Rabu, 10 Januari 2018

Renungan Harian GML : “Menyembuhkan dan Memberitakan Injil”

10 Januari 2018

Mrk 1:29-39
“Menyembuhkan dan Memberitakan Injil”

Bacaan Injil hari ini dapat dibagi menjadi 3 bagian:
(1)Mrk 1:29-31 : Yesus menyembuhkan Ibu mertua Simon
(2)Mrk 1:32-34 : Yesus menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan
(3)Mrk 1:35-39 : Yesus memberitakan Injil
Mari kita bahas satu per satu dan mencoba mencari maknanya bagi hidup kita saat ini.

(1) Mrk 1:29-31 (Yesus menyembuhkan Ibu mertua Simon)
Mari kita melihat apa yang dilakukan Yesus dalam perikop ini.
Ay. 29: Sekeluar dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.
(a)Ay. 30: “Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.”  —> Yesus mendengarkan [tindakan 1]
(b)Ay. 31a : “Ia pergi ke tempat perempuan itu.”  —> Yesus pergi (jalan) [tindakan 2]
(c)Ay. 31b : “Sambil memegang tangannya [tindakan3] Ia membangunkan dia [tindakan 4].”
 Ay. 31c : Lalu lenyaplah demamnya [mukjizat terjadi].
 Ay. 31d : Kemudian perempuan itu melayani mereka [melayani].

Dari ayat 30-31, kita bisa menemukan paling tidak 4 tindakan sederhana Yesus untuk menyembuhkan Ibu mertua Simon (mendengarkan, pergi/jalan, memegang tangan, membangunkan). Tidak ada hal-hal yang istimewa. Apa yang dilakukan Yesus hanyalah hal-hal sederhana sehari-hari. Dari sini, kita dapat melihat bahwa “Mukjizat bukanlah hal-hal yang besar, istimewa, atau bahkan bombastis.” Tidak! Tidak sama sekali! Mukjizat berasal dari hal-hal sederhana sehari-hari. Namun yang harus diingat, di sana ada Yesus. Itulah inti dari sebuah mukjizat, “Yesus.” Yesus yang membawa “mukjizat” dalam bentuknya yang paling sederhana.

Lalu, “Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini?” (1) Mungkin hidup kita biasa-biasa saja, tidak ada yang berubah, bahkan kadangkala hidup terasa berat dan kita rindu “mukjizat.” Jika belajar dari Injil hari ini, maka yang dibutuhkan bukanlah hal-hal besar dalam hidup kita, melainkan “Yesus.” Jika kita menghadirkan Yesus dalam hidup kita sehari-hari, di sana hadir sebuah “mukjizat”. Mungkin, hidup kita tetap seperti biasa, tidak ada yang berubah, dan mungkin beban hidup tetap ada atau bahkan lebih berat. Namun, jika ada “Yesus” di sana, kita percaya bahwa Yesus pun “mendengarkan, berjalan bersama kita, memegang tangan kita, dan menguatkan kita untuk berdiri lagi untuk menghadapi segala kesulitan dalam hidup kita.” Itulah mukjizat! Kita berani bangun lagi (menghadapi persoalan hidup kita sehari-hari) dan berusaha melayani sesama yang ada di sekitar kita, seperti apa yang terjadi dengan Ibu mertua Simon “hari ini”.

(2) Mrk 1:32-34 (Yesus menyembuhkan banyak orang dan mengusir setan)
Dalam bagian ini, “dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.” (Mrk 1:32-33) Dari sini kita dapat menemukan bahwa berita “Mukjizat Yesus” itu cepat tersebar di seluruh kota. Akhirnya, semua yang sakit dan kerasukan setan dibawa kepada Yesus. Yesus menjadi “orang terkenal” kali ini. Namun yang menarik, di ayat 34, Yesus tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara mengenai “Siapa Yesus ini”, sebab setan-setan ini mengenal Yesus.

Dari sisi narasi, ayat 34 ini sungguh menarik: (1) Yesus melarang setan untuk mewartakan siapa diri-Nya yang sesungguhnya; (2) Namun sebenarnya di awal Injil Markus (Mrk 1:1) sudah tertulis secara eksplisit, siapa Yesus itu, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Jadi, pembaca pun sudah tahu bahwa yang dikisahkan ini adalah Yesus, Sang Kristus (Mesias / Penyelamat, Anak Allah). Lalu, yang menjadi pertanyaan, “Mengapa Yesus melarang setan-setan ini mewartakan diri-Nya?”

Kemungkinan jawaban yang bisa diajukan: (1) Bagaimana mungkin “setan” (yang-jahat) ini justru mewartakan Yesus itu sendiri (Sang Kebaikan Sejati). Sebuah kontradiksi (paling tidak jika dipandang dalam perikop ini); (2) Biarkan apa yang dilakukan Yesus itu menjadi “Warta Kabar Gembira” itu sendiri dan mengungkapkan siapa Yesus itu sendiri; dan yang terakhir, salah satu yang paling penting, (3) Yesus tampaknya tidak ingin mengaitkan identitas diri-Nya sebagai Kristus (Mesias / Sang Juruselamat) hanya dikaitkan dengan “Mukjizat”. Identitas-Nya sebagai Kristus, tidak berakhir pada “Mukjizat”, melainkan hingga di atas kayu salib, mati dan bangkit. Jadi, secara tidak langsung, untuk pembaca saat ini, Markus mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada cerita mukjizat ini saja, melainkan ia mengajak kita untuk melihat Yesus lebih jauh lagi, hingga kematian dan kebangkitan-Nya nanti.

(3) Mrk 1:35-39 (Yesus memberitakan Injil)
Lalu, pagi-pagi benar (setelah semua mukjizat yang terjadi), Yesus pergi ke tempat sunyi dan pergi berdoa (ay. 35). Sebuah tindakan sederhana yang mengingatkan kita bahwa kita tetap membutuhkan “tempat sunyi” dan “doa” di tengah-tengah kesibukan kita. Dan Yesus sendiri yang memberikan contohnya bagi kita “hari ini”.

Lalu di ayat 36-37, kita menemukan bahwa Simon dan kawan-kawannya mengatakan kepada Yesus bahwa semua orang mencari-Nya. Namun menarik tanggapan Yesus di ayat 38, “Marilah kita pergi ke tempat lain [...] supaya di sana juga Aku memberitakan Injil.” Di sini, Yesus lagi-lagi ingin menekankan bahwa Ia tidak ingin menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat-Nya karena itu Ia malah memilih tuk pergi ke tempat lain. Mukjizat bukanlah tujuan utama kehadiran-Nya di tengah-tengah dunia. Pertama-tama Ia ingin “memberitakan Injil” (ay.38) – mewartakan kabar gembira – bahwa Ia adalah Kristus (Mesias / Sang Juru Selamat), namun bukan seorang “tukang mukjizat” (mukjizat hanya salah satu karya-Nya namun bukan yang terpenting dan satu-satunya), melainkan Ia adalah seorang Mesias yang akan mati di kayu salib; seorang Mesias yang juga mau merasakan penderitaan manusia, bahkan dalam penderitaan yang mengerikan dan mati di sana. Mesias kita bukan seorang Mesias yang hanya “menyembuhkan penderitaan”, melainkan “mau menderita pula bersama-sama dengan kita”. Ia adalah seorang Mesias yang mau merasakan penderitaan kita dan tidak lari dari penderitaan (dan memohon mukjizat), melainkan menghadapinya dengan percaya bahwa “penderitaan dan kematian bukanlah akhir dari hidup ini.” Itulah Yesus yang ingin diwartakan dalam Injil hari ini.

Rm.  Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar