menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Jumat, 31 Agustus 2018

Renungan Harian GML : HARUS MEMILIH


BACAAN
1Kor 1:17-25 – “Kami memberitakan Kristus yang tersalib, suatu sandungan bagi kebanyakan orang, tetapi bagi mereka yang terpanggil, merupakan hikmat Allah”

Mat 25:1-13 – “Lihatlah pengantin datang, pergilah menyongsong dia!”

RENUNGAN
1.Firman Tuhan mengundang agar kita selalu memiliki minyak, artinya selalu siap siaga untuk kedatangan Tuhan. Ia nampak pada saat dan cara yang tidak kita sangka dan sepanjang waktu dalam hidup kita. Para gadis yang bodoh gagal mengantisipasi kapan dan bagaimana Tuhan datang kepada mereka. Kita seringkali seperti gadis bodoh: terlalu sibuk dengan banyak masalah dan kecemasan, sehingga kehilangan fokus, yaitu kehadiran Kristus di dalam diri orang-orang di sekitar kita. Terkadang Kristus datang kepada kita dalam wujud pengorbanan atau penderitaan, tetapi kita menolak-Nya. Kita inginnya  happy-happy saja, tanpa Salib.

2.Yesus mengingatkan bahwa ada banyak orang yang tidak diselamatkan karena pilihan mereka. Dan Tuhan akan berkata kepada mereka: “Aku tidak mengenal kamu.” Tuhan memberi kebebasan kepada kita untuk memilih. Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya. Apa pun yang terjadi, kita harus memilih untuk selalu siap siaga di jalan kehidupan beriman. Tuhan tidak bisa menyelamatkan kita tanpa kerjasama kita.

3.Bila saatnya tiba, apakah kita kedapatan masih beriman? (2Kor 13:5).

MS,31.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Kamis, 30 Agustus 2018

Renungan harian GML : BERJAGA-JAGA, TIDAK TERTIDUR

BERJAGA-JAGA, TIDAK TERTIDUR

BACAAN
1Kor 1:1-9 – “Di dalam Kristus kamu telah menjadi kaya dalam segala hal”

Mat 24:42-51 – “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”

RENUNGAN
1. Bila kita pergi meninggalkan rumah, tidak lupa kita selalu mengunci pintu-pintu demi keamanan. Untuk menyiapkan kedatangan Tuhan pada akhir jaman, kita pun harus berjaga-jaga, karena tidak tahu kapan saat itu datang.

2. Kita tidak tahu berapa lama akan hidup, tidak tahu sampai kapan sejarah manusia ketika Akhir Zaman tiba. Kita tidak bisa acuh-tak-acuh, tetapi harus siap ketemu Tuhan, bertindak benar, dan memiliki suara hati jernih. Kita perlu menyadari seolah-olah setiap hari merupakan akhir hidup kita, seolah-olah kebahagiaan kekal tergantung pada pilihan dan tindakan kita hari ini. Setiap saat adalah berharga dan penting di mata Allah dan satu hal yang perlu adalah bekerja untuk memperoleh keselamatan.

3. Allah menghendaki agar kita tetap beriman dan mengikuti kehendak-Nya setiap hari, karena inilah jalan menuju kesucian dan kesatuan dengan Allah. Tidak ada jalan lain.  Kita perlu bertanya: sejauh mana tindakan kita hari ini mencerminkan ketaatan terhadap kehendak Allah? Apakah kita menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan kita?

4. Kita kadang merasakan bahwa Allah terasa jauh dan tidak terlibat dengan kehidupan kita, sehingga kita acuh-tak-acuh dan tidak berpikir (lagi) terhadap kedatangan-Nya. Berjaga-jaga: membarui iman, selalu menyenangkan hati Allah dan hidup menurut kehendak-Nya.

MS,30.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉberkat.id

Selasa, 28 Agustus 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG DIBIMBING ROH


BACAAN
2Tes 2:1-3a.13b-17 – “Berpeganglah pada ajaran-ajaran yang telah kamu terima dari kami”

Mat 23:23-26 – “Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan”

RENUNGAN
1.Pada awalnya, amal atau Zakat menandakan bahwa Allah adalah sumber segala anugerah, dan, bagi bangsa Israel, apa yang mereka punya berasal dari Allah dan Hukum Allah adalah jalan menuju keselamatan. Dalam perkembangannya, orang-orang Parisi mengubah hukum menurut kemauan dan tujuan mereka dan melupakan zakat. Bagi mereka, yang paling penting adalah menepati hukum-hukum, zakat tidak perlu lagi. Bagaimana menurut kita? Kita dan semua kepunyaan kita adalah milik Allah, maka belas kasih kepada sesama merupakan wujud kecintaan kita kepada Allah.

2.Berhadapan dengan orang Parisi, Yesus berkata tentang keadilan, belas kasih dan ketaatan. Ketika kita melupakan hal tersebut, kita telah membelokkan iman. Iman yang benar bila kita mengarahkan hati dan hidup kita hanya kepada Allah, dan menjadikan hati kita seperti hati Allah: hati yang berbelas kasih terhadap sesama.

3. ”Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu...” Apa artinya? Hati merupakan tempat Roh Kudus bersemayam dan memberi inspirasi seturut apa yang Ia kehendaki. Maka kita perlu memeriksa hati dan batin kita supaya tetap murni. Salah satu cara adalah memeriksa setiap motivasi tindakan dan keputusan kita, apakah memiliki intensi murni atau hanya demi gengsi dan dipuji orang. Motivasi yang baik dan benar jika kita menempatkan keadilan, belas kasih, dan ketaatan menjadi  yang utama dalam hidup kita. Itulah hidup yang dipimpin oleh Roh Allah. Kelihatannya gampang, tetapi butuh perjuangan dan rahmat Allah untuk mewujudkannya. Jangan menyerah!

MS,28.8.18,

Senin, 27 Agustus 2018

Renungan Harian GML : PRIBADI OK LUAR DALAM



BACAAN
Mat 23:13-22 – “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Parisi”

RENUNGAN
1.Seperti kecaman terhadap orang-orang Parisi, Tuhan Yesus sangat keras terhadap mereka yang menyesatkan orang lain, khususnya bila dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggungjawab untuk mengajar dan membimbing orang lain menuju keselamatan. Namun demikian, tetap saja ada dari mereka yang hanya mengejar kepentingannya sendiri, sehingga Gereja dirugikan. Padahal seluruh umat Allah saling terkait dalam keselamatan, saling membangun, dan saling membantu dalam jalan menuju Kristus. Bagaimana kalau ada beberapa orang yang mengacau?

 2.Dari Injil hari ini juga, Tuhan menghendaki agar kita sungguh-sungguh dengan apa yang kita katakan dan kita lakukan, sehingga orang lain melihat integritas kita sebagai orang beriman. Kita juga dituntut untuk hidup dengan suara hati yang jernih, bertindak sesuai dengan kehendak Allah, sederhana dan transparan. Sukar tapi membahagiakan. Itulah yang dikehendaki Tuhan Yesu                                                                         MS,27818๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉberkat.id

Sabtu, 25 Agustus 2018

Renungan Harian GML : DUNIA BUTUH KESAKSIAN DAN KETELADANAN



BACAAN
Yeh 43:1-7a – “Kemuliaan Tuhan masuk kembali ke dalam bait suci”

Mat 23:1-12 – “Siapa pun yang terbesar di antaramu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”

RENUNGAN
1.Survey membuktikan: orang yang dipuji di dunia ini adalah mereka yang kaya, pandai, punya mobil mewah, rumah mewah, jabatan tinggi, terkenal karena sebagai artis atau selebritis. Maka orang berusaha keras, dengan segala cara, untuk sampai pada ukuran tersebut demi gengsi dan harga diri. Dan orang-orang Parisi mempraktekkannya.

2.Berlawanan dengan orang-orang Parisi, Tuhan Yesus mengajarkan: “Siapa pun yang terbesar di antaramu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Orang-orang dunia tidak pernah akan menerima dirinya sebagai pelayan. Mereka lebih suka dihormati dan dipuji . Sikap yang dituntut Tuhan adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan rendah hati terhadap orang lain. Sikap demikian dianggap lemah oleh dunia, namun hanya orang yang merendahkan diri di hadapan Allah dan rendah hati terhadap orang lain yang benar-benar bisa kontak dengan Allah dan rahmat Allah selalu menyertai sepanjang hidupnya.

3.Orang dunia, sesungguhnya, membutuhkan kesaksian dan keteladanan hidup  daripada khotbah panjang kali lebar dan tidak jelas ujung pangkalnya. Para orang tua yang harus mendidik dan mendampingi anak-anak dan orang-orang yang diserahi tugas mengajar, khotbah harus menghidupi apa yang kita sampaikan. Kita disebut orang Kristen sejati jika kita berpikir, berkehendak, dan mencintai seperti Kristus.

4.Apakah kita tidak boleh menjadi kaya raya, mempunyai jabatan tinggi, atau orang terkenal? Kalau boleh, mengapa? Kalau tidak boleh, mengapa?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS,25.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Jumat, 24 Agustus 2018

Renungan Harian GML : PESTA Santo BARTOLOMEUS RASUL: MEMILIKI KESATUAN ERAT DAN MENDALAM DENGAN TUHAN



BACAAN
Why 21:9b-14 – “Di atas dua belas batu dasar tertulis nama kedua belas rasul Anak Domba”

Yoh 1:45-51 – “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya”

RENUNGAN
1.Dalam Injil Yohanes, yang disebut Natanael adalah Santo Bartolomeus Rasul. Natanael, seperti kita, mendapat panggilan untuk menjadi rasul. Dalam kasus Natanael ini, panggilan tidak datang langsung dari Tuhan, tetapi lewat orang lain, yaitu Philipus  yang bersaksi tentang Yesus. Pada mulanya Natanael ragu-ragu, tapi ia datang juga kepada Yesus. Yesus memanggil kita juga lewat orang lain: teman, saudara, atau peristiwa. Dan Yesus bekerja dan menarik kita untuk semakin dekat dengan-Nya.

2.Perjumpaannya dengan Yesus membuat Natanael menyatakan iman akan Dia: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Natanael tidak ragu-ragu tentang Yesus. Sejak saat itu Natanael memiliki relasi personal yang sangat kuat dengan Yesus. Dan ia menjadi rasul yang sangat meyakinkan. Kita pun juga harus membangun pondamen iman kita dengan pengalaman pribadi akan Kristus Tuhan.

3.Sebagai salah satu dari Duabelas Rasul, menurut tradisi, ia memberitakan Injil di India dan Armenia dan di sana ia mati sebagai martir, dikuliti dan dipenggal kepalanya. Sejak perjumpaannya yang pertama dengan Tuhan Yesus, ia memiliki kesatuan erat dan mendalam dengan Tuhan.

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS,24.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Kamis, 23 Agustus 2018

Renungan harian GML: TERSERAH KITA


BACAAN

Yeh 36:23-28 – “Kamu akan Kuberi hati dan Roh yang baru di dalam batinmu”

Mat 22:1-14 – “Undanglah setiap orang yang kamu jumpai ke pesta nikah ini” 


RENUNGAN

1.Tuhan mengundang kita untuk berada dalam kesatuan dengan Dia. Tetapi, dengan bebas, kita bisa dan boleh  menolak undangan tersebut. Penolakan kita lakukan ketika kita melupakan Allah, tidak pernah mendengarkan Firman, tidak lagi berdoa, tidak lagi menerima sakramen-sakramen, tidak terlibat dalam kebersamaan orang beriman. Diri sendiri menjadi kriteria keputusan dan tindakan: “Pokoke ...” Kalau hal ini kita pilih, sejatinya kita telah kehilangan tujuan hidup, padahal tujuan hidup kita hanyalah Allah.

2.Tuhan mengundang kita walaupun kita ini banyak dosa, bahkan seringkali jatuh ke dalam dosa yang sama. Tuhan sudi mengampuni pelanggaran-pelanggaran kita dan menutupi dosa-dosa kita (Rom 4:7). Tuhan tidak memberikan hidup-Nya untuk orang-orang yang baik dan benar, melainkan untuk para pendosa. Maka tak ada cara lain bagi kita, kecuali membalas kasih Kristus ini dengan ketaatan total kepada-Nya.

3.Untuk bisa masuk ke dalam perjamuan nikah surgawi, kita harus berpakaian pesta, artinya jiwa kita sudah dimurnikan oleh pengampunan Allah. Hal ini tergantung dari kita, apakah memilih Allah atau menolak Allah. Namun kita tidak bisa acuh tak acuh dan menyepelekan Allah dan Kerajaan-Nya untuk bisa mengikuti pesta pernikahan surgawi. Allah dan Kerajaan-Nya adalah kebutuhan eksistensial bagi hidup kita. Bagaimana dengan Anda?


(Berkat.id)

Rabu, 22 Agustus 2018

Renungan Harian GML : BERPUSAT PADA ALLAH DARIPADA FOKUS PADA BEBAN-BEBAN HIDUP



BACAAN
Yeh 34:1-11 – “Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga seterusnya tidak lagi menjadi makanannya”

Mat 20:1-16a – “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

RENUNGAN
1.Apa yang dibuat tuan tanah dalam Injil hari ini, oleh manusia dipandang sebagai ketidak-adilan serius. Maka mereka sangat kecewa, marah, dan iri hati. Begitulah manusia. Mereka memperlakukan orang berdasarkan besar kecilnya jasa, lama singkatnya masa bakti, besar kecilnya pengorbanan seseorang; dalam melakukan apa pun selalu berdasarkan hitung-hitungan.

2.Di hadapan Allah, semua manusia akan mendapat upah yang sama, yaitu satu dinar, entah mereka itu uskup, ibu rumah tangga, orang miskin, atau siapa saja. Masalahnya:  apakah kita bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah?  Karena Allah begitu murah hati, Ia tidak pernah akan mengecewakan kita, dan kita hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan” (Luk 17:10). Dan upah pasti kita terima, tanpa perlu kita memikirkannya.

3.Masihkah kita iri hati, marah dan kecewa terhadap orang lain? Tiap hari Allah memberi anugerah berkelimpahan kepada kita, tetapi kita tidak tahu karena kita lebih berpusat pada rasa iri, kecewa, marah, dan tidak bersyukur. Kita coba buka mata dan hati untuk mengetahui betapa Allah memberi banyak anugerah dalam hari-hari hidup kita.

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS,22.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Selasa, 21 Agustus 2018

Renungan Harian GML : KELEBIHAN MUATAN



BACAAN
Yeh 28:1-10 – “Engkau itu manusia, bukan Allah, walaupun engkau menganggap dirimu sama dengan Allah”

Mat 19:23-30 – “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga”

RENUNGAN
1.Yesus tidak pernah menentang kekayaan, tetapi Yesus mengingatkan  bahaya yang ditimbulkan oleh kekayaan. Kekayaan bukan hanya harta benda, tetapi juga pengetahuan, kekuasaan, jaringan, ketenaran, kecantikan. Orang-orang demikian gampang jatuh ke dalam sikap sombong, angkuh, arogan, tidak memiliki belas kasih, egois, kurang menghargai sesama, dan tidak ada ruang bagi Allah.

2.Para murid pun gagal paham dalam mengikuti Yesus, karena mereka masih minta imbalan. Ketika di dalam benak kita penuh dengan “kekayaan” dan segala efek sampingnya, hidup kita menjadi penuh beban. Perahu karam bukan karena tidak bisa melaju, tetapi karena kelebihan muatan. Kita bisa sampai kepada Allah, hanya jika kita berani mengosongkan diri kita dan mempersilahkan Rahmat dan Kasih-Nya mengisi hati kita dan menjadikan Kristus di atas segalanya.

3.Pagi ini, apa yang bisa Anda janjikan kepada Tuhan?

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉMS, 21.8.18๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Kamis, 16 Agustus 2018

Renungan Harian GML: MENGAMPUNI



BACAAN
Yeh 12:1-12 – “Berjalanlah seperti orang buangan di  depan mereka pada siang hari”

Mat 18:21-19:1 – “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”

RENUNGAN
1.”Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Angka tujuh merupakan angka sempurna dalam bilangan Yahudi. Hal ini berarti kita dituntut untuk bisa mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita: terus-menerus dan tanpa batas. Pengampunan menjadi tema sentral dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dan pengampunan merupakan wujud kasih yang utama.

2.Paus Fransiskus, ketika berbicara tentang Keluarga, beliau menyebut bahwa Keluarga adalah tempat pengampunan. Memang, kalau kita jujur, tidak ada keluarga yang sempurna. Masing-masing anggota keluarga memiliki kekurangannya, mengeluh tentang yang lain, dan saling membuat kecewa. Tanpa pengampunan, keluarga akan menjadi arena konflik dan tempat semua hati terluka. Tanpa pengampunan, keluarga akan sakit. Siapa pun yang tidak mengampuni tidak akan mendapatkan kedamaian jiwa atau pun bisa bersatu dengan Tuhan. Mempertahankan rasa sakit di hati adalah tindakan penghancuran diri. Pengampunan adalah sebuah pembersihan diri. Siapa pun yang tidak mengampuni, maka baik secara phisik, emosi, dan spiritual sakit. Itu sebabnya keluarga haruslah jadi tempat kehidupan, bukan kematian, wilayah untuk pengobatan bukan untuk penyakit, arena pengampunan bukan rasa bersalah. Pengampunan itu membawa kebahagiaan, di mana hati yang cemas, yang sedih, disembuhkan.

3.Kita sudah mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita jika: Bisa menerima orang tersebut dengan ikhlas dan sepenuh hati, tidak lagi emosional dan marah terhadapnya, bisa menerima kembali orang tersebut secara penuh dan tanpa syarat, tidak mengungkit masa lalunya, berani membuka ruang hati untuk orang tersebut.

4.Mengapa aku belum bisa mengampuni?

MS, 16.8.18,

Rabu, 15 Agustus 2018

Renungan : MENYELAMATKAN YANG HILANG



BACAAN
Yeh 9:1-7; 10:18-22 – “Tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan keji di Yerusalem”

Mat 18:15-20 – “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”

RENUNGAN
1.Yesus menantang para murid-Nya dengan kata-kata ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa tegurlah dia di bawah empat mata.” Apa reaksi Anda ketika orang lain, umat lingkungan, berada dalam jalan yang salah dan menjauhi Gereja?

2.Membangun komunitas Gereja yang baik dan sehat harus dimulai dari keberanian menegur sesama yang tersesat. Tindakan menegur sebenarnya bertujuan menyelamatkan yang hilang, seperti dibuat oleh Allah. Pernahkan Anda melakukan tindakan ini?

3.Hidup kita saling berkaitan dengan orang lain. Maka hidup kita bernilai sosial. Tidak ada hidup yang tanpa bantuan orang lain. Hidup berkomunitas, bermasyarakat harus sampai pada ikut bertanggungjawab atas hidup orang lain. Tetapi ketika orang lain bersalah, beranikah Anda menegur?

MS, 15.8.18,

Selasa, 14 Agustus 2018

Renungan Harian GML : GEREJA KAUM MISKIN


BACAAN
Yeh 2:8-3:4 – “Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan, dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku”

Mat 18:1-5.10.12-14 – “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini”

RENUNGAN
1.Kata kunci bacaan Injil hari ini adalah: “Anak kecil.” Dalam Injil, yang digolongkan anak kecil adalah orang-orang miskin dan tersingkir. Mereka menjadi perhatian utama Gereja, maka Gereja menyebut diri Gereja Kaum Miskin. Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Lutheran Jerman, pernah menulis bahwa “Gereja akan menjadi Gereja hanya jika ia ada untuk orang lain. Dan untuk memulainya, Gereja mesti memberikan seluruh hartanya kepada yang menderita.” Bagaimana kenyataannya?

2.Para murid menginginkan sebuah kriteria tentang seorang murid yang dianggap paling hebat dalam Gereja. Yesus menunjukkan bahwa mereka harus menjadi “anak kecil,” siap tidak memiliki peran dalam masyarakat, bersama orang-orang miskin di mana mereka tinggal. Alasannya adalah “Setiap orang yang menerima salah satu dari orang-orang kecil ini, ia menerima Aku.” Yesus menyamakan diri dengan mereka yang lemah, kecil, dan miskin. Maka setiap pengikut Kristus harus menjadi sama seperti Kristus. Bagaimana kenyataannya?

3.Dengan perumpamaan seekor domba yang hilang, Allah Bapa tidak menghendaki satu pun orang kecil, lemah, dan tersingkir ini hilang. Dengan kata lain: mereka ini harus menjadi prioritas pelayanan Gereja. Kalau Gereja acuh tak acuh terhadap mereka, maka jati diri Gereja sebagai Gereja Kaum Miskin adalah bohong dan menipu. Bagaimana kenyataannya?

4.Apa pun situasi dan keadaannya, kita dipanggil menjadi duta Kristus. Apa tindakan Gereja, tindakan kita, terhadap mereka yang menjauh dan terpisah dari Gereja, dan terhadap mereka yang benar-benar menderita dan membutuhkan pertolongan?

MS, 14.8.18,

Senin, 13 Agustus 2018

Renungan Harian GML : KRISTUS TELAH DISINGKIRKAN



BACAAN
Yeh 1:2-5.24-2:1a – “Penglihatan gambar kemuliaan Tuhan”

Mat 17:22-27 – “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia; mereka akan membunuh Dia, tapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan”

RENUNGAN
1.Inilah realitas tentang Tuhan kita Yesus Kristus: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:10-11). Sikap dunia ini telah menghancurkan Hati Tuhan, karena Ia ditolak oleh orang-orang yang telah Ia selamatkan. Kita sering meninggalkan Tuhan sendirian di dalam tabernakel gereja atau kapel tanpa kunjungan kita; atau sering tidak mengakui kehadiran-Nya, ketika kita tidak hormat lagi di dalam gereja. Mungkin Kristus juga pergi dari rumah kita, ketika keluarga kita tidak lagi berdoa, tidak lagi mendengarkan Firman-Nya.

2.Kita harus berani membuat komitmen baru untuk menjadikan diri kita, rumah kita, gereja kita tempat kehadiran Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita mempunyai waktu untuk-Nya dan mempunyai perhatian terhadap kehadiran-Nya. Hal ini berarti menjadikan Tuhan sebagai tuan dan penyelamat kita. Hanya Dialah yang memiliki Sabda Kehidupan dan kita harus mengembalikan hidup kita kepada-Nya dengan ketaatan cinta.

3.Sekarang ini, kita tahu, Kristus sering ditolak masuk ke dalam dunia, dan Ia telah disingkirkan dari dunia politik, ilmu pengetahuan, seni, bisnis, hukum dan kesehatan. Sering Ia dimunculkan di media ketika menjadi bahan tertawaan dan ejekan. Sebagai pengikut Kristus, kita harus berani membawa kembali Dia dan Sabda-Nya dalam setiap kehidupan dan aktifitas kita. Dunia tanpa Kristus hanyalah kosong dan kacau.

MS, 13.8.18,

Sabtu, 11 Agustus 2018

Renungan Harian GML : DIBUTUHKAN IMAN YANG KOKOH KUAT


BACAAN
Habakuk 1:12-2:4 – “Orang benar akan hidup berkat imannya”

Mat 17:14-20 – “Sungguh, sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini, ‘Pindahlah dari sini ke sana,’ maka gunung ini akan pindah, dan tiada yang mustahil bagimu”

RENUNGAN
1.Setelah mengikuti Yesus, para murid sangat percaya diri dan yakin bisa menyembuhkan orang-orang sakit dan mengusir setan-setan. Tetapi mereka lupa rahasianya, yaitu iman. “Karena kamu kurang percaya.” Mereka tidak mampu mengusir setan-setan, karena iman mereka lemah,  dikuasai keraguan dan kebimbangan. “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat memindahkan gunung.” Sebuah tuntutan agar kita selalu dipimpin oleh iman yang kokoh kuat dalam setiap tindakan, terlebih pada saat pencobaan dan penderitaan.

2.Mungkin kita pernah mengikuti retret atau olah rohani. Hati kita begitu berkobar dan penuh semangat, dan pada akhir retret berjanji ingin mengubah dunia. Tanpa diduga dan dinyana, pada hari itu juga, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi karena kecelakaan berat. Masalah-masalah lain menimpa bertubi-tubi, komentar-komentar negatip berseliweran. Apa yang harus ada? Iman.

3.Iman adalah penyerahan dan keterbukaan kepada Allah. Jika iman kita kuat, kita akan menjadi orang yang kuat. Jika iman kita lemah, kita akan memiliki banyak kesulitan dalam hidup ini.  “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” Kembalilah kepada Kristus. Lihatlah Dia, pandangilah senyuman-Nya. Ingatlah Ia menunggu kita dan ingin mengubah cara hidup kita.

MS, 11.8.18,

Jumat, 10 Agustus 2018

Renungan Harian GML : KEKUATAN CINTA



BACAAN
2Kor 9:6-10 – “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”

Yoh 12:24-26 – “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah”

RENUNGAN
1.Tidak ada yang kita sembah selain Yesus Kristus yang telah mengurbankan hidup-Nya bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Cinta Kristus tersebut telah menginspirasi kita untuk berkurban; untuk berbuat yang sama seperti Dia.

2.Tuhan memberi contoh seorang martir yang bernama St. Laurensius. Ia adalah seorang Diakon pada pertengahan abad ke-3. Ia mati sebagai martir karena dibakar. Ia telah memberikan hidupnya, sehingga nama Allah dimuliakan dan dicintai oleh semua orang. Iman dan cinta St. Laurensius merupakan buah-buah pengurbanan Kristus. Walaupun kita tidak dipanggil untuk tindakan heroik seperti St. Laurensius, Kristus memberikan rahmat kepada kita untuk berani memanggul salib, hidup dengan murah hati, dan sepi ing pamrih.

3.Ketika kita merefleksikan hidup para Santo dan Santa, kita terinspirasi oleh pelayanan mereka terhadap Kristus dan Gereja-Nya. Kesetiaan mereka adalah buah dari kesetiaan Kristus. Kesetiaan kita pada Kristus diharapkan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh para kudus Allah.

4.Kesimpulannya demikian: Mencintai berarti melayani, dan melayani berarti kehilangan diri demi hidup orang lain. Yesus memilih Salib bagi diri-Nya dan bagi murid-murid-Nya. Hal ini berarti setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus dipanggil untuk ambil bagian dalam hidup-Nya dan perjalanan-Nya. “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”

MS, 10.8.18, www.berkat.id
-------------------------------------
Note
Hari ini, 10 Agustus 2018, 3 tahun sudah saya membuat renungan. Syukur kpd Allah yg rahmat-Nya begitu berlimpah yg selalu menerangi saya.

Terima kasih kepada Bp. Remigius Budi Isworo yg telah mempersiapkan www.berkat.id, sehingga renungan Sabda dan Kerahiman Ilahi tersimpan.

Trima kasih kpd semua penerima renungan, baik yg membaca dgn serius maupun yg melewati begitu saja alias tidak membaca.

Semuanya telah meneguhkan saya. Selagi dibutuhkan dan selagi masih bisa, saya akan terus membuat renungan Sabda dan Kerahiman Ilahi.

Rabu, 08 Agustus 2018

Renungan Harian GML : IMAN HARUS DIUJI



BACAAN
Yer 31:1-7 – “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang abadi”

Mat 15:21-28 – “Hai ibu, besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki”

RENUNGAN
1.Kita sering berada pada posisi seperti wanita Kanaan seperti dikisahkan dalam Injil hari ini, yaitu menyampaikan doa permohonan dan menunggu jawaban dengan sungguh-sungguh. Wanita Kanaan itu mohon: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud. Anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” “Tetapi, Yesus sama sekali tidak menjawab.” Jawaban yang sungguh menghancurkan yang sama sekali tidak diharapkan oleh wanita Kanaan tersebut.

2.Wanita tersebut terus mendekati Yesus dengan harapan Ia menanggapi masalahnya. Bagi para murid, hal tersebut sangat tidak menyenangkan, maka wanita tersebut perlu diusir. Apa yang sebenarnya dibuat Yesus adalah menguji iman wanita tersebut. “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu” (1Petr 1:7).

3.Yesus menanggapi wanita tersebut: “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang.” Pernyataan yang meluluh-lantakkan iman wanita itu. Tetapi wanita itu tidak putus asa, dan terus memohon: “Tuhan, tolonglah aku!” Ia mengulangi permintaannya dengan segala usaha, sangat mendesak dan sangat sungguh-sungguh. Yesus masih sekali lagi mencobai iman si wanita itu: “Tidak patut mengambil roti … dan melemparkannya kepada anjing.”

4.Pukulan demi pukulan terhadap imannya tidak membuat wanita tersebut menyerah. Dan Yesus mengatakan: “Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.”

5.Kita diharapkan memiliki iman yang hidup. Walau pun doa-doa kita tidak dijawab pada saat itu juga dan terus banyak pencobaan, kita harus ingat cerita wanita Kanaan ini dan bagaimana caranya ia mengatasi pencobaan dan masalah dalam hidupnya.

6.Sebenarnya pada saat kita berdoa untuk minta sesuatu, Tuhan sudah menyiapkan hadiahnya untuk kita dan sedang otw menuju kita. Namun  dari kita dituntut percaya pada Tuhan dan kebijaksanaan-Nya, bahwa Ia akan menjawab permohonan kita sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya. “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Hibr 11:6). Iman tidak hanya mampu menggerakkan gunung, tetapi iman juga menggerakkan hati Allah untuk turun tangan atas masalah kita.

MS, 8.8.18,

Selasa, 07 Agustus 2018

RenungaN Harian GML : Yohanes Pembabtis Sang Pembela Kesucian Kebenaran dan Keadilan


BACAAN
Yer 30:1-2.12-15.18-22 – “Karena kesalahan dan dosamu sangat banyak, maka Aku telah memukul engkau. Tetapi Aku akan memulihkan kemah Yakub”

Mat 14:22-36 – “Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air”

RENUNGAN
1.Yesus menyuruh orang banyak pulang dan Ia mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Ia ingin sendirian bersama Allah. Berada dalam keheningan tanpa orang lain mungkin menimbulkan kesepian, takut dan kekosongan jiwa. Ada kecenderungan kita untuk mencari orang lain atau hal-hal lain untuk menghilangkan kesepian. Kalau hal ini terjadi, justru kita membutuhkan doa yang lebih keras; doa dalam keheningan. Penderitaan karena kesepian dapat berubah menjadi damai dan sukacita.

2.”Tenanglah! Akulah ini, jangan takut!” Mungkin saja ketakutan kita untuk berdoa dalam keheningan jauh lebih besar daripada ketakutan Petrus. Dalam keseharian kita biasa bersama orang lain, sibuk dengan segala macam kegiatan, sibuk dengan HP, sehingga kita hampir tidak pernah menyempatkan diri untuk masuk dalam keheningan doa, walau pun hanya sebentar. Kalau kita ingin belajar berdoa dengan sungguh-sungguh, maka harus berani menyendiri tanpa orang lain, sejenak meninggalkan kesibukan dan menyingkirkan HP. Yang ada hanya aku dan Allah. Kita harus mengosongkan diri untuk diisi oleh Kristus, percaya dan tergantung pada-Nya.

3.”Keduanya lalu naik ke perahu dan redalah angin.” “Naik ke perahu,” artinya ketika kita memutuskan untuk memeluk keheningan, fokus pada doa, maka ketakutan-ketakutan kita akan reda seperti angin itu. Kita harus berani membuat keputusan kuat untuk masuk ke dalam doa jika ingin mengalami kebebasan, kedamaian dan sukacita lewat doa yang benar. Perlu rahmat Tuhan, kerelaan dan kesungguhan dari kita. Mari kita mulai dari sekarang, jangan terlambat!

maSRI, 7.8.18,

Senin, 06 Agustus 2018

Renungan Harian GML : YESUS HAMBA SENGSARA



BACAAN
Dan 7:9-10.13-14 – “Pakaian-Nya putih seperti salju”

2Petr 1:16-19 – “Suara itu kami dengar datang dari Surga”

Mrk 9:2-10 – “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”

RENUNGAN
1.Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah gunung untuk masuk dalam keheningan, berdoa dan berjumpa dengan Allah. Ketika Yesus diliputi oleh kemuliaan, terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” “Anak yang Kukasihi” adalah Yesus, Hamba Sengsara  seperti dimaklumkan nabi Yesaya (Yes 42:1).

2.Kenyataan hidup bukan di puncak gunung seperti dialami oleh ketiga murid, melainkan di Yerusalem. Maka Yesus mengajak mereka untuk turun gunung menghadapi realitas yang akan segera terjadi, yaitu Salib. Kemuliaan harus dicapai melalui Salib (Yes 53:3-9). Musa dan Elia meneguhkan jalan Yesus. Allah Bapa menjamin dan Yesus menerima Jalan Salib tersebut.

3.Kita sering menghadapi realitas ini: a) Dikianati oleh orang dekat, tidak dianggap, dilupakan, … Kita kecewa, pedih, marah; b) Ketika segalanya sedang mudah, kita merasa Tuhan ada di samping kita, kita berseru puji Tuhan, Halleluia. Ketika datang kesulitan, kegagalan, penyakit, kita merasakan Allah meninggalkan kita. Kita putus asa, patah arang dan terkadang menjauh dari Tuhan.

4.Bacaan Injil hari ini menegaskan, bahwa kemuliaan hanya bisa dicapai lewat Salib.

MS, 6.8.18,

Minggu, 05 Agustus 2018

Renungan Harian GML : ROTI KEHIDUPAN KEKAL YANG MENJADIKAN MURID YANG SETIA



Saudari-saudara sekalian salam jumpa lagi dalam Berita Sepekan pada Tahun Liturgi Minggu Biasa XVIII/B. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kepada kita seklian untuk melihat dan merenungkan bagaimana kita sekalian telah dengan benar menjadi murid Yesus. “Mengapa kamu mencari Aku?” merupakan pertanyaan singkat Yesus yang membutuhkan jawaban dan alasan yang mendalam dari kita sekalian. Mungkin jawaban kita beragam, tetapi Kehendak Yesus jelas yakni supaya kita mencari Dia yang telah dimeteraikan Allah untuk memberikan makanan yang bertahan sampai pada hidup yang kekal (Yoh 6:27). Makanan itu tidak sama dengan 5 roti yang telah dibag-bagi Yesus dan mengenyangkan 5000 orang laki-laki (bacaan Injil minggu yang lalu). Bahkan juga bukan seperti “manna” yang menurut Musa adalah pemberian Tuhan bagi orang Israel ( Kel 16:15) karena meskipun mereka mengingatnya tetapi mereka tidak lalu benar-benar taat kepada Tuhan. Makanan yang dimaksud adalah Diri-Nya. Yang percaya kepada-Nya akan bersatu dengan Dia atau akan “makan” Dia sebagai roti kehidupan  untuk kehidupan yang kekal (Yoh 6:35). Hasil dari percaya dan bersatu dengan Sang Roti Kehidupan adalah mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah yakni hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:23-24).  Terjawablah kiranya pertanyaan:”Mengapa kamu mencari Aku?” yakni karena: “kami merindukan hidup yang kekal.”

Saudari-saudara, dalam hal makanan dan memberi makanan ini, kita bisa belajar pada binatang. Binatang-biatang itu akan menjadi dekat dan setia kepada tuannya yang selalu memberinya makan. Ada yang sampai disebut ratu kucing karena di mana dia ada kucing-kucing pada berkumpul karena ia selalu memberi mereka makan. Namun bagi binatang, ternyata kesetiaan mereka bisa beralih yakni kepada siapa saja yang lebih sering memberi mereka makan. Dengan kata lain mereka setia hanya karena makanan dan bukan karena alasan yang lain. Apakah bedanya kita dengan binatang-binatang itu dalam hal bahwa kita juga mendapatkan makanan dari Yesus? Yesus menegur orang-orang yang mengejar-ngejar dia sampai ke seberang laut itu: “Sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Yesus menghendaki agar orang-orang itu mencari Dia bukan hanya karena makanan yang telah mengenyangkan perut mereka tetapi supaya mereka melihat tanda-tanda. Dalam peristiwa memberi makan orang banyak,  Yesus ditampilkan bukan saja pembawa manna surgawi, melainkan kenyataan Tuhan menyertai mereka. Dialah makanan yang menopang orang dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan. Inilah yang dimaksud dengan “tanda” itu. Orang banyak yang menemui Yesus kali itu diajak menimba kekayaan pengalaman iman leluhur mereka dan mempercayai tindakan ilahi yang kini sedang mereka alami. Kini Bapa yang ada di surga memberi kehidupan kepada umat dalam ujud kedatangan Yesus di tengah-tengah mereka. Yesus bukan hanya hadir sebagai tokoh di antara masyarakat walau sangat hebat sekalipun. Yesus adalah “manna” dan “roti” yang memberi mereka kehidupan kekal. “Makan roti” itu berarti “mau bersatu” dengan Dia. Bersatu dengan Dia berarti mau diperbaharui dan menjadi semakin serupa dengan Dia agar Roh-Nya menjadi daya hidup. Indahlah ungkapan Paulus: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20).

Saudari-saudara sekalian, setiap kali kita hadir dalam Ekaristi, setiap kali kita menerima komuni, kita juga mendapatkan makanan “Tubuh Kristus”. Kristus mau menjadi makanan, roti yang kita makan supaya kita boleh bersatu di dalam Dia dan Dia di dalam kita (Yoh 6:56). Kesatuan itu terjadi kalau kita percaya. Dan kepercayaan itu tentu akan membawa konsekwensi untuk membiarkan Dia bekerja di dalam diri kita dan melalui diri kita. Dalam persatuan itu kiranya kita semakin diubah dan semakin menampakkan Kristus dalam sikap dan tindakan kita. Nah, tinggal apakah jawaban kita atas pertanyaan Yesus: “Mengapa kamu mencari Aku?” Apakah kita tidak mencari Yesus hanya bila perlu dan untuk keperluan yang terbatas untuk kebutuhan makan dan minum ataupun kebutuhan duniawi saja? Semoga setiap Ekaristi memperstukan kita dengan Kristus dan membuat kita menjadi menjadi orang kristiani sebagai murid Yesus yang setia, sebagai murid Yesus yang sejati. Kita bhinneka kita Indonesia, mari amalkan Pancasila. (Rm Yohanes Purwanta MSC)

Sabtu, 04 Agustus 2018

Misa Pelajar Sepegunungan Menoreh di Goa Maria Lawangsih


"Siapa saja yg kamu jumpai adalah sahabat dan saudara...Meneladan hidup pastur Yohanes Maria Vianni" hal ini disampaikan oleh Rm. Modestus Supriyanta Pr saat misa pelajar sepegunungan Menoreh di Goa Maria Lawangsih (04/08/2018).


Menoreh adalah kawasan pegunungan/
perbukitan yang membentang di wilayah barat
Kabupaten Kulon Progo, sebelah timur Kabupaten
Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang;
sekaligus menjadi batas alamiah bagi ketiga
kabupaten tersebut.

Misa ini diselenggarakan oleh Gereja Pelem Dukuh dan diikuti oleh beberapa sekolah di Menoreh,  antara lain :
- SD N Balong 1 dan 2
- SD N Kalirejo
- SD PL Kalirejo
- SD N Jatiroto
- SD N Tegalsari
- SD N Bendo
- SD N Kebonharjo
- SMP Sanjaya Girimulyo
- SMP 4 Samigaluh
- SD Kanisius Pelem Dukuh
- TK Kanisius Pelem Dukuh

Selesai Misa diadakan acara makan bersama.
Semoga kedepannya misa pelajar ini bisa dilakukan secara rutin sehingga mereka bisa menjadi sahabat dan saudara satu sama lain.

Foto selengkapnya klik disini

Renungan Hatian GML : YOHANES PEMBAPTIS SANG PEMBELA KESUCIAN, KEBENARAN DAN KEADILAN



BACAAN
Yer 26:11-16.24 – “Tuhan benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu”

Mat 14:1-12 – “Herodes menyuruh memenggal kepada Yohanes Pembaptis, kemudian murid-murid Yohanes memberitahukan hal itu kepada Yesus”

RENUNGAN
1.Yohanes Pembaptis diutus untuk menyiapkan jalan Tuhan. Ia adalah saksi kesucian dan kebenaran Allah. Ia berusaha membangkitkan penyesalan akan dosa dan perlunya pertobatan. Ia berbicara dengan jelas dan tidak takut kepada seorang pun. Ia berhadapan dengan Herodes Antipas, raja yang korup, lalim, dan sewenang-wenang. Yohanes mengkritik sistem dan moral Herodes: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!”

2.Pesta ulang tahun yang dihadiri “pembesar-pembesar, perwira-perwira dan orang-orang terkemuka Galilea” (Mrk 6:21) menjadi kesempatan untuk merancang pembunuhan terhadap Yohanes. Dengan dipengaruhi bisikan jahat (Herodias) Yohanes dipenggal kepalanya. Ia sebagai martir; ia telah menjalankan kenabiannya tanpa takut segala resiko. Yohanes telah menunjukkan kepada kita integritas pribadinya sebagai nabi.

3.Dengan cara kita masing-masing, kita dipanggil menjadi seorang nabi untuk menyuarakan kesucian, kebenaran, dan keadilan. Hal ini tidaklah mudah. Tantangan datang dari dalam diri kita: hidup dan kepribadian kita sering masih porak poranda, dan iman kita yang lemah. Tantangan dari luar, kita diejek, disingkirkan, bahkan ancaman atas nyawa kita. Maka tidak banyak orang yang siap menjadi nabi; banyak yang kompromi, supaya aman.

4.Apa yang harus kita bangun? Pertama-tama, iman yang mendalam dan berakar pada Kristus. Kedua, berani hidup dalam kebenaran, hati-hati dalam bertindak, dalam memilih, dan dalam memutuskan. Semua ini akan berdampak pada orang lain, diri sendiri, juga komunitas. Ketiga, kita mesti berani menunjukkan jati diri sebagai orang beriman yang bertanggungjawab.

MS, 4.8.18,

Jumat, 03 Agustus 2018

Renungan Harian GML : MENJADIKAN FIRMAN TUHAN ISTIMEWA



BACAAN
Yer 26:1-9 – “Seluruh rakyat berkumpul menghadap Tuhan”

Mat 13:54-58 – “Bukankah Dia itu anak tukang kayu? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”

RENUNGAN
1.Di hadapan tetangga-tetangga-Nya, yang sudah ditinggalkan selama kurang lebih tiga tahun, Yesus memberi kesaksian tentang kebenaran.  Orang-orang takjub dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu? Bukankah Dia itu anak tukang kayu? .... Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”

2.Mereka tidak mengakui kebenaran yang disampaikan Yesus, karena Ia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja; tak ada sedikit pun yang istimewa dari mereka.

3.Tidak berbeda dengan kita. Kita seringkali tidak bisa menerima kelebihan dan keunggulan orang lain bila tidak sesuai dengan keinginan kita; kita menutup mata terhadap kebenaran. Di dalamnya ada rasa iri hati, tidak ingin disaingi. Padahal iri hati menyesatkan kita dalam menilai orang lain.

4.Kita diundang untuk percaya lebih dalam terhadap kuasa Yesus. Tetapi penyakit kita adalah menganggap undangan itu biasa-biasa saja, tidak ada istimewanya. Ketika kita mendengar atau membaca Firman Tuhan, kita tidak tergerak karena Firman Tuhan kita anggap biasa saja. Dan yang terjadi sebenarnya adalah ini: kita tidak mendalam di dalam Firman. Kita hanya tahu permukaannya saja, sehingga hidup kita tidak menjadi baru dan begitu-begitu saja.

5.Padahal Tuhan punya rencana untuk menjadikan hidup kita saksi cemerlang terhadap kekuatan Sabda-Nya. Tuhan ingin mengisi hidup kita dengan kesucian-Nya dan menjadikan kita cahaya bagi orang lain. Tetapi bagaimana hal itu mungkin kalau kita memandang Firman Tuhan hanya biasa saja.

6.Supaya mukjizat tesebut terjadi, kita mesti menjadikan Firman sebagai yang istimewa, menjadikannya pemandu dan cahaya dalam perjalanan hidup kita. Tidak ada cara lain.

MS, 3.8.18,

Kamis, 02 Agustus 2018

Renungan Harian GML : KITA HARUS MEMILIH DAN TAHU KONSEKUENSINYA



BACAAN

Yer 18:1-6 – “Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kalian di tangan-Ku”

Mat 13:47-53 – “Ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang”

RENUNGAN

1.Kristus mengingatkan kita bahwa semua manusia tak terlepas dari pandangan Allah. Ia melihat apa saja yang kita lakukan, baik maupun buruk. Dan Ia memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk bertobat dan setia kepada-Nya atau menjauh daripada-Nya. Setiap pilihan akan membawa konsekuensi.

2.Nasib orang jahat dan tidak setia sungguh mengerikan: “Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api. Di sana akan ada ratapan dan kertak gigi.” Kita telah menghukum diri sendiri ketika kita tidak setia dan memisahkan diri dari Allah.

3.Tuhan Yesus mengingatkan bahwa tidak setiap orang yang berteriak ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Hanya mereka yang mendengarkan dan melakukan kehendak Allah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Maka kita harus menggunakan hidup yang singkat ini untuk berbuat kebaikan, menyebarkan kasih, dan membangun persaudaraan sejati.

MaxiSRI, 2.8.18,

Rabu, 01 Agustus 2018

Renungan Harian GML : KRISTUS: HARTA PALING BERHARGA


BACAAN
Yer 15:10.16-21 – “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan?”

Mat 13:44-46 – “Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu”

RENUNGAN
1.Bagi kita, orang beriman, harta yang paling berharga adalah Kristus; bukan jabatan, bukan harta kekayaan, bukan keluarga, tetapi Kristus.

2.Dalam Kristus kita mengalami kepenuhan kasih Allah. Dalam kerahiman-Nya, kita menemukan bahwa hidup kita bagaikan permata di hadapan Allah. Dalam pengajaran-Nya, kita menemukan kebijaksanaan untuk membangun kehidupan yang utuh. Dalam rahmat-Nya, kita menerima kekuatan untuk tumbuh dalam kasih dan kesucian. Dalam Kristus, kita dapat membangun masa depan yang benar. Tetapi kita harus bersedia menyingkirkan segala penghalang dalam diri kita agar kita mampu menguasai harta yang paling berharga ini. Kita harus bersdia menyingkirkan iming-iming rasa aman dan keselamatan di luar Kristus.

3.Untuk menjadikan Kristus semakin penuh dalam diri kita, perlu mengembangkan iman, harapan, dan kasih, pengorbanan dan penyangkalan diri, serta hidup dengan murah hati.

4.Pertanyaan refleksi: a) Apakah persahabatanku dengan Kristus merupakan nilai yang memimpin hati dan keputusan-keputusanku? b) Apakah aku memberikan kebebasan kepada Kristus untuk mengubah hidupku?

MS, 1.8.18,