Minggu, 10 Juni 2018

RenunganHarian GML : MEREKA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH ADALAH SAUDARA-SAUDARA KRISTUS



 Salam jumpa saudari-saudara sekalian, amalkan Pancasila kita bhinneka kita Indonesia. Bacaan-bacaan pada hari Minggu Biasa ke-10 ini mengajak kita untuk menyadari dua hal hakiki dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah hakekat kehidupan kita sebagai manusia ciptaan Allah. Yang kedua adalah bahwa kita manusia menjalani kehidupan dunia yang terbatas. Bacaan pertama menyampaikan kepada ita bagaimana manusia itu mula-mula hidup dalam keilahian dalam lingkup kebahagiaan kehidupan Sang Pencipta, namun karena tipu daya “ular” manusia menjadi malu dan takut dan bersembunyi dari hadapan Sang Pencipta. Ular yang nampaknya baik telah menipu. Yang damai yang rukun terganti menjadi permusuhan. Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus mengarahkan manusia duniawi yang terbatas itu kepada hakekatnya yang ilahi. Keterbatasan yang membuat keterpisahan karena sikap-sikap irihati, kebencian, kelompokisme, kesukuan ataupun bahkan ke-famili-an, diatasi dengan kebenaran dan ketulusan hati di hadapan Allah Sang Pencipta. DI mata Tuhan kita sama. Yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan, dialah saudara, dialah saudari, dialah yang pantas disebut ibu. Bacaan kedua menyampaikan bagaimana kehidupan duniawi yang sering rancu dengan penampilan-penampilan lahiriah diatasi dengan kejujuran untuk mengarahkan diri pada kehendak Allah itu. Tujuan kehidupan yang mengatasi kehidupan duniawi ini harus menjadi acuan. Yang kelihatan itu sementara, yang tidak kelihatan itu kekal. 

 Sebagai ciptaan Allah, kita mempunyai asal-usul yang satu dan punya citra yang sama yakni secitra atau segambar dengan Allah. Manusia memiliki unsur keilahian. Karena “bujukan si ular”, manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia “keluar dari taman Eden” dan mulai menghidupi kehidupan duniawi yang terbatas.  Keterbatasan menghasilkan begitu banyak perbedaan: tempat tinggal, warna kulit, postur tubuh, dan bahkan juga bahasa dan pandangan-pandangan yang berbeda tergantung pada sudut pandangnya. Kebhinekaan ataupun keragaman itulah kenyataan yang harus kita terima sebagai manusia yang duniawi. Dalam kancah kehidupan dunia yang terbatas, manusia menghadapi tantangan dan ketegangan yakni apakah tetap ada dalam keterbatasan yang membuat adanya jurang pemisah satu dengan yang lain atau mengarahkan diri kepada kesejatian hidup ilahi yang akan membantu mengatasi perbedaan-perbedaan. Rasul Paulus, dalam bacaan yang kedua, menekankan perbedaan antara “manusia lahiriah” yang terbatas yang membuat terjadinya benturan-benturan dan penderitaan dengan “manusia batiniah” yang diperbaharui dari hari ke hari atas kepercayaan akan kehidupan yang kekal bagi kemuliaan Allah. “Allah telah menyediakan suatu kediaman di surge bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang bukan buatan tangan manusia,” kata Paulus. Tempat kediaman buatan tangan manusia sering harus dipertahankan dengan memperbesar perbedaan, bertikai ataupun bahkan meniadakan yang lain. Tempat kediaman di surga dijamin akan disediakan bagi mereka yang mendengar dan melaksanakan kehendak Bapa di sorga. Cita-cita untuk memperoleh kediaman surgawi akan mengantar kepada penghargaan melampaui batas-batas lahiriah karena kesatuan asal-usul dan kesatuan tujuan surgawi itu. 

 Saudari-saduara sekalian, mari kita syukuri hakekat kita sebagai gambar Allah. Kita bersyuur karena diberi kesempatan oleh Kristus sendiri agar kita menjadi saduara dan saudari-Nya bahkan ibu-Nya ketika kita mau untuk mendengar dan melaksanakan kehendak Allah. Dalam semangat hidup sebagai anak-anak Allah, kita mohon agar kita dimampukan untuk menyikapi kehidupan terbatas di dunia ini yang seringkali menantang kita untuk jatuh ke dalam jurang perbedaan dan perselisihan. Dalam penghargaan satu dengan yang lain semoga perbedaan menjadi rahmat untuk persatuan. Salam damai buat kita sekalian. Amalkan Pancasila: kita bhinneka kita Indonesia. (rm pur msc)

0 komentar:

Posting Komentar