Minggu, 18 Februari 2018

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT, BERTOBATLAH DAN PERCAYALAH KEPADA INJIL


Saudari-saudara terkasih, selamat jumpa lagi. Hari ini kita memasuki hari Minggu Prapaska Pertama di Tahun 2018. Masa prapaska ini sudah kita mulai dari hari Rabu lalu yakni Rabu Abu ketika kita ditandai dengan abu dengan seruan “Ingatlah bahwa kita ini berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Mengapa Rabu Abu dan bukan Kamis atau Jumat Abu? Karena untuk menggenapkan masa persiapan Paska menjadi 40 hari sebagaimana Yesus juga mempersiapkan diri untuk pelaksanaan tugas perutusannya dengan tinggal 40 hari di padang gurun. Kalau kita menghitung sampai dengan Minggu Paska, kita mempunyai 6 (enam) minggu atau 42 hari. Ditambah dengan 4 hari: Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu; akan menjadi 46 hari. Karena hari-hari Minggu tidak dihitung ke dalam hari puasa, maka genaplah masa prapaska itu menjadi 40 hari. Masa prapaska menjadi masa untuk mengingat bahwa jati diri duniawi kita ini adalah fana belaka; akan berakhir dengan kematian dan menjadi tanah atau debu atau abu asal kita. Namun demikian, Allah sungguh mengasihi kita. Kita diberi nafas hidup-Nya sendiri. Kita tidak dibiarkan binasa melainkan hidup yang kekal. Untuk itu, Putra-Nya yang Tunggal telah mau menjadi manusia, merasakan dan mengalami kelemahan serta kerapuhan manusia, susah dan penderitaan manusia namun tanpa jatuh ke dalam dosa; supaya manusia yang rapuh dan mudah jatuh ke dalam dosa boleh menimba kekuatan daripada-Nya untuk memperoleh hidup yang kekal. Dari pihak manusia, supaya kita bisa diselamatkan; kita perlu bertobat dan percaya kepada Injil yakni warta gembira ataupun kisah dan cara hidup Yesus yang menjadi jalan untuk menuju kehidupan yang kekal itu.

 Bacaan pertama Minggu Prapaska pertama ini mengisahkan tentang janji Allah sesudah air bah yang membinasakan semuanya kecuali Nuh dan yang ada di dalam bahteranya. Sesudah air bah itu, Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh bahwa tidak akan ada air bah lagi untuk memusnahkan bumi. Allah mengadakan perjanjian lagi karena sejak semula Allah telah menghendaki kebaikan dan bukan kebinasaan manusia. Selama masih ada pelangi (= busur yang diletakkan Tuhan di atas awan) maka Tuhan akan senantiasa ingat akan perjanjian-Nya. Perjanjian itu diperbaharui dan diteguhkan secara radikal di dalam diri Yesus sebagaimana diungkapkan di dalam bacaan kedua. “Kristus yang benar telah mati untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Sebagai manusia Yesus turut mengalami akibat kerapuhan yakni penderitaan dan maut tetapi dibangkitkan menurut Roh atas kesetiaan-Nya pada kehendak Allah. Demikian Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Dalam diri-Nya Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus menjadi Injil, khabar gembira, jalan, kebenaran dan hidup. Bertobat dan percaya kepada Injil yakni warta gembira ataupun kisah hidup Yesus dan mengikuti jalan hidup Yesus adalah jalan keselamatan kekal.

 Saudari-saudara sekalian, masa prapaska menjadi masa puasa bagi kita untuk mengingatkan kita akan sabda Yesus: “Manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah”, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu”, dan “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Puasa bukan saja soal makan dan tidak makan melainkan soal semakin menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan, tidak egois dan tidak mengumbar hawa nafsu untuk kepentingan duniawi atau badani, dan semakin menjadi sesama bagi yang lain. Bertobat berarti menjadi semakin baik: bagaimana kita memaksimalkan diri dalam kegunaan untuk karya Tuhan demi datangnya Kerajaan Allah dalam kerukunan, belaskasih, dan damai sejahtera. Percaya kepada Injil berarti percaya akan kehidupan yang kekal. Hidup tidak berhenti pada kehidupan sekarang, di sini di dunia ini. Kita bukan pecudang, bukan pesaing, dan bukan musuh untuk mengangkangi kehidupan duniawi melainkan menjadi sesama demi kemajuan kehidupan setiap diri yang dicintai oleh Tuhan. Dalam konteks Indonesia kita diundang untuk menjadi saudara satu dengan yang lain dalam keragaman dan perbedaan yang ada: “Kita bhinneka - kita Indonesia bersatu membangun bersama.” Mari amalkan Panca Sila. Salam Persatuan.

Rm Yohanes Purwanta MSC

0 komentar:

Posting Komentar