Sabtu, 16 Desember 2017

Renungan Harian GML : KITA MESTI MERAYAKAN SAKRAMEN TOBAT AGAR LEBIH PANTAS MENYAMBUT KEDATANGAN-NYA



Sabtu, 16 Desember 2017, Sabtu Adven II
Bacaan: Sir 48:1-4.9-11; Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19; Mat 17:10-13;

Bacaan Injil:
Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.


Renungan:
Semakin mendekati Hari Raya Natal, semakin banyak tokoh penting dalam Kitab Suci diperkenalkan atau ditampilkan agar menarik perhatian kita. Dalam bacaan Injil hari ini, diperkenalkan tiga tokoh penting: Elia, Yohanes Pembaptis, dan Tuhan Yesus sendiri.
Elia dikenal dalam Kitab Suci sebagai nabi yang akan datang kembali dan memulihkan segala sesuatu. Dalam Kitab Maleakhi, disebutkan, “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah” (Mal 4:5-6). Ini digemakan kembali dalam bacaan pertama dari kitab Putera Sirakh.
Dalam Injil Matius, Yesus memang menyejajarkan peran Yohanes dengan Elia. Yohanes datang untuk mempersiapkan kedatangan Yesus, sama seperti dinubuatkan oleh nabi Maleakhi. Kotbah Yohanes pun menyerukan agar orang-orang bertobat karena kerajaan Sorga sudah dekat. 
Mempersiapkan kedatangan Tuhan dalam Hari Raya Natal nanti, kita dapat mengikuti apa yang dianjurkan Yohanes Pembaptis: bertobat. Apa artinya? Artinya kita mesti merayakan sakramen tobat agar lebih pantas menyambut kedatangan Tuhan. Dosa membuat hubungan kita dengan Tuhan terputus, dan hanya sakramen tobat yang dapat memulihkan hubungan itu. 
Kita dapat pula berbuat sebagaimana menjadi tugas nabi Elia yang adalah memperdamaikan orang tua dan anak-anak mereka. Maka, menyambut Hari Raya Natal, mungkin kita dapat juga berdamai dan rukun kembali dengan anggota keluarga dan sanak saudara kita. Ini dapat menjadi wujud konkret pertobatan kita.Meneladan hidup Yohanes pembaptis yang sederhana dapat juga kita lakukan. Yohanes adalah pribadi yang sederhana (berpakaian bulu onta), penuh matiraga (makan belalang dan madu hutan), dan lurus hati (tidak mudah dihasut orang Yahudi). Menghayati sikap-sikap ini merupakan cara yang baik untuk mempersiapkan Natal. Bahkan, jika mungkin tidak hanya dalam masa Advent ini, tetapi dalam hidup sehari-hari senantiasa mengusahakannya, karena kedatangan Tuhan tidak hanya dalam Hari Raya Natal, melainkan setiap hari dalam hidup kita. Dengan demikian, kita senantiasa siap menanti kedatangan-Nya.

Fr A.  Wahyu Dwi Anggoro,  SJ

0 komentar:

Posting Komentar