menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Rabu, 28 Februari 2018

Rwnungan Harian GML : Mereka akan Menjatuhi Dia Hukuman Mati

BACAAN  INJIL 
Hari Rabu Prapaskah II, 28 Februari 2018 
Mat 20:17-28

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" 

Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."

Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (LAI-TB1)

Silakan teman-teman membaca, merenungkan dan membagikan inspirasi yang didapat! 


Hari Rabu Prapaskah II, 28 Februari 2018 
Mat 20:17-28, mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati


Semua juga pasti mati. Mati itu jalan yang harus kita lalui. Dalam Yesus, kita mendapat arti dari mati. 

Lebih dari sekali, Yesus menyatakan kepada para murid, kengerian yang harus dijalani-Nya menuju akhir hidup. Yesus mengetahui segala yang akan terjadi ke depan. Kata-kata Yesus tegas dan sangat jelas, tidak diragukan lagi bahwa Ia harus menghadapi penderitaan hingga wafat. Wafat-Nya adalah rencana Allah. Allah telah merencanakan semua itu. Kini Allah segera akan menggenapi rancangan itu. Semua itu menjadi jalan pemenuhan rencana agung keselamatan. 

Mendengar itu tentu para murid ada yang kebingungan, ada yang ketakutan, dan ada yang penasaran. Mereka belum sanggup memahami. Bagaimana mungkin Yesus yang luar biasa itu berserah pada nasib fatal. Itu tidak akan terjadi. Para murid tidak dapat menerima fakta rencana penderitaan Yesus itu. Mereka menolak apa yang akan terjadi ke depan.

Penolakan para murid itu menjadi cerminan penolakan kita. Tidak disadari kita pun menolak apa yang akan terjadi ke depan berkaitan dengan kematian diri kita. Kita tidak mempertimbangkan secara sungguh-sungguh, bahwa ke depan kita juga pasti mati. Kita menolak fakta itu. Penolakan itu membuat kita kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi. 

Jika saya ke depan akan mati, lalu sekarang apa yang perlu saya lakukan? Sayangnya, saya lebih suka menghindari fakta itu, saya tidak mau memikirkannya. Saya menganggap seolah-olah itu tidak akan terjadi. Seandainya saja kusadari bahwa di bumi tiada yanga abadi! Kupikir lagi, untuk apa kukejar pengaruh dan kuasa; untuk apa kutumpuk harta benda; untuk apa kudirikan banyak menara dan akhira aku meninggal dunia. Orang-orang yang mendapat warisanku pun sama saja, hidup mereka juga sementara. 

Jika demikian segala akhir dari hidup ini, hanya Yesus saja tempat yang layak untuk mengarahkan diri. Selama masih hidup kuisi diri untuk melayani dan bukan untuk dilayani.

Rm Supriyono Venantius SVD

Selasa, 27 Februari 2018

Renungan Harian GML : SAMA DALAM KATA DAN PERBUATAN



BACAAN
Yes 1:10.16-20 – “Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan”

Mat 23:1-12 – “Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukan”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan sebagian kritik panjang yang disampaikan Yesus kepada para ahli Kitab dan orang-orang Parisi (Mat 23:1-39). Yesus mengkritik mereka karena sikap mereka terhadap Allah berlawanan dengan sikap mereka terhadap sesama. “Mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

2.Kesalahan orang-orang Parisi dan ahli Taurat: a) Mereka mengikatkan beban-beban berat di bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. b) Mereka mengetahui hukum dengan baik, tetapi tidak melaksanakannya. c) Mereka melakukan segala sesuatu demi dilihat dan dipuji orang. d) Mereka suka menduduki tempat-tempat utama dan suka diberi salam di tempat-tempat umum. e) Mereka suka disebut Guru. f) Mereka menempatkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan rakyat kebanyakan. g) Mereka menginginkan kemasyuran, kedudukan dan kekuasaan tanpa harus berjerih payah. Hidup seperti tersebut di atas adalah palsu, munafik, dan menipu.

3.Pesan Yesus kepada kita: a) Kita harus memiliki kesamaan antara kata dan tindakan. b) Setiap orang beriman harus siap menjadi pelayan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” c) Tiap orang beriman harus mengutamakan persaudaraan dalam keberagaman, bukan perbedaan. d) Kita harus siap merendahkan diri di hadapan Allah. “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Rasul Paulus meneguhkan jemaatnya di Philipi: “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Yesus menghendaki agar kita serupa dengan Diri-Nya.

Selasa, 27.2.2018 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 26 Februari 2018

Renungan Harian GML : MURAH HATI DAN TIDAK MENGHAKIMI



BACAAN
Dan 9:4b-10 – “Kami telah berbuat dosa dan salah”

Luk 6:36-38 – “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”

RENUNGAN
1.”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”  Yesus ingin mengubah sistem yang berlaku pada waktu itu, di mana mengasihi hanya mereka yang sebangsa dan seagama, berlakunya hukum balas dendam dan Allah dimengerti sebagai Allah yang menghukum dengan kejam. Yesus mendasari gagasan pembaruan-Nya berdasarkan pengalaman-Nya terhadap Allah sebagai Bapa. Bapa yang penuh kelembutan, menerima semua orang yang baik maupun jahat, yang membuat matahari bersinar untuk orang baik maupun orang jahat;  Allah mencintai semua orang tanpa kecuali. Demikianlah kita harus memancarkan cinta kasih Allah dalam hidup kita.

2.”Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi.” Menghakimi adalah hak Allah, kita tidak memiliki hak untuk itu. Jika kita tidak ingin diadili, maka janganlah mengadili. Jika kita ingin dimaafkan, maka terlebih dahulu maafkanlah. Jika kita ingin menerima tindakan yang baik, maka kita harus bertindak baik terhadap orang lain. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk mengambil inisiatip, kita harus mendahului.

3.Dalam kenyataannya, kita suka menghakimi orang lain bahkan tanpa belaskasihan. Percakapan maupun gosip kita cenderung penuh penghakiman, tidak mentolerir kelemahan dan kesalahan orang lain, bahkan sangat sedikit dari antara kita ikut membantu memperbaiki jalan hidup mereka. Sebaliknya, kita lebih suka mencibir, mencemooh dan menjauhi mereka.

4.Bagaimana dengan Anda?

Senin, 26.2.18
Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 25 Februari 2018

Renungan Harian GML : Yesus dimuliakan di atas gunung

25 FEBRUARI 2018

Mrk 9:2-10 : Yesus dimuliakan di atas gunung

Membaca perikop kali ini ada beberapa hal yang menarik:
(1)Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan hanya mengajak 3 murid-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes.
(2)Lalu, Yesus berubah rupa di depan mata mereka (ketiga murid).
(3)Kemudian Petrus ingin membangun 3 kemah untuk Yesus, Musa dan Elia.
(4)Dan terdengarlah suara dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”
(5)Mereka turun dari gunung dan Yesus berpesan agar mereka tidak menceritakan apa yang mereka lihat hingga waktunya tiba, yaitu setelah kebangkitan Anak Manusia, yaitu kebangkitan Yesus sendiri setelah mati di salib.

Dari hal-hal ini, kita bisa menemukan berbagai macam pesan yang dapat kita petik bagi kehidupan kita saat ini.

(1) Ketiga murid yang diajak Yesus ke gunung tuk melihat kemuliaan-Nya adalah ketiga murid yang sama, yang diajak ke Yesus ke Taman Getsemani (Lih. Mrk 14:33): Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Jadi, ketiga murid ini memiliki pengalaman pribadi bersama Yesus dalam dua hal yang berbeda secara ekstrim. Yang satu pada saat “Ia dimuliakan”; yang satu pada saat “Ia akan menderita memanggul salib dan mati di atas salib”. Dua hal yang sering terjadi pula dalam hidup kita sehari-hari: kebahagiaan dan kesedihan. Ketiga murid ini mengalami hal yang sama pula bersama Yesus secara personal. Yang menjadi fokus pertama-tama bukanlah pada kebahagiaan atau kesedihan itu sendiri, melainkan kita diajak tuk melihat bahwa “Yesus ada di sana”. Ia ada dalam setiap momen hidup kita, di tengah-tengah kebahagiaan, maupun di dalam kesedihan yang paling kelam sekalipun – “Ia akan selalu ada di sana!”

(2) Selain itu, Yesus berubah rupa dengan pakaian putih berkilat-kilat. Di sini, Yesus ingin digambarkan bukan hanya sebagai orang biasa, melainkan lebih dari itu: “Inilah Anak yang Kukasihi” (ay.7.) – Anak Allah. Dan warna putih melambangkan kekudusan dan juga kebijaksanaan pada masa itu. Jadi, dalam kisah ini, kita diajak pula melihat bahwa Yesus adalah Anak Allah itu sendiri, yang penuh dengan kekudusan dan kebijaksanaan. Ini ingin menggambarkan pula pada kita bahwa pada akhirnya, “kekudusan dan kebijaksaan” bukanlah jaminan bahwa kita tidak akan menderita – (Lih. Yesus di Getsemani). Yesus yang mulia, yang penuh dengan kekudusan dan kebijaksanaan itu pada akhirnya Ia pun harus menderita. Namun, yang membedakan adalah “dengan kekudusan dan kebijaksanaan itu, Ia mampu melewati itu semua dengan penuh kemuliaan – bangkit dari mati.” Dari sini, kita bisa belajar bahwa memang benar kita dipanggil tuk menjadi kudus dan bijaksana, namun bukan berarti hidup kita akan mudah. Melainkan justru sebaliknya, mungkin hidup kita akan semakin sulit dan penuh penderitaan. Namun, dengan “kekudusan dan kebijaksaan” itu dan tetap berjalan bersama Yesus, kita diberi kekuatan tuk melewati itu semua. 

(3) Namun, Petrus tampaknya kurang begitu paham. Setelah melihat kemuliaan Yesus dan nampaklah padanya Elia dan Musa, ia berusaha tuk mendirikan kemah di atas gunung. Dan akhirnya mereka pun turun dari gunung. Dari kisah ini, kita diajak untuk selalu “turun gunung” – kembali “ke dalam hidup” (realitas hidup kita sehari-hari). Kita tak dapat hanya berdiam diri di “atas gunung” yang penuh dengan kemuliaan Tuhan – hal-hal yang spektakuler, menakjubkan, dlsb. Pengalaman rohani Petrus di atas gunung (yang penuh dengan kemuliaan itu) akhirnya harus dibawa kembali dalam hidupnya sehari-hari. Begitu pula dengan kita, seringkali kita menemukan begitu banyak makna, refleksi, perasaan yang mengagumkan, kata-kata indah yang meneguhkan, dan masih banyak lagi hal-hal menarik dalam hidup kita. Namun, dengan kisah ini, kita diajak untuk “turun gunung” – merealisasikannya pula dalam hidup kita sehari-hari – “perlu diwujudkan dalam perbuatan, tidak hanya sekadar kata-kata belaka” (sejalan dengan apa yang dikatakan oleh St. Ignatius Loyola dalam buku Latihan Rohani-nya).

(4) “Inilah Anak yang Kukasihi”. Kata-kata yang kurang lebih sama dapat kita temukan pula dalam kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di awal Injil Markus (Lih. Mrk 1:11). Jadi, kisah Yesus yang dimuliakan di atas gunung, juga ingin kembali menggarisbawahi otoritas Yesus yang diperoleh oleh Bapa, “kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11). Jadi, kisah Yesus di atas gunung ini dapat dikatakan pula sebagai “benang merah” atau “titik temu” antara “awal dan akhir” atau “alpha dan omega” karya Yesus dalam Injil Markus: “pembaptisan dan taman getsemani”.

(5) Dan akhirnya, Yesus pun berpesan untuk tidak menceritakan pengalaman “kemuliaan” ini sebelum Ia bangkit. Hal ini juga ingin menggambarkan bahwa “kemuliaan di atas gunung itu bukanlah puncak dari kemuliaan Yesus, melainkan kebangkitan (Paskah) itu sendiri yang merupakan puncak dari kemuliaan Yesus sebagai Sang Mesias (seperti yang dikatakan Petrus sebelum kisah ini [Lih. Mrk 8:29] bahwa Yesus adalah Sang Mesias itu sendiri).” Begitu pula dengan hidup kita, “kemuliaan” yang sesungguhnya dalam hidup kita adalah “kebangkitan-kebangkitan baru” dalam hidup kita sehari-hari. Dan itu berarti, kita diajak untuk menjadikan hidup kita itu “baru” dari hari ke hari, menjadi semakin “baik” dari hari ke hari. Mungkin bukanlah hal-hal yang besar yang kita lakukan, melainkan hal-hal sederhana sehari-hari: membantu sesama kita, menjadi lebih perhatian dengan keluarga, menjadi lebih bersahabat dengan orang lain, dlsb. Hal-hal itu bisa menjadi “Kebangkitan” itu sendiri – “Hidup  Baru”. Dan di sanalah, kita dapat menemukan “Kemuliaan Tuhan” yang secara nyata dapat kita lihat dari hari ke hari.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 24 Februari 2018

Renungan Harian GML : MENGASIHI MUSUH, MUNGKINKAH?



BACAAN
Ul 26:16-19 – “Engkau akan menjadi umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu”

Mat 5:43-48 – “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”

RENUNGAN
1.Hukum lama mengatakan: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Siapa pun setuju dengan hukum tersebut. Mereka pikir: musuh tidak perlu dikasihi. Yesus mengkritik dengan keras hukum tersebut. Dan Dia mengganti dengan hukum baru: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!” Mungkinkah terwujud?

2.Apakah gunanya kita mengasihi mereka yang mengasihi kita? Siapa pun bisa melaksanakannya, bahkan mereka yang anti Allah sekali pun. Tindakan tersebut tidak ada nilai lebihnya.

3.Mengapa kita harus mengasihi musuh? Karena kita adalah anak-anak Allah. Allah sebagai Bapa mengasihi siapa saja, apa pun agamanya, bahkan terhadap mereka yang tidak mengakui Allah sekali pun. Untuk itu kesempurnaan kita harus menyamai kesempurnaan Allah: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Mungkinkah kita sempurna seperti Allah?

4.Manusia hanya bisa menjadi sempurna bila Allah ada di dalam hidupnya. Jadi Allah sendiri yang menjadikan kita sempurna. Allah menyatu dalam hidup kita jika kita taat pada kehendak-Nya. Artinya kita selalu menjadikan Allah yang pertama dan yang utama dalam setiap pemikiran dan dalam setiap perbuatan kita. Sempurna seperti Allah berarti mampu mengampuni diri sendiri, mengampuni sesama dan mengampuni situasi yang menyakitkan. Juga berarti mampu menerima dan menghargai diri sendiri dan juga sesama kita. Mungkinkah kesempurnaan bisa terwujud?

5.Maka ketika kita sudah bisa mentahtakan Allah sebagai Raja yang memimpin keseluruhan hidup kita, saat itulah kita menjadi sempurna,karena Allah yang memimpin hidup kita adalah Sempurna.

Sabtu, 24.2.18 –
Rm Maxi S

Jumat, 23 Februari 2018

Renungan Harian GML : REKONSILIASI BERARTI SALING MENERIMA, MEMAHAMI DAN MENGAMPUNI



BACAAN
Yeh 18:21-28 – “Adakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? Bukankah kepada pertobatannya Aku berkenan, supaya ia hidup?

Mat 5:20-26 – “Berdamailah dahulu dengan saudaramu”

RENUNGAN
1.Yesus bersabda: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Parisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Hidup keagamaan yang disebut benar menurut mereka adalah ketika mereka berhasil menjalankan semua aturan hukum secara teliti sampai sekecil-kecilnya. Ukuran ini sungguh berat dan menindas, karena tidak mungkin seseorang mewujudkannya.

2.Yesus menghendaki hidup keagamaan yang lebih benar daripada hidup keagamaan mereka. Untuk menjadi lebih benar, maka orang harus mengakui bahwa Allah itu maha kasih dan Ia mengasihi manusia lewat Yesus Putera-Nya. Karena Yesus adalah Anak Allah maka kita adalah anak-anak angkat Allah. Yesus mempunyai cita-cita baru bagi setiap anak Allah, yaitu “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna (ay 48). Dari cita-cita tersebut, kita dianggap benar di hadapan Allah ketika kita bertindak sebagaimana dibuat oleh Allah, yaitu mengasihi dan mengampuni.

3.Yesus memberi contoh konkret bagaimana kita memperoleh kebenaran yang melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang-orang Parisi.

 a) Ada hukum: “Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum” (Kel 20:30). Hukum tersebut tidak cukup dan tidak memadai, maka Yesus menanamkan hukum baru: yang marah, mengatakan kafir dan jahil kepada saudaranya harus dihukum, karena semua itu merupakan akar penyebab pembunuhan.

b) Allah menghendaki penyembahan yang sempurna dari setiap anak Allah. Ketika kita menyampaikan persembahan tetapi di dalam hati ada yang mengganjal terhadap saudara kita, maka kita harus berdamai terlebih dahulu. Rekonsiliasi, berdamai dengan saudara kita merupakan syarat mutlak untuk penyembahan yang sempurna.

4.Mengapa rekonsiliasi atau berdamai menjadi kata kunci (ay 25-26)? Karena, dalam komunitas jemaat Kristen awal, jemaatnya Matius, ada banyak ketegangan di antara mereka. Bahkan ada kelompok radikal yang cenderung berbeda, tidak mau berdialog di antara mereka. Maka Matius menerangi situasi jemaatnya dengan menekankan pentingnya rekonsiliasi. Untuk itu dibutuhkan penerimaan, pengertian dan pengampunan satu sama lain. Dosa kita tidak akan diampuni oleh Allah jika kita tidak mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.

Jumat, 23.2.2018 –
Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 22 Februari 2018

Renungan Harian GML : PESTA TAKHTA St. PERUS, RASUL. SIAPA YESUS BAGIKU?



BACAAN
1Petr 5:1-4 – “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu”

Mat 16:13-19 – “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku”

RENUNGAN
1.Dalam Injil, Yesus menanyakan pendapat orang-orang tentang diri-Nya. Bermacam jawaban muncul. Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah satu dari para nabi. Secara khusus, Yesus menanyakan hal yang sama kepada Petrus. Ia mewakili para murid, menjawab: “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup.”

2.Dengan jawaban tersebut, Yesus menanggapi: “Berbahagialah engkau Simon!” Petrus sebagai orang yang berbahagia, karena ia diberi pewahyuan oleh Bapa. Pengakuan Petrus tersebut bukan berasal dari pikiran manusia, bukan karena hasil studi atau riset, tetapi anugerah bahwa Allah memberi kepada siapa Ia berkenan.

3.Petrus sebagai batu karang dan menerima kunci-kunci Kerajaan Surga. Berarti Petrus adalah dasar yang kokoh kuat bagi Gereja yang dapat melawan pintu-pintu neraka. Peneguhan Petrus sebagai batu karang, penginjil Matius bermaksud menyemangati komunitas-komunitas Kristen di Siria dan Palestina yang tengah mengalami penganiayaan. Dengan demikian mereka mendapat kekuatan dari Sabda Yesus dan Petrus sebagai pemimpin Gereja, sehingga identitas dan spiritualitas mereka tumbuh dengan baik.

4.Yesus selalu bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Apa jawaban Anda? Jawaban atas pertanyaan Yesus tersebut menentukan kedalaman iman seseorang.

Kamis, 22.2.2018 –
Rm.  Maxi Sriyanto

Rabu, 21 Februari 2018

Renungan Harian GML : Yunus Menjadi Tanda bagi Setiap Zaman.

Bacaan Liturgi 21 Februari 2018

Hari Biasa Pekan Prapaskah I
PF S. Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil
Luk 11:29-32
Angkatan ini tidak akan diberi tanda selain tanda Nabi Yunus.

Sekali peristiwa
Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia,
"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat.
Mereka menuntut suatu tanda,
tetapi mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
Sebab sebagaimana Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe,
demikian pulalah
Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini.
Pada waktu penghakiman
ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini
dan akan menghukum mereka:
Sebab ratu ini datang dari ujung bumi
untuk mendengarkan hikmat Salomo,
dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Salomo!
Pada waktu penghakiman,
orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini
dan mereka akan menghukumnya.
Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat
waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus,
dan sungguh, yang ada di sini lebih daripada Yunus!"

Renungan :
Orang Niniwe itu bangsa asing. Orang Niniwe itu bukan orang Israel. Orang Niniwe itu golongan yang tidak mengenal Allah. Orang Niniwe itu orang kafir. Orang Niniwe itu memusuhi bangsa pilihan Tuhan. Yunus menginginkan orang Niniwe hancur. Yunus berharap bahwa Tuhan melenyapkan Niniwe.  Oleh karena itu, ketika diperintahkan oleh Tuhan untuk mempertobatkan orang Niniwe, bukannya pergi ke Niniwe yang berada di sebelah timur, Yunus malah pergi ke Tarsis, ke arah barat. Ia lari menjauh dari hadapan Tuhan.

Yunus lalu ditelan oleh ikan. Selama tiga hari dia di dalam perut ikan. Setelah bebas dari dalam perut ikan, Yunus bertobat. Ia mengikuti perintah Tuhan pergi ke Niniwe. Ia mewartakan pertobatan di sana. Respon orang Niniwe positif. Mereka semua bertobat. Pertobatan itu membuahkan keselamatan. Tuhan tidak jadi menghukum orang Niniwe.

Yesus tidak memberi tanda selain tanda Nabi Yunus. Yunus berada dalam perut ikan selama tiga hari. Yesus juga berada di dalam perut bumi selama tiga hari. Namun pada hari ketiga, Yesus bangkit dari mati. Itulah tanda terbesar yang pernah ada di dunia, yang diberikan oleh Yesus kepada dunia.

Di zaman Yunus, bangsa asing bertobat. Di zaman Yesus, bangsa Yahudi sendiri tidak mau bertobat. Bangsa Yahudi menolak Yesus, Mesias. Yang menerima Yesus, justru bangsa-bangsa lain. Kini begitu banyak bangsa asing mengimani Yesus. Kini di seluruh dunia, bangsa-bangsa asing diselamatkan. Sebagian besar bangsa di dunia menerima dan mengimani Yesus atau telah diresapi nilai-nilai Kristus. Itulah tanda besar yang nyata di dunia saat ini.

Oleh : Rm Supriyono Venantius

Selasa, 20 Februari 2018

Renungan Harian GML : DOA BAPA KAMI MENURUT MATIUS



BACAAN
Yes 55:10-11 – “Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki”

Mat 6:7-15 – “Yesus mengajar murid-Nya berdoa”

RENUNGAN
1.Doa Bapa Kami dalam Injil Matius ditujukan kepada jemaat Kristen Yahudi. Mereka biasa berdoa, tetapi ada sifat-sifat buruk yang perlu dikoreksi.

2.Yesus mengkritik doa yang panjang dan bertele-tele, di mana Allah harus menjawab kebutuhan mereka. Diterimanya doa tidak tergantung pada banyaknya kata-kata, tetapi pada kebaikan Allah semata. Ia menghendaki hal yang baik bagi kita dan tahu kebutuhan kita (Mzm 139:4).

3.”Bapa Kami” bukan “Bapaku.” Allah disebut sebagai Bapa. Yesus ingin menunjukkan relasi baru dengan Allah yang menjadi ciri khas iman Kristen. Kita menyebut “Bapa Kami” bukan “Bapaku” karena kita adalah satu keluarga besar dari berbagai suku bangsa.

4.Tiga permohonan kepada Allah: a) ”Dikuduskanlah nama-Mu.” Kita mohon agar relasi kita dengan Allah dibangun kembali. Nama Allah dikuduskan ketika aktivitas kita bertujuan demi kebebasan manusia. b) “Datanglah Kerajaan-Mu.” Kita mohon agar Kerajaan Allah datang, karena Kerajaan Allah merupakan pemenuhan semua harapan dan janji. Kerajaan Allah datang, ketika kehendak Allah dipenuhi. c) “Jadilah kehendak-Mu.” Kita mohon agar bisa melaksanakan kehendak Allah. Kehendak Allah terungkap di dalam Hukum-Nya, yaitu Cinta Kasih. Ketaatan terhadap Hukum Allah merupakan sumber keteraturan dan damai bagi kehidupan manusia.

5.Dalam relasi dengan manusia lain, ada empat  permohonan: a) Minta roti sehari-hari. Dalam hal ini Yesus mengharapkan agar kita membangun persaudaraan baru dalam kebersamaan yang akan menjamin roti setiap hari (Mat 6:34-44; Yoh 6:48-51). b) Mohon pengampunan atas kesalahan kita. Pengampunan merupakan kunci untuk membangun hidup secara baru. c) Mohon agar kita tidak dimasukkan ke dalam pencobaan. Umat Israel dicobai di padang gurun dan jatuh (Ul 9:6-12). Dalam Eksodus bersama Yesus, pencobaan akan diatasi dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan (1Kor 10:12-13). ) Mohon agar kita dibebaskan dari yang jahat. Semua yang jahat berasal dari setan. Setan telah berhasil memasuki Petrus (Mat 16:23). Setan juga mencobai Yesus dan Yesus mampu mengalahkan setan (Mat 4:1-11).

6.Mengampuni menjadi kata kunci dalam mewujudkan iman kita. Jika kita banyak mengampuni, maka Allah pun akan banyak mengampuni kita. Sebaliknya, jika kita tidak mengampuni, maka Allah pun tidak akan pernah mengampuni kita.

Selasa, 20.2.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 19 Februari 2018

Renungan Harian GML : MEREKA YANG TERBERKATI ADALAH YANG MEMBANTU DAN BERBAGI UNTUK ORANG MISKIN, KECIL DAN MENDERITA



BACAAN
In 19:1-2.11-18 – “Engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran”

Mat 25:31-46 – “ Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

RENUNGAN
1.Yesus memberi gambaran kepada kita bagaimana mempersiapkan diri  memasuki Kerajaan Surga. Yesus sangat menekankan perlunya tindakan nyata terhadap orang lain yang menderita. Tindakan seperti itu tidak dapat dipisahkan dengan hubungan kita kepada Tuhan. Mengasihi orang-orang yang menderita sama dengan mengasihi Allah. Acuh-tak-acuh terhadap penderitaan orang lain sama dengan acuh tak acuh terhadap Allah. Bahkan Yesus menyamakan diri-Nya dengan orang yang hina dina. Sikap dan perlakuan kita terhadap mereka yang menderita sama dengan sikap dan perlakuan kita terhadap Yesus.

2.Apakah saat ini kita pantas disebut “yang diberkati oleh Bapa-Ku?” Kita akan disebut yang diberkati oleh Bapa, ketika kita mewujudkan Sabda-Nya: “Ketika aku lapar, sebagai orang asing, ketika aku telanjang, sakit dan dalam penjara engkau menerima dan membantu aku.” Yang dimaksud “aku” adalah Tuhan Yesus yang menyamakan diri dengan orang-orang yang menderita. Dengan menerima, berbuat, dan berbagi kepada mereka sama dengan berbuat untuk Yesus dan kita akan disebut “yang diberkati oleh Bapa-Ku.”

3.Apakah kita disebut “yang terkutuk?” Kita akan disebut demikian apabila kita tidak menerima dan menyambut Yesus yang lapar, haus, sebagai orang asing, telanjang,sakit dan dipenjara. Kita akan digolongkan sebagai orang buta karena kita tidak mampu melihat Yesus dalam diri orang-orang yang lemah, kecil dan menderita.

4.Orang-orang “yang terkutuk” sebenarnya adalah orang-orang yang mapan, kaya, beribadah dan saleh. Mereka adalah orang-orang baik. Hanya satu kekurangan mereka, yaitu tidak mau berbuat baik dan tidak mau berbagi kepada mereka yang miskin, sakit, terlantar, dan tersingkirkan.

Senin, 19.2.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 18 Februari 2018

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT, BERTOBATLAH DAN PERCAYALAH KEPADA INJIL


Saudari-saudara terkasih, selamat jumpa lagi. Hari ini kita memasuki hari Minggu Prapaska Pertama di Tahun 2018. Masa prapaska ini sudah kita mulai dari hari Rabu lalu yakni Rabu Abu ketika kita ditandai dengan abu dengan seruan “Ingatlah bahwa kita ini berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Mengapa Rabu Abu dan bukan Kamis atau Jumat Abu? Karena untuk menggenapkan masa persiapan Paska menjadi 40 hari sebagaimana Yesus juga mempersiapkan diri untuk pelaksanaan tugas perutusannya dengan tinggal 40 hari di padang gurun. Kalau kita menghitung sampai dengan Minggu Paska, kita mempunyai 6 (enam) minggu atau 42 hari. Ditambah dengan 4 hari: Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu; akan menjadi 46 hari. Karena hari-hari Minggu tidak dihitung ke dalam hari puasa, maka genaplah masa prapaska itu menjadi 40 hari. Masa prapaska menjadi masa untuk mengingat bahwa jati diri duniawi kita ini adalah fana belaka; akan berakhir dengan kematian dan menjadi tanah atau debu atau abu asal kita. Namun demikian, Allah sungguh mengasihi kita. Kita diberi nafas hidup-Nya sendiri. Kita tidak dibiarkan binasa melainkan hidup yang kekal. Untuk itu, Putra-Nya yang Tunggal telah mau menjadi manusia, merasakan dan mengalami kelemahan serta kerapuhan manusia, susah dan penderitaan manusia namun tanpa jatuh ke dalam dosa; supaya manusia yang rapuh dan mudah jatuh ke dalam dosa boleh menimba kekuatan daripada-Nya untuk memperoleh hidup yang kekal. Dari pihak manusia, supaya kita bisa diselamatkan; kita perlu bertobat dan percaya kepada Injil yakni warta gembira ataupun kisah dan cara hidup Yesus yang menjadi jalan untuk menuju kehidupan yang kekal itu.

 Bacaan pertama Minggu Prapaska pertama ini mengisahkan tentang janji Allah sesudah air bah yang membinasakan semuanya kecuali Nuh dan yang ada di dalam bahteranya. Sesudah air bah itu, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh bahwa tidak akan ada air bah lagi untuk memusnahkan bumi. Allah mengadakan perjanjian lagi karena sejak semula Allah telah menghendaki kebaikan dan bukan kebinasaan manusia. Selama masih ada pelangi (= busur yang diletakkan Tuhan di atas awan) maka Tuhan akan senantiasa ingat akan perjanjian-Nya. Perjanjian itu diperbaharui dan diteguhkan secara radikal di dalam diri Yesus sebagaimana diungkapkan di dalam bacaan kedua. “Kristus yang benar telah mati untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Sebagai manusia Yesus turut mengalami akibat kerapuhan yakni penderitaan dan maut tetapi dibangkitkan menurut Roh atas kesetiaan-Nya pada kehendak Allah. Demikian Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Dalam diri-Nya Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus menjadi Injil, khabar gembira, jalan, kebenaran dan hidup. Bertobat dan percaya kepada Injil yakni warta gembira ataupun kisah hidup Yesus dan mengikuti jalan hidup Yesus adalah jalan keselamatan kekal.

 Saudari-saudara sekalian, masa prapaska menjadi masa puasa bagi kita untuk mengingatkan kita akan sabda Yesus: “Manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah”, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu”, dan “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Puasa bukan saja soal makan dan tidak makan melainkan soal semakin menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan, tidak egois dan tidak mengumbar hawa nafsu untuk kepentingan duniawi atau badani, dan semakin menjadi sesama bagi yang lain. Bertobat berarti menjadi semakin baik: bagaimana kita memaksimalkan diri dalam kegunaan untuk karya Tuhan demi datangnya Kerajaan Allah dalam kerukunan, belaskasih, dan damai sejahtera. Percaya kepada Injil berarti percaya akan kehidupan yang kekal. Hidup tidak berhenti pada kehidupan sekarang, di sini di dunia ini. Kita bukan pecudang, bukan pesaing, dan bukan musuh untuk mengangkangi kehidupan duniawi melainkan menjadi sesama demi kemajuan kehidupan setiap diri yang dicintai oleh Tuhan. Dalam konteks Indonesia kita diundang untuk menjadi saudara satu dengan yang lain dalam keragaman dan perbedaan yang ada: “Kita bhinneka - kita Indonesia bersatu membangun bersama.” Mari amalkan Panca Sila. Salam Persatuan.

Rm Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 17 Februari 2018

Renungan Harian GML : IKUTLAH AKU !

IKUTLAH AKU !

BACAAN
Yes 58:9b-14 – “Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri, maka terangmu akan terbit dalam gelap”

Luk 5:27-32 – “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”

RENUNGAN
1.Kepada Levi, seorang pemungut cukai, yang lagi duduk  di rumah cukai, Yesus berkata: “Ikutlah Aku!” Levi segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus. Kemudian ia menyiapkan jamuan besar di rumahnya diikuti oleh banyak para pemungut cukai. Yesus hadir di tengah para pendosa. Jelas hal ini dilarang oleh hukum agama. Yesus tidak peduli.

2.Orang-orang Parisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” 

3.Dengan kata-kata tersebut, jelaslah perutusan Yesus: Ia datang untuk menyatukan orang-orang yang terpisah, memulihkan kembali orang-orang yang tersingkirkan,  mengampuni orang-orang berdosa, dan menyatakan bahwa Allah bukanlah seorang hakim yang galak, yang menghukum dan mengusir, tetapi sebagai Bapa yang menerima dan merangkul.

4.Seperti Levi, kita pun dipanggil Allah untuk mengikuti Yesus. Bukan karena kita layak, tetapi karena Allah menghendaki. Kalau pemungut cukai mengadakan pesta perjamuan sebagai tanda sukacita, kita pun, dalam Yesus, punya alasan untuk hidup dengan gembira, bersukacita, dan bersyukur. Bagaimana dengan Anda?

Sabtu, 17.2.18 – 
Maxi Sriyanto

Jumat, 16 Februari 2018

Renungan Harian GML : PUASA MENDAPAT MAKNA BARU



BACAAN
Yes 58:1-9 – “Berpuasa yang kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman”

Mat 9:14-15 – “Mempelai itu akan diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”

RENUNGAN
1. Dalam Kitab Suci, Yesus tidak pernah mendesakkan praktek puasa bagi para murid-Nya. Ia membebaskan mereka, terserah berpuasa atau tidak, walaupun Ia sendiri  menjalani puasa selama 40 hari (Mat 4:2). Karena para murid-Nya tidak berpuasa, maka murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus: “Mengapa kami dan orang Parisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”

2.Jawaban Yesus singkat: Selama mempelai bersama mereka, maka mereka tidak perlu berpuasa. Yang disebut mempelai di sini adalah Yesus sendiri dan para murid adalah sahabat dari mempelai itu. Selama mempelai (Yesus) bersama para murid itulah saat pesta, bukan berpuasa. Pada suatu hari, mempelai tidak akan bersama mereka. Pada saat itulah para murid berpuasa.

3.Kapan Yesus tidak bersama para murid? Saat Yesus wafat di kayu salib. Dan itu terjadi pada hari Jumat Agung. Pada saat itulah kita berpuasa. Jadi puasa kita tinggal sekali lagi, yaitu pada hari Jumat Agung. Setelah Yesus bangkit, apakah kita harus berpuasa? Tidak perlu. Mengapa? Karena Yesus bersama lagi dengan para murid, dan Yesus mengidentifikasi diri dengan orang-orang miskin, lapar, sakit, difabel, dan orang-orang yang tersingkirkan dari keluarga dan masyarakatnya. Kita bersama Yesus dalam diri mereka.

4.Dengan demikian puasa mengambil bentuk baru dan kreatip, seperti dikemukakan oleh nabi Yesaya, yaitu dengan tindakan konkret membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, membagi roti kepada mereka yang lapar, memberi tumpangan kepada mereka yang tidak punya rumah, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri (Yes 58:6-7). Maka puasa berarti “keluar dari diri sendiri”, berbelas kasih kepada orang-orang yang menderita.

5.Mengapa kita puasa dan pantang makanan dan minuman? Puasa seperti itu merupakan sarana penting untuk mengendalikan diri dari nafsu-nafsu tidak teratur dan mengarahkan hidup kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu demi kemuliaan Tuhan.

Jumat, 16.2.18 –
Rm.  Maxi Sriyanto

Kamis, 15 Februari 2018

Renungan Harian GML : MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB DAN MENGIKUT YESUS


BACAAN
Ul 30:15-20 – “Pada hari ini aku menghadapkan kepadamu: berkat dan kutuk”

Luk 9:22-25 – “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”

RENUNGAN
1.Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut  Aku.”

2.Menyangkal diri. Banyak dari antara kita yang hidup menuruti kesenangan-kesenangan duniawi dan demi kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kebutuhan orang lain, terutama yang miskin dan menderita. Tuhan menghendaki agar kita berhenti dari cara hidup egois dan serakah, dan menggantinya dengan cara hidup Yesus, yaitu berbelas kasih.

3.Memikul salib dan mengikut Yesus. Hal ini berarti kita harus berani terpinggirkan oleh sistem yang tidak adil. Para murid Kristus harus berani melawan sistem yang tidak adil ini dan menciptakan keadilan dalam lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Dari keluarga meluas ke masyarakat.

4.Bagi kita salib merupakan konsekuensi mengikuti Kristus. Karena pernyataan-Nya yang revolusioner, Yesus ditangkap dan disiksa namun Ia tidak takut untuk menyerahkan hidup-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

5.Mengikuti jalan Yesus sungguh tidak mudah. Banyak bahaya dan ancaman dari orang-orang yang tidak sepaham dengan jalan Yesus, bahkan  mereka yang mengatas namakan agama dan Tuhan menyerang para pengikut Kristus. Tetapi Yesus juga menegaskan, jika kita mengikuti jalan-Nya dengan setia sampai akhir, kita akan memperoleh segalanya.

6.Dalam setiap kesukaran, rahmat dijanjikan. Rahmat tersebut ialah bahwa Yesus akan selalu berada di samping kita. Ia akan berjalan bersama kita, menguatkan kita, menghibur kita dan memberi kita damai.

Kamis, 15 Pebruari 2018 –
Rm.  M.Sriyanto

Rabu, 14 Februari 2018

Renungan Harian GML : Berpuasa yang Baik dan Benar

Bacaan Liturgi 14 Februari 2018

Hari Rabu Abu

Bacaan Injil
Mat 6:1-6.16-18
Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.


Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
"Hati-hatilah,
jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang 
supaya dilihat.
Karena jika demikian, 
kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Jadi, apabila engkau memberi sedekah, 
janganlah engkau mencanangkan hal itu, 
seperti yang dilakukan orang munafik 
di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, 
supaya mereka dipuji orang. 
Aku berkata kepadamu: 'Mereka sudah mendapat upahnya.'
Tetapi jika engkau memberi sedekah, 
janganlah diketahui tangan kirimu 
apa yang diperbuat tangan kananmu.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. 
Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi 
akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. 
Mereka suka mengucapkan doanya 
dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat 
dan pada tikungan-tikungan jalan raya, 
supaya mereka dilihat orang. 
Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.'
Tetapi jika engkau berdoa, 
masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, 
dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. 
Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi 
akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berpuasa, 
janganlah muram mukamu seperti orang munafik. 
Mereka mengubah air mukanya, 
supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. 
Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.'
Tetapi apabila engkau berpuasa, 
minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, 
melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. 
Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi 
akan membalasnya kepadamu."


Renungan:
Puasa adalah keutamaan rohani yang sudah ada sejak zaman dulu. Kita bisa membaca dalam Kitab Suci Perjanjian Lama tradisi berpuasa orang-orang yang hidup dalam sejarah Bangsa Israel. Biasanya berpuasa dilakukan untuk memohon kepada Tuhan supaya dilepaskan dari bahaya (Hak 20:26; 1 Sam 7: 6; 1 Raj 21: 9; 2 Taw 20: 3; Yer 36: 6, 9). Ketika umat menghadapi masalah, maka mereka berpuasa dengan harapan bahwa Tuhan membebaskan mereka dari masalah (2 Sam 12: 16-20; 1 Raj 21:27; Mzm 35:13; 69:11). Puasa dilakukan untuk menyertai doa dengan harapan Tuhan akan menjawab doa-doa itu (Ezr 8:21; Neh 1: 4; Yer 14:12). 
Cara berpuasa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama ada berbagai macam. Ada yang melakukan puasa selama satu hari, pagi sampai sore lalu malam hari baru makan (Hak 20:26; 1 Sam 14:24; 2 Sam 1:12). Namun ada juga yang melakukan puasa sampai 3 hari siang dan malam (Est. 4:16). Ada lagi yang melakukan puasa puasa selama 7 hari (1 Sam 31:13; 2 Sam 3:35). Sedangkan Musa berpuasa selama 40 hari di Gunung Sinai (Keluaran 34:28). Lalu Daniel berpuasa 3 minggu dengan menggunakan kain kabung dan abu (Dan 9: 3; 10: 3, 12).
Anehnya ada beberapa nabi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mengkritik praktek berpuasa orang-orang pada zaman itu. Yeremia misalnya, yang menyatakan bahwa Tuhan tidak akan mendengarkan mereka yang berpuasa, malahan melenyapkan mereka dengan penyakit (Yer 14:12). Yesaya juga menyampaikan pesan Tuhan yang tidak suka dengan cara puasa yang munafik (Yes 58: 1-10). Kritikan itu ditujukan kepada umat yang melakukan ibadah puasa tetapi di saat yang sama melakukan tindakan yang bertentangan dengan cinta kasih kepada sesama. 
Yesus selama 40 hari berpuasa untuk mengawali karya pelayanan. Saat berpuasa itu Yesus digoda setan di padang gurun (Mat 4: 2; Luk 4: 2). Menghadapi godaan itu Yesus mengutip Kitab Ulangan 8: 3, mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja. Yesus juga menanggapi kutipan Mazmur 91:11, 12, menyatakan bahwa kita tidak boleh mencobai Tuhan. Dalam puasa itu Yesus menunjukkan bahwa hidup manusia tidak semata-mata ditentukan oleh makanan, melainkan ini semata-mata dalam ketergantungan pada penyelenggaraan Tuhan. 
Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan cara berpuasa yang benar. Puasa yang benar bukan bertujuan hanya untuk dilihat orang (Mat 6: 16- 18). Puasa dilakukan dengan iman yang kuat yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan hati yang murni. Tuhan yang melihat segala sesuatu akan memberikan rahmat kepada orang yang melakukan puasa dengan niat yang murni.
Puasa menjadi sarana pertumbuhan rohani, supaya semakin dekat dengan Tuhan yang membawa suka cita. Berpuasa adalah tanda cinta kepada Tuhan dan kepada sesama. Berpuasa yang baik dan benar adalah berpuasa yang membawa suka cita bagi diri sendiri dan bagi sesama. Jika kita mencintai sesama, maka kita menyisihkan apa yang kita punya, kita menahan diri untuk tidak menikmati apa yang kita punya dan membagikannya kepada sesama kita yang lebih membutuhkan. 
Oleh: Rm Supriyono Venantius SVD

Selasa, 13 Februari 2018

Renungan Harian GML : HATI YANG DEGIL


BACAAN
Yak 1:12-18 – “Allah tidak mencobai siapa pun”

Mrk 8:14-21 – “Awaslah terhadap ragi orang Parisi dan ragi Herodes”

RENUNGAN
1.Dalam Injil kemarin (Mrk 8:11-13), kita melihat kebutaan orang-orang Parisi yang meminta tanda dari sorga. Dalam Injil hari ini kita melihat kebutaan para murid Yesus.

2.Ketika mereka menyeberangi danau, Yesus memperingatkan mereka: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang-orang Parisi dan ragi Herodes.” Ragi, dalam tradisi Yahudi, melambangkan kebusukan. Ragi orang Parisi berarti pikiran yang dangkal,  berpegang pada legalisme hukum (segala-galanya harus berdasarkan hukum), munafik, suka menyebarkan keburukan orang lain, dan menganggap dirinya benar. Ragi Herodes: melambangkan orang yang tidak bermoral, hedonistik dan egois.

3.Tetapi para murid tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan kata-kata Yesus dan menghubungkannya dengan roti yang tidak cukup. Dengan nada marah, Yesus bertanya: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? ... Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? ... Yesus mengakhiri perkataan-Nya dengan berkata: “Masihkah kamu belum mengerti?”

4.Ternyata para murid sama dengan orang-orang Parisi:  punya mata tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dapat mendengar. Mereka gagal paham.

5.Apa yang penting bagi kita? a) Peka terhadap kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita setiap hari. b) Ragi orang Parisi dan ragi Herodes telah merasuki kehidupan masyarakat sekarang ini. Tuhan mengingatkan: jangan mudah dihasut untuk ikut melakukan. Bagaimana dengan Anda?

Selasa, 13 Pebruari 2018 –
Rm M.Sriyanto

Senin, 12 Februari 2018

Renungan Harian GML : DALAM KERAGUAN IMAN



BACAAN
Yak 1:1-11 – “Ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan, agar kamu menjadi sempurna dan utuh”

Mrk 8:11-13 – “Mengapa angkatan ini meminta tanda?”

RENUNGAN
1.Dalam setiap mukjijat yang dibuat oleh Yesus, orang-orang Parisi selalu melecehkan Dia. Ketika Yesus menggandakan roti, orang-orang Parisi tidak mampu memaknai arti mukjijat tersebut, malah sekarang mereka minta sebuah tanda dari surga. Tujuannya hanya untuk mencobai Yesus.

 2.Orang-orang Parisi tidak mau tahu apa yang diperbuat Yesus, maka Yesus mengeluh dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Yesus meninggalkan mereka dan pergi ke seberang. Yesus kecewa.

3.Orang-orang Parisi, dan kebanyakan orang modern sekarang ini, tidak pernah memiliki niat untuk mengenal dan percaya kepada Yesus. Hati mereka keras, mata mereka buta, telinga mereka tuli. Mereka tidak mampu melihat bahwa dalam diri Yesus, Allah hadir dan menyelamatkan.

4.Kita terkadang mengalami keraguan, bahkan kegelapan iman. Dalam situasi tersebut kita minta tanda kepada Allah supaya Allah hadir dan memperhatikan kita. Sebenarnya Allah selalu hadir menyertai kita, tetapi karena kita terlalu sibuk dengan masalah yang mendera, kita tidak merasakan kehadiran Allah tersebut. Ada yang imannya mulai goyah dan berhenti percaya.

5.Seharusnya bagaimana? Dalam keraguan, kita harus bertahan, sabar, dan tetap percaya kepada Yesus. Kita tidak boleh membuat perubahan apa-apa. Justru pada saat semacam ini kita menaruh tangan kita ke dalam tangan Allah. Iman kita tidak perlu bergantung pada tanda, tetapi  berserah diri secara total kepada Allah dalam situasi apa pun. Inilah iman. Bagaimana pengalaman Anda?

Senen Pon, 12 Pebruari 2018 –
Rm.  Maxi Sriyanto

Minggu, 11 Februari 2018

Renungan Harian GML : Hari Orang Sakit Sedunia


Selamat pagi saudara-saudari terkasih pembaca budiman laman Gualawangsih.com. Selamat merayakan hari Minggu Biasa ke-6. Hari ini kita juga merayakan Hari Orang Sakit Sedunia. Apakah maksudnya? Untuk apa kita diajak merayakannya? Bacaan pertama hari ini menyampaikan bagaimana sikap orang Perjanjian Lama tentang penyakit dan bagaimana mereka memperlakukan orang sakit. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana sikap Yesus dan tindakannya terhadap hal yang sama: orang sakit. 

Pada masa perjanjian lama, sakit khususnya yang berat-berat dan berbahaya seperti lepra, dianggap sebagai akibat dosa. Mereka yang menderita sakit tersebut harus dijauhkan dari masyarakat, ditempatkan di tempat terpencil dan dikucilkan. Mungkin kalau mau ditafsir atas cara kesehatan, ada benarnya juga yakni karena penyakit itu mudah menular dan sulit sembuh maka mereka dijauhkan dari pergaulan masyarakat. Kenyataannya mereka memaknai penyakit itu dalam kaitan dengan kehidupan keagaan. Yang sampai terkena penyakit itu dianggap sebagai orang yang dikutuk Tuhan atau karena akibat dosa mereka.

Perjanjian Baru menyampaikan kepada kita bagaimana sikap dan tindakan Yesus terhadap orang yang sakit. Penginjil Markus mengisahkannya, bahwa orang yang sakit kusta itu datang kepada Yesus dan meminta kepadanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Suatu permintaan yang berisi keyakinan tetapi juga keraguan sekaligus. Keraguannya ada karena banyak orang tidak mau bergaul dengan orang sakit kusta seperti dia. Maka ia hanya bisa memohon kerelaan Yesus. Ternyata Yesus menjawab: “Ya, Aku mau. Jadilah engkau tahir.” Ternyata seketika itu juga sembuhlah orang kusta itu. Apa yang hendak disampaikan oleh Markus tentang peristiwa itu? Pertama adalah bahwa Yesus bukan hanya satu orang di antara orang Yahudi ataupun ahli-ahli Taurat. Yesus adalah yang memenuhi pewartaan HUKUM TAURAT tentang datangnya Mesias Utusan Allah. Dialah Allah yang menjadi manusia. Ia menyatakan kuat kuasa Allah. Kedua, di pihak lain Markus juga menyampaikan bahwa Yesus bertindak sebagai manusia yang sangat manusiawi. Ia mendengarkan permintaan orang tersebut dan tergerak oleh belaskasihan untuk menolongnya. Kata-kata “Aku mau” menjadi sangat penting. Jika ada kemauan maka akan ada jalan, begitu kata-kata bijak. Karena Yesus mau menolong orang itu, maka orang itu pun menjadi sembuh. Tentang bagaimana ia menjadi sembuh, nampaknya tidak terlalu penting dibahas. Yesus melarang orang itu untuk menceritakannya kepada orang lain.

Saudari-saudara, terlepas dari karya mukjizat Yesus, kita diajak untuk memperhatikan bagaimana sikap Yesus terhadap orang yang sakit kusta itu. “Kemauan” Yesus untuk menanggapi seruan orang itu memungkinkan terjadinya ‘pentahiran’ orang itu. Lebih daripada sembuh, pentahiran juga berarti dibebaskan dari belenggu dosa. Orang yang biasa dikucilkan itu kini boleh kembali lagi masuk di dalam persekutuan orang beriman. Rasul Paulus mengajak kita untuk memilih menjadi pengikutnya sebagaimana ia sendiri menjadi pengikut Kristus. Demikian dalam dua sikap PL dan PB terhadap orang sakit, kita diajak untuk memilih mengikuti sikap PB: sikap Yesus yakni peduli dan mau untuk turut memperhatikan orang yang sakit.

Kita mempunyai kebiasaan yang sungguh bagus untuk orang-orang sakit: mengunjungi, bahkan turut membantu secara finansial seberapa kita bisa. Sungguh merupakan tindakan yang mulia. Namun perlu diberi catatan supaya tidak jatuh ke dalam perasaan utang piutang bahwa seolah-olah kita mengunjungi untuk memberi bantuan karena kita juga telah dibantu secara finansial. Faktor ketergerakan hati untuk memperhatikan menjadi lebih penting untuk diperhatikan. Doa dan perhatian telah menjadi hal yang sungguh sangat membesarkan hati bagi yang sakit. Satu penglaman ketika memberi pelayanan orang sakit di rumah sakit. Karena rutin pelayanan itu dilaksanakan, rupanya ada orang lain yang memperhatikan. Terjadilah ketika kami selesai mendoakan seseorang, orang yang melihat kami meminta juga untuk mendoakannya. Karena tidak ada di dalam daftar orbgbyang harus didoakan maka saya bertanya : “Maaf, tetapi kenapa anda tidak masuk di dalam daftar ini, apakah anda orang katolik?” Dan dia bilang bahwa ia orang Islam. Maka kami pun meminta untuk kami mendoakannya menurut agama Katolik. Dia pun bersedia. Cerita punya cerita, rupanya orang itu memperhatikan bahwa orang-orang yang didoakan di bangsal di mana ia dirawat pada unumnya bersukacita meskipun sakit dan malahan kebanyakan mereka cepat sembuh. 
Saudara-saudara, perhatian kita bagi orang sakit sungguh diperlukan untuk menghadirkan penyertaan dan kebaikan Allah bagi orang tersebut. Semoga kita menjadi salah satu pembawa mukjizat kesembuhan rohani dan jasmani bagi mereka yang sakit.

Rm. Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 10 Februari 2018

Renungan Harian GML : “Lihatlah dan rasakanlah!”

10 Februari 2018

Markus 8:1-10 – Belajar Melihat dan Merasakan

Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai mukjizat penggandaan roti dan ikan. Yang menarik dari cerita ini adalah bahwa mukjizat ini berawal dari apa “yang dilihat” dan “yang dirasakan” oleh Yesus ketika melihat orang banyak di sekitarnya: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan  kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” Dari sinilah mukjizat itu terjadi. Yesus merasa tidak tega: “Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”

Mukjizat bukan berasal dari hal-hal yang besar. Mukjizat berasal dari “hati yang tergerak”, “hati yang melihat” realitas yang ada di sekitarnya. Namun, jika hanya berhenti di situ saja (rasa-perasaan belaka), mukjizat tidak akan pernah terjadi. Mari kita masuk lebih dalam lagi, apa yang dilakukan oleh Yesus dan para murid-Nya:

1. Yesus bertanya: “Berapa roti ada padamu?” (dan para murid menjawab, “Tujuh”.)
2. Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah.
3. Kemudian, Yesus mengambil ketujuh roti itu.
4. Lalu, Ia mengucap syukur.
5. Memecah-mecahkan roti itu.
6. Memberikannya (roti itu) kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan.
7. Lalu, murid-murid pun memberikannya (roti itu) kepada orang banyak.
8. Mereka pun mengambil ikan-ikan yang ada pada mereka.
9. Yesus mengucap berkat atas ikan-ikan itu.
10. Yesus meminta untuk membagi-bagikan pula ikan-ikan itu kepada orang banyak.

Lalu kemudian, “Apa yang terjadi?”
1. Orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang.
2. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
3. Kemudian Yesus segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Dari sini, kita bisa melihat sebuah “dinamika sebuah mukjizat” :
(1) Berawal dari melihat dan merasakan. Kemudian, (2) melakukan hal-hal kecil yang bisa dibuat oleh orang sehari-hari [lihat 10 hal yang dibuat Yesus dan para murid – itu semua bukan hal-hal yang hebat-hebat dan susah tuk dilakukan, melainkan semua itu hal-hal sederhana sehari-hari]. Dan, “Apa yang terjadi?” (3) Mukjizat pun terjadi di sana. Dan yang menarik, (4) Yesus tidak meminta orang banyak itu untuk tinggal bersama dengan-Nya, melainkan meminta mereka itu pulang. Itu berarti bahwa orang banyak itu (termasuk kita para pembaca saat ini) diminta Yesus untuk “pulang” dan melakukan hal yang sama di tempat kita masing-masing: melihat-merasakan-dan bertindak menanggapi hal-hal di sekitar kita itu dengan sederhana. Dan yang terpenting, “tak lupa tuk bersyukur”, karena dengan hal itulah (bersyukur), “mukjizat itu pun dapat terjadi”. Seburuk apa pun kenyataan hidup kita, jika dapat disyukuri, mungkin itulah sebuah “mukjizat” itu sendiri – “dapat mensyukuri hidup apa adanya.”

Lalu pertanyaannya, “Apakah aku sudah bersyukur untuk hari ini?”
Mungkin dengan begitu, “mukjizat” pun dapat hadir dalam hidup kita hari ini: “Lihatlah dan rasakanlah!”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Jumat, 09 Februari 2018

Renungan Harian GML : TANDA BAHWA MESIAS (YESUS KRISTUS) HADIR



BACAAN
1Raj 11:29-32; 12:19 – “Israel memberontak terhadap keluarga Daud”

Mrk 7:31-37 – “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara”

RENUNGAN
1.Seorang tuli dan gagap dibawa oleh orang-orang kepada Yesus. Mereka ingin agar Yesus menumpangkan tangan atasnya. Ternyata, apa yang dibuat oleh Yesus melebihi apa yang mereka  minta. Yesus memisahkan orang tersebut dari orang banyak, dan Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Sambil menengadah ke langit, Ia berkata: “Efata!”, artinya: Terbukalah!” Pada saat itu juga terbukalah telinga orang itu, dan terlepaslah pengikat lidahnya dan ia berbicara dengan terang.

2.Orang-orang yang hadir takjub dan tercengang. Kata-kata mereka seperti meringkas Kabar Baik: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:5; Luk 7:22).

3.Kenyataan tersebut mengingatkan kisah penciptaan: “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik” (Kej 1:31) dan nubuat nabi Yesaya: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes 35:5). Mukjijat tersebut sebagai bukti bahwa Mesias (:Yesus Kristus) hadir di tengah-tengah manusia.

4.Pesan bagi kita: a) Yesus telah menunjukkan keterbukaan terhadap semua orang tanpa membedakan bangsa, agama, dan adat-istiadat. Berarti keselamatan untuk semua orang. b) Telinga dan mulut, dan semua anggota tubuh kita, yang sudah disucikan oleh Allah lewat pembaptisan, mesti kita gunakan sebagai berkat bagi orang lain.

Jumat, 9 Pebruari 2018
Rm M.Sriyanto,

Kamis, 08 Februari 2018

Renungan Harian GML : KEBERANIAN DAN IMAN MEMBUKA JALAN MENUJU KERAJAAN ALLAH


BACAAN
1Raj 11:4-13 – “Salomo tidak berpegang pada perjanjian Tuhan, maka kerajaannya dikoyakkan”

Mrk 7:24-30 – “Anjing-anjing pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus ingin menyendiri bersama murid-murid-Nya untuk beristirahat, orang-orang mengetahui keberadaan-Nya. Seorang wanita yang bukan-Yahudi/kafir datang mendekati Yesus dan minta bantuan bagi anaknya perempuan yang kerasukan roh jahat. Ia berlutut di kaki Yesus dan mendesak agar Ia menyembuhkan anaknya.

2.Yesus menguji wanita itu: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Yang dimaksud “anak-anak” adalah orang Israel, dan yang dimaksud “anjing” adalah orang kafir seperti wanita itu. Wanita itu membenarkan: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Yesus heran terhadap keberanian dan iman si wanita itu. Maka Ia segera mengatakan kepada wanita itu: “Pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Ketika ia sampai di rumah, anaknya sudah sembuh.

3.Pesan dari Injil hari ini: a) Dalam Kerajaan Allah tidak ada warga klas satu atau klas dua, agama A atau agama B. Semua berada dalam meja perjamuan yang sama, bukan karena agama, tetapi karena rahmat dan belas kasih Allah semata. b) Apabila permohonan kita belum dikabulkan, tidak boleh menyerah dan harus terus memohon dengan penuh iman, seperti si wanita tersebut. c) Tidak sepantasnya kita menyebut orang lain itu kafir. Namun ketika kita dianggap kafir, harus bangga karena kita adalah murid Kristus. d) Harus selalu bersikap positip terhadap orang lain. Sikap positip akan mampu mengubah orang lain. Yesus membuat mukjijat karena keberanian dan iman wanita tersebut.

Kamis, 8 Pebruari 2018 –
Rm M. Sriyanto

Selasa, 06 Februari 2018

Renungan Harian GML : HUKUM ALLAH: BELAS KASIH DAN KEADILAN



BACAAN
1Raj 8:22-23.27-30 – “Engkau telah bersabda: ‘Nama-Ku akan tinggal di sana.’ Dengarkanlah permohonan umat-Mu Israel”

Mrk 7:1-13 – “Kamu mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia”

RENUNGAN
1.Para ahli Kitab dan orang-orang Parisi, yang khusus datang dari Yerusalem, mengkritik tingkah laku para murid Yesus, karena mereka melanggar aturan tentang kesucian: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Yesus balik mengkritik mereka. Ia mengutip nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Yes 29:13).

2.Orang-orang Parisi memaksakan hukum dan peraturan, tetapi mengosongkan (menghilangkan) isinya. Yang penting taat pada hukum, lainnya tidak perlu. Yesus mengambil contoh konkret tentang menghormati orang tua. Ketika orang sudah mempersembahkan persembahan berupa harta kepada Allah, maka tidak ada kewajiban lagi untuk membantu orang tuanya, walaupun orang tuanya sakit. Bagi orang Parisi: hukum dan peraturan di atas segalanya; hukum dan peraturan telah menjadi Tuhan mereka.

3.Pesan bagi kita: a) Membersihkan bagian luar saja tidak berguna, ketika hati kita tetap kotor dan najis. Ke gereja saja tidak berguna kalau kita tidak mau bertobat dan tetap membenci, marah dan balas dendam. Jangan sampai kita menjadi orang munafik. b) Penyucian harus datang dari dalam: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7:15). Hal ini berarti butuh keberanian untuk mengubah secara radikal cara hidup lama menjadi cara hidup baru dalam Kristus. c) Hukum yang harus kita ikuti hanyalah hukum Allah, yaitu belas kasih dan keadilan.

Selasa, 6 Pebruari 2018 –
M. Sriyanto

Senin, 05 Februari 2018

Renungan Harian GML : SEMBUH KARENA MENYENTUH YESUS DENGAN PENUH IMAN


BACAAN
1Raj 8:1-7.9-13 – “Imam-imam membawa tabut perjanjian ke tempat mahakudus, dan datanglah awan memenuhi rumah Tuhan”

Mrk 6:53-56 – “Semua orang yang menjamah Yesus, menjadi sembuh”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret, orang-orang segera mengenal Yesus, “maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus” untuk disembuhkan dari segala penyakit mereka. “Semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.”

2.Mereka menjadi sembuh, karena menyentuh Yesus  dengan penuh iman. Yesus tergerak hati-Nya terhadap orang yang memiliki sikap demikian. Yesus menyembuhkan dan mengajar; Ia mengajar dan menyembuhkan.

3.Mengapa orang-orang begitu semangat untuk datang kepada Yesus? Karena pribadi Yesus yang begitu mempesona dan menarik, dan mereka adalah orang-orang terlantar seperti domba tanpa gembala. Yesus menjadi satu-satunya harapan. Yesus tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi Dia juga mengungkapkan Allah. Dia tidak hanya mengumumkan Kabar Baik, tetapi Dia sendiri adalah bukti dan saksi hidup Kerajaan Allah.

4.Saat ini Yesus berada di tengah-tengah kita, dan seringkali kita tidak mampu “melihat” Dia. Agar kita mampu melihat dan mengalami Dia, kita dituntut memiliki “mata iman,” dan Yesus siap memberi karunia yang kita butuhkan. Maka luangkan waktu memadai untuk berjumpa dengan Yesus.

Senin, 5 Pebruari 2018 –

Minggu, 04 Februari 2018

Renungan Harian GML : Sudahkah anda bersyukur hari ini?


Salam sejahtera saudari-saudara sekalian. Selamat berjumpa lagi pada hari Minggu Biasa ke-5. Masih melanjutkan permenungan kita minggu yang lalu tentang panggilan dan perutusan para murid, minggu ini kita diajak untuk melihat alasan ataupun tujuan dari perutusan para murid. Ibu mertua Petrus itu bangkit dan melayani ketika ia disembuhkan oleh Yesus. Pengalaman tersembuhkan oleh Yesus menyentuh dan menggerakkan ibu mertua Petrus untuk melayani. Rasul Paulus yang tersentuh oleh perjumpaan batin dengan Yesus bukn hanya tergerak tetapi malah mewajibkan dirinya untuk melayani. “Celakalah aku jika aku tidak mewartakan”, kata Paulus. Trus apakah upahnya ketika sudah mengambil bagian dalam pelayanan ataupun pewartaan Yesus.   Paulus menyatakan bahwa upahnya adalah bekerja tanpa upah. Yesus pun tidak menghendaki bahwa pelayanan penyembuhannya bagi orang banyak tidak diharapkan-Nya untuk suatu upah bahkan ketenaran sekalipun. Ketika Petrus dan kawan-kawan menyampaikan kepada-Nya bahwa ada banyak orang mencari Dia, Yesus malahan mengajak mereka untuk pergi ke tempat-tempat lain karena untuk mereka juga Ia diutus. Karya Yesus bukan untuk mendapat upah kalaupun hanya popularitas. Yesus mau supaya orang beriman dan bukan menjadi pengagum-pengagum demi ketenaran diri-Nya. Ayub melengkapi keyakinan ini dengan menyatakan bahwa terhadap Allah apakah yang bisa kita tuntut. Layakkah kita menuntut kepada Dia yang telah memberikan segalanya.

Saudari-saudara sekalian keterpanggilan para murid dilandaskan kepada ketergerakan dan ketersentuhan pada pribadi Yesus. Pengalaman yang mengesan dalam perjumpaan dengan Yesus membuat mereka merasa terutus. Semangat mereka berkobar dari dalam. Bukan karena insentif, bukan karena upah, bukan juga karena nama besar; melainkan karena rasa syukur dan sukacita yang berkobar yang membuat mereka bersemangat.

Kita juga dipanggil oleh Tuhan. Yesus juga menjumpai kita dan menyapa kita dengan dan melalui pengalaman hidup kita. Persoalannya, apakah kita mempunyai kepekaan untuk merasa dan twrsentuh oleh pengalaman itu? Kepekaan untuk merasa dan tersentuh mungkin terjadi jika ada kerendahan hati yang akan menghasilkan rasa syukur.  Sikap demikian bukan bawaan lahir tetapi dapat dilatih. Salah satu latihan kecil yang bisa dibuat adalah mengucapkan terimakasih atas apa saja yang diterima dari orang lain. Muara atapun jangkauan akhirnya adalah mengucap syukur kepada Tuhan.

Sudahkah anda bersyukur hari ini?
Rm.  Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 03 Februari 2018

Renungan Harian GML : MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG BAIK DAN BENAR SERTA MENCIPTAKAN KEHENINGAN AGAR MENJADI GEMBALA YANG BAIK


BACAAN
1 Raj 3:4-13 – “Salomo memohon hati yang bijaksana, agar sanggup memerintah umat Allah”

Mrk 6:30-34 – “Mereka itu bagaikan domba-domba tak bergembala”

RENUNGAn
1.Setelah para murid mewartakan Injil, mereka “kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.” Oleh Yesus, mereka dilatih untuk bercerita tentang pengalaman perutusan mereka; mereka diajak belajar untuk saling terbuka, mendengarkan, dan berbagi.

2.Setelah pengajaran itu, Yesus berkata: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!” Inilah salah satu cara membentuk para murid. Dalam keheningan, mereka diajak untuk meninjau kembali dan berefleksi  tentang apa saja yang telah mereka lakukan. Mereka diajak untuk membangun relasi yang semakin mendalam dengan Allah supaya menjadi rasul yang efektif dan berdaya guna.

3.Ketika melihat orang yang begitu banyak, Yesus merasa sedih dan kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba tanpa gembala. Sadar bahwa mereka tidak mempunyai gembala, maka Yesus menjadi gembala mereka. “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku ... “ (Mzm 23:1.3-5).

4.Orang-orang terkesan dengan pengajaran Yesus. Pengajaran-Nya diberikan tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap hidup dan pribadi-Nya yang bersatu erat dengan Allah. Yesus mengajar mereka untuk saling mengasihi dengan sepenuh hati. Kata-kata Yesus mendorong mereka untuk secara radikal meninggalkan cara hidup lama: kekerasan, keserakahan, egoisme, ...

5.Dari renungan no 1, bagaimana aku membangun komunikasi dalam keluarga, dalam lingkungan dan masyarakat? Dari renungan no 2, sejauh mana aku telah menciptakan keheningan demi membangun relasi dengan Allah dan orang lain? Dari renungan no 3, siapa domba-dombaku?

Sabtu, 3 Pebruari 2018 –
Rm Maxi Suyamto

Jumat, 02 Februari 2018

Renungan Harian GML : YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH



BACAAN
Mal 3:1-4 – Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya”

Ibr 2:14-18 – “Dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya”

Luk 2:22-40 – “Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”

RENUNGAN
1.Sebuah keluarga miskin memasuki kenisah untuk penyucian diri (Im 12:2-8) dan mempersembahkan anak sulung mereka menurut hukum Yahudi (Kel 13:2.12).

2.Setelah upacara selesai, kanak-kanak Yesus dibawa masuk kenisah oleh orang tua-Nya. Simeon menatang kanak-kanak Yesus. Simeon seorang yang benar dan saleh, dan dinaungi oleh Roh Kudus. Ia mewakili semua orang Yahudi saleh yang menantikan kedatangan Mesias. Ia memuji Allah, karena Allah telah menyampaikan keselamatan kepada para bangsa melalui Yesus. Simeon diberi rahmat khusus untuk bisa melihat Mesias dan memaklumkannya.

3.Dari dulu sampai sekarang, tidak setiap orang ingin menerima keselamatan yang disampaikan oleh Yesus. Tidak setiap orang ingin melihat cahaya. Tidak setiap orang ingin mengenal Allah dalam diri Yesus. Bahkan Yesus mereka tolak dan memperlakukan-Nya dengan semena-mena. Dan Maria, ibu-Nya, akan merasakan kepedihan berada di bawah salib Yesus.

4.Simeon, dan Hanna, mengajari kita bahwa jika kita membiasakan diri hidup di hadirat Allah, percaya akan janji-Nya, memelihara gerak batin kita searah dengan Roh Allah, maka kita akan senantiasa berada dalam “penyelenggaraan ilahi.” Ada sebuah tangan yang merenda, ada sebuah kuasa yang mengatur, ada suara yang terus berbisik.

5.Persembahan Yesus di bait Allah merupakan sebuah ketertundukan dan ketaatan pada kehendak Allah. Kita diajak untuk membiasakan diri bersyukur dan berjalan di bawah terang Tuhan.

Jumat, 2 Pebruari 2018,
Rm Maxi Suyamto

Kamis, 01 Februari 2018

Renungan Harian GML : TERLIBAT DALAM PERUTUSAN YESUS



BACAAN
1Raj 2:1-4.10-12 - “Aku akan mengakhiri perjalananku yang fana ini. Kuatkanlah hatimu, dan berlakulah ksatria”

Mrk 6:7-13 – “Yesus mengutus murid-murid-Nya”

RENUNGAN
1.Para rasul begitu percaya kepada penyelenggaraan Allah. Mereka memiliki kuasa dari Yesus. Yesus tidak minta lebih kepada mereka, tetapi cukuplah kalau seperti yang Ia alami sendiri: Ia selalu meninggalkan keluarga, rumah dan menjadi seorang pengkhotbah keliling. Ia hidup seperti masyarakat biasa, bergulat melawan kejahatan,  mengundang orang-orang agar memiliki kedalaman relasi dengan Allah. Cara hidup seperti itu yang diinginkan Yesus untuk kita wartakan.

2.Tujuan perutusan (ay 7). Tujuan perutusan sangat sederhana, namun mendalam, yaitu agar para murid berpartisipasi dalam perutusan Yesus. Mereka tidak dapat pergi sendirian. Mereka harus pergi berdua-dua, karena dengan demikian perutusan mereka menjadi lebih efektif dan  bisa saling membantu.

3.Sikap yang harus dimiliki (ay 8-11). Tidak perlu membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat, dan mereka tidak boleh berpindah-pindah tempat tetapi menetap dalam suatu rumah sampai berangkat ke tempat lain. Mereka diajak untuk percaya kepada penyelenggaraan Allah dan kemurahan hati orang-orang yang didatangi. Mereka berangkat. Hal ini merupakan awal yang baru, di mana banyak kelompok mewartakan Kabar Baik kepada semua orang. Konflik dan perlawanan pun tidak hanya terhadap Yesus, tetapi juga terhadap kelompok-kelompk tersebut. Suka cita pun tidak lagi terbatas karena Yesus tetapi juga karena kelompok-kelompok tersebut.

4.Hasil pengutusan (12-13). Mereka mengumumkan pertobatan, mengusir banyak setan, dan menyembuhkan orang-orang sakit. Para murid membuat mukjijat karena kuasa dari Yesus.

5.Sekarang ini Yesus juga memanggil kita untuk suatu tugas perutusan. Tentu banyak yang tidak pandai berkhotbah seperti para rasul, tidak banyak yang bisa menyembuhkan penyakit. Tugas kita adalah menyapa orang lain dengan penuh kasih, memberi perhatian, dan terlibat dengan pergulatan hidup orang lain. Sekarang ini semua orang merasa sibuk, tidak punya waktu. Padahal beberapa menit kita hadir dan menyapa orang lain, mendengarkan masalah mereka akan menjadi hadiah besar bagi orang lain. Cobalah praktekkan hal ini di dalam keluarga Anda, mukjijat pasti terjadi.

Kamis, 1 Pebruari 2018,
Rm Maxi Suyamto