Sabtu, 13 Januari 2018

Renungan Harian GML : Aku datang Bukan Untuk Memanggil Orang Benar Melainkan Orang Berdosa


Sabtu, 13 Januari 2018, Sabtu Biasa I
Bacaan: 1 Sam 9:1-4.17-19; Mzm 21:2-3,4-5,6-7; Mrk 2:13-17;

Bacaan Injil:
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Renungan:
Pada 18 Maret 2013, Paus Fransiskus memilih motto kepausannya miserando atque eligendo, motto yang telah ia gunakan sejak menjabat Uskup pada tahun 1991. Motto berbahasa Latin ini berarti kurang lebih “karena memandang dengan belas kasih, Ia memilih”. Motto ini persis menunjuk pada kisah panggilan Matius sebagaimana diceritakan pada bacaan Injil hari ini. Terjemahan bebas lainnya adalah karena merasa pendosa, maka saya dipanggil. Motto ini menekankan status manusia sebagai pendosa yang tidak pantas di hadapan Allah, namun justru dipanggil-Nya menjadi partner kerja Allah.
Kita semua, tanpa terkecuali dipanggil untuk bekerja bersama Allah, untuk mewujudkan kasih di dunia, untuk menegakkan kerajaan-Nya, untuk membawa keselamatan bagi semua orang. Allah berkehendak untuk menyelamatkan manusia tetapi membutuhkan tangan manusia untuk mewujudkannya. Masing-masing dari kita dipanggil terlibat dengan cara kita masing-masing. Ada yang dipanggil menjadi guru dan menularkan ilmu serta budi pekerti bagi banyak orang. Ada yang dipanggil menjadi petani untuk mengusahkan panen yang baik bagi kesejahteraan bersama. Ada yang dipanggil menjadi pejabat pemerintahan untuk mengurus kepentingan umum. Masing-masing dari kita mesti sadar akan peran dan tugas masing-masing.
Kita dipilih Allah bukan karena kita pantas dan tanpa cacat. Yesus juga tidak memilih orang-orang yang sempurna menjadi rasul-Nya. Kita dipilih justru karena kita pendosa dan merasa diri pendosa. Bahkan Paus sendiri, yang adalah pemimpin kita di dunia, masih merasa diri sebagai pendosa. Namun, ia merasa bahwa justru karena itu ia dipilih.
Selain kerendahan hati mengakui diri berdosa, kesiapsediaan juga menjadi kunci. Matius (Lewi) begitu saja meninggalkan bangku pemungut cukai dan mengikuti Yesus ketika Ia memanggilnya. Tanpa berpikir dua kali, ia menyerahkan diri sepenuhnya bagi pelayanan. Dengan kata lain, bukan keterampilan atau kepandaian yang Allah butuhkan, melainkan kesediaan untuk bekerja dan keterbukaan pada Allah.
Tugas kita sebagai orang Katolik, dengan demikian, adalah menyadari keberdosaan dan kekurangan kita tetapi sekaligus bersyukur bahwa kita dipilih Allah masuk dalam kawanan-Nya. Selain itu, kita juga harus menyadari peran dan tugas kita di dunia ini, apa yang Allah inginkan dariku sebagai perpanjangan tangan-Nya.

Fr Wahyu Dwi Anggoro SJ

0 komentar:

Posting Komentar