Minggu, 29 April 2018

Renungan Harian GML : SUMBER KEKUATAN GEREJA ADALAH KESATUANNYA DENGAN YESUS KRISTUS



 Saudari-saudara sekalian salam jumpa lagi pada hari Minggu Paska ke-5. Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita sekalian untuk melihat pentingnya pengenalan akan Yesus, kesatuan kita dengan Dia, dan hidup dalam kasih sebagai wujud kesetiaan kepada-Nya. Bacaan Injil melukiskan pentingnya kesatuan itu dalam perumpamaan tentang pokok anggur: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Bacaan kedua menyampaikan pentingnya hidup dalam kasih sebagai perwujudan kesatuan dan kesetiaan kepada Kristus: “Dan inilah perintah Allah itu: yakni supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah-Nya yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23).
 Bacaan pertama menyampaikan bagaimana pengenalan dan kesatuan hidup dalam Kristus itu dihidupi oleh Paulus yang meyakinkah murid-murid yang lain untuk menerima dia dalam kasih persaudaraan dan dijauhkan dari ketakutan atas tindakan Paulus yang dulu Saulus sang penganiaya orang-orang Kristen. Dalam kebersamaan dengan Paulus dan atas keikuutsertaan Paulus mewartakan Injil Kristus, walau pertobatannya unik tidak bersama para rasul, jumlah jemaat bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus (Kis 9:31).
 Saudari-saudara sekalian, melanjutkan permenungan hari-hari Minggu sebelumnya: hari Minggu Paska ke-3 kita diajak untuk melihat bagaimana Yesus meyakinkan para murid bahwa ia sungguh bangkit dan memberi perintah agar para murid menjadi saksi-Nya, pada hari Minggu Paska ke-4 kita diajak untuk melihat Yesus yng menegaskan bahwa Diri-Nyalah gembala yang baik yang harus dijadikan model dalam hidup para murid dalam memberikan kesaksian tentang sukacita Injil; pada hari ini kita diajak untuk meyakini bahwa untuk bisa bersaksi dan menjadi gembala baik seperti Yesus, kita perlu tinggal bersatu erat dengan Kristus. Apa artinya tinggal dalam Kristus?  Berkat baptisan kita secara resmi berhubungan dengan Kristus, tetapi apakah dengan sendirinya kita bersatu dengan Kristus? Sungguh bersatu dengan Kristus bukanlah terjadi secara otomatis, melainkan merupakan suatu proses penghayatan. Manusia menurut kodratnya adalah  makhluk sosial. Setiap orang membutuhkan orang lain dan sebaliknya dirinya juga dibutuhkan oleh orang lain. Hubungan yang baik antar sesama adalah hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan yang tetap dan terpelihara serta berkembang akan menghasilkan hubungan kasih yang tidak terputuskan, dan akan menjiwai segenap sikap dan penghayatan hidupnya. Hubungan semacam itulah yang harus kita miliki terhadap Kristus. Di dalam hubungan persaudaraan yang dilandaskan oleh kasih Kristus itulah, kita bisa disebut “tinggal dalam Kristus”. Karena Kristus mengasihi semua orang yang percaya kepada-Nya, maka setiap orang yang sungguh mengasihi Kristus, harus juga mengasihi sesamanya sebagai saudara. Demikian hidup tinggal dalam Kristus berarti hidup dalam kasih. Kasih itu harus dihayati dalam hidup dan perbuatan. Kasih persaudaraan pada hakikatnya adalah pelayanan. Semakin beriman semakin bersaudara semakin berbelarasa. Dalam semangat persatuan dalam kebhinnekaan kita teguhkan kesatuan kita dengan Kristus Sang Pokok Anggur.

 Dalam pengenalan personal dan keeratan kebenaran kedekatan dengan Kristus semoga kit semakin mampu membuahkan kasih persaudaraan. Kita bhinneka kita Indonesia: Mari amalkan Pancasila. Dengannya amanat Kristus kita wujudkan.

 Rm Yohanes Purwanta MSC

0 komentar:

Posting Komentar