menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 26 Desember 2018

Renungan Harian GML : KEKUATAN KESAKSIAN

Rabu, 26 Des 18, St. Stefanus, martir pertama


BACAAN
Kis 6:8-10; 7:54-59 – “Aku melihat langit terbuka”
Mat 10:17-22 – “Bukan kamu yang berbicara, melainkan Roh Bapamu”

RENUNGAN
1.”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60). Kata-kata St. Stefanus ini mengulangi apa yang dikatakan Tuhan. Stefanus telah menyatu hati dengan hati Tuhan. Ia begitu berkobar demi Tuhannya. Semangat ini telah membawa dia mengalami siksaan dan kematian seperti Kristus. Hatinya begitu terbakar akan Kristus, sehingga tidak dapat dibusukkan oleh kebencian. Seperti Tuhannya, ia hanya menghendaki keselamatan pagi para pembunuhnya. Sejauh mana cintaku kepada Kristus, dan bagaimana jika harus mengalami kebencian, siksaan dan salib?

2.Saulus menyaksikan ketika Stefanus dirajam. Saulus berpikir betapa membahayakan apa yang diajarkan oleh Stefanus. Apa yang disampaikan Stefanus benar, tetapi dia dihukum mati. Saulus, setelah nanti menjadi rasul Kristus Yesus, mengakui bahwa sebenarnya dirinya telah mati – mati nuraninya. Namun Allah begitu berbelas kasih. Tidak lama kemudian, Saulus diubah menjadi rasul Paulus. Yesus menerima doa Stefanus persis seperti ketika Bapa menerima doa Yesus. Sebagai murid Kristus, kita tidak perlu takut. Tuhan menerima doa-doa dan pelayanan kita.

3.Masa Natal merupakan saat paling tepat untuk mengubah hati yang keras menjadi hati yang lembut, ketika kita merenungkan wajah Allah yang penuh cinta dalam diri Bayi Kudus yang terbaring di palungan. Ia begitu mencintai kita tanpa batas. Dalam kesatuan dengan Tuhan yang lemah lembut, kita dapat menyingkirkan semua rasa sakit, luka batin masa lalu dan menemukan damai dan sukacita yang hanya datang dari Sabda yang menjadi Manusia. Stefanus telah mengalami semua ini, maka ia siap mengikuti Yesus lewat siksaan dan salib. Iman dan cinta kita kepada Kristus akan diuji ketika kita benar-benar menghadapi kesulitan, penderitaan, kegagalan, ancaman, diremehkan.

Selasa, 25 Desember 2018

Renungan Harian GML : DAGING, KEMULIAAN, PEMBERIAN

Selasa, 25 Des 2018, HARI RAYA NATAL

BACAANYes 52:7-10 – “Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita”
lbr 1:1-6– “Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya”
Yoh 1:1-18– “Firman telah menjadi manusia”

RENUNGAN
1.Dalam tradisi lama, bagi kebanyakan keluarga Kristiani, Natal merupakan saat kedekatan satu sama lain. Mereka saling menyediakan waktu untuk yang lain. Dalam Natal ini, kita diajak untuk merenungkan dan mengagumi Bayi Kudus, Sabda yang sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita. Yang perlu kita refleksikan: apakah aku membiarkan diriku dekat dengan Kristus? Apakah aku telah mencintai Dia?
2.”Dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” Bagi penginjil Yohanes, kemuliaan Tuhan yang memancar dalam wajah Kristus merupakan kemuliaan cinta. Dalam kemuliaan-Nya, Yesus mencinta; Ia mencintai kita. Betapa mengagumkan Allah kita. Kemuliaan Allah terletak pada kerendahan hati-Nya yang sedemikian sehingga Ia menjadi bayi mungil yang tergantung pada cinta kita. Kemuliaan-Nya termasuk ketika Ia merangkul Salib-Nya dan wafat demi cinta-Nya kepada kita. Apakah aku berani mencintai Allah sebagai balas kasih?

3.”…. Penuh kasih karunia dan kebenaran.” Kehadiran Kristus membawa cinta Bapa kepada dunia dan hidup kita. Cinta yang dibawa Kristus semata-mata rahmat atau pemberian dari Bapa, dan  tidak tergantung dari kita. Kita hanya menerima dan menyambut sebagai pemberian dari Allah. Apakah aku berani menjadikan hidupku sebagai hadiah dan berkat bagi orang lain, seperti yang telah Tuhan buat bagiku? 
----------------------------------------
Kepada semua saudara pembaca renungan ini, saya mengucapkan selamat NATAL. Semoga Kristus menjadi hikmat bagi kita semua.


Jumat, 21 Desember 2018

Renungan Harian GML : PERJALANAN IMAN DAN CINTA

Jumat, 21 Des 2018, St. Petrus Kanisius

BACAAN
Kid 2:8-14– “Lihatlah, kekasihku datang, melompat-lompat di perbukitan”
Luk 1:39-45– “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

RENUNGAN
1.Maria merupakan model Advent; contoh bagaimana kita menyiapkan kedatangan Kristus. Allah Bapa telah menyiapkan Maria sedari awal ia dikandung untuk layak menjadi ibu Anak Allah. Seperti para gadis beriman Israel pada waktu itu, ia berdoa sepanjang masa mudanya untuk menyiapkan kedatangan Mesias. Ketika ia seorang perawan, doanya terjawab. Mesias tidak hanya menjadi anaknya, tetapi anaknya itu adalah Allah. Kesanggupan Maria terhadap malaikat Gabriel, merupakan persiapan kelahiran Yesus Mesias. Kita perlu memiliki sikap Maria ini agar Yesus Mesias hadir di dalam hati dan hidup kita, sehingga perayaan Natal memiliki buah berlimpah sebagaimana Natal pertama di Betlehem.

2.Setelah malaikat Gabriel selesai menyampaikan pesan Allah, Maria segera pergi menuju ke rumah Elisabet, saudaranya, yang mengandung untuk pertama kalinya, walaupun Gabriel tidak memerintahkan untuk pergi kepada Elisabet. Hanya karena cinta Maria yang begitu besar, yang membuat ia mengunjungi dan membantu Elisabet. Dan ia tidak takut bahaya dalam perjalanan. Bagi Maria, seseorang yang mencintai akan melakukan apa saja demi membantu orang lain, apa pun resiko yang harus ditanggung.

3.Dengan pergi menolong Elisabet, Maria, yang mengandung Yesus kecil dalam rahimnya, menjadi seorang misionaris  pertama, pembawa Kabar Gembira yang akan mengubah seluruh sejarah manusia. Maria membawa sukacita kepada Elisabet dan Yohanes Pembaptis yang masih dalam kandungan karena Maria membawa Kristus dalam rahimnya. Saking sukacitanya, Maria mampu mengidungkan Kidung Magnificat dengan hati meluap. Sukacita Natal hanya bisa kita sampaikan kepada orang lain, jika kita membawa Kristus kepada mereka. Kristus haruslah menjadi kado terbesar bagi orang lain yang kita cintai. Membawa Kristus kepada mereka, berarti kita membawa segala sesuatu.

Kamis, 20 Desember 2018

Renungan Harian GML : YES

Kamis, 20 Des  2018

BACAAN
Yes 7:10-14– “Seorang perempuan muda akan mengandung”
Luk 1:26-38– “Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki”

RENUNGAN
1.Dalam pemberitahuan Kabar Sukacita ini, kita melihat catatan yang sangat rinci. Hal tersebut terjadi pada tempat tertentu dan orang tertentu. Begitulah rencana Tuhan. Tuhan juga memanggil masing-masing dari kita secara pribadi, karena Tuhan mengasihi kita sebagai anak-Nya. Apakah kita menanggapi panggilan ini secara pribadi seperti Tuhan memanggil kita?

2.Umat Allah, termasuk Maria, menanti cukup lama seorang Mesias. Namun Maria tidak membayangkan bahwa akan menjadi ibu Penebus. Kita sering penasaran, kapan Tuhan akan mengirim seseorang untuk menyelamatkan dunia sekarang ini? Sekarang ini dan di sini, melalui masing-masing dari kita. Dengan rahmat Tuhan, kita bisa membantu menyelamatkan dunia sesuai dengan panggilan dan rahmat yang diberikan Tuhan.

3.Menanggapi panggilan Tuhan, Maria hanya bisa menjawab ya – terjadilah padaku menurut perkataanmu itu. Dengan keterbukaannya terhadap  rencana Allah, akan membantu mengubah perjalanan sejarah manusia. Kita juga dipanggil untuk menjawab “yes” terhadap Allah untuk membangun budaya cinta. Masing-masing generasi memiliki sumbangannya untuk membangun Kerajaan Allah. Apakah masing-masing dari kita siap menjadi rasul Allah untuk zaman ini?



Rabu, 19 Desember 2018

Renungan Harian GML : ZAKARIA YANG RAGU

Rebo Pon, 19 Des 2018

BACAAN
Hakim-hakim 13:2-7.24-25a– “Kelahiran Simson diberitahukan oleh malaikat”
Luk 1:5-25– “Kelahiran Yohanes Pembaptis diberitahukan oleh Gabriel”

RENUNGAN
1. Di dalam tempat kudus, ketika Zakaria mendapat giliran membakar ukupan, seorang malaikat Tuhan menampakkan diri. Zakaria dipersiapkan untuk menerima pesan Tuhan, namun ia ragu dan tidak percaya. Walaupun ia “hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” namun ia tidak bisa menterjemahkan ketetapan Tuhan ke dalam iman yang hidup ketika ia menghadapi situasi yang krusial. Kita semangat berdoa, tetapi skeptis ketika Allah minta sesuatu yang khusus dari kita.

2. Zakaria berpikir bahwa usianya akan menghalangi rencana Allah. Ia meremehkan kekuatan dan kuasa Allah. Dalam Kitab Suci, Tuhan memanggil orang-orang yang tidak mungkin: Musa yang gagap berbicara (Kel 4:10), Yeremia yang merasa terlalu muda (Yer 1:6), Petrus yang tidak berpendidikan (Kis 4:13), Saulus membenci orang-orang Kristen (Kis 9:1). Walau pun mereka merasa tidak mungkin menjadi nabi atau rasul, namun mereka membiarkan Allah menggunakan mereka. Kita pun seperti Zakaria. Bila Allah ingin memakai kita, kita terlalu banyak alasan: terlalu sibuk, terlalu tua, terlalu muda, merasa tidak layak. Kapan kita menyediakan diri untuk Tuhan?

3. Tuhan tetap jalan dengan rencana-Nya, walau pun Zakaria kurang beriman. Allah membangkitkan seorang bentara bagi kedatangan Putera-Nya, yaitu Yohanes Pembaptis. Dan Tuhan membuat Zakaria tidak bisa berbicara. Kita tidak perlu heran ketika Tuhan merancang hidup kita dengan cara yang luar biasa, bahkan ketika kita melawan Allah. Siapkah kita dipakai Tuhan?

Selasa, 18 Desember 2018

Renungan Harian GML : ARTI HIDUP KITA YANG LEBIH DALAM

Senin, 17 Des 2018

BACAAN
Kej 49:2.8-10– “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda”
Mat 1:1-17 – “Silsilah Yesus Kristus, anak Daud”

RENUNGAN
1.Banyak orang mencoba melacak silsilah keluarga mereka untuk menentukan keaslian mereka. Pelacakan ini kadangkala mudah ketika keluarga mereka tinggal dalam satu kota atau satu negara. Membangun kembali pohon keluarga  merupakan suatu usaha untuk memperdalam pemahaman siapa mereka sebenarnya. Yesus tidak perlu atas studi terhadap silsilah-Nya. Tetapi satu hal yang terpenting adalah bahwa Ia datang dari Bapa dan taat terhadap kehendak Bapa. Kita juga datang dari Bapa yang menciptakan kita. Kita juga mempunyai sebuah missi untuk memenuhi bumi ini. Tetapi inilah yang memberi arti terhadap keseluruhan eksistensi kita, yaitu asal usul kita bersumber dari kasih Allah Bapa.

2.Dari silsilah Yesus ini, kita diajak kembali kepada  Abraham, bapak kita dalam iman. Allah telah menjanjikan kepada Abraham bahwa Ia akan menjadikan dia “bapa sejumlah besar bangsa” (Kej 17:4). Hal ini mau menunjukkan bahwa Allah selalu setia terhadap janji-janji-Nya. Yesus Mesias, anak Daud dan anak Abraham, merupakan pemenuhan segala sesuatu yang Allah telah janjikan. Maka rasul Petrus menyatakan, “keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12). Apakah kita telah menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, gembira maupun derita?

3.Manusia diciptakan untuk suatu kemegahan dan kejayaan. Ia diciptakan menurut gambar Allah. Dalam silsilah tadi, Allah tidak membuat manusia berakhir dalam sebuah tragedi. Maka Allah mengirim Anak-Nya ke dunia ini untuk membantu manusia agar memperoleh kembali kejayaannya, dengan cara mengangkat manusia menjadi anak-anak Allah. Sejarah manusia bukanlah jalan menuju ketiadaan, melainkan memiliki tujuan khusus, yaitu berada di surga bersama Allah. Maka tidak cukup hanya kagum bahwa kita berasal dari kasih Allah Bapa dan penyelamatan kita dalam Yesus. Kita dituntut bekerjasama dengan Roh Kudus dalam menyampaikan rencana Allah, yang harus kita mulai di dalam keluarga kita masing-masing, di tempat kerja kita, dan dalam masyarakat di mana kita hidup.

Sabtu, 15 Desember 2018

Renungan Harian GML : JALAN KETAATAN

Sabtu, 15 Des 2018

BACAAN
Sirakh 48:1-4.9-11– “Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu”
Mat 17:10-13– “Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia”

RENUNGAN
1.Orang-orang Yahudi mengharapkan kembalinya Elia yang akan menyiapkan jalan bagi Mesias terjanji. Tetapi mereka mengharapkan dia datang sebagai sosok maha agung, seseorang yang akan menyingkirkan penjajah. Namun mereka gagal mengenali Elia dalam diri Yohanes Pembaptis, yang penuh Roh Kudus, yang mengundang semua orang untuk bertobat agar bisa menerima Kristus, Mesias. Kita juga banyak kali gagal mengenali kehadiran Kristus dalam hidup kita karena kita mencari sesuatu yang lain yang tidak dijanjikan Kristus bagi para pengikut-Nya. Kristus tidak pernah menawarkan jalan yang mudah dan penuh penghiburan.

2.Mengapa Kristus lahir sebagai  bayi lemah di Betlehem? Karena, dengan cara itu, Ia dapat menderita bagi kita untuk menyelamatkan kita. Apa artinya? Hal itu menunjukkan bahwa penderitaan adalah sebuah rahmat yang datang dari Allah. Itulah wujud perhatian Allah yang ingin membentuk kita menjadi serupa dengan Putera-Nya. Salib adalah sumber kesuksesan kita dan  bagi tiap orang yang percaya.

3.Keinginan Kristus untuk memeluk penderitaan muncul dari ketaatan penuh cinta kepada rencana Bapa-Nya, tanpa batas dan tanpa syarat. Ketaatan penuh cinta inilah yang memberi nilai penebusan. Sejak saat kelahiran-Nya di Betlehem, Kristus menunjukkan kepada kita apa arti taat dengan penuh cinta. Betlehem merupakan sekolah ketaatan. Di Betlehem, Kristus mengajar kita bahwa hanya ketaatan yang penuh cintalah yang membebaskan, menyelamatkan, dan memperkaya  kehidupan. Hanya ketaatan seperti itulah yang menyelamatkan, membebaskan kita dari dosa dan menyenangkan hati Allah. Marilah kita berani memeluk ketaatan salib dalam kehidupan setiap hari, dalam pencobaan, dalam kesulitan hidup kita. Ketaatan yang penuh cinta adalah jalan menuju kesucian, jalan menuju rumah Bapa.

Jumat, 14 Desember 2018

Renungan Harian GML : Tetap Berbuat Baik

Jumat, 14 Des 2018, St. Yohanes dari Salib


BACAAN
Yes 48:17-19 – “Ah, sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku”
Mat 11:16-19 – “Mereka tidak mendengarkan Yohanes Pembaptis maupun Anak Manusia”

RENUNGAN
1. Tidak ada seorang pemimpin, baik itu pemerintahan, perusahaan, atau Gereja *yang suka dikritik*. Hal yang sama terjadi pada jamannya Yesus. Yohanes Pembaptis dibenci, dipojokkan dan dianggap “kerasukan setan,” karena telah mengkritik para pejabat negara dan keagamaan. Yohanes dipenggal kepalanya. Yesus juga dikritik dan dicap sebagai “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”

2.Sangat banyak orang, dari dulu sampai sekarang, terlalu mudah mengadili Yesus. Kita pun juga sering terlalu mudah mengadili orang lain hanya karena hal-hal yang nampak kasat mata dan sangat sepele. Kita suka mengkritik orang lain, tapi kalau dikritik atau dicela, menjadi sangat tersinggung dan marah. *Di mana hati kita sebagai orang beriman?

3.Walaupun dikritik, diancam untuk dibunuh, Yesus tetap berbuat baik. Apakah kita juga seperti Tuhan, tetap melayani dan berbuat baik walau sering dikritik, tidak dihargai dan diremehkan? Tindakan baik akan selalu menjadi kesaksian bahwa kita adalah murid-murid Tuhan. Ketika kita, dengan penuh percaya, mengikuti “seruling dan kidung duka” yang dimainkan Tuhan bagi kita, kita boleh yakin bahwa Tuhan sedang memberkati kita.

Kamis, 13 Desember 2018

Renungan Harian GML : Merindukan Sorga

Kamis, 13 Des 2018, St. Lusia

BACAAN
Yes 41:13-20 – “Yang menebus engkau ialah Yang Mahakuasa, Allah Israel”
Mat 11:11-15 – “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis”

RENUNGAN
1.Tuhan Yesus memberi pujian paling tinggi kepada Yohanes Pembaptis: “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Dibandingkan dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama, Yohanes yang paling besar, “namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.”

2.Seberapa besar kita merindukan Sorga? Kita merindukan Sorga, tetapi ketika hari ini Tuhan memanggil kita pulang, kita pasti menjawab: “Jangan dulu, Tuhan, tugasku belum selesai.” Aneh, kita selalu berdoa “terjadilah kehendak-Mu,” tetapi ketika Tuhan memanggil ke Sorga, kita tidak siap bahkan bergulat dan melawan. Kalau kita berani berdoa “terjadilah kehendak-Mu” harus berani pula untuk dipanggil pulang hari ini juga 😆

3.Merindukan Sorga itu perlu, karena tidak mudah untuk sampai ke sana. Tuhan mengatakan “Kerajaan Sorga diserong.” Artinya Kerajaan Sorga sedang dibelokkan, ditumbangkan, dihancurkan oleh egoism dan keserakahan manusia. Maka agar sampai ke Sorga, kita perlu napak tilas Yohanes Pembaptis, dengan mematikan kecenderungan-kecenderungan duniawi yang menyesatkan, melepaskan “bagian kehidupan- ku” yang gelap, dan berani rendah hati: mencintai daripada dicintai.

4.Kerajaan Sorga bukan merupakan ajaran, melainkan cara hidup baru dalam Allah.

Rabu, 12 Desember 2018

Renungan Harian GML : DATANGLAH KEPADA-KU

Rabu, 12 Des 2018

BACAAN
Yes 40:25-31 – “Tuhan yang mahakuasa memberi kekuatan kepada yang lelah”

Mat 11:28-30 – “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”

RENUNGAN
1.”Datanglah kepada-Ku, …” Dengan kata-kata tersebut, Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh kepada-Nya. Percaya berarti meneladani cara dan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life bagi kehidupan kita.

2.”Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Kuk Yesus adalah cinta kasih terhadap sesama, lemah lembut, rendah hati, jujur, dan bertanggungjawab terhadap Allah dan sesama. Memiliki cara hidup yang demikian akan membawa kepada kebebasan, kelegaan, kebahagiaan dan sukacita.

3.Apa beban-beban kita? Ingin menguasai apa saja dan siapa saja untuk diri sendiri. Untuk mencapai hal tersebut, tidak jarang kita membenci, tidak mau mengampuni, marah, serakah, korupsi, teror, fitnah, membunuh. Banyak dari antara kita yang tidak mau melepas beban-beban tersebut, sehingga kita terbelenggu olehnya.

4.”Datanglah kepada-Ku … “ berarti melepas belenggu yang mencekik kita dan mengubah pola hidup kita dan menggantinya dengan pola hidup Yesus; Yesus sebagai Way of Life. Ketika kita berbeban berat, sebenarnya, Yesus berada di samping kita, menunggu supaya kita menoleh dan datang kepada-Nya. Hanya dibutuhkan sikap rendah hati dan berani mengatakan: “Yesus, aku tidak mampu melakukannya. Beban hidupku terlalu berat. Tolonglah aku!” Yesus menjawab: “Datanglah kepada-Ku!” (MS,berkat.id)





Selasa, 11 Desember 2018

Renungan Harian GML : BAGAIMANA PENDAPATMU?

Selasa, 11 Des 2018

BACAAN
Yes 40:1-11 – “Allah menghibur umat-Nya”
Mat 18:12-14 – “Bapamu tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang”

RENUNGAN
1.Dari perumpamaan ini, Allah Bapa tidak ingin ada seorang yang lemah, miskin, terlantar tersesat dan hilang tanpa mendapat perhatian dari pihak Gereja. Mereka harus menjadi prioritas dan pusat perhatian Gereja, tidak boleh dibiarkan tersesat. “Bagaimana pendapatmu?” (Mat 18:12).

2.Mereka yang miskin, terlantar, lemah, tidak berdaya biasanya mudah tersesat karena situasi dan keadaan mereka. Orang-orang beriman pada jaman sekarang juga mudah tersesat, karena tidak lagi memperhatikan hidup rohani, kurang/tidak berdoa lagi, dan  malas ke gereja. Ke gereja Natal dan Paskah dirasa sudah cukup menandai sebagai orang Kristen. Mereka semua, dari hati yang terdalam, sebenarnya berteriak: “Para gembala, apakah engkau mendengarkan jeritanku?” Mereka haus perhatian dari para gembala. Masih adakah para gembala Gereja yang tergerak hatinya untuk mencari dan menemukan mereka serta membimbing kembali masuk kawanan domba? “Bagaimana pendapatmu?”* (Mat 18:12).

3.Dengan pertanyaan “Bagaimana pendapatmu,”  Tuhan mengajak kita berpikir dan bertindak untuk satu domba, dan banyak domba, yang tersesat dan hilang. Tuhan begitu terketuk hati-Nya ketika ada seorang yang tersesat dan Ia mencarinya sampai ketemu. Manusia menjadi pusat perhatian Allah. Ia menghendaki agar setiap orang beriman tetap berada dalam satu kawanan domba. Setiap pendosa dicari-Nya dan akan bersukacita bila ia berhasil ditemukan kembali. Saat ini Tuhan menghendaki  kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. “Bagaimana pendapatmu?”

Senin, 10 Desember 2018

Renungan Harian GML : IMAN MENGGERAKKAN TUHAN UNTUK BERTINDAK

Senen Wage, 10 Des 2018

BACAAN
Yes 35:1-10 – “Allah sendiri datang menyelamatkan kamu”
Luk 5:17-26 – “Hari ini kita telah menyaksikan hal-hal yang sangat menakjubkan”

RENUNGAN
1.Orang-orang Parisi duduk di depan Yesus menyaksikan Dia menyembuhkan orang sakit. Sebelumnya mereka telah menyaksikan banyak mukjijat, tetapi tidak membuat mereka percaya pada Yesus. Mukjizat yang mereka saksikan tidak dapat mengubah pikiran dan hati mereka. Maka Yesus memutuskan untuk menunjukkan kepada mereka mukjizat yang paling menentukan dengan harapan mereka percaya. Ia menyembuhkan seorang yang lumpuh untuk menunjukkan kekuasaan-Nya mengampuni dosa-dosa. Bagi orang-orang Parisi, penyakit menandakan bahwa orang tersebut dihukum oleh Allah karena dosa-dosanya. Yesus mengajarkan kebalikannya. Yesus berkata, “dosamu sudah diampuni.” Dengan kata lain, Allah tidak menolak orang yang berdosa.

2.Orang lumpuh tadi tidak memerlukan tanda. Ia hanya percaya bhwa Yesus mampu menyembuhkan dirinya. Imannya begitu kuat, sehingga ia tidak takut mengatasi segala kesulitan. Ia tidak dapat berjalan, maka ia minta orang lain untuk membawanya kepada Yesus. Ketika ia sampai di depan rumah, ia tidak dapat menjangkau Yesus, sehingga orang-orangnya membawanya kepada Yesus melewati atap. Orang lumpuh itu tahu betul, apa yang dapat dibuat Yesus. Imannya begitu kuat, sehingga menggerakkan Yesus untuk bertindak. Orang itu memiliki iman yang hidup, iman yang mampu menggerakkan hatinya untuk menemukan Tuhan, walaupun sangat banyak kesulitan.

3.Dengan mukjizat tersebut, Yesus tidak mencari kemuliaan untuk diri-Nya sendiri, melainkan hanya demi kemuliaan Allah Bapa-Nya. Betapa sering kita mengutamakan kemuliaan kita sendiri ketika kerasulan atau tindakan amal kita berhasil, dan betapa sering kita berharap orang lain selalu mengingat kita dan berkata “Terima kasih.” Bila demikian bukan kemuliaan Allah yang kita cari, melainkan kemuliaan kita sendiri. Pantaskah kita mendapatkan berkat dengan bertindak seperti itu?

Minggu, 09 Desember 2018

Renungan Harian GML : PERSIAPKANLAH JALAN BAGI TUHAN


Saudari-sudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Adven II tahun C.  Minggu ini kita dipertemukan dengan satu tokoh penting di sekitar kedatangan Sang Juruselamat, Yohanes Pembaptis. Disebut Yohanes Pembaptis karena ia menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun dan datang ke seluruh daerah Yordan memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa. Bahkan nantinya Yesus pun meminta untuk dibaptis olehnya di sungai Yordan. Intinya Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Nabi Barukh dalam bacaan pertama mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercatat menjelang hari Kristus”. Yohanes Pembaptis dalam Injil Lukas berseru : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven.

Adven, kata dari bahasa latin “adventus” artinya “kedatangan” bermakna mempersiapkan kedatangan Juruselamat yang dirayakan pada hari Natal dan mempersiapkan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman. Kedatangan-Nya adalah kepastian. Damai sejahtera adalah janji yang penuh harapan. Untuk kedatangan-Nya ada syaratnya. Nabi Barukh menyatakan “Damai Sejahtera-Hasil Kebenaran” dan “Kemuliaan-Hasil Takwa”. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “Demikian kamu dapat memilih apa yang baik, agar kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.” Yohanes dalam bacaan Injil menyebut: “baptisan tobat untuk pengampunan dosa”. Tiga hal penting disebutkan oleh Yohanes untuk mempersiapkan jalan Tuhan: baptisan, tobat, dan pengampunan dosa.

“Baptis adalah suatu tanda panggilan yang kita terima untuk memasuki suatu hidup bersama dengan Yesus. Baptis adalah pembersihan diri dari segala cacat hidup. Namun baptis bukanlah suatu tanda/sarana yang bekerja secara otomatis, ataupun seakan-akan semua akan berjalan dengan sendirinya. Secara simbolis, niat dan tekad baik seseorang yang mau berdamai dengan Allah itu, dahulu dibuktikan dengan menerjunkan diri ke dalam sungai Yordan, agar segala kekotoran dirinya terhapuskan. Bagi kita sekarang ini pembaptisan itu terlaksana dalam menuangkan air di kepala/dahi kita. Sebab kepala kita adalah sumber kebaikan, tetapi juga sumber kejahatan kita. Pertobatan dan pengakuan dosa merupakan syarat pengampunan. Pertobatan merupakan suatu perubahan keadaan hati/batin yang buruk. Bukan sekadar untuk sementara, melaikan harus mempengaruhi corak dan arah hidup dan perbuatan kita selanjutnya. Itulah yang disebut perubahan total: suatu metanoia. Bukan sekadar penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, melainkan suatu perubahan mendasar dan radikal seluruh hati nurani kita! Bukan hanya berarti tidak berbuat jahat, melainkan lebih positif, yaitu berupa berbuat baik. Metanoia atau perubahan total inilah yang dapat mendatangkan pengampunan yang sebenarnya. Pengampunan hanya diberikan Tuhan di mana ada pertobatan. Dengan demikian pengampunan dari segala dosa berarti pembebasan diri dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi, pendamaian kembali dengan Allah, tetapi juga sekaligus pendamaian dengan sesama kita. Dengan demikian pertobatan dan pengampunan merupakan suatu penyembuhan dan pemulihan kembali hidup kita sehingga dapat menjadi tenang dan penuh damai” (.kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm).

Nasehat Yohanes Pembaptis kiranya bukan hanya berlaku bagi orang-orang sezamannya. Kitapun di zaman ini, untuk mendapatkan damai sejahtera perlu menegakkan kebenaran: yang bengkak-bengkok jalannya perlu diluruskan, yang terlalu rendah perlu ditimbun dan yang terlalu tinggi diratakan. Yang tersesat bengkak-bengkok hatinya demi mencari keselamatan diri perlu kembali ke jalan lurus. Yang membiarkan hati ternoda oleh perbuatan merendahkan martabat diri maupun sesama perlu kembali menyadari diri sebagai gambar Allah. Yang tinggi hati dan sombong akan kesanggupan kemampuan diri sendiri atau sebaliknya kecenderungan menghina ataupun mencari-cari kesalahan orang lain demi kedudukan atupun posisi perlu lebih rendah hati. Masa adven menjadi masa penantian penuh kegembiraan dengan mengedepankan pertobatan, yakni memperbanyak berbuat kebaikan dalam ketakwan kepada Allah dan kasih kepada sesama. Salam Pancasila. Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Yohanes Purwanta MSC).

Sabtu, 08 Desember 2018

Renungan Harian GML : JALAN BUNDA MARIA ADALAH JALANKU

Sabtu, 8 Des 2018, SP Maria Dikandung Tanpa Dosa


BACAAN
Kej 3:9-15.20 – “Aku akan mengadakan permusuhana antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya”
Luk 1:26-38– “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja semesta merayakan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Dikandung Tanpa Noda Dosa mengingatkan kita akan kebenaran yang paling hakiki tentang iman Katolik dan kehidupan manusia, yaitu bahwa  kita membutuhkan seorang Penebus.

2.Bacaan pertama mengingatkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa, karena berontak melawan Allah. Dosa Adam berimbas kepada semua manusia dan dunia, sehingga  penderitaan, ketidak adilan, kesengsaraan di dunia ini disebabkan oleh dosa. Akibat dosa, manusia terputus dari Allah; ia bagaikan layang-layang putus terbawa angin. Untuk dapat tersambung lagi dengan Allah, manusia membutuhkan seseorang yang menangkapnya; manusia membutuhkan seorang Penyelamat. Tidak mungkin kita melakukannya sendiri bila tanpa Sang Penyelamat.

3.Gereja Katolik mengakui Maria sebagai manusia yang sejak semula dipilih oleh Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, karena itu Maria dibebaskan dari dosa asal. Maria adalah satu-satunya manusia yang dilahirkan tanpa noda dosa.

4.Pengakuan Bunda Maria sebagai Terkandung Tanpa Noda Dosa juga merupakan pengakuan terhadap kita, bahwa kita juga akan dimuliakan oleh Allah bila kita memiliki kualitas hidup seperti Bunda Maria: berani berserah diri dan melaksanakan kehendak  Allah dengan berkata, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu"

Jumat, 07 Desember 2018

Renungan Harian GML : IMAN YANG MENYEMBUHKAN

Jumat, 7 Des 2018, St. Ambrosius


BACAAN
Yes 29:17-24 – “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar …, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan”
Mat 9:27-31 – “Terjadilah padamu menurut imanmu”

RENUNGAN
1.Orang buta itu mencari Tuhan dengan sikap rendah hati dan dengan penyesalan yang mendalam atas dosa-dosanya. Mereka mendekati Yesus karena katerbatasan dan kelemahan mereka. Jika mereka sehat, pasti mereka tidak akan mendekati Yesus, tidak pernah menyesali dosa-dosa mereka dengan berseru, “kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Kita yang tidak cacat secara phisik, namun punya banyak kelemahan dan dosa, sudah selayaknya menyadari diri seperti orang buta tadi; berteriak lantang dengan penuh penyesalan dan tobat.

2.Mereka buta phisik namun bertekun dan berusaha keras untuk bisa bertemu Yesus. Mereka memiliki iman yang kuat: “Ya Tuhan, kami percaya.” Mereka percaya bahwa Yesus mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Mereka dilarang bicara, namun mereka tetap menyebarkan sukacita yang mereka alami karena kemurahan Tuhan. Bukannya tidak taat, mereka hanya ingin menyampaikan ungkapan rasa syukur yang meluap. Sukacita dalam Tuhan tidak bisa ditutup-tutupi, apalagi hanya untuk dirinya sendiri.

3. Kita disebut buta, ketika kita tidak memiliki rasa terhadap kehadiran Tuhan, tidak memiliki rasa terhadap dosa, tidak peduli terhadap orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan. Hal ini disebut buta hati, jauh lebih parah daripada buta mata.

Kamis, 06 Desember 2018

Renungan Haroan GML : KRISTUS PONDAMEN HIDUP KITA

Kamis, 6 Des 2018,

BACAAN
Yes 26:1-6 – “Bangsa yang benar dan tetap setia biarkanlah masuk”
Mat 7:21.24-27 – “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga"

RENUNGAN
1.Sangat mudah berseru kepada Yesus  “Tuhan, Tuhan.” Dari kacamata iman, kita tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah.  Namun demikian, pengakuan kita atas Yesus sebagai Tuhan tidaklah cukup. Pengakuan kita bahwa Yesus adalah Sang Penebus tidak akan menjamin kita masuk surga. Iman kepada Kristus tidak cukup di bibir saja; iman harus menerobos masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Dengan demikian iman berarti melakukan kehendak Allah Bapa dengan pikiran, perkataan dan tindakan.

2.Kristus menasihati para murid-Nya untuk membangun iman  mereka di atas pondamen batu karang. Untuk menggali pondamen yang kokoh kuat tentu amat sukar. Hal itu membutuhkan keteguhan dan kesetiaan, doa, belas kasih, kemurahan hati, kerendahan hati dan intensi murni. Dalam kehidupan rohani, menggali sebuah pondamen memaksa kita untuk masuk ke dalam, menyingkirkan dosa dan kesalahan kita yang paling buruk. Proses ini tidaklah enak, bahkan menyakitkan. Hal ini mau tidak mau memaksa kita menghadapi sifat-siat buruk kita dan menyingkirkan topeng-topeng kita. Tanpa langkah-langkah seperti ini, hidup kita hanyalah kita bangun di atas pasir. Mampukah kita menggali pondamen itu sendirian?

3.Pondamen nampak kuat ketika semuanya tampak tenang. Ujian sesungguhnya ketika cuaca buruk. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani. Ketika aman dan damai, maka semuanya berjalan baik. Tetapi ketika krisis menimpa: penolakan, sakit, kegagalan, dari situlah kita belajar bagaimana iman kita kokoh. Petrus, dengan sombong mengatakan: “Biar pun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33), tetapi ketika krisis menimpa, ia meninggalkan Kristus Tuhan sendirian di taman Getsemane. Bagaimana pengalamanku ketika menghadapi krisis?

Selasa, 04 Desember 2018

Renungan Harian GML : JALAN TUHAN

Selasa, 4 Des 2018


BACAAN
Yes 11:1-10– “Roh Tuhan akan ada padanya”
Luk 10:21-24 –“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”

RENUNGAN
1.Kita begitu rindu untuk mengenal Allah dan cinta-Nya yang tanpa batas, tetapi pengetahuan kita yang sangat terbatas begitu sulit memahami-Nya. Dengan studi sampai botak pun, apa yang kita pelajari tentang Allah tidak berarti apa-apa. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah tidak datang dari buku-buku. Pengetahuan yang benar tentang Kristus dan Allah dinyatakan kepada mereka yang belajar untuk mengheningkan jiwanya di dalam doa. Hanya ketika kita berserah diri kepada pengampunan Allah, pasrah sumarah, barulah kita mengenal Allah.

2.Kristus mengutus kita untuk suatu tugas tertentu, namun kita sering merasa tidak layak. Pikiran kita langsung tertuju kepada banyak orang pandai, bijak dan terdidik yang akan mampu mengerjakan tugas tersebut. Kristus tidak pernah mencari orang yang cerdik pandai, lulusan dengan predikat summa cum laude, tetapi memilih jiwa yang memiliki semangat seorang anak kecil, terbuka terhadap rencana Allah dan siap melaksanakannya. Kuncinya adalah jiwa yang sederhana dan rendah hati.

3.”Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya …" Walaupun mereka tidak melihat pemenuhan janji Allah, namun mereka selalu setia, konsisten dan dedicated dalam tugas perutusan. Mereka   berperan aktif dalam memimpin dan membimbing umat pada zamannya. Tuhan minta kepada kita untuk memiliki sikap dan semangat para nabi, dengan terus menanamkan benih-benih keselamatan yang nampaknya tidak menghasilkan buah, bahkan dalam jangka panjang. Seperti para nabi, kita tidak selalu diberi rahmat untuk melihat hasil dari apa yang kita tanam.

Minggu, 02 Desember 2018

Renungan Harian GML : HIDUP DALAM PENGHARAPAN

Minggu, 2 Des 2018, ADVEN I

BACAAN
Yer 33:14-16– _“Sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda”_
1Tes 3:12-4:2 – _“Semoga Ia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus di hadapan  Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita”_
Luk 21:25-28.34-36 – “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, … supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”

RENUNGAN
1.Ketika seseorang berjanji mau datang menemui saya, berarti saya memiliki pengharapan dan tidak sendirian. Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Tuhan berjanji kepada kita. Yang dijanjikan bukanlah kekayaan atau kesuksesan atau kehidupan yang bebas dari penderitaan. Ia menjanjikan seorang pribadi yang akan menemani perjalanan hidup kita. _“Sesungguhnya, waktunya akan datang, … bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda … Aku akan menumbuhkan Tunas Keadilan bagi Daud_ …” (Yer 33:14-15).

2.Dan di dalam Injil, kita melihat pemenuhan janji Allah dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah Allah beserta kita. Ia, secara spesial, datang bagi kita. Namun banyak kali kita ini malas dan tertidur, sehingga kehilangan sentuhan akan janji Tuhan tersebut. Kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan hidup sehari-hari, di rumah, di tempat kerja, di jalan yang macet, tetapi kita lupa akan janji Allah. Menjadi seorang Katolik adalah memiliki relasi akrab mendalam dengan Yesus. Tapi bagaimana hal ini bisa terwujud kalau hati kita kumuh, jarang/tidak pernah berdoa, dan menutup diri?

3.Dalam masa Adven ini kita diundang untuk fokus kepada Kristus dengan membuat pembaruan hidup, membarui komitmen yang belum terlaksana. Kita perhatikan korona (lingkaran) Adven di gereja. Bentuknya bulat melambangkan panggilan manusia untuk menjadi utuh, penuh, dan sempurna. Warna hijau adalah simbol akan pengharapan, pertobatan, dan perubahan diri. Selamat merayakan Adven: Nil nisi Christum– tak ada yang lain kecuali Kristus.

Jumat, 30 November 2018

Renungan Harian GML : Tanggapan Tegas

Jumat, 30 Nop 18, St. Andreas, Rasul

BACAAN
Rom 10:9-18 – “Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran dari firman Kristus”
Mat 4:18-22 – “Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan pesta St. Andreas Rasul. Bersamaan dipanggilnya Andreas, dipanggil pula Simon (Petrus), Yakobus, dan Yohanes. Mereka dijadikan penjala manusia. Seperti mereka, masing-masing dari kita pasti memiliki sejarah panggilan sebagai orang beriman.

2.Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjadi murid-Nya, dan Tuhan menghendaki tanggapan kita. Tanggapan yang dikehendaki Tuhan adalah cinta. Cinta kepada Allah merupakan pilihan dari semua pilihan, sekaligus sebagai prioritas. Jika kita mencintai Tuhan  melebihi diri kita, kita dapat mengikuti Dia. Jika kita lebih memilih Dia di atas aktifitas dan kehidupan kita, kita dapat mengikuti Dia. Jawaban cinta seperti apa yang layak kita berikan kepada Tuhan?

3. Tuhan menghendaki kita untuk memilih. Setiap pilihan untuk Tuhan, harus menyingkirkan pilihan-pilihan lain. Kita tidak dapat mengikuti seseorang tanpa meniggalkan sesuatu dan seseorang yang lain. Simon dan Andreas meninggalkan jala mereka, Yakobus dan Yohanes meninggalkan perahu dan orang tua mereka. Kita selalu berusaha mengikuti Kristus tetapi tanpa mau meninggalkan sesuatu dan yang lain: dunia, kesenangan-kesenangan, dan pilihan-pilihan yang menyesatkan. Dengan cara ini, iman kita dalam bahaya. Kalau kita memilih Kristus, maka harus berani menyingkirkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Dia. Beranikah aku?

Kamis, 29 November 2018

Renungan Harian GML : SAAT YANG MENAKUTKAN

Kamis, 29 Nop 2018

BACAAN
Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9– “Kota raja Babilon jatuh”
Luk 21:20-28 – “Yerusalem akan dinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah”

RENUNGAN
1.Bagi orang Yahudi, Yerusalem adalah Kota Abadi yang tak penah akan hancur. Tetapi tahun 70 Yerusalem benar-benar dihancurkan musuh. Kehancuran Yerusalem merupakan gambaran akhir zaman. Pada zaman kita ini di mana-mana muncul peperangan, terorisme, gempa bumi, banjir, kelaparan yang membuat hidup ini semakin cemas dan susah. Orang-orang saleh dan tidak berdosa pun menderita. Tuhan tidak merencanakan semua penderitaan ini, tetapi Tuhan mengijinkan hal itu terjadi karena Tuhan menghargai kebebasan kita. Bagaimana kita telah menggunakan kebebasan?

2.Kehancuran Yerusalem tidak berarti Tuhan meninggalkan dunia ini. Dengan kehancuran Bait Allah dan Yerusalem, kita memiliki pusat baru penyembahan yaitu Kristus, yang benar-benar hadir di dalam Ekaristi. Pusat perhatian adalah Kristus dalam tabernakel, tetapi hanya sedikit jiwa yang mengerti kebenaran tersebut. Setelah 2000 tahun, Yesus tetap rendah hati, membiarkan diri berada dalam tabernakel. Apakah kenyataan ini berpengaruh terhadap sikap kita ketika berada dalam gereja?

3.Mengikuti Kristus memberi kita jaminan bahwa hidup kita memiliki arti. Semua perjuangan menghidupi Injil akan mendapatkan penghargaan. Pada akhir zaman kita menyesali banyak hal, tetapi kita tidak pernah akan menyesali apa yang telah kita buat bagi Kristus. Apakah kebenaran ini membimbing hidup kita tiap hari?

Rabu, 28 November 2018

Renungan Harian GML : HARGA MAHAL YANG HARUS KITA BAYAR

Rabu, 28 Nop 2018

BACAAN
Why 15:1-4 – “Mereka melagukan nyanyian Musa dan nyanyian Anak Domba”
Luk 21:12-19 – “Karena nama-Ku kamu akan dibenci semua orang. Tetapi tidak sehelai pun rambut kepalamu akan hilang”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang penganiayaan orang-orang beriman. Perlawanan dari dunia merupakan harga yang harus dibayar oleh para pengikut Kristus. Yesus mengingatkan bahwa mereka akan ditangkap, disiksa, dan dibunuh karena nama-Nya. No pain, no gain. Bagi kita, tidak ada alasan untuk takut, tetapi harus bersukacita karena  kita memiliki pengharapan karena iman.

2. Penindasan tidak perlu menjadi hal yang fatal atau alasan untuk putus asa dan mengingkari Kristus, tetapi menjadi saat untuk bersaksi tentang Kabar Gembira. Tuhan menghendaki agar kita menggunakan semua talenta kita untuk membangun dan mewartakan Kerajaan Allah. Kita dituntut untuk percaya sepenuhnya bahwa kemenangan kebaikan terhadap keburukan adalah milik Tuhan.

3.” Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat.”Jika kita berada dekat dengan Kristus dalam doa dan perbuatan, Ia, pelan-pelan, akan mengambil alih hidup kita. Dengan demikian egoisme kita makin menghilang dan hati kita tumbuh; kita mati terhadap diri sendiri. _“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil_” (Yoh 3:30).

4.Dalam situasi sulit tersebut, Kristus satu-satunya pengharapan. _“Tidak sehelai pun dari ramput kepalamu akan hilang.”_ Tuhan juga menguatkan, _“Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”_ (Luk 9:24). 

 

Selasa, 27 November 2018

Renungan Harian GML : MARANATHA – DATANGLAH, TUHAN YESUS

Selasa, 27 Nop 2018

BACAAN
Why 14:14-20 – “Sudah tiba saatnya untuk menuai, sebab tuaian di bumi sudah masak”
Luk 21:5-21– “Tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain”

RENUNGAN
1. Injil hari ini bicara tentang akhir jaman. Bagi orang-orang Yahudi, Bait Allah di Yerusalem merupakan pusat keagamaan dan budaya Yahudi. Di dalam Bait Allah terdapat tempat kudus, di mana tersimpan Tabut Perjanjian. Orang-orang begitu bangga terhadap Bait Allah, tetapi Yesus mengingatkan mereka bahwa saatnya akan tiba dan Bait Allah akan dihancurkan. Namun demikian akhir dari Bait Allah bukanlah akhir dari agama. Yesus  tetap akan menyertai kita, sebagaimana telah Ia buat di dalam Ekaristi. Semuanya akan berakhir, namun Kristus tetap tinggal.

2. Yesus tidak menjawab ketika ditanya kapan Bait Allah akan dihancurkan, tetapi minta kepada para pendengarnya apa yang sungguh-sungguh penting, yaitu iman mereka. Tuhan mengingatkan mereka untuk tidak mendengarkan orang yang salah. Sekarang ini, lewat tv, radio, dan medsos, banyak orang menawarkan “kebahagiaan” dan “keselamatan.” Kita harus mencermati, mengkritisi dan menyaring. Orang yang kita ikuti akan mempengaruhi kualitas hidup kita – dan bahkan kualitas kehidupan kekal kita. “Janganlah kamu mengikuti mereka.”

3. Sekarang sering terjadi serangan teroris, gempa bumi dahsyat, banjir bandang, kecelakaan hebat yang menewaskan banyak orang. Jika kita mengalaminya, dunia seperti kiamat dan hilanglah segala pengharapan. Hari kiamat akan terjadi, tetapi bagi kita bukan merupakan hari yang menakutkan, melainkan sukacita, karena puncak keselamatan disampaikan kepada kita. “Maranatha” – “Datanglah, Tuhan Yesus.”

4. Sikap iman yang harus kita bangun adalah percaya dan setia kepada Kristus dalam situasi apa pun, selalu melakukan perbuatan belas kasih, dan terus menerus mewujudkan pertobatan nyata.



Minggu, 25 November 2018

KING OF GLORY KING OF PEACE





Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam hari Minggu Biasa ke-34. Minggu terakhir dalam lingkaran Tahun Liturgi B, ini juga dirayakan sebagai Hari Raya Kristus Raja Semesta Allah. Perayaan ini memberi kesimpulan pada perayaan sepanjang tahun liturgy dan mempersiapkan untuk masuk ke Tahun Liturgi C yang akan dimulai dengan Hari Pertama Adven pada minggu yang akan datang. Waktunya berjalan begitu cepat dan kita sudah akan masuk ke Tahun yang baru. Perayaan ini mengajak kepada kita sekalan bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai kita sepanjang Tahun yang sudah kita lalui dan akan tetap menyertai kita di Tahun yang akan kita jelang. Pesta ini menjadi populer di dalam Gereja sejak tahun 1925 pada zaman Paus Pius XI. Fokus perayaannya adalah sebagai hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi dan juga untuk menyiapkan umat untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus Raja kita yang akan mengadili orang yang hidup dan mati. Bersama penginjil Yohanes kita diajak untuk menjawab pertanyaan Pilatus: Jadi Engkau adalah raja?” Dan jawabannya adalah ya, Yesus adalah Raja, bukan saja raja orang Yahudi tetapi raja semesta alam: “Utuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran;..” Dalam pemahaman dari Kisah Penciptaan, kita diarahkan untuk mengerti arti dari “raja semesta alam” dan “kebenaran” yang dimaksud oleh Yesus. Pada proses penciptaan, manusia dicipta sebagai yeng terakhir, sesudah semua alam raya diciptakan. Untuk penciptaan manusia itu, Tuhan menghendaki agar diciptakan mereka segambar dengan Dia. Seturut gambar Allah diciptakannya mereka. Kepada manusia itu pun kekuasaan diberikan oleh Tuhan untuk mengelola: ”Baiklah Kita menjadi manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan ….segala binantang yang merayap di bumi.” (Kej 1:26). Sesudah penciptaan manusia itu, pada hari ketujuh Tuhan beristirahat. Kebenaran Sang Raja semesta Alam telah ditetapkan sejak penciptaan itu bahwa manusia menjadi “gambar dan rupa Allah” dan bahwa manusia itu diberi kekuasaan atas isi bumi. Allah beristirahat, tetapi selanjutnya manusia menjadi wakil Allah untuk terus melanjutkan karyanya atas dunia. Yesuslah yang menyatakan kebenaran sempurna sebagai “Gambar Allah” dan “Yang menampakkan karya Allah” itu.   Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini membantu mengarahkan kita kepada figur Yesus sebagai raja semesta alam. Daniel dalam bacaan pertama memiliki visi ini: “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dari langit bersama awan gemawan. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya dan diantar ke hadapanNya. Ia diserahi kekuasaan, kehormatan, dan kuasa sebagai raja.” Visi atau penglihatan Daniel ini menarik perhatian kita karena menggambarkan Anak Manusia, sebuah gelar yang juga di miliki oleh Yesus (Mat 8:20; Mrk 2:10; Luk 5:23: Yoh 3:13). Anak manusia datang dalam kemuliaan dinaungi awan gemawan. Memang awan adalah shekina atau gambaran bahwa Tuhan hadir di sana dengan segala kemuliaanNya. Ia menghadap Dia yang lanjut usia menunjukkan ketaatan sebagai Putera kepada Bapa. Dan karena ketaatanNya itu maka segala kukasaan dan kehormatan serta kuasa sebagai raja dianugerahkan kepadaNya. KerajaanNya pun tidak akan berakhir karena segala bangsa dan kaum tunduk kepadaNya. KekuasaanNya kekal dan kerajaanNya takkan binasa. Bacaan kedua dari Kitab Wahyu, menggambarkan bahwa Kristus sebagai Raja melepaskan umatNya dari belenggu dosa. Kristus adalah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi. Dia menjadikan kita sebagai sebuah Kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah BapaNya. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Memang Dia adalah Alfa dan Omega. Dialah yang awal dan akhir, kekal selamanya. Dalam bacaan Injil Yesus mengakui dirinya secara terang-terangan bahwa Dia adalah Raja. Menjawab pertanyaan Pilatus, “Jadi Engkau adalah raja?” Yesus dengan tegas menjawab, “Engkau mengatakan bahwa Akulah Raja! Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengar suaraKu”. Dalam percaturan dunia yang mengedepankan “pencarian kedudukan” dan “posisi-posisi kekuasaan” perayaan Kristus Raja Semesta Alam menohok kita untuk bertanya diri. Apakah kita tidak termasuk dalam kelompok pejuang-pejuang raja duniawi yang menghalalkan segala cara demi kedudukan dan kehormatan diri? Sudahkah kita mengambil bagian dalam ke-“Raja”-an Kristus: benar-benar menjadi “Gambar Allah” yang menampakkan karya keselamatan-Nya di bumi? Kerajaan Kristus nyata di dalam: perhatian kepada “orang miskin”, kesembuhan kepada “orang sakit”, perdamaian kepada “yang bertikai”, dan harapan kepada “yang putus asa”,  membawa kelegaan bukan “keonaran”, kejujuran dan bukan “hoax’ untuk membenarkan diri, “melayani” dan bukan untuk dilayani. Salam Pancasila: Kita Bhinneka Kita Indonesia. (Rm. Y. Purwanta MSC)

Renungan Harian : Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam



(Yoh 18:33b-37)

Hari Raya ini ditetapkan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925. Beliau menginginkan ada sebuah Pesta untuk memperingati “Kristus Raja Semesta Alam” untuk seluruh Gereja. Ada konteks historis (sejarah) di balik Pesta ini. Pada tahun-tahun itu, Paus dan seluruh dunia masih berduka atas Peristiwa Perang Dunia I yang menghancurkan kehidupan. Setelah perang berakhir, ternyata masih banyak “Raja-Raja yang Eksploitatif” di dunia ini yang masih berkuasa, yaitu Kolonialisme, Konsumerisme, Nasionalisme Sempit, Sekularisme, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Dari konteks inilah, Paus menetapkan Hari Raya ini.

Paus Pius XI ingin menekankan bahwa Raja bagi Orang Kristen adalah Kristus sendiri. “Aku adalah Raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran (Yoh 18:37a).” Ketika melihat situasi dunia yang jauh dari ideal, Kristus hendaklah menjadi panutan – Raja kita satu-satunya. Raja yang jauh dari “gambaran dunia mengenai kuasa”. Raja yang lahir di kandang – jauh dari kecemerlangan dunia. Ia yang mau dan mampu merasakan penderitaan orang lain – penderitaan manusia. Raja yang dihadapkan pada Pilatus. Raja yang nantinya akan disalibkan dan mati. Namun, pada akhirnya Sang Raja bangkit dari mati dan membawa harapan bagi dunia dan alam semesta bahwa segala bentuk “perusakan” baik terhadap manusia dan bumi ini, pada akhirnya akan berakhir. Dan, usaha itu perlu diwujudkan pula oleh kita mulai dari sekarang dengan cara meniru Sang Raja (Kristus itu sendiri) dengan berusaha “menghargai setiap kehidupan dan alam sekitar kita.” Inilah inti dari Pesta kita hari ini. Inilah kebenaran itu - "mencintai setiap bentuk kehidupan dan alam sekitar". “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37b).”

Rm Nikolas K.  SJ

Sabtu, 24 November 2018

Renungan Harian GML : JESUS, I TRUST IN YOU

Setu Pon, 24 Nop 2018


BACAAN
Why 11:4-12 – “Kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang diam di atas bumi”
Luk 20:27-40 – “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”

RENUNGAN
1.Hidup sesudah mati merupakan realitas yang sama sekali berbeda. Kita tidak memiliki kemampuan untuk membayangkannya. Jauh melampaui pikiran kita. Ada yang menganggap bahwa hidup sesudah kematian sama seperti hidup di dunia ini, maka ketika ada yang meninggal, keluarganya yang masih hidup mengirimkan “mobil,” “uang,” “perabotan.” Malah ada yang begitu hakul yakin bahwa setelah kematian, dia akan mendapat seorang bidadari untuk dikawini, dan makan makanan lezat secara gratis.

2.Yesus memberikan pandangan jelas tentang hidup sesudah kematian: _“Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.”_

3.Kita memiliki jaminan kehidupan sesudah mati ketika kita mampu menanggapi cinta Allah. Jika kita hidup dalam cinta kasih, kita tidak perlu cemas tentang apa yang ada “di seberang sana.” Hidup kita sesudah kematian akan ditentukan oleh hidup kita sekarang ini. Pertanyaannya: Apakah aku percaya sepenuhnya (trust) pada Yesus?

Jumat, 23 November 2018

Renungan Harian GML : RUMAH TUHAN ADALAH KUDUS

Jumat, 23 Nop 2018


BACAAN
Why 10:8-11 – “Aku menerima kitab itu dan memakannya”
Luk 19:45-48– “Rumah-Ku telah kamu jadikan sarang penyamun”

RENUNGAN
1.Sesampainya Yesus di Yerusalem, tujuan utamanya adalah memasuki Bait Allah. Disertai para murid-Nya, _“tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah.”_ Namun didapati-Nya, Bait Allah telah menjadi sarang para preman, dan para pedagang telah menguasai semua area Bait Allah. Dengan keadaan ini fungsi ekslusif Bait Allah sebagai tempat penyembahan telah hilang. Maka Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah.

2. Yesus menuntut perubahan total terhadap Bait Allah dengan cara memurnikan Bait Allah dari hal-hal negatip dan mengembalikan fungsi aslinya, yaitu sebagai *tempat menyembah Allah.* Untuk itu pada pedagang harus diusir, seperti dinubuatkan nabi Zakaria, “tidak akan ada lagi pedagang di rumah Tuhan, ketika Hari itu datang” (Zak 14:21). Para imam kepala, ahli Taurat merasa dirugikan oleh tindakan Yesus ini. Maka mereka berusaha keras bagaimana membunuh Yesus.

3.Gereja tempat kita beribadah harus kita anggap sebagai Bait Allah yang kudus. Maka hal yang sangat esensial ketika kita memasuki gereja, terlebih saat misa pada hari Minggu adalah keheningan, penyembahan dan doa. Hal ini sangat penting karena kita menghadap Allah, di mana Dia berada dalam tabernakel sebagai tawanan cinta yang ingin berdialog dengan kita. Bagaimana jadinya kalau kita sendiri telah menjadikan gereja sebagai sarang penyamun, dengan tidak hormat lagi ketika berada dalam gereja, ngobrol, main hp, dan berpakaian yang mendegradasi fungsi gereja menjadi mall?

Kamis, 22 November 2018

Renungan Harian GML : MEMBANGUN HIDUP BERPONDAMEN KRISTUS

Kamis, 22 Nop 2018, St. Sisilia

BACAAN

Wahy 5:1-10 – “Anak Domba telah disembelih dan dengan *darah-Nya telah menebus kita* dari segala bangsa”

Luk 19:41-44 – _“Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu”_


RENUNGAN

1.Hidup ini menjadi indah karena banyak pilihan. Kita diberi kebebasan, dan kita bisa memilih untuk melakukan banyak hal. Kita dapat memilih di mana kita akan bekerja, ke mana kita akan berakhir pekan, siapa teman-teman kita. Tetapi *pilihan yang paling penting adalah apakah kita mencintai dan melayani Allah atau menolak Dia. Memilih Allah dan jalan-jalan-Nya akan memberikan arah dan tujuan kepada kehidupan kita dan memberikan kejelasan ketika kita berada dalam kegelapan dan pencobaan.


2.Tetapi untuk siap di hadapan Tuhan, berada dalam jalan-Nya  dan mengarahkan tujuan hidup kita kepada-Nya, begitu sulit bagi kebanyakan dari kita. Tuhan berkata kepada para murid-Nya: _“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan”_ (Mt 26:41).


3.Kehidupan rohani seperti sebuah benteng. Sebuah benteng memiliki titik-titik kuat namun juga memiliki titik-titik lemah. Kuat karena ia dikelilingi parit, dinding batu yang tinggi, dan menara, tetapi juga memiliki titik lemah karens pintu yang hanya terbuat dari kayu. Masing-masing dari kita memiliki kelemahan.  Sejauh mana kita tahu kelemahan kita? Salah satu kunci untuk mampu mengatasi kelemahan dan dosa adalah mengetahui dan menyadari siapa diri kita. Kesadaran diri akan membuat kita mampu menolak kecenderungan untuk kompromi terhadap situasi dosa. Kita dapat menggunakan titik-titik kuat untuk memerangi musuh dan membetengi area yang paling lemah. Dan senjata yang paling kuat adalah ketergantungan kita pada Allah – yang kita ungkapkan lewat doa dan kesetiaan pada kehendak-Nya.

Senin, 19 November 2018

Renungan Harian GML : IMAN MAMPU MENGUBAH SEGALANYA

Senin, 19 Nop 2018

BACAAN
Why 1:1-4;2:1-5a – “Sadarilah, betapa dalamnya engkau telah jatuh, dan bertobatlah!”
Luk 18:35-43 – “Apa yang kau inginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat”

RENUNGAN
1.Seorang buta duduk di tepi jalan. Ia tidak bisa ikut dalam perarakan mengiringi Yesus. Ia hanya bisa berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Teriakan yang mengganggu dan menjengkelkan banyak orang, sampai mereka harus menegornya. “Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya.” Mereka yang jengkel justru disuruh untuk menolongnya. Makin jengkel. “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Tidak cukup mendengar teriakan, tetapi harus tahu mengapa mereka berteriak. Jawab orang buta itu: “ Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

2. ”Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Ia dapat melihat dan mengikuti Yesus menuju Yerusalem sambil memuji Allah. Berjalan bersama Yesus telah menjadi sumber keberanian untuk menuju kemenangan Salib.

3. Iman merupakan kekuatan yang mengubah manusia. Sabda Tuhan merupakan pupuk yang membuat biji yang tersimpan dalam hati manusia tumbuh, berkembang, dan berbuah. Dan orang beriman tahu bagaimana percaya kepada Yesus, menyangkal diri, dan mengikuti-Nya (Luk 9:23-24), tahu bagaimana menjadi yang terakhir (Luk 22:26), tahu bagaimana meminum piala dan memanggul salibnya (Mat 20:22; Mrk 10:38), tahu bagaimana mengikuti Yesus sepanjang Jalan Salib (Luk 18:43). Bagaimana imanku?

Minggu, 18 November 2018

Renungan Harian GML : SUKACITA MENGHARAPKAN AKHIR ZAMAN

Minggu, 18 Nop 2018, HMB XXXIII

BACAAN

Dan 12:1-3 – “Pada waktu itu bangsamu akan terluput”

Ibr 10:11-14.18 – “Oleh satu kurban saja Kristus telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”

Mrk 13:24-32 – “Ia akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru dunia”


RENUNGAN

1. Kedatangan Anak Manusia, atau sering disebut akhir zaman, akan terjadi. Kapan akan terjadi, kita tidak perlu tahu. Saat ini kita hidup dalam zaman Gereja, saat di mana rahmat penyelamatan kita sebarkan ke seluruh dunia. Pada akhir zaman, Kristus datang untuk membawa umat manusia sampai pada puncaknya. Maka saat Kristus datang, kita tidak usah takut bila kita sudah melaksanakan amanat Kristus. Lain halnya jika kita mengikuti zaman edan dan bumi gonjang-ganjing, bersiaplah untuk gelisah dan takut.


2. Siap siaga dan berjaga-jaga karena kita tidak tahu kapan waktunya tiba. Berjaga-jaga berarti mengikuti cara hidup Yesus dan misi-Nya: bertekun dalam doa, mengasihi, melayani, mengampuni, dan mengandalkan seluruh hidup kita hanya kepada Yesus. Dengan melakukan tugas panggilan secara sungguh-sungguh, seorang murid sedang memenuhi perintah Tuhan untuk berjaga-jaga. Baginya akhir zaman tidak menakutkan.


3. Setiap orang beriman yang terlena, acuh tak acuh, dan tidak tergerak akan kedatangan Tuhan adalah celaka. Bagaimana kesiapanku?

Jumat, 16 November 2018

Renungan Harian GML : PENGADILAN ALLAH: TERGANTUNG RELASI KITA DENGAN KRISTUS

Jumat, 16 Nop 2018

BACAAN

2 Yoh 1:4-9 – “Barangsiapa setia kepada ajaran, dia memiliki Bapa maupun Putera”

Luk 17:26-37 – “Kapan Anak Manusia akan menyatakan diri”


RENUNGAN

1.Pada jamannya Nuh dan Lot, pengadilan Allah turun atas manusia. Bagi kita sekarang ini, secara riil, pengadilan Allah terjadi saat kita meninggal. Orang Katolik meyakini tiga keputusan Allah: Surga, Neraka, atau Api Penyucian. Maka tanggapan kita terhadap kehendak Allah, dari hari ke hari, menentukan ke mana aku akan menuju.


2.Dalam suatu bencana, orang hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mengumpulkan barang-barang yang ia miliki. Mereka yang berusaha mencari barang-barangnya justru akan mendapat celaka. Demikian juga pada Pengadilan Terakhir – dan juga pada saat kematian kita. Pertanyaannya: apakah kita kedapatan siap ketika Tuhan datang? Apa yang paling berharga bagi kita? Apakah kita, dari hari ke hari, berani  menyangkal diri, tidak terbelenggu atau bersikap lepas bebas terhadap barang-barang yang kita miliki? Apakah kita menjadi lebih mencintai, melayani, dan selalu bersama Kristus?


3.”Di mana, Tuhan?” Hal itu terjadi di mana saja kita berada. Apakah itu saat kematian kita atau saat Pengadilan Terakhir, realitasnya sama. Faktor yang sangat menentukan adalah relasi kita dengan Kristus selama kita di dunia ini. Mari kita menjadikan relasi dengan Kristus sebagai prioritas hidup kita melalui doa yang teratur.

Rabu, 14 November 2018

Renungan Harian GML : BERSYUKUR: YANG PALING TINGGI DARI SEMUA DOA

Rabu, 14 Nop 2018

BACAAN
Tit 3:1-7 – “Dahulu kita sesat, tetapi berkat rahmat-Nya, kita diselamatkan”
Luk 17:11-19 – “Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?”

RENUNGAN
1.Orang-orang lepra, waktu itu, selalu diasingkan dan dilarang bergaul dengan masyarakat. Harapan mereka satu-satunya hanyalah Kristus.Kepada-Nya mereka mohon dengan sangat dan mendesak. Mereka berdiri dari kejauhan, mengakui ketidakberdayaan mereka dan memohon belas kasihan. Mereka mendapatkan apa yang mereka minta dan Tuhan menyembuhkan mereka, dan mereka pergi dengan puas.Tetapi hanya satu yang kembali untuk bersyukur. Berarti hanya satu yang diselamatkan.

2. Mengapa syukur kita begitu penting bagi Tuhan? Dengan bersyukur kita kembali kepada Allah dan Allah patut mendapatkannya. Para orang kusta, dalam situasi tidak berdaya, hanya bisa minta. Kalau kita ini jujur, sebenarnya *hidup kita seperti orang kusta di hadapan Tuhan. Kita hanya bisa meminta belas kasihan-Nya*. Bila kita menerimanya dan tidak bersyukur, kita seperti 9 orang kusta yang tidak tahu balas kasih. Tuhan ingin menyelamatkan kita dari sikap tidak tahu bersyukur tersebut dan mengubahnya menjadi anak-anak-Nya yang selalu bersyukur.

3.Bila kita selalu bersyukur, kita menjadi seorang pemberi,  dan Tuhan akan menempatkan kita selevel lebih tinggi, yaitu menjadi orang yang pantas menerima pemberian lebih banyak lagi. Seperti seorang lepra tadi, ia mendapat keselamatan dan relasi akrab mesra dengan Tuhan. Dengan selalu bersyukur, kita diharapkan menjadi kawan sekerja Allah dalam karya-karya keselamatan. Jadi dengan bersyukur, kita menerima banyak berkat bagi jiwa kita sendiri,  keluarga kita, orang lain, bahkan bagi jiwa-jiwa berdosa dan malang.



Selasa, 13 November 2018

Renunfan Harian GML : HAMBA TAK BERGUNA

Selasa, 13 Nop 2018


BACAAN
Tit 2:1-8.11-14– “Hendaklah kita hidup saleh sambil menantikan kebahagiaan yang kita harapkan, yaitu penampakan Allah dan penyelamat kita Yesus Kristus”
Luk 17:7-10 – “Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”

RENUNGAN
1.Seberapa sering kita dicaci maki orang lain karena kelakuan kita? Dan ketika kita dicaci maki, kita mengeluh dan marah. Mengapa? Karena kita sombong, tidak mau instropeksi diri. Siapa aku di hadapan Tuhan? Aku adalah seorang hamba yang hina dan berdosa, kecil dan tergantung.  Dari Tuhan, kita menerima sangat banyak dan menerima apa saja yang kita butuhkan. Tetapi mengapa kita masih sering mengeluh kepada-Nya, bahkan protes bahwa Tuhan itu tidak adil?

2.Sebagai manusia, secara jujur, kita lebih menuntut hak daripada kewajiban kita. Seperti anak-anak yang ingin dipenuhi keinginannya, suami atau isteri yang menuntut untuk dihargai, dan kita menuntut bahwa pemerintah harus memenuhi segala kebutuhan kita. Bahkan Tuhan pun kita paksa memenuhi kebutuhan kita. Yang kita selalu lupa adalah kita telah menerima segala sesuatu dari Tuhan dan kita berutang segala sesuatu kepada-Nya. Walaupun Kristus telah menjadi hamba demi kita, darah-Nya tertumpah demi keselamatan kita, Ia tidak pernah merasa berhutang kepada kita. Maka relasi kita dengan Tuhan harus didasari atas rasa syukur; bersyukur dan bersyukur.

3.Yesus berkehendak membebaskan kita dari belenggu kesombongan. Kita diharapkan memiliki hati seorang anak Allah, yaitu pelayanan, syukur dan terima kasih, hormat, dan ketaatan pada Allah. Walau pun orang jaman sekarang semakin mengabaikan keutamaan-keutamaan tersebut, namun kita  dituntut untuk menjadi yang terkemuka dalam keutamaan-keutamaan Allah. Melakukan kehendak Allah tanpa menuntut upah. Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (MS,berkat.id)

Minggu, 11 November 2018

Renungan Harian GML

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan hari Minggu Biasa ke-32 Tahun B. Saya tertarik untuk mengajak kita sekalian merenungkan bacaan-bacaan hari ini mulai dari Bacaan Kedua: Surat Kepada Orang Ibrani. Rasul Paulus menyampaikan kepada kita peran Kristus Sang Imam Agung dan alasannya. Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Kita ingat dalam renungan sebelumnya bahwa imam-imam di Bait Allah harus berulang-ulang mempersembahkan korban karena ia harus mempersembahkan korban pepulih dosa untuk dirinya sendiri baru kemudian untuk umatnya dan lagi yang dipersembahkan adalah darah binatang korban dan bukan darahnya sendiri. Yesus Kristus cukup sekali saja mempersembahkan korban sebagai pepulih bagi dosa kita manusia karena ia mempersembahkan darah-Nya sendiri. Ia yang tidak berdosa telah mati untuk menanggung dosa banyak orang. Karena itu Ia menjadi pengantara, hakim, dan juruselamat bagi mereka yang menantikan-Nya.  Bacaan Pertama menyampaikan bagaimana nabi Elia meyakinkan janda di Sarfat itu untuk percaya akan firman Tuhan. Dan janda itupun percaya dan berbuat seperti yang dikatakan Elia. Mereka pun mengalami pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Tepung yang sedianya hanya cukup untuk perempuan itu dan anaknya makan sekali dan lalu akan mati, ternyata menghidupi mereka dan Elia, tidak berkurang sampai beberapa waktu lamanya. Pada Bacaan Injil, Yesus mengingatkan para murid agar tidak terpana dengan penampilan ahli Taurat dan orang parisi yang terhormat, yang bisa dan biasa memberi persembahan dari kelimpahannya untuk dilihat. Janda miskin itu dipuji oleh Yesus karena “ia memberi dari kekurangannya, semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya” Karena hidup-Nya hanya melaksanakan kehendak Allah, Kristus telah menyerahkan diri-Nya seutuh-utuhnya sehingga menjadi Imam Agung sekali untuk selamanya. Karena percaya akan firman Allah melalui Elia, janda di Sarfat itu mendapatkan pemeliharaan Allah. Karena percaya akan Allah, janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya menjadi persembahan dan menerima berkat dari Tuhan. Saudari-saudara sekalian, ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang menjadi miskin karena banyak memberi dan juga tidak ada yang menjadi kaya karena kikir dan curang. Kesediaan untuk membantu yang datang dari hati berdasarkan rasa syukur kepada Tuhan dan belaskasih kepada sesama akan menjadi berkat bagi keduanya yang membantu maupun yang dibantu. Kedua janda itu dapat memberikan bukan karena mereka berkelebihan, malahan sebaliknya mereka berkekurangan. Namun karena mereka penuh percaya kepada Firman Tuhan, mereka melakukannya juga. Dan mereka terberkati. Saudari-saudara sekalian, dalam semangat iman yang sama dengan para ibu janda itu marilah kita juga membuka hati untuk setiap peranserta dan persembahan kita kepada Tuhan dalam turut memperhatikan saudari-saudara yang membutuhkan. Semoga kita boleh turut sera mengambil bagian dalam karya imamat Yesus Kristus demi kesejahteraan dan keselamatan setiap orang yang kita jumpai. Tidak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi; karena kekayaan itu adalah hatimu. Bukan jumlah yang berbicara. Bantuan sekikit maupun banyak dari segala kekurangan yang diberikan dari hati akan membawa banyak berkat. Pemberian banyak yang tidak disertai dengan ketulusan dan belaskasih di hati hanya berguna untuk sementara saja. Dalam kesatuan pengharapan dalam iman kepada Tuhan, kita dipanggil dan diutus untuk menjadi berkat bagi sesama. Amalkan Panca Sila, Kita Bhinneka Kita Indonesia. Betapa indah menjadi berkat bagi sesama.(rm pur msc)

Jumat, 09 November 2018

Renungan Harian GML : TIDAK SETENGAH-SETENGAH DAN TOTAL

Jumat, 9 Nop 18, Pemberkatan Gereja Basilik Lateran


BACAAN
Yeh 47:1-2.8-9.12 – “Aku melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup”
1Kor 3:9-11.16-17– “Kamu adalah tempat kediaman Allah”
Yoh 2:13-22 – “Bait Allah yang dimaksudkan ialah tubuh-Nya sendiri”

RENUNGAN
1.Basilika (katedral) St. Yohanes Lateran, yang juga Katedralnya Paus di Roma, adalah “induk dan kepala semua gereja.” Dengan memperingati pemberkatan basilika St. Yohanes Lateran, kita hendak mengungkapkan kesatuan kita dengan Uskup di Roma, pemersatu Gereja dalam kasih Kristus. Betapa pun pencobaan yang dahsyat dari dunia, Gereja tetap akan kokoh selamanya. Dan kita yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita dalam peziarahan ini.

2.Walau pun Gereja kokoh kuat, tidak berarti tidak perlu melakukan pemurnian diri. Ketika Tuhan datang di Bait Allah Yerusalem, Tuhan menemukan banyak hal yang mengotori dan merusak spirit doa dan devosi. Sikap-Nya yang keras terhadap para pedagang, menggaris bawahi tentang kesucian yang diberikan oleh Allah kepada Bangsa Terpilih. Kita sebagai umat pilihan mewarisi untuk selalu menjaga kesucian tersebut dalam diri kita. Kita menyadari bahwa jalan hidup dunia banyak kali menggerogoti jiwa dan rohani kita, sehingga kita perlu menyucikan diri.

3.”Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Yesus tidak memberi tanda atau mukjizat seperti yang mereka minta, selain Kematian dan Kebangkitan-Nya. Dengan tanda tersebut, Yesus menggantikan Bait Allah dengan diri-Nya sendiri; satu-satunya Bait Allah, tempat Allah hadir dan umat manusia menyembah. Tidak setengah-setengah, tidak kompromi, dan total, itulah tanggapan yang pantas untuk menjadikan diri kita tempat Allah bersemayam.



Kamis, 08 November 2018

Renungan Harian GML : ALLAH PEDULI

Kamis, 8 Nop 2018

BACAAN
*Flp 3:3-8a* – “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus”
Luk 15:1-10– “Akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat”

RENUNGAN
1. Bagi orang-orang Parisi dan para ahli kitab, siapa pun yang mereka cap sebagai pendosa, selalu mereka singkirkan dan mereka remehkan. Dari dulu sampai sekarang cap itu terbawa-bawa. Orang begitu mudah memberi cap “berdosa” dan kafir berdasarkan suku, agama, dan pandangan hidup. Pokoknya, apa saja dan siapa saja yang tidak sesuai dengan otak mereka, adalah kelompok tersesat, haram, dan kafir. Serem sekaligus menggelikan.

2.Cara pandang Yesus sungguh baru dan luar biasa. Satu orang yang tersesat harus dicari sampai ketemu. Biar pun hanya satu orang, tapi sangat berharga di mata Tuhan. Bagi yang merasa tersesat dan berdosa, Yesus adalah “penebus dan penyelamatku.” Nah, saat ini kita berada dalam kawanan Gereja. Masalahnya adalah: bagaimana caranya supaya kita tidak sampai tersesat dan hilang.  Tuhan, melalui Gereja-Nya, menyediakan banyak sarana bagi kita untuk sampai pada iman yang utuh: Sabda, Doa, Sakramen, Komunitas. Kita gunakan  saja sarana-sarana tersebut.

3.Tuhan tidak pernah gembira dengan hilangnya seseorang. Tuhan menghendaki semua orang diselamatkan dan dipulihkan persahabatannya dengan Allah. Inilah mengapa seluruh penghuni surga bersukacita ketika seorang yang tersesat diketemukan dan relasinya dengan Allah dipulihkan. Masih pedulikah Gereja (para rama dan umat) terhadap mereka yang tersesat dan hilang?

Rabu, 07 November 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH SEGALA-GALANYA

Rebo, 7 Nop 2018

BACAAN
Flp 2:12-18 – “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan”

Luk 14:25-33 – “Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”

RENUNGAN
1.Bacaan Injil hari ini sangat tegas dan keras, serta mudah disalahpahami. Namun harus diingat bahwa Yesus tidak pernah menganjurkan murid-murid-Nya untuk membenci seorang pun. Ia juga tidak bermaksud mengecilkan hati siapa pun yang mau mengikuti-Nya.

2.Terus apa maksud sebenarnya? Setiap orang yang mengikut Yesus harus segera, tidak bisa ditunda, memiliki komitmen dan kesetiaan total terhadap Yesus. Yesus adalah segala-galanya. Yesus menjadi ukuran satu-satunya untuk mengasihi orang tua, isteri, suami, anak-anak, bahkan nyawanya sendiri.

3.”Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” Artinya: setiap orang yang mengikuti Yesus harus menyerahkan kepentingan diri kepada Tuhan dan setia total mengikuti-Nya. Jadi, mengikuti Yesus itu sangat mahal, tidak mudah,dan sangat sukar. Maka bila seseorang ingin mengikuti Yesus harus berpikir serius tentang konsekuensi dan harga yang harus dibayar.

4.Melalui Salib, Yesus telah menyediakan bagi para murid-Nya kebahagiaan sejati, damai dan sukacita. Sejauh mana aku telah serius dan total mengikuti Yesus? Atau mengikuti Yesus dengan cara biasa-biasa saja? Atau malah sedang “jatuh”?

Selasa, 06 November 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG TIDAK MEMILIKI PRIORITAS

Selasa, 6 Nop 2018

BACAAN

Flp 2:5-11 – “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib”


Luk 14:15-24– “Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh”


RENUNGAN

1.Saat paling membahagiakan adalah saat kita mengikuti pesta perjamuan bersama. Peristiwa penting dirayakan di sana, persahabatan tumbuh makin dalam, dan hubungan perelasian diperbarui. Perjamuan seperti tersebut sering dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan perjamuan surgawi. Dalam perjamuan surgawi, tidak penting kita akan duduk di mana. Yesus ingin duduk semeja dan berbicara dengan kita. Suasana yang indah, penuh sukacita dan persahabatan kekal.


2.Untuk sampai kepada perjamuan membutuhkan usaha, misalnya menyediakan waktu khusus, pakaian yang bagus, uang sumbangan. Bila kita malas untuk datang, maka berbagai alasan kita buat: sibuk, ada acara yang lebih penting. *Kita pun banyak alasan terhadap panggilan Tuhan. Terlalu malas untuk membaca Firman, pantat terlalu lancip untuk duduk berdoa, terlalu berat kaki untuk datang menuju tempat kegiatan lingkungan, tidak ada waktu untuk mengikuti misa di Gereja*. Bila hal ini terjadi, sejatinya kita tidak memiliki prioritas hidup, kehidupan rohani yang dingin dan dangkal.


3.Pesta perjamuan sudah siap, tetapi kita yang tidak siap. Mengapa tidak siap?

Senin, 05 November 2018

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH MILIK SEMUA ORANG

Senin, 5 Nop 2018


BACAAN
Flp 2:1-4 – “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian sia-sia”

Luk 14:12-14 – “Bila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta”

RENUNGAN
1.Demi gengsi, nama baik dan martabat, bila kita mengadakan pesta nikah selalu mengundang orang-orang terpandang, para tokoh masyarakat, dan teman-teman dekat. Menjadi semakin wah bila para tamu datang dengan mobil-mobil mewah. Keren. Sumbangan pun pasti melimpah.

2.Mengapa Yesus minta agar kita mengundang semua orang, termasuk orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan yang tersingkirkan? Bila hal ini terlaksana, pasti heboh. Yang jelas tidak keren. Apa maksud Yesus? Yesus menggunakan perjamuan untuk melambangkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan milik orang-orang kaya, terpandang, dan milik keluarga, melainkan milik semua orang. Siapa saja, tanpa kecuali, berhak masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3. Yesus menantang kita untuk mengasihi dan bermurah hati terhadap mereka yang miskin, cacat, lumpuh, dan tersingkir. Mereka ini jarang mengalami perhatian dan kasih dari orang lain, karena keadaan mereka. Maka panggilan kita adalah mengasihi mereka dengan sepenuh hati, tulus dan rela tanpa minta balasan apa pun.

4.Murah hati berarti pengurbanan. Bermurah hati tidak akan mempermiskin kita, tetapi sebaliknya,  akan memperkaya jiwa dan hidup kita dan kita memperoleh bahagia yang akan dipenuhi “pada hari kebangkitan orang-orang benar.” “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
 

Sabtu, 03 November 2018

Renungan Harian GML : MELAYANI DENGAN HATI

Sabtu, 3 Nop 2018, St. Martinus de Porres

BACAAN
Flp 1:18a-26 – “Bagiku hidup ialah Kristus dan mati keuntungan”

Luk 14:1.7-11 – “Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan”

RENUNGAN
1.Yesus menghadiri undangan makan yang diselenggarakan oleh seorang petinggi Parisi. Tetapi “semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama.” Namun Yesus juga memperhatikan para tamu yang berusaha duduk di tempat yang paling terhormat. Dari sini Yesus membalikkan arti dihormati dan ditinggikan.

2.Kita seringkali melihat ada orang yang suka mempromosikan dirinya; suka bercerita tentang dirinya, jasa-jasanya,  kehebatannya sambil meremehkan orang lain, dengan harapan orang lain menganggapnya  hebat. Padahal, orang-orang di sekitarnya tidak senang mendengarkan ceritanya, bahkan  menjadi stress karenanya.

3.Namun ada juga orang yang tidak pernah cerita tentang dirinya sendiri. Ia hanya bekerja dan membantu orang lain. Ia tidak memiliki status sosial yang tinggi, dan tidak memiliki banyak ketrampilan kemasyarakatan, tetapi ia melayani dan membuat orang lain senang, bahagia dan semangat. Ketika ia merasa tidak penting lagi, ia mundur dan orang lain di sekitarnya akan sangat menghormati dia; ia mendapat tempat terhormat di hati setiap orang;

4.Tuhan berkata: “Barangsiapa meninggikan diri , akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.” Aku termasuk yang mana? Apakah kita tidak boleh memenuhi ambisi kita dengan menjadi yang paling hebat dan terhormat? Yesus tidak berbicara tentang pemenuhan ambisi, melainkan berbicara tentang hati, yaitu bagaimana seseorang melayani orang lain dengan rela dan ikhlas, tanpa pamrih dan hanya demi kebahagiaan orang lain dan kemuliaan Allah. Orang seperti inilah yang akan dihormati dan ditinggikan.

Kamis, 01 November 2018

Renungan Harian GML : HR SEMUA ORANG KUDUS: MENJADI KUDUS DAN MULIA BERSAMA ALLAH

Kamis, 1 Nop 2018

BACAAN
Why 7:2-4.9-14 – “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya”

1Yoh 3:1-3 – “Kita akan melihat Kristus dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”

Mat 5:1-12a – “Bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga”

RENUNGAN
1. Siapa para kudus? Mereka adalah persekutuan orang beriman (“Persekutuan para Kudus) yang telah mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus dan disucikan oleh Darah Anak Domba. Selama hidup, mereka telah memelihara iman dengan baik sampai akhir pertandingan di dunia ini, sehingga mereka memperoleh ganjaran besar di surga.

2.Yang disebut bahagia menurut pandangan dunia adalah mereka yang kaya, berkuasa, dan  yang memuaskan diri dengan kepuasan duniawi. Menurut Yesus, yang disebut bahagia adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati, yang suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya demi kebenaran, mereka yang dicela dan dicaci maki atas nama Kristus.

3.Mereka disebut bahagia karena mereka ini memberikan contoh sikap percaya dan mengandalkan Allah dalam situasi dan segala keperluan mereka. Yesus sendiri merupakan contoh Sabda Bahagia. Ia orang yang miskin (Mat 8:20), lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29), welas asih (Mat 12:16-21). Para kudus ini telah meneladani hidup Tuhan dengan sempurna, maka sudah selayaknya mulia bersama Allah dalam Kerajaan-Nya.

4. Mampukah kita menjadi kudus seperti dikehendaki Tuhan?

Rabu, 31 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JALAN SEMPIT ITU ADALAH JALAN SALIB

Rebo Wage, 31 Okt 2018

BACAAN
Ef 6:1-9 – “Laksanakan pelayananmu seperti orang yang melayani Kristus”

Luk 13:22-30 – “Ada orang terakhir yang akan menjadi terdahulu, dan ada orang terdahulu yang akan menjadi yang terakhir”

RENUNGAN
1.”Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Latar belakang pertanyaan ini adalah bahwa semua orang Israel, sebagai Umat Perjanjian, akan masuk surga. Jawaban Yesus mengguncang mereka: Keanggotaan seseorang sebagai Umat Perjanjian tidak otomatis sebagai jaminan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Undangan Allah  terbuka untuk umum, termasuk bangsa-bangsa kafir. Bagi kita, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus berjuang melalui pintu yang sempit.

2. Pintu sempit itu adalah Yesus, dan Yesus adalah satu-satunya Jalan. “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yoh 10:9). Dan jalan Yesus adalah Jalan Salib. Melalui Salib, Yesus membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Yesus mengingatkan, kita harus berjuang untuk memperoleh keselamatan.

3.Supaya mampu melalui Salib, kita harus mengenal Yesus, akrab bersatu dengan-Nya lewat Firman,  doa, Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Kita diingatkan Rasul Paulus: “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus” (Flp 1:27).

4. Kelemahan utama kita adalah: tidak berusaha sungguh-sungguh mengenal Kristus. Dengan kata lain: kita abai membaca dan merenungkan Kitab Suci, tidak teratur berdoa, dan tidak memperhatikan Sakramen Tobat dan Ekaristi. Betulkah demikian?

Selasa, 30 Oktober 2018

Renungan Harian GML : JANGAN MEREMEHKAN YANG KECIL DAN SEDERHANA

Selasa, 30 Okt 2018

BACAAN
Ef 5:21-33 – “Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat”

Luk 13:18-21 – “ Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi … ”

RENUNGAN
1.Biji sesawi dikenal umum di Palestina. Biji yang teramat kecil, tetapi bila tumbuh, tanaman itu lebih besar daripada segala tanaman  belukar. Burung-burung di udara tertarik untuk makan biji-bijinya dan bersarang di pohon tersebut. Demikian Kerajaan Allah, tumbuh dan berproses seperti biji sesawi. Lewat Sabda yang diterima oleh manusia, Kerajaan Allah tumbuh dari dalam hati manusia. Pertumbuhannya tidak bisa dilihat, namun akan membawa perubahan besar dari dalam hati manusia. Ia menjadi manusia baru dalam Kristus.

2.Banyak hal kecil kita sepelekan dan remehkan, padahal apa yang besar dan segala yang baik berawal dari hal-hal kecil, sederhana, dan serba biasa. Dalam proses beriman, seseorang menerima kehidupan baru. Ia dipanggil untuk mengasihi mulai dari cara yang sederhana, lewat menyapa orang lain, memberi senyuman, menjadi pendengar yang baik, memberi pertolongan. Dari hal-hal kecil akan menghasilkan hal-hal besar. Dengan cara itu Kerajaan Allah terwujud.

3. Apa sumbangsih kita (Gereja) bagi kemajuan lingkungan dan masyarakat di sekitar kita?

Sabtu, 27 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH


Sabtu, 27 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:7-16 – “Kristuslah kepala tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya”

Luk 13:1-9 – “Jika kamu semua tidak bertobat, kamu pun akan binasa dengan cara demikian”

RENUNGAN
1.Pemilik pohon ara dipandang sebagai Allah Bapa. Bercermin dari bacaan, Allah Bapa sering datang kepada kita untuk mencari buah ara dalam hidup kita. Allah telah memberi kita “tanah” dan rahmat cukup untuk kita menghasilkan buah. Allah datang kepada kita, karena memang saatnya kita menghasilkan buah. Bagaimana kalau kita tidak menghasilkan buah?

2.Kalau tidak menghasilkan buah berarti hidup kita sia-sia, useless. Kita tidak menjadi roti kehidupan bagi orang lain, tetapi menjadi roti bakar. Hidup yang hanya menghisap sari-sari makanan dari tanah tetapi tidak ada manfaatnya dan mandul. Saat kerahiman Tuhan akan berakhir, dan Tuhan akan menjatuhkan keadilan.
3.Bila hal tersebut terjadi atas kita, seharusnya kita malu karena Yesus telah menebang diri-Nya lewat jalan berdarah sampai di kayu Salib. Agar kita tidak sampai ditebang, maka jalan satu-satunya hanyalah bertobat dan menghasilkan buah-buah kebaikan yang membawa orang kepada kehidupan yang damai dan sejahtera. Hidup tidak boleh sia-sia tanpa menghasilkan kebaikan. 

Jumat, 26 Oktober 2018

Renungan Harian GML : *PEKA TERHADAP KEHADIRAN DAN SAPAAN TUHAN

Jumat. 26 Okt 2018

BACAAN
Ef 4:1-6 – “Satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan”

*Luk* 12:54-59 – “Kamu tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

RENUNGAN
1. Yesus menunjukkan *kejengkelan terhadap ketumpulan hati para pendengar-Nya.* Mereka pandai membaca tanda-tanda alam, misalnya hari akan hujan, gunung akan meletus, tetapi *hati mereka tumpul ketika berhadapan dengan Yesus, satu-satunya tanda dari Allah.* Yesus, sebagai utusan Allah, menyampaikan pengajaran dan mukjizat-mujizat. Tetapi *semua itu tidak menggetarkan hati mereka, juga tidak menggetarkan hati anak-anak manusia jaman ini.*

2. Untunglah masih ada orang yang beriman. *Orang beriman sejati selalu mendasari hidup dengan Firman, Sakramen, dan doa-doa yang konsisten dan berkelanjutan.* Mereka ini peka terhadap kehadiran dan sapaan Tuhan. Apa yang menurut orang lain sebagai kebetulan, mereka menganggapnya sebagai *penyelenggaraan Allah.* Sikap percaya seperti ini yang membawa ketenangan dan damai. Dan mereka *tidak mengeluh dan tidak cemas, hanya percaya, pasrah sumarah dan menerima apa yang terjadi.*

3. Allah menyampaikan kehadiran-Nya tidak hanya lewat tanda-tanda alam dan tanda-tanda jaman. Lebih dari itu, *Allah menyampaikan tanda kehadiran-Nya lewat Firman, Sakramen, khususnya Ekaristi, doa, ziarah, juga lewat kebersamaan sabagai Komunitas Kristen.* Semoga kita selalu mengikuti gerakan Roh Kudus lewat Gereja-Nya.

Kamis, 25 Oktober 2018

Renungan Harian GML : DAMAI SEJATI

Kamis, 25 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 3:14-21 – “Semoga kamu berakar dan beralas dalam kasih, dan dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Alllah”

*Luk* 12:49-53 – “Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan pernyataan yang radikal. *Ia begitu merindukan sebuah lautan api ilahi berkobar menyala dalam hati para murid-Nya*. Yesus telah menanggung baptisan yang membenamkan-Nya dalam penderitaan Golgota, dengan harapan *baptisan kita bukan sekedar seremoni, tapi benar-benar menyerupai baptisan Yesus*. Ia menghendaki baptisan menjadi cahaya suci yang memancarkan kesucian dalam hidup kita.

2.Kita mengharapkan bahwa Yesus benar-benar pembawa damai seperti dikatakan oleh nabi Yesaya (Yes 11:6-9). *Tetapi damai akan terjadi pada akhir sejarah ketika Kerajaan Allah terbangun dalam kepenuhannya*. Sampai saat itu, para murid Kristus akan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan dunia yang juga menawarkan damai. *Tidak jarang kita lebih tergiur dengan damai yang ditawarkan dunia,* daripada damai yang ditawarkan oleh Tuhan. Kita diharapkan memiliki roh yang kuat sehingga *tetap memilih damai yang ditawarkan Kristus dan menolak damai yang ditawarkan dunia.*

3.Hidup damai tidak mungkin dibangun dengan perkelahian, berbantah-bantahan, dan kebencian. *Damai yang ditawarkan Kristus, harus dibangun dengan sikap sopan santun, kelemahlembutan, belas kasihan, dan menyatukan, bukan dengan memecah belah dan berbantah-bantahan.

Rabu, 24 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENJADI PELAYAN YANG BIJAK DAN SETIA

Rabu, 24 Okt 2018, St. Antonius Maria Claret


BACAAN
Ef 3:2-12 – “Rahasia Kristus kini telah diwahyukan dan para bangsa menjadi pewaris perjanjian”

Luk 12:39-48 – “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya”

RENUNGAN
1.Salah satu paling beresiko bagi seorang management perusahaan adalah ketika memilih dan mempekerjakan karyawan baru, apalagi bila visi dan misi perusahaan tidak jelas. Tuhan memiliki tujuan jelas ketika Ia memilih pelayan. Kriterianya: mereka haruslah orang yang bijak dan setia, dapat dipercaya, dan melayani Tuannya yang akan memberi mereka upah, serta mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi. Apakah aku sesuai dengan kriteria Tuhan?

2.Dalam bacaan Injil hari ini dikatakan seorang pelayan yang jahat memukuli hamba-hamba lain. Pelayan yang bijak “membagikan makanan tepat pada waktunya.” Tentu kita semua ingin diperhitungkan sebagai pelayan yang bijak dan setia yang memperhatikan mereka yang dipercayakan kepada kita. Tuhan, sebagai Pelayan, telah mati disalib sedemikian kejam demi keselamatan kita, maka kita harus berani menyingkirkan kepentingan kita sendiri dan melayani mereka yang menjadi permata hati Tuhan, yaitu orang-orang miskin, mereka yang menderita dan dianiaya, mereka yang tertindas dan terlupakan.

Selasa, 23 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SAAT INI ADALAH SAAT KERAHIMAN TUHAN

Selasa, 23 Okt 2018, St. Yohanes Capestrano

BACAAN
Ef 2:12-22 – “Kristuslah damai sejahtera kita”

Luk 12:35-38 – “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga”

RENUNGAN
1.“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala” (ay 35). Perintah tersebut diulangi: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan” ( ay 40). Kapan Tuhan akan datang? Tidak ada yang tahu. Kebanyakan dari kita menganggapnya biasa-biasa saja bahkan tidak peduli, sehingga hidup kita pun biasa-biasa saja. Apa saja yang biasa-biasa, selalu tidak menarik.

2.Pendapat umum: “Tuhan sudah datang dan selalu berada di tengah-tengah kita. Jadi apa yang perlu dipersiapkan?” Benar, Tuhan berada di tengah kita, tetapi persoalannya adalah sejauh mana kita bertobat dan menjadikan diri layak di hadapan Tuhan?

3.Selama kita masih hidup, Tuhan selalu menawarkan kerahiman-Nya kepada kita, supaya bertobat, menjadi baru dan menjadi berkat. Maka saat ini disebut saat Kerahiman Tuhan. Bagaimana kalau kita tidak berubah sampai mati? Berarti kita gagal sebagai manusia. Berarti saat Kerahiman Tuhan berakhir dan berubah menjadi saat Pengadilan. Pada saat itu kita harus mempertanggungjawabkan hidup kita. Bagi siapa  yang layak menyambut Tuhan, akan disebut “berbahagia” (ay 38).

4.Kita terus-menerus diingatkan: “Berdirilah tegap, berikat pinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan” (Ef 6:14). “Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”

Senin, 22 Oktober 2018

Renungan Harian GML : KESERAKAHAN BUKANLAHm8 KEBAHAGIAAN

Senen Kliwon, 4 Sapar 1952, 22 Okt 18

BACAAN
Ef 2:1-10 – “Tuhan telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus, dan telah memberi kita tempat di surga bersama dengan Dia”

*Luk* 12:13-21 – “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kau sediakan itu?”

RENUNGAN
1.” *Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.”* Yesus tidak menyalahkan orang kaya. Yang dikritik Yesus adalah orang yang *tamak, serakah, egois, dan abai terhadap orang lain*. Orang serakah dan egois, seperti  orang kaya dalam kisah Lazarus (Luk 16:20-25), telah kehilangan rasa dan daya untuk terlibat dan berbagi terhadap orang lain yang membutuhkan. Harta kekayaan menjadi tujuan hidupnya dan perhatiannya hanyalah terhadap dirinya sendiri. Kematiannya menjadi akhir dari jiwanya.

2.Kalau harta kekayaan menjadi tujuan, orang akan berusaha mendapatkannya dengan cara apa pun, dan tidak pernah berpikir usaha itu halal atau haram. *Hidup serakah, biasanya diikuti dengan cara-cara tidak terpuji* untuk mendapatkan harta kekayaan:  korupsi, pungli, suap, mencuri, merampok, bahkan membunuh. Yang dipikirkan hanyalah kepentingan sendiri dan keluarganya.

3. *Apa yang kita miliki adalah pemberian Allah*, diberikan kepada kita untuk kebaikan sesama dan tidak untuk kepentingan diri sendiri. Kita disebut sebagai orang kaya, jika kita murah hati, dan memiliki cinta kasih yang tulus. Yang harus kita perluas bukanlah gudang penyimpanan kekayaan atau rekening bank, melainkan *hati* kita. Apakah yang membuat Anda bahagia?

Sabtu, 20 Oktober 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN BERSAKSI

Sabtu, 20 Okt 2018

*BACAAN*
Ef 1:15-23 – “Kristus diberikan sebagai kepala atas jemaat, dan jemaat itulah tubuh Kristus”

*Luk* 12:8-12 – “Roh Kudus akan mengajarkan kepadamu, apa yang harus kamu katakan”

*RENUNGAN*
1.Kadang-kadang *sukar* untuk mengakui Yesus di depan orang lain. Ada yang *malu* diketahui sebagai murid Kristus, takut akibat yang bakal terjadi, dan *takut* dikucilkan. Ketika ada gereja dirusak atau dibakar, kita diam seribu bahasa. Banyak yang tidak membuat *tanda salib* ketika makan di restoran atau di muka umum. Kita terbebani oleh perasaan “orang berpikir bahwa saya adalah seorang Katolik.” Sikap yang menandakan bahwa iman kita lemah.

2.Tiap saat *Tuhan menyadarkan* kita sebagai orang Katolik. Tuhan juga selalu menyadarkan kita atas dosa-dosa kita, namun kita tidak mau menerimanya. Tuhan siap mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita menolak untuk diampuni. Jika kita mati, tetapi tidak mau menerima kebenaran Allah dan tidak mau bertobat sama sekali, kita berdosa melawan Roh Kudus dan dosa-dosa kita tidak akan diampuni.

3.Bertobat dan bersaksi, itu yang dikehendaki Allah. Bersaksi artinya menjadi martir. Bersaksi apa pun keadaannya, baik maupun buruk. Untuk itu, kita harus mohon Roh Kudus untuk selalu hadir dan berbicara melalui diri kita ketika berada di hadapan orang lain. Dengan demikian tidak perlu ada yang kita takuti.

Jumat, 19 Oktober 2018

RENUNGAN HARIAN GML : JANGAN TAKUT

Jumat, 19 Okt 2018. St. Paulus dari Salib, St. Yohanes de Brebeuf, St. Ishak Joques


*BACAAN*
Ef 1:11-14 – “Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, dan kamu pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus”

Luk 12:1-7 – “Jangan takut!”

*RENUNGAN*
1.”Beribu-ribu orang banyak telah  berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan.” Orang-orang begitu ingin untuk berjumpa dengan Yesus. “Mereka seperti domba tanpa gembala” (Mrk 6:34).

2.Yesus mulai mengajar: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Parisi.” Kemunafikan berarti menyembunyikan kebenaran. Di luar nampak bagus, di dalamnya tertimbun kebusukan. Tiap hari ikut misa, tetapi hidupnya berlawanan dengan semangat Ekaristi. Yesus menghendaki kita berubah: meninggalkan kemunafikan dan menyamakan antara kata, sikap dan tindakan, dan tidak perlu ada yang disembunyikan.

3.Para murid diharapkan memiliki ketulusan hati, tidak menyembunyikan kebenaran, tidak takut menyampaikan kebenaran, dan tidak boleh menyimpan untuk dirinya sendiri, tetapi harus menyebarkannya kepada orang lain.

4.Dan tidak perlu takut terhadap penderitaan karena mewartakan kebenaran Kristus. Takut terhadap penderitaan berarti menolak kebenaran. Barangsiapa memisahkan diri dari Kristus karena takut akan penderitaan, akan hilang untuk selama-lamanya. Mengapa kita tidak perlu takut? Karena hidup kita berada di tangan Allah. Anda takut sebagai murid Kristus?

Kamis, 18 Oktober 2018

Renungan Harian GML : MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

Kamis, 18 Okt 2018, St. Lukas

MENGANDALKAN ALLAH DAN MEMULIHKAN NILAI-NILAI MASYARAKAT

BACAAN
2Tim 4:10-17a – “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku”

Luk 10:1-9 – “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya”

RENUNGAN
1.Lukas, yang pestanya kita rayakan hari ini, satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang berasal dari  bukan orang Yahudi. Hal tersebut sudah menjadi rencana Allah untuk menjadikan Lukas penulis Injil dan Kisah Para Rasul. Ia menerima rahmat khusus untuk menjadi bagian penting Gereja sepanjang sejarah. Mengapa kita diberi rahmat untuk boleh mengenal Kristus, sedangkan banyak orang tidak memperolehnya? Jawabannya: Allah menghendaki. Dan hal itu merupakan rencana Allah bagi kita.

2. “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Kalau Yesus menganggap para rasul seperti domba, mengapa Ia mengutus mereka ke tengah para serigala? Yesus ingin menguji iman para rasul. “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?” Jawab mereka: “Suatu pun tidak.” (Luk 22:35). Para murid diajak untuk mengandalkan penyelenggaraan Allah, bukan pada ketrampilan dan talenta.

3. "Yesus, Engkau andalanku" (MS,berkat.id)

Rabu, 17 Oktober 2018

Renungan Harian GML : SPIRIT ORANG PARISI DAN AHLI TAURAT VERSUS SPIRIT YESUS

Rabu, 17 Okt 2018, St. Ignasius dari Antiokhia

BACAAN
Gal 5:18-25 – “Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya”

Luk 11:42-46 – “Celakalah kamu, hai orang-orang Parisi .... “

RENUNGAN
1.Yesus mengecam orang-orang Parisi dan ahli Taurat. Mereka, sebagai pemimpin umat Israel, tidak mau mendengarkan Sabda Allah, bahkan menyesatkan orang-orang yang ingin menuju jalan Allah. Karena menekuni Hukum dan Taurat, maka mereka merasa diri sebagai sumber kebijaksanaan dan kebenaran yang harus didengar. Tetapi ada masalah dengan mereka: tidak memiliki belas kasih.

2.Orang-orang Parisi dengan cermat dan tertib membayar persepuluhan hanya demi dipuji orang, tetapi tidak ada perhatian terhadap mereka yang miskin, bahkan menganggap mereka sebagai kelompok terkutuk. Karena merasa paling hebat, mereka dipenuhi dengan kesombongan, gila hormat, dan suka merendahkan orang lain yang tidak segolongan.

3.Yesus membandingkan mereka dengan kuburan yang tanpa tanda. Kuburan merupakan gambaran kecemaran. Kebusukan orang-orang Parisi menjangkiti orang-orang lain, termasuk duabelas murid Yesus, dengan gagasan-gagasan yang salah tentang Allah, tetapi orang lain tidak mengetahui dan tidak menyadarinya. Ini berbahaya.

4.Dalam Yesus, esensi Hukum dan Ajaran adalah cinta kasih kepada Allah dan orang lain. Tuhan adalah cinta dan segala sesuatu yang Dia buat mengalir dari cinta. Cinta adalah berkorban, berbelas kasih, berbagi, memeluk dan mengangkat beban-beban orang lain.

5.Siapakah orang-orang Parisi dan para ahli Taurat pada zaman sekarang ini? Jangan-jangan aku 😄

Selasa, 16 Oktober 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG WELAS ASIH

Selasa, 16 Okt 2018, St. Margareta Maria Alacoque, St. Hedwig

*BACAAN*
Gal 4:31b-5:6 – “Bagi orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat sama sekali tidak mempunyai arti. Yang berarti hanyalah iman yang bekerja oleh kasih”

*Luk* 11:37-41 – “Berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”

*RENUNGAN*
1.Setelah mendengarkan pengajaran Yesus, seorang Parisi mengundang makan di rumahnya. Tapi Yesus tidak mengubah kebiasaan-Nya, yaitu *tidak mencuci tangan* sebagai syarat menurut adat. Dengan cara itu, Yesus dianggap tidak taat hukum. Terjadilah saling kritik antara Yesus dan orang Parisi, tanpa dibuka ruang dialog.

2. *Yesus mengkritik* mereka, karena di balik ketaatan terhadap ritual keagamaan tersebut, mereka *menyembunyikan* *kejahatan* yang tidak pernah mereka persoalkan, yaitu tidak pernah berbelas kasih dan memberi derma kepada orang-orang miskin, bahkan menyingkirkan mereka dari tengah masyarakat.

3.Yesus mendesak agar mereka *berbelas kasih*  dan memberi *derma* kepada orang-orang miskin. Yesus ingin menekankan *perubahan batin,* sehingga orang memiliki hati yang rela, murah hati dan berbelas kasih. Dengan sikap demikian, orang tidak perlu cemas dan takut terhadap hal-hal yang datang dari luar. Belas kasih dan derma juga mampu menetralisir keserakahan, nafsu menggarong, korup, dan merampok, sehingga tidak ada ruang di dalam hati kita untuk iri hati, sombong dan congkak. Bagaimana dengan Anda?