Sabtu, 23 Juni 2018

Renungan GML Minggu tgl 24/6/18 : IA DATANG UNTUK BERSAKSI TENTANG TERANG, DAN MENYIAPKAN SUATU UMAT YANG LAYAK BAGI TUHAN



  Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi pada hari Minggu Biasa ke-12. Hari Minggu ini kita merayakan hari kelahiran Yohanes Pembaptis. Kita semua tahu Yohanes Pembaptis. Ayahnya adalah Zakharia, seorang imam di Yerusalem sedangkan ibunya adalah Elizabeth, seorang puteri keturunan kaum Harun. Kisah kelahirannya sangat unik. Yohanes lahir dari pasangan yang sudah sangat tua untuk mempunyai seorang anak. Zakharia pun menjadi bisu karena ia hampir tidak percaya akan khabar malaikat yang didengarnya. Ketika ia meminta tanda, ia menjadi bisu sampai pada saat Yohanes lahir dan ketika ia harus memberi nama. Kelahiran Yohanes sungguh merupakan kisah yang istimewa. Kita juga ingat ketika dalam bulan yang keenam perkandungannya, Maria ibu Yesus mengunjunginya dan anak yang masih dalam rahim itu pun melonjak kegirangan dan Elizabeth ibunya pun dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu berseru: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?....berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1: 41-45). Yohanes mendapat tugas untuk membuka jalan bagi Kristus dan memperkenalkan Yesus sebagai Almasih. Yesus sendiri menyebut Yohanes sebagai ‘sang nabi’, bahkan lebih besar daripada para nabi. Oleh karena itu kelahirannya sungguh menggembirakan banyak orang. Namaun sebagaimana nabi-nabi lainnya yang ditolak dan dianiaya oleh umat karena pewartaannya, Yohanes pun mengalami nasib yang sama. Ia meninggal dengan kepala dipenggal karena membela kebenaran (Mat 14:1-12). 

  Bacaan-bacaan hari Minggu ini mengungkapkan perihal panggilan kenabian yang tidak lain adalah rencana Allah untuk karya keselamatan bagi umat-Nya. Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Yesaya dipanggil bahkan sejak dalam kandungan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Untuk itu ia diberi mulut yang tajam sebagai pedang, ia menjadi anak panah yang runcing untuk menyatakan keagungan Tuhan. Meski kata-katanya sering dianggap menyakitkan, meski ajaran-ajarannya harus bertentangan dengan keyakinan orang banyak, meski ia harus bersusah-susah, pekerjaannya nampak sia-sia karena bangsa yang tegar tengkuk namun “…hakku terjamin kepada Tuhan, dan upahku kepada Allahku.”  Yesaya sadar akan tugas perutusan yang dari Tuhan bahkan bukan saja bagi orang-orang Israel yang msih terpelihara tetapi bagi bangsa-bangsa: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi.”(Yes 49:6). Bacaan kedua menegaskan bagaimana peran Yohanes yang mempersiapkan kedatangan Sang Juruselamat. Yohanes sangat dihormati dan didengar orang banyak meski ia dengan rendah hati menyatakan: “Aku bukanlah DIa yang kamu sangka; tetapi dia akan datang kemudian dari pada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” Selanjutnya Yohanes menyerukan:”Hai saudara-saudara, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (Kis 13:26). Bacaan Injil menyampaikan bagaimana kisah Yohanes dilahirkan disertai dengan kisah mukjizat kesembuhan Zakharia dari kebisuannya. Maka orang banyak hanya dapat berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:66). 

  Saudari-saudara, Yohanes Pembaptis adalah nabi, bahkan lebih besar daripada para nabi yang sudah ada karena ia hadir untuk membuka jalan bagi Sang Juruselamat. Suaranya menggelegar dari padang gurun memekakkan telinga orang yang mendegarnya, tetapi mengajak banyak orang untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Ketika orang kagum padanya, ia tidak menjadi besar kepala tetapi sebaliknya dengan semboyannya ‘biarlah aku menjadi semakin kecil tetapi Dia menjadi semakin besar’, Yohanes menyampaikan kepada orang banyak dan juga murid-muridnya siapa yang harus dinantikan yakni Dia, Messias Sang Juruselamat. Yohanes hanyalah bentara yang mempersiapkan kedatangan-Nya. Yohanes menjadi besar bukan karena menumpang ataupun meminjam atau menyalahgunakan nama besar. Yohanes menjadi besar bukan karena berlindung di balik nama besar ataupun memperdaya orang kecil yang mendengarkannya. Yohanes menjadi besar karena ia berhati besar, rendah hati untuk menunjukkan yang sungguh besar, dan konsisten menyatakan yang benar tanpa harus menjadi gusar atauoun kasar. Semoga kitapun dapat meneladan Yohanes Pembaptis. Salam sejahtera, kita bhinneka kita Indonesia. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC)

0 komentar:

Posting Komentar