Minggu, 10 Juni 2018

“Jangan Terlalu Cepat Menilai”

“Jangan Terlalu Cepat Menilai”
Markus 3:20-35

Dalam ayat 31-35, kita bisa melihat bahwa Ibu dan saudara-saudara Yesus datang untuk menjemput Yesus (lih. Ayat 21). Lalu Yesus bertanya: “Siapa ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku?” Jika dilihat sepintas, pertanyaan ini sungguh “nylekit” alias benar-benar “menusuk hati.” Coba bayangkan, jika ibu dan saudara-saudara kita datang (dan momennya pas kali ini, di mana sebentar lagi orang-orang pada mudik dan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman waktu lebaran), lalu tiba-tiba ada orang berkata: “Lihat, ibu dan saudara-saudaramu ada di luar, dan berusaha menemuimu!” Lalu tiba-tiba kita bertanya: “Siapa ibuku dan saudara-saudaraku?” Apa tidak sakit itu perasaan ibu dan saudara-saudara kita yang mendengar perkataan itu?

Tapi dalam Injil kita hari ini, konteksnya beda.. tunggu dulu.. jangan cepat-cepat menilai atau memberi tuduhan bahwa Yesus tidak punya perasaan.. “Sekali lagi.. Tunggu dulu..!!”

Mari kita baca pelan-pelan Injil hari ini. Setelah Yesus memanggil 12 para rasul di Mrk 3:13-19, kali ini Yesus berkumpul dengan para rasul di sebuah rumah (Mrk 3:20-35). Tapi kali ini sayangnya orang banyak juga ikut-ikutan kumpul dengan Yesus dan para rasul, bahkan digambarkan di ayat 20 bahwa Yesus dan para rasul ini mau makan, tapi sampai tidak bisa. Bisa dibayangkan betapa sesaknya di dalam rumah itu dengan orang banyak yang datang berkumpul.

Lalu, tidak hanya kerumunan orang ini yang datang berkumpul, melainkan ada orang-orang penting dari Yerusalem (ahli-ahli Taurat) datang jauh-jauh ke Utara (Galilea) hanya ingin melihat Yesus yang terkenal ini. Tapi ternyata di sana mereka mulai menuduh Yesus kerasukan setan bahkan kerasukan Beelzebul (setan paling kuat – pemimpin para setan) dan dengan penghulu setan Yesus mengusir setan. Tuduhan yang benar-benar menakutkan. Dan ternyata hal ini yang didengar oleh Ibu dan saudara-saudara Yesus di ayat 21: “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia.” Jadi, Ibu dan keluarga Yesus ini datang karena khawatir akan Yesus. Di antara orang-orang yang berkumpul itu ada yang menganggap Yesus sudah “tidak waras” lagi. Daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mereka ingin menjemput Yesus. Nah, ketika Ibu dan saudara-saudara Yesus ini datang, lalu di antara orang banyak itu juga ada yang berkata: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

Lalu, pada ayat 32-34 digambarakan Yesus bertanya: “’Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?’ Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’.” Dengan kata lain, yang menjadi persoalan di sini bukan Ibu dan saudara-saudara Yesus yang datang. Justru sebaliknya, mereka itu datang karena khawatir dengan keadaan Yesus. Di sini, Yesus ingin menegur mereka itu. Dengan kata lain, Yesus ingin mengatakan: “Tadi kamu sendiri yang mengatakan saya kerasukan setan, maka tidak heran jika Ibu dan saudara-saudara datang dan mereka ada di luar sekarang.. mereka khawatir dengan saya.. yang menjadi persoalan sekarang adalah kamu semua yang ada di sekitar saya ini.. jika kamu ingin menjadi Ibu dan saudara-saudara-Ku juga.. ‘Lakukanlah kehendak Allah!’”

Lalu pertanyaannya jelas, “Apa itu kehendak Allah?” Orang bisa mengartikannya macam-macam. Dalam konteks bacaan Injil hari ini jelas, “Kehendak Allah adalah ‘jangan pernah terlalu cepat menilai orang lain dan memberi berbagai macam label yang hanya dapat membuat orang lain khawatir’. Melainkan sebaliknya, duduk dengan tenang dan dengarkan apa yang Yesus katakan: ‘Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (pada diri-Nya sendiri yang menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di dunia)! (Mrk 1:15).” Itulah kehendak Allah!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

0 komentar:

Posting Komentar