menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Sabtu, 30 Juni 2018

Renungan Harian GML : HANYA KARENA IMAN



BACAAN
Ratapan 2:2.10-14.18-19 – “Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai puteri Sion”

Mat 8:5-17 – “Sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel”

RENUNGAN
1.Masihkah ada kerendahan hati? Seorang pejabat pemerintahan marah-marah karena harus antri ketika berobat di sebuah Rumah Sakit. Seorang profesor ngotot bahwa pendapatnya paling benar dan harus diikuti. Bagaimana dengan perwira dalam bacaan hari ini?

2.Dia seorang perwira, biasa dilayani oleh bawahannya. Namun ia datang sendiri kepada Yesus agar Ia menyembuhkan hambanya yang sakit keras. Ia yakin dan percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya hanya dengan satu kata saja: “... Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

3.Yesus heran terhadap perwira tersebut, dan berkata: “iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” Dan Yesus menyembuhkan hamba perwira pada saat itu juga.

4.Perwira itu dipuji Yesus karena imannya. Apa arti beriman? Pertama, bukan penerimaan doktrin-doktrin keagamaan, melainkan percaya penuh dan total kepada Yesus. Hal ini berarti jalan hidup Yesus menjadi jalan hidupku. Kedua, beriman berarti, dengan rendah hati, datang dan berjumpa serta mengalami Yesus secara pribadi lewat membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa, dan merayakan Sakramen. Ketiga, perwira itu kagum terhadap Yesus, karena Ia menjawab kerinduannya.

5.Apa arti beriman menurut pengalaman Anda?

MS, 30.6.18,

Jumat, 29 Juni 2018

Renungan Harian GML : HARI RAYA St. PETRUS DAN St. PAULUS, RASUL: MENGALAMI DAN MEWARTAKAN YESUS



BACAAN
Kis 12:1-11 – “”Sekarang benar-benar tahulah aku bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes”

2Tim 4:6-8.17-18 – “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran”

Mat 16:13-19 – “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku”

RENUNGAN
1.Yesus tidak tertarik dengan apa yang dipikirkan orang tentang diri-Nya. Ia ingin tahu apa yang aku pikirkan dan mengerti tentang Dia. Seorang dosen, setelah beberapa kali perkuliahan, ingin tahu siapa saja mahasiswa yang serius. Tuhan Yesus juga ingin tahu seberapa serius kita terhadap-Nya. Maka pertanyaannya: siapa Kristus bagiku? Biasanya kita akan menjawab: Yesus adalah Guru, Sahabat, Teman setia, dan lain-lain. Jawaban tersebut merupakan jawaban umum, klise yang tidak diperlukan oleh Yesus, karena tidak datang dari hati yang dalam. Jawaban otentik orisinil membutuhkan pengalaman mendalam bersama Yesus. Pengalaman seperti itu yang mampu mengubah hidup kita.

2.Petrus tahu dan mengakui bahwa Yesus adalah Kristus, Mesias. Yesus memuji Petrus, karena apa yang ia katakan tidak datang dari dunia, melainkan dari Allah Bapa. Itulah iman Petrus. Iman yang didasari relasi mendalam akrab dan pribadi dengan Yesus. Maka pertanyaannya adalah apakah aku memiliki relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus, apakah aku mendengarkan Yesus lewat doaku, mendengarkan Yesus lewat Sabda-Nya dan mencecapnya? Atau Yesus hanya sebagai figure yang gambar-Nya biasa kita pasang di dinding rumah?

3.Iman yang mendalam dan kokoh kuat memberi trade mark Petrus sebagai batu karang. Keakraban kita dengan Yesus lewat Sabda, doa, dan sakramen menjadi bagian terpenting dalam hidup beriman kita. Iman bukan sekedar mengakui tetapi mengalami secara pribadi. Apakah kita sudah puas hanya terdaftar sebagai anggota Gereja?

MsRI, 29.6.18

Kamis, 28 Juni 2018

RenunganHarian GML : Sabda Tuhan Membuat Kita Kokoh



Bacaan Liturgi 28 Juni 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa XII
PW S. Ireneus, Uskup dan Martir
Bacaan Injil
Mat 7:21-29
Rumah yang didirikan di atas wadas
dan rumah yang didirikan di atas pasir.

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata,
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!'
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,
melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku,
'Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu,
dan mengusir setan demi nama-Mu,
dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata,
'Aku tidak pernah mengenal kalian!
Enyahlah daripada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!'"

Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya,
ia sama dengan orang bijaksana,
yang mendirikan rumahnya di atas wadas.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
lalu angin melanda rumah itu,
tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas wadas.

Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini
dan tidak melakukannya,
ia sama dengan orang bodoh,
yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
lalu angin melanda rumah itu,
sehingga rubuhlah rumah itu, dan hebatlah kerusakannya."

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini,
takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
bukan seperti ahli-ahli Taurat mereka.


Mat 7:21-29
Sabda Tuhan adalah dasar kuat yang membuat orang beriman tidak tergoyahkan dalam menghadapi badai hidup di dunia.
Tuhan Yesus bersabda, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Banyak contoh orang beriman yang tegar dalam menghadapi tantangan hidup karena menghayati  Sabda Tuhan. Para martir misalnya, bahkan tidak goyah meskipun harus menghadapi maut. Santo Ireneus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini berkarya membawa damai hingga akhir hidupnya. Banyak tokoh politik dunia yang hebat ternyata mereka adalah orang-orang yang menaati Sabda Tuhan. Sabda Tuhan adalah landasan yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan.
Sebaliknya orang yang tidak mau mendengarkan Sabda Tuhan, hidupnya cepat goyah dan roboh. Herodes Agung misalnya. Herodes adalah tokoh besar. Dia membangun beberapa tempat yang hebat dan dikagumi hingga saat ini. Bangunannya misalnya, Masada, yang menjadi benteng pertahanannya, Kaisarea yang menjadi kota pelabuhannya dan Herodion yang menjadi tempat pemakamannya. Akan tetapi hidup Herodes Agung tidak kokoh. Ia gampang gusar dan goyah. Ketika mendengar berita tentang kelahiran Yesus, hatinya gelisah hingga melakukan kejahatan dengan membinasakan bayi-bayi yang tidak berdosa. Anggota keluarganya pun selelu dirundung was-was dan ketakutan karena sewaktu-waktu bisa disingkirkan oleh Herodes ketika hatinya tersinggung.
Orang beriman yang mempraktekkan Sabda Tuhan dalam hidup nyata, akan dipenuhi rasa damai. Rasa damai itu tidak dapat dirampas oleh berbagai beban dan ancaman hidup. Sabda Tuhan itulah yang membuat dia kokoh seperti bangunan rumah di atas dasar batu.

Rm Supriyono Venantius SVD

Rabu, 27 Juni 2018

Renungan Harian GML : PRIBADI BERKUALITAS DAN ORISINIL



BACAAN
2Raj 22:8-13; 23:1-3 – “Di depan rakyat raja membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan”

Mat 7:15-20 – “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka”

RENUNGAN
1.”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Pada zaman Yesus, banyak nabi yang menyampaikan pesan tentang akhir zaman, tetapi banyak yang menyesatkan. Mereka bagaikan serigala yang selalu menyerang domba. Maka perlu waspada, hati-hati dan berjaga-jaga.

2.Bagi kita, menyamar seperti domba berarti memakai topeng, supaya nampak baik dan saleh di mata orang lain, padahal aslinya jahat. Banyak dari kita takut untuk mengatakan: “siapa aku sebenarnya.” Kita takut untuk diketahui asli kita; kita tidak mau menjadi apa adanya; kita menjadi pribadi yang tidak orisinil; pribadi yang berpura-pura.

3.Yesus mengundang kita untuk menjadi pribadi yang genuine - asli -  orisinil - dengan merawat batin dan hati kita. Dengan memperhatikan bagian dalam, maka bagian luar akan mengikutinya; dari dalam hati mengalir segala sesuatu yang lain. Kalau hati kita bersih dan murni, maka bagian luar kita akan mengikutinya; tanpa topeng, apa adanya, tidak dibuat-buat; ada kesamaan antara kata dan tindakan. Itu pribadi genuine.

4.Kualitas hidup kita tidak tergantung dari kata-kata kita, melainkan dari buah yang kita hasilkan. Orang lain bisa merasakah buah dari tindakan kita. Pertanyaannya: Apakah aku merupakan pohon yang baik? Apa yang harus kuusahakan agar menghasilkan buah yang baik? Beranikah melepaskan topeng-topeng?

MSri, 27.6.18,

Selasa, 26 Juni 2018

Renungan Harian GML : JALAN YESUS JALAN KITA



BACAAN
2Raj 19:9b-11.14-21.31-35a.36 – “Aku akan membela dan menyelamatkan kota ini demi Aku dan demi Daud”

Mat 7:6.12-14 – “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”

RENUNGAN
1.”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing … janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, …” Dari kata-kata ini, Tuhan mengingatkan kepada para murid-Nya untuk tidak begitu saja mengungkapkan iman mereka kepada siapa saja. Mengapa? Karena tidak setiap orang siap untuk menerima Jalan Yesus, bahkan mereka akan berbalik menyerang kita. Untuk menyampaikan iman butuh strategi, metode, dan cara yang tepat.

2.”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Peraturan Emas ini bukan khas Kristen, tetapi ada di setiap budaya dan agama. Perintah ini menuntut kita untuk menjadikan perlakuan terhadap diri sendiri menjadi ukuran bagi orang lain. Perintah ini menuntut kita untuk mengasihi orang lain, mengampuni dan mengasihi musuh.

3.Mengikuti jalan lebar berarti mengikuti instink, yaitu mana yang menyenangkan, termasuk di dalamnya mengikuti keserakahan, egois, menipu, korup, dan kekerasan. Itulah jalan menuju kebinasaan. Mengikuti Jalan Sempit berarti mengikuti cara berpikir dan cara bertindak, mengikuti tuntunan kebenaran, prinsip dan nilai-nilai ajaran Yesus. Jalan Sempit adalah Jalan Kristus, Jalan menuju Keselamatan. Saat ini Anda berada di jalan yang mana?

MS, 26.6.18,

Senin, 25 Juni 2018

Renungan Harian GML : “Balok di mata kita sendiri”


Bacaan Liturgi 25 Juni 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa XII

Bacaan Injil
Mat 7:1-5
Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri.


Dalam khotbah di bukit Yesus berkata:
"Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman 
yang telah kalian pakai untuk menghakimi, 
kalian sendiri akan dihakimi. 
Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur, 
akan ditetapkan pada kalian sendiri.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, 
sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, 
'Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu', 
padahal di dalam matamu sendiri ada balok?

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, 
maka engkau akan melihat dengan jelas 
untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu."



Renungan:
Injil hari ini sudah sering kita dengarkan dan pasti sudah sangat familiar. Pesannya sederhana, begitu jelas dan gamblang: “Keluarkan dulu ‘balok’ di matamu sendiri.. agar bisa melihat dengan jelas.. lalu kemudian mengeluarkan ‘selumbar’ dari mata saudaramu..,” bukan justru sebaliknya. 

Kecenderungan manusia pada umumnya adalah melihat keburukan orang lain dengan begitu jelas dan gamblang. Sedangkan, keburukan, kelemahan dan kerapuhan diri sendiri seringkali tidak disadari. Hal ini yang sering terjadi. Disadari atau tidak, ini tampak menjadi begitu “normal” dalam hidup kita sehari-hari. Terlebih saat ini, dibarengi dengan perkembangan teknologi (media sosial khususnya). Begitu banyak hoax yang tersebar di mana-mana, yang seringkali berbicara mengenai keburukan dan kerapuhan orang lain. Dan lebih buruknya lagi, itu semua jauh dari kebenaran. 

Tantangan kita saat ini, “kita terlalu bahagia melihat keburukan, kejatuhan dan kerapuhan orang lain.” Bahkan ini semua menjadi bahan obrolan dan gosip sehari-hari. Tuk menjauhi hal-hal ini, tuk melihat ‘balok’ di mata kita, paling tidak ada satu cara yang St. Ignatius Loyola ajarkan dalam Latihan Rohani: “Pemeriksaan Batin”.

Ignatius selalu mengingatkan para pengikutnya untuk melakukan “Pemeriksaan Batin” dua kali sehari (kurang lebih 5-10 menit; siang dan malam hari). Ia mengajarkan tuk melihat rahmat Tuhan dalam aktivitas keseharian kita. Rahmat apa yang sudah Tuhan berikan hari itu. Lalu dari sana, “Apa yang sudah aku lakukan untuk-Nya? Dan apa yang belum aku lakukan untuk-Nya? Kemudian, apa yang akan aku lakukan untuk-Nya?” Dengan demikian, kita dapat melihat perlahan-lahan, “Balok apa saja yang ada di dalam diri kita.” Dan dengan begitu, “berusaha untuk memperbaiki diri dari hari ke hari.” Fokusnya bukan lagi “orang lain”, melainkan “Tuhan” yang memberikan rahmat-Nya untuk kita. Dan selanjutnya, “tugas kitalah tuk membagikan rahmat itu kepada yang lain.”

Mungkin balok-balok yang ada di mata kita itu adalah “Kumpulan Rahmat Tuhan yang selama ini tidak kita sadari dalam hidup kita selama bertahun-tahun.” Dan kini saatnya bagi kita tuk menyadarinya dan membagikannya kepada yang lain, agar tak hanya berhenti dalam diri kita sendiri dan menutup mata kita, bahwa “yang lain” pun memiliki rahmat yang sama dengan kita - “Kita dicintai-Nya sungguh-sungguh.” 

Akhirnya, “Apa gunanya mengetahui keburukan orang lain?” Karena itu semua hanya membuat kita semakin tidak dapat melihat Rahmat Allah yang bekerja dalam diri kita dan sesama kita. 

“Selamat menemukan balok-balok di mata kita sendiri!”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Sabtu, 23 Juni 2018

Renungan GML Minggu tgl 24/6/18 : IA DATANG UNTUK BERSAKSI TENTANG TERANG, DAN MENYIAPKAN SUATU UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN



  Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi pada hari Minggu Biasa ke-12. Hari Minggu ini kita merayakan hari kelahiran Yohanes Pembaptis. Kita semua tahu Yohanes Pembaptis. Ayahnya adalah Zakharia, seorang imam di Yerusalem sedangkan ibunya adalah Elizabeth, seorang puteri keturunan kaum Harun. Kisah kelahirannya sangat unik. Yohanes lahir dari pasangan yang sudah sangat tua untuk mempunyai seorang anak. Zakharia pun menjadi bisu karena ia hampir tidak percaya akan khabar malaikat yang didengarnya. Ketika ia meminta tanda, ia menjadi bisu sampai pada saat Yohanes lahir dan ketika ia harus memberi nama. Kelahiran Yohanes sungguh merupakan kisah yang istimewa. Kita juga ingat ketika dalam bulan yang keenam perkandungannya, Maria ibu Yesus mengunjunginya dan anak yang masih dalam rahim itu pun melonjak kegirangan dan Elizabeth ibunya pun dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu berseru: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?....berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1: 41-45). Yohanes mendapat tugas untuk membuka jalan bagi Kristus dan memperkenalkan Yesus sebagai Almasih. Yesus sendiri menyebut Yohanes sebagai ‘sang nabi’, bahkan lebih besar daripada para nabi. Oleh karena itu kelahirannya sungguh menggembirakan banyak orang. Namaun sebagaimana nabi-nabi lainnya yang ditolak dan dianiaya oleh umat karena pewartaannya, Yohanes pun mengalami nasib yang sama. Ia meninggal dengan kepala dipenggal karena membela kebenaran (Mat 14:1-12). 

  Bacaan-bacaan hari Minggu ini mengungkapkan perihal panggilan kenabian yang tidak lain adalah rencana Allah untuk karya keselamatan bagi umat-Nya. Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Yesaya dipanggil bahkan sejak dalam kandungan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Untuk itu ia diberi mulut yang tajam sebagai pedang, ia menjadi anak panah yang runcing untuk menyatakan keagungan Tuhan. Meski kata-katanya sering dianggap menyakitkan, meski ajaran-ajarannya harus bertentangan dengan keyakinan orang banyak, meski ia harus bersusah-susah, pekerjaannya nampak sia-sia karena bangsa yang tegar tengkuk namun “…hakku terjamin kepada Tuhan, dan upahku kepada Allahku.”  Yesaya sadar akan tugas perutusan yang dari Tuhan bahkan bukan saja bagi orang-orang Israel yang msih terpelihara tetapi bagi bangsa-bangsa: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yes 49:6). Bacaan kedua menegaskan bagaimana peran Yohanes yang mempersiapkan kedatangan Sang Juruselamat. Yohanes sangat dihormati dan didengar orang banyak meski ia dengan rendah hati menyatakan: “Aku bukanlah DIa yang kamu sangka; tetapi dia akan datang kemudian dari pada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” Selanjutnya Yohanes menyerukan:”Hai saudara-saudara, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (Kis 13:26). Bacaan Injil menyampaikan bagaimana kisah Yohanes dilahirkan disertai dengan kisah mukjizat kesembuhan Zakharia dari kebisuannya. Maka orang banyak hanya dapat berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:66). 

  Saudari-saudara, Yohanes Pembaptis adalah nabi, bahkan lebih besar daripada para nabi yang sudah ada karena ia hadir untuk membuka jalan bagi Sang Juruselamat. Suaranya menggelegar dari padang gurun memekakkan telinga orang yang mendegarnya, tetapi mengajak banyak orang untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Ketika orang kagum padanya, ia tidak menjadi besar kepala tetapi sebaliknya dengan semboyannya ‘biarlah aku menjadi semakin kecil tetapi Dia menjadi semakin besar’, Yohanes menyampaikan kepada orang banyak dan juga murid-muridnya siapa yang harus dinantikan yakni Dia, Messias Sang Juruselamat. Yohanes hanyalah bentara yang mempersiapkan kedatangan-Nya. Yohanes menjadi besar bukan karena menumpang ataupun meminjam atau menyalahgunakan nama besar. Yohanes menjadi besar bukan karena berlindung di balik nama besar ataupun memperdaya orang kecil yang mendengarkannya. Yohanes menjadi besar karena ia berhati besar, rendah hati untuk menunjukkan yang sungguh besar, dan konsisten menyatakan yang benar tanpa harus menjadi gusar atauoun kasar. Semoga kitapun dapat meneladan Yohanes Pembaptis. Salam sejahtera, kita bhinneka kita Indonesia. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC)

Renungan Harian GML : ALLAH ATAU MAMON?



BACAAN
2Taw 24:17-25 – “Kamu telah membunuh Zakharia antara bait Allah mezbah”

Mat 6:24-34 – “Janganlah kuatir akan hidupmu”

RENUNGAN
1.”Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.” Masing-masing orang dapat membuat pilihannya sendiri: mengutamakan Allah atau mengutamakan mamon? Pilihan kita akan menentukan cara kita memahami dan menyikapi Penyelenggaraan Allah.

2.Yesus mengkritik kita karena terlalu cemas tentang makanan dan minuman. Bagaimana tidak cemas kalau kita tidak punya makanan? Siapa yang akan ngasih? Bagaimana tidak cemas kalau kita tidak punya uang untuk berobat? Siapa yang akan ngasih? Yesus meminta kita untuk melihat burung-burung di udara dan bunga bakung di taman. Yesus mengkritik kita, karena kita terlalu cemas dengan segala kebutuhan hidup, yang memang perlu, tetapi kita tidak berpikir bahwa kita ini milik Allah, kita tidak berpikir untuk membangun persaudaraan yang akan mengatasi kekurangan makanabn, dan kita tidak berpikir serius untuk membangun kehidupan rohani.

3.”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Yesus mengingatkan tentang prioritas pilihan kita, yaitu memiliki relasi dengan Allah secara berkualitas dan menciptakan kehidupan baru secara bersama demi kehidupan yang saling memperhatikan, sehingga banyak kebutuhan bisa diusahakan bersama-sama. Hal ini mengandaikan kesungguhan hati, berpikir bagi kemajuan hidup bersama, dan tidak egois. Mampukah Gereja bisa mewujudkannya?

Maxi Sriyanto

Jumat, 22 Juni 2018

Renungan Hatian GML : SEBUAH PRIORITAS


BACAAN
2Raj 11:1-4.9-18.20 – “Mereka mengurapi Yoas dan berseru, ‘Hiduplah Raja’”
Mat 6:19-23 – “Kumpulkanlah bagimu harta di surga!”

RENUNGAN
1.Apa yang terjadi jika diumumkan bahwa mulai minggu depan stok sembako akan habis? Pasti kita beramai-ramai membeli sebanyak yang bisa kita dapat. Perhatikan yang satu ini: hidup sekarang ini sangat materialistis. Orang percaya bahwa harta kekayaan, uang menjadi solusi untuk setiap masalah. Sungguhkah masalah-masalah akan selesai dengan digelontorkannya uang?

2.Pokok persoalannya adalah bagaimana kita, sebagai orang beriman, menempatkan diri di dunia ini? Jika harta benda, kekayaan, uang menjadi yang paling utama, maka kita akan menjadi serakah dan jiwa korup menguasai kita. Rasa cemas menghantui jiwa kita, karena takut kehilangan harta.

3.”Kumpulkanlah bagimu harta di surga!” Apa artinya? Artinya: Menjadikan Tuhan sebagai dasar hidup kita. Harta kekayaan bukan milik kita sendiri, tetapi milik Tuhan. Kita ditantang untuk  berbagi, memberi, dan membangun persaudaraan, bukan menimbun harta kekayaan. Dengan demikian mata kita menjadi pelita tubuh, artinya mampu melihat melampaui harta kekayaan.

4.Untuk memiliki prioritas seperti dikehendaki Tuhan, kita dituntut pertobatan serius, perubahan sikap dan tingkah laku untuk menempatkan Tuhan di atas segalanya.

Maxi Sriyanto

Kamis, 21 Juni 2018

Renungan Harian GML : Tuhanlah pemberi segala rejeki

Bacaan Liturgi 21 Juni 2018



Hari Biasa, Pekan Biasa XI
PW S. Aloisius Gonzaga, Biarawan
Bacaan Injil
Mat 6:7-15
Berdoalah kalian demikian.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Dalam khotbah di bukit berkatalah Yesus,
"Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele 
seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. 
Mereka menyangka 
doanya akan dikabulkan karena banyaknya kata-kata.
Jadi janganlah kalian seperti mereka. 
Karena Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, 
sebelum kalian minta kepada-Nya.
Maka berdoalah demikian: 

Bapa kami, yang ada di surga, 
Dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah Kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di surga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kesalahan kami, 
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Karena, jikalau kalian mengampuni kesalahan orang, 
Bapamu yang di surga akan mengampuni kalian juga.
Tetapi jikalau kalian tidak mengampuni orang, 
Bapamu pun tidak akan mengampuni kesalahanmu."



Renungan : 
Orang beriman adalah orang yang menyadari bahwa Tuhan-lah yang memberikan makanan tiap hari kepada manusia.
Milyaran manusia yang hidup di dunia ini setiap hari memerlukan makanan. Milyaran manusia masih bertahan hidup hingga saat ini membuktikan bahwa keperluan makanan itu setiap hari terpenuhi. Ada yang terpenuhi keperluan makanannya melalui kerja bercocok tanam. Tanah subur, air cukup, sinar matahari cukup, tidak ada hama dan penyakit tanaman melanda, menjadi jaminan panen yang baik. Selanjutnya, berkat panen yang baik, makanan tiap hari pun tersedia. Akan tetapi siapa yang menyebabkan tanah menjadi subur, air menjadi cukup, sinar matahari juga cukup? Kalau ditanyakan asal-usul dan penyebab semua itu, kita akan sampai kepada Tuhan. Tuhan-lah yang menjadi penyelenggara segala sesuatu. Tuhan-lah yang menjadi sumber segala sesuatu. Tuhan jugalah yang menjadi sumber awal semua hal yang berkaitan dengan cocok tanam.
Ada juga yang mendapat pemenuhan kebutuhan makanan tiap hari dengan cara membeli dari pedagang. Yang lain mendapatkan makanan di restoran atau warung makan. Restoran mendapat persediaan makanan harian harus membeli dari para pedagang. Para pedagang mendapatkan bahan makanan dari para petani. Para petani bisa menghasilkan panenan, sangat tergantung pada penyelenggaraan Tuhan atas alam ini. 
Lalu untuk membeli bahan-bahan makanan, pertama-tama mereka harus punya uang. Untuk mendapat uang, mereka harus bekerja. Supaya bisa bekerja dengan baik, mereka harus memiliki badan yang sehat. Mereka juga harus memiliki kemampuan otak atau kecerdasan. Mereka juga harus punya ketrampilan yang baik. Kesehatan, kecerdasan dan ketrampilan itu semua sumbernya dari mana? Kalau ditelusuri akhirnya kita sampai lagi pada Tuhan. Tuhanlah sumber segala potensi yang ada pada manusia.
Kesimpulannya sangat jelas. Semua manusia selama ini bisa menikmati hidup oleh karena makanan tiap hari yang disantap. Semua makanan harian yang disantap manusia adalah pemberian dari Tuhan. Tanpa manusia memohon, Tuhan sudah memberikan semuanya itu sejak dulu kala. 
Oleh karena itu, ketika orang beriman mendoakan doa “Bapa Kami”, lalu mengucapkan “Berilah kami rejeki pada hari ini”, sebenarnya itu bukan semata-mata suatu permohonan. Itu adalah pernyataan iman. Orang beriman ingin menyadari bahwa Tuhanlah pemberi segala rejeki selama ini.

Rm Supriyono Venantius SVD

Renungan Harian GML : DOA “BAPA KAMI”



BACAAN
Sir 48:1-14 – “Elia terangkat dalam badai, dan Elisa dipenuhi dengan rohnya”

Mat 6:7-15 – Yesus mengajar para murid-Nya berdoa “Bapa Kami”

RENUNGAN
1.Yesus mengajarkan para murid-Nya berdoa. Ia mengkritik doa yang panjang, bertele-tele dan pakai toa yang diajarkan oleh orang-orang Parisi, yang mengira bahwa dengan cara itu doa mereka akan dikabulkan. Terkabulnya doa tidak tergantung dari kerasnya suara, novena atau ziarah, tapi tergantung pada kebaikan Allah semata.

2.Doa “Bapa Kami” dalam Injil Matius ini berisi enam permohonan dalam dua bagian. Bagian pertama berkaitan dengan kekudusan dan kehendak Allah. Bagian kedua berkaitan dengan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Doa yang paling sempurna yang pernah diajarkan Tuhan kepada kita.

3.Tiga permohonan pertama: Kita minta agar relasi kita dengan Allah dibangun kembali. Nama Allah dikuduskan bila aktivitas kita demi membangun kedamaian dan kebebasan manusia. Kita juga mohon agar Kerajaan Allah datang di bumi ini seperti di dalam Surga. Kerajaan Allah datang bila  kita melakukan kehendak-Nya, artinya bila kita mentaati Hukum Tuhan. Ketaatan terhadap hukum merupakan sumber keteraturan dan damai bagi kehidupan kita.

4.Bagian kedua dari doa “Bapa Kami”, kita mohon agar relasi antar manusia dibangun kembali. Mohon “roti sehari-hari” artinya Yesus mengundang kita untuk hidup sebagai Eksodus Baru dengan membangun persaudaraan dalam kebersamaan yang akan menjamin roti setiap hari. “Ampunilah kesalahan kami” artinya: Tuhan menghendaki kita mulai segala sesuatu secara baru. “Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan.” Bangsa Israel dicobai di padang gurun dan gagal. Dalam Eksodus Baru, pencobaan akan diatasi dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. “Bebaskanlah kami dari yang jahat.” Musuh kita adalah setan. Setan telah memasuki Petrus dan mencobai Yesus di padang gurun, namun Yesus telah mengalahkan dia. Maka segala yang jahat bisa kita atasi bila kita menyandarkan diri pada Yesus. Kita juga mohon pengampunan atas kesalahan kita seperti kita mengampuni yang bersalah kepada kita. Jika kita mengampuni, maka akan diampuni. Jika kita tidak mengampuni, maka Allah pun tidak pernah akan mengampuni kita.

5.Doa “Bapa Kami” bukan hanya sebuah doa, tetapi juga sebagai Jalan Hidup, Way of Life. Dalam doa tersebut kita mengarahkan seluruh diri kita kepada Allah dan orang lain. Dalam doa ini, kita mengakui ketergantungan kita kepada Allah dalam segala hal. Dan sikap kita terhadap orang lain adalah menerima mereka, apa pun keadaan mereka, dan mengampuni mereka.

MaxiSri

Rabu, 20 Juni 2018

MENCARI ALLAH LEWAT DOA, DERMA DAN PUASA

MENCARI ALLAH LEWAT DOA, DERMA DAN PUASA

BACAAN
2Raj 2:1.6-14 – “Tiba-tiba datanglah kereta berapi dan naiklah Elia ke surga”

Mat 6:1-6.16-18 – “Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan mengganjar engkau”

RENUNGAN
1.Yesus mengkritik orang-orang Parisi, karena melakukan doa, berderma, dan berpuasa hanya demi dilihat orang, dipuji, dianggap saleh dan berwibawa. Yesus memperingatkan para pendengar-Nya tentang bahaya praktek keagamaan seperti itu dan menantang mereka agar kegiatan keagamaan didasari pada semangat batin yang akan menghantar kepada Tuhan.

2.Dengan kritik tersebut, Yesus menghendaki agar doa, derma, dan puasa dihayati secara baru. Derma harus dipandang sebagai cara untuk berbagi, agar tidak ada yang berkekurangan. Yesus menuntut untuk tidak gembar-gembor. Doa menempatkan seseorang dalam  relasi pribadi dan langsung dengan Allah, maka diperlukan keheningan. Dengan keheningan maka yang ada hanyalah aku dan Tuhan, bukan aku dan HP, bukan aku dan pikiranku yang ngelantur. Keheningan merupakan cara membangun relasi pribadi dengan Tuhan secara otentik dan mendalam. Puasa merupakan tindakan matiraga bagi diri sendiri sebagai bentuk ingin menyatukan diri dengan Tuhan.

3.Mencari Allah dan membangun relasi pribadi dengan Dia dengan rendah hati jauh lebih berguna bagi hidup rohani kita.

Msri, 20.6.18, berkat.id

Selasa, 19 Juni 2018

MENJADI SEMPURNA SEPERTI BAPA DI SURGA

MENJADI SEMPURNA SEPERTI BAPA DI SURGA

BACAAN
1Raj 21:17-29 – “Engkau menyuruh orang Israel berbuat dosa”

Mat 5:43-48 – “Kasihilah musuh-musuhmu”

RENUNGAN
1.Yesus mengkritik hukum lama yang mengatakan “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu” dan menggantinya dengan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Kebanyakan orang pasti akan mengatakan: mustahil dan bodoh. Mereka cenderung balas dendam sampai lunas.

2.Yesus melihat adanya budaya kekerasan di kalangan orang Israel, antara lain mereka menyalibkan para kriminal, menyingkirkan orang-orang kusta, najis dan miskin. Orang-orang Israel mengasihi saudara sebangsa, tetapi tidak harus mengasihi orang Samaria, orang Arab, orang Palestina dan orang kafir.

3.Mengapa kita harus mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita? Karena kita adalah anak-anak Allah dan Allah adalah Kasih. Allah tidak bisa berbuat lain kecuali mengasihi, bahkan mengasihi siapa saja, yang baik dan yang jahat, kaum ateis maupun yang beragama, yang setia kepada-Nya maupun mereka yang menghujat-Nya.

4.Kasus-kasus berikut ini akan menguji iman kita sebagai anak-anak Allah. Apa yang harus kita buat   terhadap seseorang yang memperkosa anak perempuan kita? Terhadap tetangga yang telah membunuh anggota keluarga kita? Terhadap teroris yang mengebom gereja St. Maria Surabaya?

5.Tujuan kita beriman adalah agar kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka adalah sebuah keutamaan menuju kesempurnaan tersebut. Hal itu bisa terwujud bila Allah menyatu dalam hidup kita dan jika kita selalu taat pada kehendak-Nya. Mungkinkah?

Ms, 19.6.18, www.berkat.id

Senin, 18 Juni 2018

MENGUBAH BUDAYA KEKERASAN MENJADI BUDAYA KASIH

MENGUBAH BUDAYA KEKERASAN MENJADI BUDAYA KASIH

BACAAN
1Raj 21:1-16 – “Nabot dilempari batu sampai mati”

Mat 5:38-42 – “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”

RENUNGAN
1.Apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Injil hari ini benar-benar melawan budaya masyarakat kita yang gampang marah, suka kekerasan dan balas dendam. Sudah 2000 tahun sejak Sabda itu disampaikan, budaya kekerasan tidak semakin berkurang malah berkembang menjadi budaya kematian, yaitu saling membunuh.

2.Dengan Sabda hari Ini, Tuhan ingin menggantikan Hukum lama dengan Hukum Baru. Maka Hukum balas dendam harus dibuang, karena menyesatkan dan menghancurkan relasi antar manusia dan dengan Tuhan. Mungkinkah kekerasan bisa menghentikan kekerasan lainnya? Tidak mungkin. Kalau kita tidak bisa mengatasi kekerasan, maka lingkaran kekerasan akan terus merajalela. Maka hukum pembalasan harus diganti: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Dan “janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Rom 12:17.21).

3.Yesus memberi contoh empat tindakan untuk mengatasi kekerasan. Apakah kita harus mempraktekkan persis seperti tertulis dalam Injil? Perhatikan apa yang diperbuat Yesus ketika seorang serdadu memukul pipi-Nya. Apakah Ia menyerahkan pipi lainnya untuk dipukul? Tidak. Ia tidak menyerahkan pipi yang lain. Yang jelas Yesus tidak mengancam. Ia hanya bertanya: “ … jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh 18:21). Yesus tidak mengajarkan sikap menyerah dan pasip, melainkan mengajarkan sikap aktip dan kritis: bertanya demi memperjelas masalahnya.

4.Kita dituntut untuk aktip dan berani keluar untuk memberi perhatian, khususnya terhadap mereka yang melawan ajaran Tuhan, dan kita dituntut untuk menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan kita. “Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah ia minum!”(Rom 12:20). Dengan cara ini kita mampu mengubah budaya kekerasan dan kematian menjadi budaya kasih.

mS, 18.6.18, berkat.id

 

Sabtu, 16 Juni 2018

Jumat, 15 Juni 2018

HORMAT TERHADAP TUBUH SENDIRI DAN TUBUH ORANG LAIN

HORMAT TERHADAP TUBUH SENDIRI DAN TUBUH ORANG LAIN


BACAAN
1Raj 19:9a.11-16 – “Elia berdiri di atas gunung, di hadapan Tuhan”

Mat 5:27-32 – “Barangsiapa memandang wanita dengan menginginkannya, dia sudah berbuat zinah di dalam hatinya”

RENUNGAN
1.”Jangan berzinah” (Kel  20:14). Yesus melampaui apa yang dikatakan oleh hukum, dengan mengatakan: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Di sini Yesus menekankan nilai kesetiaan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sebagai pasangan suami-isteri. Kesetiaan menjad sempurna jika keduanya tahu bagaimana percaya satu sama lain, baik dalam pikiran maupun keinginan, dan tahu bagaimana memiliki keterbukaan total di antara mereka.

2.Martabat setiap orang tidak dapat diganggu gugat; kdrt tidak bisa diterima. Artinya kita harus punya hormat yang dalam terhadap tubuh sendiri dan tubuh orang lain. Orang lain tidak bisa dijadikan obyek kepuasan sexual semata. Maka  lebih baik cacat daripada tidak terhormat.

3.Sehubungan dengan Injil hari ini: Jadilah setia dalam pernikahan dengan menjaga komitmen dan cinta. Katakan  t i d a k  untuk godaan!

ms, 15.6.18, berkat.id

Kamis, 14 Juni 2018

MENERIMA, MENGAMPUNI, MENGASIHI SEBAGAIMANA ALLAH

MENERIMA, MENGAMPUNI, MENGASIHI SEBAGAIMANA ALLAH


BACAAN
1Raj 18:41-46 – “Elia berdoa, dan langit menurunkan hujan”

Mat 5:20-26 – “Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum”

RENUNGAN
1.Cita-cita hidup keagamaan orang-orang Yahudi, yang diwakili oleh para ahli Taurat dan orang-orang Parisi, adalah menjadi benar di hadapan Allah. Bagi mereka, benar di hadapan Allah jika seseorang menjalankan semua norma hukum secara teliti dan ketat sampai sekecil-kecilnya. Tentu hal ini menjadi beban berat sekaligus penindasan terhadap orang-orang Yahudi, karena hampir tidak mungkin mereka mewujudkannya. Dalam Injil hari ini, setiap murid Kristus harus melebihi hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Parisi.

2.Yesus mempunyai cita-cita untuk hidup yang lebih benar daripada orang-orang Parisi, yaitu menjadi sempurna sama seperti Bapa di surga. Hal ini bisa terjadi kalau kita bertindak sebagaimana dibuat oleh Allah, yaitu menerima, mengampuni, dan mengasihi orang-orang sebagaimana Allah telah menerima, mengampuni, dan mengasihi kita walaupun kita ini lemah dan berdosa.

3.Mengapa orang yang marah, mengatakan kafir dan mengatakan goblog kepada orang lain harus dihukum? Karena kata-kata dan tindakan tersebut merupakan akar dari pembunuhan. Dan apabila kita mempersembahkan korban dan memiliki ganjalan dengan saudara kita, maka kita harus kembali untuk berdamai dengan saudara kita tersebut. Di sini damai harus menjadi ciri khas hidup orang beriman.

4.Bagaimana pengalaman Anda?

m.S.R.i, 14.6.18, berkat.id

 

 

Rabu, 13 Juni 2018

Renungan harian GML : MENGGENAPI HUKUM

MENGGENAPI HUKUM

BACAAN
1Raj 18:20-39 – “Semoga bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hari mereka bertobat”

Mat 5:17-19 – “Aku datang untuk menggenapi hukum”

RENUNGAN
1.Pada waktu itu, dalam jemaatnya Matius yang adalah orang-orang Yahudi timbul ketegangan dalam menghadapi hukum Taurat: ada yang merasa tidak perlu mematuhi hukum Taurat, ada yang bersikukuh bahwa mereka harus mematuhi hukum Taurat, kelompok ketiga: ingin hidup hanya oleh Roh, artinya tidak mematuhi hukum Taurat dan tidak mematuhi Yesus. Maka Matius menulis Injilnya untuk mengatasi ketegangan tersebut.

2.Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat: “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Artinya orang Kristen tidak boleh melawan hukum Taurat. Mengapa? Karena Hukum mengandung nubuatan tentang Yesus. Dalam Perjanjian Lama terkandung Perjanjian Baru. Dengan kelahiran Yesus di dunia ini maka tergenapilan Hukum lama.

3.Yesus sebagai kepenuhan Hukum, karena Dia adalah pewahyuan Allah. Dan Allah adalah Kasih. “Kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kol 1:19). Kata-kata Paulus ini tersirat di dalam Perjanjian Lama dan mendapat kepenuhannya di dalam diri Yesus. Maka baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sama-sama penting. Perjanjian Lama tanpa Perjanjian Baru tetaplah suatu pengharapan tiada akhir, Perjanjian Baru tanpa Perjanjian Lama tidak bisa dipahami.

4.Kita mohon rahmat agar hidup kita bersumber pada Sabda Tuhan.

Maxi Sriyanto

Selasa, 12 Juni 2018

Renungan Harian GML : MENJADI GARAM DAN TERANG DUNIA




BACAAN
1Raj 17:7-16 – “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang”

Mat 5:13-16 – “Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga”

RENUNGAN
1.Yesus memberi tugas perutusan kepada kita, yaitu menjadi garam dan terang. Garam sangat berguna untuk membuat makanan menjadi sedap. Garam juga bisa untuk mengawetkan makanan. Cahaya berguna untuk menerangi lingkungan sekitarnya.

2.Dalam kehidupan nyata, garam dan terang berarti gigih dan giat berbuat baik untuk orang-orang di sekitar kita. Tidak untuk dipuji melainkan demi kemanfaatan bagi orang banyak. Rasul Paulus memberi nasehat kepada jemaatnya di Kolose: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol 4:6).

3.Tidak hanya berbuat baik, tetapi kita harus memberi kesaksian hidup yang bermutu dan cara hidup yang baik sehingga menjadi peringatan dan teguran bagi orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Kita hidup dalam kegelapan, ketika kita selalu mencari pujian, sombong karena  merasa paling baik dan berjasa.

4.Sudahkah aku menjadi garam dan terang bagi keluarga dan orang-orang di sekitarku?

Maxi Sriyanto

Senin, 11 Juni 2018

Renungan Harian GML : PESTA RASUL SANTO BARNABAS: MENCARI BENTUK BARU PEWARTAAN KERAJAAN SURGA



BACAAN
Kis 11:21b-26; 13:1-3 – “Khususkan Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka”

Mat 10:7-13 – “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang-orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan!”

RENUNGAN
1.”Kerajaan Surga sudah dekat,” artinya Kerajaan Surga sudah berada dalam jangkauan manusia; sudah “ada di antara kamu” (Luk 17:21). Kerajaan Surga yang harus diwujudkan dengan menyembuhkan orang-orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan-setan. Tugas ini menjadid penting, karena mereka adalah kelompok orang yang tersingkirkan dari tengah masyarakat. Kerajaan Surga berarti mengembalikan mereka secara penuh dalam interaksi di tengah masyarakat.

2.Yesus juga memanggil kita untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia yang serba digital, terburu-buru dan selalu sibuk, semakin individualis. Sekarang ini tidak mudah lagi membangun komunitas berdasarkan teritori, di mana umat harus berkumpul pada jam dan hari tertentu. Maka harus dicari  metode baru demi pewujudan Kerajaan Surga. Bagaimana pewartaan Gereja paroki kita?

3.Pewartaan Kerajaan Allah bukan mengajar Komuni Pertama, Katekumen, atau Krisma, melainkan kesadaran dan kemauan umat untuk menjadi tangan-tangan Kristus, dan bukan terletak pada birokrasi gerejani yang terlalu mengatur. Bertemu orang lain, menyapa dengan ramah merupakan awal pewartaan.

Maxi Sriyanto

Minggu, 10 Juni 2018

“Jangan Terlalu Cepat Menilai”

“Jangan Terlalu Cepat Menilai”
Markus 3:20-35

Dalam ayat 31-35, kita bisa melihat bahwa Ibu dan saudara-saudara Yesus datang untuk menjemput Yesus (lih. Ayat 21). Lalu Yesus bertanya: “Siapa ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku?” Jika dilihat sepintas, pertanyaan ini sungguh “nylekit” alias benar-benar “menusuk hati.” Coba bayangkan, jika ibu dan saudara-saudara kita datang (dan momennya pas kali ini, di mana sebentar lagi orang-orang pada mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman waktu lebaran), lalu tiba-tiba ada orang berkata: “Lihat, ibu dan saudara-saudaramu ada di luar, dan berusaha menemuimu!” Lalu tiba-tiba kita bertanya: “Siapa ibuku dan saudara-saudaraku?” Apa tidak sakit itu perasaan ibu dan saudara-saudara kita yang mendengar perkataan itu?

Tapi dalam Injil kita hari ini, konteksnya beda.. tunggu dulu.. jangan cepat-cepat menilai atau memberi tuduhan bahwa Yesus tidak punya perasaan.. “Sekali lagi.. Tunggu dulu..!!”

Mari kita baca pelan-pelan Injil hari ini. Setelah Yesus memanggil 12 para rasul di Mrk 3:13-19, kali ini Yesus berkumpul dengan para rasul di sebuah rumah (Mrk 3:20-35). Tapi kali ini sayangnya orang banyak juga ikut-ikutan kumpul dengan Yesus dan para rasul, bahkan digambarkan di ayat 20 bahwa Yesus dan para rasul ini mau makan, tapi sampai tidak bisa. Bisa dibayangkan betapa sesaknya di dalam rumah itu dengan orang banyak yang datang berkumpul.

Lalu, tidak hanya kerumunan orang ini yang datang berkumpul, melainkan ada orang-orang penting dari Yerusalem (ahli-ahli Taurat) datang jauh-jauh ke Utara (Galilea) hanya ingin melihat Yesus yang terkenal ini. Tapi ternyata di sana mereka mulai menuduh Yesus kerasukan setan bahkan kerasukan Beelzebul (setan paling kuat – pemimpin para setan) dan dengan penghulu setan Yesus mengusir setan. Tuduhan yang benar-benar menakutkan. Dan ternyata hal ini yang didengar oleh Ibu dan saudara-saudara Yesus di ayat 21: “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia.” Jadi, Ibu dan keluarga Yesus ini datang karena khawatir akan Yesus. Di antara orang-orang yang berkumpul itu ada yang menganggap Yesus sudah “tidak waras” lagi. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mereka ingin menjemput Yesus. Nah, ketika Ibu dan saudara-saudara Yesus ini datang, lalu di antara orang banyak itu juga ada yang berkata: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

Lalu, pada ayat 32-34 digambarakan Yesus bertanya: “’Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?’ Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’.” Dengan kata lain, yang menjadi persoalan di sini bukan Ibu dan saudara-saudara Yesus yang datang. Justru sebaliknya, mereka itu datang karena khawatir dengan keadaan Yesus. Di sini, Yesus ingin menegur mereka itu. Dengan kata lain, Yesus ingin mengatakan: “Tadi kamu sendiri yang mengatakan saya kerasukan setan, maka tidak heran jika Ibu dan saudara-saudara datang dan mereka ada di luar sekarang.. mereka khawatir dengan saya.. yang menjadi persoalan sekarang adalah kamu semua yang ada di sekitar saya ini.. jika kamu ingin menjadi Ibu dan saudara-saudara-Ku juga.. ‘Lakukanlah kehendak Allah!’”

Lalu pertanyaannya jelas, “Apa itu kehendak Allah?” Orang bisa mengartikannya macam-macam. Dalam konteks bacaan Injil hari ini jelas, “Kehendak Allah adalah ‘jangan pernah terlalu cepat menilai orang lain dan memberi berbagai macam label yang hanya dapat membuat orang lain khawatir’. Melainkan sebaliknya, duduk dengan tenang dan dengarkan apa yang Yesus katakan: ‘Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (pada diri-Nya sendiri yang menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia)! (Mrk 1:15).” Itulah kehendak Allah!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

RenunganHarian GML : MEREKA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH ADALAH SAUDARA-SAUDARA KRISTUS



 Salam jumpa saudari-saudara sekalian, amalkan Pancasila kita bhinneka kita Indonesia. Bacaan-bacaan pada hari Minggu Biasa ke-10 ini mengajak kita untuk menyadari dua hal hakiki dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah hakekat kehidupan kita sebagai manusia ciptaan Allah. Yang kedua adalah bahwa kita manusia menjalani kehidupan dunia yang terbatas. Bacaan pertama menyampaikan kepada ita bagaimana manusia itu mula-mula hidup dalam keilahian dalam lingkup kebahagiaan kehidupan Sang Pencipta, namun karena tipu daya “ular” manusia menjadi malu dan takut dan bersembunyi dari hadapan Sang Pencipta. Ular yang nampaknya baik telah menipu. Yang damai yang rukun terganti menjadi permusuhan. Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus mengarahkan manusia duniawi yang terbatas itu kepada hakekatnya yang ilahi. Keterbatasan yang membuat keterpisahan karena sikap-sikap irihati, kebencian, kelompokisme, kesukuan ataupun bahkan ke-famili-an, diatasi dengan kebenaran dan ketulusan hati di hadapan Allah Sang Pencipta. DI mata Tuhan kita sama. Yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan, dialah saudara, dialah saudari, dialah yang pantas disebut ibu. Bacaan kedua menyampaikan bagaimana kehidupan duniawi yang sering rancu dengan penampilan-penampilan lahiriah diatasi dengan kejujuran untuk mengarahkan diri pada kehendak Allah itu. Tujuan kehidupan yang mengatasi kehidupan duniawi ini harus menjadi acuan. Yang kelihatan itu sementara, yang tidak kelihatan itu kekal. 

 Sebagai ciptaan Allah, kita mempunyai asal-usul yang satu dan punya citra yang sama yakni secitra atau segambar dengan Allah. Manusia memiliki unsur keilahian. Karena “bujukan si ular”, manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia “keluar dari taman Eden” dan mulai menghidupi kehidupan duniawi yang terbatas.  Keterbatasan menghasilkan begitu banyak perbedaan: tempat tinggal, warna kulit, postur tubuh, dan bahkan juga bahasa dan pandangan-pandangan yang berbeda tergantung pada sudut pandangnya. Kebhinekaan ataupun keragaman itulah kenyataan yang harus kita terima sebagai manusia yang duniawi. Dalam kancah kehidupan dunia yang terbatas, manusia menghadapi tantangan dan ketegangan yakni apakah tetap ada dalam keterbatasan yang membuat adanya jurang pemisah satu dengan yang lain atau mengarahkan diri kepada kesejatian hidup ilahi yang akan membantu mengatasi perbedaan-perbedaan. Rasul Paulus, dalam bacaan yang kedua, menekankan perbedaan antara “manusia lahiriah” yang terbatas yang membuat terjadinya benturan-benturan dan penderitaan dengan “manusia batiniah” yang diperbaharui dari hari ke hari atas kepercayaan akan kehidupan yang kekal bagi kemuliaan Allah. “Allah telah menyediakan suatu kediaman di surge bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang bukan buatan tangan manusia,” kata Paulus. Tempat kediaman buatan tangan manusia sering harus dipertahankan dengan memperbesar perbedaan, bertikai ataupun bahkan meniadakan yang lain. Tempat kediaman di surga dijamin akan disediakan bagi mereka yang mendengar dan melaksanakan kehendak Bapa di sorga. Cita-cita untuk memperoleh kediaman surgawi akan mengantar kepada penghargaan melampaui batas-batas lahiriah karena kesatuan asal-usul dan kesatuan tujuan surgawi itu. 

 Saudari-saduara sekalian, mari kita syukuri hakekat kita sebagai gambar Allah. Kita bersyuur karena diberi kesempatan oleh Kristus sendiri agar kita menjadi saduara dan saudari-Nya bahkan ibu-Nya ketika kita mau untuk mendengar dan melaksanakan kehendak Allah. Dalam semangat hidup sebagai anak-anak Allah, kita mohon agar kita dimampukan untuk menyikapi kehidupan terbatas di dunia ini yang seringkali menantang kita untuk jatuh ke dalam jurang perbedaan dan perselisihan. Dalam penghargaan satu dengan yang lain semoga perbedaan menjadi rahmat untuk persatuan. Salam damai buat kita sekalian. Amalkan Pancasila: kita bhinneka kita Indonesia. (rm pur msc)

Sabtu, 09 Juni 2018

Renungan Harian GML : MEMBERI DENGAN MURAH HATI, RELA, DAN JAUH DARI SIKAP EGOIS



BACAAN
Tim 4:1-8 – “Wartakanlah sabda Allah. Siap sedialah selalu, baik atau tidak baik waktunya”

Mrk 12:38-44 – “Sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak darIpada mereka semua”

RENUNGAN
1.Yesus memperlawankan pemberian persembahan oleh orang kaya dengan seorang janda miskin. Orang kaya memberikan persembahan dengan jumlah besar. Ia memberi dari kelimpahannya. sedangkan seorang janda miskin memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Ia memberi dari kekurangannya. Dan Yesus berkata: “Sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.”

2.Para murid terkejut dengan kata-kata Yesus tersebut. Pasti kita juga sama seperti mereka. Yesus memuji semangat si janda miskin itu, karena dalam kemiskinannya, ia tetap berbagi walaupun sesudahnya ia tidak tahu apa yang akan dimakan. Ia memberi dengan rela, dengan hati yang bebas, dan jauh dari sikap egois. Ia ingin melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Persembahannya merupakan persembahan seluruh hidupnya.

3.Murah hati tidak hanya dengan uang, tetapi juga waktu, bakat, dan perhatian kita. Banyak orang punya masalah, dan mereka ingin bicara dan didengarkan. Mereka pengin kita punya waktu dan perhatian untuk masalah mereka. Lebih mudah memberikan sumbangan uang daripada duduk bersama dengan orang yang terbaring sakit. Anak-anak ingin agar orang tuanya punya waktu untuk dirinya, karena mereka ingin bicara, bercanda, dan mengungkapkan suasana batinnya.

Maxi Sriyanto

Jumat, 08 Juni 2018

Renungan Harian GML : HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS: KASIH YANG TAK BERKESUDAHAN



BACAAN
Hos 11:1.3-4.8c-9 – “Hatiku berbalik dari segala murka”

Ef 3:8-12.14-19 – “Supaya kamu dapat memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus”

Yoh 19:31-37 – “Salah seorang dari prajurit itu menikam lambung Yesus dengan tombak, dan segera mengalirlah darah serta air keluar”

RENUNGAN
1.Hari ini kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus berdasarkan tradisi yang sudah mulai berkembang sejak abad VII dan semakin tersebar luas setelah penampakan Yesus kepada Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Pada tahun 1856, Paus Pius IX memasukkan Pesta Hati Kudus Yesus dalam penanggalan liturgi. Tetapi karena perayaan ini selalu jatuh pada hari kerja, maka banyak umat kurang memperhatikan dan mengabaikan.

2.Dalam perayaan ini kita diajak untuk merasakan dan “memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus” (Ef 3:18-19). Umat Katolik mengungkapkan kecintaannya kepada Hati Kudus Yesus melalui doa dan liturgi Ekaristi. Misalnya Puji Syukur nomor 207. Dalam setiap bagian doa tersebut selalu diulangi dengan permohonan yang sama: “Hati Yesus yang mahakudus, jangan memperhitungkan dosa kami.” Doa nomor 209 PS, selalu diulangi permohonan: “Kasihanilah kami.”

3.Doa dan renungan tentang Hati Kudus Yesus seharusnya mendorong kita untuk mewujudkan kasih Tuhan ini dalam tindakan nyata: berbagi dan berbelarasa dengan orang-orang miskin dan menderita.

4.”Tuhan, jadikanlah hati kami menjadi seperti Hati-Mu: penuh kasih, lemah lembut, dan rendah hati.”

Maxi Sriyanto

Kamis, 07 Juni 2018

Renungan harian GML : AGAMA YANG BENAR DAN DIKEHENDAKI ALLAH

AGAMA YANG BENAR DAN DIKEHENDAKI ALLAH

BACAAN
2Tim 2:8-15 – “Sabda Allah tidak terbelenggu. Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia”

Mrk 12:28b-34 – “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”

RENUNGAN
1.Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang pertama dan utama. Dia seorang ahli pasti tahu jawabannya, tapi tetap bertanya hanya bermaksud ngetest Yesus. Yesus menjawab dengan mengutip kitab Ulangan 6:4-5 dan Imamat 19:18. Kasih terhadap Allah yang diwujudkan dalam kasih terhadap sesama merupakan ringkasan dari segala yang diajarkan Yesus.

2.Ada pertanyaan: manakah agama yang benar? Agama yang benar dan yang datang dari Allah bila para pemeluknya menjalankan kasih, antara lain: a). Menerima orang lain dan memandangnya sebagai saudara. b). Menjadi sesama bagi orang lain, terutama mereka yang berada dalam kesulitan hidup. c). Kesediaan untuk mengampuni mereka yang berbuat salah terhadap dirinya. d). Mampu mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang telah menganiaya. Dari sini kita dapat menguji agama yang benar dan dikehendaki Allah.

3.Bagaimana praktek dalam keluarga kita? Paus Fransiskus menyerukan agar dalam keluarga kita mengembangkan dan mewujudkan kata-kata: “Tolong”, “Terima kasih”, dan “Maaf”. “Tolong”: kita tidak menekan bila minta sesuatu, tetapi dengan bertanya: “Bolehkah?” Dalam keluarga jangan sampai ada egoism, maka masing-masing harus belajar mengatakan “Terima kasih.” Jika melakukan kesalahan dalam keluarga, harus dibiasakan berkata “Maaf.” Bila demikian, dari dalam keluarga, kita akan mampu mewujudkan kasih seperti dikehendaki Tuhan. Ayo dimulai TTM dalam keluarga kita! Dari TTM ada kasih dan damai sejahtera.

maSRI, 7.6.18, berkat.id

Rabu, 06 Juni 2018

Renungan Harian GML : AKU PERCAYA AKAN KEBANGKITAN BADAN



BACAAN
2Tim 1:1-3.6-12 – “Kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu berkat penumpangan tanganku”

Mrk 12:18-27 – “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup”

RENUNGAN
1.Iman kita mengatakan: “Aku percaya akan kebangkitan badan.” Orang-orang Saduki pasti sinis dan tertawa geli ketika mendengar ungkapan iman seperti itu. Mereka tidak percaya tentang kebangkitan orang mati. Bagi mereka kebangkitan orang mati itu absurd dan khayalan.

2.Orang-orang Saduki membayangkan kehidupan di surga itu persis sama seperti ketika orang masih hidup di dunia ini, maka mereka berani mengajukan kisah seorang wanita yang dinikahi oleh tujuh laki-laki. Yesus menanggapi dengan keras: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.” Yesus menerangkan bahwa kondisi orang-orang sesudah meninggal akan sama sekali lain dari kondisi sekarang ini: tidak ada lagi perkawinan, dan semuanya akan seperti para malaikat di surga.

3.Kebangkitan orang mati bukanlah soal siapa yang menjadi istri atau suami kelak, namun soal apakah dalam kehidupannya orang itu menjadikan Allahnya sebagai Allah orang hidup atau tidak. Percaya kepada Allah yang hidup berarti ia selalu mengingat orang lain, baik lewat doa maupun lewat tindakan nyata demi kebahagiaan orang lain. Dalam seluruh hidupnya, ia bersaksi tentang kebaikan Tuhan; ia meneruskan karya Tuhan dengan menjadikan orang lain makin hidup.

Maxi Sriyanto

Selasa, 05 Juni 2018

Renungan Harian GML : TERLIBAT DALAM MENEGAKKAN KEBENARAN DAN KEADILAN SERTA BERIMAN KUAT



BACAAN
2Ptr 3:12-15a.17-18 – “Kita menantikan langit dan bumi yang baru”

Mrk 12:13-17 – “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”

RENUNGAN
1.Pertanyaan orang-orang Parisi dan kaum Herodian, sebenarnya, menunjukkan kesulitan yang dialami Jemaat awal. Mereka menghadapi kesulitan ini: sejauh mana orang-orang Kristen harus setia kepada penguasa, padahal penguasa tersebut anti-Kristen. Di satu pihak: para penguasa dianggap mewakili Allah, di lain pihak: para penguasa mengejar, menangkap, menyiksa dan membunuh orang-orang Kristen secara semena-mena. Jawaban Yesus: “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah” tetap berlaku bagi umat Kristen sepanjang masa.

2.”Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar.” Apa artinya dalam konteks masyarakat kita? Walaupun ada pemisahan antara Gereja dan Politik, sebagai orang Kristen, kita wajib terlibat dalam arena politik. Arena politik tak terpisahkan dari isu-isu kebenaran dan keadilan, apalagi sekarang ini ujaran kebencian, isu SARA,  gerakan anti NKRI dan Pancasila semakin marak dan banyak pengikut. Tidak cukup hanya berdoa dan bernyanyi: “Kita Bhineka Kita Indonesia.” Tidak ada cara lain bagi kita, yang memiliki tanggungjawab membangun Kerajaan Allah di dunia ini, untuk terlibat dengan masalah-masalah sosial, politik dan kemasyarakatan. Hal tersebut merupakan tanggungjawab kita terhadap masyarakat dan bangsa kita.

3.”Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” Artinya:

a). Setia kepada Allah, dalam situasi apa pun sampai kapan pun, dan bila seandainya kita harus mengalami nasib seperti jemaat awal.

b). Melaksanakan keadilan, cinta kasih dan kejujuran sebagaimana diminta oleh Hukum Allah.

Maxi Sriyanto

Senin, 04 Juni 2018

Renungan Harian GML : BERTOBAT DAN SETIA KEPADA YESUS



BACAAN
2Ptr 1:1-7 – “Yesus Kristus telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga. Berkat Dia kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi”

Mrk 12:1-12 – “Mereka menangkap dan membunuh putera kesayangan, dan melemparkannya ke luar kebun anggur”

RENUNGAN
1.Perumpamaan kebun anggur ini merupakan ringkasan sejarah Israel yang diambil dari nabi Yesaya (Yes 5:1-7). Melalui perumpamaan ini Yesus memberi jawaban kepada para imam, ahli kitab dan tua-tua tentang asal-usul otoritas yang dimiliki-Nya yang pernah ditanyakan oleh mereka (Mrk 11:28). Inilah asal-usul otoritas Yesus:
a). Ia adalah Anak, Pewaris (ay 6).
b). Ia mencela penyalahgunaan kekuasaan para penyewa kebun, yang tidak lain adalah para imam dan tua-tua yang tidak bertanggungjawab terhadap umat Allah (ay 3-8).
c). Ia membela para utusan Allah, yaitu para nabi, yang mereka aniaya dan mereka bunuh (ay 2-5); dengan demikian Yesus menelanjangi kekuasaan yang memanipulasi agama dan telah membunuh anak pemilik kebun angggur (=Yesus), karena mereka tidak ingin kehilangan sumber pendapatan yang mereka dapatkan selama berabad-abad (ay 7).

2.Orang-orang Parisi, ahli kitab dan tua-tua paham betul maksud perumpamaan tersebut, namun demikian mereka tidak mau bertobat, malahan mereka merencanakan untuk menangkap Yesus. Mereka menolak batu penjuru, tetapi mereka tidak berani melakukannya secara terbuka, karena mereka takut terhadap orang banyak.

3.Pertanyaannya adalah:
a). Banyak orang beriman yang akhirnya meninggalkan dan menolak Yesus, namun banyak juga yang setia dalam iman. Siapa yang termasuk menolak dan siapa yang termasuk setia?
b). Benarkah para pemimpin Gereja sekarang memimpin dan melayani umat Allah berdasarkan pengenalan dan kasih akan Allah?

Maxi Sriyanto

Sabtu, 02 Juni 2018

Renungan Harian GML : KUASA YESUS



BACAAN
Yud 17:20b-25 – “Allah berkuasa menjaga kamu jangan sampai tersandung, dan membawa kamu penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya”

Mrk 11:27-33 – “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?

RENUNGAN
1.Para imam kepala bertanya: dari mana sumber otoritas Yesus, kok Dia bisa mengajar, membuat mukjijat dan mengusir setan-setan dan dibuat di Bait Allah? Menurut mereka, Yesus tidak berhak bicara tentang Allah dan tentang hukum-hukum-Nya. Mereka merasa yang paling memiliki kekuasaan, kekuatan, dan kemampuan menegakkan hukum dan menilainya. Bukan Yesus.

2.Yesus dari surga, mereka dari dunia. Bagi Yesus, otoritas-Nya berasal dari cinta-Nya kepada Allah, relasi antara Anak dan Bapa, dan kesamaan-Nya dengan Bapa-Nya. Jadi Yesus adalah pewahyuan Allah di dunia ini. Masalahnya: mereka tidak mau menerima pewahyuan Allah di dalam diri Yesus. Padahal pewahyuan Allah dalam diri Yesus merupakan kebenaran sejati dan mutlak. Dan kebenaran sejati tidak diperuntukkan bagi mereka yang hatinya tertutup, seperti para imam kepala, ahli Taurat dan para pemimpin keagamaan lainnya. Sekarang ini semakin banyak orang tidak memiliki kebenaran sejati karena tidak percaya kepada Yesus.

3.Apakah kita siap berbicara mengenai apa yang kita percayai tentang Yesus dan siap mengikuti jejak kaki-Nya?

Maxi Sriyanto

Jumat, 01 Juni 2018

HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH

HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH

BACAAN
1Ptr 4:7-13 – “Jadilah pembagi rahmat Allah yang beraneka ragam”

Mrk 11:11-26 – “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!”

RENUNGAN
1.Pohon ara merupakan sumber makanan bagi orang-orang Israel. Yesus yang sedang lapar mendapati pohon ara yang penuh dengan daun tetapi tanpa buah sama sekali. Dan Yesus mengutuk pohon tersebut. Apa makna dari tindakan Yesus tersebut? Yesus datang ke tengah-tengah Umat-Nya dan Yesus menginginkan buah-buah kesucian dan perbuatan-perbuatan baik, namun yang Ia dapatkan hanyalah praktek keagamaan yang hiruk pikuk, tetapi tidak membangun kehidupan sama sekali.

2.Hal yang sama ditunjukkan Umat Allah ketika Yesus memasuki Bait Suci. Yesus mendapati praktek keagamaan yang sudah menyimpang; mereka telah mengubah fungsi bait Allah menjadi tempat perdagangan dan sarang penyamun, bukan tempat penyembahan kepada Allah.

3.Yesus mengharapkan buah-buah kesucian dan perbuatan-perbuatan baik dari Umat-Nya, namun tidak mendapatkan. Hidup Umat Allah tidak memiliki kedalaman rohani sama sekali, namun demikian mereka tetap saja sombong, penuh ambisi, dan kegiatan mereka hanya demi dilihat orang. Mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk, tidak setia, dan tertutup terhadap Sabda Tuhan.

4.Kita adalah Umat Allah yang baru yang diharapkan berbuah di mana saja kita berada. Sebagai citra Allah sudah seharusnya kita menampakkan ke-Allahan, kemuliaan-Nya, kebesaran-Nya, dan kebaikan-Nya. Seperti itulah hidup yang  berbuah.

MS, 1.6.18, berkat.id