menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Kamis, 31 Mei 2018

Misa penutupan bulan Maria Goa Maria Lawangsih : "Kulo meniko Abdi Dalem Gusti , sendiko dawuh Dalem Gusti"


"Kulo meniko Abdi Dalem Gusti , sendiko dawuh Dalem Gusti" sebuah pesan kerendahan hati yang di ungkapkan oleh Bunda Maria ini bisa menjadi teladan yang baik bagi kita.
Dalam kotbahnya pada misa penutupan bulan Maria sore ini (31 mei 2018) Romo Supri menekankan kesederhanaan dan kesetiaan kita sebagai umat Allah dalam kita menjalani kehidupan sehari-hari.Kita sangat bersyukur dengan keputusan bunda Maria dalam menjalankan Kehendak Allah ,dalam bacaan kitab suci hari ini di ceritakan suasana ketika Bunda Maria mengunjungi Elisabeth , pesan kebahagiaan dan kesetiaan juga di tunjukkan oleh Elisabeth ketika itu , Tetap beriman kepada Allah dengan keadaanya yang sudah tua tetap percaya akan Rencana Allah pada dirinya.

Romo Supri sore ini juga menekankan tentang keadaan sekarang ini antara anak dan orang tua, "pada akhir-akhir ini banyak teror ,namun teror itu tidak harus berbentuk bom... anak-anak juga kerap menjadi teror bagi orang-orang tua.. mereka (anak-anak) berani pada orang tua secara berlebihan ,ini sebaikya kita atasi dengan teladan-teladan yang baik dari orang tua dengan mengedepankan kerendahan hati dan kesetiaan sebagai umat Allah. Lantunan lagu "Nderek Dewi Maria" oleh omk Don bosco menjadi kidung penutup misa sore ini , menutup hari yang semakin gelap untuk kembali kerumah masig-masing ,kepada kehidupan masing-masing dalam penghayatan "kulo meniko abdi dalem Gusti ,sendiko dhawuh dalem Gusti" 
LIHAT GALERI FOTO SELENGKAPNYA>>>

Renungan Harian GML : PESTA SANTA PERAWAN MARIA MENGUNJUNGI ELISABET: HIDUP YANG MEMBANTU DAN BERBAGI



BACAAN
Zef 3:14-18a – “Tuhan, Raja Israel, ada di tengah-tengah kamu”

Luk 1:39-56 – “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

RENUNGAN
1.Lukas menekankan kesigapan Maria dalam melayani sebagai hamba. Setelah malaikat memberitahu tentang kehamilan Elisabet, Maria, yang sangat percaya pada kata-kata malaikat,dengan segera, menuju ke rumah Elisabeth untuk membantu dia. Perjumpaan di antara mereka berdua dinyatakan dengan pemberian Roh Kudus: “Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus.”

2.Elisabet berseru dengan suara lantang: “Diberkatilah engkau ...” Diberkatilah sama dengan berbahagialah, merupakan ungkapan kegembiraan dari hati yang terdalam. Maria terberkati karena menjadi ibu Yesus, Anak Allah. Berkat itu pula yang nantinya menjadi pedang yang menembus hati Maria ketika Anaknya mati disalib.

3.Pesan yang bisa kita petik: 
a). Kita harus berani keluar dari lingkungan nyaman kita dan memberi perhatian serta membantu orang-orang yang memiliki kebutuhan konkret.
b). Berbagi sukacita dan kebahagiaan. Ketika sukacita dan kebahagiaan kita bagikan, akan menghasilkan buah berkali lipat yang bisa dirasakan oleh banyak orang.
c). Hidup kita terlalu pendek untuk menangis, meratap atau pun sedih. Hidup kita juga terlalu pendek untuk tidak berbagi. Lebih baik memberi daripada menerima.

Maxi Sriyanto

Rabu, 30 Mei 2018

Renungan Harian GML : YESUS HAMBA TUHAN



BACAAN
1Petr 1:18-25 – “Kamu telah ditebus dengan darah yang berharga, darah anak Domba tak bernoda, yaitu darah Kristus”

Mrk 10:32-45 – “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan pernyataan ketiga tentang Sengsara dan Kematian Yesus. Peristiwa ini bukan karena takdir tetapi karena komitmen total Yesus terhadap tugas perutusan dari Bapa-Nya. Yesus menghendaki setiap murid-Nya mengikuti jejak Sang Guru, walaupun mereka harus menghadapi salib. Dan para murid takut.

2.Di tengah kepedihan hati Yesus, Yakobus dan Yohanes justru minta kedudukan, pangkat, dan kehormatan untuk sebuah kemuliaan. Namun yang ditawarkan Yesus adalah cawan dan baptisan, penderitaan dan salib.

3.Bagi Yesus, untuk memperoleh kemuliaan dan menjadi hebat, jika setiap murid-Nya siap menjadi pelayan, dan yang ingin menjadi terkemuka harus berani menjadi hamba bagi semua. Di sini Yesus benar-benar menjungkirbalikkan sistem yang mengutamakan keserakahan, egoisme, dan penaklukkan. Apa yang ditawarkan Yesus merupakan obat untuk membangun hidup dalam kasih persaudaraan.

4.Oleh karenanya Yesus menyimpulkan tugas perutusan-Nya yang dikenakan kepada setiap murid-Nya, yaitu bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Yesus memenuhi nubuat nabi Yesaya tentang Mesias Hamba, dan Yesus belajar dari ibu-Nya yang berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

5.Tugas Hamba: memanusiawikan hidup, melayani orang lain, dan menerima siapa saja yang tersingkirkan. Siapkah aku?

Maxi Sriyanto

Selasa, 29 Mei 2018

GANJARAN MENGIKUTI YESUS

GANJARAN MENGIKUTI YESUS

BACAAN
1Ptr 1:10-16 – “Para nabi telah bernubuat tentang kasih karunia bagimu. Sebab itu waspadalah, dan taruhlah harapanmu sepenuhnya pada kasih karunia itu”

Mrk 10:28-31 – “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya ... ia akan menerima kembali seratus kali lipat ...”

RENUNGAN
1.Si pemuda kaya pergi dengan sedih dan kecewa, karena sangat banyak hartanya. Sebaliknya Petrus, dan murid-murid lainnya, nagih ganjaran kepada Yesus karena ia telah meninggalkan segala-galanya. Suatu tuntutan yang wajar.

2.Mengikuti Yesus merupakan sebuah panggilan, dan tidak semua orang tertarik terhadap tawaran Yesus. Panggilan untuk apa? Untuk hidup secara benar agar menjadi suci dan sempurna seperti Allah, dan panggilan tesebut harus nampak nyata dalam hidup kita setiap hari.

3.Untuk itu Yesus menghendaki agar kita menjadi murid yang tidak setengah-setengah atau tidak serius. Yesus mencari murid yang memiliki komitmen total terhadap-Nya, bahkan ketika harus mengalami penderitaan dan salib berat. Bila hal itu bisa kita wujudkan, maka kita akan menerima balasan seratus kali lipat dan hidup kekal. Janji yang luar biasa.

4.Tetapi tidaklah mudah untuk bisa memberikan semuanya kepada Yesus, karena dunia begitu menggiurkan dan menggoda. Tidak sedikit para murid Kristus yang jatuh ke dalam pelukan dunia dan manusia dan meninggalkan Yesus. . Menegaskan keputusan untuk tetap sebagai murid Kristus harus selalu dibuat, dan rahmat kesetiaan harus selalu dimohon.

MSri, 29.5.18, berkat.id

Senin, 28 Mei 2018

HIDUP KEKAL ATAU KEKAYAAN?

HIDUP KEKAL ATAU KEKAYAAN?

BACAAN
1Petr 1:3-9 – “Sekali pun kamu belum pernah melihat Dia namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekali pun kamu sekarang tidak melihat-Nya.

Mrk 10:17-27 – “Juallah apa yang kau miliki, dan ikutlah Aku”

RENUNGAN
1.Pertanyaan “apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” merupakan pertanyaan semua orang dari dulu sampai sekarang. Di balik pertanyaan itu sebenarnya ada pertanyaan mendasar, yaitu: Apa tujuan hidup kita? Jika kita tahu tujuan hidup kita, pertanyaan berikutnya adalah: Dengan cara apa agar kita sampai kepada tujuan tersebut?

2.Banyak orang memilih tujuan hidup yang konkret di depan mata, yaitu memiliki harta benda melimpah seperti pemuda kaya yang datang kepada Yesus. Pemuda kaya tadi hanya berlindung dan mengandalkan pada kekayaannya. Ia tidak membutuhkan orang lain dan tidak membutuhkan Allah. Ia tidak punya pikiran dan perbuatan untuk berbagi kepada mereka yang miskin. Ia tidak mampu menanggapi undangan Yesus, karena kekayaannya telah menjadi penghalang baginya.

3.Seperti pemuda kaya yang tidak mau melepaskan harta bendanya, kita sebenarnya menggenggam banyak hal yang tidak ingin kita lepaskan, misalnya kebencian, kemarahan, dendam, dan perbuatan-perbuatan dosa. Semuanya itu membelenggu jiwa dan menjadi penghalang untuk memperoleh hidup kekal.

4.Kita dihadapkan pada pilihan: Hidup kekal atau kekayaan?. Kalau kita memilih hidup kekal, yang tidak lain adalah Yesus, maka kita akan menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk menuju hidup kekal. Tetapi kalau kita memilih kekayaan sebagai tujuan, maka Kristus tidak berarti apa-apa dalam hidup ini. Silahkan memilih!

MS, 28.5.18, berkat.id

Minggu, 27 Mei 2018

Inkulturasi Gereja terhadap Budaya Jawa

Paguyuban Kesenian Trafisional Sloka Sabda Suci


Salah satu kekayaan Paroki Adm Pelem Dukuh adalah adanya Paguyuban Kesenian Tradisional Sloka (sholawatan katolik) Sabda Suci. Paguyuban ini kurang lebih memiliki anggota 30 orang,  yang range umurnya cukup jauh (dr muda sampai tua). Peralatan yang digunakan sangat sederhana, dibuat seperti pada awal mula dibentuknya paguyuban ini,  misalnya kendang : kendang yang digunakan adalah kendang buntung,  bukan kendang batangan,  yang merupakan warisan nenek moyang. 


Kesenian Sloka mengajak kita mendalami dan menghayati babad suci atau kitab suci perjanjian lama dengan melagukan secara tradisional,  mulai dari kisah penciptaan sampai menjelang kelahiran Yesus, sehingga sloka berisi tentang nabi-nabi,  sejarah,  dan nabi besar yang tertuang dalam kitab suci perjanjian lama. 

Paguyuban Sloka Sabda Suci memiliki visi untuk melestarikan budaya jawa sebagai bentuk inkulturasi gereja terhadap budaya jawa tradisional. Paguyuban ini telah diakui oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo dan mendapat nomor pengesahan sebagai tanda nomor legalitas kelompok/Organisasi Kesenian Tradisional. 

Paguyuban Kesenian Tradisional Sloka Sabda Suci ini pernah mengikuti Festival Kesenian Tradisional Sholawatan Katolik th 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kulon Progo di Kecamatan Kalibawang. Pada saat itu Sloka Sabda Suci mewakili Kecamatan Girimulyo dan berhasil meraih juara II. Ini adalah prestasi yang patut diapresiasi. 

Sloka Sabda Suci mengadakan latihan rutin tiap malam Jumat Kliwon,  dan pada bulan Mei 2018 yang merupakan bulan Maria,  paguyuban ini mengadakan latihan di pelataran Goa Maria Lawangsih tepatnya tgl 24 Mei yang lalu.  Pelatih atau sesepuh Paguyuban Sloka Sabdo suci adalah:
1. Bp.  Harjo Sumarto
2. Bp.  Warto Utomo
3. Bp.  Sastro Sutrisno
4. Bp.  Sastro Prayitno

Kedepannya paguyuban ini berharap bisa  mengimplementasikan kesenian sloka sebagai liturgi gereja dalam perayaan ekaristi kudus. Selanjutnya semoga paguyuban ini bisa terus maju dan berkembang, sehingga banyak kawula muda yang tertarik untuk melestarikan budaya jawa.

Nara Sumber : Bp.  Slamet Riyadi

Sabtu, 26 Mei 2018

Renungan Harian GML : KERAJAAN ALLAH DIPERUNTUKKAN BAGI SIAPA SAJA



BACAAN
Yak 5:13-20 – “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”

Mrk 10:13-16 – “Sungguh, barangsiapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”

RENUNGAN
1.Para murid marah dan melarang ketika orang-orang membawa anak-anak kecil datang kepada Yesus. Sikap ini menunjukkan bahwa para murid tidak mampu memahami siapa Yesus dan Kerajaan-Nya.

 2.Tanpa menghiraukan sikap para murid, Yesus menerima dan menjamah serta memberkati anak anak tersebut dengan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku! Jangan menghalang-halangi mereka! Sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

3.Apa arti tindakan Yesus tersebut? Artinya: Kerajaan Allah terbuka bagi siapa saja, apa pun suku dan agama mereka. Tetapi ada syaratnya untuk bisa memasuki Kerajaan Allah, yaitu memiliki sifat-sifat seorang anak kecil: rendah hati, spontan, tidak menyembunyikan perasaan mereka, tidak ada kebohongan, tergantung pada orang lain, percaya, menikmati kehidupan, bisa senang dan tertawa lepas, dan tanpa prasangka. Seseorang yang semakin tua tidak lagi mengembangkan sifat-sifat tersebut. Yang mereka miliki justru dosa.

4.Jadi poinnya bukan karena mereka dilarang memasuki Kerajaan Allah, melainkan karena mereka menjauhkan diri dari Kerajaan Allah dengan mengembangkan sifat-sifat yang bertentangan dengan tuntutan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah akan datang jika kita memiliki sifat-sifat yang dikehendaki Allah. Bagaimana dengan Anda?

Maxi Sriyanto

Jumat, 25 Mei 2018

Renungan Harian GML : PERKAWINAN KATOLIK: SATU DAN TAK TERCERAIKAN



BACAAN
Yak 5:9-12 – “Hakim telah berdiri di ambang pintu”

Mrk 10:1-12 – “Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia”

RENUNGAN
1.Orang-orang Parisi berusaha mencobai Yesus dengan bertanya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Dari pertanyaan tersebut nampak jelas adanya dominasi pria terhadap wanita; wanita dijajah pria. Dalam suku atau bangsa tertentu, wanita dianggap sebagai warga klas dua sehingga tidak memiliki hak-hak sebagaimana seharusnya dimiliki oleh wanita. Bahkan masih ada suku atau bangsa yang memperlakukan wanita sebagai barang harta benda.
2.Yesus menanggapi pertanyaan orang Parisi dengan bertanya: “Apa perintah Musa kepadamu?” Menurut hukum pada waktu itu, seorang suami dapat menceraikan isterinya,  tetapi seorang isteri tidak bisa menceraikan suaminya. Yesus menerangkan: Musa mengijinkan seorang suami menceraikan isterinya karena ketegaran atau kekerasan hati orang-orang Israel.
3.Yesus menegaskan kembali: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Dari penegasan tersebut: Yesus menolak seorang suami menceraikan isterinya dan menghapus dominasi seorang suami terhadap isterinya.
4.Ketika sampai di rumah, para murid menanyakan hal tersebut. Yesus menegaskan kembali kesamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Dengan ini Yesus menampilkann relasi baru antara suami dan isteri.
5.Jaman digital sekarang ini telah membuat ikatan perkawinan menjadi makin longgar. Tujuan Sakramen Perkawinan telah diabaikan, semakin banyak perceraian sipil di kalangan orang beriman. Banyak keluarga Katolik berantakan di tengah jalan. Mengapa hal tersebut terjadi? Karena tidak ada usaha untuk merawat perkawinan, suami-isteri mementingkan egoisme masing-masing, merasa diri paling benar dan tidak mau mengalah, dan tertutupnya pintu komunikasi. Bagaimana dengan keluarga Anda? 

Maxi Sriyanto

Kamis, 24 Mei 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH BERLIMPAH



BACAAN
Yak 5:1-6 – “Keluhan mereka ... telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam”

Mrk 9:41-50 – “Barangsiapa menyesatkan salah seorang dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut”

RENUNGAN
1.Siapa yang dimaksud dengan anak-anak kecil yang percaya? Mereka adalah orang-orang kecil, orang-orang miskin, lemah dan tersingkir. Mereka tidak punya status sosial di masyarakat, bahkan mereka tidak diperkenankan ambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya.

2.Menyesatkan orang-orang kecil merupakan skandal. Arti  skandal adalah batu yang berserakan di sepanjang jalan. Orang yang berjalan tersandung-sandung, sehingga jalannya terbelokkan dari jalan yang benar. Harus kita ketahui bahwa orang-orang kecil tidak memiliki daya. Menyesatkan orang-orang kecil berarti membelokkan jalan mereka sehingga mereka kehilangan harapan, putus asa, bahkan kehilangan iman. Padahal, orang-orang kecil adalah mereka yang dikasihi Tuhan Yesus.

3.Maka kita harus mengasihi mereka. Untuk itu kita perlu memiliki garam di dalam hidup kita, artinya hidup yang selalu mengandung kebaikan, memberi dampak positip bagi kehidupan orang banyak, terutama orang-orang kecil. Sebaliknya bila hidup  tidak melakukan kebaikan, bahkan menyesatkan orang lain, lebih baik bila ia tidak hidup; lebih baik bila ia tidak pernah hadir di dunia ini. “Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.”

Mana yang harus kita pilih: Hidup menjadi berkat atau hidup menjadi laknat?

Maxi Sriyanto

Rabu, 23 Mei 2018

Renungan Harian GML : PENGHAKIMAN TERHADAP ORANG LAIN ADALAH RACUN BAGI PIKIRAN DAN HATI KITA



BACAAN
Yak 4:13-17 – “Apakah arti hidupmu? Seharusnya kamu berkata, jika Tuhan menghendakinya”

Mrk 9:38-40 – “Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita”

RENUNGAN
1.Tahukah kita, bahwa Gereja pernah memonopoli keselamatan dengan berpendapat bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan? Pendapat yang diyakini selama hampir duaribu tahun. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja membarui paham tersebut, yakni: di luar Gereja ada keselamatan.

2.Yohanes dan murid lain diberi kuasa untukmenaklukkan setan-setan. Mereka berpikir bahwa kuasa ini hanya diberikan kepada mereka. Maka ketika ada orang lain mengusir setan, Yohanes mencegahnya. Yesus berkata kepada mereka: “Janganlah kalian cegah mereka. ... Barangsiapa tidak melawan kita, ia memihak kita.” Ternyata kuasa menyembuhkan juga dimiliki orang-orang yang bukan murid Yesus. Maka kita tidak perlu terusik, justru sebaliknya, harus berani mengajak mereka untuk bekerja sama demi kebaikan bagi banyak orang.

3.Kita sebagai anggota Gereja belum tentu mengalami keselamatan bila hidup kita tidak benar, malas, tidak adil, congkak dan egois. Kita tidak akan selamat bila kita suka mengadili orang lain secara serampangan. Lagi pula kita lebih gampang mengatakan kekurangan orang lain daripada mengatakan kebaikannya.

4.Apakah Yesus mengadili seperti kita? Yesus melihat orang lain dengan cinta. Seorang wanita pendosa yang seharusnya dilempari batu sampai mati, Yesus menerimanya, mengampuni dan memulihkannya. Hanya orang-orang yang tidak mau terbuka dan menerima Yesus, maka Yesus akan menjatuhkan pengadilan kepada mereka.

5.Maka ketika kita mulai mengkritik orang lain, cobalah STOP! Mengambil waktu sejenak, bernapas dan mengubah pikiran.Penghakiman merupakan racun bagi pikiran dan hati kita.

6.Berdoa: “Tuhan, jadikanlah hatiku menjadi seperti hati-Mu.”

Maxi Sriyanto

Selasa, 22 Mei 2018

Renungan Harian GML : MENJADI BESAR DI HADAPAN ALLAH



BACAAN
Yak 4:1-10 – “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa”

Mrk 9:30-37 – “Barangsiapa ingin menjadi yag pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan maklumat kedua tentang Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus. Para murid tidak mengerti. Mereka tidak bisa menerima Mesias yang menderita. Mereka masih bermimpi tentang Mesias yang mulia dan agung. Ketika Yesus berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya, mereka justru berebut siapa yang paling besar di antara mereka. Yesus ingin melayani, tapi para murid hanya memikirkan bagaimana memerintah. Mentalitas bersaing dan mengalahkan. Bukankah hal ini juga berkembang subur di tengah jemaat beriman?

2.Bagi Yesus, untuk menjadi yang terkemuka, terpandang, dan terhormat bila “ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Cara hidup Yesus, memang, selalu bentrok dengan cara hidup dunia yang mengutamakan kepentingan, kekuasaan, keunggulan, dan penaklukan. Semangat hidup dunia yang selalu ingin menguasai dan memerintah tak pernah akan memperhatikan orang-orang kecil, miskin, lemah dan tersingkir. Sebaliknya, Yesus memeluk anak kecil, artinya Ia menyamakan diri dengan orang-orang kecil, miskin, tersingkir.

3.Kita mohon rahmat Tuhan, untuk mampu mengasihi orang-orang yang dikasihi Yesus agar menjadi besar di hadapan Allah.

Rm Maxi Sriyanto

Senin, 21 Mei 2018

MENGALAHKAN ROH JAHAT DENGAN DOA



BACAAN
Yak 3:13-18 – “Jika kalian puas dalam hati, janganlah membanggakan diri”

Mrk 9:14-29 – “Aku percaya, ya Tuhan! Tolonglah aku yang kurang percaya ini”

RENUNGAN
1.Seorang ayah nampak putus asa, karena anaknya dikuasai oleh roh jahat. Para murid tidak mampu menyembuhkannya.  Yesus menjadi tidak sabar: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

2.”Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Ayah anak itu berteriak: “Aku percaya! Tolonglah aku yang kurang percaya ini!” Seruan ayah ini mengajarkan bahwa kita harus mengakui segala kekurangan kita dan mohon  untuk menjadi percaya. Yesus bertindak dengan cepat. Ia memerintahkan roh jahat itu keluar. Di hadapan Yesus, kekuatan roh jahat  kehilangan semua pengaruhnya.

3.Ketika di rumah, para murid ingin tahu mengapa mereka tidak bisa mengusir roh jahat? Yesus menjawab: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Yesus menyadarkan bahwa kita harus tetap mengandalkan kekuatan Allah. Allah menjadi dasar dan sumber kekuatan hidup kita. Sikap egois, iri, dengki, dan sombong akan menghalangi doa.

4.Wujud roh jahat jaman sekarang berupa kekerasan, pemaksaan kehendak, narkoba, teror, sombong dan merasa diri paling benar. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, dunia tidak semakin baik, tetapi justru semakin buruk. Maka kita harus semakin mengandalkan Allah, semakin percaya kepada Allah, dan bertumbuh dalam doa untuk bisa mengalahkan kuasa jahat.

MS, 21.5.18, berkat.id

Sabtu, 19 Mei 2018

IKUTLAH AKU

IKUTLAH AKU

BACAAN
Kis 28:16-20.30-31 – “Paulus tinggal di Roma memberitakan Kerajaan Allah”

Yoh 21:20-25 – “Tetapi engkau, ikutlah Aku.”

RENUNGAN
1.Siapakah Petrus sehingga ia dipanggil oleh Yesus: “Ikutlah Aku?” Ia orang yang sederhana, terkadang ragu dan takut, namun ia ingin mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh dan setia. Masing-masing dari kita juga mempunyai sejarah sendiri-sendiri dalam mengikuti Yesus. Tidak ada yang persis sama. Masing-masing mempunyai keunikan sendiri-sendiri.

2.Ada panggilan ada rahmat. Petrus mendapat rahmat kesembuhan ketika ia ditanya oleh Yesus sebanyak tiga kali. Kesalahan-kesalahan Petrus telah direhabilitasi. Dan Yesus tetap mengasihi Petrus. Setiap saat, kita pun disapa oleh Yesus. Dengan sapaan itu Ia ingin memulihkan dari kesalahan-kesalahan kita. Namun kita sering tidak mendengar sapaan Yesus, karena kita terlalu sibuk dengan diri sendiri dan sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu, sedangkan Yesus kita tinggalkan begitu saja.

3.Yohanes yang menuliskan Injil ini disebut “murid yang terkasih.” Petrus juga sebagai “murid yang terkasih” setelah direhabilitasi oleh Yesus. Paulus yang mengalami penampakan Tuhan, juga sebagai “murid yang terkasih.”  Apakah Anda juga layak disebut “murid yang terkasih?”

4.Dalam segala kelemahan dan dosa-dosa kita, kita sadari bahwa Yesus selalu berjalan bersama kita. Kita mohon pertolongan-Nya agar Ia menyembuhkan dan memulihkan kita, sehingga kita siap mewujudkan panggilan Tuhan dengan setia dan menjadi “murid yang terkasih.”

MSri, 19.5.18, www.berkat.id

 

Jumat, 18 Mei 2018

KASIH MENJADI KEKUATAN YANG MENYEMBUHKAN

KASIH MENJADI KEKUATAN YANG MENYEMBUHKAN

BACAAN
Kis 25:13-21 – “Yesus telah mati, tetapi dengan yakin Paulus mengatakan bahwa Ia hidup”

Yoh 21:15-19 – “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”

RENUNGAN
1.Setelah sarapan, Yesus bertanya kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Pertanyaan diberikan sampai tig kali. Setelah Petrus menjawab secara positip, ia menjadi “Murid yang Terkasih” dan menerima perintah untuk tugas penggembalaan. Yesus tidak pernah bertanya kepada Petrus apakah ia belajar exegese, theologi, Kitab Suci, moral atau hukum gereja. Yesus hanya bertanya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih telah menyembuhkan dan memulihkan pribadi Petrus. Kasih merupakan tempat pertama dan utama dalam tugas perutusan, bukan dogma atau ajaran-ajaran beku seperti yang diwartakan oleh Gereja sekarang ini.

2.Apa pun yang telah dilakukan Petrus, Yesus tetap mengasihi dan memberdayakan dirinya, sehingga ia benar-benar mengasihi Gereja secara total dan tuntas. Kasih menjadi kekuatan untuk menghancurkan dosa dan kematian.

3.Pada jaman sekarang mengasihi seseorang secara total dan tuntas bukanlah perkara mudah, apalagi mengasihi Allah yang tidak kelihatan nyata. Cinta kasih kita masih cenderung terbagi baik untuk diri sendiri maupun untuk hal-hal yang kurang berguna, sehingga orang lain yang memerlukan perhatian kita abaikan.

4.Apa jawaban kita kalau saat ini Yesus bertanya: “(Nama), apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Pertanyaan tersebut selalu disampaikan oleh Yesus kepada kita setiap saat ketika susah maupun gembira, untung dan malang, pada saat kita gagal atau berhasil. Yesus menunggu jawaban kita.

MS, 18.5.18, www.berkat.id

Kamis, 17 Mei 2018

Renungan harian GML : BERADA DALAM KESATUAN CINTA KASIH

BERADA DALAM KESATUAN CINTA KASIH

BACAAN
Kis 22:30; 23:6-11 – “Hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma”

Yoh 17:20-26 – “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita”

RENUNGAN
1.Injil hari ini merupakan bagian akhir dari Doa Imam Agung. Yesus berdoa bagi masa depan para murid-Nya dan menghendaki mereka memiliki kesatuan dalam kasih, karena tanpa kasih dan tanpa kesatuan budi dan hati, mereka tidak layak untuk dipercaya.

2.Yesus juga berdoa bagi mereka yang percaya, bahwa Bapa mengutus diri-Nya, melalui pengajaran para murid-Nya. Yesus berdoa supaya mereka semua menjadi satu sama seperti diri-Nya bersatu dengan Bapa-Nya. Yesus sangat memperhatikan kesatuan komunitas-komunitas dalam ikatan cinta kasih. Kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya menjadi model kesatuan umat beriman. Melalui kesatuan dalam cinta kasih ini, para murid Kristus menyampaikan kepada dunia pesan-pesan Yesus. Pesan-pesan disebut sukses ketika orang-orang dunia berkata: “Lihatlah, betapa mereka mengasihi satu sama lain.”

3.Perlu kita sadari bahwa kesatuan tidak berarti sama dan seragam, tetapi tetap berada dalam ikatan cinta kasih saat berada dalam ketegangan dan konflik. Tragisnya, doa Imam Agung tidak terwujud. Yang terjadi justru perpecahan umat beriman yang mengakibatkan timbulnya kelompok-kelompok yang saling bersaingan, saling mengkafirkan, dan merasa diri paling benar. Mereka menyebut diri “Gereja Kristus.” Dengan Gereja yang terpecah-pecah dan terkotak-kotak seperti sekarang ini, sungguh memalukan dan tidak pantas mendapat kepercayaan. Dalam kondisi seperti ini, Doa Imam Agung Yesus tetap relevan: Yesus menghendaki semuanya bersatu, bukannya seragam, tetapi dalam kasih persaudaraan sejati.

4.Bagian terakhir dari doa Imam Agung, Yesus menghendaki agar kita selalu dan selamanya bersama dengan Yesus. Ia menghendaki agar kita memiliki pengalaman tentang Bapa seperti Yesus alami: bersatu erat, mengasihi secara total, dan taat setia kepada Allah.

MSri, 17.5.18, berkat.id

Rabu, 16 Mei 2018

Renungan harian GML : DI DUNIA TETAPI BUKAN MILIK DUNIA

DI DUNIA TETAPI BUKAN MILIK DUNIA

BACAAN
Kis 20:28-38 – “Aku menyerahkan kamu kepada Tuhan yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu suatu bagian yang telah ditentukan”

Yoh 17:11b-19 – “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka dikuduskan dalam kebenaran”

RENUNGAN
1.Dalam Doa Imam Agung, Yesus berdoa bagi para murid-Nya: “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu.” Doa merupakan tanda cinta sejati. Dalam bacaan pertama, Paulus berdoa bagi para penatua jemaat di Efesus karena ia sangat mencintai mereka.

2.Yesus berdoa “supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.” Yesus berdoa demikian, karena Ia akan segera meninggalkan mereka, dan para murid masih berada di dunia ini dan tetapi bukan lagi milik dunia. Maka Yesus berdoa agar mereka tetap setia dan kuat dalam memelihara iman, dan dilindungi dari pengaruh jahat. Dengan demikian mereka memiliki sukacita penuh.

3.Yesus juga berdoa “kuduskanlah mereka dalam kebenaran.” Dengan doa ini Yesus menghendaki agar para murid menjadi manusia seperti Yesus, agar mereka mampu memberikan kesaksian tentang Yesus dan Bapa. Dan bila hidup kita menyerupai Yesus, maka kita akan mengalami seperti Yesus yaitu dibenci oleh dunia, karena sistem dunia  yang mengutamakan kepentingan, tanpa belas kasih, dan merendahkan kehidupan manusia.

4.Dalam situasi yang terkadang sulit dan mencekam seperti peristiwa pengeboman di Surabaya, Yesus tidak minta kepada Bapa supaya mengambil para murid dari dunia, tetapi supaya Bapa melindungi mereka dari yang jahat. Dalam situasi sesulit apa pun, Yesus menghendaki kita tetap sebagai garam dunia dan terang dunia (Mat 5:13-14).

ms, 16.5.18 – www.berkat.id

Selasa, 15 Mei 2018

MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH KEBENCIAN DAN KEBIADABAN

MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH KEBENCIAN DAN KEBIADABAN

BACAAN
Kis 20:17-27 – “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah”

Yoh 17:1-11a – “Bapa, permuliakanlah Anak-Mu”

RENUNGAN
1.Doa yang disampaikan Yesus dalam bab 17 ini disebut Doa Imam Agung Yesus, di mana Ia bersyukur kepada Bapa-Nya dan berdoa bagi para murid-Nya. Ia akan meninggalkan dunia dan pergi menuju Bapa, setelah Ia menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepada-Nya. Keakraban dan keintiman Yesus terhadap Bapa-Nya nampak dalam setiap kalimat dalam doa-Nya.

2.Yesus menengadah ke langit dan menyebut Allah sebagai Bapa: “Bapa, telah tiba saatnya.” Bagi Yesus, “saat” yang ditungguh-tunggu telah tiba yaitu Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan-Nya. Pada saat itu Yesus dimuliakan, dan Yesus memuliakan Bapa-Nya. Sebagai Anak, Yesus telah menyatakan kehidupan kekal kepada semua orang yang menerima-Nya. Yesus telah menyelesaikan tugas-Nya di dunia ini, maka Ia akan kembali kepada Bapa untuk melengkapi karya kemuliaan.

3.Karena Yesus tidak akan berada di dunia ini, maka Ia berdoa bagi mereka yang diserahkan Bapa kepada-Nya. Kita masih berada di dunia ini tetapi kita bukan dari dunia ini. Kita berasal dari Yesus, dan kita adalah milik Allah, dan kita adalah tanda-tanda kehadiran Allah di dunia ini.  Maka kita diharapkan bersaksi terhadap mereka yang belum percaya bahwa Yesus berasal dari Allah dan bersama Allah.

4.Bagaimana bersaksi tentang Yesus di tengah kebiadaban teror bom, di tengah orang-orang yang benci kepada Kristus dan pengikut-Nya, di tengah mayoritas orang yang tidak percaya kepada Kristus?

Rm maxi Sriyanto

Senin, 14 Mei 2018

Renungan harian GML : Sahabat sejati

SAHABAT SEJATI

BACAAN
Kis 1:15-17.20-26 – “Yang kena undi adalah Matias; dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul”

Yoh 15:9-17 – “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”

RENUNGAN
1.”Seperti Bapa telah mengsihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Yesus selalu berada di dalam kasih Bapa dengan mematuhi semua perintah yang Ia terima daripada-Nya. Kita berada dalam kasih Yesus, jika kita mematuhi perintah-perintah yang Ia tinggalkan bagi kita. Ringkasan seluruh perintah Yesus hanya ada satu, yaitu “supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Ukuran kasih bukan karena kebaikan hati kita, melainkan Tuhan yang telah mengasihi kita. Dan Tuhan menghendaki agar kita mengasihi secara total: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

2.Siapakah seorang sahabat? Ia adalah orang yang setia dalam suka dan duka, saling mendukung, mengasihi dan menghormati. Kita tahu bahwa dia seorang sahabat ketika kita sedang berada dalam kesulitan, keterpurukan dan kegagalan. Dalam kondisi seperti itu seorang sahabat akan setia berada di samping kita. Dia akan menegur bila ada hal yang kurang benar, dan memberi nasehat sejauh diperlukan. Bila diperlukan, seorang sahabat akan siap memberikan pengorbanan yang paling besar dan total.

3.Yesus telah menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya. Yesus telah mengurbankan jiwa-raga-Nya demi membela kita, sahabat-sahabat yang dicintai-Nya. Maka panggilan untuk menjadi sahabat adalah panggilan kita sebagai murid Kristus. Hal ini berarti berani berkurban, memberi diri bagi keselamatan orang lain. Dunia dan orang lain membutuhkan kita sebagai sahabat yang mengasihi. Siapkah Anda?

4.Tahukah Anda perbedaan antara sahabat dan teman?

Minggu, 13 Mei 2018

Renungan Harian GML : ALLAH ADALAH KASIH



HARI KOMUNIKASI SEDUNIA: KEBENARAN AKAN MEMERDEKAKAN KAMU – Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian

BACAAN
Kis 1:15-17.20a.20c-26 – “Harus ditambahkan kepada kami satu orang untuk menjadi saksi tentang keangkitan Yesus”

1Yoh 4:11-16 – “Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”

Yoh 17:11b-19 – “Supaya mereka menjadi satu sama seperti kita”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja Semesta memperingati Hari Komunikasi Sedunia. Paus Fransiskus menyampaikan pesan yang relevan untuk saat ini: “Kebenaran Akan Memerdekakan: Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian.” Tema tersebut terkait dengan berita-berita hoax yang sangat merusak masyarakat. Di tengah berita hoax tersebut, Gereja ingin memberikan kontribusi dengan mempromosikan jurnalisme profesional yang selalu mencari kebenaran, menekankan jurnalisme damai yang mempromosikan saling pengertian antara sesama manusia.

2.Bacaan-bacaan hari ini menampilkan dua hal: Pertama, menampilkan sosok Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus. Kedua, mengenai pernyataan bahwa Allah adalah Kasih. Dalam Injil hari ini Yudas “sebagai dia yang sudah ditentukan untuk binasa.” Yudas telah menolak kasih Allah. Dia menuruti kehendaknya sendiri dengan harapan, Allah akan mengabulkan apa yang menjadi rencananya. Nyatanya, dia telah diperdaya oleh iblis.

3.Allah yang adalah Kasih memberi manusia kebebasan untuk memilih dan Kasih tidak pernah memaksa. Cinta menghargai kebebasan dan Allah tidak mau memaksa manusia untuk membalasnya. Kalau kita memilih tidak mencintai Allah, artinya kita memilih Iblis cs.

4.Kita harus berlatih supaya memiliki kebebasan yang terarah. Untuk itu kita harus melakukan pilihan-pilihan yang baik dan aktif dalam hidup menggereja dan bermasyarakat. Pilihan itu harus kita dasari dengan hidup rohani yang semakin meningkat dan mendalam melalui pembacaan Firman, doa, meditasi dan sakramen, terutama Ekaristi. Jika relasi pribadi kita dengan Allah semakin mesra, tidak mungkin kita akan mengkhianati Allah, seperti Yudas yang menjual Yesus.

5.Dalam Hari Komunikasi Sedunia ini kita mempersembahkan kebebasan kita untuk memilih Allah yang sudah mengasihi kita dengan total dan sepenuh hati.

Maxi Sriyanto

Sabtu, 12 Mei 2018

Renungan Harian GML : TUHAN MENGHENDAKI KITA MEMILIKI SUKA CITA PENUH


BACAAN
Kis 18:23-28 – “Apolos membantah orang-orang Yahudi dimuka umum dan membuktikan dari Kitab Suci, bahwa Yesus adalah Mesias”

Yoh 16:23b-28 – “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu”

RENUNGAN
1.Dari Injil hari ini, Yesus tidak menginginkan apapun selain agar kita memiliki sukacita penuh. Pertanyaannya adalah mengapa Tuhan tidak mengabulkan ketika kita memintanya?

2.Masih ingat ketika kita masih kecil? Waktu itu kita melihat mainan atau kegiatan yang sangat menyenangkan yang membuat mata kita bersinar dan begitu menginginkan dengan segenap hati. Kita bersikeras minta kepada orang tua bahwa kita akan menjadi anak paling bahagia jika memiliki mainan tersebut.

3.Orang tua menjawab: “Belum sekarang, nanti saja” atau: “Tidak perlu.” Jawaban yang sangat mengecewakan dan membuat patah hati. Lucunya, seiring berjalannya waktu, dan kita semakin tua, ternyata orang tua kita benar untuk tidak memenuhi permintaan kita. Orang tua melihat dan mengerti bahwa apa yang kita minta tidak akan membahagiakan kita.

4.Tuhan tahu yang terbaik bagi kita melebihi yang diketahui orang tua. “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat  6:8). Namun ketika kita meminta sesuatu dan Tuhan tidak mengabulkannya, kita jengkel juga. Bila hal ini terjadi, jangan pernah menyalahkan Allah, tetapi harus bertanya pada diri sendiri: “Apakah yang saya harapkan itu kehendak saya atau kehendak Tuhan?”

5.Kita tidak perlu takut mengatakan kepada Allah bahwa kita benar-benar membutuhkan apa yang kita minta. Tuhan dengan sabar menunggu permintaan kita. Berdoalah dengan hati yang terbuka dan siap menerima hal-hal yang Tuhan tahu akan membawa sukacita dan kebahagiaan penuh.

Maxi Sriyanto

Jumat, 11 Mei 2018

Renungan Harian GML : DALAM DUKACITA TERKANDUNG SUKACITA



BACAAN
Kis 18:9-18 – “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!”

Yoh 16:20-23a – “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira, dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu”

RENUNGAN
1.Injil hari ini memunculkan kata-kata menangis, meratap, dukacita. Kata-kata tersebut mengungkapkan nasib jemaat Kristen awal di Asia Kecil. Hidup mereka sangat sulit: dikejar-kejar, ditangkap dan disiksa. Ini yang membuat mereka sedih dan berduka cita. Dan Injil membuat perbandingan dengan sakit melahirkan.

2.Perbandingan dengan sakit melahirkan hendak mengatakan bahwa penderitaan, kesedihan karena kekejaman bukanlah sebuah akhir atau kematian, tetapi lebih sebagai sakit seorang wanita karena melahirkan. Sakit karena melahirkan menjadi sumber kehidupan baru. Perbandingannya: penderitaan yang dialami umat Kristen akan menghasilkan hidup baru berkat Kematian dan Kebangkitan Kristus.

3.Tuhan Yesus berkata: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita,  tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira.” Kata-kata Yesus tersebut merupakan kepastian dan keberanian bagi umat Kristen yang membuat mereka bersukacita di tengah penderitaan.

4.Keselamatan membutuhkan proses. Banyak kali kita gagal. Kita harus berani bangun dan meneruskan perjuangan berkat Yesus yang setia kepada Bapa sampai wafat disalib dan bangkit dengan mulia. Kita mesti sabar, bertahan dalam iman,optimis, dan tidak mudah putus asa. Kita tidak sendirian, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Yakinlah kita akan menang jaya.

SELAMAT MELAKUKAN NOVENA ROH KUDUS

Rm Maxi Sriyanto

Kamis, 10 Mei 2018

Renungan Harian GML : Segelap dan Seburuk Apapun Realitas yang Ada di Sekitar Kita, Harapan itu Selalu Ada


10 Mei 2018
HR Kenaikan Tuhan

Bacaan-bacaan pada hari ini sungguh menarik. Bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul 1:1-11. Yang menarik untuk diperhatikan, di akhir-akhir kisah digambarkan bahwa terangkatlah Yesus disaksikan oleh para rasul dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Ketika mereka (para rasul) sedang menatap ke langit waktu Yesus naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka. Kedua orang itu berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu ini
akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." Bacaan pertama ini sungguh menarik, digambarkan bahwa para rasul tampak terheran-heran dan terus menerus menatap langit, namun tampaknya “dua orang berpakaian putih” mengingatkan mereka untuk berhenti terheran-heran. Dengan kata lain, “berhenti melihat ke atas dan sekarang melihatlah kembali ke bumi, ke dalam realitas hidup sehari-hari.” 

Pesan bacaan pertama ini diperdalam dengan Mazmur kita hari ini (Mzm 46), di mana salah satu ayat menyatakan bahwa “Tuhan semesta alam menyertai kita.” Kita diajak untuk melihat Tuhan dalam realitas hidup kita sehari-hari - “Tuhan yang selalu menyertai kita”. Ia telah naik ke surga, namun bukan berarti Ia meninggalkan kita. Pesan ini diperdalam lagi dalam bacaan kedua, yaitu melalui surat Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 4:1-13) yang menyatakan bahwa Yesus yang telah “naik” jauh lebih tinggi daripada semua langit  juga telah “turun” ke bagian bumi yang paling bawah. Hal ini ingin mengingatkan kita bahwa “kemuliaan” Yesus itu tidak datang begitu saja, Ia pun telah lebih dulu melalui “penderitaan” yang begitu besar. Ia telah mati di atas kayu salib. Namun bagi-Nya, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Bagi-Nya akan ada selalu kebangkitan dan kemuliaan hidup yang sejati bersama Bapa. Begitu juga hidup kita sehari-hari, mungkin begitu banyak “kejatuhan” dalam hidup kita, namun itu bukanlah “kata akhir” karena “kebangkitan” akan selalu ada bersama-Nya. Pesan ini pun dipertegas dalam bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20) yang jelas-jelas mengajak kita untuk “pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil kepada segala makhluk”. 

Lalu pertanyaannya, “Injil yang dimaksud di sini itu apa?” Dari konteks perayaan kita hari ini, Injil (kabar gembira) itu pun menjadi jelas bahwa “Ia yang telah mati di atas kayu salib, Ia telah bangkit dan kini telah mulia - terangkat ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”. Inilah yang patut kita wartakan dalam hidup kita sehari-hari. Bukan saja dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan nyata yang selalu memberi “pengharapan” bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. 

Jadi, pesan bacaan-bacaan hari ini pun sederhana: “Segelap dan seburuk apapun realitas yang ada di sekitar kita, harapan itu selalu ada. Yesus sendiri yang telah menunjukkan-Nya. Salib dan kematian bukanlah akhir dari segalanya, karena kebangkitan masih ada. Dan jangan terus-menerus terkagum-kagum melihat ke ‘atas’, melainkan mulai peka melihat ke ‘bawah’ - ke dalam realitas hidup kita sehari-hari - karena di sana Tuhan yang mulia pun dapat kita temukan dalam diri sesama dan lingkungan sekitar kita.”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Rabu, 09 Mei 2018

Renungan Harian GML : ROH KUDUS ROH KEBENARAN



BACAAN
Kis 17:15.22-18:1 – “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberikan kepadamu”

Yoh 16:12-15 – “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”

RENUNGAN
1.Tidak lama lagi Yesus akan berpisah dengan para murid-Nya. Mereka magang bersama Yesus selama 3 tahun dan akan segera berakhir. Jelas pembentukan menjadi murid belum selesai. Masih banyak kekurangan dan Yesus masih punya banyak hal untuk diajarkan kepada mereka, tetapi Yesus tahu siapa para murid-Nya. Mereka bukanlah golongan orang-orang cerdik pandai. Kondisi seperti itu membuat mereka tidak akan mampu mengetahui semua konsekuensi dan implikasi sebagai murid. Mereka akan berkecil hati dan tidak mampu menanggung semuanya itu.

2.Dalam situasi itu Roh Kudus akan datang membantu mereka: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Umat Kristen awal telah mengalami dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam rangka meneladani Yesus, mereka mencoba memahami dan menerapkan Sabda-Nya dalam berbagai macam kehidupan tiap hari, mereka mengalami kehadiran dan terang Roh Kudus.

3.Dalam sejarah Gereja, Roh Kudus memiliki peranan sentral dalam kehidupan Gereja dan dalam setiap umat beriman. Apa tanda bahwa seseorang dipimpin oleh Roh Kudus? Dia hidup dalam kebenaran, tidak terlalu memikirkan dirinya sendiri, rendah hati, dan membuka diri untuk orang lain. Daya Roh Kebenaran akan mengubah sifat manusia yang jahat menjadi baik. Saulus diubah menjadi Rasul Paulus yang membela iman akan kebangkitan Yesus. Apakah aku sudah dipimpin oleh Roh Kudus?

Rm Maxi Sriyanto

Selasa, 08 Mei 2018

Renungan Harian GML : ROH KUDUS ROH GEREJA



BACAAN
Kis 16:22-34 – “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”

Yoh 16:5-11 – “Jikalau Aku tidak pergi, penghibur tidak akan datang kepadamu”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus mengatakan kepergian-Nya kepada Bapa, para murid sedih. Bagi para murid, perpisahan dengan Yesus akan mengakibatkan penderitaan. Tetapi kalau Yesus tidak meninggalkan mereka, maka Roh Kudus tidak akan bersama mereka. Kalau Ia kembali kepada Bapa, Ia akan mengirim Roh Kudus kepada mereka, di mana saja mereka berada.

2.Yesus menjelaskan peranan Roh Kudus. Pertama, “Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” Dunia jelas-jelas tidak percaya akan jalan Yesus. Tidak ada kesediaan dunia untuk membuka pikiran dan hati terhadap kehidupan yang diberikan oleh Yesus. Roh Kudus juga akan menunjukkan kebenaran tentang Yesus kepada dunia, bahwa Ia datang dari Allah. Roh Kudus akan menyingkapkan makna kematian Yesus sebagai kutukan bagi semua yang jahat di dunia, terutama penolakan dunia terhadap cinta sebagai pusat kehidupan.

3.Dalam sejarah Gereja, Roh Kudus selalu hadir dalam merawat Gereja dalam seluruh sejarahnya. Ia melambangkan kehadiran Allah yang terus-menerus dan meneguhkan setiap murid Kristus dari generasi ke generasi. Roh Kudus adalah Penolong, Pengantara, Pembaharu, Penghibur dan Penasehat. Melalui Roh Kudus, kita mengakui  Allah sebagai Bapa dan mengakui Yesus sebagai Penyelamat. Dalam Roh Kudus, kita tak perlu cemas dan takut.

Rm Maxi Sriyanto

Senin, 07 Mei 2018

Renungan Harian GML : BERSAMA ROH KUDUS PASTI MENANG



BACAAN
Kis 16:11-15 – “Tuhan membuka hati Lidia, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus”

Yoh 15:26-16:4a – “Roh kebenaran bersaksi tentang Yesus”

RENUNGAN
1.Siapa Roh Kudus? Ia adalah Roh kebenaran yang datang dari Bapa, dan akan diutus oleh Yesus sendiri dan membawa kita ke dalam kebenaran sepenuhnya (Yoh 16:13). Ia adalah Roh Yesus dari Nasaret. Yesus menjanjikan kepada kita Roh Kudus sehingga sesudah kematian-Nya, kita dapat meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Kita telah menerima Roh Kudus saat pembaptisan. Karena itu kita menjadi perpanjangan tangan Yesus.

2.Siapa saja yang setia kepada Yesus akan menghadapi banyak kesulitan. Para murid Yesus akan diusir dari sinagoga-sinagoga. Apa yang terjadi pada Yesus akan terjadi pada mereka. Mereka ditangkap, disiksa dan dijatuhi hukuman mati. Mereka banyak yang murtad “supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus” (Gal 6:12). Oleh Yohanes, mereka ini disebut penyesat dan antikristus (2Yoh 1:7).

3.Yesus mengingatkan para murid-Nya dan juga mengingatkan kita untuk siap menghadapi orang-orang jahat. Sampai sekarang ini banyak orang tidak suka dengan tindakan baik, kebenaran, kejujuran dan keadilan yang diperjuangkan oleh para murid Kristus. Berkat penyertaan Roh Kudus, kita mesti siap menghadapi semuanya itu. Inilah saat kita bersaksi akan karya keselamatan Tuhan. Bersama Roh Kudus pasti menang.

Rm Maxi Sriyanto

Sabtu, 05 Mei 2018

Renungan Harian GML : MENGHADAPI KEBENCIAAN DENGAN KASIH



BACAAN
Kis 16:1-10 – “Menyeberanglah ke Makedonia, dan tolonglah kami”

Yoh 15:18-21 – “Kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia”

RENUNGAN
1.Injil hari ini masih dalam rangka perpisahan Yesus dengan para murid-Nya. Yesus mengingatkan bahwa dunia akan membenci mereka. Mengapa mereka membenci para murid Kristus? Dunia yang diorganisir berdasarkan kepentingan pribadi dan kelompok merasa terancam dengan cara hidup dan ajaran Yesus. Sebagai murid-murid Kristus, kita mengikuti cara hidup Yesus, bukan cara hidup dunia, maka dunia membenci kita. Kalau kita selalu setia kepada Kristus, maka kita memiliki kekuatan untuk menghadapi penganiayaan dan fitnah. Jika kita bertahan dalam kesulitan tersebut, kita mendapatkan sukacita dan selamat.

2.Yesus juga mengingatkan: “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.” Yesus pernah mengatakan hal ini sewaktu Ia membasuh kaki para murid-Nya (Yoh 13:6). Dengan mengidentifikasi  diri dengan Kristus telah mendorong banyak orang untuk melanjutkan hidup dengan menginspirasi para martir.

3.Jangan bangga dengan pujian dan jangan ciut dengan makian. Tiap orang suka dipuji. Pujian yang berlebihan bisa menjerumuskan. Sebaliknya, jangan lekas putus asa bila dicaci maki. Yesus sudah dicaci maki, diolok-olok, dihina, disiksa dan akhirnya dibunuh. Ia menghadapi kejahatan ini dengan kasih. Kekuatan kasih mampu mengalahkan sikap benci. Sebagai murid Kristus, sudah semestinya kita meneladani Dia, Tuhan dan Guru kehidupan.
Rm Maxi Sriyanto

Jumat, 04 Mei 2018

Renungan Harian GML : YESUS SAHABAT SEJATI



BACAAN
Kis 15:22-31 – “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu”

Yoh 15:12-17 – “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”

RENUNGAN
1.Yesus memberi perintah “supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Mengasihi bukan karena orang itu baik kepada kita, bukan karena seagama, tetapi karena hakikat panggilan hidup kita adalah mengasihi, bahkan mengasihi orang-orang yang memusuhi kita. Ukuran  mengasihi bukan karena kebaikan hati kita, tetapi karena Tuhan yang telah mengasihi kita. Tuntutan untuk mengasihi begitu total, bahkan bila kita harus mengorbankan nyawa demi orang yang kita kasihi. Hal demikian telah dibuat Yesus bagi kita.

2.Kita adalah sahabat Yesus, bukan hamba. Orang yang disebut sahabat adalah dia yang terbuka dan tidak menyembunyikan sesuatu kepada kita. Dia hadir saat kita berada dalam kemalangan dan kepahitan hidup, bahkan dia berani mengurbankan nyawanya.

3.Apakah dalam keluarga kita, dan lingkungan komunitas Kristen di mana kita tinggal, memiliki spirit sahabat seperti dikehendaki Yesus, yaitu ada keterbukaan, apa adanya, tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan, saling percaya, saling meneguhkan satu sama lain? Jemaat Kristen awal mampu mewujudkannya setelah bergulat jatuh bangun selama bertahun-tahun: “mereka sehati dan sejiwa” (Kis 4:32; 2:42-46).

4.Apakah Anda saat ini memiliki seorang sahabat sejati?

Rm.

Kamis, 03 Mei 2018

Renungan Harian GML : PESTA SANTO PHILIPUS DAN YAKOBUS RASUL



BACAAN
1Kor 15:1-8 – “Tuhan menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul”

Yoh 14:6-14 – “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, namun engkau tidak mengenal Aku!”

RENUNGAN
1.Hari ini Gereja merayakan pesta Philipus dan Yakobus Rasul. Mereka adalah tiang-tiang Gereja yang telah meneguhkan dan memperkokoh iman umat, maka mereka perlu kita kenang dan kita teladani.

2.Philipus berasaal dari Betsaida di Galilea. Ia murid Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Dan Yesus memanggil Philipus sebagai murid-Nya sehari setelah Ia memanggil Petrus dan Andreas (Yoh 1:35-51). Philipus mewartakan Injil di Frigia, sebuah kota tua di Asia Kecil. Klemens dari Aleksandria mengatakan bahwa Philipus menderita penganiayaan hebat dan disalibkan dengan kepala di bawah, sebagaimana dialami Petrus di Roma pada pemerintahan kaisar Domitianus (81-96).

3.Philipus seorang yang spontan, tanpa ragu-ragu. Ia tanpa ragu mengikuti panggilan Yesus. Ia mengakui Yesus sebagai Mesias: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Dalam mukjizat penggandaan roti, Philipus dengan spontan berkata kepada Yesus: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekali pun masing-masing mendapat sepotong kecil saja” (Yoh 6:7).

4.Yakobus merupakan salah seorang Rasul Yesus. Ia dikenal sebagai anak Alfeus. Sebelum menjadi murid Yesus, ia bekerja sebagai petani. Ketika para Rasul terpencar untuk mewartakan peristiwa Kebangkitan Tuhan, dan Petrus mengungsi keluar dari Yerusalem, Yakobus ini tetap tinggal di Yerusalem. Ia, kemudian, menjadi Uskup Yerusalem yang pertama. Ia sangat dihormati oleh orang-orang Yahudi. Yakobus dijuluki “Yang Adil”, karena ia mengetahui segala hukum Yahudi. Dalam Konsili pertama di Yerusalem, Yakobus membebaskan orang-orang  bukan keturunan Yahudi untuk bersunat.

5.Rasul Paulus menyebut Yakobus sebagai seorang Sokoguru Gereja sama seperti Petrus dan Yohanes (Gal 2:9). Sejauh mana sumbangsihku bagi Gereja Umat Allah?

Rm Maxi Sriyanto

Rabu, 02 Mei 2018

Renungan Harian GML : RANTING YANG TIDAK BERBUAH HARUS DIPOTONG



BACAAN
Kis 15:1-6 – “Paulus dan Barnabas pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal-soal yang timbul di tengah jemaat”

Yoh 15:1-8 – “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya berbuah lebih banyak”

RENUNGAN
1.Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8: Yesus sebagai pokok anggur yang benar) pernah dipakai untuk bacaan liturgi hari Minggu, tanggal 29.4.18. Renungan hari ini fokus pada ranting yang tidak menghasilkan buah dan harus dipotong.

2.Supaya bisa berbuah banyak, ranting harus menyatu dengan pokok anggur. Berbuah artinya menghasilkan perbuatan baik yang berguna bagi orang lain; menjadi berkat bagi banyak orang. Berkat Sakramen Pembaptisan, kita telah menyatu padu dengan Yesus, sang Pokok Anggur. Kualitas hidup kita diukur dari kualitas relasi yang intensif dengan Yesus.

3.Tetapi dalam diri kita ada beberapa kelemahan yang menyebabkan kita tidak menghasilkan buah, antara lain: egois, marah-marah, balas dendam, meremehkan orang lain, memfitnah, iri, suka berbuat cabul, malas dan masih banyak lagi. Karena salah satu kelemahan atau lebih, kita tidak menghasilkan buah, dan jika menghasilkan buah maka rasanya asam dan hanya layak dibuang.

4.Tindakan tegas sangat diperlukan, yaitu memotong kelemahan-kelemahan tersebut. Dipotong pasti sakit, tidak enak, apalagi dibuang. Tetapi tindakan memotong akan memberikan hasil maksimal bagi kehidupan kita. Maka kita dihadapkan pada pilihan: dipotong atau berbuah? Tuhan akan memotong apa saja yang tidak berguna, yang buruk dari pribadi kita. Sakit, tidak enak dan malu. Tetapi bagian diriku yang lain juga segera makin tumbuh, berbuah lebat sesuai impian sang Pemilik. Apa pilihan Anda?

Rm Maxi Sriyanto

Pembukaan Bulan Maria dan Pendirian Joglo di Goa Maria Lawangsih


Bulan Mei oleh Gereja Katolik dijadikan sebagai Bulan Maria, bulan devosi kepada Bunda Maria.

Misa pembukaan bulan Maria di Goa Maria Lawangsih di laksanakan pada Hari Senin Kliwon tgl 30 April 2018. Misa Kudus dipimpin pleh Rm Sajiyono Pr.
Selain misa pembukaan bulan Maria, pada kesempatan ini juga dilakukan slametan dan pemberkatan sarana dan prasarana untuk mendirikan joglo yang nantinya akan dijadikan altar di Goa Maria Lawangsih.

Senin Kliwon juga merupakan hari yang selalu diperingati umat Pelem Dukuh dengan misa rutin bulanan sebagai bentuk peringatan awal mula memulai pengerjaan atau Pencangkulan pertama di Goa Lawa (nama Goa Maria Lawangsih dulu, saat itu dilakukan hari Senin Kliwon tanggal 25 /08/2008 seluruh umat secara gotong royong terlibat).

Selesai misa, panitia pengelola & panitia pembangunan serta beberapa umat mendirikan "soko papat" sebagai awal pembuatan joglo.

Selasa, 01 Mei 2018

Renungan Harian GML : DAMAI SEJAHTERA-KU KUBERIKAN KEPADAMU


BACAAN
Kis 14:19-28 – “Mereka menceritakan kepada jemaat, segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka”

Yoh 14:27-31a – “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid, mereka takut, risau dan cemas. Maka Yesus memberi nasehat: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.” Damai sejahtera merupakan kebahagiaan yang sempurna dan pembebasan,  sama artinya dengan syalom. Syalom merupakan ungkapan yang biasa dalam ucapan perpisahan orang-orang Yahudi. Yesus menggunakannya ketika Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.

2.Damai yang diberikan Kristus disebut sebagai “Damai sejahtera-Ku.” Damai yang dibeli-Nya lewat darah-Nya sendiri dan damai itu diberikan kepada dunia. Damai yang diberikan oleh Yesus tidak sama dengan damai yang diberikan oleh dunia. Damai yang diberikan oleh dunia mengandung kepentingan tertentu, sesaat, dan tidak membawa kebahagiaan.

3.Adakah damai sejahtera sekarang ini? Banyak orang di era digital ini sendirian dalam kesunyian, jauh dari sapaan. Dalam keluarga-keluarga banyak anggota keluarganya, namun kesepian. Hidup serumah tetapi terasa jauh karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya; mereka hidup dalam generasi jempol. Dekat tapi jauh. Adakah damai sejahtera?

4.Banyak orang memendam jeritan dan teriakan untuk disapa, dihargai dan dikasihi. Semakin banyak orang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak berarti lagi. Adakah damai sejahtera?

5.Yesus yang bangkit mengajak kita untuk menjadi manusia yang membangkitkan harapan, membagikan damai sejahtera melalui kehadiran, sapaan, penyertaan, nasehat, dan kata-kata peneguhan. 

Ms, 1.5.18, www.berkat.id