menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 31 Januari 2018

Renungan Harian GML : Menata Diri

Bacaan Liturgi 31 Januari 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa IV
PW S. Yohanes Bosko, Imam
Bacaan Injil
Mrk 6:1-6
Seorang nabi dihormati di mana-mana
kecuali di tempat asalnya sendiri.

Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya,
sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Pada hari Sabat Yesus mengajar di rumah ibadat,
dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia.
Mereka berkata, "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?
Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?
Dan mujizat-mujizat yang demikian
bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?
Bukankah Ia saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon?
Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?"
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Maka Yesus berkata kepada mereka,
"Seorang nabi dihormati di mana-mana
kecuali di tempat asalnya sendiri,
di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
Maka Yesus tidak mengadakan satu mujizat pun di sana,
kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit
dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Renungan :
Ada sebuah ungkapan bijak yang pernah saya dengar dari seorang teman. Teman itu mengatakan, “Sebelum kita mati, selalu ada kesempatan untuk hidup”. Ungkapan ini merangkum sebuah kesadaran bahwa selalu ada kesempatan untuk menata diri. kesalahan, kegagalan, dan kekurangan adalah hal yang wajar di dalam kehidupan kita, tetapi hanya mereka yang bangkitlah yang berhasil melampaui kekurangan dirinya. Kisah dalam bacaan-bacaan hari ini menerangkan kepada kita tentang hal ini. Kisah Daud yang melihat kesengsaraan bangsanya menjadi contoh bagi kita. Karena dosa dan salahnya, bangsa yang dipimpinnya mendapat malapetaka dari Allah. Namun, penyesalan dan perubahan hidupnya pula yang membuat bangsa itu kembali berjaya. Hingga akhir hidupnya ia tetap dikenang terutama sebagai raja besar daripada seorang yang berdosa. Ia mengatakan, "Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku" (2 Sam 24: 17).
Dalam kisah Injil, Yesus yang ditolak di tempat asalnya tak patah arang. Ia masih punya kesempatan untuk mewarta di banyak tempat dan itulah yang dipilihnya. Ia tak hanya berhenti menyalahkan orang-orang dari daerah asalnya, tetapi ia tahu selalu ada kesempatan yang terbuka untuk berbuat baik. Injil mencatat, “Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar” (Mrk 6: 6). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kisah hidup belum berakhir dengan adanya kegagalan. Selalu ada kesempatan untuk menata diri, memperbaiki apa yang kurang dari diri kita.
Selamat datang di dunia para pejuang kehidupan. Di dunia ini bukan kejatuhan yang utama, melainkan usaha untuk setiap bangkitlah yang diperhitungkan.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Selasa, 30 Januari 2018

Renungan Harian GML : IMAN MEMBAWA KESEMBUHAN



BACAAN
2Sam 18:9-10.14.24-25.30-19:3 – “Daud meratapi kematian Absalom”

Mrk 5:21-43 – “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini menyampaikan dua mukjijat. Pertama, penyembuhan terhadap seorang wanita yang telah sakit pendarahan selama 12 tahun. Kedua, penyembuhan terhadap anak kepala sinagoga.

2.Banyak orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Seorang kepala sinagoga bernama Yairus tersungkur di depan kaki Yesus dan mohon agar Yesus menyembuhkan anaknya yang sakit dan hampir mati.

3.Dalam perjalanan menuju rumah kepala sinagoga, ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Ia sudah pergi ke tabib mana pun, namun tidak sembuh juga. Karena mendengar tentang Yesus, ia memiliki harapan: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Di tengah kerumunan orang, ia menyentuh Yesus, dan mendapati dirinya sembuh. Yesus menyadari bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya yang memberi kesembuhan kepada perempuan itu.

4.Perempuan itu ketakutan, karena tindakannya tersebut membahayakan dirinya sendiri. Ia bisa dirajam sampai mati. Maka ia tersungkur di depan Yesus untuk mengatakan apa yang telah terjadi atas dirinya. Yesus berkata kepadanya: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.”

5.Dari rumah Yairus ada berita bahwa anak Yairus sudah mati, maka tidak ada gunanya menyusahkan Guru. Yesus berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja!” Di dalam rumah Yairus, Yesus berkata: “Anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Orang-orang menertawakan Yesus. Bagi mereka tak seorang pun mampu mengatasi kematian. Yesus mematahkan pandangan tersebut, dengan mengatakan kepada anak itu: “Talita kum – Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”

6.Pesan dari kedua mukjijat tersebut: a) Yesus menerima orang-orang sakit, bahkan orang yang sudah dianggap mati, ke dalam keluarga baru yang berkumpul bersama-sama dengan Dia. b) Apa yang mereka pikirkan dan mereka mohon telah menjadi kenyataan. c) Iman akan merealisir apa yang orang percaya. Tanpa iman, tidak mungkin terjadi mukjijat Yesus.

Selasa, 30 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Minggu, 28 Januari 2018

Renungan Harian GML : Yesus Kristus tetap sama baik, dahulu, sekarang dan untuk selamanya


Bacaan Liturgi 28 Januari 2018

Hari Minggu Biasa IV

Bacaan Injil
Mrk 1:21-28
Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:

Pada awal karya-Nya
Yesus beserta murid-murid-Nya tiba di Kapernaum.
Setelah hari Sabat mulai,
Yesus masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar.
Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Pada waktu itu,
di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat.
Orang itu berteriak,
"Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret?
Engkau datang hendak membinasakan kami?
Aku tahu siapa Engkau, yakni Yang Kudus dari Allah!"

Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya,
"Diam, keluarlah dari padanya!"
Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu,
dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.
Mereka semua takjub,
sehingga mereka memperbincangkannya, katanya,
"Apa ini?  Suatu ajaran baru?
Guru ini berkata-kata dengan kuasa.
Roh-roh jahat pun Ia perintah, dan mereka taat kepada-Nya."
Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Yesus
ke segala penjuru di seluruh Galilea.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan
Pada suatu hari seorang frater yang sedang liburan berjalan-jalan keluar rumah. Di tengah jalan ia mendengar suara tangisan. Suara itu berasal dari rumah temannya. Dulu dia sering berkunjung di rumah itu. Dia pun masuk ke rumah itu. Ternyata yang menangis itu seorang ibu. Ibu itu menghadap ke diding dan sambil ia mengomel terus menerus.
Mengetahui bahwa yang sedang datang itu adalah frater, maka orang-orang yang sudah berada di situ minta tolong kepada frater itu. Mereka minta tolong supaya frater itu mendoakan ibu yang menangis itu. Rupanya si ibu itu tidak suka. Dia berteriak dan mengatakan bahwa si frater itu adalah orang zaman sekarang. Orang zaman sekarang tidak memahami urusan yang sedang mereka alami. Rupanya semua orang di tempat itu tahu bahwa ibu itu sedang kesurupan.
Frater itu menyadari bahwa si sibu itu kesurupan. Dia merasa bahwa si ibu itu berusaha mengejeknya ketika mengatakan bahwa frater itu adalah orang zaman sekarang yang tidak mengerti urusan kesurupan. Mendadak frater itu teringat simbol dan moto tahun yubelium 2000. Dalam simbol itu ada tulisan yang punya makna “Yesus Kristus tetap sama baik, dahulu, sekarang dan untuk selamanya”. Dia lalu mengucapkan kata-kata itu dalam doa di dalam hati. Aneh sekali yang terjadi selanjutnya. Ibu yang kesurupan itu mendadak diam. Lalu dia mengubah posisi dari menghadap dinding berbalik menghadap frater itu. Selanjutnya dia menyapa frater itu, lalu pergi ke belakang. Tidak lama kemudian ibu itu, keluar lagi dan membawa minuman dan menghidangkannya kepada semua orang yang hadir di situ.
Peristiwa itu membuat frater itu yakin akan keagungan kuasa Yesus. Dengan menyebutkan dalam hati nama Yesus, ternyata orang kesurupan itu sembuh. Memang kuasa Yesus atas roh-roh jahat banyak dinyatakan di dalam Injil. Injil hari ini menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus adalah guru yang sangat berkuasa. Roh-roh jahat taat kepada Yesus. Bahkan roh-roh jahat itu mengakui bahwa Yesus bisa membinasakan mereka.
Memang roh-roh jahat penampilannya sering menakutkan dan mencemaskan. Ketika roh-roh itu menguasai orang, seolah-olah roh itu penuh kuasa dan sangat berpengaruh, misalnya membikin orang berteriak-teriak. Roh-roh itu juga berusaha membikin kegaduhan dengan mengguncang-guncang orang yang dirasukinya. Akan tetapi sebenarnya semua itu hanyalah gertakan untuk untuk menteror dengan tujuan membuat manusia takut, cemas dan ciut nyalinya. Orang beriman perlu menyadari itu dan dengan tegas menyatakan bahwa di bawah kuasa Yesus roh-roh itu tanpa daya. Orang beriman harus berani menyebutkan nama Yesus, berdoa pada Yesus, berlindung pada Yesus ketika menghadapi gertakan dari roh-roh jahat.

Rm Supriyono Venantius SVD

Sabtu, 27 Januari 2018

Renungan Haroan GML : YESUS BERKUASA ATAS ALAM SEMESTA



BACAAN
2Sam 12:1-7a.10-17 – “Daud mengaku telah berdosa terhadap Tuhan”

Mrk 4:35-41 – “Siapa gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya”

RENUNGAN
1.Kisah diawali dengan “Marilah kita bertolak ke seberang.” Hari yang berat dan penuh pekerjaan. Mereka membawa Yesus dengan perahu. Ia sangat capai, Ia tidur di buritan.

2.Taufan dahsyat, ombak menyembur ke dalam perahu. Situasi sangat berbahaya. Para murid berteriak putus asa: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus tetap tidur nyenyak, bukan hanya karena Ia capai tetapi karena Ia memiliki Allah yang menjadi andalan-Nya. Kontras antara Yesus dan para murid-Nya.

3.Mendengar teriakan putus asa, Yesus bangun dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Laut pun seketika menjadi tenang. Ia berkata kepada para murid: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

4.Para murid belum mengerti, siapa sebenarnya Yesus: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Yesus sebagai orang asing bagi mereka, padahal mereka sudah lama bersama Yesus. Siapa sebenarnya Yesus? Markus memberi jawaban. Ia adalah Anak Allah (mrk 1:1). Kepala pasukan memberi kesaksian: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:39).

5.Taufan dan badai dahsyat menghantam kita, entah senang atau tidak. Kita takut, daya tahan dan keimanan kita goyah bahkan hancur. Namun kita harus percaya  bahwa Yesus memiliki kuasa atas badai kehidupan. Dari kita hanya dituntut untuk percaya.

6.Kepada kita, Tuhan tidak menjanjikan bahwa tidak akan terjadi hal yang buruk. Yang dijanjikan Tuhan adalah “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Janji tersebut dibuktikan oleh Yesus: Ia ada bersama para murid ketika badai mengamuk dan perahu hampir tenggelam. Ia menenangkan badai tersebut. Yang kita butuhkan adalah iman yang kuat dan mendalam.

Sabtu, 27 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Selasa, 23 Januari 2018

Renungan Harian GML : KELUARGA BARU YANG DIKEHENDAKI TUHAN



BACAAN
2Sam 6:12b-15.17-19 – “Daud dan segenap orang Israel mengarak tabut perjanjian dengan sorak sorai”

Mrk 3:31-35 – “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah Ibu-Ku”

RENUNGAN
1.Di Israel kuno dikenal adanya marga. Marga merupakan basis untuk kehidupan bersama. Marga melindungi keluarga, pribadi perorangan, penjamin kepemilikan tanah, penjamin tradisi dan identitas. Melalui marga, orang belajar mengasihi Allah dan saudara-saudara mereka semarga. Marga merupakan ikatan yang harus dipertahankan.

2.Seiring dengan penjajahan kekaisaran Romawi, ikatan keluarga dalam marga makin melemah karena mereka harus membayar pajak. Akibatnya keluarga-keluarga menjadi miskin dan individualistis. Dengan tekanan yang berat tersebut, keluarga lebih memikirkan kebutuhannya sendiri. Akibatnya: kesempatan pertemuan keluarga-keluarga se-marga semakin hilang. Dengan alasan itu, Yesus ingin membangun kembali marga yang telah hilang tersebut.

3.Marga yang ingin dibangun Yesus tidak berdasarkan keturunan darah, melainkan berdasarkan semangat yang sama, yaitu melakukan kehendak Allah: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

4.Melakukan kehendak  Allah berarti terbuka dan tidak menutup diri, menerima orang-orang miskin dan tersingkirkan serta hidup sebagai saudara. Hal demikian yang disukai Allah (Luk 14:12-14) dan “tidak akan ada orang miskin di antaramu” (Ul 15:4). Seperti itulah yang pernah dihayati oleh jemaat Kristen awal (Kis 4:32-35). Keluarga Baru yang dikehendaki oleh Yesus adalah perwujudan cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama.

5.Sudahkah keluargaku, lingkungan, komunitasku, dan Gerejaku menjadi perwujudan Keluarga Baru yang dikehendaki Tuhan Yesus?

Selasa, 23 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Senin, 22 Januari 2018

Renungan Harian GML : Kekuatan Setan Telah Diikat oleh Yesus

Bacaan Liturgi 22 Januari 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa III
PF S. Vinsensius, Diakon dan Martir
Bacaan Injil
Mrk 3:22-30
Kesudahan setan telah tiba.

Pada suatu hari datanglah ahli-ahli Taurat dari Yerusalem,
dan berkata tentang Yesus, "Ia kerasukan Beelzebul!" 
Ada juga yang berkata, 
"Dengan penghulu setan Ia mengusir setan."
Maka Yesus memanggil mereka, 
lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan, 
"Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?
Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, 
kerajaan itu tidak dapat bertahan,
dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, 
rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri, 
kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, 
malahan sudahlah tamatlah riwayatnya!

Camkanlah,
Tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat,
untuk merampas harta bendanya, 
kecuali kalau ia mengikat lebih dahulu orang kuat itu. 
Lalu barulah ia dapat merampok rumah itu.
Aku berkata kepadamu: 
Sungguh, semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, 
ya, semua hujat yang mereka ucapkan.
Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, 
ia tidak mendapat ampun untuk selama-lamanya, 
sebab dosa yang dilakukannya adalah dosa kekal."
Yesus berkata demikian karena mereka bilang
bahwa Ia kerasukan roh jahat.


Renungan : 
Tuhan Yesus memberikan perumpamaan, “Tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.” 
Dalam perumpaan ini ada beberapa gambaran. Pertama, ada orang kuat. Kedua, orang kuat itu punya rumah. Ketiga, orang kuat itu punya harta benda yang berada di dalam rumah itu. Tak seorang pun dapat merampas harta benda itu, kecuali, bila terlebih dahulu orang kuat itu diikat.
Jika orang kuat itu adalah setan, lalu rumahnya adalah dunia ini, harta bendanya adalah semua hal yang terpengaruh oleh kejahatan dan kegelapan, maka yang bisa mengikat setan dan merampas harta bendanya adalah Yesus. Dengan jelas Yesus menunjukkan diri-Nya berkuasa atas orang-orang sakit dan orang-orang yang kerasukan setan. Yesus menyembuhkan orang-orang sakit. Yesus mengusir roh-roh yang merasuki orang. Manusia yang selama ini menjadi harta benda setan telah diambil alih oleh Yesus. Kegelapan dan dosa yang menguasai manusia dihapus oleh Yesus. Untuk dapat mengambil harta benda itu, Yesus masuk ke dunia, dunia yang telah dijadikan oleh setan sebagai rumah kediaman. Yesus mengikat setan dengan segala kekuatannya. Yesus membuat setan tidak berdaya. Yesus membuat kekuatan dan pengaruh setan tidak berfungsi. 
Kini kita manusia yang hidup di dunia, yang percaya kepada Yesus, terbebas dari kuasa kegelapan. Kita orang beriman dapat dengan bebas melakukan kebaikan karena kita telah menjadi harta Kristus. Kita telah dibebaskan dari rasa takut terhadap pengaruh dan daya kegelapan setan. Kekuatan setan telah diikat oleh Yesus. Kita telah menjadi harta Yesus. 

Rm Supriyono Venantius SVD

Minggu, 21 Januari 2018

Renungan Harian GML : DIPANGGIL UNTUK DIUTUS


DIPANGGIL UNTUK DIUTUS 

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi pada hari Minggu Biasa ke-3 Tahun B. Minggu yang lalu oleh Penginjil Yohanes kita diajak bersama dengan Andreas dan murid yang lain untuk mengikuti Yesus dan mengetahui di mana Yesus tinggal. Hari ini kita diajak oleh Penginjil Markus untuk melihat bagaimana Yesus sendiri mengajak Andreas dan Simon serta Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus untuk mengikuti Dia. Kisah panggilan murid-murid yang pertama itu ditempatkan oleh Penginjil Markus di dalam konteks Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil yakni bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan maka perlu bertobat dan percaya kepada Injil. Ada dua peristiwa yang terjadi: Yesus mewartakan pertobatan dan Yesus memanggil murid-murid untuk mengikuti-Nya. Kedua peristiwa itu bertautan satu dengan yang lain. Pewartaan tentang pertobatan menghendaki adanya murid-murid yang mau untuk mendengarkan dan menanggapi; sedangkan panggilan murid-murid untuk mengikuti Yesus berarti panggilan untuk bertobat. Bertobat adalah kemauan untuk mau berubah, bertransformasi dari kebiasaan manusia lama menjadi baru yang lebih sesuai dengan kehendak Allah: bersikap dan berbuat tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga kepentingan orang lain, bukan hanya berbuat untuk sesuatu yang sifatnya sementara duniawi tetapi yang memperhatikan kebutuhan kelak dalam hidup abadi. 

Bacaan pertama menyampaikan bagaimana Yunus diutus untuk mewartakan pertobatan kepada orang-orang Niniwe. Tiga hari Yunus berjalan menyusuri jalan kota Niniwe sambil menyerukan pertobatan. Orang-orang Niniwe percaya, berpuasa, dan berubah dari perbuatannya yang jahat kembali kepada jalan Tuhan. Orang-orang Niniwe dilepaskan dari ancaman hukuman Tuhan. Santo Paulus dalam bacaan kedua mengajak orang-orang Korintus untuk tidak berhenti pada mencari kesenangan atau bahkan kenikmatan dunia semata. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang ini akan berlalu. Bertobat dan mengikuti panggilan Tuhan sungguh-sungguh sangat penting. 

Saudari-saudara, pada suatu waktu ada orang yang datang dan bertanya jika mimpinya merupakan panggilan Tuhan. Ia bukan seorang katolik ataupun kristen. Yang mengganggu pikiran hatinya adalah bahwa di dalam mimpinya, ia berjumpa ataupun melihat wajah Yesus yang menyatakan kepadanya supaya mengikuti Dia. Mengapa bukan seorang tokoh dalam agamanya tetapi Yesus yang muncul menemuinya? Sayapun mengklarifikasi kalau apa yang dimaksud dengan panggilan bagi dia. Dia katakan apakah dengan ajakan itu ia harus mau menjadi katolik atau kristen. “Mungkin,” kata saya. Namun jika mimpi itu mau ditafsirkan sebagai panggilan, kiranya pertama-tama bukan soal menjadi katolik atau kristen melainkan supaya “ikut Yesus” yakni menjadi lebih baik seperti Yesus. Bertobat yang berarti membaharui diri harus dan bisa dilakukan siapa saja, sedangkan untuk menjadi katolik perlu belajar. Jika merasa dan yakin bahwa cara kehidupan dan kebaktian gereja katolik sangat cocok bagi dirinya dalam mewujudkan sikap dan tindakan melaksanakan kehendak dan kebaikan Tuhan; saat itulah orang bisa memilih untuk menjadi katolik. 

Saudari dan saudara sekalian, apakah kita sebagai orang katolik sungguh merasa bahwa hidup kita adalah panggilan? Mungkin kita tidak pernah bermimpi ketemu Yesus, tetapi kita telah percaya dan diteguhkan melalui pembaptisan bahwa kita ini anggota Tubuh Kristus. Dengan kesungguhan dan ketulusan mendengarkan Sabda dan menyambut kehadiran-Nya dalam Ekaristi dan dalam kesetiaan serta ketekunan membangun persekutuan hidup dalam kerukunan persaudaraan sebagai murid-murid Yesus dan sesama manusia; kita mewujudkan panggilan kristiani kita. Kitalah orang-orang terpanggil dan terutus. Kita bhinneka kita Indonesia: dalam keragaman dan kepelbagaian kita tetap bersatu juga. Amalkan Pancasila dan teguhkan persatuan dan kesatuan. Tuhan memberkati kita. 

Oleh : Rm. Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 20 Januari 2018

Renungan harian GML : Orang Gila dr Nazaret

Sabtu, 20 Januari 2018, Sabtu Biasa II
Bacaan: 2 Sam 1:1-4.11-12.19.23-27; Mzm 80:2-3,5-7; Mrk 3:20-21;

Bacaan Injil:
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Renungan:
Seorang imam pernah menulis sebuah buku berjudul Orang Gila dari Nazaret. Yang dimaksud dengan orang gila ini tentu adalah Yesus sendiri. Tetapi, makna gila di sini lain. Pada bacaan Injil, keluarga Yesus menganggap Yesus sudah gila alias tidak waras. Sementara, kata gila di dalam buku ini lebih menyiratkan kekaguman pribadi pada Yesus. Ucapan dan tindakan Yesus memang gila, di luar batas kewajaran, tetapi justru dalam arti yang sangat positif. Siapa sih yang mau menyerahkan nyawa untuk disalib kalau bukan orang gila? Siapa yang omong soal roti hidup ketika sedang kelaparan kalau bukan orang gila?
Para pendengar Yesus memang dapat terbagi menjadi dua bagian: mereka yang memahaminya dan mereka yang tidak memahaminya. Kedua kelompok mungkin akan sama-sama menyebut Yesus gila, tetapi dalam dua arti yang berkebalikan di atas. Mereka yang memahami ajaran Yesus akan menganggap-Nya gila, dengan kagum dan takjub, dan mungkin lalu akan mengikuti kegilaan itu. Mereka yang tidak memahami perkataan-Nya akan menganggap-Nya gila dan tak waras lagi, dan lalu meninggalkan Dia.
Sepanjang sejarah, kita melihat betapa pribadi, kata-kata dan tindakan Yesus telah menjadi bahan perdebatan di banyak kalangan. Gila bukan! Semasa hidup-Nya, Ia berdebat dengan orang Farisi dan ahli Kitab. Demikian para murid-Nya berdebat dan mempertahankan iman mereka. Para cendekiawan Yahudi, Muslim, dan Kristen tanpa henti berdiskusi dan berdebat mengenai topik ini. Sementara para martir dan orang kudus banyak yang bersedia mati demi iman kepada-Nya. Gilaa!!!
Kita sebagai pengikut Yesus juga dipanggil untuk menjadi gila (dalam arti yang positif). Jika kita hanya hidup biasa-biasa saja, suam-suam kuku, dan tidak melakukan sesuatu yang gila, kita belum sungguh memahami ajaran-Nya. Tindakan gila itu dapat bermacam-macam, bahkan sederhana. Misalnya, menentang korupsi yang ada di instansi atau lembaga tertentu; mengajar anak-anak jalanan tanpa dibayar; menjadi katekis sukarela; dsb.

Fr A.  Wahyu Dwi A.  SJ

Jumat, 19 Januari 2018

Renungan Harian GML : YESUS MEMILIH DUABELAS RASUL



BACAAN
1Sam 24:3-21 – “Aku tidak akan menjamah Saul, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan”

Mrk 3:13-19 – “Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia”

RENUNGAN
1.Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa. Kemudian Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Mereka pun datang dan mengikuti Dia. Kemudian Yesus memilih dua belas orang yang disebutnya rasul. Tugas mereka: Pertama,  menyertai Dia dan tinggal bersama Dia untuk membentuk komunitas baru dan Yesus sebagai pusatnya. Kedua, memberitakan Injil. Mereka adalah saksi-saksi kebangkitan Tuhan. Ketiga, diberi kuasa untuk mengusir setan. Roh-roh jahat inilah yang membelenggu dan memperbudak manusia serta menjauhkannya dari Allah.

2.Dua belas rasul merupakan orang-orang lingkaran dalam. Mereka adalah pondasi komunitas baru, yang juga disebut Israel Baru. Angka 12 mewakili 12 suku Israel. Dengan demikian komunitas baru terbentuk. Komunitas yang tumbuh dan berkembang di sekitar Yesus selama tiga tahun. Sifat dari komunitas baru ini adalah terus tumbuh, berorientasi kerasulan, dan masuk di antara orang-orang miskin di Galilea dan sekitarnya.

3.Sebagai rasul, mereka memiliki komitmen tegas dan pasti dalam mengikuti Kristus. Mereka mengidentifikasi diri seutuhnya dengan Kristus. Mereka adalah alter Kristus (Kristus yang lain – kembaran Kristus). Diteguhkan oleh pesan-pesan Yesus, mereka menjadi bentara Kabar Gembira Kerajaan Allah.

4.Kita juga telah dipilih dan ditetapkan menjadi murid Yesus di jaman sekarang ini. Kita telah menjawab dan memberikan diri untuk mengikuti-Nya. Kita juga telah diberi kuasa, yakni kekuatan Roh Kudus supaya kita selalu terarah kepada Tuhan Yesus yang telah memilih kita. Kesatuan budi dan hati dengan Yesus harus selalu kita jaga, karena bahaya semakin besar yang ingin memisahkan kita dari Yesus.

5.Dengan cara apa kita menjaga kesatuan dengan Kristus?

Jumat, 19 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Kamis, 18 Januari 2018

Renungan Harian GML : YESUS BERKUASA ATAS ROH-ROH JAHAT


BACAAN
1Sam 18:6-9; 19:1-7 – “Saul berikhtiar membunuh Daud”

Mrk 3:7-12 – “Roh-roh jahat berteriak, ‘Engkaulah Anak Allah.’ Tetapi dengan keras Yesus melarang memberitahukan siapa Dia”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja Semesta mengawali Pembukaan Doa Sedunia Umat Kristiani.

2.Setelah Yesus berselisih dengan para pemimpin keagamaan di sinagoga, Yesus menyingkir ke daerah sekitar danau Galilea. Ketika Yesus mengajar dan menyembuhkan orang-orang sakit, Ia memikat sangat banyak orang dari berbagai wilayah Galilea, Yerusalem, Tirus dan Sidon, Idumea, dan dari seberang Yordan. Mereka berdesak-desakan ingin melihat dan menjamah Dia. Situasi ini sangat berbahaya bagi Yesus.

3. Agar supaya tidak terhimpit oleh kepentingan mereka, Yesus minta perahu para muridNya. Dari perahu, Yesus mengajar mereka. Mereka yang diasingkan  oleh masyarakat diterima oleh Yesus, dan mereka mencari keselamatan dalam diri Yesus, tetapi orang-orang Parisi dan para pemimpin keagamaan berusaha membunuh Yesus (Mrk 3:6).

4.Pengusiran roh-roh jahat mendapat tempat penting dalam Injil Markus. Mukjijat pertama dalam Injil Markus adalah mengusir roh jahat (Mrk 1:25). Kekuatan yang diterima pertama kali oleh para murid adalah kekuasaan untuk mengusir setan (Mrk 16:17).

5.Ketika roh-roh jahat melihat Yesus, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” Dengan menyebut Yesus sebagai Anak Allah, roh-roh jahat berusaha untuk menguasai Yesus, tetapi Yesus membungkam usaha mereka. Dengan membungkam roh-roh jahat, Yesus berkuasa atas mereka.

6.Pada jamannya Markus, ketakutan terhadap roh-roh jahat makin kuat berkembang. Sedangkan maksud kedatangan Yesus adalah untuk membantu  orang-orang agar mereka mampu membebaskan diri dari ketakutan tesebut. Kedatangan Kerajaan Allah sama dengan kedatangan kekuatan yang lebih besar, yang mampu mengatasi roh-roh jahat. Dalam Injilnya, Markus sangat menekankan kemenangan Yesus atas kekuatan jahat, dosa, dan kematian. Pesan “Yesus mengusir roh-roh jahat” selalu diulang-ulang dalam Injil Markus.

7.Apa wujud roh-roh jahat dalam kehidupan kita?

Kamis, 18 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Selasa, 16 Januari 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT



BACAAN
1Sam 16:1-13 – “Samuel mengurapi Daud di tengah saudara-saudaranya, dan berkuasalah Roh Tuhan atas Daud”

Mrk 2:23-28 – “Hari Sabat diadakan untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat”

RENUNGAN
1.Tema Injil hari ini tentang hari Sabat: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Pernyataan Yesus tersebut mengungkapkan: a) Yesus memiliki kuasa untuk mengartikan secara baru Kitab Suci Perjanjian Lama, dan b) bahwa Yesus adalah Mesias Allah.

2.Orang-orang Parisi mengkritik para murid Yesus yang memetik gandum pada hari Sabat, karena tindakan tersebut melanggar hukum Sabat (Kel 20:8-11). Hukum Sabat inilah yang telah menekan dan membebani masyarakat Israel. Kehadiran Yesus memberi arti baru tentang Sabat. Dan hal inilah yang membuat para pejabat keagamaan marah besar kepada Yesus. Marah karena mereka kehilangan pengaruh. Maka tidak ada jalan lain kecuali Yesus harus dihukum mati.

3.Relasi Yesus dengan Allah sebagai Bapa telah membuka pandangan baru. Kalau Allah adalah Bapa, maka manusia harus menjadi saudara satu sama lain. Tidak boleh ada hukum yang menekan, maka manusia harus lebih diutamakan atas hukum dan peraturan, karena manusia adalah ciptaan yang paling mulia dan nilainya paling tinggi. Kalau hukum dan peraturan cenderung menekan dan membebani manusia, maka hukum tersebut harus diubah.

4.Hukum mana yang paling membebaskan? Mengapa pada hari Minggu Anda ke Gereja?

Selasa, 16 Januari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Minggu, 14 Januari 2018

Renungan Harian GML : Apa yang Kalian Cari?

Bacaan Liturgi 14 Januari 2018

Hari Minggu Biasa II

Bacaan Injil
Yoh 1:35-42
Mereka datang dan melihat di mana Yesus tinggal,
dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia.


Sekali peristiwa
Yohanes berada di tempat ia membaptis orang di Sungai Yordan,
sedang berbincang-bincang dengan dua orang muridnya.
Ketika melihat Yesus lewat, Yohanes berkata,
"Lihatlah Anak domba Allah!"
Mendengar apa yang dikatakan Yohanes,
kedua murid itu pergi mengikuti Yesus.
Tetapi Yesus menoleh ke belakang.
Melihat bahwa mereka mengikuti Dia,
Yesus lalu berkata kepada mereka,
"Apakah yang kamu cari?"
Kata mereka kepada-Nya,
"Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?"
Yesus berkata kepada mereka
"Marilah, dan kamu akan melihatnya."
Mereka pun datang dan melihat di mana Yesus tinggal,
dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia.
Waktu itu kira-kira pukul empat.

Salah seorang dari kedua murid
yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus
adalah Andreas, saudara Simon Petrus.
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya,
dan ia berkata kepadanya,
"Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."
Lalu Andreas membawa Simon kepada Yesus.
Yesus memandang dia dan berkata,
"Engkau Simon, anak Yohanes,
engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."

Renungan

Ketika masih sekolah SD, saya berharap agar setelah lulus nanti bisa diterima di SMP impian. Lalu setelah di SMP, saya berharap nantinya diterima di SMA yang saya impikan juga. Lalu setelah di seminari, saya punya impian untuk menjadi pastor yang berguna. Sekarang setelah menjadi pastor, saya masih perlu bertanya, apa yang saya cari. Pertanyaan “apa yang saya cari” adalah pertanyaan yang selalu tetap cocok sepanjang hidup untuk direnungkan.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan pertanyaan sedana kepada dua murid Yohanes yang mengikuti Dia. Ketika Yesus mengetahui bahwa dua murid Yohanes itu mengikutinya dari belakang, Yesus menoleh dan berkata, “Siapa yang kalian cari?” Mereka ternyata sudah menemukan yang dicari yakni Yesus sendiri dan sekarang mereka ingin tahu di mana Yesus tinggal. Nantinya mereka akan tahu juga bahwa Yesus tinggal bukan di dunia ini. Yesus tinggal di Rumah Bapa, sebagaimana dinyatakan oleh Yesus di Injil Yohanes Bab 14. Yesus memanggil para murid untuk mengikuti-Nya supaya nantinya dapat tinggal bersama-Nya di Rumah Bapa.
Semua orang yang dibaptis juga dipanggil untuk mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus dalam ziarah hidup di dunia ini. Akan tetapi tujuan akhir dari peziarahan itu bukanlah dunia ini. Tujuan ziarah itu adalah Rumah Bapa. Kesadaran bahwa ziarah umat beriman adalah menuju Rumah Bapa ini perlu sekali selalu perlu disegarkan, diingat, dan dihayati lagi. Tetapi selama masih diberi kesempatan hidup sehat di dunia ini, kita juga dipanggil seperti para murid. Mereka meninggalkan Yohanes untuk mengikuti Yesus. Setelah mengikuti Yesus dan tinggal bersama Yesus, mereka mewartakan iman mereka kepada orang lain. Salah satu dari mereka adalah Andreas. Andreas pergi kepada Simon dan mewartakan Yesus, Sang Juru Selamat. Itulah panggilan hidup kita di dalam peziarahan di dunia ini. Kita hidup untuk menjadi saksi Kristus, agar semakin banyak orang mengalami damai sejahtera dalam Kristus.

Rm.  Supriyanto Venantius SVD

Sabtu, 13 Januari 2018

Renungan Harian GML : Aku datang Bukan Untuk Memanggil Orang Benar Melainkan Orang Berdosa


Sabtu, 13 Januari 2018, Sabtu Biasa I
Bacaan: 1 Sam 9:1-4.17-19; Mzm 21:2-3,4-5,6-7; Mrk 2:13-17;

Bacaan Injil:
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Renungan:
Pada 18 Maret 2013, Paus Fransiskus memilih motto kepausannya miserando atque eligendo, motto yang telah ia gunakan sejak menjabat Uskup pada tahun 1991. Motto berbahasa Latin ini berarti kurang lebih “karena memandang dengan belas kasih, Ia memilih”. Motto ini persis menunjuk pada kisah panggilan Matius sebagaimana diceritakan pada bacaan Injil hari ini. Terjemahan bebas lainnya adalah karena merasa pendosa, maka saya dipanggil. Motto ini menekankan status manusia sebagai pendosa yang tidak pantas di hadapan Allah, namun justru dipanggil-Nya menjadi partner kerja Allah.
Kita semua, tanpa terkecuali dipanggil untuk bekerja bersama Allah, untuk mewujudkan kasih di dunia, untuk menegakkan kerajaan-Nya, untuk membawa keselamatan bagi semua orang. Allah berkehendak untuk menyelamatkan manusia tetapi membutuhkan tangan manusia untuk mewujudkannya. Masing-masing dari kita dipanggil terlibat dengan cara kita masing-masing. Ada yang dipanggil menjadi guru dan menularkan ilmu serta budi pekerti bagi banyak orang. Ada yang dipanggil menjadi petani untuk mengusahkan panen yang baik bagi kesejahteraan bersama. Ada yang dipanggil menjadi pejabat pemerintahan untuk mengurus kepentingan umum. Masing-masing dari kita mesti sadar akan peran dan tugas masing-masing.
Kita dipilih Allah bukan karena kita pantas dan tanpa cacat. Yesus juga tidak memilih orang-orang yang sempurna menjadi rasul-Nya. Kita dipilih justru karena kita pendosa dan merasa diri pendosa. Bahkan Paus sendiri, yang adalah pemimpin kita di dunia, masih merasa diri sebagai pendosa. Namun, ia merasa bahwa justru karena itu ia dipilih.
Selain kerendahan hati mengakui diri berdosa, kesiapsediaan juga menjadi kunci. Matius (Lewi) begitu saja meninggalkan bangku pemungut cukai dan mengikuti Yesus ketika Ia memanggilnya. Tanpa berpikir dua kali, ia menyerahkan diri sepenuhnya bagi pelayanan. Dengan kata lain, bukan keterampilan atau kepandaian yang Allah butuhkan, melainkan kesediaan untuk bekerja dan keterbukaan pada Allah.
Tugas kita sebagai orang Katolik, dengan demikian, adalah menyadari keberdosaan dan kekurangan kita tetapi sekaligus bersyukur bahwa kita dipilih Allah masuk dalam kawanan-Nya. Selain itu, kita juga harus menyadari peran dan tugas kita di dunia ini, apa yang Allah inginkan dariku sebagai perpanjangan tangan-Nya.

Fr Wahyu Dwi Anggoro SJ

Jumat, 12 Januari 2018

Renungan Harian GML : MENJADI PEMBAWA TANDU BAGI ORANG LUMPUH



BACAAN
1Sam 8:4-7.10-22a – “Kamu akan berteriak karena rajamu, tetapi Tuhan tidak akan menjawab kamu”

Mrk 2:1-12 – “Di dunia ini Anak Manusia memiliki kuasa mengampuni dosa”

RENUNGAN
1.Seorang lumpuh benar-benar membutuhkan penyembuhan dari Tuhan Yesus. Dari diri sendiri, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengandalkan orang lain, yaitu pengusung tandu, untuk membawanya kepada Yesus. Dengan tekad yang besar dan tanpa ragu, mereka membuka atap dan menurunkan orang lumpuh tersebut persis di depan Yesus. Selanjutnya Injil menulis: “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

2.Sabda Yesus tersebut juga ditujukan kepada kita. Yesus mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri dan Yesus memberi apa yang benar-benar kita butuhkan.

3.Sebagian orang jaman sekarang nampak bahagia dengan pekerjaan yang bagus, pendapatan yang stabil, dan terlibat di sejumlah bidang organisasi. Memang, dari luar nampak indah, tetapi banyak dari antara mereka yang jiwanya kering, hatinya hampa, bahkan rohaninya mati. Mereka tengah mencari Tuhan dan Gereja-Nya, dan belum menemukan karena banyak halangan dari dalam diri mereka. Mereka ini dapat digolongkan sebagai orang yang lumpuh.

4.Kita dipanggil  untuk memiliki iman akan Allah yang hidup, berkesempatan untuk bisa berjumpa dengan Allah. Terhadap orang yang lumpuh, kita dipanggil untuk menjadi alat di tangan Tuhan. Kepada mereka, kita dipanggil untuk membagikan iman kita. Mereka minta kepada kita untuk menjadi pembawa tandu bagi mereka dan membawa kepada Yesus untuk memperoleh penyembuhan dan pengharapan (1Petr 3:15).

5.Namun seringkali kita mempunyai halangan  untuk menjadi pembawa tandu. Halangan tersebut: kita harus meninggalkan kenyamanan kita,  disibukkan oleh berbagai urusan tanpa henti. Dalam keadaan apa pun, kita mempunyai kewajiban untuk menjadi pembawa tandu bagi orang-orang lumpuh. Pembawa tandu dalam Injil hari ini menjadi contoh komitmen sejati terhadap kebutuhan orang lain. Mereka juga jeli melihat kesempatan dan memanfaatkannya.

6.Bagaimana kalau kita sendiri  orang lumpuh?

Jumat, 12 Januari 2018 -
Rm Maxi Suyamto

Kamis, 11 Januari 2018

Renungan Harian GML : KALAU ENGKAU MAU, SAPALAH AKU !



BACAAN
1Sam 4:1-11 – “Orang-orang Israel terpukul kalah, dan tabut Allah dirampas”

Mrk 1:40-45 – “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

RENUNGAN
1.Seorang kusta datang kepada Yesus dan minta ditahirkan. Orang kusta merupakan kelompok yang disingkirkan, dianggap najis, maka ia harus tinggal jauh dari masyarakat. Setiap orang yang menyentuh orang kusta, ia juga akan dianggap najis. Namun orang kusta tersebut memiliki nyali besar untuk melanggar norma-norma agama agar mampu mendekati Yesus. Ia berseru: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

2.Kata-kata si kusta kepada Yesus tersebut merupakan ungkapan iman yang besar kepada-Nya. Yesus tergerak hati-Nya, maka Ia menyembuhkann orang kusta tersebut dengan menjamahnya dengan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

3.Yesus tidak hanya menyembuhkan secara phisik, tetapi menghendaki agar orang tersebut mampu hidup dalam persaudaraan dengan orang lain. Tetapi orang kusta yang sudah sembuh tersebut harus mendapatkan sertipikat dari imam, bahwa ia sudah sembuh, karena hanya imam yang menentukan apakah orang itu sudah tahir atau masih najis (Im 14:2-32).

4.Kembali kepada permohonan orang kusta: “Kalau Engkau mau.” Permohonan tersebut merupakan pelajaran bagi kita tentang arti sebuah doa. Dalam doa tersebut, orang kusta mengakui kebebasan Yesus untuk menyembuhkan. Dan ia percaya bahwa Yesus memiliki kemampuan untuk menyembuhkan: “Engkau dapat mentahirkan aku.” Doa berarti mengakui ketergantungan kita pada Allah, namun juga mengakui kebebasan Allah, dan juga memiliki kepercayaan bahwa Allah dapat melakukan apa yang menurut kita tidak mungkin.

5.Banyak orang, dalam hati, memohon kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang dijauhi oleh masyarakatnya, bahkan bisa juga mereka adalah anggota  keluarga kita sendiri. Pasti mereka mengalami kesesakan, bahkan kepedihan. Dalam hati, mereka memohon: “Kalau engkau mau, sapalah aku.” Sebenarnya cukup dengan kemauan dan tindakan kita, dengan menyapa, maka banyak orang bisa kita sembuhkan.

Kamis, 11 Januari 2018, 
Rm Maxi Suyamto

Rabu, 10 Januari 2018

Renungan Harian GML : “Menyembuhkan dan Memberitakan Injil”

10 Januari 2018

Mrk 1:29-39
“Menyembuhkan dan Memberitakan Injil”

Bacaan Injil hari ini dapat dibagi menjadi 3 bagian:
(1)Mrk 1:29-31 : Yesus menyembuhkan Ibu mertua Simon
(2)Mrk 1:32-34 : Yesus menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan
(3)Mrk 1:35-39 : Yesus memberitakan Injil
Mari kita bahas satu per satu dan mencoba mencari maknanya bagi hidup kita saat ini.

(1) Mrk 1:29-31 (Yesus menyembuhkan Ibu mertua Simon)
Mari kita melihat apa yang dilakukan Yesus dalam perikop ini.
Ay. 29: Sekeluar dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.
(a)Ay. 30: “Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.”  —> Yesus mendengarkan [tindakan 1]
(b)Ay. 31a : “Ia pergi ke tempat perempuan itu.”  —> Yesus pergi (jalan) [tindakan 2]
(c)Ay. 31b : “Sambil memegang tangannya [tindakan3] Ia membangunkan dia [tindakan 4].”
 Ay. 31c : Lalu lenyaplah demamnya [mukjizat terjadi].
 Ay. 31d : Kemudian perempuan itu melayani mereka [melayani].

Dari ayat 30-31, kita bisa menemukan paling tidak 4 tindakan sederhana Yesus untuk menyembuhkan Ibu mertua Simon (mendengarkan, pergi/jalan, memegang tangan, membangunkan). Tidak ada hal-hal yang istimewa. Apa yang dilakukan Yesus hanyalah hal-hal sederhana sehari-hari. Dari sini, kita dapat melihat bahwa “Mukjizat bukanlah hal-hal yang besar, istimewa, atau bahkan bombastis.” Tidak! Tidak sama sekali! Mukjizat berasal dari hal-hal sederhana sehari-hari. Namun yang harus diingat, di sana ada Yesus. Itulah inti dari sebuah mukjizat, “Yesus.” Yesus yang membawa “mukjizat” dalam bentuknya yang paling sederhana.

Lalu, “Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini?” (1) Mungkin hidup kita biasa-biasa saja, tidak ada yang berubah, bahkan kadangkala hidup terasa berat dan kita rindu “mukjizat.” Jika belajar dari Injil hari ini, maka yang dibutuhkan bukanlah hal-hal besar dalam hidup kita, melainkan “Yesus.” Jika kita menghadirkan Yesus dalam hidup kita sehari-hari, di sana hadir sebuah “mukjizat”. Mungkin, hidup kita tetap seperti biasa, tidak ada yang berubah, dan mungkin beban hidup tetap ada atau bahkan lebih berat. Namun, jika ada “Yesus” di sana, kita percaya bahwa Yesus pun “mendengarkan, berjalan bersama kita, memegang tangan kita, dan menguatkan kita untuk berdiri lagi untuk menghadapi segala kesulitan dalam hidup kita.” Itulah mukjizat! Kita berani bangun lagi (menghadapi persoalan hidup kita sehari-hari) dan berusaha melayani sesama yang ada di sekitar kita, seperti apa yang terjadi dengan Ibu mertua Simon “hari ini”.

(2) Mrk 1:32-34 (Yesus menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan)
Dalam bagian ini, “dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.” (Mrk 1:32-33) Dari sini kita dapat menemukan bahwa berita “Mukjizat Yesus” itu cepat tersebar di seluruh kota. Akhirnya, semua yang sakit dan kerasukan setan dibawa kepada Yesus. Yesus menjadi “orang terkenal” kali ini. Namun yang menarik, di ayat 34, Yesus tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara mengenai “Siapa Yesus ini”, sebab setan-setan ini mengenal Yesus.

Dari sisi narasi, ayat 34 ini sungguh menarik: (1) Yesus melarang setan untuk mewartakan siapa diri-Nya yang sesungguhnya; (2) Namun sebenarnya di awal Injil Markus (Mrk 1:1) sudah tertulis secara eksplisit, siapa Yesus itu, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Jadi, pembaca pun sudah tahu bahwa yang dikisahkan ini adalah Yesus, Sang Kristus (Mesias / Penyelamat, Anak Allah). Lalu, yang menjadi pertanyaan, “Mengapa Yesus melarang setan-setan ini mewartakan diri-Nya?”

Kemungkinan jawaban yang bisa diajukan: (1) Bagaimana mungkin “setan” (yang-jahat) ini justru mewartakan Yesus itu sendiri (Sang Kebaikan Sejati). Sebuah kontradiksi (paling tidak jika dipandang dalam perikop ini); (2) Biarkan apa yang dilakukan Yesus itu menjadi “Warta Kabar Gembira” itu sendiri dan mengungkapkan siapa Yesus itu sendiri; dan yang terakhir, salah satu yang paling penting, (3) Yesus tampaknya tidak ingin mengaitkan identitas diri-Nya sebagai Kristus (Mesias / Sang Juruselamat) hanya dikaitkan dengan “Mukjizat”. Identitas-Nya sebagai Kristus, tidak berakhir pada “Mukjizat”, melainkan hingga di atas kayu salib, mati dan bangkit. Jadi, secara tidak langsung, untuk pembaca saat ini, Markus mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada cerita mukjizat ini saja, melainkan ia mengajak kita untuk melihat Yesus lebih jauh lagi, hingga kematian dan kebangkitan-Nya nanti.

(3) Mrk 1:35-39 (Yesus memberitakan Injil)
Lalu, pagi-pagi benar (setelah semua mukjizat yang terjadi), Yesus pergi ke tempat sunyi dan pergi berdoa (ay. 35). Sebuah tindakan sederhana yang mengingatkan kita bahwa kita tetap membutuhkan “tempat sunyi” dan “doa” di tengah-tengah kesibukan kita. Dan Yesus sendiri yang memberikan contohnya bagi kita “hari ini”.

Lalu di ayat 36-37, kita menemukan bahwa Simon dan kawan-kawannya mengatakan kepada Yesus bahwa semua orang mencari-Nya. Namun menarik tanggapan Yesus di ayat 38, “Marilah kita pergi ke tempat lain [...] supaya di sana juga Aku memberitakan Injil.” Di sini, Yesus lagi-lagi ingin menekankan bahwa Ia tidak ingin menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat-Nya karena itu Ia malah memilih tuk pergi ke tempat lain. Mukjizat bukanlah tujuan utama kehadiran-Nya di tengah-tengah dunia. Pertama-tama Ia ingin “memberitakan Injil” (ay.38) – mewartakan kabar gembira – bahwa Ia adalah Kristus (Mesias / Sang Juru Selamat), namun bukan seorang “tukang mukjizat” (mukjizat hanya salah satu karya-Nya namun bukan yang terpenting dan satu-satunya), melainkan Ia adalah seorang Mesias yang akan mati di kayu salib; seorang Mesias yang juga mau merasakan penderitaan manusia, bahkan dalam penderitaan yang mengerikan dan mati di sana. Mesias kita bukan seorang Mesias yang hanya “menyembuhkan penderitaan”, melainkan “mau menderita pula bersama-sama dengan kita”. Ia adalah seorang Mesias yang mau merasakan penderitaan kita dan tidak lari dari penderitaan (dan memohon mukjizat), melainkan menghadapinya dengan percaya bahwa “penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari hidup ini.” Itulah Yesus yang ingin diwartakan dalam Injil hari ini.

Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

Senin, 08 Januari 2018

Renungan Harian GML : PESTA PEMBAPTISAN TUHAN



BACAAN
Yes 55:1-11 – “Marilah dan minumlah! Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup”

Mrk 1:7-11 – “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan, ketika Yesus dipabtis oleh Yohanes di sungai Yordan. Kita diingatkan kembali akan pembaptisan yang telah kita terima.

2.Ketika Yesus dibaptis, “langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Langit terkoyak hendak mengatakan sebuah kiasan tentang kedatangan Allah ke dalam sejarah manusia. Burung merpati melambangkan aktifitas Roh Allah dan juga kedatangan Roh Allah yang memberi kekuatan.

3.Kehadiran Roh Kudus dalam diri Yesus berarti Yesus diberi kuasa dan status-Nya sebagai Anak Allah dikukuhkan. Puncak peristiwa pembaptisan adalah suara dari sorga: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Kalimat tersebut merupakan kombinasi dua teks Perjanjian Lama. Pertama: “AnakKu Engkau” (Mzm 2:7) – menunjuk pada Daud sebagai raja. Kedua, dari  Kitab Yesaya: “Itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepada-Nya Aku berkenan” (42:1) – menunjuk Hamba Yahwe. Dari kedua kutipan itu, Yesus dikukuhkan sebagai Raja dan Hamba Tuhan.

4.Bagaimana dengan pembaptisan kita? Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan keluhuran martabat kita sebagai anak-anak Allah, berkat Sakramen Baptis. Dengan pembaptisan, kita telah menyatakan tobat untuk meninggalkan segala yang bukan Allah, dan memenuhi diri kita dengan segala hal yang menyenangkan hati Allah. Kita dipanggil untuk bersama Yesus tenggelam dalam   lautan belas kasih Allah, sehingga kita boleh keluar sebagai anak-anak Allah yang bermandikan cahaya kemuliaan.

5.Namun kita masih hidup di dalam dunia ini dengan berbagai tawarannya, dunia yang menipu dan membutakan banyak orang, dengan berbagai berhala yang dengan angkuhnya menjanjikan kesempurnaan bilamana manusia memilikinya.

6.Yang harus kita ingat bahwa kesempurnaan kemanusiaan kita hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Kesempurnaan kemanusiaan kita tidak terletak dalam memiliki segala, melainkan dalam melepaskan segala. Apa pun yang diletakkan Tuhan ke dalam tangan kita, kita jadikan kurban yang harum dan berkenan di hati Allah. Kesejatian hidup hanya bisa ditemukan di dalam panggilan untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya kita. Sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba-hamba Allah yang setia, mengingini apa yang Tuhan ingini, mencintai apa yang Tuhan cintai. Kita dipanggil untuk melihat segala yang kita miliki bukan sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan dalam semangat pengosongan diri. OK?

Senin, 8.1.2018
Rm Maxi Suyamto

Minggu, 07 Januari 2018

Renungan Harian GML : Apakah peristiwa alam yang saya alami setiap hari membuat saya mengagumi Tuhan?

Bacaan Liturgi 07 Januari 2018

Hari Raya Penampakan Tuhan

Bacaan Injil
Mat 2:1-12
Kami datang dari timur untuk menyembah Sang Raja.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Pada zaman pemerintahan Raja Herodes,
sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea, 
datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.
Mereka bertanya-tanya,
"Di manakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? 
Kami telah melihat bintang-Nya di Timur 
dan kami datang untuk menyembah Dia."
Mendengar hal itu, 
terkejutlah raja Herodes beserta seluruh Yerusalem.
Maka dikumpulkannya 
semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, 
lalu dimintanya keterangan dari mereka, 
di mana Mesias akan dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya,
"Di Betlehem di tanah Yudea, 
karena beginilah ada tertulis dalam kitab nabi:
Dan engkau, Betlehem di tanah Yehuda, 
engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil 
di antara mereka yang memerintah Yehuda, 
karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, 
yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu 
dan dengan teliti bertanya kepada mereka
kapan bintang itu nampak.
Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya,
"Pergilah,
dan selidikilah dengan seksama hal-ikhwal Anak itu!
Dan segera sesudah kamu menemukan Dia, 
kabarkanlah kepadaku,
supaya aku pun datang menyembah Dia."
Setelah mendengar kata-kata raja Herodes, 
berangkatlah para majus itu.
Dan lihatlah, 
bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka 
hingga tiba dan berhenti di atas tempat
di mana Anak itu berada.
Melihat bintang itu,
sangat bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu,
dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya.
Lalu mereka sujud menyembah Dia. 
Mereka pun membuka tempat harta bendanya 
dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu,
yaitu emas, kemenyan dan mur.
Kemudian, karena diperingatkan dalam mimpi
supaya jangan kembali kepada Herodes, 
mereka pun pulang ke negerinya lewat jalan lain.

Renungan
Orang-orang majus dibimbing oleh bintang sampai ke Yerusalem untuk mencari raja yang dilahirkan. Mereka menanyakan di mana tempat raja itu dilahirkan. Para ahli Taurat tahu ramalan akan lahirnya raja itu. Mereka tahu bahwa ramalan itu ada di dalam Kitab Suci. Mereka membuka Kitab Nabi Mikha. Dalam Kitab Nabi Mikha ditemui ramalan itu yang bunyinya: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. (Mik 5:1). Para majus pun mengikuti petunjuk Kitab Suci itu, pergi ke Betlehem. Lalu bintang yang mereka lihat itu berhenti di tempat  Yesus berada.  Mereka masuk ke rumah itu dan menjumpai Anak itu. Mereka sujud kepada-Nya dan memberikan persembahan kepada-Nya.
Melihat gejala alam para majus itu mengadakan peziarahan. Dalam ziarah itu mereka mengikuti petunjuk Kitab Suci dan akhirnya menemukan Yesus. Ziarah mereka berakhir dalam sujud kepada Yesus. Itulah tujuan seluruh peziarahan umat manusia. Bergulat dengan gejala alam manusia diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci untuk menemukan Yesus. Hanya Yesus yang bisa merajai hati manusia untuk menemukan keselamatan. 
Apakah peristiwa alam yang saya alami setiap hari membuat saya mengagumi Tuhan? Sudahkah saya mencari jawaban kekaguman saya itu dengan menyelidiki Sabda Tuhan dalam Kitab Suci?

Rm Supriyono Venantius SVD

Sabtu, 06 Januari 2018

Renungan Harian GML : PEMBAPTISAN YESUS



BACAAN
1Yoh 5:5-13 – “Kesaksian tentang Anak Allah”

Mrk 1:7-11 – “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”

RENUNGAN
1.Perikope Injil hari ini melanjutkan tentang Yohanes Pembaptis yang meneruskan kotbahnya, tetapi secara khusus menunjuk yang datang sesudahnya, yang lebih berkuasa daripada dia. Yohanes juga menunjuk perbedaan antara baptisan yang ia berikan dengan baptisan yang diberikan oleh Yesus. Baptisan Yohanes hanyalah persiapan agar orang bisa menerima “Ia yang akan datang.” “Ia yang akan datang” akan membaptis dengan Roh Kudus.

2.Pelayanan Yesus kepada publik dimulai sesudah pembaptisan-Nya. Bahkan dalam Injil Markus, baptisan Yesus terjadi sesudah Yohanes menyatakan bahwa Yesus lebih berkuasa daripadanya dan ia tidak layak melepaskan tali kasut-Nya.

3.Ketika Yesus dibaptis, “langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.” Langit terkoyak merefleksikan sebuah kiasan tentang kedatangan Allah ke dalam sejarah manusia untuk membebaskan umat-Nya. Burung merpati melambangkan aktivitas Roh Allah dan juga kedatangan Roh Kudus yang memberi kekuatan.

4.Kehadiran Roh Kudus dalam diri Yesus berarti Yesus diberi kuasa dan status-Nya sebagai Anak Allah dikukuhkan. Puncak peristiwa adalah suara dari sorga: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Kalimat tersebut merupakan kombinasi dua teks Perjanjian Lama. Pertama, ditulis dalam Mazmur: “AnakKu Engkau” (2:7) – menunjuk pada Daud sebagai raja. Kedua, dari  Kitab Yesaya: “Itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepada-Nya Aku berkenan” (42:1) – menunjuk Hamba Yahwe. Dari kedua kutipan itu, Yesus dikukuhkan sebagai Raja dan Hamba Tuhan.

5.Sesudah kematian Yesus di kayu Salib, dua peristiwa terjadi: Pertama, Bait Allah terkoyak. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak lagi tinggal dalam bangunan Bait Allah, dan menunjukkan bayangan kehancuran Bait Allah pada tahun 70. Kesimpulannya: pusat ibadat tidak lagi di Bait Allah, tetapi pada Salib. Kedua: pengakuan kepala pasukan. Ia mengakui Yesus sebagai: Anak Allah.

6.Kita yang mengakui Yesus sebagai  Anak Allah, Tuhan, dan Penyelamat, dan dibaptis, telah diangkat menjadi raja dan hamba serta anak-anak Allah. Hal ini berarti: seseorang yang percaya kepada Yesus bersedia untuk menerima bahwa penderitaan adalah bagian dari kemanusiaan kita. Bahkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan ketika kita harus memanggul salib kehidupan, kita tetap memiliki pengharapan, keberanian dan ketekunan. Suka cita dapat ditemukan bahkan di tengah penderitaan, kebahagiaan dapat ditemukan di tengah kesengsaraan dan harapan hadir dalam keputus-asaan.

7.Bagaimana pengalamanku ketika aku berada dalam kesulitan, kegagalan, penderitaan, dan tanpa harapan?

Sabtu, 6 Januari 2018
Rm Maxi Suyamto

Jumat, 05 Januari 2018

Renungan Harian GML : YESUS KRISTUS ADALAH JEMBATAN ANTARA SURGA DAN BUMI



BACAAN
1Yoh 3:11-21 – “Kita sudah berpindah dari maut ke dalam hidup, karena kita mengasihi saudara kita”

Yoh 1:43-51 – “Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

RENUNGAN
1.Yesus kembali ke Galilea. Ia berjumpa dengan Philipus dan memanggilnya: “Ikutlah Aku!” Setelah berjumpa dengan Yesus, ia mengalami sukacita dan tidak bisa tinggal diam. Ia menemui Natanael dan bersaksi tentang Yesus: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusup dari Nasaret” (ay 45). Dari ungkapan ini nampak bahwa seluruh Perjanjian Lama merujuk kepada Yesus.

2.Natanael menolak kesaksian Philipus, tetapi Philipus hanya menjawab: “datang dan lihatlah.” Selanjutnya Natanael bertanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik dari Nazaret?” Dari pertanyaan ini ada kemungkinan persaingan antara Kanaan dan Nazareth. Menurut para ahli Kitab, Mesias akan datang dari Betlehem, di Yudea. Ia tidak mungkin datang dari Nazaret , Galilea (Yoh 7:41-42).

3.Yesus melihat Natanael dan berkata: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Bagaimana dia disebut seorang Israel sejati? Karena ia menantikan Mesias menurut pengajaran resmi pada waktu itu (Yoh 7:41-42.52). Dan alasan inilah yang membuat dia tidak bisa menerima Mesias yang datang dari Nazaret. Tetapi setelah bertemu dengan Yesus, ia terbantu untuk memahami rencana Allah. Natanael mengakui kesalahannya, ia mengubah gagasannya, menerima Yesus sebagai Mesias dan mengaku: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Dengan pengakuan ini, ia “akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Itulah pengalaman iman Natanael. Yesus menjadi jembatan antara surga dan bumi.

4.Sekarang ini banyak orang yang skeptis dan sinis tentang Allah, tentang keselamatan, tentang hal-hal rohani. Hal ini menjadi lebih parah ketika hati dan pikiran mereka tertutup. Maka tugas kita adalah bertindak seperti Philipus: memberi kesaksian tentang Yesus dengan meyakinkan seperti Yesus berkata kepada Natanael: “Pertama-tama percayalah, kemudian kamu akan melihat.” Tentu kita harus memiliki iman yang mendalam seperti Philipus dan Natanael.

Jumat Pertama, Januari 2018
Rm Maxi Suyamto

Kamis, 04 Januari 2018

Renungan Harian GML : APA YANG KAMU CARI?



BACAAN
1Yoh 3:7-10 – “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi”

Yoh 1:35-42 – “Kami telah menemukan Mesias!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berkisah tentang perjumpaan Yesus dengan murid-murid-Nya yang pertama.

2.Ketika Yesus lewat, Yohanes Pembaptis berkata kepada dua muridnya: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Yohanes menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah,  karena Dialah yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa. Darah anak domba Paskah (Kel 12) telah membebaskan bangsa Israel dari kematian di Mesir. Darah Yesus, Anak Domba Paskah sejati (1Kor 5:7) telah membebaskan kita dari kehancuran dan kematian kekal.

3.Ketika Yesus menoleh ke belakang, Ia melihat dua murid Yohanes tersebut mengikuti Dia, maka Ia bertanya:”Apakah yang kamu cari?” Kepada kita masing-masing, Yesus juga selalu bertanya: “Apakah yang kamu cari?” Apakah yang saya cari dalam hidup ini?

4.Dua murid tersebut menjawab pertanyaan Yesus: “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Kita juga perlu bertanya dan mencari jawab: di mana Yesus tinggal? Yesus berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Yesus juga berkata kepada kita: “Datang dan lihatlah!” Undangan tersebut hendak menekankan bahwa Sabda-Nya adalah benar dan kekal, juga merupakan undangan persahabatan untuk selalu bersama Yesus, agar kita memiliki hidup-Nya.

5.Kedua orang tersebut pergi bersama Yesus dan tinggal bersama-Nya; mereka mengalami Yesus. Pengalaman yang harus dibagikan. Salah satu dari dua orang tersebut bernama Andreas. Andreas menemui saudaranya yang bernama Simon  dan berkata: “Kami telah menemukan Mesias.” Artinya: mereka telah menemukan identitas atau jati diri Yesus yang sebenarnya. Andreas membawa Simon kepada Yesus dan Yesus berkata: “Engkau Simon, Anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).

6.Dari bacaan Injil hari ini kita memiliki contoh evangelisasi yang sebenarnya. Pertama-tama, Andreas menemukan Yesus, tinggal bersama-Nya, datang untuk mengetahui siapa Dia dan kemudian pergi untuk menyampaikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Petrus menjadi ketagihan akan Yesus. Evanglisasi bukan mengajar agama, bukan mengajarkan dogma-dogma, melainkan menyampaikan pengalaman iman kepada orang lain. Bagaimana aku?

Kamis, 4 Januari 2018
Rm Maxi Suyamto

Rabu, 03 Januari 2018

Renungan Harian GML : SEKALI LAGI: KESAKSIAN YOHANES PEMBAPTIS TENTANG YESUS



BACAAN
1Yoh 2:29-3:6 – “Setiap orang yang tetap berada dalam Yesus tidak berbuat dosa lagi”

Yoh 1:29-34 – “Lihatlah Anak Domba Allah”

RENUNGAN
1.Teks Injil hari ini masih tentang kesaksian Yohanes Pembaptis terhadap Yesus. Antara sejarah dan simbol menjadi satu, antara apa yang dinubuatkan para nabi dan simbol, semuanya ada dalam diri Yesus. Ada lima simbol yang bermakna amat dalam: a) Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia; b) “Ia ada sebelum aku.”; c) Roh Kudus turun dalam wujud burung merpati; d) Yesus membaptis dengan Roh Kudus; e) Yesus sebagai Anak Allah. Itulah kesaksian Yohanes tentang Yesus.

a) Yesus sebagai Anak Domba Allah (Yoh 1:29). Simbol ini mengingatkan saat bangsa Israel keluar dari Mesir. Darah anak domba yang dioleskan pada ambang pintu merupakan tanda pembebasan (Kel 12:13-14). Anak Domba Allah juga menggambarkan penderitaan Hamba Tuhan, Anak Domba Paskah, domba yang dihantar ke tempat pembantaian. Ia adalah Anak Domba yang menghapus dosa- dosa dunia (1Kor 5:7; Why 5:6.9). Ia Anak Domba Allah bagi seluruh dunia.

b) “Ia ada sebelum aku” (Yoh 1:30-31). Walaupun Yesus adalah seorang manusia, Ia lebih besar daripada manusia yang paling besar, karena Ia adalah kekal. Pernyataan Yohanes ini merujuk pada Kitab Kebijaksanaan yang berbicara tentang kebijaksanaan Allah yang ada sebelum segala ciptaan dan yang bersama dengan Allah (Amsal 8:22-31). Kebijaksanaan itu adalah Sang Sabda (Yoh 1:1); Yesus Kristus.

c) Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Yoh 1:32). Roh Kudus turun atas Yesus dalam wujud burung merpati. Hal ini mengingatkan tindakan waktu penciptaan: “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej 1:2). Yesus adalah kendaraan Roh Kudus.

d) Yesus membaptis dengan Roh Kudus (Yoh 1:33). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Roh Kudus akan diutus kepada mereka dan tinggal dalam diri mereka (Yoh 14:16-17). Janji itu dipenuhi pada hari Pentekosta, sehingga para murid-Nya, dengan semangat dan hati yang berkobar, bersaksi tentang Yesus yang bakit.

e) Yesus sebagai Anak Allah (Yoh 1:34). Disebut Anak Allah, karena Ia mempunyai hubungan yang khusus dan unik dengan Allah, yang sebelumnya tidak pernah ada relasi seperti itu. Karena Yesus adalah Anak, maka Ia mampu mengatakan bahwa Allah sebagai Bapa-Nya.

2.Dengan sebutan-sebutan tersebut hendak menyatakan bahwa Yesus adalah sebuah misteri. Artinya: dengan semua sebutan yang ditulis dalam Kitab Suci belum mampu mengungkapkan seutuhnya tentang Yesus. Tugas kita adalah mendalami, meresapkan, menghayati dan mengamalkan Sabda Tuhan. Dialah sumber rahmat, damai dan cinta; Dialah kepenuhan hidup kita.

Rabu, 3 Januari 2018
Rm Maxi Suyamto

Selasa, 02 Januari 2018

Renungan Harian GML : MENJADI SAKSI KRISTUS



BACAAN
1Yoh 2:22-28 – “Apa yang telah kamu dengar harus tetap tinggal di dalam dirimu”

Yoh 1:19-28 – “Sesudah aku akan datang Dia yang sudah ada sebelum aku”

RENUNGAN
1.Injil hari ini berbicara tentang kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, Sang Mesias. Ia adalah saksi pertama tentang Yesus. Khotbahnya menarik banyak orang, namun juga membuat kegaduhan sehingga hirarki Yahudi di Yerusalem memutuskan untuk menyelidiki Yohanes.

2.Dalam penyelidikan tersebut, Yohanes mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias yang telah lama ditunggu, bukan Elia dan bukanlah seorang Nabi seperti Musa. Karena harus memberi laporan ke Yerusalem, mereka terus menginterogasi Yohanes. Yohanes menjawab dengan mengutip kata-kata nabi Yesaya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!” (40:3).

3. Orang-orang Parisi tidak puas dengan jawaban tersebut, maka mereka ingin tahu mengapa Yohanes membaptis, kalau dia bukan Mesias, bukan Elia atau Nabi? Yohanes mengatakan bahwa  dia hanya membaptis dengan air, “tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Dengan kata-kata tersebut, menyiratkan bahwa seseorang yang benar-benar seorang Nabi sedang dalam perjalanan membawa baptisan yang jauh lebih besar daripada baptisannya. Yohanes hanya mempersiapkan jalan dengan baptisan yang menekankan pemurnian dan pertobatan. Baptisan baru yang diberikan oleh Yesus akan membawa kuasa Roh Allah.

4.Ada banyak peran Yohanes Pembaptis. Ia mendhului Yesus dan mempersiapkan orang-orang untuk kedatangan-Nya. Kita juga dipanggil untuk mendahului Yesus agar orang lain mengenal Dia dan mengikuti-Nya. Kita bukanlah Cahaya tetapi kita dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Cahaya. Yesus berkata: “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12), namun Ia juga berkata kepada murid-murid-Nya: “Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:14). Apakah hidupku telah menjadi kesaksian tentang Yesus bagi orang lain?

Selasa, 2 Januari 2018
Rm Maxi Suyamto