, 
"Hari ini terjadilah keselamatan atas rumah ini, 
karena orang ini pun anak Abraham.
Anak Manusia memang datang 
untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Renungan
Hari itu saya mendapat tugas membawa berkas penting untuk disampaikan kepada seorang suster di Batu. Suster Stefani namanya. Suster ini biasanya sangat sibuk. Saya tidak yakin apakah bisa menemuinya. Sebenarnya saya bisa berusaha mendapatkan nomor telponnya untuk mengontak dia terlebih dahulu. Entah mengapa, hal itu tidak saya lakukan. Saya berangkat saja dan langsung menuju kediamannya. 

Biasanya kalau saya tiba di tempat itu, semua suster anggota rumah ada di tempat, kecuali Suster Stefani yang harus saya temui itu. Anehnya kali ini, saya menjumpai tempat itu kosong. Tak ada satu pun suster di tempat. Untunglah saya bertemu dengan seorang ibu yang adalah karyawati di tempat itu. Dia menjelaskan bahwa semua suster sedang keluar. Ada yang sedang sakit dan berada di Surabaya, di rumah sakit. Ada yang sedang ke pasar untuk belanja. Ada pula yang sedang ke kampus untuk mengajar. Satu-satunya suster yang ada di rumah adalah Suster Stefani, yang baru saja masuk ke ruangan kantor. 

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Berita dari ibu itu tentu sangat menggembirakan saya. Saya memang hari itu sedang punya keperluan dengan Suster Stefani. Ternyata ketika semua suster lain tak ada di tempat, Beliau ada. Saya pun segera menemuinya di kantor. Dia juga sangat senang menjumpai saya. Saya merasa bahwa Tuhan memperkenankan saya bertemu dengan Suster itu. Tepat seperti Zakeus yang ingin melihat Yesus, dalam Injil hari ini, dan Yesus berkenan malahan menumpang di rumahnya.

Zakeus punya keinginan besar untuk berjumpa dengan Yesus. Sayang ada halangan besar yang membuat dia sulit mewujudkan keinginannya itu. Halangan pertama adalah dari dirinya sendiri. Badannya pendek. Halangan yang kedua adalah dari lingkungannya. Begitu banyak orang mengerumuni Yesus. Untuk mengatasi halangan itu, Zakeus lari, meninggalkan orang banyak yang berkerumun itu. Lalu untuk mengatasi badannya yang pendek, Zakeus naik pohon. Usaha itu membuahkan hasil. Bukan hanya dia yang dapat melihat Yesus. Yesus pun melihat dia dan menyapa dia secara khusus. Lalu Yesus masuk dan makan bersama di rumahnya.
Seperti Zakeus, jika ada keinginan besar untuk bertemu Yesus, Yesus pun berkenan menjumpai kita dan tinggal bersama kita. Jika ada keinginan biasanya juga ada halangan. Halangan dari diri sendiri dan dari lingkungan. Kita diajak untuk mengatasi dua halangan itu. Beranikah saya mengatasi kelemahan aku untuk berjumpa dengan Yesus? Beranikah aku mengatasi halangan dari lingkunganku untuk bertemu dengan Yesus?

Rm Supriyono Venantius SVD

Senin, 20 November 2017

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN


SABDA, Senin, 20-11-2017

BACAAN
1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64 – “Kemurkaan hebat menimpa umat”

Luk 18:35-43 – “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menggambarkan kedatangan Yesus di Yeriko,  tempat terakhir sebelum Ia sampai di Yerusalem, di mana “Eksodus”-Nya yang Ia umumkan sewaktu Berubah Wajah akan terjadi.

2.Ay 35-37 – Seorang buta duduk di tepi jalan. Ketika mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?” Kata mereka: “Yesus orang Nasaret lewat.” Ia tidak bisa mengikuti perjalanan Yesus, karena buta.

3.Ay 38-39 – Orang buta itu berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Ia memanggil Yesus dengan sebutan Anak Daud. Memang pengajaran waktu itu mengatakan bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud. Teriakan orang buta itu menjengkelkan orang-orang lain yang mengikuti Yesus. Ia berteriak semakin keras: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Teriakan tersebut juga terjadi sekarang ini dalam diri orang-orang miskin, para pengungsi, pengemis, orang-orang terlantar yang mungkin juga menjengkelkan orang-orang mapan yang tidak mau peduli terhadap penderitaan mereka. Mungkin orang mapan itu adalah kita.

4.Ay 40-41 – Reaksi Yesus. Ia berhenti dan memerintahkan mereka untuk membawa orang itu kepada-Nya. Yesus mendengarkan teriakan orang buta dan orang-orang miskin, di mana kita tidak ingin memperhatikan mereka. Yesus bertanya kepadanya: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Dari pertanyaan Yesus ini, orang tidak cukup berteriak saja,  tetapi harus tahu mengapa mereka berteriak. Orang buta itu menjawab: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

5.Ay 42-43 – “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu ia dapat melihat dan  mengikuti Yesus sambil memuji Allah. “Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” Imannya akan Yesus melampaui gagasannya tentang Yesus yang ia sebut sebagai “Anak Daud.” Penyembuhan merupakan buah iman akan Yesus. Sekali disembuhkan, ia berjalan mengikuti Yesus menuju Yerusalem. Dalam hal ini, ia merupakan salah satu model seorang murid bagi kita. Keputusannya untuk berjalan bersama Yesus merupakan sumber keberanian dan  benih kemenangan Salib. Salib bukanlah hal yang fatal tetapi lebih merupakan pengalaman bersama Allah. Salib merupakan konsekuensi mengikuti Yesus dalam ketaatan-Nya terhadap Bapa.

 Rm Maxi Suyamto

Sabtu, 18 November 2017

Renungan Harian GML : SELALU BERDOA DAN JANGAN KENDOR


SABDA, Sabtu, 18-11-2017

BACAAN
Keb 18:14-16; 19:6-9 – “Jalan  tanpa rintangan muncul di Laut Merah, dan rakyat melonjak-lonjak bagaikan anak domba”

Luk 18:1-8 – “Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya?”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan unsur yang sangat akrab dengan Lukas, yaitu Doa. Ini yang kedua kali Lukas menyampaikan kata-kata Yesus bagaimana Ia mengajar berdoa.  Yang pertama (Luk 11:1-13), Ia mengajarkan doa Bapa Kami, di mana kita harus berdoa terus menerus dan tidak mengenal lelah. Hari ini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus terus mendesak dalam berdoa.

2.Ay 1 – Pengantar. Lukas menulis “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Anjuran “untuk berdoa tanpa jemu-jemu” muncul banyak kali dalam Perjanjian Baru (1Tes 5:17; Rom 12:12; Eph 6:18; dll). Doa tanpa jemu-jemu merupakan ciri khas spiritualitas jemaat Kristen awal. Apakah juga menjadi ciri khas kita?

3.Ay 2-5 – Perumpamaan. Kemudian Yesus menyampaikan dua tokoh dalam kehidupan nyata: hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, dan seorang janda yang berjuang untuk mendapatkan haknya dari hakim tersebut. Perumpamaan menghadirkan orang miskin yang berjuang di pengadilan untuk mendapatkan haknya. Hakim memberi perhatian terhadap janda tersebut dan memberikan keadilan. Alasannya adalah untuk membebaskan diri dari janda tersebut yang selalu mengganggunya. Alasan yang menarik. Tetapi janda tersebut mendapatkan apa yang ia inginkan. Dari sini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus berdoa.

4.Ay 6-8 – Penerapan. Yesus menerapkan perumpamaan tersebut: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” Di sini Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang lalim tersebut. Tetapi kemudian Yesus menyampaikan sebuah keraguan: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Dengan kata lain, apakah kita memiliki keberanian untuk menanti dan memiliki kesabaran, bahkan jika Allah menunda melakukan apa yang kita minta kepada-Nya?

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 17 November 2017

Renungan Harian GML : MEMBANGUN HIDUP UNTUK MENYONGSONG SAAT ANAK MANUSIA DATANG


SABDA, Jumat, 17-11-2017

BACAAN
Keb 13:1-9 – “Jika mereka mampu menyelidiki jagat raya, mengapa mereka tidak menemukan penguasa semuanya itu?”

Luk 17:26-37 – “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya”

RENUNGA
1.Injil hari ini melanjutkan refleksi tentang akhir jaman dan bagaimana menyiapkannya. Tentang akhir jaman sudah menjadi problem pada waktu itu. Allah merupakan satu-satunya yang menentukan saat terjadinya akhir jaman. Tetapi saat Allah tidak bisa diukur dengan ukuran waktu kita. Dan kita tidak tahu, kapan hal itu akan terjadi. Tetapi yang menguatkan kita bukanlah kapan saat itu terjadi, tetapi Sabda Tuhan Yesus yang hadir dalam diri kita.

2.Ay 26-29 – Tiap hari hidup kita berjalan rutin: makan, minum, bekerja, main hp, ... Saking rutinnya, kita tidak lagi memperhatikan dimensi yang lebih dalam untuk kehidupan kita. Kita membiarkan ngengat mengancam hidup dan iman kita, sehingga ketika badai menerjang rumah kita, kita menyalahkan tukang bangunan. Tetapi sejatinya kita sendiri yang tidak merawat bangunan dengan baik. Kehancuran Sodom merupakan gambaran yang akan terjadi pada akhir jaman.

3.Ay 30-32 – Kehancuran Yerusalem pada tahun 70, bisa menjadi gambaran betapa mengerikannya saat akhir jaman. Agar supaya mereka mampu menghadapi penderitaan, Yesus menggunakan gambaran kehidupan: “Baragsiapa pada waktu itu berada di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya ... “ Kehancuran akan berjalan begitu cepat. Isteri Lot yang menoleh ke belakang saja, langsung menjadi tiang garam (Kej 19:26). Maka kita tidak boleh main-main dan sembarangan dalam hidup ini.

4.Ay 33 – “Barangsiapa memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya ia akan menyelamatkannya.” Dengan Sabda tersebut, hanya orang yang mampu memberikan diri secara total kepada orang lain, akan memperoleh kepenuhan hidup. Seseorang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri, ia akan kehilangan hidupnya. Padahal tak seorang pun dapat menjamin dan menyelamatkan hidupnya sendiri (Mzm 49:8-10).

5.Ay 34-37 –  Apa yang dikatakan dalam ayat-ayat di sini, mengingatkan perumpamaan tentang sepuluh gadis, lima bijaksana dan lima lainnya bodoh (Mt 25:1-11). Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu siap siaga supaya layak menyongsong saat Anak Manusia datang.

6.Bagaimana dengan Anda?

Rm.  Maxi Suyamto

Kamis, 16 November 2017

Renungan Harian GML: KERAJAAN ALLAH ADA DI TENGAH-TENGAH KITA

SABDA, Kamis, 16-11-2017

BACAAN
Keb 7:22-8:1 – “Kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cerminan tak bernoda kegiatan Allah”

Luk 17:20-25 – “Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berupa diskusi antara Yesus dengan orang-orang Parisi tentang kedatangan Kerajaan Allah. Inji hari ini dan hari-hari berikutnya berbicara tentang akhir jaman.

2.Ay 20-21 –  Ketika orang-orang Parisi bertanya kapan Kerajaan Allah datang, Yesus menjawab: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!” Orang-orang Parisi berpikir bahwa Kerajaan Allah dapat datang hanya kalau sesudah orang-orang mencapai kesempurnaan dalam menjalankan Hukum Allah dan Mesias akan datang sebagai raja agung. Yesus berkata sebaliknya. Datangnya Kerajaan Allah tidak bisa diamati seperti datangnya raja duniawi. Bagi Yesus, Kerajaan Allah sudah datang. Ia berada di antara kita, tidak tergantung dari usaha dan jasa kita.

3.Ay 22-24 – Tanda-tanda untuk mengenal datangnya Anak Manusia. Untuk mengenal kedatangan Anak Manusia, Yesus menggunakan gambaran ramalan akhir jaman pada waktu itu. Menurut ramalan tersebut, sebelum jaman akhir tiba, orang-orang mengalami krisis dan penderitaan hebat. Ramalan akhir jaman berusaha menerangi situasi putus asa agar orang-orang tidak kehilangan harapan dan tetap memiliki keberanian. Tetapi harus disadari bahwa kedatangan Anak Manusia tidak tergantung pada ramalan yang dibuat manusia. Bagi orang-orang yang percaya, Kerajaan Allah sudah berada di tengah mereka, seperti kilat yang memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, suatu fakta yang tidak bisa diragukan.

4.Ay 25 – Dari Salib menuju Kemuliaan. “Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.” Rasul Paulus mengingatkan: “Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Jalan menuju kemuliaan harus melalui Salib. Kehidupan Yesus adalah Ukuran; ukuran bagi kita semua untuk sampai pada kehidupan kekal.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 15 November 2017

Renungan Harian GML : MENGUCAP SYUKUR ATAS SETIAP PEMBERIAN DARI ALLAH

SABDA, Rabu, 15-11-2017

BACAAN
Keb 6:2-11 – “Dengarkanlah, hai para raja, dan pelajarilah kebijaksanaan”

Luk 17:11-19 – “Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, tetapi hanya satu yang kembali untuk bersyukur. Dia adalah orang Samaria. Ungkapan syukur merupakan salah satu tema Injil Lukas. Banyak kali orang-orang mengagumi dan memuji Allah karena hal-hal yang dibuat oleh Yesus (Lk 2:28-38; 5:25-26; 7:16; 13:13;). Lukas juga menyampaikan madah dan nyanyian yang mengungkapkan pengalaman syukur (Lk 1:46-55; 1:68-79; 2:29-32).

2.Ay 11 – Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Dari awal perjalanan-Nya (Luk 9:52) sampai sekarang (Luk 17:11), Yesus berjalan melewati Samaria. Baru sekarang Ia meninggalkan  Samaria, melewati Galilea supaya sampai Yerusalem. Hal ini berarti pengajaran yang diberikan Yesus terjadi di daerah-daerah yang tidak didominasi oleh orang-orang Yahudi. Dalam pengajaran-Nya, Yesus menyingkirkan segala macam perbedaan atau ketidaksamaan yang dibuat manusia. Karena hal ini, maka Yesus menerima sepuluh orang kusta.

3.Ay 12-13 – Sepuluh orang kusta datang kepada Yesus, dari jarak yang agak jauh mereka berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Orang kusta adalah kelompok yang disingkirkan, direndahkan, dan tidak punya hak untuk tinggal bersama keluarga. Bila bepergian, mereka harus memakai baju yang sobek-sobek dan dengan rambut acak-acakan, sambil berteriak: “Najis! Najis!” (Im 13:45-46). Setiap orang yang disentuh oleh orang kusta, ia ikut menjadi najis dan dilarang untuk beribadat kepada Allah. Dengan berteriak, mereka mengungkapkan iman mereka kepada Yesus yang dapat menyembuhkan mereka. Bagi mereka, sembuh berarti diterima kembali oleh Allah dan mampu menerima berkat seperti dijanjikan kepada Abraham.

4.Ay 14 – Yesus berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Jawaban Yesus ini membutuhkan iman yang besar dari orang kusta. Ketika mereka pergi kepada imam, sembuhlah kusta mereka. Hal ini mengingatkan kisah Naaman dari Siria. Naaman percaya pada kata-kata nabi Elisa. Orang-orang kusta percaya pada kata-kata Yesus.

5.Ay 15-16 –  Hanya orang Samaria yang kembali kepada Yesus. Mengapa yang lain tidak kembali kepada Yesus? Karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang menepati hukum, maka mereka berhak mendapatkan keadilan Allah dan tidak perlu kembali kepada Yesus. Sedangkan orang Samaria adalah orang yang tidak menepati hukum Yahudi. Ia mewakili orang-orang yang menyadari bahwa ia tidak punya hak di hadapan Allah.

6.Ay 17-19 – Orang Samaria, yang telah disembuhkan, memberi sebuah pelajaran kepada kita: Orang yang merasa tidak layak di hadapan Allah adalah mereka yang melaksanakan peran orang Samaria. Ia telah membantu kita menemukan kembali dimensi syukur dalam kehidupan. Segala sesuatu yang kita terima harus dipikirkan  sebagai sebuah pemberian dari Allah yang datang kepada kita melalui saudara-saudari kita yang lain.

Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 14 November 2017

Renungan Harian GML : SABDA TUHAN MENJADI DASAR HIDUP BERIMAN


Bacaan Liturgi 14 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXII

Bacaan Injil
Luk 17:7-10
Kami  hamba-hamba tak berguna; 
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.


Yesus bersabda kepada para murid, 
"Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba 
yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, 
akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang, 
'Mari segera makan'?
Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu, 
'Sediakanlah makananku. 
Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku 
sampai selesai aku makan dan minum! 
Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.'
Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, 
karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

Demikian jugalah kalian. 
Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu 
yang ditugaskan kepadamu, 
hendaklah kalian berkata, 
'Kami adalah hamba-hamba tak berguna; 
kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan'."


Renungan
Di suatu perguruan tinggi, diadakan pemilihan ketua organisasi mahasiswa. Anehnya tidak satu pun mahasiswa bersedia dicalonkan untuk menjadi pengurus. Kelas yang bersangkutan akhirnya menunjuk dua mahasiswa untuk calon ketua. Saat pemilihan dilakukan, yang seorang ternyata tidak datang. Oleh karena itu pemilihan itu dilangsungkan dengan calon tunggal. Dengan berat hati, sang calon tunggal pun akhirnya menerima tugas menjadi ketua. 
Beberapa bulan bertanggung jawab mengurus organisasi mahasiswa, keluhan mulai bermunculan ditujukan kepadanya. Berbagai sindiran, kritikan dan sikap-sikap negatif dari pihak mahasiswa diarahkan kepadanya. Ada yang mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya itu tidak ada giginya. Ada yang mengatakan bahwa dia membiarkan mahasiswa jalan sendiri. Yang lain lagi mengatakan bahwa dia merencanakan terlalu banyak kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan oleh pengurus yang lain. Bukan hanya kata-kata saja yang diarahkan kepadanya, melainkan orang mulai tidak mau lagi melakukan kerja sama dengan dia. Mendapatkan reaksi negatif dari para mahasiswa itu, sang ketua tetap berusaha menjalankan tugasnya.
Setahun kemudian, ketika sampai pada penghujung masa tugasnya, dia menyelenggarakan pemilihan ketua baru. Setelah terpilih pengurus baru, dia menyelenggarakan acara pelantikan. Berbagai pihak memberikan sambutan dalam acara itu. Seperti yang sudah ia duga, sambutan demi sambutan isinya adalah kritikan dan penilaian negatif terhadap setahun kerja sang ketua. Tibalah giliran sang ketua itu memberi sambutan pertanggungjawaban. Dalam sambutannya itu, sang ketua menyadur kutipan ayat Kitab Suci, kurang lebih berbunyi demikian, “Setelah selesai melaksanakan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kami sebagai pengurus,  kami hendak berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.“ Penutup sambuatan itu ternyata bisa meluluhkan semua reaksi negatif dari para mahasiswa lain. Acara pertanggungjawaban itu menjadi semacam rekonsiliasi yang mendamaikan pihak-pihak yang selama ini saling berseberangan dan saling tidak percaya. Acara itu juga  menjadi awal pembangunan semangat baru untuk saling mengabdi di antara sesama mahasiswa.
Begitulah akhir dari tanggung jawab yang dilandasi oleh semangat dari Sabda Tuhan. Tuhan memberikan Sabda yang dapat mencairkan suasana. Sabda Tuhan dalam Injil hari ini menjadi dasar hidup beriman khusus bagi orang yang telah berhasil melaksanakan tugas tertentu. Tugas yang kita emban adalah sarana untuk mengabdikan segala kemampuan kita kepada Tuhan yang kita abdi. Keberhasilan yang kita dapat bukanlah alasan untuk menyombongkan diri. Keberhasilan itu kita dapat karena Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi. Maka dimana pun ada keberhasilan, orang beriman dihantar pada satu hal yakni memuliakan nama Tuhan. Ketika orang beriman memuliakan nama Tuhan, dirinya mengalami kebahagiaan dan umat beriman lainnya dapat bersatu dalam kebahagiaan itu. Kebahagiaan dalam kemuliaan nama Tuhan adalah kebahagiaan bersama.

Rm Supriyono Venantius SVD

Senin, 13 November 2017

Renungan Harian GML : MENGAMPUNI SEPERTI ALLAH MENGAMPUNI


SABDA, Senin, 13-11-2017

BACAAN
Keb 1:1-7 – “Kebijaksanaan adalah roh yang sayang akan manusia”

Luk 17:1-6 – “Jika saudaramu berbuat dosa terhadapmu tujuh kali sehari dan tujuh kali kembali kepadamu dan berkata ‘Aku menyesal’, engkau harus mengampuni dia”

RENUNGAN
1.Injil hari ini terdiri tiga kata-kata berbeda dari Yesus: penyesatan terhadap orang kecil dan lemah (ay 1-2), mengampuni (ay 3-4), dan minta tambahnya iman  (ay 5-6).

2.Ay 1-2 – Kata-kata pertama: menghindari skandal. Skandal yang dimaksud adalah penyesatan terhadap orang-orang kecil dan lemah, artinya membuat mereka ini terjegal dan jatuh. Dalam tataran iman berarti menjauhkan mereka dari iman dan Tuhan, akhirnya mereka kehilangan iman. Hukuman terhadap penyesat yang demikian adalah mengalungi leher penyesat tersebut dengan batu kilangan dan dilemparkan ke dalam laut. Hukuman ini begitu keras, karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang-orang kecil dan lemah (Mt 25:40.45). Bahkan kita sendiri sering menyesatkan mereka, sehingga mereka kehilangan iman. “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain” (Rom2:24).

3.Ay 3-4 – Kata-kata kedua: Ampunilah saudaramu. Mengampuni tujuh kali dalam sehari. Bukan hal yang mudah, tetapi Yesus menuntut sangat banyak. Dalam Injil Matius, kita dituntut mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali (Mt 18:22). Pengampunan dan rekonsiliasi merupakan misi Yesus yang paling utama. Kuasa untuk mengampuni diberikan Tuhan kepada Petrus (Mt 16:19), kepada para Rasul (Yoh 20:23) dan kepada komunitas (Mt 18:18). Mengampuni orang lain tidak diragukan lagi, karena jika kita tidak mengampuni saudara kita, kita tidak akan menerima pengampunan dari Allah (Mt 18:22-35; 6:12.15; Mk 11:26). Tidak sebanding antara pengampunan yang kita terima dari Allah dan pengampunan yang kita berikan kepada sesama kita.

4.Ay 5-6 – Kata-kata ketiga: Tambahkanlah iman kami. Mereka minta ditambahkan iman, karena didorong oleh perintah Yesus untuk mengampuni tersebut. Sungguh tidak mudah untuk mengampuni. Hanya dengan iman yang besar, kita bisa mengampuni. Secara manusiawi, di mata dunia, mengampuni seperti dikehendaki Tuhan merupakan hal yang bodoh. Tetapi, bagi kita, sikap untuk mengampuni sampai tujuh kali sehari merupakan kebijaksanaan Allah yang telah mengampuni kita dengan tanpa batas.

 Rm.  Maxi Suyamto

Sabtu, 11 November 2017

Renungan Harian GML : SETIA DALAM PERKARA-PERKARA KECIL

SABDA, Sabtu, 11-11-2017

BACAAN
Rom 16:3-9.16.22-27 – “Hendaklah kamu saling memberi salam dengan cium kudus”

Luk 16:9-15 – “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”

RENUNGAN
1.Mamon adalah dewa kekayaan bangsa Yahudi; mamon disamakan dengan kekayaan duniawi atau uang. Orang-orang Parisi telah menjadi hamba uang (Lk 16:14). Kekuatan uang dan materi sangat menarik dan mampu meyakinkan kita bahwa tanpa uang dan materi kita tidak bisa bahagia, bahkan tidak bisa hidup. Namun kita juga harus sadar bahwa Yesus juga tidak meminta kita meninggalkan uang dan kekayaan. Yang dikritik Yesus adalah kelekatan terhadap harta kekayaan, seperti bendahara yang tidak jujur (Luk 16:1-8) yang akhirnya di-phk dari pekerjaannya.

2.Manusia sekarang ini banyak yang sudah dibutakan oleh kekayaan, sehingga sudah tidak setia lagi kepada kebenaran. Kalau demikian, bagaimana Allah bisa percaya pada kita dan memberikan berkat serta harga surga yang begitu besar bagi kita?

3.Allah mengundang kita untuk memilih keabadian dan mengikuti kehendak-Nya. Hanya persahabatan dengan-Nya yang menuntun kita pada kebahagiaan sejati.

4.Maka Yesus mengingatkan kita: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Dari peringatan Tuhan ini, penting bagi kita untuk menjaga kesetiaan dan komitmen yang dimulai dari tindakan yang sederhana. Misalnya mengelola uang. Urusan uang merupakan urusan sederhana, namun bisa berakibat fatal jika tidak disiplin. Jika kita bertindak jujur dalam mengelola uang, maka kita pasti bisa bersikap terbuka dan bertanggung jawab.

5.Jika kita dapat dipercaya dan bertanggung jawab terhadap harta benda dunia dan menggunakannya untuk membangun Kerajaan Allah, untuk menciptakan masyarakat yang  lebih adil, maka kita dapat dipercaya dengan hal yang lebih besar, yaitu hidup kekal bertatap muka dengan Allah.

Oleh Rm.  Maxi Suyamto

Jumat, 10 November 2017

Renungan Harian GML : Lingkaran Setan Kejahatan

Lukas 16:1-8
“Perumpamaan Tentang Bendahara Yang Tidak Jujur”

Marilah kita baca perumpamaan ini dalam konteks teks-teks sebelum dan sesudahnya. Sebelum perikop ini, kita dapat menemukan perikop tentang “Anak Yang Hilang” (Luk 15:11-32), dan setelah perikop ini, kita dapat menemukan perikop tentang “Setia Dalam Perkara Yang Kecil” (Luk 16:10-18). Dan perikop mengenai “Perumpamaan Tentang Bendahara Yang Tidak Jujur” (Luk 16:1-8) – bacaan hari ini – berada di tengah-tengahnya. 

Jika ketiga perikop ini kita baca bersama-sama, maka kita bisa mendapatkan pesan bahwa “Setelah Bapa menerima kembali anak-Nya masuk ke rumah-Nya (diampuni) [Luk 15:11-32], maka setelah itu kita membutuhkan sebuah bentuk pertobatan yang konkrit, yaitu setia dalam perkara-perkara yang kecil [Luk 16:10-18], dan hal itu dapat ditunjukkan dengan menjaga kejujuran dalam melaksanakan tanggungjawab dan kewajiban kita sehari-hari (tidak seperti seorang bendahara yang tidak jujur) [Luk 16:1-8].” Dengan begitu, kita sebagai orang-orang yang telah diselamatkan (diampuni), diharapkan juga untuk menjaga kejujuran dalam hal-hal kecil sehari-hari. 
Kembali ke teks Luk 16:1-8, teks bacaan Injil hari ini, secara sederhana menceritakan tentang seorang bendahara yang melakukan “korupsi” – ia tidak jujur. Pertama-tama, uang tuannya dihambur-hamburkan tanpa pertanggungjawaban (ay. 1-2). Lalu yang kedua, sebelum ia dipecat, ia menulis surat-surat hutang palsu (ay. 5-7). Lalu pertanyaannya, “Mengapa ia melakukan hal ini?” Ternyata ada ketakutan dan kekhawatiran dalam hatinya, “Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.” 

Dari teks ini, kita bisa menemukan sebuah “Lingkaran Setan Kejahatan”:
[1] Tidak Bertanggungjawab [uang tuannya dihambur-hamburkan]  [2] Diancam akan dipecat  [3] Takut dan khawatir  [4] Melakukan korupsi  [5] Menunjukkan “ketidaktanggungjawaban” yang baru [dan begitu seterusnya]. 

Lalu pertanyaannya, “Apa yang bisa kita lakukan?”
Dari teks-teks sebelum dan sesudah perikop ini, kita bisa menemukan jawabannya :
[1] “Ingatlah kita sudah diselamatkan!” (kita dicintai, sudah diampuni – diterima kembali di dalam rumah-Nya) [Luk 15:11-32]
[2] Dan, “Berusahalah untuk setia (jujur) dalam perkara-perkara yang kecil!” [Luk 16:10-18] 
Dengan begitu, kita bisa keluar dari “Lingkaran Setan Kejahatan” ini [Luk 16:1-8]

Pertanyaannya untuk kita saat ini, “Sudahkah kita merasakan bahwa kita benar-benar dicintai, diampuni, dan diselamatkan oleh Tuhan sendiri? Dan, apakah kita sudah berusaha untuk jujur dalam hidup kita sehari-hari?” Dengan dua pertanyaan ini, kita dituntun untuk keluar dari “Lingkaran Setan Kejahatan” dalam bacaan Injil hari ini.

Oleh Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Kamis, 09 November 2017

Renungan Harian GML : KITA ADALAH BAIT SUCI ALLAH, DI MANA ROH ALLAH BERSEMAYAM

SABDA, Kamis, 9-11-2017

BACAAN
Yeh 47:1-2.8-9.12 – “Aku melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup”

1Kor 3:9b-11.16-17 – “Kamu adalah tempat kediaman Allah”

Yoh 2:13-22 – “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja Semesta memperingati pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran yang merupakan gereja Katedral untuk Uskup Roma yang sekaligus menjabat sebagai Paus. Gereja Basilik Lateran juga disebut “induk semua gereja.” Sekarang gereja tersebut bernama Gereja St. Yohanes Lateran. Dalam peringatan hari ini kita hendak mengungkapkan kesatuan kita dengan Uskup di Roma, yang sekaligus menjabat sebagai Paus, pemersatu seluruh Gereja dalam cinta kasih Kristus. Pemberkatan Gereja Lateran juga merupakan peringatan akan kemerdekaan dan perdamaian setiap umat beriman.

2.Paskah Yahudi sudah dekat dan Yesus berangkat ke Yerusalem untuk memenuhi Hukum. Ketika Ia sampai di Bait Allah, didapati-Nya Bait Allah menjadi tempat berdagang dan tempat maksiat, bukan lagi tempat menyembah Allah. Ia bertindak dengan tegas: “mengusir mereka semua dari Bait Suci ... jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Tindakan Yesus ini, oleh orang-orang Parisi, dianggap sangat berbahaya bagi Bait Suci dan umat Israel, karena Bait Suci menjadi identitas bangsa Yahudi. Merusak Bait Suci berarti merusak bangsa Israel.

3.Dengan tindakan-Nya yang tegas  tersebut, Yesus menempatkan diri sebagai Anak Allah. Kehadiran-Nya mewakili Allah di dunia ini. Dengan tindakan-Nya tersebut, Yesus ingin mengembalikan fungsi Bait Allah, yaitu menjadi tanda di mana Allah tinggal bersama umat-Nya.

4.Para murid menjadi ingat akan kata-kata Mazmur: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku” (Mz  69:10). Orang-orang Yahudi menantang Yesus: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawaban Yesus semakin membuat mereka marah: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Yesus tidak memberi tanda atau mukjijat seperti yang mereka minta, selain Kematian dan Kebangkitan-Nya sendiri. Dengan tanda tersebut, Yesus dengan resmi menggantikan Bait Allah dengan diri-Nya sendiri. Kehadiran-Nya di tengah-tengah manusia, cinta kasih-Nya yang total, kematian dan kebangkitan-Nya, menjadikan Dia satu-satunya Bait Allah; Bait Allah yang Baru, tempat Allah hadir dan umat manusia menyembah.

5.Karena Pembaptisan, kita diidentifikasi dengan Kristus. Dengan demikian kita juga sebagai Bait Allah, di mana Roh Kudus bersemayam, seperti kata Paulus: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Lagi pula seluruh Umat Allah membentuk sebuah bait yang kudus, dan masing-masing orang beriman adalah sebuah batu yang hidup, dengan Yesus sendiri sebagai batu penjuru.

 Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 07 November 2017

Renungan Harian GML : Imanku kepadaYesus Merupakan Rahmat Terbesar dari Tuhan

Bacaan Liturgi 07 November 2017

Selasa Pekan Biasa XXXI

Bacaan Injil
Luk 14:15-24
Pergilah ke semua jalan dan persimpangan
dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk,
karena rumahku harus penuh.

Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi.
Sementara perjamuan berlangsung,
seorang dari tamu-tamu berkata kepada Yesus,
"Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."

Tetapi Yesus berkata kepadanya,
"Ada seorang mengadakan perjamuan besar.
Ia mengundang banyak orang.
Menjelang perjamuan dimulai,
ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan,
'Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.'
Tetapi mereka semua minta dimaafkan.
Yang pertama berkata,
'Aku baru membeli ladang dan harus pergi melihatnya;
aku minta dimaafkan.'
Yang lain berkata,
'Aku baru membeli lima pasang lembu kebiri
dan aku harus pergi mencobanya;
aku minta dimaafkan.'
Yang lain lagi berkata,
'Aku baru saja menikah,
dan karena itu aku tidak dapat datang.'

Maka kembalilah hamba itu
dan menyampaikan semua itu kepada tuannya.
Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya,
'Pergilah segera ke segala jalan dan lorong kota
dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan cacat,
orang-orang buta dan lumpuh.'
Kemudian hamba itu melaporkan,
'Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan.
Sekalipun demikian, masih ada tempat.'
Maka tuan itu berkata,
'Pergilah ke semua jalan dan persimpangan
dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk,
karena rumahku harus penuh.'

Sebab Aku berkata kepadamu,
Tidak ada seorang pun dari para undangan itu
akan menikmati jamuan-Ku."


Renungan:
Patas Surabaya-Malang, bus yang saya naiki, berhenti di Taspen siang itu. Taspen adalah tempat pemberhentian bus sebelum masuk Terminal Arjosari, Malang. Setelah turun dari bus saya menyeberang jalan untuk mencari angkutan menuju tempat tinggal saya, di jalan Terusan Rajabasa. Transportasi yang biasanya saya naiki adalah angkot dengan jalur bertuliskan huruf AT, yang berarti jalur dari Arjosari menuju ke Tidar. Saya pun berjalan, mencari tempat yang enak untuk menunggu angkot AT.
Baru saja saya berhenti dan berdiri di pinggir jalan, dari kejauhan ada seorang pemuda dengan langkah agak terseok-seok datang mendekati saya. Dia mengatakan sesuatu tapi saya gagal memahami kata-kata yang diucapkannya. Ternyata dia menawarkan ojek kepada saya. Dia katakan bahwa bersedia mengantar saya hingga sampai rumah dengan biaya Rp 30.000,- saja. Saya langsung menyahut dengan mengatakan bahwa saya menunggu angkot AT, dengan biaya yang lebih murah, hanya Rp 4.000,- saja. Tukang ojek itu pun pergi sambil mengatakan, “Ya ini tawaran saja, siapa tahu ini rejeki saya!” Saya merasa iba melihat dia berbalik pergi sambil mengucapkan kata-kata itu. Ingin rasanya memanggilnya untuk berbalik kembali ke arah saya lalu menyetujui tawarannya, tetapi mulut tetap terkatup.
Tidak lama kemudian, akhirnya angkot AT pun muncul dari kejauhan. Saya melihat masih ada tempat duduk kosong di dalam angkot itu. Saya melambaikan tangan untuk menghentikan angkot itu. Anehnya angkot itu melaju terus, tidak berhenti. Seolah sang sopir tidak melihat sama sekali lambaian tangan saya. Beberapa penumpang di dalamnya juga tampak terkejut, menengok ke arah sopir lalu menengok juga ke arah saya. Akan tetapi angkot itu tetap melaju. Meskipun dalam hati saya muncul pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi, jawabannya tidak ada.
Lalu saya berpikir, kalau menunggu AT berikutnya, akan memakan waktu lama untuk berdiri di pinggir jalan. Kalau mau memanggil tukang ojek yang menawarkan jasa tadi, orangnya sudah tidak diketahui lagi di mana berada. Tawarannya sudah terlanjur saya tolak dengan kata-kata yang pasti tidak mengenakkan perasaannya sebagai pencari rejeki. Tidak mungkin rasanya ada kesempatan tawaran datang untuk kedua kalinya. Akhirnya rasa sesal dan iba, itulah yang tinggal di dalam hati hingga saat ini.
Pengalaman saya yang berakhir dengan rasa sesal itu, sebenarnya tidak mirip dengan bacaan Injil hari ini. Dalam Injil dikisahkan, ada tawaran undangan dari seorang tuan pesta. Undangan itu diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemberitahuan akan adanya pesta. Tahap kedua adalah pemberitahuan akan waktunya pesta. Pada tahap kedua, ketika waktu yang ditetapkan untuk pesta diberitahukan, ternyata para tamu undangan tidak datang dengan alasan masing-masing. Ada yang minta maaf, tidak bisa datang karena urusan dagang, yakni membeli ladang dan membeli binatang. Ada yang minta maaf tidak bisa datang karena urusan perkawinan. Karena tamu resmi tidak datang, tamu-tamu yang tidak resmi pun didatangkan untuk pesta itu. Mereka adalah semua orang yang membutuhkan pesta. Ada orang miskin, orang cacat, orang buta, orang lumpuh, dan orang-orang yang ditemukan di persimpangan-persimpangan jalan. Merekalah yang akhirnya menikmati pesta.
Orang miskin, orang cacat, orang buta, orang lumpuh, dan orang-orang yang ditemukan di persimpangan-persimpangan jalan, adalah gambaran orang yang tidak terikat pada kesibukan untuk urusan pribadi. Mereka tidak memikirkan harta tak bergerak seperti ladang. Mereka juga tidak memikirkan harta bergerak seperti binatan piaraan. Mereka tidak mungkin membuat sendiri pesta perkawinan. Hidup mereka tergantung pada rahmat Tuhan. Mereka tidak mampu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Andalan yang mereka punyai adalah Tuhan saja. Kepasrahan mereka pada kehendak Tuhan bisa digambarkan dengan pernyataan yang mirip dengan tukang ojek dalam pengalaman saya di atas. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa mengatakan dengan pasrah, “Siapa tahu ini adalah rejeki saya!“ Orang yang pasrah pada kehendak Tuhan, itulah justru yang menikmati pesta perjamuan.
Pesta itu adalah perjamuan keselamatan bersama dengan Yesus. Bangsa yang dipilih Tuhan, diberi undangan pertama oleh Tuhan, ternyata menolak Yesus. Kita-kita yang bukan bangsa pilihan akhirnya diundang untuk mengikuti Yesus. Bersama dengan Yesus yang kita imani, ada kenikmatan abadi. Dalam Yesus ada pesta pengampunan dosa, ada pembebasan dari perbudakan dosa yang menjadi buah dari salib yang ditanggung-Nya. Rahmat besar ini mengundang kita untuk berbelas kasih kepada semua orang lain yang membutuhkan pertolongan. Setiap ada kesempatan untuk berbuat baik, itulah undangan dari Tuhan untuk menikmati pesta perjamuan bersama Yesus. Dalam pengalaman saya di atas, saya telah kehilangan kesempatan berbuat baik pada tukang ojek yang menawarkan undangan untuk berbelas kasih.
Sadarkah aku bahwa imanku kepadaYesus merupakan rahmat terbesar dari Tuhan untuk keselamatanku? Sudahkah aku mengamalkan iman itu dalam tindakan belas kasih kepada sesama yang membutuhkan?

Rm Supriyono Venantius SVD

Senin, 06 November 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH DIPERUNTUKKAN BAGI SEMUA ORANG TANPA KECUALI


SABDA, Senin, 6-11-2017

BACAAN
Rom 11:29-36 – “Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua”

Luk 14:12-14 – “Undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta ... sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar”

RENUNGAN
1.Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi, dan kebiasaan kita, jika  mengadakan pesta, lebih mengutamakan mengundang sanak saudara, teman-teman dekat, dan orang-orang terpandang. Hal ini penting untuk menjaga nama baik dan menaikkan gengsi dan martabat: "Wah, tamu-tamunya orang penting."

2.Yesus menggunakan pesta perjamuan untuk melambangkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan milik suatu masyarakat yang tertutup yang hanya terdiri dari orang-orang kaya, orang-orang terpandang, dan juga bukan perkumpulan para sahabat, melainkan milik semua orang, termasuk orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta. Siapa saja, tanpa terkecuali, berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3.Kita mengundang mereka, orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta, ke dalam perjamuan Kerajaan Allah, bila kita mengasihi mereka dengan rela, tulus dan murah hati. Kita tidak akan mendapat balas apa-apa dengan mengasihi mereka, namun kita memperoleh kebahagiaan. Dan kebahagiaan ini akan dipenuhi oleh Allah “pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

4.Mengasihi dan murah hati terhadap mereka menuntut pengorbanan dari kita. Tindakan ini tidak akan mempermiskin hidup kita, tetapi justru memperkaya. Tuhan menegaskan: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sadara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

5.Masalahnya: apakah kita mau keluar dari zona aman dan membuka hati serta memperhatikan mereka?

Rm.  Maxi Suyamto

Sabtu, 04 November 2017

Renungan Harian GML : MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN ALLAH


SABDA, Sabtu, 4-11-2017

BACAAN
Rom 11:1-2a.11-12.25-29 – “Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya”

Luk 14:1.7-11 – “Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan”

RENUNGAN
1.Bagi Yesus, saat kematian-Nya semakin mendekat. Orang-orang menolak Yesus.  Dalam situasi yang semakin tegang, sebenarnya, Yesus bisa melarikan diri, tetapi Ia memilih menghadiri undangan makan yang diselenggarakan oleh salah satu petinggi orang-orang Parisi. “Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama.”

2.Yesus menyempatkan diri memperhatikan para tamu yang berusaha duduk di tempat yang paling terhormat. Ia menegor mereka dengan perumpamaan. Dengan itu Yesus membalikkan arti dihormati dan ditinggikan di kalangan mereka.

3.Benar  bahwa menyerahkan tempat kepada orang lain merupakan hal yang tidak menyenangkan. Hal tersebut dianggap merendahkan dan merupakan pembatasan atas kebanggaan seseorang. Dan lebih merasa direndahkan ketika seseorang diminta pindah ke tempat yang lebih rendah, karena dipermalukan di depan orang banyak. Karena status sosial yang tinggi, orang menjadi bangga duduk di tempat paling depan. Sebaliknya dengan Yesus, ketika Ia datang dan tinggal di antara kita “tidak ada tempat bagi-Nya( Luk 2:7), dan Ia memilih tinggal di antara orang-orang miskin dan sederhana. Karena hal inilah, Allah meninggikan dan memuliakan Dia. “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

4.Yesus mengajarkan bagaimana kita harus merendahkan diri. Merendahkan diri tidak sama dengan rendah diri. Merendahkan diri berarti segenap kekuatan yang ada pada kita, kita tempatkan di bawah kontrol. Kemampuan yang ada hanya kita arahkan untuk yang baik, yang berkenan kepada Allah. Yesus datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Yesus mengajarkan kepada kita tidak untuk mendapatkan kekayaan seperti yang diingini dunia, tetapi Ia mengajarkan bagaimana kita menjadi kaya dalam terang Allah. Kekayaan duniawi, apalagi bila diperoleh dengan cara yang tidak halal, akan hilang dengan cepat dan tidak memuaskan manusia yang haus akan nilai-nilai yang melebihi dunia. Sombong, ambisi, serakah hanya akan menjadikan manusia tidak terhormat.

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 03 November 2017

Renungan Harian GML : PILIH SABAT ATAU KRISTUS?


SABDA, Jumat, 3-11-2017

BACAAN
Rom 9:1-5 – “Aku rela terkutuk demi saudara-saudaraku”

Luk 14:1-6 – “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik keluar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berupa sebuah diskusi antara Yesus dengan orang-orang Parisi dalam perjalanan-Nya dari Galilea menuju Yerusalem.

2.Ay 1 – Pada hari Sabat, Yesus diundang makan oleh salah seorang pemimpin dari orang-orang Parisi.  Banyak kali Yesus diundang oleh orang-orang Parisi untuk makan besama. Alasan mengundang Yesus, tidak untuk mendengarkan pengajaran Yesus, melainkan untuk mengamat-amati apakah Dia menepati peraturan dan hukum, sehingga mereka bisa menjebak Dia.

3.Ay 3 – Situasi yang membuat Yesus bertindak. Tidak diceritakan bagaimana orang yang busung air masuk ke dalam rumah pemimpin orang Parisi itu. Tetapi jika ia berada di depan Yesus, karena ia ingin disembuhkan. Orang-orang Parisi itu mengamat-amati Yesus, karena pada hari itu adalah hari Sabat, dan dilarang menyembuhkan.

4.Ay 3 – Yesus bertanya kepada para ahli Kitab dan orang-orang Parisi. “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Yesus bertanya kaena di hadapan mereka ada orang yang sakit busung air yang minta disembuhkan saat itu juga. Mereka diam tidak menanggapi.

5.Ay 4-6 –  Maka Yesus memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Yesus menerangkan alasan mengapa Ia menyembuhkan dengan pertanyaan: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Dengan pertanyaan ini Yesus menunjukkan ketidak-konsistenan para ahli kitab dan orang-orang Parisi. Kalau satu di antara mereka tidak memiliki masalah pada hari Sabat untuk membantu anaknya atau bahkan lembunya, maka Yesus juga memiliki hak membantu orang yang busung air itu. Orang-orang Parisi tidak sanggup membantahnya, karena tidak ada argumen yang dapat melawannya.

6.Yesus memiliki kemerdekaan bertindak, walaupun diamat-amati. Ia berani mematahkan peraturan-peraturan yang membelenggu. “Kasihilah sesamamu” jauh lebih penting daripada hukum Sabat.

Rm Maxi Suyamto

Rabu, 01 November 2017

Renungan Harian GML : HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

SABDA, Rabu, 1-11-2017


BACAAN
Why 7:2-4.9-14 – “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya mereka terdiri dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa”

1Yoh 3:1-3 – “Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”

Mat 5:1-12a – “Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan pesta semua orang kudus. Pesta untuk menghormati segenap anggota Gereja, yang oleh jemaat pertama disebut “Persekutuan para Kudus” yakni persekutuan semua orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus dan disucikan oleh Darah Anak Domba Allah. Selama hidup, mereka telah memelihara iman dengan baik sampai akhir pertandingan di dunia ini, sehingga mereka memperoleh ganjaran besar di surga.

2.Dalam Sabda Bahagia hari ini, Yesus membalikkan harapan mereka yang berpikir tentang hidup beruntung. Mereka adalah orang-orang kaya, yang berkuasa, dan yang menikmati kepuasan duniawi. Yesus menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati tidak diperoleh dalam kekayaan dan kekuasaan. Sebaliknya, Yesus memuliakan dan memandang bahagia mereka yang miskin, yang menderita, dan dianiaya, serta mereka yang dikucilkan karena berdosa.

3.Mengapa mereka dipandang bahagia? Karena mereka ini memberikan contoh sikap percaya pada Allah dan contoh sikap rendah hati yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka sangat berkekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar, tidak memiliki martabat atau reputasi.  Karena tidak memiliki apa-apa, maka mereka hanya percaya dan mengandalkan Allah untuk segala keperluan mereka.

4.Yesus berjanji untuk memberi ganjaran bagi semua saja yang berbelas kasih dan adil, dan yang dengan rendah hati mencari kehendak Allah, walaupun mengalami banyak kesulitan, penindasan dan penganiayaan karena percaya kepada-Nya.

5.Hidup Yesus sendiri merupakan contoh Sabda Bahagia. Ia seorang yang miskin: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Ia lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Ia penuh belas kasih (Mat 12:16-21). Para kudus telah meneladani hidup Yesus dengan sempurna.

6.Sesuai dengan Sabda Bahagia, kita bisa menjadi kudus dengan cara: a) Menaruh harapan hanya kepada Allah. b) Bersahaja. c) Selalu berada dalam Tuhan. d) Lemah lembut dan tidak berpihak pada kekerasan. e) Berhati bersih dan tidak gampang dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang menjauhkan dari Tuhan. f)  Berbelas kasih. g) Pencinta damai. h) Rendah hati. Dalam Tuhan, kita bisa mewujudkannya dan mohon supaya, pada saatnya, kita dimasukkan ke dalam bilangan para kudus.

 Rm Maxi Suyamto