menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Sabtu, 31 Maret 2018

Renungan Harian GML : Menemukan Pengharapan

Bacaan Liturgi 31 Maret 2018

Hari Sabtu Suci (Pagi) - Vigili Paskah (Malam)

Bacaan Injil
Mat 28:1-10
Ia telah bangkit, dan mendahului kamu ke Galilea.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Setelah hari Sabat lewat,
menjelang menyingsingnya fajar hari pertama minggu itu,
pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain,
menengok kubur Yesus.
Maka terjadilah gempa bumi yang hebat,
sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit
dan datang ke kubur Yesus
dan menggulingkan batu penutup kubur itu,
lalu duduk di atasnya.
Wajahnya bagaikan kilat,
dan pakaiannya putih bagaikan salju.
Para penjaga kubur itu gemetar ketakutan,
dan menjadi seperti orang-orang mati.
Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu,
"Janganlah kamu takut!
Aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.
Ia tidak ada di sini,
sebab Ia telah bangkit seperti yang telah dikatakan-Nya.
Mari, lihatlah tempat Ia dibaringkan.
Maka pergilah segera dan katakanlah kepada murid-murid-Nya,
bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati.
Ia kini mendahului kamu ke Galilea;
di sana kamu akan melihat Dia.
Sesungguhnya, akulah yang telah mengatakannya kepadamu."
Maka mereka segera pergi dari kubur itu,
diliputi rasa takut dan sukacita yang besar.
Mereka berlari cepat-cepat
untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata,
"Salam bagimu!"
Mereka mendekati-Nya, memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
Maka kata Yesus kepada mereka, "Jangan takut!
Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku,
supaya mereka pergi ke Galilea,
dan di sanalah mereka akan melihat Aku."


Renungan :
Perayaan paskah adalah perayaan yang luar biasa menunjukkan kepada kita tentang betapa Allah mencintai kita. Kisah cinta itu sudah dimulai saat Tuhan menciptakan kita manusia. Setelahnya berkali-kali manusia berbuat dosa dan kesalahan, berkali-kali pula Tuhan kembali mencintai umat-Nya dan mengharapkan agar umat kembali kepada-Nya. Hidup kita sebagai umat beriman mengundang kita untuk terus menerus merasakan betapa Allah mencintai kehidupan kita. Ia hadir di dalam kehidupan kita dan Ia memberikan kepada kita berbagai macam kebaikan. Ia berkali-kali hadir dan menyertai kehidupan kita. Mari kita melihat di dalam kehidupan kita masing-masing betapa sering kita melupakan Tuhan, tetapi Tuhan tetap saja membantu memberi kehidupan kepada kita masing-masing dan terus menerus memberi pengharapan baru kepada kita masing-masing. Mungkin kebaikan Tuhan itu adalah kesembuhan kita dari sakit, atau pengampunan yang diberikan oleh orang lain kepada kita, atau rezeki hidup yang masih kita terima, atau kehidupan yang masih kita jalani sampai hari ini, atau keluarga yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.
Tak jarang kita jatuh oleh karena kelalaian kita dalam hal hidup iman, dalam hal hidup kemasyarakatan, di dalam kesetiaan di dalam keluarga, di dalam hal sikap hidup di dalam pekerjaan, atau dalam berbagai bentuk yang lain. Kita pernah jatuh dan berdosa. Tetapi hal ini tidak membuat Allah meninggalkan kita. kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan kehidupan. Tugas dan pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita mengusahakan agar apa yang kita jalani saat ini bisa sungguh mengupayakan kebangkitan hidup. Seperti halnya Yesus mengalami sengsara, wafat dan bangkit, kita pun tak boleh terpuruk di dalam kejatuhan kita. Kini kita diundang untuk bangkit bersama Kristus. Untuk apa? Untuk kembali membangun pengharapan akan kehidupan yang lebih baik, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang-orang yang dipercayakan Tuhan bagi kita.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Kamis, 29 Maret 2018

Renungan Harian GML : “IA MENGASIHI MEREKA SAMPAI KEPADA KESUDAHANNYA”

KAMIS PUTIH

“IA MENGASIHI MEREKA SAMPAI KEPADA KESUDAHANNYA”

BACAAN
Kel 12:1-8.11-14 – “Ketetapan tentang Perjamuan Paskah”

1Kor 11:23-26 – “Setiap kali kamu makan dan minum, kamu mewartakan wafat Tuhan”

Yoh 13:1-15 – “Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir”

RENUNGAN
1.Seseorang yang biasa hidup bijak dan mengikuti jalan Allah, hidupnya mencapai puncaknya ketika ia tahu bahwa kematiannya sudah mendekat. Tindakan dan kata-katanya begitu kuat dan penting, sehingga disimpan dalam ingatan orang-orang dekat dan yang dikasihinya.

2.Injil hari ini bicara tentang Yesus, Tuhan dan Guru, yang membungkuk merendahkan diri dan mencuci kaki para murid-Nya sebagai lambang cinta dan pelayanan total sampai titik darah penghabisan: “Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya,” yang kemudian diwariskan kepada para murid-Nya.

3.Mencuci kaki seharusnya dibuat oleh seorang budak, namun hal tersebut dilakukan oleh Tuhan. Yesus pun mencuci kaki Yudas yang mengkhianati-Nya. Di sini Yesus memberi teladan kepada kita, bagaimana seharusnya menghasihi.

4.Dalam pengkhianatan, Yesus tidak mengalami krisis identitas. Dengan penuh kesadaran, Ia menunjukkan siapa diri-Nya dan apa yang telah Ia kerjakan. Hukuman mati akan segera menghancurkan tubuh-Nya. Namun bagi Yesus, yang namanya pengkhianatan, penyangkalan, penyiksaan, penyaliban dan kematian-Nya justru menjadi sarana untuk menunjukkan cinta-Nya yang tuntas dan sampai akhir.

5.Mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi. Sudah mampukah aku?

Kamis, 29.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 28 Maret 2018

Renungan Harian GML : celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan


Bacaan Liturgi 28 Maret 2018

Hari Rabu Dalam Pekan Suci

Bacaan Injil
Mat 26:14-25
Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan apa yang tertulis tentang Dia,
tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa
pergilah seorang dari kedua belas murid itu,
yang bernama Yudas Iskariot,
kepada imam-imam kepala.
Ia berkata, "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku,
supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?"
Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik
untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi
datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata,
"Di mana Engkau kehendaki
kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
Jawab Yesus, "Pergilah ke kota, kepada si Anu,
dan katakan kepadanya: Beginilah pesan Guru:
Waktu-Ku hampir tiba;
di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah
bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
Lalu murid-murid melakukan
seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka,
dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam,
Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata,
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
Dan dengan hati yang sangat sedih
berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya,
"Bukan aku, ya Tuhan?"
Yesus menjawab,
"Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini,
dialah yang akan menyerahkan Aku.
Anak Manusia memang akan pergi
sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,
tetapi celakalah orang
yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!
Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan."
Yudas, yang hendak menyerahkan Yesus itu menyahut,
"Bukan aku, ya Rabi?"
Kata Yesus kepadanya, "Engkau telah mengatakannya."

Renungan
Hari Rabu Pekan Suci, 28 Maret 2018
Mat 26:14-25, celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan

Meninggalkan Yesus sama dengan meninggalkan keselamatan,  seperti Yudas yang tidak selamat.

Tiga hal dinyatakan oleh Yesus mengenai apa yang akan terjadi menjelang perayaan Paskah bersama para murid. Tiga hal itu ternyata benar-benar terjadi. Yesus mengatakan bahwa ada seseorang di kota yang mepersiapkan rumah bagi Yesus dan para murid sebagai tempat untuk perjamuan Paskah. Yang terjadi memang begitu, para murid mendapati tempat itu. Kemudian Yesus mengatakan bahwa seorang di antara para murid akan menyerahkan Dia. Yang terjadi memang begitu, Yudaslah orang itu. Lalu Yesus mengatakan bahwa celakalah orang yang olehnya Anak Manusia diserahkan. Yang terjadi juga seperti itu, Yudas yang menyerahkan Yesus menemui celaka.

Tak satu pun dari para murid yang tahu pikiran pengkhianatan Yudas. Yudas telah membungkusnya dengan sikap lahir bersahabat dan penuh cinta. Yudas berhasil menyembunyikan kemunafikannya terhadap teman-temannya. Akan tetapi Yesus mengetahui apa yang akan terjadi. Ia mengetahui isi hati Yudas yang berkhianat. Bahkan Yesus tahu nasib Yudas tidak akan selamat.

Kita pun bisa bersikap seperti Yudas. Kita bisa berhasil menyembunyikan kemunafikan di depan sesama. Kita bisa sukses membodohi sesama dan anggota keluarga. Akan tetapi Yesus tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dan keinginan kita. Manusia dapat ditipu oleh penampilan luar yang palsu. Akan tetapi Tuhan menyelidiki isi hati (Lihat 1 Samuel 16:7).

Tahu bahwa Yesus mengenal isi hati dan bahwa Yesus mengetahui segala apa yang akan terjadi, maka kita ikat kuat komitmen pada Yesus meskipun besar godaan dan tantangannya, supaya terhindar dari nasib Yudas yang tidak selamat karena berkhianat.

Rm Supriyono Venantius SVD

Selasa, 27 Maret 2018

Renungan Harian GML : HARGA SEBUAH PENGKHIANATAN



BACAAN
Yes 49:1-6 – “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi”

Yoh 13:21-33.36-38 – “Salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”

RENUNGAN
1.Suasana di Yerusalem nampak begitu tegang. Para pemimpin agama bersekongkol untuk menangkap dan membunuh Yesus. Dan pengkhianatan Yudas yang memungkinkan Yesus ditangkap.

2.Yesus baru saja selesai mencuci kaki para murid-Nya (Yoh 13:2-11) sebagai bentuk pemberian total diri-Nya kepada mereka. Namun ada seorang murid yang berkhianat. Tuhan mengatakan: “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Yudas bernar-benar berkhianat. Ia memenuhi apa yang dikatakan Pemazmur: “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Mzm 41:10). Yudas sadar, bahwa Yesus mengerti segala sesuatu (Yoh 13:18). Namun demikian, ia tidak mengubah keputusannya. Ia tetap berkhianat.

3.Sejak saat itu terjadilah pemisahan  antara terang dan gelap (malam). Setan dan kegelapan memasuki Yudas, sedangkan terang terjadi di dalam Yesus: “Sekarang Anak Manusia dimuliakan.”

4.”Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Seorang tersebut bisa Yudas Iskariot, bisa pasangan hidup, bisa siapa saja. Yang jelas ada korban, dan korban tersebut mengalami penderitaan. Anda di pihak mana?

Selasa, 27.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 25 Maret 2018

Renungan Harian GML : Minggu Palma

25 Maret
Hari Minggu Palma (Mrk 14:1-15:47)

Pada hari ini kita akan mendengarkan kisah sengsara Tuhan kita, Yesus Kristus, menurut Injil Markus. Dan kali ini, saya hanya ingin fokus pada satu hal ini: “Ciuman dan Pertanyaan Terakhir di Sekitar Taman Getsemani.” (Sebuah analisis sederhana dari sebuah kisah nyata yang terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu.)

 1. Ada seorang yang bernama Yudas, karena 30 uang perak ia menyerahkan gurunya sendiri kepada Imam-Imam Kepala. Sang Guru tahu, namun ia diam saja. Ia dibenci banyak orang karena perbuatan-perbuatan baiknya. Ia telah membuat para pemuka agama "kehilangan muka". Ia dicintai banyak orang, khususnya orang-orang kecil dan tersingkir - karena Ia begitu peduli terhadap mereka.

 2. Kisah dimulai ketika selesai makan malam bersama murid-muridnya, Sang Guru pergi ke Getsemani untuk berdoa. Ia tahu, malam itu "malam terakhir" baginya. Ia ingin mempersiapkan diri. Namun tidak disangka, muncullah seorang muridnya yang bernama Yudas. Ia datang bersama serombongan orang yang membawa pedang dan pentung. Mereka disuruh oleh Imam-Imam Kepala, Ahli-Ahli Kitab, dan para Penatua (orang-orang tua yang dihormati masyarakat). Muridnya itu mendatanginya dan memanggilnya, "Guru," lalu ia menciumnya di sana - di Getsemani. Ciuman itu adalah sebuah tanda bahwa dialah orang yang mereka cari, Sang Guru, yang begitu dibenci oleh Imam-Imam Kepala, Ahli-Ahli Kitab, dan para Penatua. Massa pun tahu, dan pada saat itu dibawalah Sang Guru pergi dari situ.

 3. Lalu, Sang Guru pun dibawa malam itu juga ke Mahkamah Agama. Dicari-cari kesalahannya, tapi tidak ketemu. Sang Guru pun hanya diam selama “diadili” dengan tidak adil. Lalu Imam Besar pun bertanya, "Apakah Kau Mesias (Sang Juru Selamat)?" Dan Sang Guru menjawab, "Akulah Dia." Lalu Imam Besar mengoyakkan pakaiannya dan berkata, "Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujatannya terhadap Allah - mengaku bahwa dirinya Sang Juru Selamat." Dia harus dihukum mati.

4. Lalu, Sang Guru pun dibawa kepada Kepala Pemerintahan, namanya Pilatus. Ia pun bertanya pada Sang Guru, "Apakah Kau Raja?" Lalu ia menjawabnya, "Engkau sendiri yang mengatakannya." Lalu Imam-Imam Kepala mengajukan banyak tuduhan kepadanya. Namun, ia diam saja, tak berbicara sepatah kata pun. Pilatus pun bingung, karena "massa" sudah berkumpul di depan istananya, yang dipimpin oleh para Imam-Imam Kepala ini. Mereka dihasut oleh para Imam ini. Lalu muncullah ide, "Biarlah 'massa' ini yang memutuskan. Apakah dia akan memilih seorang penjahat yang bernama Barabas atau Sang Guru ini? Karena kebetulan inilah saatnya bagiku untuk melepaskan seorang tahanan, yang dilakukan tiap tahun, khususnya mendekati Hari Raya." Lalu Pilatus pun bertanya pada orang banyak itu, "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan Raja ini?" Lalu 'massa' pun memilih untuk melepaskan 'penjahat' itu (Barabas), dan memilih agar 'Sang Guru' dihukum mati.

5. Akhirnya, Sang Guru pun dihukum mati. Namun "kematian" bukanlah akhirnya baginya. Ia menerimanya dengan lapang dada, "Ambillah cawan ini daripadaku! Namun bukan kehendakku yang terjadi, melainkan kehendak-Mu."
___________________________
Analisis Sederhana

1. Orang-orang baik dan benar (contohnya Sang Guru itu) tidak selalu disukai oleh orang-orang tertentu, terutama “para pemimpin" yang sudah lebih dulu memiliki peranan di dalam masyarakat. Mereka merasa terancam dengan kedatangan orang baru yang diikuti dan disukai banyak orang. Dorongan manusiawi pun muncul dengan sendirinya, yang intinya: "posisi mereka terancam".

2. Karena sudah tidak bisa ikut "bersaing", karena benar-benar tidak punya "kompetensi" yang memadai melawan "lawan tanding” yang baru, maka muncul pertanyaan inti: "Bagaimana bisa 'mengalahkan' pesaing itu?" Dan melihat kenyataan mereka tak punya daya saing, salah satu cara yang mudah adalah "menyingkirkan orang itu dengan berbagai cara."

3. Orang akan cenderung mudah terhasut oleh isu-isu sensitif, contohnya SARA. Lalu, mereka pun bermain di ranah itu. “Dapat peluang sedikit, sudah dimainkan saja!” Uang, 'Orang Dalam', dan Massa dapat digunakan pula di sana.

4. Agar dapat "menyingkirkan dengan elegan", mereka tidak ingin bermain "kotor". Lalu, mereka pun mencoba untuk menyingkirkan dengan elegan pula, melalui "jalur hukum": (a) Hukum Agama, lalu dibawa ke (b) Hukum Sipil. Hal ini pun perlu didukung oleh "Massa"; dengan "Massa" mereka pun punya sedikit "bargaining power" (kekuatan daya tawar).

5. Sebenarnya masih ada harapan Sang Guru bebas dan diselamatkan. Namun akhirnya, Pilatus pun salah dalam mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pemerintahan. Ia sebenarnya ingin menyelamatkan Sang Guru, karena ia tidak punya kesalahan apa pun. Dan ia punya kesempatan itu sebenarnya. Ia punya hak melepaskan satu "tahanan” pada hari itu. Namun, ia tidak melepaskan begitu saja Sang Guru, malah justru bertanya pada "massa" yang jelas-jelas membenci Sang Guru. "Blunder" terjadi di saat-saat terakhir. Dan itu benar-benar terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu.

6. Akhirnya, akibat (a) "satu ciuman" di taman Getsemani - Ciuman Terakhir seorang murid pada Gurunya, dan (b) akibat satu pertanyaan terakhir yang “kurang tepat”, yang diajukan oleh seorang pemimpin pemerintahan; “Hukuman Mati” pun datang pada Sang Guru. Imam-Imam Kepala, Ahli-Ahli Kitab, para Penatua, dan Massa sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya Sang Guru ada bersama-sama mereka ‘tiap harinya’, tapi toh mereka hanya diam karena mereka benar-benar tidak menemukan sesuatu yang dapat dipakai untuk menangkap dan menghukumnya. Jadi mereka pun hanya menanti sebuah “blunder” di awal, dan menantikan “blunder-blunder” lain berikutnya, hingga akhirnya mereka pun “menang”, mencapai apa yang mereka mau - “Sang Guru dihukum mati”.
___________________________

Penutup:

Inilah Kisah Nyata yang terjadi sekitar 2000 tahun yang lalu dan terus dikenang hingga hari ini. Kisah ini tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan berbagai kisah konkrit lainnya di dalam sejarah. Namun yang pasti, ada sebuah ‘paradigma’ yang sama dari kisah ini (tak hanya sekadar teori), yang terus berulang dari abad ke abad, dari masa ke masa. Persoalannya: “Apakah kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini? Apakah kita bisa melihat ‘sesuatu yang baik’ dari orang-orang di sekitar kita? Kalau Tidak!! Itu yang akan menjadikan kita selalu membenci orang lain, karena selalu hanya melihat kejelekan dan kelemahan orang-orang di sekitar kita. Dan, ‘Yesus’ adalah contoh konkrit seorang korban dari rasa benci yang mendalam dari orang-orang yang tidak dapat melihat kebaikan dalam diri-Nya.”

Jadi, "Marilah kita melihat kebaikan dari orang-orang di sekitar kita!"

Rm Nicolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 24 Maret 2018

Renungan Harian GML : HARI RAYA MARIA MENERIMA KABAR SUKACITA



BACAAN
Yes 7:10-14; 8:10 – “Seorang perempuan muda akan mengandung”

Ibr 10:4-10 – “Lihatlah Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu”

Luk 1:26-38 – “Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki”

RENUNGAN
1.Menjelang Minggu Palma, Gereja menyajikan bacaan liturgi dari Injil Lukas 1:26-38. Malaikat Gabriel memberi kabar sukacita kepada perawan Maria, bahwa dari padanya akan lahir seorang Penyelamat. Maria menerimanya dengan bebas dan dengan iman yang utuh. Maria hanyalah alat di tangan Allah.

2.Kata malaikat kepada Maria: “Jangan takut.” Banyak ketakutan dalam hidup kita. Seperti Maria, kita butuh cara untuk mengatasi ketakutan. Dalam mengatasi ketakutannya, Maria merangkul kehendak Allah dengan iman dan cinta yang besar. Belajar dari Maria, ketika kepercayaan kita kepada Allah meningkat, maka ketakutan kita berkurang. Bila cinta pada Allah meningkat, maka ketakutan hilang.

3.Janji sukacita dari Allah ternyata membawa kepedihan mendalam bagi Maria. Selama 33 tahun, ia mengalami gejolak batin dan guncangan jiwa yang dahsyat, sejak dari kabar malaikat sampai Golgota. Namun semua problem ia selesaikan bersama Allah dalam iman, kesetiaan dan kepercayaan.

4.Bagi kita, Maria adalah model iman yang sempurna, Ibu Umat beriman, dan Hamba Tuhan. Dalam hal apa iman Anda menyerupai iman Bunda Maria?

Sabtu, 24.3.18 –
Rm Maxi S

Jumat, 23 Maret 2018

Renungan harian GML : MEREKA MENOLAK YESUS



BACAAN
Yer 20:10-13 – “Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah”

Yoh 10:31-42 – “Orang-orang Yahudi mencoba menangkap Yesus, tetapi Ia luput dari tangan mereka”

RENUNGAN
1.Minggu Suci makin mendekat. Bacaan selalu menekankan ketegangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi, khususnya para pejabat agama , para ahli kitab, dan orang-orang Parisi. Mereka menolak pengajaran Yesus. Mereka ini justru orang-orang yang merasa diri paling beragama dan setia kepada Allah.

2.Sekali lagi, orang-orang Yahudi ingin melempari Yesus dengan batu. Alasan yang mereka tuduhkan: Yesus melakukan penodaan agama: “... Engkau menghujat Allah ... menyamakan diri-Mu dengan Allah.”

3.Kalau mereka menolak klaim bahwa Yesus adalah Anak Allah tidak masalah. Yesus tidak menuntut agar Ia diterima, diakui dan dipercayai. Ia hanya meminta mereka membuka mata dan hati akan karya-karya Allah di dalam diri-Nya.  Mereka tetap tidak percaya, bahkan, sekali lagi, mereka hendak melempari Yesus dengan batu. Tetapi Ia luput dari tangan mereka.

4.Konflik antara Yesus dengan para pejabat keagamaan, mencerminkan perjalanan sejarah Gereja dari dulu sampai sekarang. Orang-orang menutup diri terhadap pengajaran Yesus, bahkan atas nama agama mereka memfitnah dan mengadili anak-anak Allah.

5.Ketika  ada dari antara kita, orang beriman, yang dengan tulus hati ingin memperbaiki keadaan agar tidak terjadi korupsi, justru mendapatkan perlawanan sengit. Kita berhadapan dengan pilihan yang sulit: mengurungkan niat tulus kita agar tidak didepak atau mewujudkan niat tulus itu dengan resiko bisa tersingkirkan. Sukar, tetapi harus memilih.

Jumat, 23.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 21 Maret 2018

Renungan harian GML : Orang yang mengenal Yesus akan memiliki kebebasan sejati

Hari Rabu Prapaskah IV, 14 Maret 2018
Yoh 8:31-42, kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu

Orang yang mengenal Yesus akan memiliki kebebasan sejati.

Bagaimana manusia berusaha mencari kebebasan sejati. Ada yang menaruh keyakinan pada ilmu pengetahuan. Jika manusia terdidik, dunia semakin terbebaskan. Akan tetapi fakta membuktikan, di zaman modern, ketidakadilan tetap terjadi di mana-mana meski banyak orang berilmu. Orang menggunakan hasil penemuan ilmu untuk mencari keuntungan diri sendiri sedangkan diri sesama dibuat tak berdaya dan tidak sadar akan dampak buruknya. Ilmu pengetahuan mengubah otak, tetapi tidak mengubah hati. Banyak orang pintar menggunakan ilmu sebagai sarana meluapkan hatinya yang jahat. Kejahatan tetap menjadi belenggu meskipun manusia serba tahu.

Ada juga yang terobsesi pada kekuasaan dan kehebatan. Hanya orang berbakat dan berkuasa yang bisa bebas mengubah dunia. Akan tetapi fakta menunjukkan, bahkan Alexander Agung yang penuh kehebatan pernah menguasai seluruh Eropa hingga India, akhirnya menyerah pada belenggu sakit dan mati di masa muda. Kematian adalah buah dari dosa yang tetap nyata membeleggu semua manusia. Kebenaran ilmu ataupun kekuasaan tidak dapat menghantar manusia untuk menemukan kebebasan sejati.

Yesus pernah bersabda, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Kebenaran itu bukan konsep, melainkan satu pribadi, yakni pribadi Yesus sendiri. Yesuslah kebenaran yang perlu dikenal manusia. Yesus juga bersabda, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:36). Kebebasan adalah anugerah Allah dan bukan buah dari kekuasaan ataupun kehebatan manusia. Yesus-lah jalan bagi semua manusia agar terbebas dari belenggu dunia. Yesus-lah anugerah Allah yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa.

Supaya terbebas, pertama-tama manusia perlu mengakui dirinya diperbudak oleh dosa. Terhadap orang yang mengakui dosanya, Tuhan akan menganugerahkan kebebasan melalui pengampunan dosa. Pengampunan dosa itu telah terjadi melalui wafat Yesus di kayu salib. Itulah kebenaran yang perlu diketahui semua manusia: Yesus wafat di kayu salib untuk membebaskan semua manusia dari perbudakan dosa.

Mengetahui kebenaran berarti bersatu dengan Yesus. Mengetahui kebenaran berarti tinggal di dalam Yesus. Orang yang tinggal di dalam Yesus akan mengenal Dia. Orang yang mengenal Yesus akan menyelami pengorbanan-Nya. Orang yang menyelami pengorbanan Yesus akan berubah menjadi manusia bebas. Dengan bebas ia berkomitmen untuk melayani Yesus. Dengan bebas dia akan melayani sesama.

Para santo-santa adalah contoh orang-orang yang karena Yesus, mengalami kebebasan sejati. Yesus-lah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan egoisme. Yesus-lah yang telah membuat mereka bebas keluar dari diri sendiri. Yesus-lah yang telah membuat mereka bebas mengabdikan diri bagi kebaikan sesama dan bagi kemuliaan Tuhan.

Rm Supriyono Venantius SVD

Selasa, 20 Maret 2018

Renungan Harian GML : YESUS SEBAGAI PERWUJUDAN ALLAH DI DUNIA INI


BACAAN
Bil 21:4-9 – “Setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandang ular tembaga itu, ia akan tetap hidup”

Yoh 8:21-30 – “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia”

RENUNGAN
1.Walaupun Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus, namun orang-orang Parisi menolak untuk mengakuinya. Mereka selalu berseberangan dengan Yesus, karena mereka “berasal dari bawah” dan Yesus “dari atas.” Maka mereka tidak pernah akan tahu siapa Yesus, karena mereka mencari Yesus menurut pandangan mereka yang salah.

2.Kesalahan orang-orang Parisi adalah: mereka menutup diri terhadap kenyataan Allah yang sebenarnya dan terus berpegang pada kriteria mereka sendiri, sehingga mereka tidak mengerti, bahkan menolak, bahwa apa yang dikatakan dan dibuat Yesus berasal dari Allah Bapa.

3.Mereka akan tahu siapa Dia, ketika Dia ditinggikan di kayu salib dan dimuliakan di sebelah kanan Bapa. Yesus datang ke dunia, pertama-tama tidak untuk mati, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Kematian di kayu salib menjadi satu-satunya jalan. Yesus juga sadar bahwa karena ketaatan-Nya kepada Bapa, penyaliban-Nya juga akan menjadi kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

4.Kesombongan dan ketertutupan menggerogoti manusia jaman sekarang dan telah membuat manusia makin menjauh dari Tuhan. Mereka beragama namun tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki rohani. Beragama hanya sebatas ritual kosong, memenuhi kewajiban, dan tidak memiliki pengaruh bagi keselamatan orang lain. Apakah praktik demikian juga terjadi di dalam Umat Allah?

Selasa, 20.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 19 Maret 2018

Renungan Harian GML : YUSUP: PRIBADI YANG TULUS HATI, BENAR DAN RENDAH HATI.



BACAAN
2Sam 7:4-5a.12-14a.16 – Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia takhta Daud bapa-Nya”

Rom 4:13.16-18.22 – “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya”

Mat 1:16.18-21.24a – “Yusup berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan Santo Yusup, suami Maria. Bab I Injil Matius menuliskan tentang proses kehamilan Maria, kelahiran dan kanak-kanak Yesus. Namun pusatnya adalah Yesus, bukan Yusup atau Maria.

2.Yusup sangat penting dalam silsilah Yesus, karena dia keturunan Daud (Mat 1:20). Karena Yusup ini, sebagai orang tua Yesus menurut hukum, maka Yesus ikut sebagai keturunan Daud, sehingga dalam silsilah ditulis: “Yesus Kristus, Anak Daud” (Mt 1:1).

3.Yusup dikenal sebagai orang yang tulus hati, benar dan rendah hati. Karena sikapnya ini, “ia tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum.” Melalui malaikat yang menampakkan diri kepadanya, ia siap menjadi ayah angkat dari anak yang dikandung Maria, yang sebenarnya berasal dari Roh Kudus. Dengan demikian rencana keselamatan Allah terlaksana.

4.Dibandingkan Daud dan Salomo, Yusup jauh lebih berani daripada Daud dan lebih bijaksana daripada Salomo. Ketika harus ke Betlehem dan tidak ada penginapan, Yusup tidak mengeluh. Ketika malaikat meminta agar Yusup pergi ke Mesir, maka ia berangkat. Ketika malaikat memerintahkan untuk kembali, ia kembali. Yusup mengikuti kehendakAllah dengan penuh cinta.

5.Yusup sebagai model iman. Ia tulus hati, benar dan rendah hati. Ia pribadi yang setia kepada  Allah. Ia seorang bapak, pekerja dan pribadi yang memancarkan kasih bagi keluarga dan sesamanya. Ia seorang pribadi sederhana yang lebih menggunakan hatinya ketika berhadapan dengan Tuhan dan sesama.

Senin, 19.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 18 Maret 2018

Renungan Harian GMl : YESUS POKOK KESELAMATAN ABADI



BACAAN
Yer 31:31-34 – “Aku akan mengikat perjanjian baru, dan takkan lagi mengingat dosa mereka”

Ibr 5:7-9 – “Kristus telah belajar menjadi taat, dan menjadi pokok keselamatan yang abadi”

Yoh 12:20-33 – “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah”

RENUNGAN
1.Dengan berkata: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan”, salib sudah berada di depan mata.

2.Yesus menyampaikan kisah sebuah biji. Dengan berkisah tentang biji, Yesus menyatakan kejadian yang paling sentral dan menentukan dalam hidup-Nya. Biji yang jatuh ke tanah akan mati dan tumbuh serta menghasilkan banyak buah. Demikian hidup Yesus. Kematian-Nya semakin mendekat.  Dengan kematian-Nya, Yesus melaksanakan kehendak Bapa yaitu menyelamatkan manusia; sangat banyak manusia mendapatkan kehidupan karena Sengsara dan Wafat Yesus di kayu salib.

3.Banyak orang hanya memikirkan hidupnya sendiri. Mereka tidak mengenal hidup berkurban, berbagi, dan berbelas kasih kepada orang lain. Hal tersebut bukan cara hidup Yesus. Yesus hidup seutuhnya bagi orang lain. Orang lain selalu nomer satu. Hidup Yesus merupakan sumber kedamaian, kebahagiaan dan kehidupan sejati yang membawa kepada kehidupan kekal.

4.Bagi Yesus mengasihi berarti melayani dan melayani berarti kehilangan diri demi hidup orang lain. Yesus memilih Salib bagi diri-Nya. Hal ini berarti setiap orang yang ingin menjadi murid-Nya dipanggil untuk ambil bagian dalam hidup dan perjalanan-Nya. “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:24).

5.Orang lain nomer satu dan aku nomer dua. Beranikah Anda?

Minggu, 18.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Sabtu, 17 Maret 2018

Renungan Harian GML : AGAMA TANPA ROHANI



BACAAN
Yer 11:18-20 – “Aku seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih”

Yoh 7:40-53 – “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” “Ia ini Mesias”

RENUNGAN
1.Dalam bab 7 Injil Yohanes, ada banyak pandangan yang berbeda tentang Yesus: “Saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya” (7:5). “Ia orang baik.” Orang lain mengatakan: “tidak, Ia menyesatkan rakyat” (7:12). “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang” (7:40). “Ia ini Mesias” (7:41). Para penjaga mengatakan: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (7:46). Orang-orang Parisi selalu membantah ucapan mereka yang membenarkan Yesus dengan berkata: “Adakah kamu juga disesatkan?”

2.Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Bagi orang-orang Parisi, Yesus menjadi ancaman terhadap kekuasaan dan sumber income mereka, sampai mereka harus mempertahankan diri dengan melawan yang dinubuatkan Kitab Suci.

3.Orang-orang jaman ini juga melakukan hal yang sama seperti orang-orang Parisi: mereka hanya mau menerima yang baru bila sesuai dengan gagasan mereka dan menguntungkan dari segi materiil. Ini berarti mereka tidak mau menerima Kabar Baru yang disampaikan oleh Yesus, karena tidak sesuai dengan gagasan mereka. Mereka beragama, tetapi berpikiran lama. Akibat paling serius adalah mereka beragama tetapi tanpa rohani. Cirinya adalah merasa paling benar, pemilik kapling surga, dan semua orang lain yang tidak sepaham wajib dilawan. Di mana letak keselamatan mereka?

4.Kita dipanggil untuk percaya dan mengakui Yesus sebagai sumber hidup dan juruselamat dan menghayati-Nya di dalam hidup nyata setiap hari; kita merasakan seperti dirasakan Yesus, berpikir, berbicara, dan bersikap seperti Yesus. Mungkinkah?

Sabtu, 17.3.18 –
Rm Maxi Suyamto

Jumat, 16 Maret 2018

Renungan Harian GML : KEBENARAN, KEADILAN DAN CINTA KASIH TELAH HILANG



BACAAN
Keb 2:1a.12-22 – “Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati yang keji terhadapnya”

Yoh 7:1-2.10.25-30 – “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saatnya belum tiba"

RENUNGAN
1.Orang-orang yang membela kebenaran dan keadilan bagi orang banyak selalu dalam ancaman bahaya maut. Munir mati diracun. Novel Baswedan disiram air keras dan cacat permanen. Yesus berbicara tentang kebenaran dan kasih Allah bagi semua orang, maka muncullah perlawanan dari para penguasa terhadap Yesus, dan akhirnya mereka menjatuhi Dia hukuman mati (Yoh 11:45-54).

2.Yesus memutuskan untuk pergi ke Yerusalem merayakan pesta Pondok Daun. Ia ke Yerusalem dengan diam-diam karena diancam akan dibunuh. Ketika di Yerusalem, Ia berbicara di depan umum kepada mereka yang ingin mendengarkan-Nya. Mereka tahu bahwa Yesus berasal dari Nasaret, tetapi tidak tahu dari mana asal Mesias. Mereka juga tidak tahu tentang panggilan dan misi Yesus yang diterima dari Bapa.

3.Maka Yesus berbicara tentang asal-usul-Nya. “Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Dengan kata-kata tersebut, mereka ingin menangkap Dia, tetapi tak seorang pun bisa menyentuh-Nya, “sebab saatnya belum tiba.” Yang disebut “saat” adalah kematian Yesus. “Saat” tidak ditentukan oleh para penguasa, tetapi oleh Yesus sendiri.

4.Bagi para pembela kebenaran dan keadilan, keselamatan orang lain jauh lebih penting daripada keselamatan dirinya sendiri. Yesus telah mengurbankan diri sampai wafat di kayu salib demi keselamatan semua orang. Siapkah aku meneladani Yesus?

Jum’at, 16.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 15 Maret 2018

Renungan Harian GML : KESAKSIAN-KESAKSIAN TENTANG YESUS AGAR KITA PERCAYA



BACAAN
Kel 32:7-14 – “Allah menyesali malapetaka yang dirancang-Nya atas umat-Mu”

Yoh 5:31-47 – “Bapa yang mengutus Aku. Dialah yang bersaksi tentang Aku!”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bicara tentang kesaksian Yohanes Pembaptis dan kesaksian Bapa tentang Yesus serta ditolaknya Yesus dan ketidak-percayaan para pemimpin Yahudi terhadap-Nya.

2.Yesus tidak pernah bersaksi tentang diri-Nya, karena Dia tidak pernah mempromosikan diri atau mengagungkan diri. Ada kesaksian-kesaksian tentang Yesus, yang seharusnya membuat seseorang percaya kepada-Nya. Yohanes Pembaptis menghantar Yesus kepada orang-orang Israel sebagai Pribadi yang diutus Allah dan yang harus datang ke dunia, namun mereka tidak percaya kepada Yesus.

3.Kesaksian kedua adalah pekerjaan-pekerjaan yang Bapa kerjakan melalui Yesus. Dengan pengajaran dan mukjijat yang dibuat Yesus, tetap saja mereka tidak mau percaya kepada-Nya.

4.Kesaksian ketiga diberikan oleh Kitab Suci. Kitab Suci Perjanjian Lama berbicara tentang Yesus dan Yesus adalah pemenuhan Kitab Suci. Orang-orang Yahudi percaya kepada Kitab Suci, tetapi kenyataannya, mereka tidak mengerti dan tidak memahami Kitab Suci tersebut. Kalau mereka percaya kepada Kitab Suci sudah seharusnya mereka percaya kepada Yesus. Yang terjadi malah sebaliknya: mereka menghukum Yesus.

5.Kesaksian keempat datang dari Bapa: “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku.” Tetapi karena mereka tidak percaya kepada Yesus, sebagai utusan Bapa, maka mereka tidak mampu mengenal Bapa.

6.Ringkasan Injil hari ini: Kesaksian-kesaksian tentang Yesus membuktikan kesatuan Yesus dengan Bapa dan meneguhkan pernyataan-Nya bahwa Ia adalah Anak Allah, Sang Pemberi kehidupan dan Hakim atas semua orang.

7.Yang paling penting bagi kita: tidak cukup kita belajar dan mengerti Kitab Suci. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengalami Allah melalui pendalaman Firman, doa, perayaan liturgi, kebersamaan  dalam Gereja dan masyarakat. Mengalami Allah harus menjadi pengalaman kita setiap hari.

Kamis, 15.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 14 Maret 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH WAJAH BAPA



BACAAN
Yes 49:8-15 – “Aku telah membentuk dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia untuk membangun bumi kembali”

Yoh 5:17-30 – “Seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati, dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya”

RENUNGAN
1.Orang-orang Yahudi berpandangan bahwa segala pekerjaan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, karena pada hari itu Tuhan beristirahat dan tidak bekerja (Kel 20:8-11). Yesus menegaskan sebaliknya. Ia berkata bahwa Bapa selalu bekerja bahkan sampai sekarang. Karena itu Yesus mencontoh Bapa-Nya. Bagi Yesus: karya penciptaan belum selesai. Allah terus bekerja siang malam tanpa henti. Terhadap pernyataan Yesus tersebut, reaksi orang-orang Yahudi sangat garang. Mereka ingin membunuh Yesus.

2.Inilah relasi antara Yesus dan Bapa-Nya. Yesus, sebagai Anak, penuh perhatian setia selamanya di hadapan Bapa. Apa yang Bapa kerjakan, Ia juga kerjakan. Ia adalah cerminan Bapa. Ia adalah wajah Bapa. Kasih Bapa meresap di dalam diri-Nya, dan melalui Dia, Ia melaksanakan karya Bapa di dunia ini. “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1:19). Terhadap Yesus, Bapa mengatasi kematian dan memberi kehidupan kepada-Nya.

3.Pesan untuk kita: a) Yesus adalah cerminan Bapa. Bapa mempercayakan kuasa penghakiman kepada Yesus, Anak-Nya. b) Kita tahu tentang Allah dan memberi sembah kepada-Nya hanya melalui dan di dalam Yesus. c) Yesus adalah kehidupan. Ia telah melewati kematian menuju kepada kehidupan. Siapa saja yang percaya kepada Yesus memperoleh kehidupan.

Rabu, 14.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Selasa, 13 Maret 2018

Renungan Harian GML : MAUKAH ENGKAU SEMBUH?



BACAAN
Yeh 47:1-9.12 – “Saya melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup.”

Yoh 5:1-16 – “Orang itu disembuhkan seketika”

RENUNGAN
1.Dekat kolam Betsaida ada orang yang berbaring karena sakit. Sudah 38 tahun ia sakit. Ia menginginkan kesembuhan dari mukjizat kolam itu, tetapi tidak ada seorang pun yang membantu dia untuk masuk kolam ketika airnya bergerak. Tak ada seorang pun yang peduli, tak ada solidaritas, bahkan tak ada penerimaan terhadap orang itu.

2.Agama Yahudi, tepatnya Yudaisme, pada waktu itu tidak mampu menunjukkan wajah Allah yang berbelas kasih, tetapi Allah yang menghukum. Hidup beragama diukur sejauh mana orang mentaati hukum dan peraturan serta menghindari larangan-larangan. Yesus melawan hukum tersebut. Ia berkata: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!” Seketika orang itu sembuh dan berjalan.

3.Maksud Yesus menyembuhkan orang tersebut: Pertama, Ia ingin menunjukkan wajah Allah yang penuh belas kasih, yang bertindak kapan saja. Kedua, Yesus menghendaki agar orang yang sakit tersebut, serta semua orang yang disingkirkan, orang berdosa, orang kusta, mengalami kasih dan solidaritas dari masyarakatnya dan mereka bisa diterima dengan penuh cinta.

4.Kepada orang tersebut, Tuhan berkata: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi hal-hal yang lebih buruk.” Maksudnya agar ia meninggalkan hidup berdosa dan pertobatannya membawa hasil nyata bagi dirinya dan bagi orang lain.

5.Dalam masa Prapaskah ini Tuhan bertanya kepada kita: “Maukah engkau sembuh?”

Selasa, 13.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Sabtu, 10 Maret 2018

Renungan Harian GML : Orang Farisi dan Pemungut Cukai

10 Maret 2018

Orang Farisi dan Pemungut Cukai
Luk 18:9-14

Bacaan hari ini sangat menarik. Yesus memberikan perumpamaan yang berbicara tentang dua orang yang berdoa di Bait Allah. Yang satu “Orang Farisi” yang dikenal sebagai “Ahli Agama” oleh banyak orang; sedangkan yang satunya lagi adalah “Pemungut Cukai”, yang memiliki reputasi negatif di mata banyak orang karena menarik “pajak” kepada masyarakat dan terkadang tidak adil dan berlebihan – dikenal korup pada saat itu.

Yang menarik adalah cara mereka berdoa dan isi doanya. 

Pertama, Orang Farisi. 
(1) “Ia berdiri dan berdoa dalam hatinya.” Hal ini baik adanya.  
Kemudian, ia mulai berdoa:
(2) “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu.” (Baik.. seseorang yang dapat bersyukur.)
(3) “Karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (Ya.. benar adanya..!! tidak ada satu pun dari kita diciptakan sama oleh Tuhan. Kita ini unik adanya.)
(4) “Aku bukan perampok” (Baik dan Benar)
(5) “Bukan orang lalim” (Baik dan Benar)
(6) “Bukan pezinah” (Baik dan Benar)
(7) “dan bukan juga seperti pemungut cukai ini” (Baik dan Benar)
Semua yang diucapkan oleh “Orang Farisi” ini tidak ada yang “buruk”, semua pada kenyataannya adalah hal-hal yang baik dan hal itu pula yang diharapkan Tuhan: “menyadari bahwa dirinya unik, tidak merampok, tidak lalim, tidak zinah, dan juga tidak seperti pemungut cukai (yang korup) itu.” Semua itu baik adanya, dan didoakan pula dalam “hati” (tidak digembar-gemborkan ke sana ke mari). “Tapi tunggu dulu..!! Jangan tergesa-gesa..!!” Tuhan sepertinya menuntut lebih dari itu semua. 

Selain itu, ada baiknya pula kita melihat doa “Sang Pemungut Cukai”: 
(1) “Pemungut Cukai itu berdiri jauh-jauh.”
(2) “Ia tidak berani menengadah ke langit.”
(3) “Melainkan ia memukul diri dan berkata…”
(4) “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Dari no.1-3, kita melihat sebuah “gesture” (gerak tubuh) yang menggambarkan “ketidakpantasan” yang ditunjukkan oleh Sang Pemungut Cukai ini kepada Allah. Dan ia benar-benar merasakan dan mengakui bahwa ia adalah seorang yang berdosa dan mohon dikasihani (no.4).

Lalu, Yesus menilai bahwa orang yang kedua (Sang Pemungut Cukai)-lah yang akan pulang ke rumahnya dan dibenarkan Allah. Sedangkan, Orang Farisi itu “Tidak!” (karena ia tampaknya sudah mem-“benar”-kan dirinya sendiri). Tuhan sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Orang Farisi itu. Sedangkan, bagi Sang Pemungut Cukai, ia merasa masih membutuhkan Tuhan untuk mem-“benar”-kan hidupnya. Inilah gambaran hidup kita. 

Yang menjadi persoalan bukanlah “doa” itu sendiri, melainkan ada sesuatu yang lebih dalam lagi yang patut kita tanyakan dalam hidup kita, “Apakah aku masih membutuhkan Tuhan?” 
Mungkin saja kita beragama, beriman, dan rajin berdoa dan misa setiap hari. Namun, jika pada akhirnya kita “tidak membutuhkan Tuhan” (untuk mem-“benar”-kan hidup kita) dan hanya mengandalkan diri kita sendiri, itu semua tidak ada artinya. Tanpa Tuhan, hidup kita tak bermakna – sebaik apapun itu. Namun sebaliknya, “Dengan Tuhan, hidup kita menemukan makna!” Seburuk apapun yang kita hadapi, dengan Tuhan, semua itu akan berarti. 

Mungkin sulit, mungkin kita harus jatuh berulang-ulang kali seperti Yesus yang jatuh tiga kali ketika memanggul salib. Atau bahkan sampai merasakan bahwa Tuhan meninggalkan kita, seperti Yesus sendiri yang berkata, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” – “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Dan Yesus pun tetap tergantung di atas kayu salib dan tidak pergi ke mana-mana. Ia tetap percaya bahwa inilah “Kehendak Bapa”. Dan semua itu tetap bermakna. 

Maka, jika dalam penderitaan dan kesusahan, kita masih mampu melihat “Kehendak Allah” – tetap percaya dan terus berjalan.. percayalah.. “Harapan masih ada!” Masih ada kebangkitan setelah itu.

Selain itu, hanya orang-orang yang pernah “dekat”, yang dapat merasakan apa artinya “ditinggalkan”. Jika kita tak pernah “dekat”, tak akan pernah ada perasaan “ditinggalkan”. Begitu juga relasi kita dengan Allah. Kalau kita tidak pernah merasa “dekat” dengan Allah, tidak akan pernah kita dapat merasakan bahwa Allah itu “jauh” dan “meninggalkan” kita. 

Namun pada akhirnya, kita tetap dapat mengatakan hal yang sama seperti pemungut cukai itu, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Dan Yesus mengingatkan kita pula di akhir bacaan Injil hari ini, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan!”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Jumat, 09 Maret 2018

Renungan harian GML : MENGASIHI SEBAGAIMANA YESUS MENGASIHI



BACAAN
Hos 14:2-10 – “Kami tidak akan berkata lagi “Ya Allah kami” kepada buatan tangan kami.

Mrk 12:28b-34 – “Tuhan Allahmu itu Tuhan yang esa, kasihilah Dia dengan segenap jiwamu”

RENUNGAN
1.Banyak orang bertanya: apa yang utama dalam agama? Ada yang menjawab: dibaptis. Yang lain: ke gereja pada hari Minggu. Yang lain lagi: mengasihi sesama dan berjuang agar dunia menjadi adil. Mereka ini hanya melihat agama dari sudut yang nampak, tetapi belum melihat inti jiwa agama.

2.Para ahli kitab juga menanyakan hal yang sama kepada Yesus: “Hukum manakah yang paling utama?” Mereka sudah tahu jawabannya, tapi maksud utamanya adalah ingin mencobai Yesus: apa pendapat Yesus.

3.Yesus menjawab dengan mengutip Kitab Suci: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Yesus menambahkan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Kedua hukum tersebut merupakan ringkasan dari segala yang diajarkan Yesus.

4.Untuk sekarang ini, mewujudkan kasih jauh lebih penting dibanding dengan jiarah, khotbah, bahkan novena. Jika seseorang berkata “aku mengasihi Allah” tetapi membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya (1Yoh 4:20).

5.Para ahli kitab, orang-orang Parisi begitu sempurna menjalankan hukum-hukum agama. Yesus mengatakan: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, mereka hanya perlu satu langkah lagi, yaitu percaya dan mengikuti Yesus dan ikut terlibat mewujudkan Kerajaan Allah.

6.Cinta Yesus menantang kita untuk juga bisa mengasihi tanpa syarat. Mengasihi keluarga, orang-orang yang berjasa, mereka yang seagama bukan sesuatu yang sulit. Tetapi mengasihi orang-orang yang tidak kita sukai, yang menghina dan merendahkan kita, yang mengkhianati kita sungguh tidak mudah. Tuhan Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Kasih seperti itu yang membuat kita memperoleh Kerajaan Allah. Bagaimana menurut Anda?

Jumat, 9.3.18 – Msri, berkat.id

Kamis, 08 Maret 2018

Renungan Harian GML : SETAN MENGUASAI MANUSIA



BACAAN
Yer 7:23-28 – “Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan”

Luk 11:14-23 – “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus mengusir setan, timbullah dua reaksi. Reaksi pertama: banyak orang kagum dan percaya. Tidak seorang pun meragukan kekuasaan Yesus untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Reaksi kedua dari para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem. Mereka tidak percaya, bahkan memfitnah dan menuduh bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Yang sebenarnya terjadi adalah mereka iri hati terhadap Yesus, karena banyak orang berpihak kepada-Nya. Dengan demikian membuat kekuasaan mereka terancam.

2.Yang dibuat oleh Yesus adalah menyerang langsung kekuasaan dan kerajaan Setan, mana mungkin Yesus bersekongkol dengan setan. Tindakan Yesus tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Allah sungguh hadir dan kekuasaan Setan dihancurkan.

3.Dalam kiasan orang kuat dan rumahnya, Yesus menjelaskan dengan lengkap bahwa Ia jauh lebih kuat daripada Setan. Dengan mengusir Setan, berarti Ia menghancurkan kuasa setan dan menebus manusia dari genggaman Setan.

4.”Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku ... “ Dengan kata-kata tersebut, Yesus mengundang para pendengar-Nya untuk mengambil sikap: memilih Yesus atau melawan Yesus. Sekarang adalah saat membuat keputusan dan memilih. Banyak orang bukan-Kristen berbuat banyak kebaikan dan belas kasih secara tulus dan tanpa pamrih. Mereka ini adalah orang-orang yang bersama Yesus membangun Kerajaan Allah. Kita bukanlah pemilik Kristus satu-satunya. Siapa saja yang berbuat kebaikan dan belas kasih adalah pemilik Kristus.

5.Setan jaman sekarang muncul dalam wujud konsumerisme, serakah, sikap egois, acuh tak acuh, dan gajet atau hp pintar. Saat ini Anda sedang dikuasai Setan yang mana? Apa yang harus Anda buat supaya terbebas dari Setan tersebut?

Kamis, 8.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 07 Maret 2018

Renungan Harian GML : Yesus Datang untuk Menggenapi Hukum Taurat, Kitab Para Nabi.

Bacaan Liturgi 07 Maret 2018

Hari Biasa Pekan Prapaskah III
PW S. Perpetua dan Felisitas, Martir
Bacaan Injil
Mat 5:17-19

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Janganlah kamu menyangka,
bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat
atau kitab para nabi.
Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu:
Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini,
satu iota atau satu titik pun
tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat
sekalipun yang paling kecil,
dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah
di dalam Kerajaan Surga.
Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah Taurat,
ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga."


Renungan
Hari Rabu Prapaskah III, 07 Maret 2018
Mat 5:17-19, Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat, kitab para nabi.

Tak seorang pun mampu memenuhi Taurat dan kitab para nabi, semua orang harus dihukum dan Yesus memenuhi hukuman itu.

Yang kita kenal sebagai hukum Taurat adalah lima kitab gulungan Musa, yakni Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Kitab Kejadian terdiri dari 50 bab, Kitab Keluaran terdiri dari 40 bab, Kitab Imamat terdiri dari 27 bab, Kitab Bilangan terdiri 36 bab, dan Kitab Ulangan terdiri dari 34 bab. Kalau kita mau membaca seluruh bab itu, membutuhkan waktu yang lama. Membaca saja sudah kewalahan, apa lagi harus mentaati semua yang tertulis di situ.

Kitab para nabi terdiri dari kelompok Nabi Awal, yakni Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja; lalu ada kelompok Nabi-nabi Kemudian yakni, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel. Di dalam kelompok Nabi-nabi kemudian ini ada yang disebut 12 Nabi kecil, yakni Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleaki. Seluruhnya ada 20 Kitab Nabi-nabi. Masing-masing kitab masih ada bab dan ayat. Siapa yang mampu memahami seluruhnya secara detail? Jika pun ada yang mampu menghafalkannya, siapa yang mampu mentaati seluruh perintahnya? Sepertinya tak satu pun yang mampu mengikuti seluruh aturan dan tuntutan di dalamnya.

Jelas sekali bahwa di hadapan Taurat dan kitab para nabi, tak seorang pun akan lolos dari hukuman. Tak satu pun selamat. Semua harus dihukum. Hukuman itu telah dijalani oleh Yesus melalui kematian-Nya. Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitap para nabi.

Rm Supriyono Venantius SVD

Renungan Harian GML : DALAM YANG LAMA TERKANDUNG YANG BARU



BACAAN
Ul 4:1.5-9 – “Lakukanlah ketetapan-ketetapan itu dengan setia”

Mat 5:17-19 – “Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi”

RENUNGAN
1.Injil Matius ditujukan untuk orang-orang Yahudi yang bertobat menjadi Kristen. Sebagai orang Kristen Yahudi, dengan iman yang penuh, mereka melihat bahwa kehadiran Yersus untuk memenuhi hukum Taurat.

2.Injil Matius menandaskan bahwa Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat: “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Di sini Yesus menandaskan, bahwa Ia tidak menolak hukum Taurat. Ia menerimanya.

3.Kita, sebagai orang beriman, tidak boleh melawan dan menutup diri terhadap Hukum Taurat dan seluruh Kitab Perjanjian Lama, karena dalam Hukum Lama terkandunglah Hukum Baru. Dalam Perjanjian Lama terkandunglah Perjanjian Baru. Yesus menggenapi Hukum Lama dengan kata, tindakan, dan karya-Nya. Jadi Hukum Lama terwujud dalam diri-Nya.

4.Karena itu “siapa yang meniadakan salah satu perintah Hukum Taurat ... ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” Yang hendak ditekankan dari kalimat tersebut adalah: Pertama, antara Perjanjian Lama dan Yesus dari Nasaret tidak dapat dipisahkan. Kedua, Kerajaan Allah akan ditempati oleh siapa saja yang mengajarkan tentang keadilan dan belaskasih, serta mereka yang mengasihi Allah dan sesama. Ketiga, mereka yang acuh tak acuh terhadap Hukum Allah tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah.

5.Apakah hidup Anda telah mewujudkan Kerajaan Allah?

Rabu, 7.3.18 -
Rm Maxi Sriyanto

Selasa, 06 Maret 2018

Renungan Harian GML : MENGAMPUNI SEBAGAIMANA ALLAH MENGAMPUNI KITA



BACAAN
Tamb Dan 3:25.34-43 – “Semoga kami diterima baik karena jiwa yang remuk redam dan roh yang rendah”

Mat 18:21-35 – “Jika kamu tidak mau mengampuni saudaramu, Bapa pun tidak akan mengampuni kamu”

RENUNGAN
1.Yesus telah berbicara tentang pentingnya mengampuni (Mat 18:15-20). Kemudian Petrus bertanya: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni ...?” Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Artinya: mengampuni tanpa batas.

2.Apa alasannya? Karena Allah telah mengampuni kita dengan tanpa batas setiap kita bersalah, sedangkan kita terlalu pelit untuk mengampuni orang lain. Kalau kita pengikut Yesus, maka tidak ada jalan lain kecuali berbuat yang sama seperti Yesus, yaitu mengampuni terus menerus, bahkan tanpa batas.

3.Apakah harus mengampuni orang yang berkhianat? Ya. Harus mengampuni orang yang menipu? Yess. Harus mengampuni orang yang memperkosa? Ya. Harus mengampuni .... ? Ya. Sungguh tidak mudah untuk mengampuni, karena ada luka dan duka yang berkepanjangan dan mendalam. Tapi bayangkan kalau kita tidak mengampuni, Allah tidak akan mengampuni kita. Perhatikan bagian doa Bapa Kami ini: “ ... ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Pengampunan Allah diberikan, jika kita sudah mengampuni.

4.Dengan mengampuni, kita dibebaskan dari beban dosa. Kemarahan hanyalah meracuni kita. Jika kita menempatkan kemarahan kita ke dalam tangan Tuhan, Tuhan akan menyembuhkan kita. Kita harus ingat bahwa Yesus berjalan bersama kita, mendorong kita dan memberikan kekuatan agar kita mampu mengampuni.

5.Dari kayu salib Yesus berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Bagaimana dengan Anda?

Selasa, 6.3.18 –
Rm.  Maxi Sriyanto


Senin, 05 Maret 2018

Renungan Harian GML : TIDAK ADA NABI YANG DIHARGAI DI TEMPAT ASALNYA



BACAAN
2Raj 5:1-15a – “Banyak orang sakit kusta, dan tak seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain daripada Naaman orang Syria itu”

Luk 4:24-30 – "Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya"

RENUNGAN
1.Injil hari ini (Luk 4:24-30) harus dibaca dan dipahami dalam perikope yang lebih luas, yaitu Luk 4:14-32). Dalam rumah ibadat di Nazaret, Yesus menyampaikan tugas perutusan-Nya dengan menggunakan teks nabi Yesaya yang berbicara tentang orang miskin, orang yang dipenjara, orang buta dan orang tertindas (Yes 61:1-2). Atas nama Allah yang berbelas kasih, Yesus berpihak kepada mereka.

2.Sesudah selesai membaca, Yesus mengatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Orang-orang membenarkan dan heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya. Dengan kata-kata tersebut, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias yang datang untuk menggenapi nubuat para nabi. Karena mereka tahu bahwa Yesus adalah anak Yusup, maka mereka menolak apa yang dikatakan Yesus. Mereka tidak menerima bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka mengusir Yesus dari sinagoga.

3.Untuk mengatasi keributan yang terjadi, Yesus menyampaikan kisah nabi Elia dan nabi Elisa. Mereka tidak diutus kepada orang-orang Israel. Elia diutus kepada seorang janda di Sarfat (1Raj 17:7-16) dan Elisa diutus kepada Naaman, orang Siria (2Raj 5:14). Dua kisah tersebut justru membuat orang-orang Israel makin marah, bahkan mereka hendak membunuh Yesus.

4.Pesan untuk kita: a) Yesus mengecam hati dan pikiran orang-orang Israel yang keras dan tertutup terhadap pewartaan yang disampaikan-Nya. Adakah yang dikecam Yesus dalam diri Anda saat ini? b) Sangat sukarlah mengatasi dan mengubah mentalitas sebagai bangsa istimewa. Dengan baptisan yang Anda terima, apakah Anda sebagai umat yang istimewa dan “the best” dibanding orang lain?

Senin, 5.3.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 04 Maret 2018

Renungan Harian GML : MEMELIHARA DIRI SEBAGAI BAIT KEDIAMAN ALLAH



MEMELIHARA DIRI SEBAGAI BAIT KEDIAMAN ALLAH 

 Saudari-saudara sekalian, selamat jumpa lagi dalam renungan berita sepekan. Hari ini kita memasuki Minggu Prapaska ke-3. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk memperteguh keyakinan kita bahwa Yesus Kristus adalah Mesias dan Juruselamat bagi kita umat manusia. Artinya hanya di dalam dan dengan tuntunan-Nya-lah kita bisa sampai atau memperoleh keselamatan. 

Bacaan pertama hari ini menyampaikan kepada kita bagaimana Hukum Allah ataupun ‘Sepuluh Perintah Allah’ diberikan kepada umat Israel supaya mereka dapat hidup mengasihi Tuhan dan sesama sehingga mendapatkan jaminan kasih setia ataupun keselamatan-Nya. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana Yesus membersihkan Bait Allah dari suasana perdagangan. Tentu bukan karena Yesus tidak suka pedagang, melainkan karena mereka telah tidak memperlakukan Bait Allah sebagaimana mestinya. Bait Allah merupakan representasi (tanda kehadiran) relasi manusia dengan Allah karena manusia menyadari bahwa Allah hadir di dalam Bait Allah. Bait Allah sebagai sarana spiritual, tempat perjumpaan manusia dengan Allah mengharuskan manusia untuk manaruh hormat pada tempat itu dengan cara menggunakannya secara tepat. Meskipun benar bahwa orang-orang di Bait Allah memerlukan sarana-sarana untuk pelaksanaan ibadat mereka seperti binatang korban dan penukaran uang, tetapi kehadiran para pedagang telah mengubah fungsi utama Bait Allah dari nilai spiritual kepada nilai bisnis semata. Fokus perhatian Bait Allah tidak lagi berkat spiritual tetapi keuntungan demi keuntungan. Lebih jauh lagi, ketika Yesus diminta bukti-bukti pertanggungjawaban atas tindakan-Nya, Ia malahan menegaskan lagi tentang Bait Allah yang adalah diri-Nya sendiri. Hal ini dikonfirmasi oleh Paulus dalam bacaan kedua bahwa dalam diri Kristus yang tersalib itu kita melihat dan mengalami kehadiran Allah yang menyelamatkan. Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah. Paulus bahkan menambahkan bahwa tubuh kita inipin adalah Bait Allah. Kita harus memperlakukan diri kita sesuai dengan martabat kita putra-putri Allah. Saudara-saudari terkasih, ada dua hal yang kiranya dapat kita renungkan dari kisah-kisah bacaan pada hari ini. Yang pertama: Gereja kita yang boleh disamakan dengan Bait Allah bertumbuh di tengah-tengah situasi duniawi. Gaya dan cara-cara kehidupan social sering bersinggungan juga dengan urusan kegerejaan. Tidak terkesampingkan juga ekses-ekses seperti perilaku korup bisa menjadi tantangan juga dalam kehidupan menggereja. Jika tidak ada korupsi riil, seringkali terjadi korupsi kepercayaan dengan saling mencurigai bahwa orang lain memanfaatkan dan sebagainya dan sebagainya. Tidak jarang terjadi yang banyak berkorban pun mendapatkan tuduhan-duduhan sebagai balasannya. Demikian urusan hidup menggereja yang seharusnya terarah kepada pembangunan kehidupan menurut Yesus terhenti dalam urusan-urusan dunia-manusiawi. Orang mau ke gereja atau tidak ke gereja sering tergantung kepada siapa yang mengurus gereja. Yang kedua: Bukan hanya gedung gereja dan komunitas gereja yang menjadi Bait Allah. Diri kita, melalui pembaptisan yang kita terima juga telah dijadikan sebagai bait Allah. Bait Allah ini diperbaharui senantiasa dalam penerimaan Sakramen Ekaristi di mana Yesus mau masuk, bersatu dan tinggal di dalam diri kita. Demikian juga sakramen-sakramen yang lain secara nyata mengungkapkan bagaimana Allah mau hadir bagi kita. Pertanyaannya adalah apakah kita juga telah menyelaraskan diri kita sebagai tempat kediaman Allah, sebagai Bait Allah? Rasul Paulus bahkan berani mengatakan: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam Aku.”(Gal 2:20). 

 Saudari-saudara sekalian, kita sekalian telah dipilih dan dipanggil melalui pembaptisan untuk menjadi murid-murid Kristus, menjadi anak-anak Allah dan saudara-saudari Kristus. Bahkan Kristus sendiri mau bersatu dengan kita di dalam perjalanan kita menuju Bait Allah yang kekal yaitu keselamatan kita. Kristus mengajak kita untuk mengambil bagian dalam hidup dan karya-Nya. Semoga kitapun semakin sesuai dan patuh kepada kehendak Allah sehingga “bait Allah kecil” diri kita dihiasi dengan persembahan yang benar di hadapan Allah dalam kejujuran, kebenaran, belaskasihan, pelayanan, kerendahan hati, kemurnian dan pengampunan, persaudaraan dan kerukunan, kesetiaan dan damai sejahtera. Kita bhinneka kita Indonesia. Mari amalkan Pancasila. (Rm Yohanes Purwanta MSC)

Sabtu, 03 Maret 2018

Renungan Harian GML : ALLAH MERINDUKAN PERTOBATAN JIWA-JIWA YANG MALANG



BACAAN
Mika 7:14-15.18-20 – “Semoga Tuhan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”

Luk 15:1-3.11-32 – “Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini, orang-orang Parisi mengkritik Yesus karena Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. Menjawab mereka, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang ayah yang murah hati terhadap anaknya yang jatuh ke dalam dosa.

2.Ada tiga tokoh yang disebut: ayah, anak sulung, dan anak bungsu. Ayah melambangkan Allah yang kasih-Nya tanpa batas. Anak sulung melambangkan keagamaan garis keras. Termasuk anak sulung adalah orang-orang Parisi, ahli Kitab dan para pejabat agama. Anak bungsu melambangkan orang-orang yang dianggap najis, berdosa, para pemungut cukai, dan orang-orang kafir.

3.Anak bungsu minta warisan, dan karena ayahnya sangat mengasihi anak-anaknya, maka warisan pun dibagi. Masing-masing mendapat haknya. Walaupun semua menerima bagiannya, namun tidak semua orang memperlakukan warisan tersebut dengan cara yang sama. Anak bungsu pergi jauh dan menghabiskan semua hartanya.

4.Karena perbuatannya itu, ia kehilangan hak waris, sangat menderita, kehilangan kebebasan, menjadi budak bahkan hidup di tengah kenajisan. Itulah gambaran akibat dosa yang mengerikan. Di tengah situasi tersebut, ia sadar dan menyesali perbuatannya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.”

5.Tiap hari ayahnya selalu merindukan anaknya tersebut untuk pulang. Ketika di dalam rumah, ia selalu melihat ke jendela, jangan-jangan anaknya pulang. Benar, anaknya pulang. Ketika anaknya masih jauh, ayahnya lari menjemput dia, memeluk dan mencium dia. Ayah itu tidak menghendaki anaknya menjadi budak. Ia harus kembali menjadi anaknya.Ia tidak pernah mengungkit masa lalu anaknya. Sebagai tanda sukacita, ayahnya mengadakan pesta besar dan memulihkan hak waris anaknya tersebut.

6.Anak sulung menolak untuk ikut bergembira. Menurutnya, orang berdosa tidak layak mendapatkan kegembiraan. Ayahnya membujuk dia supaya ikut dalam pesta, tetapi ia menolak dengan keras. Anak sulung mewakili orang-orang Parisi, ahli kitab dan pejabat agama lainnya. Mereka merasa diri orang-orang benar dan taat hukum. Karena merasa diri sebagai orang yang taat beragama dan terpilih, mereka tidak memerlukan pertobatan. Sorga sudah menjadi haknya.

7.Jangan-jangan Anda sebagai anak sulung. Benarkah?

Setu Pahing, 15 Jumadilakhir 1951-Cap Go Meh, 3 Maret 2018 –
Rm Maxi Sriyanto

Jumat, 02 Maret 2018

Renungan Harian GML : TUHAN MENYERAHKAN KEBUN ANGGUR KEPADA KITA



BACAAN
Kej 37:3-4.12-13a.17b-28 – “Lihat, tukang mimpi datang, marilah kita bunuh dia”

Mat 21:33-43.45-46 – “Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia”

RENUNGAN
1.Dalam Mat 21:23, para imam kepala dan tua-tua bertanya kepada Yesus: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa kepada-Mu?” Mereka merasa diri sebagai penjaga segala sesuatu, tidak menghendaki setiap orang berbuat sesuatu tanpa seiijin mereka.

2.Perumpamaan tentang kebun anggur ini merupakan ringkasan tentang sejarah Israel yang diambil dari Kitab Yesaya (Yes 5:1-7). Yesus mengarahkan perumpamaan tersebut kepada para imam kepala, tua-tua (Mt 21:23) dan orang Parisi (Mt 21:45) dan Ia memberi jawaban tentang asal-usul kekuasaan-Nya.

3.Dari perumpamaan ini, Yesus mengungkapkan: a) Tentang asal-usul kekuasaan-Nya. Ia adalah Anak Allah, ahli waris. b) Ia mencela penyalah gunaan kekuasaan oleh para imam kepala dan tua-tua. c) Yesus membela otoritas para nabi Allah yang dibunuh oleh para imam kepala dan tua-tua. d) Ia membuka kedok para penguasa yang memanipulasi agama dan membunuh Anak Manusia. Alasan mereka membunuh Yesus: takut kehilangan sumber keuangan yang berhasil mereka kumpulkan untuk diri mereka sendiri selama berabad-abad.

4.Mereka tidak sadar bahwa perumpamaan tersebut ditujukan kepada mereka. Dengan menjawab: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu ....” maka mereka telah menentukan hukuman untuk diri mereka sendiri.

5.Walau demikian, mereka tidak mau bertobat. Malahan mereka berketetapan untuk membunuh Yesus; mereka menolak Batu Penjuru. Namun mereka tidak berani melakukan saat itu, karena mereka takut terhadap reaksi orang-orang yang berpihak kepada Yesus.

6.Kristus telah membangun kebun anggur-Nya, yaitu Gereja, dan Ia mempercayakan pengelolaannya kepada kita. Hal ini berarti Tuhan menyerahkan keselamatan jiwa-jiwa ke dalam tangan kita.

Jumat, 2.3.18 – MS,
Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 01 Maret 2018

Renungan Harian GML : MEMBUKA PINTU HATI BAGI ORANG MISKIN



BACAAN
Yer 17:5-10 – “Terkutuklah yang mengandalkan manusia. Diberkatilah yang mengandalkan Tuhan”

Luk 16:19-31 – “Engkau telah menerima segala yang baik, sedangkan Lazarus segala yang buruk”

RENUNGAN
1.Ada tiga tokoh dalam Injil hari ini: Lazarus, orang kaya, dan Bapa Abraham. Lazarus mewakili orang miskin pada waktu itu dan sepanjang masa. Orang kaya mewakili cara berpikir orang-orang Yahudi, Abraham mewakili cara berpikir Allah.

2.Cara berpikir waktu itu: Kekayaan merupakan berkat dari Tuhan. Dengan demikian orang kaya diberkati Tuhan dan masuk surga. Orang miskin: kelompok orang yang dikutuk oleh Tuhan, karena dosa mereka. Mereka dianggap najis dan tidak mungkin masuk surga. Lewat Injil hari ini, Yesus mematahkan cara berpikir mereka.

3.Dosa orang kaya bukan karena ia kaya, melainkan karena, selama hidupnya, tidak melihat Lazarus yang tiap hari berbaring di depan pintu rumahnya. Di situ Lazarus menderita kelaparan yang sangat dan mengharapkan sisa-sisa makanan dari orang kaya itu, tetapi tidak kunjung mendapatkan.

4.Orang miskin adalah mereka yang tidak berdaya, tanpa hak, tidak punya apa-apa dan dikerumuni banyak penyakit. Walaupun miskin, ia punya nama yaitu Lazarus dan tercatat dalam buku kehidupan. Sedangkan orang kaya tidak bernama dan tidak tercatat dalam buku kehidupan. Yang membatasi orang kaya dan orang miskin adalah pintu orang kaya selalu tertutup bagi orang miskin.

5.Allah, melalui Lazarus, ingin membantu orang kaya tersebut agar namanya tertulis dalam buku kehidupan, tetapi pintu tetap tertutup; hatinya tidak tergerak oleh belas kasihan.

6.Setelah mereka meninggal terjadi keadaan yang berkebalikan. Lazarus berada di pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya menderita sengsara di alam maut. Status sebagai bangsa terpilih tidak menjamin secara otomatis masuk ke dalam Kerajaan Allah. Demikian juga baptisan yang kita terima.

7.Pesan bagi kita: kita harus membuka pintu untuk menolong orang-orang miskin yang duduk di depan rumah kita. Penyesalan setelah meninggal, seperti orang kaya, tidak ada gunanya. Yesus datang kepada kita melalui orang-orang miskin, sakit, terlantar, dan tersingkirkan. Sejauh mana hati kita tergerak oleh belas kasihan?

Kamis, 1 Maret 2018 –
Rm Maxi Sriyanto