Kamis, 10 Mei 2018

Renungan Harian GML : Segelap dan Seburuk Apapun Realitas yang Ada di Sekitar Kita, Harapan itu Selalu Ada


10 Mei 2018
HR Kenaikan Tuhan

Bacaan-bacaan pada hari ini sungguh menarik. Bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul 1:1-11. Yang menarik untuk diperhatikan, di akhir-akhir kisah digambarkan bahwa terangkatlah Yesus disaksikan oleh para rasul dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
Ketika mereka (para rasul) sedang menatap ke langit waktu Yesus naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka. Kedua orang itu berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu ini
akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga." Bacaan pertama ini sungguh menarik, digambarkan bahwa para rasul tampak terheran-heran dan terus menerus menatap langit, namun tampaknya “dua orang berpakaian putih” mengingatkan mereka untuk berhenti terheran-heran. Dengan kata lain, “berhenti melihat ke atas dan sekarang melihatlah kembali ke bumi, ke dalam realitas hidup sehari-hari.” 

Pesan bacaan pertama ini diperdalam dengan Mazmur kita hari ini (Mzm 46), di mana salah satu ayat menyatakan bahwa “Tuhan semesta alam menyertai kita.” Kita diajak untuk melihat Tuhan dalam realitas hidup kita sehari-hari - “Tuhan yang selalu menyertai kita”. Ia telah naik ke surga, namun bukan berarti Ia meninggalkan kita. Pesan ini diperdalam lagi dalam bacaan kedua, yaitu melalui surat Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 4:1-13) yang menyatakan bahwa Yesus yang telah “naik” jauh lebih tinggi daripada semua langit  juga telah “turun” ke bagian bumi yang paling bawah. Hal ini ingin mengingatkan kita bahwa “kemuliaan” Yesus itu tidak datang begitu saja, Ia pun telah lebih dulu melalui “penderitaan” yang begitu besar. Ia telah mati di atas kayu salib. Namun bagi-Nya, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Bagi-Nya akan ada selalu kebangkitan dan kemuliaan hidup yang sejati bersama Bapa. Begitu juga hidup kita sehari-hari, mungkin begitu banyak “kejatuhan” dalam hidup kita, namun itu bukanlah “kata akhir” karena “kebangkitan” akan selalu ada bersama-Nya. Pesan ini pun dipertegas dalam bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20) yang jelas-jelas mengajak kita untuk “pergi ke seluruh dunia, memberitakan Injil kepada segala makhluk”. 

Lalu pertanyaannya, “Injil yang dimaksud di sini itu apa?” Dari konteks perayaan kita hari ini, Injil (kabar gembira) itu pun menjadi jelas bahwa “Ia yang telah mati di atas kayu salib, Ia telah bangkit dan kini telah mulia - terangkat ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”. Inilah yang patut kita wartakan dalam hidup kita sehari-hari. Bukan saja dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan nyata yang selalu memberi “pengharapan” bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. 

Jadi, pesan bacaan-bacaan hari ini pun sederhana: “Segelap dan seburuk apapun realitas yang ada di sekitar kita, harapan itu selalu ada. Yesus sendiri yang telah menunjukkan-Nya. Salib dan kematian bukanlah akhir dari segalanya, karena kebangkitan masih ada. Dan jangan terus-menerus terkagum-kagum melihat ke ‘atas’, melainkan mulai peka melihat ke ‘bawah’ - ke dalam realitas hidup kita sehari-hari - karena di sana Tuhan yang mulia pun dapat kita temukan dalam diri sesama dan lingkungan sekitar kita.”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar