menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Selasa, 31 Juli 2018

Renungan Harian GML : MENUMBUHKAN BENIH

Bacaan Liturgi 31 Juli 2018

Bacaan Injil
Mat  13:36-43

Pada suatu hari
Yesus meninggalkan orang banyak, lalu pulang. 
Para murid kemudian datang dan berkata kepada-Nya, 
"Jelaskanlah kepada kami 
perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Yesus menjawab, 
"Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia.
Ladang itu ialah dunia. 
Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan 
dan lalang adalah anak-anak si jahat.
Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. 
Waktu menuai ialah akhir zaman, dan para penuai itu malaikat.

Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, 
demikian juga pada akhir zaman.
Anak Manusia akan mengutus malaikat-malaikat-Nya 
dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan 
dan semua orang yang melakukan kejahatan 
dari dalam Kerajaan-Nya.
Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api. 
Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Pada waktu itulah orang benar akan bercahaya seperti matahari 
dalam Kerajaan Bapa mereka. 
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan!"


Renungan: 
Saudara-saudari yang terkasih, setiap dari kita menerima benih kebaikan tatkala kita dilahirkan, tetapi juga terlebih saat kita menerima pembaptisan. Pembaptisan memasukkan kita sebagai anak-anak Allah yang mengakui kehadiran-Nya dan juga mengakui kebaikan-Nya yang terpancar di dalam hidup kita. Namun, di sisi yang lain, kita pun mengalami bahwa di dalam kehidupan kita, kita memiliki benih-benih kejahatan yang datang karena kita adalah manusia yang dalam iman Katolik disebut sebagai anak-anak dari Adam dan Hawa yang membawa kecenderungan berdosa akibat dosa asal. 
Dalam konteks ini, kita mengalami bahwa hidup ini adalah perjalanan peziarahan untuk memahami bagaimana Allah hadir di dalam hidup kita. Dalam penjelasannya atas perumpamaan tentang ilalang, Yesus mengatakan, “"Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat” (Mat 13: 37-38). Nah demikianlah kita setiap hari menjadi seperti seorang hakim atas kecenderungan-kecenderungan hidup kita, entah yang mengarah kepada kebaikan atau yang mengarah kepada kejahatan. Kitalah yang menentukan arah kehidupan kita. Kita tidak boleh menyalahkan kedua kecenderungan itu karena keduanya ada di dalam diri setiap orang. Untuk menentukan mana yang tepat untuk hidup kita, Tuhan menganugerahkan hati nurani yang membantu kita memahami mana yang terbaik untuk hidup kita. Hati nurani itu memang selalu mengajarkan tentang yang baik. Namun kita tahu, tak jarang kebaikan tertutupi oleh pembelaan diri atau kejahatan bersembunyi di balik hal yang tampaknya baik. 
Semoga kita lebih peka untuk memandang kehidupan kita dan bersedia membuka hati untuk melihat betapa di dalam hidup ini, selalu ada kesempatan untuk terus mengikuti Tuhan. Kita tidak diciptakan seperti robot yang hanya melakukan apa yang sudah di-takdir-kan, melainkan kita diberi sarana untuk menentukan ke mana hati, kaki dan perjuangan kita akan kita langkahkan.  Berkah Dalem.
Rm. Martinus Joko Lelono, Pr

Doa.
Tuhan semoga aku lebih bersedia membuka diri untuk kehendak-Mu. Semoga kami bisa menghindarkan diri dari kecenderungan dosa yang menguasai diri kami hingga akhirnya kami boleh mengupayakan agar hidup ini terus menerus menjadi pancaran kasih-Mu di tengah-tengah kehidupan kita. Maafkan kami akan kesalahan yang telah lalu dan bantulah kami untuk mengukir sejarah kehidupan kami agar boleh terus menjadi bentara kasih-Mu di setiap waktu yang kami jalani dan di setiap karya yang boleh kami lewati satu demi satu. Demi Kristus Tuhan Kami. 
Amin

Senin, 30 Juli 2018

Renungan Harian GML : BIJI SESAWI DAN RAGI



BACAAN
Yer 13:1-11 – “Bangsa ini akan menjadi seperti ikat pinggang yang tidak berguna untuk apa pun”

Mat 13:31-35 – “Biji sesawi itu menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya”

RENUNGAN
1.”Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.” Biji yang sangat kecil, sederhana, dan hampir tak terlihat. Kita yang percaya pada Kristus adalah ladang, di mana biji sesawi tumbuh. Dan biji sesawi itu adalah Kristus dan Kristus ada dalam diri kita.

2.Walaupun biji itu kecil, tetapi terus tumbuh dan memberi harapan.Bila biji itu tumbuh menjadi besar, jadilah pohon. Itu yang diharapkan dari setiap orang beriman. Kumpulan banyak pribadi orang beriman terbentuklah komunitas. Di dalam komunitas, orang-orang lain diterima, merasa krasan, dan memiliki harapan akan masa depan.

3.Kita ini minoritas. Yang kita harapkan adalah minoritas yang berkualitas, minoritas yang menentukan; minoritas yang memiliki daya ubah. Untuk itu kita dituntut memiliki iman yang dewasa dan tumbuh di tengah masyarakat. Dengan kata lain, kita harus berani menjadi “ragi” bagi masyarakat.

 4.Apa tanggapan Anda, bila ada orang mengatakan bahwa orang-orang Katolik, dan Kristen pada umumnya, eksklusif dan tertutup?

MS, 30.7.18,

Sabtu, 28 Juli 2018

Renungan Harian GML : BILA SAAT PENGHAKIMAN TIBA



BACAAN
Yer 7:1-11 – “Sudahkah menjadi sarang penyamun rumah yang atasnya nama-Ku diserukan?”

Mat 13:24-30 – “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba”

RENUNGAN
1.Sebagai orang beriman, rahmat yang paling indah dan menakjubkan adalah Baptisan. Rahmat ini sebenarnya tidak patut kita terima, karena kita adalah orang-orang berdosa. Memang, kita dipilih Allah dari ladang yang tandus dan Ia menawarkan kepada kita ladang Kerajaan Surga. Hidup kita dibuatnya tumbuh dengan subur. Tuhan pun menaburkan benih gandum di dalam diri kita agar menghasilkan buah berlimpah.

2.Namun dalam perjalanan hidup ini, kita suka jatuh ke dalam dosa karena kelemahan-kelemahan. Pada saat berdosa itulah ladang di dalam hidup kita ditumbuhi ilalang. Terkadang ilalang tumbuh dengan suburnya. Bila hal ini terus berlanjut dan dibiarkan, maka kita tidak akan menghasilkan buah dan tidak menerima mahkota Kerajaan Allah.

3.Namun demikian Allah tetap memberi kesempatan agar gandum tetap tumbuh di dalam diri kita. Jadi masih ada harapan dan kesempatan baru, karena kerahiman Allah yang tanpa batas. Tuhan masih memberi waktu kepada kita agar kita bisa membersihkan ilalang dalam hidup kita dan menumbuhkan gandum agar menghasilkan buah berlimpah saat panen.

4.Dengan cara apa kita membersihkan ilalang dalam diri kita?

5.Doa: “Tuhan, kami bersyukur atas kerahiman-Mu yang tanpa batas. Kami bersyukur karena Engkau sabar terhadap kami, mencintai kami seperti adanya kami, dan selalu mendorong kami untuk terus bertumbuh seturut kemampuan kami. Tuhan, kami berjanji untuk menghasilkan buah berlimpah.”

MS, 28.7.18, berkat.id

Jumat, 27 Juli 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH



BACAAN
Yer 3:14-17 – “Segala bangsa akan berkumpul ke Yerusalem”

Mat 13:18-23 – “Orang yang mendengarkan sabda dan mengerti, menghasilkan buah”

RENUNGAN
1.Biji yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu melukiskan mereka yang, pada awalnya, menerima Sabda Tuhan dengan gembira, tetapi lebih dikendalikan oleh perasaan dan rasa haru sesaat. Ketika mereka gembira, mereka menanggapi Allah secara positif. Ketika mereka menerima penghiburan dari Tuhan, mereka siap untuk mengikuti Dia. Tetapi ketika perasaan hati sedang jelek, tidak bahagia, mereka meninggalkan Tuhan dan mencari jalan yang lebar, mudah dan menyenangkan. Mereka ini, sebenarnya, tidak mencari Kristus tetapi lebih mencari penghiburan untuk dirinya sendiri; mereka mencari perasaan yang menyenangkan.

2.Seorang yang paling menyedihkan dari perumpamaan dalam Injil hari ini adalah mereka yang menerima Sabda Tuhan tetapi “terhimpit oleh kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan” sehingga mereka tidak menghasilkan buah. Materialisme dengan segala tawarannya yang menggiurkan telah menggoda dan menjerat iman. Satu-satunya jalan untuk mengalahkan serangan iman adalah memperbarui resolusi untuk berani menyediakan waktu bagi Tuhan. Sabda, doa dan sakramen yang kita beri porsi cukup dalam hidup kita, akan membuat kita tangguh terhadap segala macam godaan, kesulitan dan penderitaan.

3.Kita harus sadar bahwa Kristus telah menunjukkankepada kita jalan kesetiaan dan cinta lewat penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib demi cinta-Nya kepada Bapa dan jiwa-jiwa. Apa balasan kita terhadap kasih Tuhan yang total dan tuntas itu?

4.Maka pertanyaannya adalah: Seberapa banyak Anda meluangkan waktu untuk berdoa? Seberapa sering Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan? Seberapa mendalam Anda menghayati perayaan Ekaristi? Dan buah-buah apa yang telah Anda hasilkan demi keselamatan orang lain?

mSRI, 27.7.18,

Kamis, 26 Juli 2018

Renungan Harian GML : MATA YANG MAMPU MELIHAT DAN TELINGA YANG MAMPU MENDENGAR



BACAAN
Sir 44:1.10-15 – “Nama mereka hidup terus turun-temurun”

Mat 13:16-17 – “Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya”

RENUNGAN
1.Para murid telah mengikuti Yesus dan tinggal bersama-Nya  beberapa tahun. Dengan demikian mereka menjadi penerima warisan yang sangat didambakan oleh para nabi dan orang-orang benar. Demikian kita yang percaya kepada Kristus juga sebagai pewaris Kerajaan dan ajaran Tuhan dan berbahagia karena menyaksikan karya-karya Kristus dan boleh terlibat di dalamnya.

2.Bagaimana dengan orang-orang  jaman sekarang?  Mereka mencari tetapi tidak mendapatkannya, karena mereka tertimbun oleh kesibukan duniawi dengan segala kesenangannya, dan acuh-tak-acuh terhadap kehidupan batin atau rohani. Setiap orang beriman dituntut untuk memiliki kepekaan mendengarkan Tuhan dan membuat perubahan hidup sesuai dengan apa yang diminta oleh Tuhan; menjadi seperti Dia, memiliki hati seperti hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati dan siap berkurban dan menderita. Dengan demikian kita mengerti benar makna Sabda Tuhan: “Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar.”

MSri, 26.7.18, www.berkat.id

Rabu, 25 Juli 2018

Renungan Harian GML : Hati Seorang Ibu dan menjadi Pengikut Yesus!”


25 Juli 2018
Mat 20:20-28
Pesta St. Yakobus


Bacaan Injil hari ini sungguh menarik, berkisah tentang seorang Ibu dan dua anaknya. Ibu ini memiliki dua orang anak yang mengikuti Yesus. Dalam kisah Injil hari ini, Matius menyebutnya sebagai “Ibu Zebedeus”. Ibu ini adalah seorang Ibu pada umumnya, seorang Ibu yang menginginkan anak-anaknya bahagia, sukses dan mendapatkan kedudukan yang terhormat di tengah-tengah masyarakat. Lalu karena Ibu ini tahu bahwa anak-anaknya mengikuti Yesus, “Apa salahnya jika seorang Ibu mengungkapkan harapannya langsung kepada Yesus?” Dan ia pun berkata, "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini kelak boleh duduk di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Sampai di sini apakah ada yang salah? Tidak.. Tidak sama sekali! Justru ini adalah bentuk kesederhanaan dan kejujuran seorang Ibu yang memiliki harapan yang baik bagi masa depan anak-anaknya. Dan Yesus pun memahami betul apa yang ada dalam hati Ibu ini dan berusaha menjawabnya dan menjelaskan perlahan-lahan mengenai “Kerajaan-Nya”: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta! [...] Hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

Lalu yang menarik, situasi berubah.. kesepuluh murid yang lain marah kepada dua bersaudara ini karena mereka tampak menginginkan posisi istimewa dari Yesus. Dan lagi-lagi Yesus harus menjelaskan lagi bahwa menjadi murid-Nya bukanlah soal “duduk di mana” atau “memiliki posisi apa”, melainkan “barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dan inilah inti dari mengikuti Yesus dan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya: “melayani dan memberikan nyawa-Nya.”

Dari bacaan Injil hari ini, akhirnya kita belajar mengenai “Hati Seorang Ibu” (sederhana, jujur dan apa adanya) dan “Apa artinya menjadi seorang pengikut Yesus” (total melayani, baik di keluarga, Gereja, dan masyarakat untuk hidup kita saat ini — bahkan hingga berani menyerahkan nyawa-Nya). “Kita dipanggil untuk itu: memiliki hati Seorang Ibu dan menjadi Pengikut Yesus!”

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Selasa, 24 Juli 2018

Renungan Harian GML : APA TUJUAN HIDUPKU?



BACAAN
Mi 7:14-15.18-20 – “Semoga Tuhan mencampakkan segala dosa kita ke dalam dasar laut”

Mat 12:46-50 – “Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah saudara-saudara-Ku? Dan sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Ia bersabda, ‘Inilah ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku.’”

RENUNGAN
1.Ketika saya memberi retret, selalu bertanya: “Apa tujuan hidupmu?” Banyak jawaban: ingin kaya raya, ingin punya rumah dan mobil, ingin punya isteri cantik, dan seterusnya. Apa jawaban Anda? St. Ignatius dalam buku Latihan Rohani menulis: “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya ....” (LR 23). St Faustina dalam buku hariannya menulis: “Tujuanku adalah bersatu erat dengan Allah lewat kasih, misiku adalah memuji serta memuliakan kerahiman ilahi” (BCH 729). Dari semua ciptaan hanya manusia yang mampu mengerti dan mencintai Penciptanya. Untuk itu Allah membantu kita dengan memberikan Anak-Nya agar kita mengikuti dan belajar daripada-Nya agar kita mampu mewujudkan tujuan hidup kita.

2.Tujuan hidupku akan tercapai bila aku selalu melakukan kehendak Allah. Jadi misiku adalah memenuhi tujuan hidup. Menggunakan kata-kata Tuhan: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh 8:29). Untuk itu kita hanya mengerjakan apa yang kita putuskan dalam terang kehendak Tuhan.

3.Siapa pun yang melakukan kehendak Allah, ia adalah anggota keluarga Kristus dan Tuhan menyambut mereka yang melakukan kehendak-Nya. Jika kita setia terhadap panggilan dan memenuhinya, kita memenuhi harapan Tuhan. Tidak ada yang akan menyenangkan hati Allah, kecuali ketika Allah berkata kepada kita: "Mari hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34).

MaxS, 24.7.18,

Senin, 23 Juli 2018

"KAPEL YANG BARU RASANYA. ..WIH... APIK TENAN.... NYEESSS. ..SUASANA YANG LANGSUNG ADEM" (Mgr Rubiyatmoko)



PEMBERKATAN KAPEL,  PANTI IMAM DAN TEMPAT TRANSIT PEZIARAH GML OLEH MGR.  ROBERTUS RUBIYATMOKO


Pembanguan Panti Imam, Kapel Joglo Goa Maria Lawangsih, tempat transit peziarah sudah mencapai tahap Finishing (sekitar 90%). Pembangunan ini memakan waktu +- 5 bulan dan dibiayai oleh donatur dari para peziarah.  

Bertepatan dengan pemberian Sakramen Penguatan di Gereja Pelem Dukuh (Sabtu 21 Juli 2018), Bapa Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberkati Kapel, Panti Imam dan tempat transit peziarah Goa Maria Lawangsih.

Prosesi diawali dengan laporan singkat dari ketua pengelola Goa Maria Lawangsih (Bp. Th. Supino)  dilanjutkan prakata yang cekak dan tidak aos (ulas Mgr Ruby) dari Romo Modestus Supriyanta Pr sebagai Romo Paroki Gereja Pelem Dukuh,  untuk mempersilahkan Bapa Uskup memulai doa pemberkatan. 

Doa bersama dipimpin Bapa Uskup sambil menumpangkan tangan, dilanjutkan pemotongan pita sebagai simbolis "pengesahan" bahwa kapel sudah diberkati dan sudah bisa dipakai untuk beribdah. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti dan pemercikan air suci baik di kapel maupun di panti imam. Tak lupa salib-salib yg akan dipasang di panti imam diberkati dan di perciki air suci oleh Mgr Ruby. 


Kesan pesan Mgr.  Robertus Rubiyatmoko untuk Goa Maria Lawangsih : 
Kapel yang baru rasanya ..wih..apik tenan …nyes…suasana yang langsung adem inilah yang saya rasakan ketika memasuki kompleks Goa Maria Lawagsih. Ini bagi saya kedua kalinya saya kesini…beberapa waktu yang lalu saya kesini dengan suasana yang sudah sangat mengesankan apalagi sekarang sudah ditambah dengan banguna-bangunan yang baru : kapel –pendopo - rumah transit. Bagi saya ini makin menyempurnakan dan melengkapi umat yang ingin memuji Tuhan, ingin bertemu Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria.
Tadi ketika saya kembali berdoa dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus didalam sana rasanya sungguh-sungguh ada suasana yang sagat  lain sekali dari waktu lalu.Pada Bunda Maria dan Tuhan Yesus saya hanya meminta dan memasrahkan umat di Keuskupan Agung Semarang pada pendampingannya. Saya sungguh merasakan betapa Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang ada ditempat ini sungguh ngopeni dan ngayomi dan menyelenggarakan kehidupan kita dari waktu ke waktu.

Maka nama Lawagsih disini bagi saya bukan hanya karena disini banyak lawanya tapi disini menjadi pintu dimana kita bisa menemuka sih, rahmat anugerah  Tuhan, ditempat ini kita bisa nyadong mengharapkan untuk medapatkan rahmat Tuhan yang berlimpah sesuai apa yang kita butuhkan sesuai kehendak Tuhan. Maka saya sangat mendukung umat siapapun untuk datang ketempat ini untuk bertemu dengan Tuhan dan Bunda Maria bahkan dengan sesama umat beriman. Mudah-mudahan dengan perjumpaan kita dengan Bunda Maria dan Tuhan Yesus ditempat ini semakin membuat kita merasakan ayem tentrem merasakan ademnya Tuhan yang ada di dalam hati kita masing-masing.
Maka Wartakanlah bahwa di tempat  ini ada tempat peziarahan yang sangat bagus, tempat peziarahan yang sungguh-sungguh akan mengarahkan kita kepada suasana hati yag semakin aden semakin ayem dan juga menjajikan anugerah yang berlimpah menjadi kekuatan kita untuk perjuanan selanjutnya.
Maka pada kesempatan ini saya mengucapkan SELAMAT…PROFICIAT…NDHEREK MANGAYUBAGYO atas tempat peziarahan ini dan hadirnya Kapel tempat peribadatan kita - rumah transit para Romo da para peziarah. Semoga bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan semakin mendekaktakan kita pada Tuhan dan sesama. Demikian…matur nuwun..Berkah Dalem dan selamat berziarah.

FOTO SELANGKAPNYA klik disini

Renungan Harian GML : YANG DIBUTUHKAN ADALAH PERCAYA, BUKAN TANDA



BACAAN
Mi 6:1-4.6-8 – “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu, apa yang dituntut Tuhan daripadamu”

Mat 12:38-42 – “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda”

RENUNGAN
1.Yesus telah banyak membuat mukjijat di hadapan bangsa Israel. Bagi yang punya mata hati, seharusnya mengerti bahwa Allah berkarya dalam diri Yesus. Namun orang-orang Parisi dan para ahli Taurat terus minta tanda yang membuktikan bahwa Yesus adalah berasal dari Allah. Mereka tidak diberi tanda selain tanda nabi Yunus. Mengapa mereka tidak diberi tanda? Karena mereka tidak mau berdialog dan tidak mau membuka hati kepada Yesus; mereka tidak mau tahu akan apa saja yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus. Oleh Yesus, mereka digolongkan sebagai kelompok orang buta, angkatan yang jahat dan tidak percaya.

2.Yesus telah setia kepada bangsa-Nya tetapi bangsa-Nya  yang tidak setia dan telah menyusahkan hati Tuhan. Kita ini umat yang disayangi Tuhan, bukankah sudah seharusnya kita membalas kesetiaan Tuhan dan bukannya malahan sibuk meminta tanda? Apakah kita masih perlu bukti untuk percaya bahwa Yesus adalah wajah Allah di dunia ini? Apakahkita masih perlu bukti bahwa Yesus selalu menyertai kita?

maxsRi, 23.7.18.

Sabtu, 21 Juli 2018

Renungan Harian GML : SIAP DISELAMATKAN YESUS?



BACAAN
Mi 2:1-5 – “Mereka merampas ladang-ladang dan menyerobot rumah-rumah”

Mat 12: 14-21 – “Banyak orang mengikuti DIa, dan Ia menyembuhkan mereka semuanya”

RENUNGAN
1.”Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka, lalu menyingkir dari sana.” Bagi Yesus, “saatnya” belum tiba, maka Dia menyingkir dan tidak mau memancing perselisihan yang tidak perlu dengan orang-orang Parisi. Tidak ada gunanya mengajak mereka untuk refleksi diri dan bertobat, karena hati mereka begitu keras dan tertutup dan mereka tidak ada keinginan untuk mendengarkan. Kadang-kadang kita perlu mundur ketika berhadapan dengan ketidak-cocokan, salah paham, dan saat emosi melonjak sampai hati tenang dan siap untuk mendengarkan kebenarannya.

2.”Banyak orang mengikuti Dia, dan Ia menyembuhkan mereka semua.” Jangan membayangkan bahwa penyakit yang disembuhkan semuanya sakit phisik. Yesus begitu lembut dan rendah hati, sehingga setiap orang dapat datang kepada-Nya. Jika seseorang datang kepada Yesus, maka yang pertama-tama ia inginkan adalah kesembuhan jiwa yang telah dirusak oleh dosa. Bahkan sampai sekarang ini Yesus rindu untuk merangkul jiwa-jiwa yang berdosa dan memulihkannya secara utuh. Dalam terang sikap Yesus ini, kita melihat kontras: Orang Parisi selalu berusaha untuk membunuh, sedangkan Yesus selalu memberi kehidupan baru kepada mereka yang datang kepada-Nya.

3.Yang dibutuhkan Yesus adalah bara api iman dan harapan untuk mengubah kehidupan seseorang.  Namun demikian Tuhan menghargai kebebasan setiap orang dan menyerahkan kepada yang bersangkutan. Sebenarnya sedari awal Tuhan memberikan manusia keinginan untuk mencari yang ilahi. Jadi dari sononya, orang itu pada dasarnya sudah religius. Dari semula Allah melengkapi kita dengan iman, harapan, dan kasih. Tapi apa yang sudah ditanamkan Allah itu bisa hilang jika kita tidak merawatnya dan cenderung mengikuti cinta diri, acuh-tak acuh dan sekularisme. JIka kita kembali kepada Yesus, kita akan menemukan bahwa Dia menunggu kita dengan kerinduan yang dalam.

maxsRi, 21.7.18,

Jumat, 20 Juli 2018

Renungan Harian GML : KAPAN SAJA DAN KEPADA SIAPA SAJA, ALLAH MENGASIHI TANPA BATAS


BACAAN
Yes 38:1-6.21-22 – “Aku telah mendengar doamu dan melihat air matamu”

Mat 12:1-8 – “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”

RENUNGAN
1. Bagi Yesus dan para murid-Nya, akhir pekan atau Sabat merupakan hari  paling sibuk karena harus melakukan tugas pelayanan. Mereka tidak sempat beristirahat. Para murid berpartisipasi dengan misi Yesus, sehingga banyak masalah bisa ditanggulangi. Ketika kita mengandalkan Yesus dan menyatukan diri dengan-Nya, kita dapat menjadi sabar dan  damai di tengah banyaknya masalah.

2. Bagi orang-orang Yahudi, Sabat merupakan kesempatan untuk mengingat dan merefleksikan perjanjian istimewa antara mereka dengan Allah, di mana Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan dan memberi waktu untuk istirahat. Tetapi orang-orang Parisi hanya berfokus dan terobsesi pada “apa yang tidak boleh dikerjakan” dan gagal  melihat “apa yang seharusnya dikerjakan.” Pada hari Sabat (Minggu), kita ke gereja untuk menerima Kristus,  karena kita telah dibebaskan dari perbudakan dosa. Allah terus mengasihi kita dan minta agar kita mengasihi Dia dan orang lain dengan segenap hati.

3.Dalam tugas perutusan, para murid semakin paham arti dan tujuan misi Yesus. Ia mengajar mereka agar berpartisipasi dalam acara Sabat dengan penuh semangat, tetapi juga terbuka terhadap kebutuhan orang lain, juga ketika hari Sabat. Bagi kita, tidak masalah ketika mengadakan amal atau berbagi atau melayani orang-orang sakit pada hari Minggu. Tindakan kasih, kapan saja, merupakan perwujudan perutusan yang kita terima ketika bertemu dengan Kristus dalam Ekaristi.

mSRI, 20.7.18,

Kamis, 19 Juli 2018

Renungan Harian GML : KUK YANG MELEGAKAN



BACAAN
Yes 26:7-9.12.16-19 – “Hai kalian yang sudah dikubur dalam tanah, bangkitlah dan sorak-sorailah”

Mat 11:28-30 – “Aku ini lemah lembut dan rendah hati”

RENUNGAN
1.Kita merasa terbebani karena melakukan pekerjaan dengan benar, ketika orang-orang di sekitar kita melakukan dengan jalan pintas. Kita terbebani karena dosa-dosa dan kelemahan yang mengganggu hidup kita. Kita terbebani karena kegagalan. Batin yang terbebani, itu namanya kuk perhambaan. Apa yang harus kita buat? Datang kepada Yesus! Ia memanggil kita tidak untuk mengikuti prinsip-prinsip dan cita-cita mulia, tetapi untuk mengenal pribadi-Nya dan mengikuti Dia.

2.Rasul Paulus menasehati jemaat di Galatia untuk hidup merdeka dalam Kristus: “Kristus telah memerdekakan kita. Karena  itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal 5:1). Kita berada dalam kuk perhambaan jika kita menjadi budak seksual, kesombongan, dan egoisme. Yesus menyebut kita sahabat, bukan hamba karena Yesus sudah memerdekakan kita. Kita menjadi orang merdeka jika kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya secara bebas ke mana pun Ia memimpin kita.

3.Dalam Dia jiwa kita mendapat kelegaan. Kelegaan dalam Kristus berarti peace, joy dan profound happiness. Inilah kelegaan yang kita cari. Tapi catatlah bahwa Kristus tidak berjanji untuk menyingkirkan beban, percobaan dan penderitaan kita. Tetapi jika kita mengikuti kuk Yesus, jika kita mengikuti rencana-Nya, kehendak-Nya, cinta-Nya, Ia menjamin bahwa kita akan memperoleh peace, joy dan happiness; kelegaan. Cobalah!

MSri, 19.7.18,

Rabu, 18 Juli 2018

Renungan Harian GML : TERBUKA DAN MENERIMA YESUS



BACAAN
Yes 10:5-7.13-16 – “Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya?”

Mat 11:25-27 – ” … semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil”

RENUNGAN
1. Hikmat, pengetahuan dan pengertian merupakan tiga dari tujuh karunia Roh Kudus. Tidak masalah orang memiliki hikmat kebijaksanaan dan pengetahuan. Yang dipermasalahkan Yesus adalah kesombongan karena merasa memiliki himat dan merasa diri paling terpelajar. Sebenarnya mereka hanya mencari pujian untuk dirinya sendiri dan menutup diri terhadap Allah. Mereka  menolak ajaran Yesus, karena itu misteri Kerajaan Allah tersembunyi bagi mereka dan dinyatakan bagi orang kecil.

2.  Anak/orang kecil berpikir sederhana, jujur, terbuka, apa adanya, tidak rumit dan sangat bergantung. Yesus tidak menghendaki kita kekanak-kanakan, tetapi menghendaki menjadi seperti anak kecil agar bisa menerima Kerajaan Allah. Kerajaan Allah tidak lain adalah Tuhan Yesus. Dia satu-satunya pribadi yang memiliki mandat untuk menyatakan Allah, tidak ada yang lain.

3. Yesus, sebagai Anak, mengenal Allah sebagai Bapa. Yesus tahu apa yang dikehendaki Bapa. Kehendak Bapa disampaikan kepada Yesus, dan Yesus menyatakannya kepada orang-orang kecil, karena mereka terbuka terhadap apa yang diajarkan Yesus. Sudahkah aku menerima ajaran Yesus dan menjadikannya sebagai roh dan jiwa hidup kita?

maxsriyanto, 18.7.18,

Selasa, 17 Juli 2018

Renungan Harian GML : TIDAK BERTOBAT BERARTI PETAKA



BACAAN
Yes 7:1-9 – “Jika kamu tidak percaya, niscaya kamu tidak teguh jaya”

Mat 11:20-24 – “Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu”

RENUNGAN
1.Orang-orang di kota-kota yang dikunjungi Yesus tidak mau menerima pesan tentang Kerajaan Allah. Mereka semakin mengeraskan hati dan menolak undangan Yesus untuk bertobat. Maka Yesus berkata: “Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida!” Hal yang sama akan dikatakan Yesus kepada kita jika tidak mau bertobat.

2.Mereka suka melihat dan menikmati segala kebaikan Tuhan lewat mukjijat dan pengajaran. Namun mereka hanya sebatas menikmati, tetapi tidak pernah bersyukur dan berterima kasih apalagi mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Banyak kebaikan yang telah dibuat oleh para murid Kristus demi kemanusiaan dan kemajuan masyarakat, sejauh mana mereka tergerak untuk menerima dan percaya pada Kristus?

3.Bagaimana dengan kita? Kebaikan Allah selalu dibuat di antara kita dan semua orang lain. Kita perlu membuka mata, budi, dan hati untuk selalu bersyukur, bertobat, dan mengubah cara hidup kita. Namun tidak cukup kita hanya menerima Kristus, tetapi harus bersaksi dan mewartakannya kepada orang lain agar mereka selamat.

4.Kita harus siap menerima konsekuensi mengerikan jika kita menganggap sepi  dosa dan tidak mau bertobat.

Msri, 17.7.18,

Senin, 16 Juli 2018

Renungan Harian GML : PEDANG PERTOBATAN



BACAAN
Yes 1:11-17 – “Bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatan jahat dari depan mata-Ku”

Mat 10:34-11:1 – “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”

RENUNGAN
1.”Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Serem dan menakutkan. Padahal Yesus selalu bicara tentang damai. Ia memberikan damai kepada kita: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu” (Yoh 14:27).Terus piye?

2.Begini. Yesus itu selalu merupakan paradox. Yesus selalu mengajarkan  kebenaran, cinta, keadilan dan kebebasan bagi setiap orang, tetapi di mana pun Ia dipandang sebagai subversif dan berbahaya. Demikian juga para pengikut-Nya sering dipandang sebagai penghalang yang mengancam kepentingan banyak orang, sehingga tidak jarang para murid Yesus mengundang perlawanan, penganiayaan, bahkan kematian.

3.Yesus benar-benar membawa pedang. Kita tahu bahwa tidak setiap orang hidup di jalan yang benar, termasuk yang mengaku beriman. Tidak semua orang hidup seturut apa yang diajarkan Yesus, bahkan mereka melawan ajaran Yesus dan para murid-Nya. Kepada mereka ini pernyataan Yesus benar: “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Pedang tidak untuk membunuh mereka, tetapi untuk mempertobatkan mereka. Pedang merupakan simbol peringatan keras dan mendesak, bahwa orang harus bertobat.

4.Pesan Injil hari ini, Yesus menghendaki terbentuknya sebuah keluarga baru, dengan cara hidup yang sama sekali baru seturut kehendak-Nya, sehingga tidak perlu ada saling berbantah dan saling mengkafirkan dalam keluarga. Keluarga baru yang masing-masing anggotanya mampu melihat apa yang Tuhan lihat, mengerjakan apa yang Tuhan kerjakan. Dengan demikian Tuhan memberkati mereka dan mengasihi mereka. Ayo kita bangun baru keluarga kita. Jangan terlambat!

MS, 16.7.18,

Minggu, 15 Juli 2018

Renungan HarIan GML : Misi Yesus Adalah Misiku



BACAAN
Amos 7:12-15 – “Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku”

Ef 1:3-10 – “Di dalam Kristus Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan”

Mrk 6:7-13 – “Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua-dua”

RENUNGAN
1. Para murid telah meninggalkan keluarga, sanak-saudara, dan mengikuti Yesus. Mereka diutus berdua-dua dan diberi kuasa atas roh-roh jahat dan menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan. Hal ini menunjukkan bahwa warta yang disampaikan benar-benar warta kebenaran. Diutus berdua-dua supaya mereka saling meneguhkan dan menguatkan, dengan demikian perutusan mereka menjadi lebih efektif.

2. Mereka tidak perlu membawa apa-apa. Mereka diajak untuk percaya kepada penyelenggaraan Allah lewat kemurahan hati orang-orang yang didatangi. Sekarang perlawanan bukan hanya terhadap Yesus, tetapi juga terhadap para murid. Sukacita pun tidak lagi terbatas karena Yesus, tetapi juga karena para murid.

3. Dengan pewartaan, Allah menghendaki semua orang selamat. Syaratnya adalah mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Namun keselamatan adalah sebuah pilihan. Semua orang memiliki kebebasan untuk memilih. Apakah keselamatan menjadi pilihan utama hidupku?

4.Apa yang harus kita buat? Banyak dari antara kita yang tidak pandai berkhotbah seperti para rasul, dan tidak banyak yang bisa menyembuhkan penyakit. Kalau begitu tugas kita adalah menyapa orang lain dengan penuh kasih dan keramahan, memberi perhatian, dan terlibat dalam pergulatan hidup orang lain. Sekarang ini semua orang merasa sibuk dan tidak punya waktu. Kapan aku mewujudkan tugas perutusan Tuhan?

MS, 15.7.18,

Sabtu, 14 Juli 2018

Renungan Harian GML : JANGAN TAKUT!



BACAAN
Yes 6:1-8 – “Aku ini orang yang berbibir najis, dan mataku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam”

Mat 10:24-33 – “Janganlah takut kepada mereka yang membunuh badan”

RENUNGAN
1.Tidak usah heran kalau seorang murid Yesus mengalami ketidak-adilan dan penderitaan Salib. Seorang murid identik dengan Sang Guru. Yang mengherankan dan harus cemas, justru jika seorang murid Yesus tidak mengalami Salib.

2.Lewat medsos, orang-orang sekarang ini sangat suka menjungkirbalikkan fakta  dan menyebarkan fitnah yang mengubah kebenaran menjadi kebohongan dan kebohongan menjadi kebenaran. Hal demikian justru yang amat disukai orang kebanyakan. Di tengah hiruk pikuk fitnah, kita tidak perlu kendor dan tidak perlu takut untuk tetap menyatakan kebenaran seperti diajarkan Tuhan.

3.Yang harus kita waspada adalah ketika kita benar-benar mengalami tantangan, kesulitan, dan  penderitaan karena Salib, kita menyembunyikan kebenaran, bahkan menyembunyikan jati diri sebagai seorang murid Kristus. Hal ini akan sangat menyakitkan hati Allah dan kita bisa kehilangan segalanya.

4.Tetapi memang benar, bahwa tantangan, kesulitan dan penderitaan karena Salib merupakan batu uji iman kita. Banyak orang jatuh karena hal ini. Namun kita tidak perlu takut menjadi saksi dan murid Kristus. “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia” (2Tim 2:11).

MsRI, 14.7.18,

Jumat, 13 Juli 2018

Renungan Harian GML : BERTAHAN SAMPAI KESUDAHANNYA



BACAAN
Hos 14:2-10 – “Kepada buatan tangan kami, kami takkan berkata lagi, ‘Ya Allah kami’”

Mat 10:16-23 – “Barangsiapa bertahan sampai kesudahannya, akan selamat”

RENUNGAN
1.Apa yang dikatakan Yesus menjadi kenyataan. Para murid Yesus mengalami banyak sekali tantangan, penganiayaan, bahkan kematian karena iman mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perutusan sungguh sulit dan penuh bahaya. Siapa saja yang setia mengikuti Yesus dapat mengalami pengalaman yang sama dengan Sang Guru.

2.Justru dalam banyak kesulitan, tantangan, bahkan penganiayaan itulah, kita akan menjadi tahu siapa yang setia di jalan Tuhan dan siapa yang menyimpang dari jalan-Nya. Banyak orang tidak setia dan meninggalkan Yesus karena tidak mau menghadapi kesulitan dan salib; mereka memilih jalan yang lebar, enak dan nyaman. Keselamatan kekal tidak menjadi fokus hidup mereka.

3.Tuhan mengetahui kelemahan kita, di mana kita suka plin-plan (Yoh 2:25). Maka Yesus mengingatkan, agar kita tidak terlalu percaya kepada orang lain, karena orang lain juga memiliki kelemahan seperti kita. Kepercayaan kita hanyalah Yesus; “Yesus, Engkau andalanku.”

4.Percaya dan mengandalkan Yesus sama dengan beriman sampai akhir kepada Yesus. Seorang pun tidak akan menerima kehidupan kekal, kalau ia tidak “bertahan sampai kesudahannya” (Mat 10:22; 24:13; Mrk 13:13) dalam iman yang hidup dan berkualitas.

MaxSRI, 13.7.18,

Kamis, 12 Juli 2018

Renungan Harian GML : KITA ADALAH HADIAH BAGI ORANG LAIN



BACAAN
Hos 11:1b.3-4.8c-9 – “Hatiku berbalik dari segala murka”

Mat 10:7-15 – “Kamu telah memperoleh dgn cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma”

RENUNGAN
1.Dalam Injil hari ini Yesus masih berbicara tentang perutusan para murid. Tugas yang harus dilaksanakan adalah menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, dan mengusir setan-setan. Intinya ialah membuat orang lain sukacita, bahagia dan selamat.

2.Masalahnya adalah bagaimana kita dapat membantu orang lain dalam pergulatan hidupnya? Apa yang dapat kita buat untuk berbagi sukacita, harapan dan kegembiraan dengan orang-orang yang kita jumpai hari ini?

3.Jangan berpikir tentang uang. Kita selalu terjebak bahwa harus memberi uang. Yesus memberi kita banyak rahmat dan memanggil kita untuk membagikannya kepada orang lain. Mungkin yang kita berikan terasa kecil, tapi sangat besar manfaatnya, misalnya mengunjungi orang sakit, mengunjungi orang yang kesepian, menyapa dengan senyuman. Bermurah hati lewat sapaan, senyuman, tertawa, cinta, dan perhatian akan membuat orang lain menjadi sembuh, hidup kembali, dan memiliki semangat dan harapan baru.

4.Termasuk menjadi berkat bagi orang lain, jika kita ke gereja benar-benar mematikan hp dan tidak ngobrol ngalor-ngidul, apalagi minum akua dengan santainya saat misa berlangsung.

MSRI, 12.7.18,

Rabu, 11 Juli 2018

Renungan Harian GML : MULAI DARI DIRI SENDIRI



BACAAN
Hos 10:1-3.7-8.12 – “Hati mereka licik! Sekarang mereka harus menanggung akibat kesalahannya”

Mat 10:1-7 – “Pergilah dan wartakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat.”

RENUNGAN
1.Selama Yesus masih hidup, para murid mengikuti Dia, Sang Guru, membangun komunitas bersama Dia, dan melaksanakan perutusan yang sama dengan Dia, yaitu mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan segala macam penyakit.

2.Para murid Yesus adalah orang-orang sederhana, tidak berpendidikan. Yesus menunjuk duabelas (12) murid sebagai Rasul. Mereka diutus: “Pergilah dan wartakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat.” Unsur utama pewartaan adalah pertobatan dan mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, Penyelamat. Bagaimana cara meyakinkan orang jaman sekarang yang semakin jauh dari Allah? Di Eropa, sepak bola lebih menarik daripada ke gereja; puluhan ribu manusia berkumpul di stadion nonton sepak bola. Mereka ke gereja? Di masyarakat kita, gadget lebih menarik daripada duduk berdoa. TV lebih mengesankan daripada pendalaman Kitab Suci di lingkungan. Piye jal?

3.Harus mulai dari diri sendiri, jangan menuntut orang lain! Kita mesti berani menjadikan Kristus sebagai pusat hidup kita, yang kita wujudkan dalam sikap dan tindakan peduli, mengasihi, dan perhatian. Cara hidup seperti itu bisa menjadikan dunia di mana kita hidup menjadi tempat yang lebih baik bagi setiap orang. Dan Kerajaan Allah hadir. Kapan kita mulai?

MS, 11.7.18,

Selasa, 10 Juli 2018

Renungan Harian GML : Tuaian Memang Banyak, tetapi Sedikitlah Pekerjanya

10 Juli 2018
Mat 9:32-38

Bacaan Injil hari ini sungguh menarik. Kita bisa melihat 3 karakter dan 3 hal yang berbeda:

Sebagai pengantar, Matius memberi konteks Injil kita hari ini: “Pada suatu hari dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan diusir, orang bisu itu dapat berbicara.” Dari sini muncullah 2 karakter lainnya. Yang pertama, muncullah orang banyak dan berkata: “Hal semacam ini belum pernah dilihat orang di Israel!” Orang banyak ini merasa takjub dan keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Yesus pada orang bisu yang kerasukan setan ini. Pada saat yang sama, muncullah karakter yang kedua, orang Farisi. Dalam hal ini, orang banyak dan orang Farisi melihat hal yang sama: “Yesus membuat mukjizat.” Namun kali ini, orang Farisi menanggapinya dengan jauh berbeda dari orang banyak: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan!” Tanggapan ini penuh dengan “kesinisan”. Jika orang banyak itu menanggapi dengan obyektif tanpa memberi penilaian: “Hal semacam ini belum pernah dilihat orang di Israel!” Namun lain halnya dengan orang Farisi, ia tak menanggapi hal yang terjadi “Yesus menyembuhkan orang bisu” melainkan ia memberi penilaian: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan!” Di sini, tidak obyektif lagi.

Dan lebih menarik lagi, dalam kisah Injil hari ini. Setelah “penilaian orang Farisi” ini terjadi, “Lalu apa yang terjadi?” Yesus sebagai aktor utama dalam kisah ini tidak berbicara satu kata pun untuk menanggapi penilaian negatif orang Farisi ini, bahkan Yesus tidak membela diri sama sekali. Justru sebaliknya, Matius hanya menggambarkan: “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan mewartakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Dari gambaran ini, karakter Yesus menjadi lebih jelas, Ia tidak begitu tertarik dengan penilaian buruk dari orang lain, Ia tidak mencoba untuk membela diri, melainkan sebaliknya, Yesus terus berkarya dan berkarya, bekerja dan bekerja – mengajar, mewartakan Injil dan menyembuhkan banyak orang. Dan akhirnya, Yesus pun berkata pada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Jadi jelas, Yesus membutuhkan “pekerja-pekerja” bukan “orang yang hanya berkomentar negatif atau sibuk membela diri”.. bukan.. bukan itu.. Melainkan Ia membutuhkan para pekerja di ladang-Nya. Ladang itu adalah “dunia”. Apapun peran kita dalam keluarga, masyarakat, Gereja, atau pun dalam tempat kerja; kita selalu dapat menyumbangkan sesuatu bagi dunia. Ia yang telah mengutus kita ke dunia ini, Ia pula yang akan menyempurnakan. Pertanyaannya sekarang bukan “layak atau tidak?”; melainkan “aku mau atau tidak?” Tuaian memang banyak!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Senin, 09 Juli 2018

Renungan Harian GML : NEVER GIVE-UP



BACAAN
Hos 2:13.14-15.18-19 – “Aku akan menjadikan dikau isteriku untuk selama-lamanya”

Mat 9:18-26 – “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup”

RENUNGAN
1. Seorang kepala rumah ibadat mempunyai keyakinan bahwa Yesus memiliki kekuatan untuk membangkitkan anaknya yang telah meninggal. Ketika mereka menuju rumah kepala ibadat, ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun sakit pendarahan datang mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya untuk disembuhkan. “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”  Seorang kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang sakit pendarahan adalah orang-orang yang punya keyakinan dan iman kepada Yesus. Dan Yesus menjadi satu-satunya pengharapan.

2. Karena iman, maka apa yang mereka harapkan dan yakini terwujud. Yesus bersedia menyembuhkan mereka. Hal ini merupakan kesetiaan Tuhan terhadap umat-Nya. Kesetiaan yang sering kita balas dengan ketidaksetiaan, dengan sikap acuh tak acuh, bahkan dengan berdosa.

3.Apakah kita akan tetap beriman kepada Yesus ketika kita menghadapi persoalan berat, bahkan kegagalan yang bertubi-tubi? (Bagi yang telah mengalami pencobaan, kegagalan, bahkan kehancuran, baru akan bisa menjawab dengan tepat).

msri, 9.7.18,

Minggu, 08 Juli 2018

Renungan Harian GML : MENGUBAH CARA PANDANG



BACAAN
Yeh 2:2-5 – “Mereka adalah kaum pemberontak! Tetapi mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka”

2Kor 12:7-10 – “Aku lebih suka bermegah atas kelemahanku, agar kuasa Kristus turun menaungi aku”

Mrk 6:1-6 – “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri”

RENUNGAN
1.”Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri.” Hanya karena latar belakang keluarga, orang-orang Nasaret tidak percaya dan menolak Yesus. Apa alasannya? Mereka tidak bisa menerima bahwa Allah dan kuasa-Nya hadir dalam diri Yesus, orang biasa, anak tukang kayu dan tetangga mereka.

2.Tidak ada penerimaan dan tidak percaya kepada Yesus, akibatnya fatal: Yesus tidak membuat mukjijat  untuk mereka. Mereka kehilangan rahmat Allah bahkan keselamatan kekal.

3.Sama seperti orang-orang kampung halaman Yesus, kita juga sering berprasangka buruk terhadap orang lain berdasarkan latar belakang: pendidikan, agama, suku, asal-usul. Kita tertutup untuk melihat keunikan dan kelebihan orang lain. Dengan sikap hidup seperti ini, sama seperti orang-orang sekampung Yesus, kita juga akan kehilangan rahmat bahkan keselamatan kekal.

4.Terus kudu piye? Mengubah cara pandang. Memandang orang lain dengan sudut pandang positip, melihat keunikan dan kelebihannya daripada melihat apa yang negatip. Hanya dengan cara demikian kita akan berkelimpahan rahmat Allah dan selalu membuka kesempatan Allah membuat mukjijat dalam hidup kita.

maSRIyanto, 8.7.18,

Sabtu, 07 Juli 2018

Renungan Harian GML : Berpuasa untuk Mendekatkan Diri pada Tuhan.



Bacaan Liturgi 07 Juli 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa XIII

Bacaan Injil
Mat 9:14-17
Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laku-laki berdukacita
selama mempelai itu bersama mereka?

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes
kepada Yesus dan berkata,
"Kami dan orang Farisi berpuasa,
tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?"
Jawab Yesus kepada mereka,
"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita
selama mempelai itu bersama mereka?
Tetapi akan tiba waktunya mempelai itu diambil dari mereka,
dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut
pada baju yang tua,
karena jika demikian,
kain penambal itu akan mencabik baju itu,
lalu makin besarlah koyaknya.
Begitu pula
anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua,
karena jika demikian
kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang
dan kantong itu pun hancur.
Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru,
dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya."


Renungan:
Tujuan orang berpuasa adalah untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Semua yang hidup di dunia ini suatu saat nanti akan mati. Begitulah setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan memasuki alam kematian pada waktunya. Ketika mati, manusia pergi dari dunia dan kembali menuju kepada Tuhan. Oleh karena itu, apabila ada orang meninggal, biasanya dikatakan: "Dia telah dipanggil Tuhan" atau "Dia sudah berpulang" atau "Dia sudah kembali ke Rumah Bapa". Bisa dikatakan bahwa tujuan akhir manusia hidup adalah menuju kepada Tuhan. Tuhan adalah asal dan tujuan hidup manusia.

Hal yang paling tepat dan paling baik untuk mengisi hidup ini adalah berusaha untuk semakin dekat kepada Tuhan. Banyak cara yang telah digunakan oleh manusia untuk berusaha semakin dekat dengan Tuhan. Di antara usaha itu ialah doa, amal dan puasa. Hari ini Injil berbicara tentang puasa.

Aneh bahwa murid-murid Yesus tidak berpuasa. Lalu Yesus mengibaratkan para murid yang tidak berpuasa ini seperti sahabat mempelai yang sedang berpesta. Tidak mungkin seorang yang sahabatnya sedang pesta nikah, malah melakukan puasa.

Yesus lah mempelai itu. Para murid adalah sahabat mempelai itu. Maka selagi para murid bersama Yesus, saat itu bukanlah waktunya berpuasa melainkan waktunya untuk bersuka cita.

Lebih dari itu, Yesus adalah Tuhan. Tujuan berpuasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat itu para murid sudah bersama Yesus. Mereka sudah dekat dengan Yesus. Artinya mereka dekat dengan Tuhan. Maka tidak ada maknanya lagi bila mereka berpuasa waktu itu. Mereka sudah sampai pada tujuan.

Ibaratnya, orang mengerjakan ujian supaya lulus. Setelah lulus maka tidak perlu ujian lagi. Demikian tujuan orang beriman adalah supaya dekat dengan Yesus. Oleh karena itu para murid yang sedang bersama Yesus, tidak perlu berpuasa. Sedangkan kita sekarang ini perlu menghayati seluruh hidup kita sebagai puasa. Seluruh hidup kita  hendaknya diarahkan sebagai usaha untuk semakin dekat dengan Yesus.

Rm Supriyono Venantius SVD

Jumat, 06 Juli 2018

Renungan Harian GML : MEREKA APA ADANYA




BACAAN
Amos 8:4-6.9-12 – “Aku akan mengirimkan kelaparan, bukan kelaparan akan makanan, melainkan kelaparan akan Sabda Tuhan”

Mat 9:9-13 – “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku menginginkan belaskasihan, bukan persembahan.”

RENUNGAN
1.Pada waktu itu, oleh orang-orang Parisi, pemungut cukai disamakan dengan perampok dan pendosa. Orang-orang Parisi tidak mau bergaul dengan mereka, apalagi makan bersama mereka. Tidak demikian dengan Yesus. Ia bergaul dan makan bersama mereka.

2.Yesus menyambut pemungut cukai, orang-orang berdosa dengan ramah, tanpa menghakimi, tanpa menghukum, tanpa memperhatikan latar belakang mereka. Semua orang disambut. Dan yang hebat: Yesus tidak menuntut perubahan apa pun dari mereka. Yesus hanya mengatakan: “Ikutlah Aku!” untuk melihat, bersama, dan mengalami Dia.

3.Sekarang ini Yesus juga memanggil kita: “Ikutlah Aku!” Kita dipanggil untuk melihat Yesus, bersama Dia, mengalami Dia, dan belajar dari Dia. Kita diharapkan mengalami sukacita dan belaskasihan Allah.

4.Namun kenyataannya adalah ini: Kita suka menuntut orang lain berubah seperti kita, mudah menggerutu, gampang mengadili orang lain, melihat orang lain dengan pandangan negatip, dan menebar ketidak puasan di sana-sini lewat berita hoax. Beranikah kita meninggalkan sikap-sikap negatif tersebut dan mengubahnya menjadi keramah-tamahan, menerima orang lain apa adanya dan berbagi sukacita tanpa keinginan mengubah mereka?

m.sriyanto, 6.7.18,

Kamis, 05 Juli 2018

Renungan Harian GML : YESUS MEMILIKI KUASA MENGAMPUNI DOSA DAN MENDELEGASIKANNYA KEPADA GEREJA



BACAAN
Amos 7:10-17 – “Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku”

Mat 9:1-8 – “Di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”

RENUNGAN
1. Dalam perjalanan ke Kaparnaum, Yesus berjumpa dengan seorang lumpuh. Yesus melihat iman dan keteguhan hati orang tersebut, maka Ia berkata: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Kata-kata pengampunan Yesus telah menyembuhkan orang tersebut.

2. Para ahli Taurat heboh atas tindakan Yesus tersebut. Yesus dianggap menghujat Allah karena mengucapkan kata-kata pengampunan. Jadi Yesus dianggap menyamakan diri dengan Allah. Siapa Yesus? Ia adalah Anak Allah: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28:18). Ia memiliki kuasa Allah, termasuk mengampuni dosa: “Di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Pengampunan sangat dirasakan oleh pemungut cukai dan para pendosa, ketika Yesus duduk makan bersama mereka. Bahkan Yesus mendelegasikan kuasa pengampunan dosa kepada Gereja.

3. Apa akar masalah kita? Menurut saya, akar masalah kita bukan ekonomi, bukan pendidikan tetapi dosa. Dosa telah kita biarkan beranak-pinak dalam hidup kita, maka kita menjadi stress, sakit phisik dan jiwa kita pun sakit; tidak ada harmoni dengan Allah dan sesama kita, bahkan tidak ada harmoni dalam keluarga kita sendiri. Semua itu karena dosa.

4.Pengampunan dosa menjadi kata kuci dalam seluruh pengajaran dan mukjijat Yesus. Maka langkah pertama adalah membangun kembali relasi yang akrab mendalam dengan Allah lewat pengakuan dosa, dilanjutkan dengan mendengarkan Sabda dan berdoa secara teratur, dan ke gereja untuk menyembah Allah bersama seluruh umat.

MSri, 5.7.18,

Rabu, 04 Juli 2018

Renungan Harian GML : YESUS MENGHANCURKAN KUASA KEGELAPAN



BACAAN
Amos 5:14-15.21-24 – “Jauhkanlah daripadaku keramaian nyanyianmu, dan biarlah keadilan selalu mengalir seperti sungai”

Mat 8:28-34 – “Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

RENUNGAN
1. Yesus berkuasa atas roh-roh jahat (kegelapan). Roh jahat disimbolkan dengan kuburan (tempat orang mati), babi (binatang najis), dan laut (symbol kekacauan). Kemenangan Yesus atas roh-roh jahat menjadi penghiburan dan kekuatan bagi umat Allah yang waktu itu tengah mengalami penganiayaan dan penindasan.

2. Penginjil Matius menghubungkan kuasa jahat dengan kuburan dan kematian, lambang kekuatan yang tanpa arah dan tujuan, merusak, dan membuat orang takut, kehilangan kesadaran dan penguasaan diri. Kekuatan yang semula kokoh kuat, hancur luluh di hadapan Yesus. Mereka kehilangan kekuatan, kehilangan otonomi dan konsistensi. Bagi siapa saja yang percaya kepada Yesus tidak perlu takut akan kekuatan roh-roh jahat, justru harus mampu mengalahkan mereka.

3. Kekuatan jahat yang sering membelenggu kita, antara lain kecanduan gadget, malas, acuh-tak-acuh terhadap Allah (kehidupan rohani) dan tidak peduli terhadap orang lain. Dengan majunya jaman seperti sekarang ini, justru kekuatan-kekuatan jahat semakin dominan. Bagaimana ini?

4. Kekuatan kegelapan/jahat mana yang harus kita  mohonkan kepada Tuhan untuk dibebaskan?

MS, 4.7.18,

Selasa, 03 Juli 2018

Renungan Harian GML : PESTA THOMAS RASUL: BERANI TERBUKA, NAMUN KRITIS, TERHADAP HAL YANG BARU



BACAAN
Ef 2:19-22 – “Kamu dibangun di atas dasar para rasul”

Yoh 20:24-29 – “YaTuhanku dan Allahku”

RENUNGAN
1.Terkadang kita memandang negatip keberimanan Thomas. Padahal masing-masing orang memiliki proses keberimanan sendiri-sendiri. Thomas minta bukti; ia tidak butuh cerita orang lain bahwa Yesus bangkit. Ia tidak butuh mukjijat untuk percaya, tetapi butuh melihat tanda-tanda pada tangan, kaki dan lambung Yesus. Bagi Thomas, Yesus yang mulia harus sama dengan Yesus yang menderita dan wafat di kayu salib. Ia ingin mengalami Yesus, bukan mendengarkan cerita tentang Yesus.

2.Ketika Yesus hadir di tengah-tengah mereka, dan Thomas ada beserta mereka, Tuhan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.” Ia tidak mengkritik dan tidak mengadili Thomas, namun menantang: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, …” Yesus mau membuktikan bahwa Tuhan yang bangkit adalah Tuhan yang disalib.

3.Thomas tidak menyentuh luka-luka Yesus. Ia tersungkur dan bersembah sujud di hadapan Yesus dan berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku.” Dalam perjumpaan dengan Yesus, Thomas melihat Allah seutuhnya  ada dalam diri Yesus.

4.Dari bacaan hari ini, kita diajak untuk terbuka terhadap kesaksian orang lain, terbuka terhadap pandangan baru. Lebih dari itu kita dituntut untuk memiliki iman yang autentik yang mampu mengubah cara pandang, cara pikir, dan cara hidup agar sesuai dengan apa yang dikehendaki Yesus.

Msri, 3.7.18,

Senin, 02 Juli 2018

Renungan Harian GML : IKUT YESUS? SIAP 86



BACAAN
Amsal 2:6-10.13-16 – “Mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu”

Mat 8:18-22 – “Ikutilah Aku”

RENUNGAN
1.Yesus memutuskan untuk pergi ke seberang danau, karena kerumunan orang mulai menghimpit Dia. Seorang ahli Taurat ingin mengikuti Dia: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

2.Banyak orang ingin mengikuti Yesus, tetapi tidak banyak yang berani menjalani semua konsekuensinya. Ada yang mau mengikuti Yesus, tetapi pasang syarat. Orang lain lagi mau mengikuti Yesus tetapi menunggu pensiun. Orang-orang seperti tersebut tidak akan pernah mengikuti Yesus.

3.Bila seseorang ikut dalam suatu organisasi atau partai politik, dia harus mengikuti peraturan dan anggaran dasar partai atau organisasi tersebut. Demikian juga bila seseorang mengikuti Yesus juga harus mengikuti anggaran dasar yang ditentukan oleh Yesus.

4.Ketentuan mengikuti Yesus: a) Meneladani contoh Sang Guru (Yoh 13:14). Yesus menjadi model untuk diteladani. Dalam “Sekolah Yesus” yang diajarkan adalah Kerajaan Allah dan Kerajaan Allah ini terwujud dalam kehidupan Yesus. b) Berpartisipasi aktip dalam tujuan Sang Guru. Setiap orang yang mengikuti Yesus harus membuat komitmen terhadap Yesus. c) Menerima dan mewujudkan hidup Yesus dalam hidup kita. Paulus memberi contoh kepada kita: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

5.Bagi ahli Taurat yang biasa hidup mewah dan terhormat, dituntut untuk memiliki sikap hidup tanpa pamrih, tidak ada jaminan, dan siap kehilangan banyak. Bagi seorang muda: Yesus harus menjadi prioritas, berani melepaskan kelekatan terhadap kekayaannya; tidak ada kompromi.

6.Siapkah aku?               

Minggu, 01 Juli 2018

Renungan Harian GML : TALITHA KOUM



BACAAN
Kitab Kebijaksanaan 1:13-15; 2:23-24 – “Karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia”

2Kor 8:7.9.13-15 – “Hendaklah kelebihanmu mencukupkan kekurangan saudara-saudara lain”

Mark 5:21-43 – “Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!”

RENUNGAN
1. Yesus menyembuhkan dua orang sakit berat. Pertama, wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, dan kedua penyembuhan terhadap anak Yairus.

2. Yairus, kepala sinagoga, datang kepada Yesus dan tersungkur di depan kaki-Nya. Ia memohon agar anaknya perempuan yang sedang sakit disembuhkan dengan menumpangkan tangan-Nya atas anaknya yang sakit, hampir mati. Dia yakin dan percaya bahwa Yesus bisa dan mau melakukannya. Karena iman Yairus, maka Yesus menyembuhkan anak itu. Demikian juga seorang perempuan yang telah 12 tahun menderita pendarahan. Sama seperti Yairus, perempuan ini yakin dan percaya bahwa Yesus bisa dan mau melakukannya. Maka Yesus menjadi satu-satunya harapan: “Asal kusentuh saja pakaiannya, aku akan sembuh.” Terjadilah apa yang mereka rindukan: sembuh total. Gratis.

3. Yairus dan perempuan tadi sangat percaya akan kuasa Yesus yang menyembuhkan penyakit mereka. Iman mereka yang membuat mukjijat menjadi nyata. Perjumpaan iman  dan rahmat Allah menghasilkan keselamatan, dan keselamatan itu berupa kesembuhan.

4. Tantangan bagi kita ialah apakah kita tetap percaya kepada Yesus di saat Ia terasa jauh dan diam atas masalah kita?  Apakah kita akan menyerah? Atau apakah kita tetap akan terus berdoa sampai ada jawaban dari Tuhan? Apa yang perlu kita mohonkan kesembuhan atas diri kita?

MS, 1.7.18,