Minggu, 25 Februari 2018

Renungan Harian GML : Yesus dimuliakan di atas gunung

25 FEBRUARI 2018

Mrk 9:2-10 : Yesus dimuliakan di atas gunung

Membaca perikop kali ini ada beberapa hal yang menarik:
(1)Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan hanya mengajak 3 murid-Nya: Petrus, Yakobus, dan Yohanes.
(2)Lalu, Yesus berubah rupa di depan mata mereka (ketiga murid).
(3)Kemudian Petrus ingin membangun 3 kemah untuk Yesus, Musa dan Elia.
(4)Dan terdengarlah suara dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”
(5)Mereka turun dari gunung dan Yesus berpesan agar mereka tidak menceritakan apa yang mereka lihat hingga waktunya tiba, yaitu setelah kebangkitan Anak Manusia, yaitu kebangkitan Yesus sendiri setelah mati di salib.

Dari hal-hal ini, kita bisa menemukan berbagai macam pesan yang dapat kita petik bagi kehidupan kita saat ini.

(1) Ketiga murid yang diajak Yesus ke gunung tuk melihat kemuliaan-Nya adalah ketiga murid yang sama, yang diajak ke Yesus ke Taman Getsemani (Lih. Mrk 14:33): Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Jadi, ketiga murid ini memiliki pengalaman pribadi bersama Yesus dalam dua hal yang berbeda secara ekstrim. Yang satu pada saat “Ia dimuliakan”; yang satu pada saat “Ia akan menderita memanggul salib dan mati di atas salib”. Dua hal yang sering terjadi pula dalam hidup kita sehari-hari: kebahagiaan dan kesedihan. Ketiga murid ini mengalami hal yang sama pula bersama Yesus secara personal. Yang menjadi fokus pertama-tama bukanlah pada kebahagiaan atau kesedihan itu sendiri, melainkan kita diajak tuk melihat bahwa “Yesus ada di sana”. Ia ada dalam setiap momen hidup kita, di tengah-tengah kebahagiaan, maupun di dalam kesedihan yang paling kelam sekalipun – “Ia akan selalu ada di sana!”

(2) Selain itu, Yesus berubah rupa dengan pakaian putih berkilat-kilat. Di sini, Yesus ingin digambarkan bukan hanya sebagai orang biasa, melainkan lebih dari itu: “Inilah Anak yang Kukasihi” (ay.7.) – Anak Allah. Dan warna putih melambangkan kekudusan dan juga kebijaksanaan pada masa itu. Jadi, dalam kisah ini, kita diajak pula melihat bahwa Yesus adalah Anak Allah itu sendiri, yang penuh dengan kekudusan dan kebijaksanaan. Ini ingin menggambarkan pula pada kita bahwa pada akhirnya, “kekudusan dan kebijaksaan” bukanlah jaminan bahwa kita tidak akan menderita – (Lih. Yesus di Getsemani). Yesus yang mulia, yang penuh dengan kekudusan dan kebijaksanaan itu pada akhirnya Ia pun harus menderita. Namun, yang membedakan adalah “dengan kekudusan dan kebijaksanaan itu, Ia mampu melewati itu semua dengan penuh kemuliaan – bangkit dari mati.” Dari sini, kita bisa belajar bahwa memang benar kita dipanggil tuk menjadi kudus dan bijaksana, namun bukan berarti hidup kita akan mudah. Melainkan justru sebaliknya, mungkin hidup kita akan semakin sulit dan penuh penderitaan. Namun, dengan “kekudusan dan kebijaksaan” itu dan tetap berjalan bersama Yesus, kita diberi kekuatan tuk melewati itu semua. 

(3) Namun, Petrus tampaknya kurang begitu paham. Setelah melihat kemuliaan Yesus dan nampaklah padanya Elia dan Musa, ia berusaha tuk mendirikan kemah di atas gunung. Dan akhirnya mereka pun turun dari gunung. Dari kisah ini, kita diajak untuk selalu “turun gunung” – kembali “ke dalam hidup” (realitas hidup kita sehari-hari). Kita tak dapat hanya berdiam diri di “atas gunung” yang penuh dengan kemuliaan Tuhan – hal-hal yang spektakuler, menakjubkan, dlsb. Pengalaman rohani Petrus di atas gunung (yang penuh dengan kemuliaan itu) akhirnya harus dibawa kembali dalam hidupnya sehari-hari. Begitu pula dengan kita, seringkali kita menemukan begitu banyak makna, refleksi, perasaan yang mengagumkan, kata-kata indah yang meneguhkan, dan masih banyak lagi hal-hal menarik dalam hidup kita. Namun, dengan kisah ini, kita diajak untuk “turun gunung” – merealisasikannya pula dalam hidup kita sehari-hari – “perlu diwujudkan dalam perbuatan, tidak hanya sekadar kata-kata belaka” (sejalan dengan apa yang dikatakan oleh St. Ignatius Loyola dalam buku Latihan Rohani-nya).

(4) “Inilah Anak yang Kukasihi”. Kata-kata yang kurang lebih sama dapat kita temukan pula dalam kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di awal Injil Markus (Lih. Mrk 1:11). Jadi, kisah Yesus yang dimuliakan di atas gunung, juga ingin kembali menggarisbawahi otoritas Yesus yang diperoleh oleh Bapa, “kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk 1:11). Jadi, kisah Yesus di atas gunung ini dapat dikatakan pula sebagai “benang merah” atau “titik temu” antara “awal dan akhir” atau “alpha dan omega” karya Yesus dalam Injil Markus: “pembaptisan dan taman getsemani”.

(5) Dan akhirnya, Yesus pun berpesan untuk tidak menceritakan pengalaman “kemuliaan” ini sebelum Ia bangkit. Hal ini juga ingin menggambarkan bahwa “kemuliaan di atas gunung itu bukanlah puncak dari kemuliaan Yesus, melainkan kebangkitan (Paskah) itu sendiri yang merupakan puncak dari kemuliaan Yesus sebagai Sang Mesias (seperti yang dikatakan Petrus sebelum kisah ini [Lih. Mrk 8:29] bahwa Yesus adalah Sang Mesias itu sendiri).” Begitu pula dengan hidup kita, “kemuliaan” yang sesungguhnya dalam hidup kita adalah “kebangkitan-kebangkitan baru” dalam hidup kita sehari-hari. Dan itu berarti, kita diajak untuk menjadikan hidup kita itu “baru” dari hari ke hari, menjadi semakin “baik” dari hari ke hari. Mungkin bukanlah hal-hal yang besar yang kita lakukan, melainkan hal-hal sederhana sehari-hari: membantu sesama kita, menjadi lebih perhatian dengan keluarga, menjadi lebih bersahabat dengan orang lain, dlsb. Hal-hal itu bisa menjadi “Kebangkitan” itu sendiri – “Hidup  Baru”. Dan di sanalah, kita dapat menemukan “Kemuliaan Tuhan” yang secara nyata dapat kita lihat dari hari ke hari.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar