Selasa, 10 April 2018

Renungan Harian GML : Hal-Hal Duniawi dan Surgawi

10 April 2018
Yoh 3:7-15


Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai percakapan antara Nikodemus dan Yesus. Saya kali ini akan fokus pada ayat 12, ketika Yesus berkata: “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi?”

Pernyataan (pertanyaan) Yesus ini sungguh menarik tuk didalami. Dua kata kunci yang bisa kita temukan di sini adalah (1) duniawi dan (2) surgawi. Namun, yang ingin dikatakan Yesus di sini bukanlah sebuah bentuk “dualisme” (pemisahan mengenai dua hal ini: di satu sisi ada yang “duniawi”, lalu di sisi yang lain ada yang “surgawi”). Justru sebaliknya, Yesus ingin mempertemukan keduanya. Hal ini jelas tampak dalam ayat 13, “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.” Yesus ingin berbicara mengenai diri-Nya sendiri (“yang turun” dan “yang naik” ke surga) dan ingin menyatakan bahwa diri-Nya-lah yang mempertemukan keduanya - “yang surgawi” (hal-hal yang di ‘atas’) dan “yang duniawi” (hal-hal yang di ‘bawah’).

Kembali ke ayat 12, Yesus tampaknya juga ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa untuk memahami hal-hal yang surgawi, kita perlu juga untuk memahami dengan baik hal-hal duniawi (hal-hal kecil dalam hidup kita sehari-hari). Untuk beroleh hidup yang kekal, fokus kita pertama-tama bukanlah apa yang akan terjadi di “surga” dan membayangkannya 24 jam sehari; melainkan sebaliknya, tuk beroleh hidup yang kekal, fokus hidup kita perlu pertama-tama diarahkan pada hal-hal kecil sehari-hari di “dunia” ini. Apa yang kita pikirkan, katakan dan kita perbuat dalam keseharian kita, itulah yang akan membantu kita memahami “hidup yang kekal”.

Kekalan berawal di “dunia” ini. Jika yang kekal itu bermula dari “awal penciptaan” hingga “akhir zaman” nanti (bahkan kehidupan setelah itu). Maka, hidup kita saat ini (di dunia ini) adalah bagian dari kekekalan itu sendiri. Kita saat ini berada di tengah-tengahnya. Jadi, jika kita ingin serius tentang “hidup yang kekal”, tentang “hal-hal surgawi”, Yesus mengajak kita untuk menghidupi hidup kita saat ini dengan serius pula. Bukan berarti tidak pernah jatuh dan tidak ada halangan. Mungkin malah sebaliknya, hidup kita penuh dengan rintangan dan kita akan jatuh berulang-ulang kali. Namun pertanyaan yang terpenting, “Apakah aku sudah benar-benar serius dengan hidupku saat ini? Apakah aku percaya tentang hal-hal duniawi yang Yesus ajarkan dan contohkan dalam hidup-Nya?”

Selain itu, tantangan kita saat ini, “Jangan sampai Yesus menggunakan pertanyaan yang sama yang diajukan ke Nikodemus kepada diri kita sendiri, ‘Engkau tidak mengerti hal-hal itu?’” Hal itu hanya akan membuat-Nya semakin sedih.

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar