Rabu, 25 April 2018

Renungan Harian GML : Bahasa Baru yang Dibutuhkan adalah Bahasa Kasih

25 April 2018
Pesta St. Markus, Penulis Injil
Mrk 16:15-20

Pada bacaan hari ini, Yesus menunjukkan tanda-tanda orang yang percaya pada-Nya. Salah satu yang menarik adalah “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka.” Saya ingin fokus pada bagian ini. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman di sebuah Rumah Sakit untuk anak-anak berkebutuhan khusus di daerah Jogja.

Pada suatu kesempatan, saya duduk di bangsal rumah sakit itu dan mengobrol dengan salah satu karyawannya. Lalu muncul satu pertanyaan yang menarik, “Apakah di dalam Gereja Katolik ada ‘Bahasa Roh’?” (Inilah yang seringkali ditemukan pula dalam menginterpretasi “bahasa-bahasa yang baru” dalam Injil kita hari ini: “Bahasa Baru itu adalah Bahasa Roh!”) 

Lalu, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.
“Oh iya.. dalam Gereja Katolik, kami juga punya Bahasa Roh!”
“Oh ya..?”
“Iya..
Ketika saya bicara dan kamu mengerti.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika ada yang sakit dan kamu merawatnya dengan sungguh.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika ada yang lapar dan kamu memberinya makan.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang di sekitarmu membutuhkan pertolonganmu dan kamu bantu tanpa pamrih.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang selalu berusaha mencari permusuhan dan kamu justru mengusahakan kedamaian.. itu ‘Bahasa Roh!’
Ketika orang-orang selalu berusaha mendahulukan kepentingannya secara berlebihan dan kamu justru berusaha untuk mendahulukan kepentingan orang lain dengan wajar.. itu ‘Bahasa Roh!’
Jadi, inti dari ‘Bahasa Roh itu adalah Bahasa Kasih!’”

“Di mana ada Kasih.. di situ ada Roh..!”
Dan itulah yang dimaksud dengan “Bahasa-Bahasa Baru” dalam Injil kita hari ini. “Bahasa Kasih”, yang membawa “Roh Kedamaian” dalam hidup kita sehari-hari. Yesus menginginkan ini bagi para murid-Nya hingga hari ini. Kita diajak untuk menjadi “Pembawa Bahasa Baru” itu. Bahasa yang dipenuhi oleh kasih dalam tindakan kita sehari-hari, terlebih dalam dunia kita saat ini yang begitu dipenuhi oleh ujaran-ujaran kebencian dan hoaks yang bisa kita temukan di mana-mana. Kita diharapkan untuk membawa “Bahasa Baru” – bahasa yang membawa kasih, kedamaian dan kebenaran. Memberikan kedamaian bagi orang-orang di sekitar kita. Itulah salah satu tanda yang ingin diwartakan Yesus hari ini bagi setiap orang yang percaya pada-Nya, “mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka” – Bahasa Kasih!

Itu pula yang ingin diwartakan Markus dalam Injil yang ditulisnya – Bahasa Kasih! Ia menulis Injil-nya dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Markus begitu paham inti dari Injil itu sendiri – “Kabar Sukacita”. Jika “kabar” itu tidak dapat dipahami, maka para pembacanya pun akan sulit merasakan “sukacita” itu sendiri. Karena itu, kita pun diajak oleh Markus agar tindakan, perbuatan dan perkataan kita sehari-hari semakin sederhana dan semakin mudah dipahami oleh orang lain, seperti Yesus sendiri yang mau menjadi manusia dan berkomunikasi dengan kita dalam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.

Salah satu inti dari masalah hidup kita sehari-hari adalah “bahasa”. Jika ada masalah (baik besar atau kecil), kemungkinan besar persoalannya berawal dari “bahasa” (miskomunikasi) – baik itu “miskomunikasi” (1) dengan diri kita sendiri, (2) dengan sesama kita (orang-orang di sekitar kita), bahkan juga (3) dengan Tuhan (kita butuh berkomunikasi dengan Tuhan melalui doa). Dan di situ, “bahasa” dibutuhkan. Melalui bahasa kita sehari-hari, kita dapat menemukan Tuhan sendiri yang berbicara pada kita (dalam hati nurani kita masing-masing) dan semoga dari situ lahir pula tindakan-tindakan yang membawa “sukacita” bagi diri kita sendiri dan juga orang-orang di sekitar kita.

Dan akhirnya…
“Bahasa Baru” yang dibutuhkan dunia kita saat ini adalah…
“Bahasa Kasih!”

Selamat Pesta St. Markus!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

2 komentar: