menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Minggu, 31 Desember 2017

Renungan Harian GML : Pesan Paus Fransiskus tentang KELUARGA.

Bacaan Liturgi 31 Desember 2017

Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf

Bacaan Injil
Luk 2:22-40
Anak itu bertambah besar dan penuh hikmat.

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat,
Maria dan Yusuf membawa Kanak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan,
seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan:
     Semua anak laki-laki sulung
     harus dikuduskan bagi Allah.
Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban
menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan,
yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon.
Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya,
yang menantikan penghiburan bagi Israel.
Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Atas dorongan Roh Kudus
Simeon datang ke Bait Allah.
Ketika Kanak Yesus dibawa masuk oleh orangtua-Nya
untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
    "Sekarang Tuhan,
     biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,
     sesuai dengan firman-Mu,
     sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
     yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
     yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
     dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu
yang dikatakan tentang Kanak Yesus.
Lalu Simeon memberkati mereka
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
-- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Pada waktu itu
ada pula di Yerusalem seorang nabi perempuan,
anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana.
Ia sudah sangat lanjut umurnya.
Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya,
dan sekarang ia sudah janda,
berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah,
dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
Pada hari itu Hana pun datang ke Bait Allah
dan mengucap syukur kepada Allah,
serta berbicara tentang Kanak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus
ke kota kediaman mereka,
yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan.


ATAU BACAAN SINGKAT:
Luk 2:22.39-40

Anak itu bertambah besar dan penuh hikmat.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat,
Maria dan Yusuf membawa Kanak Yesus ke Yerusalem
untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan.

Setelah menyelesaikan semua
yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus
ke kota kediaman mereka,
yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat,
dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.


Renungan
Dalam Perayaan Keluarga Kudus, saya ingat kata-kata Paus Fransiskus ini:

Pesan Paus Fransiskus
tentang KELUARGA.

"Tidak ada keluarga yang sempurna.
  Kita tidak punya orang tua yang sempurna,
  kita tidak sempurna,
  tidak menikah dgn orang yg sempurna,
  kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.

Kita memiliki keluhan tentang satu sama lain.
  Kita kecewa dengan satu sama lain.
  Oleh karena itu,
  tidak ada pernikahan yang sehat
  atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan.

Pengampunan adalah
  penting untuk kesehatan emosional kita
  dan kelangsungan hidup spiritual.

Tanpa pengampunan
  keluarga menjadi
  sebuah teater konflik &
  benteng keluhan.

Tanpa pengampunan
  keluarga menjadi sakit.

Pengampunan adalah
  sterilisasi jiwa,
  penjernihan pikiran &
  pembebasan hati.

Siapa pun
  yang tidak memaafkan
  tidak memiliki ketenangan jiwa & persekutuan dengan Allah.

Rasa sakit adalah
  racun yg meracuni &  membunuh.

Mempertahankan luka hati adalah
  tindakan merusak diri sendiri.
Ini adalah Autofagi.

Dia yang tidak memaafkan
  memuakkan fisik, emosional dan spiritual.

Itulah sebabnya
  keluarga harus menjadi
  tempat kehidupan &
  bukan tempat kematian;
  sebuah tempat penyembuhan
  bukan tempat penuh dgn penyakit;
  sebuah panggung pengampunan dan
  bukan panggung rasa bersalah.

Pengampunan
  membawa sukacita
sedangkan kesedihan
  membuat hati luka.

Dan pengampunan
  membawa penyembuhan,
sedangkan rasa sakit
  menyebabkan penyakit."

Rm Mart

Sabtu, 30 Desember 2017

Renungan Harian GML : IA BERTAMBAH BESAR DAN MENJADI KUAT, PENUH HIKMAT, DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADA-NYA

SABDA, Sabtu, 30-12-2017


BACAAN
1Yoh 2:12-17 – “Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya”

Luk 2:36-40 – “Hana berbicara tentang kanak-kanak Yesus”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang seorang nabi wanita yang bernama Hana. Ia seorang janda, sudah sangat tua, 84 tahun. Ia tinggal di kenisah, penuh iman dan berdoa siang dan malam.

2.Hana dan Kanak-kanak Yesus. ”Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” Ia datang ke kenisah ketika Simeon menatang  kanak-kanak Yesus dan berbicara kepada Maria mengenai masa depan anaknya itu (Luk 2:25-35). Hana melihat seorang Anak yang digendong ibunya dan Hana mengetahui bahwa Anak tersebut adalah Penyelamat dunia.

3.Kehidupan Yesus di Nazaret. “... kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Anak Manusia menjadi sama dengan kita dalam semua hal dan mengambil rupa sebagai seorang Hamba, yang taat sampai mati bahkan mati di kayu salib (Phil 2:7-8).

4.Yesus hidup di Nazaret selama 30 tahun.  Penuh hikmat berarti memahami pengetahuan dan pengalaman manusia. Hal ini didapat melalui pengalaman hidup bersama masyarakat-Nya. Bertambah besar dan menjadi kuat berarti menjadi dewasa dalam kepribadian. Semuanya berproses melalui suka duka, melalui penemuan-penemuan baru dengan segala frustrasinya, kemarahan dan kasih-Nya. Hal ini terjadi dalam keluarga bersama orang tua-Nya, saudara-saudari dan teman-teman-Nya. Tumbuh dalam kasih karunia Allah berarti menemukan kehadiran Allah di dalam kehidupan, di dalam semua  tindakan yang Ia buat, dan panggilan hidup-Nya. Ia telah belajar taat dalam seluruh penderitaan-Nya (Hibr 5:8).

5.”Bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Bagaimana pengalaman Anda?

Rm Maxi Suyamto

Senin, 25 Desember 2017

Renungan Natal : “Firman telah menjadi manusia”

Natal 25 Desember 2017

Yoh 1:1-18
“Firman telah menjadi manusia”

“Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan Allah” (Yoh 1:1-2). Dari ayat ini, kita diajak tuk kembali kepada Kisah Penciptaan di Kejadian 1:1-2:4.

Pada Kejadian 1:3, pada hari pertama penciptaan, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah Terang.’ Lalu terang itu jadi.” Dari ayat ini, kita diajak tuk memahami Injil hari ini, bahwa “terang” itu telah benar-benar hadir di tengah-tengah kita – “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh 1:9). Dan di hari yang terakhir, Allah menciptakan manusia (Kej 1:26), dan kini “Firman” itu telah benar-benar menjadi manusia dalam diri Tuhan Kita, Yesus Kristus (Yoh 1:14), “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Jadi, Natal pada intinya adalah sebuah perayaan yang merayakan kehadiran Tuhan kita yang mau bersolider dengan kita. Tuhan yang mau menjadi (a) “terang” dan (b) “manusia” bagi kita. Tuhan yang tidak lagi jauh, melainkan Tuhan yang begitu dekat. Tuhan yang mau merasakan apa yang dirasakan oleh manusia. Ia dilahirkan; Ia disusui; Ia berjalan di tanah yang kita injak; Ia makan makanan yang kita makan; bahkan Ia menghirup udara yang kita hirup saat ini. Inilah Tuhan kita – “Tuhan Yang Maha Dekat”.

Maka pesan Natal pun sungguh sangat sederhana, “Maukah kita menjadi ‘terang’ dan ‘manusia’ bagi sesama kita, khususnya mereka yang tersingkirkan, terlupakan, dan tak dicintai?”

Selamat Natal 2017
Semoga Damai Natal selalu menyertai kita!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Kamis, 21 Desember 2017

Salam Elisabeth dan Doa Rosario


Bacaan Liturgi 21 Desember 2017

Masa Adven 21 Desember
PF S. Petrus Kanisius, Imam dan Pujangga gereja
Bacaan Injil
Luk 1:39-45 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Beberapa waktu sesudah kedatangan Malaikat Gabriel, 
bergegaslah Maria ke pegunungan 
menuju sebuah kota di wilayah Yehuda. 
Ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, 
melonjaklah anak yang di dalam rahimnya, 
dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, 
lalu berseru dengan suara nyaring, 
"Diberkatilah engkau di antara semua wanita, 
dan diberkatilah buah rahimmu. 
Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 
Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, 
anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 
Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, 
sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana." 

Renungan
Saya masih ingat, setiap kali pergi berziarah ke Sendang Sono, saya melihat kelompok-kelompok peziarah mendoakan Doa Rosario sambil berjalan kaki. Saya waktu itu masih SD. Saya pun ikut mendoakannya sepanjang jalan. Bedanya saya tidak menggunakan untaian kalung Rosario karena saya tidak memilikinya waktu itu. Persepuluhan Salam Maria saya doakan dengan menggunakan jari tangan, yang jumlahnya pas sepuluh. Kini saya tahu bahwa Doa Salam Maria itu bersumber dari kisah dalam Injil hari ini. Kata-kata dalam doa itu diucapkan pertama kali oleh Elisabeth. Dengan mendoakannya saya diingatkan kembali untuk meneladani iman Maria.
Maria adalah teladan orang yang menunjukkan imannya dalam tindakan, dalam perbuatan, dan dalam perjuangan hidup. Imanya nyata dalam kesaksian hidup. Dia tidak hanya mengatakan, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu" (lihat  Luk 1:38), namun dia juga "bergegas" untuk melihat karya Tuhan dalam kehidupan Elizabeth, sanaknya. Perjalanan ke Yudea, tempat Elisabeth tinggal, bukanlah perjalanan mudah seperti berkunjung ke tetangga kota. Perjalanan ke Yudea pada waktu itu adalah perjalanan yang panjang dan sulit, kurang lebih memakan waktu tiga hari. Maria tidak mengurungkan niatnya hanya karena sulitnya perjalanan itu. Ia pergi mengunjungi Elizabeth untuk bersukacita dengannya dan memuji Tuhan yang telah memenuhi janji-Nya.
Ketika terjadi pertemuan antara Maria dan Elizabeth, Yohanes Pembaptis yang masih bayi dan di dalam rahim itu, melonjak kegirangan.  Dia member isyarat bahwa bayi yang dikandung Maria adalah Yang Diurapi Tuhan. Elizabeth sendiri sebenarnya belum diberitahu bahwa Maria mengandung. Oleh karena itu semua kata yang diucapan oleh Elizabeth bersumber dari Roh Kudus (Luk 1:41). Roh Kudus itulah yang membuat Elisabeth mengetahui bahwa Maria adalah “yang diberkati”. Maria "diberkati" karena dia telah dipilih secara khusus oleh Tuhan. Roh Kudus juga membuat Elizabeth mengerti bahwa bayi yang dikandung Maria adalah - Putra Allah, Mesias yang dijanjikan. Mesias inilah yang akan melakukan menebus dosa dunia. Elisabeth menyebut Maria sebagai ibu dari Tuhan. Hanya Roh Kudus yang bisa membuat Elizabeth mengerti dan memahami semua itu. Maria dan Elisabet dan juga Zakharia,  meskipun dia telah menjadi tuli dan bisu (Luk 1:20) adalah orang-orang yang pertama di bumi yang melihat kuasa Tuhan janji keselamatan yang telah ratusan tahun diberikan.
Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Maria adalah ibu Yesus. Maria adalah wanita yang diberkati, berkat satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang wanita. Bersama dengan Elizabeth, kita dapat bersukacita atas karya Tuhan dalam kehidupan Maria. Berama Elizabeth dan Maria, kita dapat memuji Tuhan karena keselamatan kita melalui Yesus. Melalui wafat dan kebangkitan Yesus, keselamatan kita dijamin. Tiap kali berdoa Rosario dan berdoa Salam Maria, kita mengenangkan kembali keselamatan kita ini.

Rm Supriyono Venantius SVD

Renungan Harian GML : BERBAGI KEBAHAGIAAN DAN SUKACITA SEPERTI BUNDA MARIA

SABDA, Kamis, 21-12-2017


BACAAN
Kid 2:8-14 – “Lihatlah, kekasihku datang, melompat-lompat di perbukitan”

Luk 1:39-45 – “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku”

RENUNGAN
1.Lukas menekankan kesiapan Maria dalam melayani sebagai hamba. Setelah diberi tahu tentang kehamilan Elisabeth, tanpa diperintah oleh malaikat, Maria, dengan segera, menuju ke rumah Elisabeth untuk membantu dia. Hal ini menandakan bahwa Maria percaya pada perkataan malaikat.

2.Dalam kisah ini, Elisabeth mewakili Perjanjian Lama yang hampir selesai, sedangkan Maria mewakili Perjanjian Baru. Perjanjian Lama menerima Perjanjian Baru dengan penuh syukur, percaya, dan suka cita: “Ketika Elisabeth  mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (ay 41). Dalam perjumpaan dua wanita ini dinyatakan pemberian Roh Kudus: “Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus” (ay 41). Maria sudah terlebih dahulu menerima Roh Kudus: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).

3.Elisabeth berseru dengan suara lantang: “Diberkatilah engkau ...” (ay 42). Diberkatilah berarti berbahagialah, semacam kegembiraan dari dalam, tanpa dipengaruhi unsur dari luar. Maria terberkati, karena menjadi ibu dari Anak Allah dan percaya kepada Sabda Allah. Berkat itu pula yang akan menjadi pedang yang menembus hati Maria, yang terlaksana ketika Anaknya mati disalib.

4.Dipilih oleh Allah merupakan anugerah, sekaligus membawa tanggung jawab. Anugerah yang diterima oleh Maria berupa mahkota, baik mahkota suka cita maupun mahkota duka cita mulai dari palungan sampai palang salib.

5.Suka cita Maria tidak luntur dan tidak hilang hanya karena kepedihan dukacitanya. Maria selalu dikuatkan oleh iman, harapan, dan janji Allah yang akan  terpenuhi. Maria yakin bahwa tak ada seorang pun yang akan merampas suka cita dari dirinya (Yoh 16:23). Allah memberikan suka cita secara ajaib yang memungkinkan kita untuk menanggung setiap kepedihan dan derita karena salib.

6.Sikap Maria dalam Injil hari ini mengajarkan kepada kita: 1) Jangan menutup diri, tetapi keluar dan memberi perhatian kepada orang yang memiliki kebutuhan konkret dan membantu mereka sedapat mungkin. 2) Berbagi suka cita dan kebahagiaan. Ketika suka cita dan kebahagiaan  kita bagikan, maka akan menghasilkan buah lipat yang bisa dirasakan oleh banyak orang. 3) Hidup kita ini terlalu pendek untuk menangis atau sedih. Hidup kita ini terlalu pendek untuk tidak berbagi atau untuk tidak berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

7.Mohon rahmat Tuhan untuk mampu meneladani Bunda Maria.

Rm.  Maxi Suyamto

Selasa, 19 Desember 2017

Renungan Harian GML : APA YANG TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA, MUNGKIN BAGI ALLAH


SABDA, Selasa, 19-12-2017


BACAAN
Hak 13:2-7.24-25a – “Kelahiran Simson diberitahukan oleh malaikat”

Luk 1:5-25 – “Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitahukan oleh Gabriel”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bicara tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Zakaria (Luk 1:5-25), sedangkan Injil besok pagi bicara tentang kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria (Luk 1:26-38). Lukas menyusun urutan sedemikian supaya kita bisa membaca teks dengan penuh perhatian dan  bisa membedakan keduanya.

2.Pesan pertama malaikat kepada Zakaria ialah: “Jangan takut” (ay 13). Sampai saat itu, Allah masih dianggap sebagai Yang Menakutkan bagi kebanyakan orang. Maka  malaikat segera menambahkan: “doamu telah dikabulkan” (ay 13). Dalam kehidupan kita tiap hari, harus kita yakini, bahwa segala sesuatu adalah buah dari doa.

3.Dibandingkan dengan kabar malaikat kepada Maria, Zakaria mewakili Perjanjian Lama. Ia percaya kepada Tuhan, tetapi imannya sangat lemah, maka sesudah kunjungan itu, ia menjadi bisu, tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain sampai janji Allah itu terpenuhi.

4.Gabriel mengungkapkan semua hal penting tentang anak yang akan dilahirkan, yang akan disebut Yohanes: “ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh  dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya” (ay 15-17).

5.Tugas perutusan Yohanes nantinya sangat penting. Sebagai seorang seorang nabi (Mk 11:32), ia diharapkan sebagai Elia yang akan kembali untuk melaksanakan pembangunan kembali  kehidupan masyarakat dan menata kembali moral bangsa yang sudah hancur.

6.Apa yang penting bagi kita? 1) Kita dipanggil untuk percaya, bahwa Allah dapat melakukan apa yang tidak mungkin  di mata manusia. Bila Allah menghendaki, maka hanya dengan satu kata saja, Allah mampu membuat segalanya. 2) Kita belajar dari Elisabeth, bahwa ia tidak larut dalam kegembiraan semata, lebih dari itu, ia larut dalam pujian atas kuasa Allah. Dan semua yang terjadi atas dirinya merupakan “suatu perbuatan Tuhan bagiku” (ay 25).

Rm.  Maxi Suyamto

Senin, 18 Desember 2017

Renungan Harian GML : YOSEPH: PRIBADI YANG BERTANGGUNGJAWAB


SABDA, Senin, 18-12-2017

BACAAN
Yer 23:5-8 – “Aku akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud”

Mat 1:18-24 – “Yesus akan lahir dari Maria, yang bertunangan dengan Yoseph, anak Daud”

RENUNGAN
1.Dalam Injil Lukas, kisah kanak-kanak Yesus (Bab 1 dan 2) berpusat di sekitar Maria. Tetapi di dalam Injil Matius, kisah kanak-kanak Yesus (Bab 1 dan 2 Injil Matius) berpusat di sekitar Yoseph, tunangan Maria. Yoseph adalah keturunan Daud. Melalui dia, maka Yesus termasuk garis keturunan Daud. Dengan demikian, dalam Yesus, janji Allah terhadap Daud dan keturunannya terpenuhi.

2.Kesatuan Maria dengan Yoseph merupakan hal yang tidak biasa, dan bertentangan dengan hukum pada waktu itu, karena Maria hamil sebelum hidup bersama Yoseph. Kalau Yoseph mengikuti paham keadilan  para ahli kitab dan orang-orang Parisi, ia akan  mengadukan Maria ke pengadilan, dan Maria akan dijatuhi hukuman mati dengan dilempari batu.

3.Namun Yoseph memiliki paham keadilan yang berbeda dengan mereka. Ia melaksanakan apa yang di kemudian hari diajarkan Yesus: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Parisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Dengan alasan ini, Yoseph, tidak ingin menolak Maria dengan meninggalkannya diam-diam.

4.Panggilan Allah ditanggapi dengan cara berbeda-beda. Yoseph mampu memahami apa yang terjadi dalam diri Maria lewat mimpi. Dalam mimpinya, seorang malaikat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk memperjelas asal-muasal kehamilan Maria. Bayi yang ada dalam rahim Maria berasal dari Roh Kudus.

5.Ketika segala sesuatu jelas bagi Maria, ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ketika segala sesuatu jelas bagi Yoseph, “Yoseph berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24).

6.Sejauh mana, kita telah menghayati masa Adven sampai sekarang ini agar perayaan Natal menjadi saat yang penuh rahmat?

Rm Maxi Suy

Sabtu, 16 Desember 2017

Renungan Harian GML : KITA MESTI MERAYAKAN SAKRAMEN TOBAT AGAR LEBIH PANTAS MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA



Sabtu, 16 Desember 2017, Sabtu Adven II
Bacaan: Sir 48:1-4.9-11; Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19; Mat 17:10-13;

Bacaan Injil:
Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.


Renungan:
Semakin mendekati Hari Raya Natal, semakin banyak tokoh penting dalam Kitab Suci diperkenalkan atau ditampilkan agar menarik perhatian kita. Dalam bacaan Injil hari ini, diperkenalkan tiga tokoh penting: Elia, Yohanes Pembaptis, dan Tuhan Yesus sendiri.
Elia dikenal dalam Kitab Suci sebagai nabi yang akan datang kembali dan memulihkan segala sesuatu. Dalam Kitab Maleakhi, disebutkan, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Ini digemakan kembali dalam bacaan pertama dari kitab Putera Sirakh.
Dalam Injil Matius, Yesus memang menyejajarkan peran Yohanes dengan Elia. Yohanes datang untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, sama seperti dinubuatkan oleh nabi Maleakhi. Kotbah Yohanes pun menyerukan agar orang-orang bertobat karena kerajaan Sorga sudah dekat. 
Mempersiapkan kedatangan Tuhan dalam Hari Raya Natal nanti, kita dapat mengikuti apa yang dianjurkan Yohanes Pembaptis: bertobat. Apa artinya? Artinya kita mesti merayakan sakramen tobat agar lebih pantas menyambut kedatangan Tuhan. Dosa membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus, dan hanya sakramen tobat yang dapat memulihkan hubungan itu. 
Kita dapat pula berbuat sebagaimana menjadi tugas nabi Elia yang adalah memperdamaikan orang tua dan anak-anak mereka. Maka, menyambut Hari Raya Natal, mungkin kita dapat juga berdamai dan rukun kembali dengan anggota keluarga dan sanak saudara kita. Ini dapat menjadi wujud konkret pertobatan kita.Meneladan hidup Yohanes pembaptis yang sederhana dapat juga kita lakukan. Yohanes adalah pribadi yang sederhana (berpakaian bulu onta), penuh matiraga (makan belalang dan madu hutan), dan lurus hati (tidak mudah dihasut orang Yahudi). Menghayati sikap-sikap ini merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan Natal. Bahkan, jika mungkin tidak hanya dalam masa Advent ini, tetapi dalam hidup sehari-hari senantiasa mengusahakannya, karena kedatangan Tuhan tidak hanya dalam Hari Raya Natal, melainkan setiap hari dalam hidup kita. Dengan demikian, kita senantiasa siap menanti kedatangan-Nya.

Fr A.  Wahyu Dwi Anggoro,  SJ

Jumat, 15 Desember 2017

Renungan Harian GML : MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN YESUS, ANAK ALLAH


SABDA, Jumat, 15-12-2017


BACAAN
Yes 48:17-19 – “Ah, sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku!”

Mat 11:16-19 – “Mereka tidak mendengarkan Yohanes Pembaptis maupun Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Para pemimpin, orang-orang bijak tidak selalu senang ketika seseorang mengkritik atau menantang mereka. Hal itu terjadi pada jamannya Yesus dan terjadi juga sekarang ini, baik di dalam masyarakat maupun di dalam Gereja. Yohanes Pembaptis dikritik dan tidak diterima. Mereka berkata: “Ia dikuasai oleh roh jahat!” Yesus juga dikritik dan tidak diterima. Mereka berkata: “Ia tidak waras lagi” (Mrk 3:21). “Ia kerasukan Beelzebul!” (Mrk 3:22). “Orang Samaria dan kerasukan setan” (Yoh 8:48). “Orang ini tidak datang dari Allah” (Yoh 9:16). Mereka tidak mau menerima jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Bagi mereka, apa pun yang dikatakan atau dibuat oleh Yesus dianggap salah. Dan Yesus harus dihukum mati.

2.Hal yang sama terjadi sekarang ini, bahkan dalam Gereja. Ada orang-orang yang mati-matian mempertahankan apa yang diajarkan dan tidak mau menerima pandangan baru dari orang lain atau tidak mau menerima iman yang hidup. Mereka menilai bahwa pandangan baru  dianggap sebagai ketidak-taatan terhadap tradisi dan pengajaran Gereja. Banyak pemimpin Gereja yang berpendapat demikian, bahkan merasa diri paling benar, tidak terbuka terhadap pendapat umat, anti kritik, dan otoriter.

3.Para ahli kitab dan orang-orang Parisi  menganggap diri bijak tetapi seperti anak-anak yang bermaksud menyenangkan orang-orang di pasar dengan meniup seruling tetapi tidak ada yang menari. Mereka menganggap diri bijak, namun menolak Allah dan menolak Yesus, Anak Allah. Dengan sikap ini mereka tidak memperoleh hikmat dan , bahkan, menghukum diri  sendiri.

Rm. Maxi Suyamto

Kamis, 14 Desember 2017

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH ADALAH CARA HIDUP BARU

SABDA, Kamis, 14-12-2017


BACAAN
Yes 41:13-20 – “Yang menebus engkau ialah Yang Mahakuasa, Allah Israel”

Mat 11:11-15 – “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus memberi pandangan tentang Yohanes Pembaptis. Dibandingkan dengan pribadi-pribadi Perjanjian lama, tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes. Yohanes adalah yang paling besar. Ia lebih besar daripada Yeremia, Abraham, Yesaya. Tetapi dibandingkan dengan Perjanjian Baru, Yohanes lebih kecil dari semuanya. Yang paling kecil dalam Kerajaan Allah, lebih besar daripada Yohanes. Bagaimana kita memahami hal ini?

2.Sebelum perikope ini, Yohanes, lewat para muridnya, bertanya kepada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Rupanya Yohanes ragu-ragu tentang Yesus, karena ia memiliki gambaran tentang Mesias yang keras yang akan melaksanakan penghukuman (Mt 3:7), dan pandangan ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dalam diri Yesus. Yesus  adalah sahabat bagi semua orang, lemah lembut dan rendah hati, menerima para pendosa dan makan bersama mereka.

3.Yesus menanggapi Yohanes dengan mengutip Nabi Yesaya: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan ... kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mt 11:5). Dari ungkapan tersebut, Yesus menghendaki agar Yohanes mengubah cara pandang tentang Mesias.

4.Orang yang percaya kepada Yesus dan tinggal bersama-Nya menerima terang yang membuat mereka memiliki mata baru untuk memahami makna Sabda Tuhan yang memberi gambaran baru tentang Mesias, tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan merupakan ajaran, melainkan cara hidup baru, di mana Allah sebagai Bapa dan kita adalah saudara satu sama lain.

 Rm Maxi Suyamto

Rabu, 13 Desember 2017

Renungan Harian GML : DATANG DAN BELAJARLAH KEPADA-KU !

SABDA, Rabu, 13-12-2017


BACAAN
Yes 40:25-31 – “Tuhan yang mahakuasa memberi kekuatan kepada yang lelah”

Mat 11:28-30 – “Datanglah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban bert. Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan bagian yang terasa lembut, penuh kasih dan mesra. Tuhan Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Apa maksud Tuhan dengan: “Marilah kepada-Ku”? Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh kepada-Nya. Percaya berarti  meneladani  dan tidak menyingkirkan Dia dari kehidupan kita setiap hari.

2.Orang-orang pada zamannya Yesus merasa lelah dan berbeban berat oleh tuntutan hukum yang dipaksakan oleh para ahli Taurat dan kaum Parisi. Namun demikian para ahli Taurat dan kaum Parisi tidak bertanggungjawab atas keadaan mereka. Mereka bagaikan domba tanpa gembala. Kepada mereka Yesus bersabda: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Tuhan minta kepada mereka untuk tidak mendengarkan para ahli Kitab, yang menamakan diri “orang-orang bijak dan pandai.” Yesus memanggil mereka untuk belajar dari pada-Nya.

3.Apa beban kita? Kita ingin menjadi seperti Allah: ingin menguasai apa saja dan siapa saja. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang kita membenci, tidak bisa mengampuni, iri hati, marah dan serakah. Kita tidak mau melepas dan bahkan menyembunyikannya. Akibatnya: kita mengalami belenggu dan beban yang seringkali tak tertahankan.

4.Datang dan belajar kepada Yesus berarti: a) Melepas beban yang membelenggu kita. b) Mengubah cara hidup seperti ditawarkan oleh Yesus: berbelas kasih, rendah hati, lemah lembut, bertanggung jawab terhadap Allah dan sesama. Itulah kuk Yesus yang dikenakan kepada kita. Kuk yang membawa kemerdekaan sebagai anak-anak Allah; kuk yang membawa kelegaan, damai, dan sukacita.

5.Maukah kita datang dan belajar kepada Yesus dengan hati yang terbuka dan keinginan untuk mendengarkan Sabda-Nya?

Rm Maxi Suyamto

Selasa, 12 Desember 2017

Renungan Harian GML : TINDAKAN ALLAH YANG BODOH: MENYELAMATKAN YANG HILANG


SABDA, Selasa, 12-12-2017

BACAAN
Yes 40:1-11 – “Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Tuhan kita! Setiap lembah harus ditutup, setiap gunung dan bukit harus diratakan”

Mat 18:12-14 – “Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang”

RENUNGAN
1.Yesus menceriterakan sebuah kisah  pendek dan dengan cara yang sederhana: “Seorang mempunyai 100 ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?” Atas ceitera itu Yesus bertanya: “Bagaimana pendapatmu?” Dengan kata lain Yesus bertanya kepada para pendengar-Nya dan kepada kita: “Apakah engkau juga akan melakukan hal yang sama?” Apakah jawaban kita?

2.Kita tahu bahwa pegunungan merupakan tempat yang sukar untuk didaki karena adanya tebing yang curam, di mana binatang buas tinggal dan para perampok bersembunyi. Semestinya kehilangan seekor domba adalah sesuatu yang kecil, karena masih punya 99 ekor yang lain, yang akan beranak pinak. Apakah kita harus meninggalkan  99 ekor di pegunungan seperti itu? Mari kita berpikir sungguh-sungguh!

3.Para gembala yang mendengar kisah tersebut, mungkin berpikir: “Hanya seorang gembala yang tanpa perhitungan dan bodoh akan bertindak meninggalkan yang 99 ekor domba tanpa penjagaan.” Pasti mereka akan bertanya kepada Yesus: “Siapa gembala yang Engkau maksudkan, karena melakukan hal tersebut merupakan sebuah kebodohan?”

4.Yesus menjawab: “Gembala tersebut adalah Allah, Bapa kita, dan domba yang hilang itu adalah kamu!” Dengan kata lain, Allah tergerak oleh belas kasihan yang begitu besar  terhadap orang kecil, orang miskin, dan orang-orang yang tersingkirkan. Hanya dengan kasih yang begitu besar, orang  berbuat  sebodoh itu. Kasih Allah kepada kita melampaui akal sehat kita. Dengan kasih  yang tanpa batas itu, Allah telah melakukan hal-hal bodoh demi keselamatan kita. Syukur kepada-Mu Tuhan! Apabila Engkau tidak bertindak seperti itu, kami tidak akan selamat dan hilang.

Rm Maxi Suyamto

Senin, 11 Desember 2017

Renungan Harian GML : MENERIMA DAN MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH

SABDA, Senin, 11-12-2017

BACAAN
Yes 35:1-10 – “Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu”

Luk 5:17-26 – “Hari ini kita telah menyaksikan hal-hal sangat menakjubkan”

RENUNGAN
1.Yesus selalu berbicara tentang Allah, Bapa-Nya, tetapi Ia berbicara dengan cara baru dan menarik, berbeda dengan para ahli kitab dan orang-orang Parisi (Mrk 1:22.27). Yesus mewakili Allah sebagai Kabar Sukacita bagi kehidupan manusia; Allah  mengasihi dan menerima semua orang, dan Allah  tidak mengancam dan tidak menghukum.

2.Seorang lumpuh dibawa oleh empat orang. Yesus datang untuk mereka ini, dan Ia adalah satu-satunya harapan mereka. Pada zaman itu orang beranggapan bahwa orang miskin, lumpuh, kusta merupakan hukuman karena dosa-dosa mereka. Mereka ini dikucilkan dari masyarakat. Yesus mengajarkan kebalikannya. Dengan alasan ini, Yesus mengatakan: “Dosamu sudah diampuni.” Dengan kata lain, Allah tidak menolak orang-orang miskin, lumpuh dan kusta

3.Dengan menyatakan “dosamu sudah diampuni,” maka para ahli Taurat dan orang-orang Parisi mengatakan: “Ia menghojat Allah.” Menurut pengajaran mereka, hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menurut mereka, bagaimana mungkin, Yesus, sebagai seorang awam biasa, mengampuni orang lumpuh dan membersihkan orang itu dari dosa-dosanya? Kalao orang sederhana, seperti Yesus, dapat mengampuni dosa-dosa, maka para ahli Taurat dan para imam akan kehilangan peran mereka. Dengan alasan ini, dapat diketahui mengapa mereka bereaksi dan mempertahankan diri mereka.

4.Yesus membenarkan tindakan-Nya dengan berkata: “Manakah lebih mudah, mengatakan: dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: bangunlah dan berjalanlah.” Dalam nama Allah, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa, dan Ia berkata kepada orang lumpuh itu: “Bangunlah dan berjalanlah.” Dari sini Yesus membuktikan bahwa orang lumpuh bukan disebabkan oleh dosa-dosanya. Penyembuhan orang lumpuh juga menunjukkan bahwa Allah menerima orang itu di dalam kasih-Nya yang tanpa batas.

5.Dengan Injil hari ini, kita diajak untuk bersatu dengan Allah menerima mereka yang disebut orang kecil dan menyembuhkan mereka.

Rm Maxi Su

Minggu, 10 Desember 2017

Renungan Harian GML : Apakah Aku Sudah "selesai" dengan Diriku Sendiri

10 Desember 2017

*Yohanes Pembaptis*
Minggu Adven II – Mrk 1:1-8

Pada bacaan Injil hari ini, saya ingin fokus pada kata-kata yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis :

“Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku;
membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.
Aku membaptis kamu dengan air, 
tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” (Mrk 1:7-8)

Dari kata-kata ini, kita dapat menemukan ciri-ciri seorang “utusan” yang sebenarnya: 

(1) *Identitas*
Secara umum, Yohanes memahami benar identitas dirinya sebagai “utusan” dan menyampaikan pesan dengan “gamblang dan apa adanya” – tanpa perlu menambahi atau mengurangi, apalagi memutarbalikkan fakta yang sebenarnya (Lih. Mrk 1:7-8); ia tidak melakukan itu sama sekali!

(2) *Kuasa*
Ia mengatakan dengan jujur bahwa “sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku.” Ia tak butuh lagi pengakuan dan dapat menerima dengan damai bahwa ada yang lebih “besar” dari dirinya sendiri. Ia tak merasa sama sekali tuk disaingi.

(3) *Rendah Hati*
“Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Yang dimaksud dengan “tali kasut” pada saat itu adalah “hak seseorang”. Yohanes ingin menunjukkan bahwa ia pun tak punya “hak” untuk berbuat sesuatu seperti Ia yang akan datang setelah dirinya. Ia dengan rendah hati mengakui hal itu: “hak yang ia miliki tak sebesar ‘hak’ yang dimiliki Ia yang akan datang setelah dirinya.”  

(4) *Kapasitas*
Selain itu, Yohanes Pembaptis pun tahu persis kapasitas dirinya, “Aku membaptis kamu dengan air.” Ia mengakui bahwa ia punya “sesuatu” – pembaptisan dengan air (untuk penebusan dosa) (Lih. Mrk 1:4). Ia menerima perannya dengan “pas” – tak berlebihan dan tidak begitu saja mengingkarinya. Dengan kata lain, Yohanes pun ingin mengatakan, “Ya.. aku punya sesuatu yang dapat aku bagikan kepada orang lain!” Mengakui “kapasitas diri” (kelebihan dirinya) dengan rendah hati, tanpa perlu berlebihan dan tidak menunjukkan kesombongan sama sekali.    

(5) *Kebenaran*
Yohanes Pembaptis pun menyampaikan sebuah pesan kebenaran bahwa seseorang yang akan datang sesudahnya akan membaptis mereka dengan Roh Kudus (Mrk 1:8). Roh yang akan mendampingi umat-Nya hingga akhir zaman. 

(6) *Kualitas*
Dari pembahasan di atas, tampak sekali di sini bahwa Yohanes Pembaptis sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Inilah kualitas diri dari seorang Yohanes Pembaptis. Ia tidak ingin mencari-cari popularitas dan menyombongkan dirinya sebagai “Utusan Allah”, melainkan justru sebaliknya – ia menganggap dirinya “kecil” dibandingkan Ia yang akan datang sesudahnya (yaitu Yesus Kristus sendiri). Ia sungguh sangat sederhana dan rendah hati.

Lalu pertanyaan yang dapat kita ajukan bagi diri kita sendiri, “Apakah aku sudah ‘selesai’ dengan diriku sendiri? Dan mulai berusaha membagikan dan mewartakan kabar gembira Tuhan bagi sesama di sekitarku dengan konkrit, sebagai ‘utusan-utusan’-Nya di dunia dewasa ini?” Inilah pesan Injil yang dapat kita renungkan hari ini.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 09 Desember 2017

Renungan Harian GML : TUGAS PERUTUSAN KITA: MENYEMBUHKAN ORANG LAIN

SABDA, Sabtu, 9-12-2017

BACAAN
Yes 30:19-21.23-26 – “Pastilah Tuhan mengasihi kamu, apabila kamu berser-seru”

Mat 9:35-10:1.6-8 – “Melihat orang banyak itu tergerak hati Yesus oleh belas kasihan”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dan berkhotbah dalam rumah-rumah ibadat. Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah. Ia juga menyembuhkan banyak penyakit dan kelemahan. Penginjil Matius mengatakan: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Yesus merasakan betapa mereka terlantar, lapar dan sendirian. Sungguh, mereka seperti domba tanpa gembala; tak seorang pun yang memberi perhatian terhadap mereka.

2.Yesus memanggil duabelas (12) murid-Nya. Kemudian Yesus memerintahkan mereka untuk mencari domba-domba yang hilang dari Israel. Ia memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan setiap penyakit dan mengusir roh-roh jahat.

3.Dalam melibatkan para murid untuk tugas perutusan, Yesus minta agar mereka berdoa agar Tuhan mengirimkan para pekerja untuk tuaian. Doa menjadi teramat penting dalam setiap tugas perutusan, bahkan menjadi komitmen utama dalam hidup kita.

4.Sekarang ini Yesus juga memberi kuasa kepada kita untuk menyembuhkan. Kita bisa menyembuhkan dengan menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan orang lain, menyapa dengan ramah dan dengan senyuman, meneguhkan iman mereka, memberi kata-kata penghiburan. Sebagai orang beriman, kita tidak bisa tutup mata dan acuh tak acuh terhadap kesusahan, kesulitan dan penderitaan orang lain. Percayakah bahwa kita mampu menyembuhkan mereka?

Rm Maxi Suyamto

Jumat, 08 Desember 2017

Renungan Harian GML : TERJADILAH PADAKU MENURUT KEHENDAKMU

SABDA, Jumat, 8-12-2017

BACAAN
Kej 3:9-15.20 – “Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu”

Ef 1:3-6.11-12 – “Di dalam Kristus Allah telah memilik kita”

Luk 12:26-38 – “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Perayaan ini mengingatkan kepada seluruh umat betapa luhurnya martabat Maria sebagai Bunda Penebus. Maria adalah satu-satunya manusia yang dikecualikan Allah dari warisan dosa Adam. Sama seperti kita, Maria hidup di dunia yang penuh dosa ini. Namun ia punya keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun juga. Ia sudah sejak kekal ditentukan Allah untuk menjadi bunda Putera-Nya, Penebus dunia. Ia ditentukan untuk melahirkan Yesus, Anak Allah, dan karena itu sejak awal hidupnya, ia dipersiapkan untuk mengemban tugas luhur ini.

2.Untuk melaksanakan rencana keselamatan tersebut, Allah mengutus malaikat kepada Maria. Dalam Injil hari ini nampak jelas bahwa Allah berdialog dengan manusia; Ia ingin melibatkan manusia dalam rencana-Nya tersebut.

3.Era baru keselamatan mulai dengan dikandungnya Yesus dalam rahim Maria. Sebagaimana Hawa adalah ibu semua umat manusia yang menemui ajal karena dosa, sekarang Maria menjadi ibu Adam Baru yang menjadi Bapa umat baru karena iman (Rom 5:12-21).

4.Anak yang dikandung dalam rahim Maria menggenapi semua janji Allah. Ia akan menjadi “besar” dan “Anak Allah yang maha tinggi” dan “Raja” (Luk 1:32-33), dan nama-Nya akan disebut Yesus, yang berarti Allah yang menyelamatkan. ”Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat1:21). Janji kerajaan terhadap rumah Daud (Yes 9:6-7) digenapi dalam diri Raja yang dikandung oleh rahim Maria.

5.Bagaimana Maria menanggapi rencana Allah tersebut? Ia bertanya: “Bagaimana hal ini akan terjadi karena aku belum bersuami?” Maria diliputi keheranan, tetapi ia benar-benar seorang pendengar Sabda dan ia segera menanggapi dengan iman dan kepercayaan. Jawaban Maria adalah ya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria percaya pada janji Allah, bahkan ketika hal itu tampak tidak mungkin. Ia penuh rahmat, karena ia percaya bahwa apa yang dikatakan Allah adalah benar dan akan dipenuhi.

6.Maria disebut “ibuning Allah,” karena Allah menjilma menjadi manusia saat dikandung dalam rahim Maria. Bercermin dari Maria, kita diharapkan menjawab panggilan Tuhan dan menjalaninya dengan penuh kesediaan, ketaatan, dan iman.

Rm Maxi Suyamto