menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Selasa, 13 November 2018

Renunfan Harian GML : HAMBA TAK BERGUNA

Selasa, 13 Nop 2018


BACAAN
Tit 2:1-8.11-14– “Hendaklah kita hidup saleh sambil menantikan kebahagiaan yang kita harapkan, yaitu penampakan Allah dan penyelamat kita Yesus Kristus”
Luk 17:7-10 – “Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”

RENUNGAN
1.Seberapa sering kita dicaci maki orang lain karena kelakuan kita? Dan ketika kita dicaci maki, kita mengeluh dan marah. Mengapa? Karena kita sombong, tidak mau instropeksi diri. Siapa aku di hadapan Tuhan? Aku adalah seorang hamba yang hina dan berdosa, kecil dan tergantung.  Dari Tuhan, kita menerima sangat banyak dan menerima apa saja yang kita butuhkan. Tetapi mengapa kita masih sering mengeluh kepada-Nya, bahkan protes bahwa Tuhan itu tidak adil?

2.Sebagai manusia, secara jujur, kita lebih menuntut hak daripada kewajiban kita. Seperti anak-anak yang ingin dipenuhi keinginannya, suami atau isteri yang menuntut untuk dihargai, dan kita menuntut bahwa pemerintah harus memenuhi segala kebutuhan kita. Bahkan Tuhan pun kita paksa memenuhi kebutuhan kita. Yang kita selalu lupa adalah kita telah menerima segala sesuatu dari Tuhan dan kita berutang segala sesuatu kepada-Nya. Walaupun Kristus telah menjadi hamba demi kita, darah-Nya tertumpah demi keselamatan kita, Ia tidak pernah merasa berhutang kepada kita. Maka relasi kita dengan Tuhan harus didasari atas rasa syukur; bersyukur dan bersyukur.

3.Yesus berkehendak membebaskan kita dari belenggu kesombongan. Kita diharapkan memiliki hati seorang anak Allah, yaitu pelayanan, syukur dan terima kasih, hormat, dan ketaatan pada Allah. Walau pun orang jaman sekarang semakin mengabaikan keutamaan-keutamaan tersebut, namun kita  dituntut untuk menjadi yang terkemuka dalam keutamaan-keutamaan Allah. Melakukan kehendak Allah tanpa menuntut upah. Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (MS,berkat.id)

Minggu, 11 November 2018

Renungan Harian GML

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Biasa ke-32 Tahun B. Saya tertarik untuk mengajak kita sekalian merenungkan bacaan-bacaan hari ini mulai dari Bacaan Kedua: Surat Kepada Orang Ibrani. Rasul Paulus menyampaikan kepada kita peran Kristus Sang Imam Agung dan alasannya. Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Kita ingat dalam renungan sebelumnya bahwa imam-imam di Bait Allah harus berulang-ulang mempersembahkan korban karena ia harus mempersembahkan korban pepulih dosa untuk dirinya sendiri baru kemudian untuk umatnya dan lagi yang dipersembahkan adalah darah binatang korban dan bukan darahnya sendiri. Yesus Kristus cukup sekali saja mempersembahkan korban sebagai pepulih bagi dosa kita manusia karena ia mempersembahkan darah-Nya sendiri. Ia yang tidak berdosa telah mati untuk menanggung dosa banyak orang. Karena itu Ia menjadi pengantara, hakim, dan juruselamat bagi mereka yang menantikan-Nya.  Bacaan Pertama menyampaikan bagaimana nabi Elia meyakinkan janda di Sarfat itu untuk percaya akan firman Tuhan. Dan janda itupun percaya dan berbuat seperti yang dikatakan Elia. Mereka pun mengalami pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Tepung yang sedianya hanya cukup untuk perempuan itu dan anaknya makan sekali dan lalu akan mati, ternyata menghidupi mereka dan Elia, tidak berkurang sampai beberapa waktu lamanya. Pada Bacaan Injil, Yesus mengingatkan para murid agar tidak terpana dengan penampilan ahli Taurat dan orang parisi yang terhormat, yang bisa dan biasa memberi persembahan dari kelimpahannya untuk dilihat. Janda miskin itu dipuji oleh Yesus karena “ia memberi dari kekurangannya, semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” Karena hidup-Nya hanya melaksanakan kehendak Allah, Kristus telah menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya sehingga menjadi Imam Agung sekali untuk selamanya. Karena percaya akan firman Allah melalui Elia, janda di Sarfat itu mendapatkan pemeliharaan Allah. Karena percaya akan Allah, janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya menjadi persembahan dan menerima berkat dari Tuhan. Saudari-saudara sekalian, ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang menjadi miskin karena banyak memberi dan juga tidak ada yang menjadi kaya karena kikir dan curang. Kesediaan untuk membantu yang datang dari hati berdasarkan rasa syukur kepada Tuhan dan belaskasih kepada sesama akan menjadi berkat bagi keduanya yang membantu maupun yang dibantu. Kedua janda itu dapat memberikan bukan karena mereka berkelebihan, malahan sebaliknya mereka berkekurangan. Namun karena mereka penuh percaya kepada Firman Tuhan, mereka melakukannya juga. Dan mereka terberkati. Saudari-saudara sekalian, dalam semangat iman yang sama dengan para ibu janda itu marilah kita juga membuka hati untuk setiap peranserta dan persembahan kita kepada Tuhan dalam turut memperhatikan saudari-saudara yang membutuhkan. Semoga kita boleh turut sera mengambil bagian dalam karya imamat Yesus Kristus demi kesejahteraan dan keselamatan setiap orang yang kita jumpai. Tidak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi; karena kekayaan itu adalah hatimu. Bukan jumlah yang berbicara. Bantuan sekikit maupun banyak dari segala kekurangan yang diberikan dari hati akan membawa banyak berkat. Pemberian banyak yang tidak disertai dengan ketulusan dan belaskasih di hati hanya berguna untuk sementara saja. Dalam kesatuan pengharapan dalam iman kepada Tuhan, kita dipanggil dan diutus untuk menjadi berkat bagi sesama. Amalkan Panca Sila, Kita Bhinneka Kita Indonesia. Betapa indah menjadi berkat bagi sesama.(rm pur msc)

Jumat, 09 November 2018

Renungan Harian GML : TIDAK SETENGAH-SETENGAH DAN TOTAL

Jumat, 9 Nop 18, Pemberkatan Gereja Basilik Lateran


BACAAN
Yeh 47:1-2.8-9.12 – “Aku melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup”
1Kor 3:9-11.16-17– “Kamu adalah tempat kediaman Allah”
Yoh 2:13-22 – “Bait Allah yang dimaksudkan ialah tubuh-Nya sendiri”

RENUNGAN
1.Basilika (katedral) St. Yohanes Lateran, yang juga Katedralnya Paus di Roma, adalah “induk dan kepala semua gereja.” Dengan memperingati pemberkatan basilika St. Yohanes Lateran, kita hendak mengungkapkan kesatuan kita dengan Uskup di Roma, pemersatu Gereja dalam kasih Kristus. Betapa pun pencobaan yang dahsyat dari dunia, Gereja tetap akan kokoh selamanya. Dan kita yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam peziarahan ini.

2.Walau pun Gereja kokoh kuat, tidak berarti tidak perlu melakukan pemurnian diri. Ketika Tuhan datang di Bait Allah Yerusalem, Tuhan menemukan banyak hal yang mengotori dan merusak spirit doa dan devosi. Sikap-Nya yang keras terhadap para pedagang, menggaris bawahi tentang kesucian yang diberikan oleh Allah kepada Bangsa Terpilih. Kita sebagai umat pilihan mewarisi untuk selalu menjaga kesucian tersebut dalam diri kita. Kita menyadari bahwa jalan hidup dunia banyak kali menggerogoti jiwa dan rohani kita, sehingga kita perlu menyucikan diri.

3.”Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Yesus tidak memberi tanda atau mukjizat seperti yang mereka minta, selain Kematian dan Kebangkitan-Nya. Dengan tanda tersebut, Yesus menggantikan Bait Allah dengan diri-Nya sendiri; satu-satunya Bait Allah, tempat Allah hadir dan umat manusia menyembah. Tidak setengah-setengah, tidak kompromi, dan total, itulah tanggapan yang pantas untuk menjadikan diri kita tempat Allah bersemayam.



Kamis, 08 November 2018

Renungan Harian GML : ALLAH PEDULI

Kamis, 8 Nop 2018

BACAAN
*Flp 3:3-8a* – “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus”
Luk 15:1-10– “Akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat”

RENUNGAN
1. Bagi orang-orang Parisi dan para ahli kitab, siapa pun yang mereka cap sebagai pendosa, selalu mereka singkirkan dan mereka remehkan. Dari dulu sampai sekarang cap itu terbawa-bawa. Orang begitu mudah memberi cap “berdosa” dan kafir berdasarkan suku, agama, dan pandangan hidup. Pokoknya, apa saja dan siapa saja yang tidak sesuai dengan otak mereka, adalah kelompok tersesat, haram, dan kafir. Serem sekaligus menggelikan.

2.Cara pandang Yesus sungguh baru dan luar biasa. Satu orang yang tersesat harus dicari sampai ketemu. Biar pun hanya satu orang, tapi sangat berharga di mata Tuhan. Bagi yang merasa tersesat dan berdosa, Yesus adalah “penebus dan penyelamatku.” Nah, saat ini kita berada dalam kawanan Gereja. Masalahnya adalah: bagaimana caranya supaya kita tidak sampai tersesat dan hilang.  Tuhan, melalui Gereja-Nya, menyediakan banyak sarana bagi kita untuk sampai pada iman yang utuh: Sabda, Doa, Sakramen, Komunitas. Kita gunakan  saja sarana-sarana tersebut.

3.Tuhan tidak pernah gembira dengan hilangnya seseorang. Tuhan menghendaki semua orang diselamatkan dan dipulihkan persahabatannya dengan Allah. Inilah mengapa seluruh penghuni surga bersukacita ketika seorang yang tersesat diketemukan dan relasinya dengan Allah dipulihkan. Masih pedulikah Gereja (para rama dan umat) terhadap mereka yang tersesat dan hilang?

Rabu, 07 November 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH SEGALA-GALANYA

Rebo, 7 Nop 2018

BACAAN
Flp 2:12-18 – “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan”

Luk 14:25-33 – “Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”

RENUNGAN
1.Bacaan Injil hari ini sangat tegas dan keras, serta mudah disalahpahami. Namun harus diingat bahwa Yesus tidak pernah menganjurkan murid-murid-Nya untuk membenci seorang pun. Ia juga tidak bermaksud mengecilkan hati siapa pun yang mau mengikuti-Nya.

2.Terus apa maksud sebenarnya? Setiap orang yang mengikut Yesus harus segera, tidak bisa ditunda, memiliki komitmen dan kesetiaan total terhadap Yesus. Yesus adalah segala-galanya. Yesus menjadi ukuran satu-satunya untuk mengasihi orang tua, isteri, suami, anak-anak, bahkan nyawanya sendiri.

3.”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” Artinya: setiap orang yang mengikuti Yesus harus menyerahkan kepentingan diri kepada Tuhan dan setia total mengikuti-Nya. Jadi, mengikuti Yesus itu sangat mahal, tidak mudah,dan sangat sukar. Maka bila seseorang ingin mengikuti Yesus harus berpikir serius tentang konsekuensi dan harga yang harus dibayar.

4.Melalui Salib, Yesus telah menyediakan bagi para murid-Nya kebahagiaan sejati, damai dan sukacita. Sejauh mana aku telah serius dan total mengikuti Yesus? Atau mengikuti Yesus dengan cara biasa-biasa saja? Atau malah sedang “jatuh”?

Selasa, 06 November 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG TIDAK MEMILIKI PRIORITAS

Selasa, 6 Nop 2018

BACAAN

Flp 2:5-11 – “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib”


Luk 14:15-24– “Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh”


RENUNGAN

1.Saat paling membahagiakan adalah saat kita mengikuti pesta perjamuan bersama. Peristiwa penting dirayakan di sana, persahabatan tumbuh makin dalam, dan hubungan perelasian diperbarui. Perjamuan seperti tersebut sering dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan perjamuan surgawi. Dalam perjamuan surgawi, tidak penting kita akan duduk di mana. Yesus ingin duduk semeja dan berbicara dengan kita. Suasana yang indah, penuh sukacita dan persahabatan kekal.


2.Untuk sampai kepada perjamuan membutuhkan usaha, misalnya menyediakan waktu khusus, pakaian yang bagus, uang sumbangan. Bila kita malas untuk datang, maka berbagai alasan kita buat: sibuk, ada acara yang lebih penting. *Kita pun banyak alasan terhadap panggilan Tuhan. Terlalu malas untuk membaca Firman, pantat terlalu lancip untuk duduk berdoa, terlalu berat kaki untuk datang menuju tempat kegiatan lingkungan, tidak ada waktu untuk mengikuti misa di Gereja*. Bila hal ini terjadi, sejatinya kita tidak memiliki prioritas hidup, kehidupan rohani yang dingin dan dangkal.


3.Pesta perjamuan sudah siap, tetapi kita yang tidak siap. Mengapa tidak siap?

Senin, 05 November 2018

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH MILIK SEMUA ORANG

Senin, 5 Nop 2018


BACAAN
Flp 2:1-4 – “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian sia-sia”

Luk 14:12-14 – “Bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta”

RENUNGAN
1.Demi gengsi, nama baik dan martabat, bila kita mengadakan pesta nikah selalu mengundang orang-orang terpandang, para tokoh masyarakat, dan teman-teman dekat. Menjadi semakin wah bila para tamu datang dengan mobil-mobil mewah. Keren. Sumbangan pun pasti melimpah.

2.Mengapa Yesus minta agar kita mengundang semua orang, termasuk orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan yang tersingkirkan? Bila hal ini terlaksana, pasti heboh. Yang jelas tidak keren. Apa maksud Yesus? Yesus menggunakan perjamuan untuk melambangkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan milik orang-orang kaya, terpandang, dan milik keluarga, melainkan milik semua orang. Siapa saja, tanpa kecuali, berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3. Yesus menantang kita untuk mengasihi dan bermurah hati terhadap mereka yang miskin, cacat, lumpuh, dan tersingkir. Mereka ini jarang mengalami perhatian dan kasih dari orang lain, karena keadaan mereka. Maka panggilan kita adalah mengasihi mereka dengan sepenuh hati, tulus dan rela tanpa minta balasan apa pun.

4.Murah hati berarti pengurbanan. Bermurah hati tidak akan mempermiskin kita, tetapi sebaliknya,  akan memperkaya jiwa dan hidup kita dan kita memperoleh bahagia yang akan dipenuhi “pada hari kebangkitan orang-orang benar.” “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
 

Sabtu, 03 November 2018

Renungan Harian GML : MELAYANI DENGAN HATI

Sabtu, 3 Nop 2018, St. Martinus de Porres

BACAAN
Flp 1:18a-26 – “Bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan”

Luk 14:1.7-11 – “Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan”

RENUNGAN
1.Yesus menghadiri undangan makan yang diselenggarakan oleh seorang petinggi Parisi. Tetapi “semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama.” Namun Yesus juga memperhatikan para tamu yang berusaha duduk di tempat yang paling terhormat. Dari sini Yesus membalikkan arti dihormati dan ditinggikan.

2.Kita seringkali melihat ada orang yang suka mempromosikan dirinya; suka bercerita tentang dirinya, jasa-jasanya,  kehebatannya sambil meremehkan orang lain, dengan harapan orang lain menganggapnya  hebat. Padahal, orang-orang di sekitarnya tidak senang mendengarkan ceritanya, bahkan  menjadi stress karenanya.

3.Namun ada juga orang yang tidak pernah cerita tentang dirinya sendiri. Ia hanya bekerja dan membantu orang lain. Ia tidak memiliki status sosial yang tinggi, dan tidak memiliki banyak ketrampilan kemasyarakatan, tetapi ia melayani dan membuat orang lain senang, bahagia dan semangat. Ketika ia merasa tidak penting lagi, ia mundur dan orang lain di sekitarnya akan sangat menghormati dia; ia mendapat tempat terhormat di hati setiap orang;

4.Tuhan berkata: “Barangsiapa meninggikan diri , akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.” Aku termasuk yang mana? Apakah kita tidak boleh memenuhi ambisi kita dengan menjadi yang paling hebat dan terhormat? Yesus tidak berbicara tentang pemenuhan ambisi, melainkan berbicara tentang hati, yaitu bagaimana seseorang melayani orang lain dengan rela dan ikhlas, tanpa pamrih dan hanya demi kebahagiaan orang lain dan kemuliaan Allah. Orang seperti inilah yang akan dihormati dan ditinggikan.

Kamis, 01 November 2018

Renungan Harian GML : HR SEMUA ORANG KUDUS: MENJADI KUDUS DAN MULIA BERSAMA ALLAH

Kamis, 1 Nop 2018

BACAAN
Why 7:2-4.9-14 – “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya”

1Yoh 3:1-3 – “Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”

Mat 5:1-12a – “Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga”

RENUNGAN
1. Siapa para kudus? Mereka adalah persekutuan orang beriman (“Persekutuan para Kudus) yang telah mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus dan disucikan oleh Darah Anak Domba. Selama hidup, mereka telah memelihara iman dengan baik sampai akhir pertandingan di dunia ini, sehingga mereka memperoleh ganjaran besar di surga.

2.Yang disebut bahagia menurut pandangan dunia adalah mereka yang kaya, berkuasa, dan  yang memuaskan diri dengan kepuasan duniawi. Menurut Yesus, yang disebut bahagia adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya demi kebenaran, mereka yang dicela dan dicaci maki atas nama Kristus.

3.Mereka disebut bahagia karena mereka ini memberikan contoh sikap percaya dan mengandalkan Allah dalam situasi dan segala keperluan mereka. Yesus sendiri merupakan contoh Sabda Bahagia. Ia orang yang miskin (Mat 8:20), lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29), welas asih (Mat 12:16-21). Para kudus ini telah meneladani hidup Tuhan dengan sempurna, maka sudah selayaknya mulia bersama Allah dalam Kerajaan-Nya.

4. Mampukah kita menjadi kudus seperti dikehendaki Tuhan?

Rabu, 31 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JALAN SEMPIT ITU ADALAH JALAN SALIB

Rebo Wage, 31 Okt 2018

BACAAN
Ef 6:1-9 – “Laksanakan pelayananmu seperti orang yang melayani Kristus”

Luk 13:22-30 – “Ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan ada orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir”

RENUNGAN
1.”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Latar belakang pertanyaan ini adalah bahwa semua orang Israel, sebagai Umat Perjanjian, akan masuk surga. Jawaban Yesus mengguncang mereka: Keanggotaan seseorang sebagai Umat Perjanjian tidak otomatis sebagai jaminan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Undangan Allah  terbuka untuk umum, termasuk bangsa-bangsa kafir. Bagi kita, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus berjuang melalui pintu yang sempit.

2. Pintu sempit itu adalah Yesus, dan Yesus adalah satu-satunya Jalan. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh 10:9). Dan jalan Yesus adalah Jalan Salib. Melalui Salib, Yesus membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Yesus mengingatkan, kita harus berjuang untuk memperoleh keselamatan.

3.Supaya mampu melalui Salib, kita harus mengenal Yesus, akrab bersatu dengan-Nya lewat Firman,  doa, Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kita diingatkan Rasul Paulus: “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus” (Flp 1:27).

4. Kelemahan utama kita adalah: tidak berusaha sungguh-sungguh mengenal Kristus. Dengan kata lain: kita abai membaca dan merenungkan Kitab Suci, tidak teratur berdoa, dan tidak memperhatikan Sakramen Tobat dan Ekaristi. Betulkah demikian?

Selasa, 30 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JANGAN MEREMEHKAN YANG KECIL DAN SEDERHANA

Selasa, 30 Okt 2018

BACAAN
Ef 5:21-33 – “Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat”

Luk 13:18-21 – “ Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi … ”

RENUNGAN
1.Biji sesawi dikenal umum di Palestina. Biji yang teramat kecil, tetapi bila tumbuh, tanaman itu lebih besar daripada segala tanaman  belukar. Burung-burung di udara tertarik untuk makan biji-bijinya dan bersarang di pohon tersebut. Demikian Kerajaan Allah, tumbuh dan berproses seperti biji sesawi. Lewat Sabda yang diterima oleh manusia, Kerajaan Allah tumbuh dari dalam hati manusia. Pertumbuhannya tidak bisa dilihat, namun akan membawa perubahan besar dari dalam hati manusia. Ia menjadi manusia baru dalam Kristus.

2.Banyak hal kecil kita sepelekan dan remehkan, padahal apa yang besar dan segala yang baik berawal dari hal-hal kecil, sederhana, dan serba biasa. Dalam proses beriman, seseorang menerima kehidupan baru. Ia dipanggil untuk mengasihi mulai dari cara yang sederhana, lewat menyapa orang lain, memberi senyuman, menjadi pendengar yang baik, memberi pertolongan. Dari hal-hal kecil akan menghasilkan hal-hal besar. Dengan cara itu Kerajaan Allah terwujud.

3. Apa sumbangsih kita (Gereja) bagi kemajuan lingkungan dan masyarakat di sekitar kita?

Sabtu, 27 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH


Sabtu, 27 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:7-16 – “Kristuslah kepala tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya”

Luk 13:1-9 – “Jika kamu semua tidak bertobat, kamu pun akan binasa dengan cara demikian”

RENUNGAN
1.Pemilik pohon ara dipandang sebagai Allah Bapa. Bercermin dari bacaan, Allah Bapa sering datang kepada kita untuk mencari buah ara dalam hidup kita. Allah telah memberi kita “tanah” dan rahmat cukup untuk kita menghasilkan buah. Allah datang kepada kita, karena memang saatnya kita menghasilkan buah. Bagaimana kalau kita tidak menghasilkan buah?

2.Kalau tidak menghasilkan buah berarti hidup kita sia-sia, useless. Kita tidak menjadi roti kehidupan bagi orang lain, tetapi menjadi roti bakar. Hidup yang hanya menghisap sari-sari makanan dari tanah tetapi tidak ada manfaatnya dan mandul. Saat kerahiman Tuhan akan berakhir, dan Tuhan akan menjatuhkan keadilan.
3.Bila hal tersebut terjadi atas kita, seharusnya kita malu karena Yesus telah menebang diri-Nya lewat jalan berdarah sampai di kayu Salib. Agar kita tidak sampai ditebang, maka jalan satu-satunya hanyalah bertobat dan menghasilkan buah-buah kebaikan yang membawa orang kepada kehidupan yang damai dan sejahtera. Hidup tidak boleh sia-sia tanpa menghasilkan kebaikan. 

Jumat, 26 Oktober 2018

Renungan Harian GML : *PEKA TERHADAP KEHADIRAN DAN SAPAAN TUHAN

Jumat. 26 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:1-6 – “Satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan”

*Luk* 12:54-59 – “Kamu tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

RENUNGAN
1. Yesus menunjukkan *kejengkelan terhadap ketumpulan hati para pendengar-Nya.* Mereka pandai membaca tanda-tanda alam, misalnya hari akan hujan, gunung akan meletus, tetapi *hati mereka tumpul ketika berhadapan dengan Yesus, satu-satunya tanda dari Allah.* Yesus, sebagai utusan Allah, menyampaikan pengajaran dan mukjizat-mujizat. Tetapi *semua itu tidak menggetarkan hati mereka, juga tidak menggetarkan hati anak-anak manusia jaman ini.*

2. Untunglah masih ada orang yang beriman. *Orang beriman sejati selalu mendasari hidup dengan Firman, Sakramen, dan doa-doa yang konsisten dan berkelanjutan.* Mereka ini peka terhadap kehadiran dan sapaan Tuhan. Apa yang menurut orang lain sebagai kebetulan, mereka menganggapnya sebagai *penyelenggaraan Allah.* Sikap percaya seperti ini yang membawa ketenangan dan damai. Dan mereka *tidak mengeluh dan tidak cemas, hanya percaya, pasrah sumarah dan menerima apa yang terjadi.*

3. Allah menyampaikan kehadiran-Nya tidak hanya lewat tanda-tanda alam dan tanda-tanda jaman. Lebih dari itu, *Allah menyampaikan tanda kehadiran-Nya lewat Firman, Sakramen, khususnya Ekaristi, doa, ziarah, juga lewat kebersamaan sabagai Komunitas Kristen.* Semoga kita selalu mengikuti gerakan Roh Kudus lewat Gereja-Nya.

Kamis, 25 Oktober 2018

Renungan Harian GML : DAMAI SEJATI

Kamis, 25 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 3:14-21 – “Semoga kamu berakar dan beralas dalam kasih, dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Alllah”

*Luk* 12:49-53 – “Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan pernyataan yang radikal. *Ia begitu merindukan sebuah lautan api ilahi berkobar menyala dalam hati para murid-Nya*. Yesus telah menanggung baptisan yang membenamkan-Nya dalam penderitaan Golgota, dengan harapan *baptisan kita bukan sekedar seremoni, tapi benar-benar menyerupai baptisan Yesus*. Ia menghendaki baptisan menjadi cahaya suci yang memancarkan kesucian dalam hidup kita.

2.Kita mengharapkan bahwa Yesus benar-benar pembawa damai seperti dikatakan oleh nabi Yesaya (Yes 11:6-9). *Tetapi damai akan terjadi pada akhir sejarah ketika Kerajaan Allah terbangun dalam kepenuhannya*. Sampai saat itu, para murid Kristus akan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia yang juga menawarkan damai. *Tidak jarang kita lebih tergiur dengan damai yang ditawarkan dunia,* daripada damai yang ditawarkan oleh Tuhan. Kita diharapkan memiliki roh yang kuat sehingga *tetap memilih damai yang ditawarkan Kristus dan menolak damai yang ditawarkan dunia.*

3.Hidup damai tidak mungkin dibangun dengan perkelahian, berbantah-bantahan, dan kebencian. *Damai yang ditawarkan Kristus, harus dibangun dengan sikap sopan santun, kelemahlembutan, belas kasihan, dan menyatukan, bukan dengan memecah belah dan berbantah-bantahan.

Rabu, 24 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENJADI PELAYAN YANG BIJAK DAN SETIA

Rabu, 24 Okt 2018, St. Antonius Maria Claret


BACAAN
Ef 3:2-12 – “Rahasia Kristus kini telah diwahyukan dan para bangsa menjadi pewaris perjanjian”

Luk 12:39-48 – “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya”

RENUNGAN
1.Salah satu paling beresiko bagi seorang management perusahaan adalah ketika memilih dan mempekerjakan karyawan baru, apalagi bila visi dan misi perusahaan tidak jelas. Tuhan memiliki tujuan jelas ketika Ia memilih pelayan. Kriterianya: mereka haruslah orang yang bijak dan setia, dapat dipercaya, dan melayani Tuannya yang akan memberi mereka upah, serta mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi. Apakah aku sesuai dengan kriteria Tuhan?

2.Dalam bacaan Injil hari ini dikatakan seorang pelayan yang jahat memukuli hamba-hamba lain. Pelayan yang bijak “membagikan makanan tepat pada waktunya.” Tentu kita semua ingin diperhitungkan sebagai pelayan yang bijak dan setia yang memperhatikan mereka yang dipercayakan kepada kita. Tuhan, sebagai Pelayan, telah mati disalib sedemikian kejam demi keselamatan kita, maka kita harus berani menyingkirkan kepentingan kita sendiri dan melayani mereka yang menjadi permata hati Tuhan, yaitu orang-orang miskin, mereka yang menderita dan dianiaya, mereka yang tertindas dan terlupakan.

Selasa, 23 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SAAT INI ADALAH SAAT KERAHIMAN TUHAN

Selasa, 23 Okt 2018, St. Yohanes Capestrano

BACAAN
Ef 2:12-22 – “Kristuslah damai sejahtera kita”

Luk 12:35-38 – “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga”

RENUNGAN
1.“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ay 35). Perintah tersebut diulangi: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” ( ay 40). Kapan Tuhan akan datang? Tidak ada yang tahu. Kebanyakan dari kita menganggapnya biasa-biasa saja bahkan tidak peduli, sehingga hidup kita pun biasa-biasa saja. Apa saja yang biasa-biasa, selalu tidak menarik.

2.Pendapat umum: “Tuhan sudah datang dan selalu berada di tengah-tengah kita. Jadi apa yang perlu dipersiapkan?” Benar, Tuhan berada di tengah kita, tetapi persoalannya adalah sejauh mana kita bertobat dan menjadikan diri layak di hadapan Tuhan?

3.Selama kita masih hidup, Tuhan selalu menawarkan kerahiman-Nya kepada kita, supaya bertobat, menjadi baru dan menjadi berkat. Maka saat ini disebut saat Kerahiman Tuhan. Bagaimana kalau kita tidak berubah sampai mati? Berarti kita gagal sebagai manusia. Berarti saat Kerahiman Tuhan berakhir dan berubah menjadi saat Pengadilan. Pada saat itu kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita. Bagi siapa  yang layak menyambut Tuhan, akan disebut “berbahagia” (ay 38).

4.Kita terus-menerus diingatkan: “Berdirilah tegap, berikat pinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan” (Ef 6:14). “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”

Senin, 22 Oktober 2018

Renungan Harian GML : KESERAKAHAN BUKANLAHm8 KEBAHAGIAAN

Senen Kliwon, 4 Sapar 1952, 22 Okt 18

BACAAN
Ef 2:1-10 – “Tuhan telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus, dan telah memberi kita tempat di surga bersama dengan Dia”

*Luk* 12:13-21 – “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu?”

RENUNGAN
1.” *Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.”* Yesus tidak menyalahkan orang kaya. Yang dikritik Yesus adalah orang yang *tamak, serakah, egois, dan abai terhadap orang lain*. Orang serakah dan egois, seperti  orang kaya dalam kisah Lazarus (Luk 16:20-25), telah kehilangan rasa dan daya untuk terlibat dan berbagi terhadap orang lain yang membutuhkan. Harta kekayaan menjadi tujuan hidupnya dan perhatiannya hanyalah terhadap dirinya sendiri. Kematiannya menjadi akhir dari jiwanya.

2.Kalau harta kekayaan menjadi tujuan, orang akan berusaha mendapatkannya dengan cara apa pun, dan tidak pernah berpikir usaha itu halal atau haram. *Hidup serakah, biasanya diikuti dengan cara-cara tidak terpuji* untuk mendapatkan harta kekayaan:  korupsi, pungli, suap, mencuri, merampok, bahkan membunuh. Yang dipikirkan hanyalah kepentingan sendiri dan keluarganya.

3. *Apa yang kita miliki adalah pemberian Allah*, diberikan kepada kita untuk kebaikan sesama dan tidak untuk kepentingan diri sendiri. Kita disebut sebagai orang kaya, jika kita murah hati, dan memiliki cinta kasih yang tulus. Yang harus kita perluas bukanlah gudang penyimpanan kekayaan atau rekening bank, melainkan *hati* kita. Apakah yang membuat Anda bahagia?

Sabtu, 20 Oktober 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN BERSAKSI

Sabtu, 20 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 1:15-23 – “Kristus diberikan sebagai kepala atas jemaat, dan jemaat itulah tubuh Kristus”

*Luk* 12:8-12 – “Roh Kudus akan mengajarkan kepadamu, apa yang harus kamu katakan”

*RENUNGAN*
1.Kadang-kadang *sukar* untuk mengakui Yesus di depan orang lain. Ada yang *malu* diketahui sebagai murid Kristus, takut akibat yang bakal terjadi, dan *takut* dikucilkan. Ketika ada gereja dirusak atau dibakar, kita diam seribu bahasa. Banyak yang tidak membuat *tanda salib* ketika makan di restoran atau di muka umum. Kita terbebani oleh perasaan “orang berpikir bahwa saya adalah seorang Katolik.” Sikap yang menandakan bahwa iman kita lemah.

2.Tiap saat *Tuhan menyadarkan* kita sebagai orang Katolik. Tuhan juga selalu menyadarkan kita atas dosa-dosa kita, namun kita tidak mau menerimanya. Tuhan siap mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita menolak untuk diampuni. Jika kita mati, tetapi tidak mau menerima kebenaran Allah dan tidak mau bertobat sama sekali, kita berdosa melawan Roh Kudus dan dosa-dosa kita tidak akan diampuni.

3.Bertobat dan bersaksi, itu yang dikehendaki Allah. Bersaksi artinya menjadi martir. Bersaksi apa pun keadaannya, baik maupun buruk. Untuk itu, kita harus mohon Roh Kudus untuk selalu hadir dan berbicara melalui diri kita ketika berada di hadapan orang lain. Dengan demikian tidak perlu ada yang kita takuti.

Jumat, 19 Oktober 2018

RENUNGAN HARIAN GML : JANGAN TAKUT

Jumat, 19 Okt 2018. St. Paulus dari Salib, St. Yohanes de Brebeuf, St. Ishak Joques


*BACAAN*
Ef 1:11-14 – “Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, dan kamu pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus”

Luk 12:1-7 – “Jangan takut!”

*RENUNGAN*
1.”Beribu-ribu orang banyak telah  berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan.” Orang-orang begitu ingin untuk berjumpa dengan Yesus. “Mereka seperti domba tanpa gembala” (Mrk 6:34).

2.Yesus mulai mengajar: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Parisi.” Kemunafikan berarti menyembunyikan kebenaran. Di luar nampak bagus, di dalamnya tertimbun kebusukan. Tiap hari ikut misa, tetapi hidupnya berlawanan dengan semangat Ekaristi. Yesus menghendaki kita berubah: meninggalkan kemunafikan dan menyamakan antara kata, sikap dan tindakan, dan tidak perlu ada yang disembunyikan.

3.Para murid diharapkan memiliki ketulusan hati, tidak menyembunyikan kebenaran, tidak takut menyampaikan kebenaran, dan tidak boleh menyimpan untuk dirinya sendiri, tetapi harus menyebarkannya kepada orang lain.

4.Dan tidak perlu takut terhadap penderitaan karena mewartakan kebenaran Kristus. Takut terhadap penderitaan berarti menolak kebenaran. Barangsiapa memisahkan diri dari Kristus karena takut akan penderitaan, akan hilang untuk selama-lamanya. Mengapa kita tidak perlu takut? Karena hidup kita berada di tangan Allah. Anda takut sebagai murid Kristus?

Kamis, 18 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

Kamis, 18 Okt 2018, St. Lukas

MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

BACAAN
2Tim 4:10-17a – “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku”

Luk 10:1-9 – “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya”

RENUNGAN
1.Lukas, yang pestanya kita rayakan hari ini, satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang berasal dari  bukan orang Yahudi. Hal tersebut sudah menjadi rencana Allah untuk menjadikan Lukas penulis Injil dan Kisah Para Rasul. Ia menerima rahmat khusus untuk menjadi bagian penting Gereja sepanjang sejarah. Mengapa kita diberi rahmat untuk boleh mengenal Kristus, sedangkan banyak orang tidak memperolehnya? Jawabannya: Allah menghendaki. Dan hal itu merupakan rencana Allah bagi kita.

2. “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Kalau Yesus menganggap para rasul seperti domba, mengapa Ia mengutus mereka ke tengah para serigala? Yesus ingin menguji iman para rasul. “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?” Jawab mereka: “Suatu pun tidak.” (Luk 22:35). Para murid diajak untuk mengandalkan penyelenggaraan Allah, bukan pada ketrampilan dan talenta.

3. "Yesus, Engkau andalanku" (MS,berkat.id)

Rabu, 17 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SPIRIT ORANG PARISI DAN AHLI TAURAT VERSUS SPIRIT YESUS

Rabu, 17 Okt 2018, St. Ignasius dari Antiokhia

BACAAN
Gal 5:18-25 – “Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”

Luk 11:42-46 – “Celakalah kamu, hai orang-orang Parisi .... “

RENUNGAN
1.Yesus mengecam orang-orang Parisi dan ahli Taurat. Mereka, sebagai pemimpin umat Israel, tidak mau mendengarkan Sabda Allah, bahkan menyesatkan orang-orang yang ingin menuju jalan Allah. Karena menekuni Hukum dan Taurat, maka mereka merasa diri sebagai sumber kebijaksanaan dan kebenaran yang harus didengar. Tetapi ada masalah dengan mereka: tidak memiliki belas kasih.

2.Orang-orang Parisi dengan cermat dan tertib membayar persepuluhan hanya demi dipuji orang, tetapi tidak ada perhatian terhadap mereka yang miskin, bahkan menganggap mereka sebagai kelompok terkutuk. Karena merasa paling hebat, mereka dipenuhi dengan kesombongan, gila hormat, dan suka merendahkan orang lain yang tidak segolongan.

3.Yesus membandingkan mereka dengan kuburan yang tanpa tanda. Kuburan merupakan gambaran kecemaran. Kebusukan orang-orang Parisi menjangkiti orang-orang lain, termasuk duabelas murid Yesus, dengan gagasan-gagasan yang salah tentang Allah, tetapi orang lain tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Ini berbahaya.

4.Dalam Yesus, esensi Hukum dan Ajaran adalah cinta kasih kepada Allah dan orang lain. Tuhan adalah cinta dan segala sesuatu yang Dia buat mengalir dari cinta. Cinta adalah berkorban, berbelas kasih, berbagi, memeluk dan mengangkat beban-beban orang lain.

5.Siapakah orang-orang Parisi dan para ahli Taurat pada zaman sekarang ini? Jangan-jangan aku 😄

Selasa, 16 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG WELAS ASIH

Selasa, 16 Okt 2018, St. Margareta Maria Alacoque, St. Hedwig

*BACAAN*
Gal 4:31b-5:6 – “Bagi orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat sama sekali tidak mempunyai arti. Yang berarti hanyalah iman yang bekerja oleh kasih”

*Luk* 11:37-41 – “Berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”

*RENUNGAN*
1.Setelah mendengarkan pengajaran Yesus, seorang Parisi mengundang makan di rumahnya. Tapi Yesus tidak mengubah kebiasaan-Nya, yaitu *tidak mencuci tangan* sebagai syarat menurut adat. Dengan cara itu, Yesus dianggap tidak taat hukum. Terjadilah saling kritik antara Yesus dan orang Parisi, tanpa dibuka ruang dialog.

2. *Yesus mengkritik* mereka, karena di balik ketaatan terhadap ritual keagamaan tersebut, mereka *menyembunyikan* *kejahatan* yang tidak pernah mereka persoalkan, yaitu tidak pernah berbelas kasih dan memberi derma kepada orang-orang miskin, bahkan menyingkirkan mereka dari tengah masyarakat.

3.Yesus mendesak agar mereka *berbelas kasih*  dan memberi *derma* kepada orang-orang miskin. Yesus ingin menekankan *perubahan batin,* sehingga orang memiliki hati yang rela, murah hati dan berbelas kasih. Dengan sikap demikian, orang tidak perlu cemas dan takut terhadap hal-hal yang datang dari luar. Belas kasih dan derma juga mampu menetralisir keserakahan, nafsu menggarong, korup, dan merampok, sehingga tidak ada ruang di dalam hati kita untuk iri hati, sombong dan congkak. Bagaimana dengan Anda?

Senin, 15 Oktober 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN TERUS BERTOBAT

Senin, 15 Okt 2018, St. Theresia Avila


*BACAAN*
Gal 4:22-24.26-27.31-5:1 – “Kita bukanlah anak-anak dari wanita hamba, melainkan dari wanita merdeka”

Luk 11:29-32 – “Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda nabi Yunus”

*RENUNGAN*
1.Orang-orang Israel dan para pemimpin mereka hampir tiap hari mendengarkan pengajaran dan menyaksikan mukjizat Yesus, namun mereka *tidak* pernah menyesal dan bertobat, apalagi untuk mengikuti Yesus. Maka sudah sepantasnya  Yesus berkata: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.”

2.Berbeda dengan orang-orang Ninive. Ketika mendengar peringatan Allah lewat nabi Yunus, mereka *bertobat*.

3.Orang-orang Israel *menolak* pesan pewartaan Yohanes, sekarang mereka *menolak* pesan Yesus, Yang Diurapi atau Mesias. Sesungguhnya *Allah pun kesal* terhadap  Israel. “Sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang *tegar tengkuk*” (Kel 32:9), bangsa yang *keras hati* (1Sam 6:6), “Pikiran mereka telah menjadi *tumpul*, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka” (2Kor 3:14). Dan Simeon telah menubuatkan tentang Yesus: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau  membangkitkan banyak orang di Israel” (Luk 2:34), tetapi bangsa Israel *tetap menolak Yesus*, bahkan membunuh-Nya.

4.Lewat peristiwa sehari-hari, Tuhan selalu *mengingatkan* agar kita bertobat, namun banyak dari antara kita yang tidak mau mendengarkan peringatan dari Allah, “sehingga dosa mereka bertambah-tambah” (Yes 30:1). Bukan pertobatan, justru malah kesombongan yang terjadi, merasa diri benar dan lebih hebat dibanding orang lain. Pengakuan sebagai orang Kristen dan baptisan yang kita terima belum menjadi jaminan keselamatan, jika kita tidak mau bertobat. (berkat.id)

Rabu, 10 Oktober 2018

Renungan Harian GML : Doa Bapa Kami


Hari Biasa, Pekan Biasa XXVII

Bacaan Injil
Luk 11:1-4
Tuhan, ajarlah kami berdoa.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat.
Ketika Ia berhenti berdoa,
berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya,
"Tuhan, ajarlah kami berdoa,
sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya."

Maka Yesus berkata kepada mereka,
"Bila kalian berdoa, katakanlah:
'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya,
dan ampunilah dosa kami,
sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."



Renungan :
Kita pasti sudah menghafalnya sejak kita masih kecil. Namun saat ini, saya ingin fokus pada satu bagian Doa Bapa Kami, “Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu.” Kata-kata ini seringkali dipandang sebagai sebuah kata ajakan kepada Bapa agar Ia memuliakan nama-Nya dan mendatangkan kerajaan-Nya di tengah-tengah kita. Namun, seringkali kita juga lupa bahwa kata-kata ini pun sebenarnya sebuah kalimat imperatif (ajakan) untuk kita yang mendoakannya. Dengan Doa Bapa Kami, Yesus tampaknya mengajak kita untuk mengkonkretkan apa yang kita doakan.

Ini berarti bahwa: (1) “Dimuliakanlah nama-Mu” dalam tindakan-tindakanku sehari-hari. Lalu pertanyaannya, “Apakah sikapku dalam keseharian sudah dapat dikatakan memuliakan Tuhan?”; dan (2) “Datanglah kerajaan-Mu” yang penuh damai itu di tengah-tengah kami yang diwujudkan secara konkret melalui sikapku yang selalu membawa damai untuk lingkungan dan orang-orang di sekitarku. Inilah tantangan kita saat ini, di tengah-tengah dunia yang penuh dengan “hoaks” dan “kebencian” di mana-mana.

“Apakah aku mau memuliakan dan menghadirkan kerajaan-Nya dengan nyata saat ini dan di sini?” Inilah ajakan Tuhan pada kita saat ini.

Selasa, 09 Oktober 2018

Renungan Harian GML : DOA MERUPAKAN DARAH KEHIDUPAN DALAM RELASI DENGAN YESUS

Selasa, 9 Okt 2018


BACAAN
Gal 1:13-24 – “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku. Agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa lain”

Luk 10:38-42 – “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”

RENUNGAN
1.”Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” Duduk membaca Firman Tuhan, merenungkannya dan berdoa, bagi kebanyakan orang jaman sekarang, merupakan kesia-siaan dan tidak membantu apa pun untuk proyek-proyek mereka. Bagi mereka “time is money,” baca Kitab Suci, berdoa adalah “wasting-time” dan “useless.”

2.Bagaimana sikap kita? Perhatikan kata-kata Tuhan: “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Sikap untuk bisa seperti Maria adalah mencintai Tuhan  dan tekun duduk di kaki Tuhan, terutama di saat kita sedang mengalami kesulitan. Ketekunan akan meningkatkan iman. Jika kita bertekun, kita akan mendapatkan apa yang kita perlukan.

3.Apakah kita sering kecewa ketika doa permohonan kita tidak dikabulkan? Apakah ketika berdoa, kita terbuka terhadap kehendak Allah? Yang harus kita sadari adalah jika kita tidak melihat hasil dari doa, tidak berarti bahwa Tuhan tidak mendengarkan. Tuhan selalu memberi kesempatan dan akan sering melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada apa yang kita inginkan. Allah pasti melakukan yang terbaik bagi kita, walaupun hal itu tidak seluruhnya sesuai dengan rencana kita. Kita tidak pernah akan tahu atau menyadari tanda-tanda khusus bagaimana Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Kita hanya bisa menerima dalam iman. (www.berkat.id)

Senin, 08 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENCINTAI ORANG LAIN SEPERTI YESUS

Senin, 8 Okt 2018


*BACAAN*
Gal 1:6-12 – “Injil yang kuberitakan itu bukanlah Injil manusia”

Luk 10:25-37 – “Siapakah sesamaku?”

*RENUNGAN*
1.Dalam Taurat Yahudi tertulis bahwa mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan menjadi hukum utama (Im 19:18; Ul 6:5). Tetapi dalam keseharian, mereka mempraktekkan hukum balas dendam: “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Kel 21:24). Yesus menghendaki perubahan hukum secara total. Yesus menghendaki  kita memiliki cinta persaudaraan, mencintai orang lain, mencintai siapa saja tanpa memandang siapa mereka, sebagaimana telah Ia tunjukkan di kayu salib. Apakah aku juga berusaha mencintai orang lain seperti Yesus?

2.Mungkin, kita sama seperti orang Yahudi: mengasihi Allah dan mentaati hukum-hukum-Nya, tetapi ketika kita harus mencinta orang lain, bahkan terhadap orang yang paling dekat sekali pun, banyak gagal. Mereka banyak menderita karena ketidak sabaran, kemarahan dan  kurangnya kontrol pada diri kita. Mengapa hal ini bisa terjadi?

3.Yesus juga meminta agar kita mencintai musuh-musuh kita. Hal ini dicontohkan oleh seorang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang dirampok. Orang Samaria tersebut tidak lain adalah gambaran Yesus sendiri. Inilah cinta, di mana Yesus menghendaki untuk kita lakukan: cinta tanpa batas seperti yang Ia lakukan di Salib. “Pergilah, dan perbuatlah demikian!.” (MS,berkat.id)

DOA SALAM MARIA



1). Doa Salam Maria terdiri dari 3 bagian yang tidak terjadi seketika. Doa Salam Maria membutuhkan waktu sekitar 15 abad untuk sampai pada bentuknya sekarang ini.

2). *Bagian pertama*: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kalimat pertama doa Salam Maria ini diambil dari salam Malaikat Gabriel yang diutus Allah untuk mengabarkan kelahiran Yesus. Mulai abad ke-6, umat Kristen mulai mendaraskan salam malaikat itu sebagai penghormatan bagi ibu Yesus. Kata-kata itu berbunyi: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu.” Kata-kata ini mirip salam malaikat dalam Luk 1:28: Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

3). *Bagian kedua*: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” Ungkapan ini menyadur seruan Elisabet: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan, dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:48). Mulai abad ke-12, umat Kristen berdoa: “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu. Amin.” Belum ada kata Yesus.

4). Kapan kata “Yesus” ditambahkan ke dalam doa Salam Maria? Kata “Yesus” baru ditambahkan pada abad ke-13, sehingga berbunyi “terpujilah buah tubuhmu Yesus.”

5). *Bagian ketiga*: “Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Bagian ketiga doa Salam Maria ini diresmikan untuk seluruh Gereja oleh Paus Pius V pada tahun 1568.

6). Apa peranan Maria dalam doa-doa kita? Maria adalah seorang manusia di antara kita. Kita tidak berdoa mohon kepada Maria untuk mengabulkan doa-doa kita. Tidak. Dalam doa, kita berdoa bersama Maria. Kita minta tolong kepada Bunda Maria untuk membawa dan mengantarkan doa-doa permohonan kita kepada puteranya, Yesus Kristus. Yesus, sebagai anak, akan sangat berkenan dengan permintaan bunda-Nya. Pertolongan Bunda Maria sangat nyata bagi umat Allah.

7). Walaupun kita minta pertolongan Bunda Maria, fungsi pengantaraan Kristus utuh tak tergantikan, karena Dia adalah Sang Sabda dan tinggal di antara kita. Jadi, dalam berdoa, kita berdoa kepada Allah, sebagai asal mula dan tujuan hidup kita, dengan pengantaraan Kristus, dan dalam persekutuan dengan RohKudus.
(MS, berkat.id)

Rabu, 03 Oktober 2018

SEJARAH ROSARIO



1.Doa Rosario menjadi kesukaan umat Katolik. Rosario merupakan pendarasan  misteri iman: peristiwa Gembira, Sedih, Mulia, dan Cahaya. Dengan peristiwa-peristiwa tersebut, kita mengenangkan Inkarnasi Tuhan, pewartaan-Nya di hadapan public, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, berdoa Rosario membantu kita untuk tumbuh dalam penghayatan akan misteri-misteri yang kita renungkan. Dalam doa Rosario, kita mohon bantuan Bunda Maria yang akan menghantarkan kita kepada Putranya.

2.Manik-manik dalam Rosario untuk membantu orang menghitung jumlah doa Bapa Kami atau Salam Maria. Maka disebut manik-manik Pater Noster (Bapa Kami). Mengapa disebut demikian? Karena, pada abad ke-12, mereka yang mendaraskan mazmur hanyalah para rahib dan para imam, sedangkan umat yang tidak sekolah alias buta hurup, mendaraskan 150 Bapa Kami sebagai ganti mendaraskan 150 Mazmur.

3.Struktur Rosario mengalami perkembangan pada abad ke-12 dan ke-15. Pada waktu itu berdoa Rosario adalah mendaraskan 50 kali salam Maria untuk mengenangkan peristiwa “sukacita” dalam hidup Yesus dan Maria. Perkembangan lebih lanjut, dalam doa Rosario ditambahkan peristiwa “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya doa 150 Salam Maria digabungkan dengan 150 kali Bapa Kami. Terlebih dahulu didoakan Bapa Kami diteruskan dengan Salam Maria, begitu sampai 150 kali.

4.Pada abad ke-16 diperkenalkan lima misteri Rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa: Peristiwa GEMBIRA, mencakup: Maria menerima kabar gembira, Maria mengunjungi Elisabet, Yesus dilahirkan di Betlehem, Yesus dipersembahkan di dalam kenisah, dan Yesus diketemukan dalam Bait Allah. Peristiwa SEDIH, mencakup: Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakrat maut, Yesus didera, Yesus dimahkotai duri, Yesus memanggul salib-Nya, dan Yesus wafat di salib. Peristiwa MULIA, mencakup: Yesus bangkit dari mati, Yesus naik ke surga, Roh Kudus turun atas para rasul, Maria diangkat ke surga, dan Maria dimahkotahi di surga. Pada tahun 2002, Paus Yohanes Paulus II menetapkan peristiwa CAHAYA, mencakup Yesus dibaptis di sungai Yordan, Yesus menyatakan diri dalam perjamuan nikah di Kana, Yesus mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, Yesus dipermuliakan, dan Yesus menetapkan Ekaristi. Juga setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak, ditambahkan pada akhir setiap misteri: “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”

5.Doa Rosario menjadi semakin dikenal pada tahun 1500-an, teristimewa atas upaya Paus Pius V. Pada waktu itu kaum Muslim Turki menyerang “orang-orang kafir” Eropa Timur. Tahun 1521 Bulgaria dan Hungaria jatuh ke tangan Muslim. 1526 pasukan muslim berada di perbatasan Austria. Tahun 1570, Turki mengultimatum Venisia agar menyerahkan kepulauan Siprus. Venisia menolak dan terjadilah perang selama 11 bulan. Pada 1 Agustus 1571, Siprus takluk.

6.Paus Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria. Paus Pius V minta segenap umat beriman untuk mendaraskan doa Rosario dan mohon bantuan Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan”, memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani. Tanggal 7 Oktober 1571 terjadi pertempuran di Lepanto. Dalam waktu 5 jam, kaum muslim dikalahkan. Sebagai ucapan syukur, setahun kemudian, Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario, dan menganugerahi Bunda Maria dengan gelar: Bunda Penolong bagi Orang-orang Kristen.
(MS,berkat.id)

Renungan Harian GML : BERANI MENGIKUTI KRISTUS BERAPA PUN ONGKOSNYA

Rebo Legi, 3 Okt 2018


BACAAN
Ayb 9:1-12.14-16 – “Masakan manusia benar di hadapan Allah?”

Lluk 9:57-62 – “Aku akan mengikuti Engkau ke mana pun Engkau pergi”

RENUNGAN
1.Seorang murid Kristus dengan sombongnya berkata:  “Aku akan mengikuti Engkau, ke mana pun Engkau pergi.” Ia ingin melakukan hal-hal yang besar bagi Kristus. Tetapi jawaban Kristus sangat mengejutkan: “... Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Mengikuti Yesus tidak ada romantismenya. Yang ada adalah jalan terjal nan sempit. Seorang isteri  sangat menyesal karena mendapati  suaminya seorang pemboros. Orang tua begitu berbunga-bunga atas kelahiran anak pertamanya, namun beberapa bulan kemudian diketahui bahwa anak tersebut menderita kelainan jantung. Bagaimana bila terjadi padaku?

2.Mengikuti Yesus tidak bisa ditawar-tawar dan harus siap. Orang tidak bisa beralasan: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Mengikuti Kristus tidak perlu menunggu saat baik, setelah pensiun atau ketika sudah kaya raya. Mengikuti Kristus harus menjadi prioritas. Setuju?

3.Mengikuti Kristus harus selalu mengarahkan pandangan ke depan demi menggapai Kerajaan Allah. “Setiap orang yang membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Menoleh ke belakang berarti menyimpang dan kehilangan arah.

4. Banyak orang tidak tahan terhadap jalan Yesus ini. Banyak orang berbelok arah dan meninggalkan Yesus. Bagaimana dengan anggota keluargaku? (MS,www.berkat.id)

Selasa, 02 Oktober 2018

Renungan Harian GML : *MALAIKAT PELINDUNG: PEMBANTU SURGAWI*

Selasa, 2 Oktober 18, Para Malaikat Pelindung


*BACAAN*
Kel 23:20-23a – “Malaikat-Ku akan berjalan di depanmu”

Mat 18:1-5.10 – “Malaikat mereka ada di surga, dan selalu memandang wajah Bapa-Ku di surga”

*RENUNGAN*
1.Para murid bertanya, siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Pertanyaan demi egonya sendiri:  ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Pertanyaan yang tidak berkenan di hati Tuhan.  Kerajaan Allah dapat dibandingkan dengan sebuah keluarga. Kalau kita bertanya: “Siapa yang paling besar dalam keluarga?” dipastikan bahwa pertanyaan tersebut keliru. Pertanyaan yang dikehendaki Tuhan adalah: “Bagaimana aku menjadi anggota keluarga dengan lebih baik? Bagaimana aku menjadi seorang suami dengan lebih baik? …

2.Mengapa Tuhan menunjuk seorang anak kecil menjadi model? Karena kesederhanaannya dan kecederungannya untuk selalu percaya. Mereka mungkin tidak memahami apa yang dikatakan orang tuanya, tetapi ia menerima karena datang dari orang yang mencintainya. Demikian juga seharusnya terhadap Allah. Kita mungkin tidak mengerti secara penuh mengapa Tuhan meminta kita untuk melakukan sesuatu, tetapi kita menerima, percaya dan terbuka terhadap-Nya. Bila kita kurang memiliki kepercayaan pada Allah, suatu saat kita bisa mengatakan tidak terhadap Allah.

3.Doa terhadap malaikat pelindung sangat populer di kalangan umat Katolik. Kita berdoa kepadanya, karena masing-masing dari kita memiliki malaikat pelindung. Malaikat kita mencerminkan cinta Allah yang selalu ingin melindungi dan menyelamatkan kita. Sebaliknya dunia ini selalu memasang ranjau-ranjaunya agar kita membuat langkah yang keliru dan terjebak. Malaikat kita akan membantu kita melewati lembah air mata ini. Pernahkah aku berdoa kepada malaikatku? *MS,berkat.id*

Senin, 01 Oktober 2018

Renungan Harian GML : YANG TERBESAR

Senin, 1 Okt 2018, St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus


*BACAAN*
Ayb 1:6-22 – “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan”

Luk 9:46-50 – “Yang terkecil di antara kamu, dialah yang terbesar”

*RENUNGAN*
1.Seandainya para murid memperhatikan Sang Guru, pastilah mereka tahu bahwa Kabar Gembira bukanlah usaha untuk meraih prestise dan pengakuan, tetapi  kerendahan hati dan pelayanan. Kenyataannya, para murid tidak memahami, malah berebut siapa yang paling besar. Apakah kita lebih baik daripada para murid? Kita mendengar atau membaca Kitab Suci dari tahun ke tahun, tetapi masih saja sombong; kita menganggap diri kita lebih baik atau lebih suci dari orang lain. Bagaimana Kristus memandang kita pada saat ini?

2.Yesus berbicara kepada mereka tentang penerimaan terhadap orang  yang paling lemah dan paling tak terlindungi. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati.  Dalam kehidupan sering terjadi seseorang mengekploitasi orang lain, mayoritas menindas minoritas, seorang boss menindas bawahannya. Bagaimana Aku memperlakukan orang lain? Apakah aku suka memiliki sifat diktator? Atau aku memiliki jiwa pelayanan seperti dikehendaki Tuhan?

3.Yohanes dan murid yang lain mencoba menghentikan seseorang yang melakukan perbuatan baik atas nama Yesus, karena orang tersebut tidak termasuk “kelompok kita.” Mereka merasa ditunjuk sebagai “polisi.” Bagi Yesus, yang penting adalah buah yang dihasilkan (Mat 7:16), bukan siapa yang melakukan. *Penting*: Jangan begitu cepat menghakimi tindakan orang lain. Kita harus bisa melihat nilai-nilai positip dan buah-buah yang dihasilkan. (MS,www.berkat.id)

Minggu, 30 September 2018

Perayaan 10th Goa Maria Lawangsih, 25th Tahbisan Imamat Rm. P. Sajiyana Pr, Pembukaan Bulan Rosario



“Lumantar Ibu Maria Kita Muji Syukur  Awit ambal Warso Ingkang Kaping 10 Goa Maria Lawagsih” atau dalam bahasa Indonesia “Melalui Bunda Maria Kita Persembahkan Syukur atas Rahmat Dasa warsa Goa Maria Lawangsih”. Tema inilah yang diusung oleh para panitia untuk merayakan 10 th Goa Maria Lawangsih pada tgl 29 September 2018. Bagi umat setempat khususnya, dan para peziarah pada umumnya  keberadaan Goa Maria Lawangsih merupakan suatu rahmat tersendiri dari Tuhan karena dengan hadirnya tempat ini, umat diberikan kesempatan lebih untuk menimba rahmat melalui Bunda Maria, kadang ada yang membahasakan di Goa Maria Lawangsih kita bisa menemukan Tuhan dalam keheningan, karena memang tempatnya asri dan tenang untuk berdoa.


Foto jatilan selengkapnya klik disini

Kesenian jatilan dari kelompok seni “Ngesti Budaya Manunggal” dan "Among Mudo" menjadi pembuka seluruh rangkaian acara perayaan 10 th Goa Maria Lawangsih sekaligus Tahbisan imamat yang ke 25 th Rm. P. Sajiyana,Pr dan pembukaan bulan Rosario. Jatilan dimulai pukul 09.00 di halaman parker Goa Maria Lawagsih. Kesenian jatilan yag disuguhkan adalah jatilan “pong jur” atau jatilan “klasik”, dimana tarian ini menggambarkan cerita sejarah perangnya prajurit Mataram yg di pimpin oleh Adipati Suta Wijaya dan prajurit Jipang Panolan yg dipimpin oleh Adipati Arya Penangsang, perang ini di menangkan oleh Adipati Suta Wijaya dimana Arya penangsang terbunuh oleh tombak Suta Wijaya.  Jatilan klasik ini sekarang sudah bisa dibilang langka karena seiring perkembangan jaman jatilan kreasi baru lebih diminati. Tapi kelompok seni “Ngesti Budaya Manunggal” dan “Among Mudo” ini bisa membuktikan bahwa klasik bukan berarti ketinggalan zaman, malah bisa memberikan tontonan yang menarik dan baru terutama bagi generasi muda sekaligus untuk nostalgia untuk generasi tua.

Puncak syukur dimulai pukul 15.00 yaitu dengan  Misa Syukur yang dipimpin oleh Rm. Sajiyana Pr. Misa ini menggunakan bahasa jawa dan diiringi koor dari kelompok slaka Sabda Suci yang membuat Perayaan Ekaristi Kudus ini semakin istimewa. Selain umat Pelem Dukuh, misa ini juga dihadiri oleh peziarah dari luar paroki. Dalam ujub misa ini umat berdoa agar Rm P. Sajiyana Pr selaku Romo pembantu Paroki, selalu setia menjadi abdi-Nya dan menjadi gembala yang baik bagi umat dimana saja, untuk Goa Maria Lawangsih umat berharap agar melalui Bunda Maria, semakin bayak orang yang menerima berkat karena kasih-Nya dan semakin dekat dengan Yesus Puteranya terutama selama bulan Rosario ini.
Foto misa selengkapnya klik disini

Hal yang selalu menjadi daya tarik semua orang adalah makan-makan, dan memang benar, setelah misa ada pesta umat berupa makan bersama dengan menu siomay, bakso dan sate ayam. Hal ini jugalah yang sempat di singgung oleh Rm. Saji pada waktu misa, bahwa jangan ikut misa karena ada pesta setelahnya, tapi mengikuti misa karena adanya kerinduan pada Tuhan. Setelah pesta umat, pada pukul 19.00 diadakan ramah tamah dengan umat dan stasi sekitar, pedukuhan sekitar, Perangkat Desa dan Kecamatan, Polsek Girimulyo dan umat diluar katolik lainnya. Sambil menunggu para tamu undangan, anak-anak SD Kanisius Pelem Dukuh menyuguhkan kesenian karawitan yang berisi 9 lagu dengan 30 personil. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena generasi muda mau dan mampu melestarikan budaya jawa. Ramah tamah ini berisi “atur pambagyo” dari ketua panitia dan sambutan dari Ketua Pengelola Goa Maria Lawangsih, Bpk Camat Girimulyo, dan Wakil Ketua II Dewan Paroki adm St Maria Fatima Pelem Dukuh. Disela-sela sambutan diselingi dengan pentas seni dari Tari Angguk (oleh : Sela dan Vika), Nyanyi (oleh : Xena), dan Tari Incling Jangget (oleh : Clara dan Erilta).



Wayang adalah acara pungkasan dari seluruh rangkaian acara 10 th Goa Maria Lawangsih dan pesta imamat yang ke 25 th Rm. P. Sajiyana,Pr. Kesenian wayang mengambil Lakon “Sesaji Raja Soya” yang bercerita tentang Prabu Puntadewa yang akan mengadakan Sesaji Raja Soya sebagai wujud syukur dan doa untuk kemakmuran dan kebesaran Negara Indraprasta. Kisah ini berawal setelah penobatan Puntadewa menjadi raja, Prabu Kresna menyarankan untuk mengadakan Sesaji Raja Soya yang salah satu persyaratannya harus didukung 100 raja dengan sukarela. Sementara ditempat lain Prabu Jalasandra dari kerajaan Giribraja juga berencana mengadakan Sesaji Kalalodra yang mensyaratkan 100 raja untuk tumbal. Negara Giribraja telah berhasil memenjarakan 97 raja, sehingga para Pandawa memutuskan membebaskan raja-raja yang menjadi tawanan Prabu Jalasandra tersebut. Diakhir cerita dengan sukarela ke-97 raja bersama dengan 3 raja bergabung untuk mendukung terlaksananya Sesaji raja Soya. Dalam dalam pentas kesenian wayang ini adalah Ki Anom Sucondro yang merupakan Lurah di Kelurahan Jatimulyo.


Foto wayang dan pentas seni selengkapnya klik disini

Secara keseluruhan acara berjalan dengan tertib, aman, lancar dan meriah. Kesuksesan rangkaian acara ini merupakan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari panitia, keamanan swakarsa, Polsek Girimulyo, Karang Taruna Pratama sebagai petugas parkir dan semua pihak yang bertugas. Berkah Dalem.

Kamis, 27 September 2018

Renungan Harian GML : IMANKU MENJAWAB

Kamis, 27 Sept 18, St. Vincensius de Paulo


*BACAAN*
Pengkhotbah 1:2-11 – “Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari”

*Luk 9:7-9* – “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?”

*RENUNGAN*
1.Pertanyaan dari segala pertanyaan yang selalu muncul dalam Kitab Suci adalah: *"Siapa gerangan orang ini?"* Tidak banyak orang mampu menjawabnya. Murid-murid Yohanes bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk 7:20). Para murid: “Siapa gerangan orang ini?” (Luk 8:25). Para ahli Taurat: “Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini?” (Luk 20:2). Mahkamah Agama bertanya: “Jika Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami!” (Luk 22:67). “Engkau ini Anak Allah?” (Luk 22:70).

2.Hanya orang beriman mendalam mampu menjawab pertanyaan tersebut. Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias” (Mrk 8:29). Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Kepala pasukan yang menyaksikan penyaliban Yesus: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:39). Yohanes Penginjil menyimpulkan: “… supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31).

3.Apa yang harus kita buat supaya semakin mengenal dan menghayati hidup Yesus? Membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa dan menerima sakramen secara teratur dan terencana. Dengan cara-cara tersebut, kita memiliki relasi yang akrab mendalam dengan Tuhan. Menurutmu, siapa Yesus?

Rabu, 26 September 2018

Renungan Harian GML : PEWARTAAN YANG MENGHASILKAN BUAH

Rabu, 26 Sept 18, St. Kosmas dan Damianus

*BACAAN*
*Ams 30:5-9* – “Janganlah aku Kauberi kemiskinan atau kekayaan, melainkan hanyalah kebutuhan hidupku secukupnya”

*Luk 9:1-6* – “Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit”

*RENUNGAN*
1.Yesus mengutus para murid untuk mewartaan Kabar Gembira, tanpa bekal. Mereka  diwajibkan  percaya pada penyelenggaraan ilahi. Bagaimana pewartaan mereka bisa menyentuh dan menghasilkan buah limpah? Kekuatan pewartaan tidak terletak pada banyaknya materi atau ketrampilan, melainkan terletak pada cinta mereka kepada Tuhan. Apakah semangat pewartaan ini juga kita bawa di dalam keluarga, tempat kerja , dan komunitas kita?

2.Yesus mengutus pada murid-Nya bagaikan domba ke tengah-tengah serigala, sehingga tidak ada waktu untuk bersantai ria pada akhir pekan. Dengan memberikan teladan, Yesus menunjukkan apa yang perlu untuk keberhasilan tugas perutusan. Pada umur duabelas tahun Yesus telah sukses menjalankan tugas perutusan-Nya. Apa yang telah diwartakan dan dibuat oleh Yesus diikuti oleh orang-orang yang tak terhitung jumlahnya sampai hari ini.

3.Semakin sukar kondisi dan tempat perutusan, para murid diminta untuk semakin terlibat aktip. Mereka yang benar terlibat justru menemukan sebuah harta yang membuat mereka bersemangat. Harta tersebut adalah Kristus. Apakah kita menemukan Kristus ketika memberikan kesaksian tentang kebenaran, ketika menyampaikan pewartaan, dan ketika berbuat kasih? *MS, berkat.id*

Selasa, 25 September 2018

Renungan Harian GML : TEMUKAN IBU DAN SAUDARA-SAUDARI YESUS

25 September 2018

Luk 8:19-21

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Di sini, Yesus membuka sebuah perspektif yang lebih luas mengenai “keluarga”. Bagi-Nya, Ibu dan saudara-saudara-Nya adalah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Lalu pertanyaan berikutnya, “Apa yang dimaksud dengan Firman Allah dalam teks ini?”

Melihat konteks perikop ini, kita bisa menemukan bahwa sebelum Luk 8:19-21, kita bisa menemukan dua perumpamaan : (1) Perumpamaan mengenai benih yang jatuh di 3 jenis tanah yang berbeda; (2) Perumpamaan mengenai pelita yang ditempatkan di kaki dian. Kemudian setelah Luk 8:19-21, kita bisa menemukan (3) kisah para murid yang ketakutan di tengah badai dan mereka berteriak-teriak, “Guru, Guru, kita binasa!”

Dari konteks ini, paling tidak kita bisa menemukan bahwa “Mendengarkan Firman Allah” itu berarti :
(1)Mau menjadi tanah yang baik dan menyuburkan benih-benih baik (Luk 8:4-15);
(2)Mau menjadi pelita yang memberi terang bagi semua orang (Luk 8:16-18); dan
(3)Semakin percaya pada Yesus bahwa kita tidak binasa bahkan di tengah badai sekalipun (Luk 8:22-25).

Maka, jika kita ingin menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus”, paling tidak kita diharapkan bisa menjadi : (1) tanah yang baik bagi kebaikan; (2) membawa terang bagi sesama; dan (3) semakin percaya pada Yesus sendiri.

Di sisi lain, jika kita menemukan saudara-saudara (sesama) di sekitar kita yang telah menjadi “tanah yang baik”, “pelita (terang)”, dan “terus percaya” pada kebaikan itu sendiri (apapun agama dan latar belakangnya), mereka ini pun dapat menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus”. Dan itu berarti, mereka pun dapat menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara kita”.

Maka, marilah kita temukan “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus” dalam hidup kita sendiri dan juga dalam hidup orang-orang di sekitar kita. Kita bisa menjadi satu keluarga dalam Yesus!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Senin, 24 September 2018

Renungan Harian GML : PEMBAWA OBOR

Senen Pahing, 24 Sept 18


BACAAN
Amsal 3:27-34 – “Orang yang sesat adalah hojatan bagi Tuhan”

Luk 8:16-18 – “Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya”

RENUNGAN
1.Dunia jaman ini  begitu gelap. Perhatian terhadap hal-hal rohani semakin menghilang; orang semakin banyak yang beragama tetapi semakin tidak mengenal Allah. Dunia sekarang ini lebih cocok disebut sekuler; dunia tanpa nilai rohani. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk menjadi pembawa obor yang mampu menerangi orang-orang di sekitar kita supaya tahu arah tujuan. Apakah kita terus berani membawa obor sambil merawat iman kita atau takut dengan lingkungan sekitar?

2.Seorang pembawa obor ialah orang yang sungguh beriman. Ia akan semakin haus mencari Tuhan, mengalami pengalaman bersama Tuhan. Kepadanya, Tuhan mencurahkan segala rahmat yang dibutuhkan secara berkelimpahan, “karena barangsiapa sudah punya akan diberi.” Sebaliknya jika seseorang tidak mengimani Tuhan, ia akan mencari kebenaran dan nilai duniawi saja, mata hatinya semakin tertutup akan Tuhan. Dari padanya, Tuhan akan mengambil apa yang ada padanya  sampai habis. “… tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya, akan diambil.” Ia kehilangan segala-galanya, karena tidak mau mengenal dan mengimani Tuhan.

Sabtu, 22 September 2018

Renungan Harian GML : SIKAP MANUSIA KETIKA MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN

Sabtu Kliwon, 22 Sept 18


BACAAN
1Kor 15:35-37.42-49 – “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidak-binasaan”

Luk8:4-15 – “Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan”

RENUNGAN
1.Ada bermacam sikap manusia ketika mendengarkan Firman Tuhan. Biji yang jatuh di pinggir jalan adalah mereka yang mendengarkan Firman, tapi hidup di tengah mayoritas anti Kritus yang fanatik dan selalu menghalangi orang tersebut untuk beriman. Firman menguap tanpa membekas.

2.Biji yang jatuh di bebatuan. Banyak dari antara kita yang mendengarkan Firman Tuhan dengan sukacita dan dibaptis. Ia mengikuti Kristus dalam saat yang damai, tetapi jatuh ketika ada pencobaan, godaan dan ancaman. Ia memilih jadi mualaf. Aman.

3.Biji yang jatuh di atas semak berduri. Banyak dari antara kita yang mendengarkan dan menerima Firman Tuhan. Tetapi tuntutan ekonomi, bujuk rayu duniawi bikin ngiler juga. Nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah hidup dalam dirinya semakin menguap dan diganti dengan nilai-nilai duniawi: uang, harta kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan popularitas. Kerajaan Allah pelan-pelan hilang darinya.

4.Biji yang jatuh di tanah yang baik adalah kita yang mendengarkan Firman dengan hati terbuka dan menerima dengan sepenuh hati. Firman menjadi dasar yang kokoh kuat dalam hidupnya. Firman berakar dalam dan meluap dalam segala tindakan baik, belas kasih dan pelayanan tanpa pamrih. Ia merawat imannya dengan doa dan Sakramen. Aku jenis tanah yang mana?

Jumat, 21 September 2018

Renungan Harian GML : MEMANDANG DENGAN KACAMATA IMAN DAN CINTA

Jumat, 21-9-18, Pesta St.Matius, Rasul dan Penulis Injil

BACAAN
Ef 4:1-7.11-13 – “Ada yang dianugerahi menjadi rasul, ada yang menjadi pewarta Injil”

Mat 9:9-13 – “Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus”

RENUNGAN
1.Para pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat bangsa. Orang-orang Yahudi tidak pernah akan bicara dengan mereka. Tetapi Yesus berkata kepada Matius: “Ikutlah Aku!” Dengan segera ia bangkit dan mengikuti Dia, tanpa bertanya, tanpa sarat, tanpa menghitung untung rugi.Ia hanya menerima begitu saja. Ia tidak tahu bahwa Yesus akan menjadikannya seorang Rasul. Kemudian ia melangkah lebih jauh: mengundang Yesus ke rumahnya untuk makan bersama. Hal ini merupakan tanda keakraban, persahabatan, dan cinta. Ia menerima Kristus dalam hidupnya.

2.Bagi Parisi, Yesus makan bersama pendosa adalah skandal. Orang Parisi berhadapan dengan seorang Rabbi yang memalukan. Masalahnya adalah: mereka tidak memahami tentang Mesias dan memandang Yesus hanya dari segi lahiriah, padahal Ia harus dicari lewat iman dan cinta. Hal ini sering terjadi pada diri kita, ketika kita mengkritik keadaan, kejadian, dan orang lain hanya dari sudut pandang kita yang sempit dan lahiriah semata, tidak ada perspektif iman dan kasih.

3.Yesus mengajak kita memiliki cara pandang baru  berdasarkan iman dan cinta, tidak sekedar lahiriah belaka. Artinya, sebagai orang beriman, hendaknya memiliki “kedalaman” cara pandang (melampaui yang biasa) ketika berhadapan dengan keadaan, kejadian, atau orang lain. Sebuah habitus yang hanya bisa kita ciptakan melalui doa dan kehidupan rohani yg dalam.

Rabu, 19 September 2018

Renungan Harian GML : BELAS KASIH BERARTI MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

Selasa, 18 Sept 18, Pekan Biasa XXIV

BACAAN
1Kor 12:12-14.27-31a – “Kamu semua adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya”

Luk 7:11-17 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

RENUNGAN
1.Banyak alasan untuk putus asa, seperti yang dialami oleh seorang janda yang anaknya laki-laki meninggal. Dia kehilangan anak tunggalnya, berarti kehilangan sumber kehidupan. Dia sangat terpukul dan kehilangan harapan. Ketika melihat janda tersebut, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu berkata: “Jangan menangis!” Yesus memberikan harapan dan sukacita, sehingga membuat janda tersebut bangkit dari keterpurukannya.

2.Yesus memberikan apa yang dibutuhkannya. Ia menghampiri usungan itu, menyentuhnya dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Dan anak muda yang telah mati itu hidup kembali; Yesus memulihkan apa yang telah hilang. Ia memenuhi janji-Nya: “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi” (Why 21:4). Setelah kita disembuhkan dan diselamatkan, kita harus berani berkata: “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Rom 14:8).

3.Belas kasih merupakan dasar pokok ketika Yesus berbuat kebaikan yang mendatangkan sukacita dan hidup baru bagi siapa saja yang dilayani-Nya. Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya menderita sendirian. Ia selalu menyertai kita. Masih adakah rasa belas kasih di dalam diri kita demi kebahagiaan sesama?

Selasa, 18 September 2018

Renungan Harian GML : BELAS KASIH BERARTI MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

Selasa, 18 Sept 18, Pekan Biasa XXIV


BACAAN
1Kor 12:12-14.27-31a – “Kamu semua adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya”

Luk 7:11-17 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

RENUNGAN
1.Banyak alasan untuk putus asa, seperti yang dialami oleh seorang janda yang anaknya laki-laki meninggal. Dia kehilangan anak tunggalnya, berarti kehilangan sumber kehidupan. Dia sangat terpukul dan kehilangan harapan. Ketika melihat janda tersebut, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu berkata: “Jangan menangis!” Yesus memberikan harapan dan sukacita, sehingga membuat janda tersebut bangkit dari keterpurukannya.

2.Yesus memberikan apa yang dibutuhkannya. Ia menghampiri usungan itu, menyentuhnya dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Dan anak muda yang telah mati itu hidup kembali; Yesus memulihkan apa yang telah hilang. Ia memenuhi janji-Nya: “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi” (Why 21:4). Setelah kita disembuhkan dan diselamatkan, kita harus berani berkata: “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Rom 14:8).

3.Belas kasih merupakan dasar pokok ketika Yesus berbuat kebaikan yang mendatangkan sukacita dan hidup baru bagi siapa saja yang dilayani-Nya. Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya menderita sendirian. Ia selalu menyertai kita. Masih adakah rasa belas kasih di dalam diri kita demi kebahagiaan sesama? (MS,berkat.id)

Senin, 17 September 2018

Renungan Harian GML : DIPANGGIL MENJADI SUMUR IMAN, HARAPAN, DAN KASIH DI MANA ORANG LAIN BISA MENIMBA

Senin, 17 Sept 2018, St. Rob Bellarminus


BACAAN
1Kor11:17-26 – “Bila ada perpecahan di antara kamu, itu bukanlah caranya untuk makan perjamuan Tuhan”

Luk 7:1-10 – “Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai”

RENUNGAN
1.Seringkali orang-orang yang diberi berkat sangat banyak, biasanya paling sedikit mengenal Allah. Hal ini dibuat oleh bangsa Israel. Karena alasan tersebut, Yesus memberikan anugerah iman kepada orang-orang di luar Israel, terutama mereka yang sederhana dan rendah hati. Contoh untuk hal tersebut adalah seorang perwira yang datang kepada Yesus. Sebagai orang beriman, sudah seharusnya kita berusaha seperti dia: sederhana, rendah hati, dan percaya sepenuhnya atas kuasa Yesus dalam kehidupan kita.

2.”Tuan, aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku.” Kalimat tersebut menyatakan kerendahan hati yang dalam. Kita selalu mengungkapkannya selama Ekaristi sebelum  menerima Komuni Suci, di mana kita benar-benar menerima Tubuh, Darah, dan Jiwa Kristus. Iman kita merupakan kunci untuk membuka hati kita terhadap rahmat penyembuhan dari Tuhan.

3.”Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai.” Bukankah kita juga menghendaki agar Tuhan mengatakan kata-kata ini kepada kita? Tuhan memanggil kita agar menjadi sumur iman, harapan dan kasih, di mana orang lain bisa menimba untuk kekuatan hidupnya.

Minggu, 16 September 2018

Renungan Harian GML : ENGKAU ADALAH MESIAS PUTRA ALLAH YANG HIDUP


 Salam jumpa saudari-saudara sekalian. Hari ini Minggu Biasa XXIV Tahun B. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk membuat penegasan atas pengenalan kita akan Yesus Kristus yang kita imani. Pertanyaan Yesus kepada murid-murid yang memuncak pada jawaban Petrus, menjadi pertanyaan yang harus kita jawab juga. “Kata orang, siapakah Aku ini? Tetapi meneurut kamu, siapakah Aku ini?” Mengenal Yesus, bisa dan boleh saja dari kata orang ataupun dari sharing orang lain. Namun menjadi murid Yesus harus menjadi sebuah keputusan pribadi dari hasil pengenalan akan Yesus secara mendalam dan menyeluruh. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana Petrus yang baru saja mendapatkan pujian oleh Yesus atas jawabannya yang tepat tentang Yesus, ia langsung juga dihardik oleh Yesus: “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Hal itu terjadi karena Petrus tidak mau terima bahwa Yesus. Mesias itu akan mengalami penderitaan. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama telah melukiskan bahwa Mesias itu akan taat setia kepada Allah, bahkan ketika Ia harus menanggung penderitaan atas orang-orang yang memukuli punggungnya dan mencabuti janggutnya (Yes 50: 5-6). Rasul Yakobus, dalam bacaan kedua, menyampaikan bahwa imn kepada Yesus itu harus konkrit; harus nyata di dalam sikap dan perbuatan-perbuatan. “Kalau seroang di antara kamu berkata saudara yang tidak punya pakaian dan kekurangan makanan: ‘selamat jalan saudara! Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang’ tetapi ia tiidak memberikan kepadanya apa yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya? Demikian pula jIka iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:16-17). Iman adalah keyakinan yang mendarah daging dan mempengaruhi sikap dan tingkah laku yang semakin sesuai dengan kehendak Allah. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus membantu kita untuk bertumbuh sebagai Kristus-Kristus kecil di dunia ini. 

Saudari-saudara sekalian, gambaran kita tentang Kristus ataupun Mesias akan mempengaruhi sikap dan tindakan hidup kita. Petrus dan para murid ditegur oleh Yesus supaya mereka tidak ‘memikirkan apa yang dipikirkan manusia’, yang menggambarkan Mesias sebagai raja besar yang kuasa, atau sebagai seorang nabi, atau seorang tokoh yang mengatur bidang politik. Sebaliknya Yesus menegaskan, bahwa Ia adalah Anak Manusia, yang justru harus menderita sengsara dan mati dibunuh, akan tetapi juga akan bangkit lagi. Kebangkitan Yesus tidak terlepas dari peristiwa penderitaan dan kematian-Nya. Bagaimana gambaran kita sendiri sekarang ini tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita? Bukankah bagi kita ini sebenarnya lebih mudah daripada murid-murid Yesus dahulu? Sebab kita mengenal Yesus sebagai Penyelamat yang sudah bangkit. Tetapi kenyataannya? Isi, bobot dan kadar iman kita akan Dia kerapkali tidak berbeda dari kepercayaan murid-murid Yesus sebelum Ia menderita, mati dan bangkit! Gambaran kita tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat sering bercorak duniawi, politis, megah, dan karenanya mengharapkan agar kebesaran Kristus dapat tampak dalam kesejahteraan, kemakmuran, kemegahan, kesembuhan, dan pengalaman mengagumkan. Apapun yang ada hubungannya nama kristiani harus tampak istimewa, terkenal, dikagumi, disegani daan dipuji orang. Semua itu baik adanya. Namun tidak boleh dilupakan bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati ataupun menunggu Kristus buat untuk kita. Kristus tinggal di dalam diri kita agar kita bersama-sama dengan Dia turut mengupayakan keadaan yang jaya itu. Proses untuk mencapai itulah yang berat ataupun menjadi salib bagi kita. 

Saudari-saudara, dalam tuntunan Gereja Lokal atau keuskupan, kita diajak untuk mewujudkan kehidupan iman kita di dalam perbuatan-perbuatan. Pengamalan Pancasila merupakan lahan dan sarana kita mewujudkan kehidupan iman itu di dalam dan bersama warga sesama anak bangsa. ‘Kita Bhinneka Kita Indonesia’ dan di tahun depan ‘Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat’ merupakan semboyan yang membutuhkan peran serta kita sekalian di dalam mengupayakan dan melaksanakannya. Merupakan tantangan besar membangun persatuan di tengah-tengah isu-isu primordialisme yang mengedepankan kepentingan tertentu seperti kepentingan politik dan golongan. Sebagai murid Yesus, kita harus sanggup. Salam Bhinneka salam Pancasila. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC) 

Sabtu, 15 September 2018

Renungan Harian GML : MENEMPATKAN MARIA DALAM RUMAH KITA

Sabtu, 15 Sept 2018, PW S.P. Maria Berdukacita

BACAAN
1Kor 15:1-11 – “Begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kamu mengimani”

Yoh 19:25-27 – “Inilah anakmu! Inilah ibumu!”

RENUNGAN
1.Hari ini pesta St. Perawan Maria  berduka cita. Ketika malaikat Gabriel memberi kabar kepada Maria, ia tidak mengatakan tentang kedukaan, melainkan hanya tentang janji-janji penyelamatan. Tetapi segera setelah kelahiran Yesus, Simeon mengatakan: “… dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya pikiran banyak orang dinyatakan” (Luk 2:35). Menggenapi panggilannya, Maria menyertai Puteranya dalam perjalanan menuju Golgota dan berdiri di bawah salib-Nya dengan kepedihan dan duka.

2.Kata-kata Yesus kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya merupakan kesaksian dan keinginan-Nya yang terakhir. Ia mewariskan apa yang Ia pandang paling berharga kepada orang-orang yang Ia kasihi. Kepada Maria, Ia memberikan sahabat yang sangat Ia kasihi yang akan membutuhkan bantuan Maria saat menghadapi kesulitan. Kepada Yohanes, Yesus memberikan ibu-Nya, murid terbaik. Yesus tahu bahwa ibu-Nya membutuhkan Yohanes, untuk menghibur dan menyertainya.

3.Yohanes membawa Maria ke dalam rumahnya. Rumah, tidak lain adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus. Sebagai ibu Yesus, Maria mendapat tempat terhormat. Maria juga menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dalam Gereja-Nya. Home, sweet home. (MS,www.berkat.id)

Jumat, 14 September 2018

Renungan Harian GML : TUHAN BEGITU MENCINTAI SAYA

Jumat, 14 Sept 2018, Pesta Salib Suci


BACAAN
Bil 21:4-9 – “Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga, ia akan tetap hidup”

Flp 2:6-11 – “Yesus telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan wafat di kayu salib”

Yoh 3:13-17 – “Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Nikodemus datang kepada Yesus untuk menemukan siapa sesungguhkan Dia itu. Yesus mengatakan kepadanya bahwa Ia adalah Anak Manusia dan Anak Allah. Ia datang dari surga dan akan kembali ke surga. Pernyataan Tuhan telah menarik perhatian Nikodemus. Dengan pernyataan tersebut, apa yang diharapkan Tuhan dari kita?

2.Ketika umat Israel berontak terhadap Allah di padang gurun, mereka dihukum oleh ular berbisa yang sangat ganas. Demi umatnya, Musa membuat patung ular tembaga yang ditinggikan di sebuah tiang dan siapa yang memandang ular itu diselamatkan. Yesus menyelamatkan manusia tidak dengan simbol yang ditinggikan pada sebuah tongkat, tetapi dengan mengurbankan diri-Nya dengan ditinggikan di kayu salib. Ia menyelamatkan kita tidak dari kematian duniawi, tetapi dari kematian kekal. Ia sungguh Sang Penyelamat yang lebih besar daripada Musa.

3.Seberapa besar cinta Allah kepada kita? Cinta-Nya tanpa batas. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Selayaknya kita selalu bersyukur, memuliakan-Nya dan membalas cinta-kasih-Nya. (MS,berkat.id)

Kamis, 13 September 2018

Renungan Harian GML : SEBUAH CITA-CITA YANG SANGAT TINGGI

Kamis, 13 Sept 2018, PW St. Yoh Krisostomus


BACAAN
1Kor 8:1b-7.11-13 – “Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus”

Luk 6:27-38 – “Hendaknya kamu murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya”

RENUNGAN
1.Khotbah di Bukit merupakan ajaran yang  revolusioner. Tak pernah terjadi sebelumnya, ideal cinta kasih ditempatkan sedemikian tinggi. Untuk pelaksanaannya pun diperlukan sikap heroic. Apa yang dituntut Yesus benar-benar membuat kia sering gusar, karena berlawanan dengan pandangan pada umumnya. Enak didengar, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Namun dalam Tuhan kita akan mampu melaksanakannya.

2.Yesus juga memberikan Peraturan Emas: perbuatlah kepada orang lain sebagaimana engkau menghendaki orang lain perbuat bagimu. Hal ini juga tidak mudah, karena kita suka menuntut orang lain mengikuti kemauan kita, suka egois, sombong dan arogan. Apa yang bisa membebaskan kita dari kedangkalan dan kepicikan ini?

3.Rencana Tuhan untuk kita sungguh mengagumkan. Tuhan mengatakan kepada kita untuk menjadi sempurna, tidak menurut ukuran manusia, tetapi menurut ukuran Allah sendiri; Panggilan kita adalah menjadi serupa dengan Allah. Yang harus kita buat adalah bekerjasama dengan Allah sendiri, mencari Dia lewat doa dan selalu mencari kehendak-Nya dalam hidup kita tiap hari. MS,berkat.id


Rabu, 12 September 2018

Renungan Harian GML : MENJADI BAHAGIA MENURUT KERAJAAN ALLAH

Rabu, 12 Sept 2018

BACAAN
1Kor 7:25-31 – “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu”

Luk 6:20-26 – “Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga”

RENUNGAN
1.Dalam perikope Injil hari ini, Yesus mengarahkan pandangan-Nya kepada para pengikut-Nya. Pada hari ini, Tuhan memandangi wajah kita dengan pandangan yang penuh kasih. Kita siap menerima apa yang Ia sabdakan, karena kita percaya bahwa Ia memiliki Sabda kehidupan abadi. Kalau kita mengalami kemiskinan, kelaparan, kepedihan, kesengsaraan dan hidup yang tersingkirkan karena Kristus, hal tersebut merupakan nilai-nilai hidup Kristus dan cukuplah bagi kita.

2.Yesus mendorong kita untuk mengusahakan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan membuang segala egoisme kita dan Ia akan memperhatikan dan memberi kompensasi kepada kita. Surga, tertawa dan suka cita, kepenuhan yang tak terduga menanti kita. Namun sangat sulit untuk tidak mencari “surga di bumi” dalam rupa kekayaan dan segala kesenangannya serta menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita. Masihkah kita memiliki visi iman dan ketekunan rohani?

3.Tuhan juga memberi peringatan-peringatan dengan kata-kata: “Celakalah …” sebagai lawan dari pujian: “Berbahagialah …” Jika langkah kita mengikuti jalan yang diperingatkan Tuhan, maka kita harus waspada: kemana jalan ini akan mengarahkan kita? Di mana hati kita, di situ harta kita. Apakah keinginan hati kita mengarah kepada yang ilahi dan kebahagiaan kekal atau kepada yang duniawi dan kesenangan-kesenangan sesaat? Kita harus berani memeriksa kembali semua motivasi atas keputusan dan tindakan kita dan berusaha untuk memurnikannya kembali. (MS,www.berkat.id)



Selasa, 11 September 2018

Renubgan Harian GML : ORA ET LABORA

Selasa, 11 Sept 2018


BACAAN
1Kor 6:1-11 – “Adanya perkara di antaramu saja, antara seorang saudara terhadap saudara yang lain, telah merupakan kekalahan bagimu”

Luk 6:12-19 – “Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah”

RENUNGAN
1.Sering kali Penginjil mengatakan bahwa Yesus berdoa  kepada Bapa-Nya. Untuk berdoa, Yesus pergi ke tempat yang cocok dan mengkhususkan waktu untuk berdoa. Ia “mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” Dari sini kita dapat belajar dan mencontoh Tuhan, agar kehidupan doa kita semakin diperkaya.

2.Bagi Yesus, ketika ada keputusan penting yang harus dibuat, Ia selalu konsultasi kepada Bapa-Nya untuk mengetahui kehendak-Nya. Ia tidak pernah tiba-tiba ketika memanggil duabelas pengikut-Nya untuk menjadi rasul. Demikian pula ketika kita ditunjuk untuk tugas tertentu demi Kerajaan Allah, Ia pun meyakinkan bahwa tugas kita tersebut sesuai dengan rencana Bapa.

3.Yesus sungguh menyiapkan diri untuk aktifitas pada hari berikutnya. Dalam kesatuan dengan Bapa, Ia menyalurkan kebaikan-kebaikan Allah kepada mereka yang diperbudak oleh roh-roh jahat atau mereka yang membutuhkan kesembuhan. Yesus sungguh Allah sehingga Ia memiliki kekuatan dari diri-Nya sendiri. Tetapi tindakan Yesus ini, berdoa kepada Bapa-Nya, memberi sebuah contoh bagaimana kita menjadi ranting yang harus bersatu dengan pokok anggur untuk menghasilkan buah limpah sampai akhir hidup kita. Berdoa dan bekerja sampai akhir. Masihkah kita, setiap hari, mengkhususkan waktu untuk hening dan berdoa? (MS,www.berkat.id)

Senin, 10 September 2018

Renungan Harian GML : BERBUATLAH BAIK, SELALU DAN DI MANA SAJA

Senin, 10 September 2018


BACAAN
1Kor 5:1-8 – “Buanglah ragi yang lama; sebab Kristus, Anak Domba Paskah kita, telah disembelih”

Luk  6:6-11 – “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus berbicara, Ia selalu meyakinkan orang-orang yang hadir. Mereka berkomentar bahwa Yesus berbicara dengan meyakinkan, tidak seperti orang-orang Parisi.  Hal ini karena Yesus  mengajarkan sesuai dengan apa yang Ia lakukan; Ia melakukan apa yang Ia ajarkan. Ialah Guru dan Tuhan kita, yang bicara dengan penuh belas kasih, yang merendahkan diri dengan mencuci kaki para murid, dengan harapan kita pun melakukan hal yang sama.

2.Yesus mahatahu. Ia tahu apa yang dipikirkan orang lain. Ia  mencaci  orang-orang Parisi karena  mereka picik dan banyak rewel. Mereka menuntun orang lain, tetapi tidak mengerti kebutuhan orang lain. Yesus mencari orang yang perlu Ia bantu. Walau pun orang-orang di sekitar-Nya mengkritik apa yang Ia katakan dan kerjakan, Ia tidak pernah berhenti melakukan perbuatan baik. Ketika orang lain mencemooh dan mengkritik kita, apakah kita masih akan terus melakukan perbuatan cinta kasih?

3.Budaya kematian dianut oleh orang-orang Parisi. Mereka menghakimi orang-orang yang tidak mengikuti hukum buatan mereka. Dengan sangat keras mereka mengecam Yesus karena dianggap melawan hukum Sabat. Sedangkan Yesus berbicara tentang Sabda Kehidupan. Ia memperkaya kehidupan dengan menyembuhkan banyak penyakit. Kita harus belajar dari Yesus, bagaimana menjadi cahaya dan kehidupan di tengah budaya yang memecah belah, egoisme, dan budaya kematian.

Sabtu, 08 September 2018

Renungan Harian GML : MAHAKARYA TUHAN: MENCIPTAKAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

Sabtu, 8-9-18, Pesta Kelahiran SP Maria

BACAAN
Mika 5:1-4a – “Tibalah saatnya perempuan yang mengandung itu melahirkan”

Mat 1:1-16.18-23 – “Anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bercerita tentang misteri agung Inkarnasi. Mengapa Tuhan memilih menjadi salah satu dari kita? Dalam garis silsilah, kita jumpai orang yang baik dan jahat, orang beriman dan kafir, orang yang berguna dan tidak berguna. Mengapa Tuhan memilih yang cacat, bermutu rendah, dan diri-Nya berasal dari orang-orang seperti itu? Tuhan ingin selalu beserta kita.

2.Anna, isteri Yoakim, mandul sampai umur tuanya. Karena tidak memiliki keturunan, maka Yoakim dihina oleh orang-orang di sekitarnya. Karena hatinya terluka sangat dalam, ia pergi menggembalakan domba-domba di padang belantara dan tidak kembali kepada isterinya dalam jangka yang lama. Pada suatu hari, ia menerima penampakan dari malaikat yang mengatakan bahwa ia akan mempunyai keturunan. Maka kembalilah ia kepada isterinya di Betsaida. Ada harapan baru. Dari kata-kata malaikat, maka lahirlah Maria, yang lahir tanpa noda dosa. Tuhan mengambil yang tidak berguna dan menciptakannya Maria dikandung tanpa noda dosa.  Tuhan telah meninggikan yang rendah.

3.Tuhan mempunyai rencana untuk Maria: Ia minta kepadanya untuk mengandung Anak-Nya. Tuhan selalu membawa yang baik dan indah dan semua itu demi keselamatan semua orang. Dengan itu Tuhan merasuk ke dalam silsilah manusia yang tidak sempurna, dan Tuhan beserta kita. Tetapi karena keras hati, kita tidak mampu lagi merasakan dan mengalami penyertaan Tuhan. (MS)

Jumat, 07 September 2018

Renungan Harian GML: MENJADI CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS

Jumat, 7-9-2018


BACAAN
1Kor 4:1-5 – “Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati”

Luk 5:33-39 – “Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa”

RENUNGAN
1.Para ahli Kitab dan orang-orang Parisi selalu mengamat-amati apa yang diajarkan Yesus. Ketika Yesus dan Levi makan bersama, mereka menyatakan : “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang … Tetapi, murid-murid-Mu makan dan minum.” Mereka menuduh Yesus dan para murid-Nya melanggar hukum puasa. Dengan demikian Yesus dan para murid-Nya dinyatakan tidak suci. Seringkali kita juga mengadili orang lain ketika mereka tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.

2.Jawaban Yesus sederhana: ada saat dan tempatnya kapan harus puasa dan pesta. Dalam tradisi Gereja, tahun liturgi melengkapi kita dengan lingkaran sukacita dan pengampunan dosa. Ada saat sukacita, seperti Natal dan Paskah. Ada saat masa pertobatan, Prapaskah dan Adven, di mana kita melakukan penyucian diri lewat puasa dan pengakuan dosa. Pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh menjalani atau mengabaikannya? Apakah puasa dan pesta seperti diadakan oleh Gereja sungguh mempengaruhi hidup kita?

3.Kemudian Yesus menyampaikan sebuah tantangan dalam bentuk perumpamaan, yang menekankan  bahwa untuk memeluk pesan Yesus, kita harus hidup secara baru. Kita biasanya sudah nyaman dengan rutinitas, berpuas diri dan suam-suam kuku dalam iman; tidak ada pembaruan. Untuk mengikuti Kristus, kita harus meninggalkan diri kita yang lama dan menjadi ciptaan baru dalam Kristus (Kol 3:9-10). Bagi orang-orang Paris berarti meninggalkan formalisme hukum dan sikap mengadili orang lain. Biasanya kita msih memeluk cara hidup lama sekaligus memeluk cara hidup baru dalam Kristus. Nah, bagaimana ini? (MS