menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Senin, 30 April 2018

Renungan Harian GML : KASIH MENGALAHKAN SEGALANYA



BACAAN
Kis 14:5-18 – “Kami memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia dan berbalik kepada Allah yang hidup”

Yoh 14:21-26 – “Penghibur yang akan diutus oleh Bapa, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu”

RENUNGAN
1.Dalam Yoh 14:8, Philipus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Allah tidak bisa kita lihat, karena Ia tinggal dalam cahaya yang tak terhampiri (1Tim 6:16). “Tak seorang pun pernah melihat Allah” (1Yoh 4:12). Namun demikian kehadiran Allah dapat kita alami melalui tindakan mengasihi. Mengasihi sesama berarti mengasihi Yesus. Siapa yang mengasihi Yesus akan dikasihi oleh Bapa, bahkan Bapa tinggal di dalam dia.

2.Allah mengasihi siapa saja yang mengasihi sesamanya. Pengalaman mengasihi sesama memberi kita bahagia, damai  dan suacita. Orangtua akan mengusahakan segala yang baik, positif, dan dengan cara yang tepat bagi anak-anak mereka.

3.Tindakan kasih juga memiliki daya untuk mempersatukan, mendamaikan dan menyelamatkan. Jadi mereka yang benar-benar melakukan tindakan kasih seperti telah dibuat oleh Yesus, adalah mereka yang melaksanakan ajaran Tuhan.

4.Kita manusia mempunyai banyak kesulitan untuk mengasihi orang lain , ketika kita masih egois, memiliki beban-beban batin, dan dosa-dosa yang masih membelenggu kita. Sambil menyelesaikan semuanya itu, kita tetap harus mengasihi  orang-orang di sekitar kita, bahkan orang asing dan tidak kita kenal.

Rm Maxi Sriyanto

Minggu, 29 April 2018

Renungan Harian GML : SUMBER KEKUATAN GEREJA ADALAH KESATUANNYA DENGAN YESUS KRISTUS



 Saudari-saudara sekalian salam jumpa lagi pada hari Minggu Paska ke-5. Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita sekalian untuk melihat pentingnya pengenalan akan Yesus, kesatuan kita dengan Dia, dan hidup dalam kasih sebagai wujud kesetiaan kepada-Nya. Bacaan Injil melukiskan pentingnya kesatuan itu dalam perumpamaan tentang pokok anggur: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Bacaan kedua menyampaikan pentingnya hidup dalam kasih sebagai perwujudan kesatuan dan kesetiaan kepada Kristus: “Dan inilah perintah Allah itu: yakni supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah-Nya yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23).
 Bacaan pertama menyampaikan bagaimana pengenalan dan kesatuan hidup dalam Kristus itu dihidupi oleh Paulus yang meyakinkah murid-murid yang lain untuk menerima dia dalam kasih persaudaraan dan dijauhkan dari ketakutan atas tindakan Paulus yang dulu Saulus sang penganiaya orang-orang Kristen. Dalam kebersamaan dengan Paulus dan atas keikuutsertaan Paulus mewartakan Injil Kristus, walau pertobatannya unik tidak bersama para rasul, jumlah jemaat bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus (Kis 9:31).
 Saudari-saudara sekalian, melanjutkan permenungan hari-hari Minggu sebelumnya: hari Minggu Paska ke-3 kita diajak untuk melihat bagaimana Yesus meyakinkan para murid bahwa ia sungguh bangkit dan memberi perintah agar para murid menjadi saksi-Nya, pada hari Minggu Paska ke-4 kita diajak untuk melihat Yesus yng menegaskan bahwa Diri-Nyalah gembala yang baik yang harus dijadikan model dalam hidup para murid dalam memberikan kesaksian tentang sukacita Injil; pada hari ini kita diajak untuk meyakini bahwa untuk bisa bersaksi dan menjadi gembala baik seperti Yesus, kita perlu tinggal bersatu erat dengan Kristus. Apa artinya tinggal dalam Kristus?  Berkat baptisan kita secara resmi berhubungan dengan Kristus, tetapi apakah dengan sendirinya kita bersatu dengan Kristus? Sungguh bersatu dengan Kristus bukanlah terjadi secara otomatis, melainkan merupakan suatu proses penghayatan. Manusia menurut kodratnya adalah  makhluk sosial. Setiap orang membutuhkan orang lain dan sebaliknya dirinya juga dibutuhkan oleh orang lain. Hubungan yang baik antar sesama adalah hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan yang tetap dan terpelihara serta berkembang akan menghasilkan hubungan kasih yang tidak terputuskan, dan akan menjiwai segenap sikap dan penghayatan hidupnya. Hubungan semacam itulah yang harus kita miliki terhadap Kristus. Di dalam hubungan persaudaraan yang dilandaskan oleh kasih Kristus itulah, kita bisa disebut “tinggal dalam Kristus”. Karena Kristus mengasihi semua orang yang percaya kepada-Nya, maka setiap orang yang sungguh mengasihi Kristus, harus juga mengasihi sesamanya sebagai saudara. Demikian hidup tinggal dalam Kristus berarti hidup dalam kasih. Kasih itu harus dihayati dalam hidup dan perbuatan. Kasih persaudaraan pada hakikatnya adalah pelayanan. Semakin beriman semakin bersaudara semakin berbelarasa. Dalam semangat persatuan dalam kebhinnekaan kita teguhkan kesatuan kita dengan Kristus Sang Pokok Anggur.

 Dalam pengenalan personal dan keeratan kebenaran kedekatan dengan Kristus semoga kit semakin mampu membuahkan kasih persaudaraan. Kita bhinneka kita Indonesia: Mari amalkan Pancasila. Dengannya amanat Kristus kita wujudkan.

 Rm Yohanes Purwanta MSC

Sabtu, 28 April 2018

Renungan Harian GML : MENGENAL YESUS SAMA DENGAN MENGENAL BAPA



BACAAN
Kis 13:44-52 – “Paulus dan Barnabas berpaling kepada bangsa-bangsa lain”

Yoh 14:7-14 – “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”

RENUNGAN
1.Tuhan Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh 14:7). Kata-kata Tuhan tersebut mengandung pengajaran bahwa Allah Bapa dan Putra itu satu. Bapa di dalam Putra, dan Putra di dalam Bapa. Segala kuasa telah Bapa serahkan kepada Putra. Persatuan ilahi ini sungguh menjadi misteri keselamatan Allah.

2.Yesus mengajak Philipus dan para murid lain, dan kita, untuk memahami misteri keselamatan ini dengan hati, bukan dengan otak. Hati yang tulus ikhlas akan melihat dan merasakan kehadiran Tuhan, karena Tuhan hadir dalam peristiwa hidup sehari-hari; di dalam Yesus, Allah di tengah-tengah kita.

3.Yesus di tengah-tengah kita, sekaligus sebagai pengantara bagi kita kepada Bapa. Segala sesuatu yang kita minta kepada Allah, Yesus memintakannya kepada Bapa, dan pasti kita akan mendapatkannya.

4.Bagaimana kita mengenal Yesus? Dengan membaca dan merenungkan Sabda, berdoa, menerima Sakramen, dan mengikuti ajaran resmi Gereja. Dan panggilan kita adalah bersaksi tentang Kristus dengan jujur dan tanpa takut. Bila kesaksian kita ditolak: jangan merasa gagal, takut dan malu.

M. Sriyanto,28.4.18 –

Jumat, 27 April 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH JALAN, KEBENARAN DAN KEHIDUPAN. IA JAMINAN KESELAMATAN DAN KEBAHAGIAAN KEKAL



BACAAN
Kis 13:26-33 – “Janji telah digenapi Allah dengan membangkitkan Yesus”

Yoh 14:1-6 – “Akulah jalan, kebenaran dan hidup”

RENUNGAN
1.Tuhan berkata kepada para murid-Nya: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Nasehat tersebut menunjukkan adanya polemik di antara komunitas Kristen awal. Komunitas yang satu merasa lebih baik dibanding yang lain. Komunitas yang lain merasa diselamatkan dan komunitas lainnya tidak diselamatkan. Mereka saling menyalahkan bahkan saling mengkafirkan. Hal demikian terjadi juga di antara Gereja-gereja sekarang ini.

2.Tidak perlu masing-masing komunitas berpikir sama dan seragam. Yang penting ialah: semua orang menerima Yesus. Yang menyatukan komunitas Kristen menjadi Gereja adalah Kasih dan Pelayanan. Tanpa kedua hal tersebut tidak layak dinamai Gereja, lebih pantas disebut Gerombolan.

3.Yesus pergi kepada Bapa untuk menyiapkan tempat bagi kita. Dengan sabda-Nya, Yesus menghendaki kita selalu bersama Dia selama-lamanya. Bila Yesus akan datang kembali, yang dimaksud ialah kedatangan Roh Kudus yang Ia kirim dan bertindak dalam diri kita, sehingga kita mampu hidup sebagaimana Ia hidup.

4.Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Tanpa Jalan kita tidak dapat datang kepada Bapa. Tanpa Kebenaran, seseorang tidak mampu membuat keputusan dengan baik dan benar; ia akan tersesat. Tanpa Kehidupan, yang ada hanyalah kematian. Dengan berjalan bersama Yesus, Sang Kebenaran dan Kehidupan, kita akan disatukan dengan Bapa dan kita akan memiliki hidup kekal. Kesimpulannya: Yesus yang mewahyukan diri sebagai Jalan, Kebenaran dan Kehidupan adalah jaminan keselamatan dan kebahagiaan hidup yang kekal.

M. Sriyanto, 27.4.18,

Kamis, 26 April 2018

Renungan Harian GML : YESUS ADALAH PERWUJUDAN ALLAH DI DUNIA INI



BACAAN
Kis 13:13-25 – “Allah telah membangkitkan Juruselamat dari keturunan Daud”

Yoh 13:16-20 – “Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan kesimpulan dari pembasuhan kaki (Yoh 13:1-15) dan berbicara tentang dua hal: Pertama, pelayanan sebagai sifat utama para pengikut Yesus. Kedua tentang identitas Yesus. Ia sebagai pewahyuan Bapa.

2.Membasuh kaki para murid-Nya menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias Hamba yang menyerahkan hidup-Nya bagi orang lain. Tetapi ada seorang murid yang menolak Yesus sebagai Mesias Hamba, yaitu Yudas Iskariot (yoh 13:21-30). Ia sebenarnya seorang pencuri dan perampok. Banyak orang menolak Yesus sebagai Mesias Hamba, karena Yesus menghalangi kepentingan mereka yang jahat dan korup. Maka Yesus dan para murid-Nya akan selalu dienyahkan dengan cara apa pun.

3.Yesus berkata: “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” Kata-kata paling penting ialah “Akulah Dia,” artinya Aku menyertai engkau (Kel 3:12). “Akulah Dia” adalah nama Allah Yahwe yang diwahyukan kepada Musa dan nama tersebut dipakai oleh Yesus (Yoh 6:20; 8:24; 8:28; 8:58). Hal ini berarti bahwa Yesus adalah Allah yang hadir di tengah-tengah kita.

4.Menyerahkan hidup bagi orang lain. Apa arti kalimat tersebut bagi Anda? “Akulah Dia.” Apa arti Yesus bagi hidup Anda?

Msri, 26.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 25 April 2018

Renungan Harian GML : Bahasa Baru yang Dibutuhkan adalah Bahasa Kasih

25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Mrk 16:15-20

Pada bacaan hari ini, Yesus menunjukkan tanda-tanda orang yang percaya pada-Nya. Salah satu yang menarik adalah “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka.” Saya ingin fokus pada bagian ini. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman di sebuah Rumah Sakit untuk anak-anak berkebutuhan khusus di daerah Jogja.

Pada suatu kesempatan, saya duduk di bangsal rumah sakit itu dan mengobrol dengan salah satu karyawannya. Lalu muncul satu pertanyaan yang menarik, “Apakah di dalam Gereja Katolik ada ‘Bahasa Roh’?” (Inilah yang seringkali ditemukan pula dalam menginterpretasi “bahasa-bahasa yang baru” dalam Injil kita hari ini: “Bahasa Baru itu adalah Bahasa Roh!”) 

Lalu, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.
“Oh iya.. dalam Gereja Katolik, kami juga punya Bahasa Roh!”
“Oh ya..?”
“Iya..
Ketika saya bicara dan kamu mengerti.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika ada yang sakit dan kamu merawatnya dengan sungguh.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika ada yang lapar dan kamu memberinya makan.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang di sekitarmu membutuhkan pertolonganmu dan kamu bantu tanpa pamrih.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang selalu berusaha mencari permusuhan dan kamu justru mengusahakan kedamaian.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang selalu berusaha mendahulukan kepentingannya secara berlebihan dan kamu justru berusaha untuk mendahulukan kepentingan orang lain dengan wajar.. itu ‘Bahasa Roh!’
Jadi, inti dari ‘Bahasa Roh itu adalah Bahasa Kasih!’”

“Di mana ada Kasih.. di situ ada Roh..!”
Dan itulah yang dimaksud dengan “Bahasa-Bahasa Baru” dalam Injil kita hari ini. “Bahasa Kasih”, yang membawa “Roh Kedamaian” dalam hidup kita sehari-hari. Yesus menginginkan ini bagi para murid-Nya hingga hari ini. Kita diajak untuk menjadi “Pembawa Bahasa Baru” itu. Bahasa yang dipenuhi oleh kasih dalam tindakan kita sehari-hari, terlebih dalam dunia kita saat ini yang begitu dipenuhi oleh ujaran-ujaran kebencian dan hoaks yang bisa kita temukan di mana-mana. Kita diharapkan untuk membawa “Bahasa Baru” – bahasa yang membawa kasih, kedamaian dan kebenaran. Memberikan kedamaian bagi orang-orang di sekitar kita. Itulah salah satu tanda yang ingin diwartakan Yesus hari ini bagi setiap orang yang percaya pada-Nya, “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka” – Bahasa Kasih!

Itu pula yang ingin diwartakan Markus dalam Injil yang ditulisnya – Bahasa Kasih! Ia menulis Injil-nya dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Markus begitu paham inti dari Injil itu sendiri – “Kabar Sukacita”. Jika “kabar” itu tidak dapat dipahami, maka para pembacanya pun akan sulit merasakan “sukacita” itu sendiri. Karena itu, kita pun diajak oleh Markus agar tindakan, perbuatan dan perkataan kita sehari-hari semakin sederhana dan semakin mudah dipahami oleh orang lain, seperti Yesus sendiri yang mau menjadi manusia dan berkomunikasi dengan kita dalam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.

Salah satu inti dari masalah hidup kita sehari-hari adalah “bahasa”. Jika ada masalah (baik besar atau kecil), kemungkinan besar persoalannya berawal dari “bahasa” (miskomunikasi) – baik itu “miskomunikasi” (1) dengan diri kita sendiri, (2) dengan sesama kita (orang-orang di sekitar kita), bahkan juga (3) dengan Tuhan (kita butuh berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa). Dan di situ, “bahasa” dibutuhkan. Melalui bahasa kita sehari-hari, kita dapat menemukan Tuhan sendiri yang berbicara pada kita (dalam hati nurani kita masing-masing) dan semoga dari situ lahir pula tindakan-tindakan yang membawa “sukacita” bagi diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Dan akhirnya…
“Bahasa Baru” yang dibutuhkan dunia kita saat ini adalah…
“Bahasa Kasih!”

Selamat Pesta St. Markus!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Selasa, 24 April 2018

Renungan Harian GML : KESATUAN YESUS DENGAN BAPA-NYA



BACAAN
Kis 11:19-26 – “Mereka berbicara kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil bahwa Yesus adalah Tuhan”

Yoh 10:22-30 – “Aku dan Bapa adalah satu”

RENUNGAN
1.Pada pesta pentahbisan Bait Allah, orang-orang Yahudi bertanya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Mereka bertanya tidak untuk percaya, melainkan untuk memeriksa dan menguji apakah Yesus sungguh Mesias menurut kriteria mereka.

2.Memberi bukti kepada mereka, tidak ada gunanya. Bukti tidak akan membawa mereka untuk berubah dan percaya. Problem utama mereka adalah menutup diri terhadap Allah dan kebenaran-Nya. Di mana ada keterbukaan, Yesus dikenal oleh domba-domba-Nya. “Domba yang menjadi milik-Ku mendengar suara-Ku.”

3.Kepada mereka yang menutup diri, Yesus mengulangi perumpamaan tentang gembala baik yang tahu domba-dombanya dan domba tahu gembalanya. Saling pengertian antara Yesus dan orang yang membuka diri terhadap-Nya menjadi sumber kehidupan kekal. Mereka mengalami rasa aman, damai dan merdeka secara penuh.

4.”Bapa dan Aku adalah satu” (ay 30). Ayat tersebut menunjukkan misteri kesatuan antara Yesus dan Bapa. Ungkapan serupa: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:38). Kesatuan antara Yesus dengan Bapa ini merupakan buah ketaatan: “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh 8:29). “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa” (Yoh 4:34; 5:30). “Ia taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib” (Phil 2:8). Karena ketaatan-Nya terhada Bapa tersebut, pada akhir hidup-Nya ia berkata: “Sudah selesai” (Yoh 19:30). Bagaimana perkembangan iman Anda?

MSri, 24.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 23 April 2018

Renungan Harian GML : YESUS GEMBALA SEJATI



BACAAN
Kia 11:1-18 – “Jadi kepada bangsa-bangsa lain pun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”

Yoh 10:1-10 – “Akulah pintu kepada domba-domba itu”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini Yesus mengidentifikasi sebagai Gembala; sebagai Gembala Sejati. Seorang gembala menghabiskan waktunya bersama dengan domba-dombanya. Hal itu merupakan bentuk tanggungjawab untuk melindungi domba-dombanya.

2.Seorang gembala juga memastikan bahwa domba-dombanya bekecukupan air untuk minum dan rumput untuk makan. Ia juga melindungi domba-domba dari serigala dan predator lainnya.

3.Hidup seorang gembala selalu bergerak. Setelah domba-domba memakan habis rumput, seorang gembala memindahkan domba-domba ke padang rumput  lain yang hijau.

4.Kehidupan seorang gembala juga merupakan kehidupan yang sepi. Berminggu-minggu ia hanya menyertai domba-dombanya. Karena domba merupakan teman dan saudaranya yang lebih dekat, maka gembala tahu dengan baik terhadap para dombanya. Ia tahu mana domba yang setia, yang keras kepala dan yang ingin menang sendiri.

5.Seorang gembala punya ikatan yang kuat terhadap domba-dombanya. Ia tak hanya bertanggung jawab, tetapi juga benar-benar memperhatikan dombanya. Domba hanya akan mendengarkan suara gembala mereka. Mereka tidak akan pernah mengikuti orang lain. Ikatan antara gembala dan domba begitu kuat dan nyata.

6.Yesus adalah Gembala kita. Ia memperhatikan dan memimpin kita. Yesus datang mencari kita ketika kita hilang dan takut. Ia akan selalu mencari kita sampai Ia menemukan kita.

7.Apakah kita juga memiliki ikatan yang kuat terhadap Kristus Sang Gembala? Apakah kita mengenal suara Kristus ketika Ia memanggil kita? Apakah kita yakin bahwa Yesus melindungi kita?

Senin, 23.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Sabtu, 21 April 2018

Renungan Harian GML : DIBUTUHKAN KOMITMEN SERIUS DENGAN YESUS DAN TUNTUTAN-NYA



BACAAN
Kis 9:31-43 – “Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan.”

Yoh 6:60-69 – “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan akhir dari percakapan tentang Roti Hidup. Ada dua pokok: Diskusi di antara para murid dengan Yesus (Yoh 6:60-66) dan percakapan Yesus dengan Simon Petrus (Yoh 6:67-69). Inti ajaran: betapa urgensinya iman dan perlunya komitmen serius dengan Yesus dan tuntutan-Nya.

2.Yesus berkata: “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. ... “ (Yoh 6: 51-58). Para murid tidak mengerti kata-kata Yesus tersebut: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Sejak saat itu banyak murid meninggalkan Yesus. Mereka tidak mengerti karena menggunakan cara pandang mereka sendiri, seperti Nikodemus. Hanya dengan Roh Kudus orang bisa memamahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus: “Rohlah yang memberi hidup, ... “

3.Seperti bangsa Israel telah dicobai di Meriba, di mana mereka meragukan kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka (Kel 17:7) dan melawan Musa (Kel 17:2-3), demikian para murid jatuh dalam penggodaan yang sama. Mereka ragu atas kehadiran Yesus dalam Roti yang dipecah-pecahkan dan memutuskan untuk meninggalkan Yesus. “Mulai dari waktu itu murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia” (Yoh 6:66).

4. Hanya 12 murid tersisa. Yesus berkata: “Apakah engkau ingin pergi juga?” Yesus bicara tidak untuk  menyenangkan dan mengikuti selera mereka, tetapi untuk menyatakan siapa sebenarnya Bapa. Yesus tidak ingin disertai oleh orang-orang yang tidak memiliki komitmen dengan rencana Bapa. Petrus menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Atas nama kelompok, ia mengakui imannya dalam roti yang dipecahkan dan dalam Sabda-Nya. Bagaimana dengan Anda?

Sabtu, 21.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Jumat, 20 April 2018

Renungan Harian GML : BERSATU DENGAN KRISTUS KARENA MAKAN DAGING DAN MINUM DARAH-NYA



BACAAN
Kis 9:1-20 – “Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku, untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain”

Yoh 6:52-59 – “Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman”

RENUNGAN
1.Heboh. Orang-orang Yahudi bertengkar di antara mereka sendiri  dan syok setelah mendengar kata-kata Yesus. Ini polemik yang paling besar dan menegangkan. “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Mereka tidak mampu menyelami secara rohani kata-kata Yesus tersebut; mereka tidak mengerti makna di balik kata.

2.Menghadapi mereka, Yesus menekankan: “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu. Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal ... Kubangkitkan pada akhir jaman ... tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”

3.Apa arti kata-kat tersebut? Makan daging Yesus berarti menerima Yesus sebagai Anak Domba Paskah baru yang telah membebaskan kita dari perbudakan dosa. Minum darah Yesus berarti menerima cara hidup Yesus menjadi cara hidup kita. Yang memberi kita hidup bukanlah makan manna di masa lalu, tetapi makan roti baru, yang tidak lain adalah Tubuh dan Darah Yesus. Hal tersebut terjadi dalam Ekariisti.

4.Perikop ini, oleh Penginjil Yohanes, bertujuan untuk meneguhkan iman dan menghibur umat Kristen abad pertama yang sedang mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan orang-orang Yahudi. Yesus menjadi jaminan bagi keselamatan mereka. Bagi kita sekarang ini, kata-kata Yesus terwujud dalam Ekaristi.

Jumat, 20.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 19 April 2018

Renungan Harian GML : PASKAH BARU: MENYANTAP ROTI KEHIDUPAN



BACAAN
Kis 8:26-40 – “Jika tuan percaya dengan segenap hati, tuan boleh dibaptis”

Yoh 6:44-51 – “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya”

RENUNGAN
1.Tuhan Yesus bersabda: “Akulah roti yang telah turun dari surga” (Yoh 6:42). Mendengar kata-kata Tuhan, orang-orang Yahudi mengeluh: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6:42). Mereka tidak ada gerak hati terhadap Yesus, apalagi percaya kepada-Nya.

2.Dalam perayaan Paskah, orang-orang Yahudi selalu mengingat kembali roti di padang gurun. Yesus membantu mereka untuk lebih maju satu langkah. Nenek moyang mereka yang makan roti manna di padang gurun, semuanya mati. Yesus memberi makna baru  tentang Paskah.

3.Makna baru Paskah bukan lagi mengenang manna yang turun dari langit, tetapi menerima Yesus sebagai Roti Kehidupan dan mengikuti Jalan yang telah Ia tunjukkan. Dalam Paskah yang Baru kita diundang untuk makan daging Yesus, sehingga siapa pun yang memakan-Nya tidak akan mati, tetapi akan memiliki hidup yang kekal.

4.Untuk bisa menerima Roti Kehidupan dibutuhkan iman dan kepercayaan, karena dengan iman semuanya menjadi mungkin dan itulah yang mendatangkan keselamatan. Iman bukan sebatas mengatakan percaya, tetapi sungguh menghidupi kepercayaan itu. Tanpa makan Roti Kehidupan, sejatinya kita hanyalah roti bakar. Sejauh mana selama ini Anda bertekun dalam merayakan Ekaristi?

Kamis, 19.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 18 April 2018

Renungan Harian GML : HAUS DAN LAPAR AKAN ROTI HIDUP



BACAAN
Kis 8:1b-8 – “Mereka menjelajah seluruh negeri sambil memberitakan Injil”

Yoh 6:35-40 – “Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak beroleh hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Orang-orang begitu bersemangat karena ada harapan akan memiliki roti dari surga seperti dikatakan Yesus (Yoh 6:33), maka mereka bertanya: “Tuhan, berilah roti itu senantiasa” (Yoh 6:34). Mereka ini sebenarnya tidak menyadari bahwa Yesus tidak berbicara roti sebagai material. Dan Yesus memberi jawaban dengan sangat jelas: “Akulah roti hidup!”

2.Untuk bisa memiliki Roti Hidup hanya ada satu jalan, yaitu percaya kepada Yesus yang datang dari surga sebagai pewahyuan Bapa. Percaya berarti menerima Jalan sebagaimana Yesus ajarkan kepada kita. Orang-orang telah melihat Yesus, mendengar pengajaran-Nya, dan menyaksikan tanda-tanda-Nya namun mereka tidak percaya kepada-Nya. Yesus sadar akan ketiadaan iman mereka:  “Kamu telah melihat Aku, tetapi kamu tidak percaya.”

3.Orang jaman sekarang haus dan lapar Roti Kehidupan, tetapi mereka tidak mau  percaya kepada Yesus. Mereka haus dan lapar rohani: lapar dan haus akan kasih, persahabatan, kesehatan dan keluarga yang bahagia. Dan mereka mencoba memuaskan diri dengan uang, harta benda, manusia lain, bahkan dengan makanan dan minuman. Untuk beberapa saat, mereka terpuaskan, tetapi kehausan yang sebenarnya belum teratasi.

4.Allah menghendaki agar kita, dan setiap orang, selalu bersama-Nya sampai hari terakhir. Untuk itu kita harus berani belajar “melihat Yesus” dan “percaya kepada-Nya,” sehingga bisa bersaksi seperti Rasul Paulus: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Ketika hal tersebut kita alami, kita benar-benar dipenuhi dengan Roti yang adalah Kristus.

Rabu, 18.4.18 –
Rm Maxi

Selasa, 17 April 2018

Renungan Harian GML : AKULAH ROTI HIDUP



BACAAN
Kis 7:51-8:1a – “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku”

Yoh 6:30-35 – “Bukan Musa yang memberi kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Kulah yang memberi kamu roti yang benar dari surga”

RENUNGAN
1.Orang banyak yang menyaksikan penggandaan lima roti dan dua ikan, masih minta sebuah tanda. Hal ini menyatakan bahwa penggandaan roti tak punya makna apa pun bagi mereka. Mereka memahami apa yang dibuat oleh Yesus hanya sampai pada kulitnya saja.

2.Mereka berkeyakinan bahwa ketika Mesias datang, ia akan memberikan manna terus menerus yang menurut mereka disembunyikan oleh nabi Elia. Padahal, bagi Yesus, manna di padang gurun hanya memberi makanan kepada tubuh, tetapi tidak memberi makanan apa pun kepada roh.

3.Atas permintaan mereka, Yesus menegaskan: “Akulah Roti Hidup!” Kata “Aku” mengingatkan kembali pewahyuan Allah kepada Musa dalam semak yang terbakar (Kel 3:14 ss). Dengan demikian Yesus mengidentifikasi diri dengan Allah. Yesus berkata: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yesus begitu berkuasa seperti Allah memberi manna di padang gurun.

4.Untuk bisa makan Roti Hidup, kita harus meresap masuk dalam hidup Yesus, menghunjam ke dalam Firman yang disampaikan kepada kita melalui Kitab Suci, menjadikan Jalan hidup-Nya menjadi jalan hidup kita.

5.Setiap hari Gereja menghadirkan Roti Hidup, Tubuh dan Darah Kristus, dalam perayaan Ekaristi (Misa). Makanan dan minuman rohani ini mengenyangkan jiwa, memperolehkan kekuatan yang menyelamatkan karena persatuan kita dengan Kristus. Bagaimana jadinya kalau ibadat (Misa) hari Minggu tidak ada Ekaristi (Komuni Suci)?

Selasa, 17.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 16 April 2018

Renungan Harian GML : PERCAYA



BACAAN
Kis 6:8-15 – “Mereka tidak sangggup melawan hikmat Stefanus dan Roh yang mendorong dia berbicara”

Yoh 6:22-29 – “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan bagian awal dari khotbah panjang tentang Yesus sebagai Roti Kehidupan. Mukjijat penggandaan roti mengingatkan mukjijat roti manna di padang gurun.

2.Orang-orang mencari Yesus hanya karena mereka menginginkan roti yang lebih banyak. Akhirnya mereka menemukan Yesus dan murid-murid-Nya di sekitar Kaparnaum, markas utama Yesus di Galilea. Mereka berkata: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Pertanyaan yang tidak bermakna.

3.Mereka mencari Yesus bukan karena tanda, tetapi karena roti yang telah mereka makan. Mereka tidak mampu melihat dan memaknai penggandaan roti sebagai tanda kehadiran Allah dalam diri Yesus. Mereka hanya berhenti pada makanan; mereka hanya sampai pada permukaan ketika berhadapan dengan tanda yang dibuat Yesus.

4.Maka Yesus menawarkan makanan yang tak pernah akan binasa: “Bekerjalah, ... untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, ... “ Mereka belum mengerti apa yang dimaksud, maka mereka bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Yesus menjawab: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

5.Percaya di sini bukan hanya mengakui Yesus sebagai Anak Allah, tetapi terlibat secara total dan tanpa sarat kepada Yesus, kepada Injil-Nya, dan visi hidup Yesus dan menjadikannya bagian dari hidupnya sendiri. Dari sinilah Roti Hidup akan ditemukan.

6.Apa yang Anda cari?

Senin, 16.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Jumat, 13 April 2018

Renungan Harian GML : BERBAGI ROTI



BACAAN
Kis 5:34-42 – “Para rasul bergembira karena mereka dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus”

Yoh 6:1-15 – “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki”

RENUNGAN
1.Apa yang dibuat Yesus dalam bacaan Injil hari ini sama dengan apa yang dibuat oleh Musa di padang gurun ketika orang-orang Israel kelaparan. Karena itu Yesus disebut Musa Baru.

2.Melihat orang banyak kelaparan, Yesus menantang para murid-Nya untuk bertindak. Philipus tidak memahami tindakan Musa di padang gurun, maka ia hanya melihat uang 200 dinar yang tidak mungkin cukup untuk membeli roti bagi mereka. Philipus sadar akan masalah yang ada di depannya namun tidak mampu untuk memecahkan masalah tersebut. Ia hanya mengeluh, tetapi tidak menyelesaikan.

3.Lima roti dan dua ikan pasti tidak mencukupi untuk mereka, namun Andreas berani memberikan lima roti dan dua ikan tersebut kepada Yesus. “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” Kata-kata Yesus ini telah menginspirasi jemaat Kristen awal untuk berbagi, sehingga tidak ada kekurangan di antara mereka (Kis 2:41-47). Bila setiap orang beriman memiliki cara hidup berbagi seperti dikehendaki Tuhan, maka akan ada makanan berkelimpahan dan tidak perlu ada orang yang kelaparan.

4.Setelah mereka kenyang, mereka berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Benar bahwa Yesus adalah Musa Baru dan Mesias, namun mereka berpendapat bahwa Mesias harus menjadi raja pembebas dari penindasan bangsa Romawi. Pendapat ini menunjukkan bahwa mereka mengenal Yesus hanya sebatas permukaan saja. Maka Yesus menyingkir ke gunung seorang diri. Ia menolak Mesias seperti pandangan mereka.

5.Apa yang menjadi halangan untuk berbagi?

Jumat, 13.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 12 April 2018

Renungan Harian GML : MENERIMA YESUS DAN PERCAYA KEPADA-NYA SAMA DENGAN MENERIMA HIDUP KEKAL



BACAAN
Kis 5:27-33 – “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia”

Yoh 3:31-36 – “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”

RENUNGAN
1.Dalam perikop Injil sebelumnya (Yoh 3:22-30), Yohanes Pembaptis meringkaskan kesaksiannya tentang Yesus: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay 30). Kalimat tersebut merupakan program bagi siapa saja yang ingin mengikuti Yesus.

2.Ay 31-33 – Konflik banyak kali muncul antara Yesus dan orang-orang Yahudi yang menggugat kata-kata-Nya. Yesus berbicara berdasarkan apa yang Ia dengar dari Bapa-Nya, sedangkan musuh-musuh-Nya tidak mau membuka diri terhadap Allah, selalu mempertahankan gagasan-gagasan mereka sendiri. Akibatnya: mereka tidak mengerti dan tidak memahami segala sesuatu tentang hidup, kata-kata, dan yang dibuat oleh Yesus.

3.Ay 34 – Yesus memberi Roh Kudus kepada kita. Roh Kudus memampukan kita memahami sepenuhnya arti Sabda-sabda Yesus (Yoh 14:26; 16:12-13). Karena Roh Kudus, kita bisa menyembah Allah di mana saja (Yoh 4:23-24). Dalam Roh kita memperoleh kemerdekaan: “Di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (2Kor 3:17).

4.Ay 35-36. Penginjil Yohanes menegaskan kembali jati diri Bapa dan Yesus. “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” (ay 35). Rasul Paulus menegaskan: “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1:19; 2:9). Inilah mengapa seseorang yang menerima dan percaya kepada Yesus memiliki kehidupan kekal. Sedangkan orang yang tidak mau menerima dan tidak mau percaya kepada Yesus, ia menempatkan diri di luar kehidupan dan di luar keselamatan.

Kamis, 12.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 11 April 2018

Renungan Harian GML : ALLAH MENGASIHI SECARA TOTAL DAN TANPA SARAT



BACAAN
Kis 5:17-26 – “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan ke dalam penjara, ada di dalam Bait Allah, dan mereka mengajar orang banyak”

Yoh 3:16-21 – “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap  orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini kata “dunia” berarti semua manusia. Allah mengasihi semua manusia tanpa kecuali, entah mereka menganut agama apa, bahkan yang tidak beragama dan anti-Allah pun dikasihi secara total dan tanpa sarat. Tetapi untuk mengalami hidup yang datang dari Allah, kita harus percaya kepada Anak-Nya, membuka diri terhadap-Nya, memberikan seluruh diri kita kepada-Nya dengan iman dan kepercayaan yang dalam.

2.Kita harus sadar akan tindakan Allah yang hanya mengasihi ini; Ia tidak menghukum. Maka kita harus berusaha bagaimana kita bisa mengalami kasih Allah ini.

3.Siapa pun yang sepenuhnya percaya kepada Yesus dengan sepenuh hati, dalam kata dan tindakan telah menghindarkan diri dari penghakiman. Tetapi siapa pun yang tidak percaya, telah dihukum. Penghukuman tidak datang dari Allah, tetapi datang dari diri kita sendiri, dari pilihan yang kita buat. Orang yang terus menerus hidup dalam dosa-dosanya, dan tidak mau melepaskannya, telah membuat hukuman atas dirinya sendiri.

4.Kalau kita tersesat, bukan Allah yang meninggalkan kita tetapi kita yang meninggalkan Allah. Kita sendiri telah menjadi hakim atas hidup kita. Jadi bukanlah pengadilan Allah yang kita takuti, tetapi pilihan-pilihan kita sendiri yang sering menjauhkan diri dari Allah. Pilihan seperti itu yang menghukum kita. Maka pilihlah Yesus agar selamat.

Rabu, 11.4.18 – Maxi Sriyanto

Selasa, 10 April 2018

Renungan Harian GML : Hal-Hal Duniawi dan Surgawi

10 April 2018
Yoh 3:7-15


Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai percakapan antara Nikodemus dan Yesus. Saya kali ini akan fokus pada ayat 12, ketika Yesus berkata: “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi?”

Pernyataan (pertanyaan) Yesus ini sungguh menarik tuk didalami. Dua kata kunci yang bisa kita temukan di sini adalah (1) duniawi dan (2) surgawi. Namun, yang ingin dikatakan Yesus di sini bukanlah sebuah bentuk “dualisme” (pemisahan mengenai dua hal ini: di satu sisi ada yang “duniawi”, lalu di sisi yang lain ada yang “surgawi”). Justru sebaliknya, Yesus ingin mempertemukan keduanya. Hal ini jelas tampak dalam ayat 13, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.” Yesus ingin berbicara mengenai diri-Nya sendiri (“yang turun” dan “yang naik” ke surga) dan ingin menyatakan bahwa diri-Nya-lah yang mempertemukan keduanya - “yang surgawi” (hal-hal yang di ‘atas’) dan “yang duniawi” (hal-hal yang di ‘bawah’).

Kembali ke ayat 12, Yesus tampaknya juga ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa untuk memahami hal-hal yang surgawi, kita perlu juga untuk memahami dengan baik hal-hal duniawi (hal-hal kecil dalam hidup kita sehari-hari). Untuk beroleh hidup yang kekal, fokus kita pertama-tama bukanlah apa yang akan terjadi di “surga” dan membayangkannya 24 jam sehari; melainkan sebaliknya, tuk beroleh hidup yang kekal, fokus hidup kita perlu pertama-tama diarahkan pada hal-hal kecil sehari-hari di “dunia” ini. Apa yang kita pikirkan, katakan dan kita perbuat dalam keseharian kita, itulah yang akan membantu kita memahami “hidup yang kekal”.

Kekalan berawal di “dunia” ini. Jika yang kekal itu bermula dari “awal penciptaan” hingga “akhir zaman” nanti (bahkan kehidupan setelah itu). Maka, hidup kita saat ini (di dunia ini) adalah bagian dari kekekalan itu sendiri. Kita saat ini berada di tengah-tengahnya. Jadi, jika kita ingin serius tentang “hidup yang kekal”, tentang “hal-hal surgawi”, Yesus mengajak kita untuk menghidupi hidup kita saat ini dengan serius pula. Bukan berarti tidak pernah jatuh dan tidak ada halangan. Mungkin malah sebaliknya, hidup kita penuh dengan rintangan dan kita akan jatuh berulang-ulang kali. Namun pertanyaan yang terpenting, “Apakah aku sudah benar-benar serius dengan hidupku saat ini? Apakah aku percaya tentang hal-hal duniawi yang Yesus ajarkan dan contohkan dalam hidup-Nya?”

Selain itu, tantangan kita saat ini, “Jangan sampai Yesus menggunakan pertanyaan yang sama yang diajukan ke Nikodemus kepada diri kita sendiri, ‘Engkau tidak mengerti hal-hal itu?’” Hal itu hanya akan membuat-Nya semakin sedih.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 07 April 2018

Renungan Harian GML : Kita Dipanggil untuk Menjadi Saluran Karya Allah

Bacaan Liturgi 07 April 2018

Hari Sabtu Dalam Oktaf Paskah
PW S. Yohanes Pembaptis de la Salle, Imam
Bacaan Injil
Mrk 16:9-15
Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk.


Setelah Yesus bangkit dari antara orang mati,
pagi-pagi pada hari pertama minggu itu,
Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena.
Daripadanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya
kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus,
dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup
dan telah dilihat olehnya,
mereka tidak percaya.
Sesudah itu Yesus menampakkan diri dalam rupa yang lain
kepada dua orang dari para murid,
ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
Ketika mereka kembali
dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain,
kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada kesebelas orang itu
ketika mereka sedang makan.
Yesus mencela ketidak-percayaan dan kedegilan hati mereka,
oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang
yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Lalu Yesus berkata kepada mereka,
"Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk!"


Renungan

Kita dipanggil untuk menjadi saluran karya Allah dalam pewartaan Injil, agar semakin banyak orang mengalami kehadiran Kerajaan Sorga.

Aneh bahwa para murid Yesus tidak segera menerima kebenaran tentang kebangkitan Yesus. Seolah telinga mereka tersumbat kapas. Seolah otak mereka terlindung lilin. Padahal mereka adalah orang-orang terdekat Yesus. Yesus sebelumnya telah memberitahukan tentang peristiwa kebangkitan-Nya kepada mereka. Setelah bangkit, Yesus berulang-ulang menampakkan diri kepada beberapa orang dari mereka. Ketika mendengar kesaksian tentang penampakan Yesus yang bangkit, mereka ternyata juga tidak segera paham. Mereka perlu waktu lama untuk menerima kebenaran tentang Yesus yang bangkit. Mereka masih mengalami kesusulitan untuk menerima kenyataan Tuhan Yesus yang bangkit. Iman mereka bukanlah hasil dari proses yang instan.

Jika orang-orang yang dekat dengan Yesus saja mengalami kesulitan untuk segera percaya kepada kebenaran tentang Yesus yang bangkit, apa lagi orang-orang di zaman sekarang. Jika sekarang banyak orang sepertinya membuat telinga mereka tuli terhadap kabar gembira keselamatan dalam Yesus yang bangkit, kita bisa sangat memahami. Terhadap orang-orang seperti itu respon kita yang tepat adalah mengasihi mereka dengan kasih tanpa syarat. Respon yang benar  terhadap orang-orang yang bertegar hati adalah perhatian yang tulus. Sikap yang baik terhadap orang-orang yang tidak percaya adalah kesabaran dan ketekunan. Injil harus selalu diwartakan dengan kasih, perhatian, dan kerja keras dalam ketekunan dan mental tahan banting. Sangat tidak tepat ketika menghadapi penolakan lalu reaksi kita adalah marah dan tersinggung.

Kita dipanggil untuk tekun berdoa bagi orang-orang yang keras hati. Kita dipanggil untuk tekun berbagi Kabar Gembira dengan cara-cara yang mencerminkan sikap belas kasih Allah. Dan seperti Maria Magdalena,  kita dipanggil untuk selalu kembali bertemu Yesus yang bangkit, dalam doa-doa kita. Pertemuan dengan Tuhan menjadi kekuatan dan peneguhan luar biasa bagi iman dan karya misi kita.

Tuhan menghendaki setiap orang masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kita masing-masing menjadi saluran karya Allah. Bila kita memberi diri untuk menjadi saluran dari karya Allah, maka Allah sendiri yang akan membuat keajaiban dan mukjizat-Nya dalam karya-karya kita.

Rm Supriyono Venantius SVD

Jumat, 06 April 2018

Renungan Harian GML : MAKAN BERSAMA DALAM KELUARGA MERUPAKAN PERJUMPAAN ISTIMEWA



BACAAN
Kis 4:1-12 – “Keselamatan hanya di dalam Yesus”

Yoh 21:1-14 – “Yesus mengambil roti dan memberikannya kepada para murid; demikian juga ikan”

RENUNGAN
1.Setelah tiga tahun bersama Yesus, para murid pulkam ke Galilea. Mereka kembali ke pekerjaan semula: menjala ikan. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu dengan Yesus. Namun sial: “mereka tidak menangkap apa-apa.” Mereka kembali ke pantai. Lapar, lelah, capai. Gagal dan penuh frustasi. Itulah nasib tidak bersama Sang Guru.

2.Yesus yang berada di pantai pun tidak mereka kenal. Ia bertanya: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” Mereka menjawab: “Tidak.” Dari penjala ikan menjadi penjala manusia, dan kembali menjadi penjala ikan. Dan gagal total.

3.”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.” Mereka taat melakukan apa yang Ia perintahkan. Hasilnya luar biasa. Jala penuh dengan ikan.

4.Setelah mereka menghela perahu yang penuh ikan itu ke pantai, mereka melihat api arang yang dinyalakan oleh Yesus. Ia membakar ikan dan roti. Yesus memanggil mereka: “Marilah dan sarapanlah!” Yesus baik hati menyiapkan sesuatu untuk sarapan setelah semalam mereka tidak mendapatkan seekor pun ikan. “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka.” Terbukalah mata hati mereka, bahwa Dia itu adalah Yesus yang bangkit dan hidup. Makan bersama menjadi tempat istimewa untuk berjumpa dengan orang sekeluarga dengan penuh sukacita. Hal yang sama: Ekaristi menjadi tempat istimewa untuk berjumpa dengan Yesus yang bangkit.

5.Masih adakah acara makan bersama dalam keluarga Anda? Bagaimana pengalaman Anda tentang Ekaristi?

Jumat, 6.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto





Kamis, 05 April 2018

Renungan Harian GML : MENERIMA YESUS YANG BANGKIT MEMBUTUHKAN PROSES



BACAAN
Kis 3:11-26 – “Yesus, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh; tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati”

Luk 24:35-48 – “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga”

RENUNGAN
1.Sekembalinya ke Yerusalem, dua murid dari Emaus berbagi pengalaman dengan murid-murid yang lain. Pengalaman bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada mereka. Akhirnya mereka saling berbagi tentang pengalaman yang sama. Ada suka cita tetapi juga ada keraguan, bahkan ketakutan.

2.Penampakan Yesus tidak membuat mereka paham seketika, tetapi malah menyebabkan ketakutan. Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dengan kata-kata tersebut, mereka belum mampu mengenal Yesus. Iman mereka masih sangat lemah dan belum tumbuh.

3.Yesus membantu mengatasi keraguan mereka. Ia menunjukkan kepada mereka tangan-Nya dan kaki-Nya, dan mengatakan: “Aku sendirilah ini.” Ia minta kepada para murid untuk menyentuh-Nya. Dengan tindakan ini menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit adalah Yesus dari Nasaret, orang yang sama yang dipaku dikayu Salib dan bukan hantu seperti mereka bayangkan.

4.Untuk lebih meyakinkan lagi, Yesus minta sesuatu untuk dimakan. Mereka memberikan beberapa potong ikan dan Dia makan di depan mereka untuk meyakinkan mereka bahwa Ia adalah Yesus yang telah disalib, wafat dan bangkit.

5.Sukar bagi umat Kristen awal untuk menerima Yesus yang disalib sebagai Mesias yang dijanjikan. Dengan cara pandang Yahudi, mereka yakin bahwa orang yang disalibkan adalah “orang-orang yang dikutuk oleh Allah” (Ul 21:22-23). Maka mereka harus memahami Kitab Suci. Yesus menunjukkan kepada mereka apa yang telah ditulis dalam Hukum Musa, kitab para nabi dan Mazmur. Dan iman para murid mulai tumbuh. Yesus yang bangkit dari kematian dan hidup di tengah-tengah mereka menjadi kunci   pembuka bagi mereka untuk memahami keseluruhan Kitab Suci.

6.Apakah Anda pernah ragu terhadap Yesus yang bangkit? Bagaimana atau dengan cara apa, akhirnya, Anda percaya bahwa Yesus sungguh bangkit?

Kamis, 5.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 04 April 2018

Renungan Harian GML : KEBANGKITAN: MENGHADAPI REALITAS HIDUP DENGAN SEMANGAT BARU



BACAAN
Kis 3:1-10 – “Apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, berjalanlah!”

Luk 24:13-35 – “Mereka mengenali Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti”

RENUNGAN
1.Perjalanan dari Yerusalem menuju Emaus adalah perjalanan dengan kepala tertunduk, penuh kepedihan, kekecewaan, bahkan keputus asaan. Itulah gambaran jemaat Kristen yang hampir putus asa karena penangkapan, penganiayaan dan penyiksaan oleh kaisar Nero. Penampakan kepada dua murid Emaus memberi jawaban terhadap semua penderitaan yang mencekam tersebut. Lukas mengajak mereka untuk memaknai Kitab Suci dan pemecahan roti agar supaya mereka mampu menemukan kembali kehadiran Kristus dalam hidup mereka yang terancam.

2.Ada 4 (empat) langkah untuk memahami Injil hari ini. Langkah I (ay 13-24): para murid melarikan diri dari kenyataan hidup yang berat. Mereka takut dan putus asa. Salib dan kematian telah membunuh harapan mereka. Dalam situasi tersebut, Yesus berjalan di samping mereka, mendengarkan pembicaraan mereka dan merasakan masalah mereka.

3.Langkah II (ay 25-27): Yesus menggunakan Kitab Suci untuk menerangi hidup mereka. Yesus menggunakan Kitab Suci untuk mengingatkan kembali apa yang telah mereka lupakan. Ia tidak pernah mengkritik ketidak-tahuan mereka, tetapi mencoba untuk membangkitkan memori mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi.” Dengan penyertaan dan kata-kata Yesus, maka apa yang menghalangi mereka dalam perjalanan, kini menjadi kekuatan dan terang.

4.Langkah III (ay 28-32): Kitab Suci telah membakar hati mereka menjadi berkobar. Tetapi yang membuat hati mereka terbuka dan mampu melihat Yesus yang bangkit adalah pemecahan roti. Dalam roti yang dipecahkan dan dibagikan, mereka mengenali Yesus yang bangkit; mereka lahir baru.

5.Langkah IV (ay 33-35): Mengalami Yesus yang bangkit berarti berani menghadapi realitas hidup. Mereka kembali ke Yerusalem dengan gagah berani. Sekarang mereka memiliki harapan, memiliki kemerdekaan, memiliki kehidupan karena Roh Kristus bertindak dalam diri mereka. Inilah keyakinan mereka: dalam nama Yesus maka semua kesulitan dan tantangan hidup bisa diselesaikan. OK?

Rabu, 4.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Selasa, 03 April 2018

Renungan Harian GML : PERGI DAN BERITAHUKAN KEPADA ORANG LAIN BAHWA TUHAN TELAH BANGKIT



BACAAN
Kis 2:36-41 – “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus”

Yoh 20:11-18 – “Aku telah melihat Tuhan, dan Dialah yang mengatakan hal-hal itu kepadaku”

RENUNGAN
1.Maria Magdalena tergolong sedikit orang yang memiliki keberanian untuk bersama Yesus sampai saat kematian-Nya di kayu salib. Di makam yang telah kosong, Maria Magdalena menangis. Bertanyalah malaikat: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Dengan menangis, Maria Magdalena terhalang untuk bisa melihat Yesus, karena ia masih mencari Yesus masa lampau, sehingga ia tidak melihat Yesus yang hadir di hadapannya. Kepedihan, kegelapan hati, kecemasan membuat kita tidak mampu melihat dan mengalami Yesus yang bangkit.

2.Namun ketika Yesus mengatakan: “Maria!” Maria langsung mengenal Yesus, dan ia menjawab: “Rabuni” artinya Guru. Ia sangat mengenali suara Yesus. “Domba-domba mendengarkan suaranya ... domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya” (Yoh 10:3.4). Mengenali Yesus yang bangkit membutuhkan proses yang panjang terkadang melelahkan. Kita tidak boleh berhenti menemukan Yesus yang bangkit. Tanda bahwa kita menemukan Yesus adalah jika kita mengalami suka cita mendalam dan siap mewartakannya kepada orang lain.

3.Jadi, mengalami kebangkitan berarti menerima tugas. “ ... pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Dengan kemuliaan-Nya, Yesus telah membuka jalan surga bagi kita.

4.Dengan bangkit dari mati, kini Yesus hidup di tengah-tengah kita. Seharusnyalah kita mengalami syalom dan mewartakannya.

Selasa, 3.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto

Senin, 02 April 2018

YESUS SUNGGUH SUDAH BANGKIT ALLELUIA



 Saudari-saudara sekalian, SELAMAT PASKA. Kita merayakan hari terpenting dalam kehidupan iman kita. Tanpa Paskah, sia-sialah iman kita. Sesungguhnya iman kita berlandaskan kepada Kristus yang bangkit. Rasul Paulus mengatakan: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1Kor 15:14). Tetapi Kristus itu sungguh telah bangkit. Demikian Pulus memberitakannya: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. …..Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku” (1Kor 15:3-8). Sejarawan Yahudi pada abad ke-1, Flavius Yosefus mencatat: “Kira-kira pada waktu itu, Yesus, seorang bijak, kalau boleh menyebutnya "manusia"; karena ia adalah pembuat pekerjaan yang menakjubkan, seorang guru sedemikian yang membuat orang menerima kebenaran dengan sukacita. Ia menarik banyak pengikut, baik orang Yahudi maupun orang asing. Ia adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas usulan orang-orang terkemuka di antara kami, menghukumnya dengan penyaliban, mereka yang menyayanginya pada mulanya tidak meninggalkannya; karena ia menampakkan diri lagi hidup-hidup kepada mereka pada hari ke-3, sebagaimana nabi-nabi kudus telah meramalkannya dan puluhan ribu hal ajaib lain tentang dia. Dan suku Kristen, yang dinamakan sesuai dia, tidak punah sampai hari ini” 
 Saudari-saudara sekalian, pernyataan-pernyataan di atas menyampaikan kepada kita bahwa Paskah merupakan sebuah fakta dan lebih daripada itu adalah yang membawa makna bagi kita sekalian. Faktanya adlah bahwa Yesus yang disebut Kristus telah hidup, dihukum mati, dan dikuburkan. Selanjutnya bahwa para murid menemukan kubur tempat jenasah Yesus dimakamkan itu kosong, dan para murid itu, perempuan-perempuan itu menjumpai malaikat yang mengatakan antara lain: "Jangan takut!" (Markus 16:6) atau "Janganlah kamu takut!" (Matius 28:5) "Aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu." (Matius 28:5) atau "Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu." (Markus 16:6) "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?"(Lukas 24:5) "Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit." (Matius 28:6; Lukas 24:6) atau "Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini" (Markus 16:6). Kefas, Yakobus dan rasul-rasul lain dan bahkan rasul Paulus pun menjumpai Kristus yang menampakkan diri bagi mereka. Paska pun menjadi penuh makna. Paska meneguhkan iman para murid. Paska menjadi kebenaran ajaran sebagaimana yang telah diajarkan kepada para murid sebelum semua peristiwa itu terjadi. Paska menjadi pembaharuan hidup dan membangkitkan semangat untuk memberitakan khabar baik ajaran Yesus Satu hal sangat istimewa bagi kita adalah: ketika Saulus yang tidak hidup bersama dengan Yesus itupun mendapat kesempatan berjumpa dengan Yesus yang bangkit, kesempatan yang sama pun diberikan kepada kita sekalian yang percaya kepada-Nya. Pertanyaannya adalah apakah yang diperbaharui dalam diri kita sekarang jika kita berjumpa dengan Yesus yang bangkit itu? Apakah pesan-Nya kepada kita masa kini dalam semangat Yesus yang bangkit itu? Sesudah kebangkitan-Nya, tidak ada sesuatupun yang menghalangi Yesus untuk berjumpa dengan para murid-Nya. Rumah yang terkunci sekalipun tidak menghalangi Yesus untuk hadir di tengah kumpulan para murid-Nya, Bahkan ketika dua atau tiga oang berkumpul dalam nama-Nya, ia akan hadir di tengah-tengah mereka. Karena perjumpaan dengan Yesus yang bangkit, para murid Emaus itu kembali berkumpul dengan murid-murid yang lain. Sesudah perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit, Saulus bertobat: dari penganiaya menjadi pewarta yang memberikan diri dan hidupnya bagi pelayanan Injil. Dalam Kristus tidak ada pembohongan, tidak ada kemunafikan, tidak ada kebencian dan perilaku ketidakadilan. Dalam Kristus yang ada adalah kasih persaudaraan, persatuan dan perdamaian. Yesus bangkit membawa kehidupan: yang bersatu, yang rukun, dan yang salng melayani. Kita bhinneka kita Indonesia. (Rm Yohanes Purwanta MSC)

Renungan Harian GML : SALAM BAGIMU DAN JANGAN TAKUT



BACAAN
Kis 2:14.22-32 – “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”

Mat 28:8-15 – “Katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku”

RENUNGAN
1.Dalam perjumpaan dengan beberapa perempuan yang baru saja dari kubur, yang takut sekaligus bersuka cita, Yesus berkata: “Salam bagimu.” Salam di sini berarti syalom. Syalom bukan sekedar berarti damai, aman, bebas dari bahaya, tetapi syalom berarti “segala berkat, segala yang memberi hidup.” Hal tersebut ditawarkan Yesus kepada mereka.

2.Tidak hanya syalom, kebangkitan selalu bermakna perutusan. Kepada perempuan-perempuan itu Yesus berkata: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Perempuan sebagai kelompok yang dianggap rendah, justru menjadi pewarta dan saksi kebenaran.

3.Segala sesuatunya mulai dari Galilea. Di sana mereka menerima pewahyuan tentang Tuhan yang Bangkit. Suka cita kebangkitan mengatasi ketakutan.

4.Namun ada akal bulus dari para musuh Kebangkitan. Para imam kepala menemui dan memberi sejumlah besar uang kepada para tentara jaga, dengan pesan: mereka harus menyebarkan kabar  bahwa para murid telah mencuri jenasah Yesus. Di sini ada unsur ketidak-jujuran, suap dan tidak bertanggungjawab. Ada kerjasama dalam ketidak-benaran antara para prajurit dangan para imam; kebenaran bisa dibeli dengan uang.

5.Apa tandanya bahwa Anda telah mengalami Paskah Tuhan? Masih adakah orang-orang yang dengan tulus membela kebenaran? Bagaimana dengan Anda?

Senin, 2.4.18 –
Rm Maxi Sriyanto