Sabtu, 20 Januari 2018

Renungan harian GML : Orang Gila dr Nazaret

Sabtu, 20 Januari 2018, Sabtu Biasa II
Bacaan: 2 Sam 1:1-4.11-12.19.23-27; Mzm 80:2-3,5-7; Mrk 3:20-21;

Bacaan Injil:
Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Renungan:
Seorang imam pernah menulis sebuah buku berjudul Orang Gila dari Nazaret. Yang dimaksud dengan orang gila ini tentu adalah Yesus sendiri. Tetapi, makna gila di sini lain. Pada bacaan Injil, keluarga Yesus menganggap Yesus sudah gila alias tidak waras. Sementara, kata gila di dalam buku ini lebih menyiratkan kekaguman pribadi pada Yesus. Ucapan dan tindakan Yesus memang gila, di luar batas kewajaran, tetapi justru dalam arti yang sangat positif. Siapa sih yang mau menyerahkan nyawa untuk disalib kalau bukan orang gila? Siapa yang omong soal roti hidup ketika sedang kelaparan kalau bukan orang gila?
Para pendengar Yesus memang dapat terbagi menjadi dua bagian: mereka yang memahaminya dan mereka yang tidak memahaminya. Kedua kelompok mungkin akan sama-sama menyebut Yesus gila, tetapi dalam dua arti yang berkebalikan di atas. Mereka yang memahami ajaran Yesus akan menganggap-Nya gila, dengan kagum dan takjub, dan mungkin lalu akan mengikuti kegilaan itu. Mereka yang tidak memahami perkataan-Nya akan menganggap-Nya gila dan tak waras lagi, dan lalu meninggalkan Dia.
Sepanjang sejarah, kita melihat betapa pribadi, kata-kata dan tindakan Yesus telah menjadi bahan perdebatan di banyak kalangan. Gila bukan! Semasa hidup-Nya, Ia berdebat dengan orang Farisi dan ahli Kitab. Demikian para murid-Nya berdebat dan mempertahankan iman mereka. Para cendekiawan Yahudi, Muslim, dan Kristen tanpa henti berdiskusi dan berdebat mengenai topik ini. Sementara para martir dan orang kudus banyak yang bersedia mati demi iman kepada-Nya. Gilaa!!!
Kita sebagai pengikut Yesus juga dipanggil untuk menjadi gila (dalam arti yang positif). Jika kita hanya hidup biasa-biasa saja, suam-suam kuku, dan tidak melakukan sesuatu yang gila, kita belum sungguh memahami ajaran-Nya. Tindakan gila itu dapat bermacam-macam, bahkan sederhana. Misalnya, menentang korupsi yang ada di instansi atau lembaga tertentu; mengajar anak-anak jalanan tanpa dibayar; menjadi katekis sukarela; dsb.

Fr A.  Wahyu Dwi A.  SJ

0 komentar:

Posting Komentar