menemukan Tuhan dalam keheningan

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

disinilah saat aku hening

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi),

eksotisme goa alam

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

menemukan Tuhan dalam keheningan

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawangdalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

disinilah saat aku hening

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. PatungBunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Minggu, 30 September 2018

Perayaan 10th Goa Maria Lawangsih, 25th Tahbisan Imamat Rm. P. Sajiyana Pr, Pembukaan Bulan Rosario



“Lumantar Ibu Maria Kita Muji Syukur  Awit ambal Warso Ingkang Kaping 10 Goa Maria Lawagsih” atau dalam bahasa Indonesia “Melalui Bunda Maria Kita Persembahkan Syukur atas Rahmat Dasa warsa Goa Maria Lawangsih”. Tema inilah yang diusung oleh para panitia untuk merayakan 10 th Goa Maria Lawangsih pada tgl 29 September 2018. Bagi umat setempat khususnya, dan para peziarah pada umumnya  keberadaan Goa Maria Lawangsih merupakan suatu rahmat tersendiri dari Tuhan karena dengan hadirnya tempat ini, umat diberikan kesempatan lebih untuk menimba rahmat melalui Bunda Maria, kadang ada yang membahasakan di Goa Maria Lawangsih kita bisa menemukan Tuhan dalam keheningan, karena memang tempatnya asri dan tenang untuk berdoa.


Foto jatilan selengkapnya klik disini

Kesenian jatilan dari kelompok seni “Ngesti Budaya Manunggal” dan "Among Mudo" menjadi pembuka seluruh rangkaian acara perayaan 10 th Goa Maria Lawangsih sekaligus Tahbisan imamat yang ke 25 th Rm. P. Sajiyana,Pr dan pembukaan bulan Rosario. Jatilan dimulai pukul 09.00 di halaman parker Goa Maria Lawagsih. Kesenian jatilan yag disuguhkan adalah jatilan “pong jur” atau jatilan “klasik”, dimana tarian ini menggambarkan cerita sejarah perangnya prajurit Mataram yg di pimpin oleh Adipati Suta Wijaya dan prajurit Jipang Panolan yg dipimpin oleh Adipati Arya Penangsang, perang ini di menangkan oleh Adipati Suta Wijaya dimana Arya penangsang terbunuh oleh tombak Suta Wijaya.  Jatilan klasik ini sekarang sudah bisa dibilang langka karena seiring perkembangan jaman jatilan kreasi baru lebih diminati. Tapi kelompok seni “Ngesti Budaya Manunggal” dan “Among Mudo” ini bisa membuktikan bahwa klasik bukan berarti ketinggalan zaman, malah bisa memberikan tontonan yang menarik dan baru terutama bagi generasi muda sekaligus untuk nostalgia untuk generasi tua.

Puncak syukur dimulai pukul 15.00 yaitu dengan  Misa Syukur yang dipimpin oleh Rm. Sajiyana Pr. Misa ini menggunakan bahasa jawa dan diiringi koor dari kelompok slaka Sabda Suci yang membuat Perayaan Ekaristi Kudus ini semakin istimewa. Selain umat Pelem Dukuh, misa ini juga dihadiri oleh peziarah dari luar paroki. Dalam ujub misa ini umat berdoa agar Rm P. Sajiyana Pr selaku Romo pembantu Paroki, selalu setia menjadi abdi-Nya dan menjadi gembala yang baik bagi umat dimana saja, untuk Goa Maria Lawangsih umat berharap agar melalui Bunda Maria, semakin bayak orang yang menerima berkat karena kasih-Nya dan semakin dekat dengan Yesus Puteranya terutama selama bulan Rosario ini.
Foto misa selengkapnya klik disini

Hal yang selalu menjadi daya tarik semua orang adalah makan-makan, dan memang benar, setelah misa ada pesta umat berupa makan bersama dengan menu siomay, bakso dan sate ayam. Hal ini jugalah yang sempat di singgung oleh Rm. Saji pada waktu misa, bahwa jangan ikut misa karena ada pesta setelahnya, tapi mengikuti misa karena adanya kerinduan pada Tuhan. Setelah pesta umat, pada pukul 19.00 diadakan ramah tamah dengan umat dan stasi sekitar, pedukuhan sekitar, Perangkat Desa dan Kecamatan, Polsek Girimulyo dan umat diluar katolik lainnya. Sambil menunggu para tamu undangan, anak-anak SD Kanisius Pelem Dukuh menyuguhkan kesenian karawitan yang berisi 9 lagu dengan 30 personil. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena generasi muda mau dan mampu melestarikan budaya jawa. Ramah tamah ini berisi “atur pambagyo” dari ketua panitia dan sambutan dari Ketua Pengelola Goa Maria Lawangsih, Bpk Camat Girimulyo, dan Wakil Ketua II Dewan Paroki adm St Maria Fatima Pelem Dukuh. Disela-sela sambutan diselingi dengan pentas seni dari Tari Angguk (oleh : Sela dan Vika), Nyanyi (oleh : Xena), dan Tari Incling Jangget (oleh : Clara dan Erilta).



Wayang adalah acara pungkasan dari seluruh rangkaian acara 10 th Goa Maria Lawangsih dan pesta imamat yang ke 25 th Rm. P. Sajiyana,Pr. Kesenian wayang mengambil Lakon “Sesaji Raja Soya” yang bercerita tentang Prabu Puntadewa yang akan mengadakan Sesaji Raja Soya sebagai wujud syukur dan doa untuk kemakmuran dan kebesaran Negara Indraprasta. Kisah ini berawal setelah penobatan Puntadewa menjadi raja, Prabu Kresna menyarankan untuk mengadakan Sesaji Raja Soya yang salah satu persyaratannya harus didukung 100 raja dengan sukarela. Sementara ditempat lain Prabu Jalasandra dari kerajaan Giribraja juga berencana mengadakan Sesaji Kalalodra yang mensyaratkan 100 raja untuk tumbal. Negara Giribraja telah berhasil memenjarakan 97 raja, sehingga para Pandawa memutuskan membebaskan raja-raja yang menjadi tawanan Prabu Jalasandra tersebut. Diakhir cerita dengan sukarela ke-97 raja bersama dengan 3 raja bergabung untuk mendukung terlaksananya Sesaji raja Soya. Dalam dalam pentas kesenian wayang ini adalah Ki Anom Sucondro yang merupakan Lurah di Kelurahan Jatimulyo.


Foto wayang dan pentas seni selengkapnya klik disini

Secara keseluruhan acara berjalan dengan tertib, aman, lancar dan meriah. Kesuksesan rangkaian acara ini merupakan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari panitia, keamanan swakarsa, Polsek Girimulyo, Karang Taruna Pratama sebagai petugas parkir dan semua pihak yang bertugas. Berkah Dalem.

Kamis, 27 September 2018

Renungan Harian GML : IMANKU MENJAWAB

Kamis, 27 Sept 18, St. Vincensius de Paulo


*BACAAN*
Pengkhotbah 1:2-11 – “Tiada sesuatu yang baru di bawah matahari”

*Luk 9:7-9* – “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?”

*RENUNGAN*
1.Pertanyaan dari segala pertanyaan yang selalu muncul dalam Kitab Suci adalah: *"Siapa gerangan orang ini?"* Tidak banyak orang mampu menjawabnya. Murid-murid Yohanes bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk 7:20). Para murid: “Siapa gerangan orang ini?” (Luk 8:25). Para ahli Taurat: “Katakanlah kepada kami dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini?” (Luk 20:2). Mahkamah Agama bertanya: “Jika Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami!” (Luk 22:67). “Engkau ini Anak Allah?” (Luk 22:70).

2.Hanya orang beriman mendalam mampu menjawab pertanyaan tersebut. Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias” (Mrk 8:29). Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Kepala pasukan yang menyaksikan penyaliban Yesus: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:39). Yohanes Penginjil menyimpulkan: “… supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31).

3.Apa yang harus kita buat supaya semakin mengenal dan menghayati hidup Yesus? Membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa dan menerima sakramen secara teratur dan terencana. Dengan cara-cara tersebut, kita memiliki relasi yang akrab mendalam dengan Tuhan. Menurutmu, siapa Yesus?

Rabu, 26 September 2018

Renungan Harian GML : PEWARTAAN YANG MENGHASILKAN BUAH

Rabu, 26 Sept 18, St. Kosmas dan Damianus

*BACAAN*
*Ams 30:5-9* – “Janganlah aku Kauberi kemiskinan atau kekayaan, melainkan hanyalah kebutuhan hidupku secukupnya”

*Luk 9:1-6* – “Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit”

*RENUNGAN*
1.Yesus mengutus para murid untuk mewartaan Kabar Gembira, tanpa bekal. Mereka  diwajibkan  percaya pada penyelenggaraan ilahi. Bagaimana pewartaan mereka bisa menyentuh dan menghasilkan buah limpah? Kekuatan pewartaan tidak terletak pada banyaknya materi atau ketrampilan, melainkan terletak pada cinta mereka kepada Tuhan. Apakah semangat pewartaan ini juga kita bawa di dalam keluarga, tempat kerja , dan komunitas kita?

2.Yesus mengutus pada murid-Nya bagaikan domba ke tengah-tengah serigala, sehingga tidak ada waktu untuk bersantai ria pada akhir pekan. Dengan memberikan teladan, Yesus menunjukkan apa yang perlu untuk keberhasilan tugas perutusan. Pada umur duabelas tahun Yesus telah sukses menjalankan tugas perutusan-Nya. Apa yang telah diwartakan dan dibuat oleh Yesus diikuti oleh orang-orang yang tak terhitung jumlahnya sampai hari ini.

3.Semakin sukar kondisi dan tempat perutusan, para murid diminta untuk semakin terlibat aktip. Mereka yang benar terlibat justru menemukan sebuah harta yang membuat mereka bersemangat. Harta tersebut adalah Kristus. Apakah kita menemukan Kristus ketika memberikan kesaksian tentang kebenaran, ketika menyampaikan pewartaan, dan ketika berbuat kasih? *MS, berkat.id*

Selasa, 25 September 2018

Renungan Harian GML : TEMUKAN IBU DAN SAUDARA-SAUDARI YESUS

25 September 2018

Luk 8:19-21

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Di sini, Yesus membuka sebuah perspektif yang lebih luas mengenai “keluarga”. Bagi-Nya, Ibu dan saudara-saudara-Nya adalah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Lalu pertanyaan berikutnya, “Apa yang dimaksud dengan Firman Allah dalam teks ini?”

Melihat konteks perikop ini, kita bisa menemukan bahwa sebelum Luk 8:19-21, kita bisa menemukan dua perumpamaan : (1) Perumpamaan mengenai benih yang jatuh di 3 jenis tanah yang berbeda; (2) Perumpamaan mengenai pelita yang ditempatkan di kaki dian. Kemudian setelah Luk 8:19-21, kita bisa menemukan (3) kisah para murid yang ketakutan di tengah badai dan mereka berteriak-teriak, “Guru, Guru, kita binasa!”

Dari konteks ini, paling tidak kita bisa menemukan bahwa “Mendengarkan Firman Allah” itu berarti :
(1)Mau menjadi tanah yang baik dan menyuburkan benih-benih baik (Luk 8:4-15);
(2)Mau menjadi pelita yang memberi terang bagi semua orang (Luk 8:16-18); dan
(3)Semakin percaya pada Yesus bahwa kita tidak binasa bahkan di tengah badai sekalipun (Luk 8:22-25).

Maka, jika kita ingin menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus”, paling tidak kita diharapkan bisa menjadi : (1) tanah yang baik bagi kebaikan; (2) membawa terang bagi sesama; dan (3) semakin percaya pada Yesus sendiri.

Di sisi lain, jika kita menemukan saudara-saudara (sesama) di sekitar kita yang telah menjadi “tanah yang baik”, “pelita (terang)”, dan “terus percaya” pada kebaikan itu sendiri (apapun agama dan latar belakangnya), mereka ini pun dapat menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus”. Dan itu berarti, mereka pun dapat menjadi “Ibu dan Saudara-Saudara kita”.

Maka, marilah kita temukan “Ibu dan Saudara-Saudara Yesus” dalam hidup kita sendiri dan juga dalam hidup orang-orang di sekitar kita. Kita bisa menjadi satu keluarga dalam Yesus!

Rm Nikolas Kristiyanto SJ

Senin, 24 September 2018

Renungan Harian GML : PEMBAWA OBOR

Senen Pahing, 24 Sept 18


BACAAN
Amsal 3:27-34 – “Orang yang sesat adalah hojatan bagi Tuhan”

Luk 8:16-18 – “Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya”

RENUNGAN
1.Dunia jaman ini  begitu gelap. Perhatian terhadap hal-hal rohani semakin menghilang; orang semakin banyak yang beragama tetapi semakin tidak mengenal Allah. Dunia sekarang ini lebih cocok disebut sekuler; dunia tanpa nilai rohani. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk menjadi pembawa obor yang mampu menerangi orang-orang di sekitar kita supaya tahu arah tujuan. Apakah kita terus berani membawa obor sambil merawat iman kita atau takut dengan lingkungan sekitar?

2.Seorang pembawa obor ialah orang yang sungguh beriman. Ia akan semakin haus mencari Tuhan, mengalami pengalaman bersama Tuhan. Kepadanya, Tuhan mencurahkan segala rahmat yang dibutuhkan secara berkelimpahan, “karena barangsiapa sudah punya akan diberi.” Sebaliknya jika seseorang tidak mengimani Tuhan, ia akan mencari kebenaran dan nilai duniawi saja, mata hatinya semakin tertutup akan Tuhan. Dari padanya, Tuhan akan mengambil apa yang ada padanya  sampai habis. “… tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya, akan diambil.” Ia kehilangan segala-galanya, karena tidak mau mengenal dan mengimani Tuhan.

Sabtu, 22 September 2018

Renungan Harian GML : SIKAP MANUSIA KETIKA MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN

Sabtu Kliwon, 22 Sept 18


BACAAN
1Kor 15:35-37.42-49 – “Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidak-binasaan”

Luk8:4-15 – “Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengarkan sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan”

RENUNGAN
1.Ada bermacam sikap manusia ketika mendengarkan Firman Tuhan. Biji yang jatuh di pinggir jalan adalah mereka yang mendengarkan Firman, tapi hidup di tengah mayoritas anti Kritus yang fanatik dan selalu menghalangi orang tersebut untuk beriman. Firman menguap tanpa membekas.

2.Biji yang jatuh di bebatuan. Banyak dari antara kita yang mendengarkan Firman Tuhan dengan sukacita dan dibaptis. Ia mengikuti Kristus dalam saat yang damai, tetapi jatuh ketika ada pencobaan, godaan dan ancaman. Ia memilih jadi mualaf. Aman.

3.Biji yang jatuh di atas semak berduri. Banyak dari antara kita yang mendengarkan dan menerima Firman Tuhan. Tetapi tuntutan ekonomi, bujuk rayu duniawi bikin ngiler juga. Nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah hidup dalam dirinya semakin menguap dan diganti dengan nilai-nilai duniawi: uang, harta kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan popularitas. Kerajaan Allah pelan-pelan hilang darinya.

4.Biji yang jatuh di tanah yang baik adalah kita yang mendengarkan Firman dengan hati terbuka dan menerima dengan sepenuh hati. Firman menjadi dasar yang kokoh kuat dalam hidupnya. Firman berakar dalam dan meluap dalam segala tindakan baik, belas kasih dan pelayanan tanpa pamrih. Ia merawat imannya dengan doa dan Sakramen. Aku jenis tanah yang mana?

Jumat, 21 September 2018

Renungan Harian GML : MEMANDANG DENGAN KACAMATA IMAN DAN CINTA

Jumat, 21-9-18, Pesta St.Matius, Rasul dan Penulis Injil

BACAAN
Ef 4:1-7.11-13 – “Ada yang dianugerahi menjadi rasul, ada yang menjadi pewarta Injil”

Mat 9:9-13 – “Berdirilah Matius, lalu mengikuti Yesus”

RENUNGAN
1.Para pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat bangsa. Orang-orang Yahudi tidak pernah akan bicara dengan mereka. Tetapi Yesus berkata kepada Matius: “Ikutlah Aku!” Dengan segera ia bangkit dan mengikuti Dia, tanpa bertanya, tanpa sarat, tanpa menghitung untung rugi.Ia hanya menerima begitu saja. Ia tidak tahu bahwa Yesus akan menjadikannya seorang Rasul. Kemudian ia melangkah lebih jauh: mengundang Yesus ke rumahnya untuk makan bersama. Hal ini merupakan tanda keakraban, persahabatan, dan cinta. Ia menerima Kristus dalam hidupnya.

2.Bagi Parisi, Yesus makan bersama pendosa adalah skandal. Orang Parisi berhadapan dengan seorang Rabbi yang memalukan. Masalahnya adalah: mereka tidak memahami tentang Mesias dan memandang Yesus hanya dari segi lahiriah, padahal Ia harus dicari lewat iman dan cinta. Hal ini sering terjadi pada diri kita, ketika kita mengkritik keadaan, kejadian, dan orang lain hanya dari sudut pandang kita yang sempit dan lahiriah semata, tidak ada perspektif iman dan kasih.

3.Yesus mengajak kita memiliki cara pandang baru  berdasarkan iman dan cinta, tidak sekedar lahiriah belaka. Artinya, sebagai orang beriman, hendaknya memiliki “kedalaman” cara pandang (melampaui yang biasa) ketika berhadapan dengan keadaan, kejadian, atau orang lain. Sebuah habitus yang hanya bisa kita ciptakan melalui doa dan kehidupan rohani yg dalam.

Rabu, 19 September 2018

Renungan Harian GML : BELAS KASIH BERARTI MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

Selasa, 18 Sept 18, Pekan Biasa XXIV

BACAAN
1Kor 12:12-14.27-31a – “Kamu semua adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya”

Luk 7:11-17 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

RENUNGAN
1.Banyak alasan untuk putus asa, seperti yang dialami oleh seorang janda yang anaknya laki-laki meninggal. Dia kehilangan anak tunggalnya, berarti kehilangan sumber kehidupan. Dia sangat terpukul dan kehilangan harapan. Ketika melihat janda tersebut, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu berkata: “Jangan menangis!” Yesus memberikan harapan dan sukacita, sehingga membuat janda tersebut bangkit dari keterpurukannya.

2.Yesus memberikan apa yang dibutuhkannya. Ia menghampiri usungan itu, menyentuhnya dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Dan anak muda yang telah mati itu hidup kembali; Yesus memulihkan apa yang telah hilang. Ia memenuhi janji-Nya: “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi” (Why 21:4). Setelah kita disembuhkan dan diselamatkan, kita harus berani berkata: “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Rom 14:8).

3.Belas kasih merupakan dasar pokok ketika Yesus berbuat kebaikan yang mendatangkan sukacita dan hidup baru bagi siapa saja yang dilayani-Nya. Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya menderita sendirian. Ia selalu menyertai kita. Masih adakah rasa belas kasih di dalam diri kita demi kebahagiaan sesama?

Selasa, 18 September 2018

Renungan Harian GML : BELAS KASIH BERARTI MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN

Selasa, 18 Sept 18, Pekan Biasa XXIV


BACAAN
1Kor 12:12-14.27-31a – “Kamu semua adalah tubuh Kristus, dan masing-masing adalah anggotanya”

Luk 7:11-17 – “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

RENUNGAN
1.Banyak alasan untuk putus asa, seperti yang dialami oleh seorang janda yang anaknya laki-laki meninggal. Dia kehilangan anak tunggalnya, berarti kehilangan sumber kehidupan. Dia sangat terpukul dan kehilangan harapan. Ketika melihat janda tersebut, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu berkata: “Jangan menangis!” Yesus memberikan harapan dan sukacita, sehingga membuat janda tersebut bangkit dari keterpurukannya.

2.Yesus memberikan apa yang dibutuhkannya. Ia menghampiri usungan itu, menyentuhnya dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Dan anak muda yang telah mati itu hidup kembali; Yesus memulihkan apa yang telah hilang. Ia memenuhi janji-Nya: “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi” (Why 21:4). Setelah kita disembuhkan dan diselamatkan, kita harus berani berkata: “Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan” (Rom 14:8).

3.Belas kasih merupakan dasar pokok ketika Yesus berbuat kebaikan yang mendatangkan sukacita dan hidup baru bagi siapa saja yang dilayani-Nya. Ia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya menderita sendirian. Ia selalu menyertai kita. Masih adakah rasa belas kasih di dalam diri kita demi kebahagiaan sesama? (MS,berkat.id)

Senin, 17 September 2018

Renungan Harian GML : DIPANGGIL MENJADI SUMUR IMAN, HARAPAN, DAN KASIH DI MANA ORANG LAIN BISA MENIMBA

Senin, 17 Sept 2018, St. Rob Bellarminus


BACAAN
1Kor11:17-26 – “Bila ada perpecahan di antara kamu, itu bukanlah caranya untuk makan perjamuan Tuhan”

Luk 7:1-10 – “Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai”

RENUNGAN
1.Seringkali orang-orang yang diberi berkat sangat banyak, biasanya paling sedikit mengenal Allah. Hal ini dibuat oleh bangsa Israel. Karena alasan tersebut, Yesus memberikan anugerah iman kepada orang-orang di luar Israel, terutama mereka yang sederhana dan rendah hati. Contoh untuk hal tersebut adalah seorang perwira yang datang kepada Yesus. Sebagai orang beriman, sudah seharusnya kita berusaha seperti dia: sederhana, rendah hati, dan percaya sepenuhnya atas kuasa Yesus dalam kehidupan kita.

2.”Tuan, aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku.” Kalimat tersebut menyatakan kerendahan hati yang dalam. Kita selalu mengungkapkannya selama Ekaristi sebelum  menerima Komuni Suci, di mana kita benar-benar menerima Tubuh, Darah, dan Jiwa Kristus. Iman kita merupakan kunci untuk membuka hati kita terhadap rahmat penyembuhan dari Tuhan.

3.”Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai.” Bukankah kita juga menghendaki agar Tuhan mengatakan kata-kata ini kepada kita? Tuhan memanggil kita agar menjadi sumur iman, harapan dan kasih, di mana orang lain bisa menimba untuk kekuatan hidupnya.

Minggu, 16 September 2018

Renungan Harian GML : ENGKAU ADALAH MESIAS PUTRA ALLAH YANG HIDUP


 Salam jumpa saudari-saudara sekalian. Hari ini Minggu Biasa XXIV Tahun B. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk membuat penegasan atas pengenalan kita akan Yesus Kristus yang kita imani. Pertanyaan Yesus kepada murid-murid yang memuncak pada jawaban Petrus, menjadi pertanyaan yang harus kita jawab juga. “Kata orang, siapakah Aku ini? Tetapi meneurut kamu, siapakah Aku ini?” Mengenal Yesus, bisa dan boleh saja dari kata orang ataupun dari sharing orang lain. Namun menjadi murid Yesus harus menjadi sebuah keputusan pribadi dari hasil pengenalan akan Yesus secara mendalam dan menyeluruh. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana Petrus yang baru saja mendapatkan pujian oleh Yesus atas jawabannya yang tepat tentang Yesus, ia langsung juga dihardik oleh Yesus: “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Hal itu terjadi karena Petrus tidak mau terima bahwa Yesus. Mesias itu akan mengalami penderitaan. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama telah melukiskan bahwa Mesias itu akan taat setia kepada Allah, bahkan ketika Ia harus menanggung penderitaan atas orang-orang yang memukuli punggungnya dan mencabuti janggutnya (Yes 50: 5-6). Rasul Yakobus, dalam bacaan kedua, menyampaikan bahwa imn kepada Yesus itu harus konkrit; harus nyata di dalam sikap dan perbuatan-perbuatan. “Kalau seroang di antara kamu berkata saudara yang tidak punya pakaian dan kekurangan makanan: ‘selamat jalan saudara! Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang’ tetapi ia tiidak memberikan kepadanya apa yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya? Demikian pula jIka iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:16-17). Iman adalah keyakinan yang mendarah daging dan mempengaruhi sikap dan tingkah laku yang semakin sesuai dengan kehendak Allah. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus membantu kita untuk bertumbuh sebagai Kristus-Kristus kecil di dunia ini. 

Saudari-saudara sekalian, gambaran kita tentang Kristus ataupun Mesias akan mempengaruhi sikap dan tindakan hidup kita. Petrus dan para murid ditegur oleh Yesus supaya mereka tidak ‘memikirkan apa yang dipikirkan manusia’, yang menggambarkan Mesias sebagai raja besar yang kuasa, atau sebagai seorang nabi, atau seorang tokoh yang mengatur bidang politik. Sebaliknya Yesus menegaskan, bahwa Ia adalah Anak Manusia, yang justru harus menderita sengsara dan mati dibunuh, akan tetapi juga akan bangkit lagi. Kebangkitan Yesus tidak terlepas dari peristiwa penderitaan dan kematian-Nya. Bagaimana gambaran kita sendiri sekarang ini tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita? Bukankah bagi kita ini sebenarnya lebih mudah daripada murid-murid Yesus dahulu? Sebab kita mengenal Yesus sebagai Penyelamat yang sudah bangkit. Tetapi kenyataannya? Isi, bobot dan kadar iman kita akan Dia kerapkali tidak berbeda dari kepercayaan murid-murid Yesus sebelum Ia menderita, mati dan bangkit! Gambaran kita tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat sering bercorak duniawi, politis, megah, dan karenanya mengharapkan agar kebesaran Kristus dapat tampak dalam kesejahteraan, kemakmuran, kemegahan, kesembuhan, dan pengalaman mengagumkan. Apapun yang ada hubungannya nama kristiani harus tampak istimewa, terkenal, dikagumi, disegani daan dipuji orang. Semua itu baik adanya. Namun tidak boleh dilupakan bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati ataupun menunggu Kristus buat untuk kita. Kristus tinggal di dalam diri kita agar kita bersama-sama dengan Dia turut mengupayakan keadaan yang jaya itu. Proses untuk mencapai itulah yang berat ataupun menjadi salib bagi kita. 

Saudari-saudara, dalam tuntunan Gereja Lokal atau keuskupan, kita diajak untuk mewujudkan kehidupan iman kita di dalam perbuatan-perbuatan. Pengamalan Pancasila merupakan lahan dan sarana kita mewujudkan kehidupan iman itu di dalam dan bersama warga sesama anak bangsa. ‘Kita Bhinneka Kita Indonesia’ dan di tahun depan ‘Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat’ merupakan semboyan yang membutuhkan peran serta kita sekalian di dalam mengupayakan dan melaksanakannya. Merupakan tantangan besar membangun persatuan di tengah-tengah isu-isu primordialisme yang mengedepankan kepentingan tertentu seperti kepentingan politik dan golongan. Sebagai murid Yesus, kita harus sanggup. Salam Bhinneka salam Pancasila. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC) 

Sabtu, 15 September 2018

Renungan Harian GML : MENEMPATKAN MARIA DALAM RUMAH KITA

Sabtu, 15 Sept 2018, PW S.P. Maria Berdukacita

BACAAN
1Kor 15:1-11 – “Begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kamu mengimani”

Yoh 19:25-27 – “Inilah anakmu! Inilah ibumu!”

RENUNGAN
1.Hari ini pesta St. Perawan Maria  berduka cita. Ketika malaikat Gabriel memberi kabar kepada Maria, ia tidak mengatakan tentang kedukaan, melainkan hanya tentang janji-janji penyelamatan. Tetapi segera setelah kelahiran Yesus, Simeon mengatakan: “… dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya pikiran banyak orang dinyatakan” (Luk 2:35). Menggenapi panggilannya, Maria menyertai Puteranya dalam perjalanan menuju Golgota dan berdiri di bawah salib-Nya dengan kepedihan dan duka.

2.Kata-kata Yesus kepada ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya merupakan kesaksian dan keinginan-Nya yang terakhir. Ia mewariskan apa yang Ia pandang paling berharga kepada orang-orang yang Ia kasihi. Kepada Maria, Ia memberikan sahabat yang sangat Ia kasihi yang akan membutuhkan bantuan Maria saat menghadapi kesulitan. Kepada Yohanes, Yesus memberikan ibu-Nya, murid terbaik. Yesus tahu bahwa ibu-Nya membutuhkan Yohanes, untuk menghibur dan menyertainya.

3.Yohanes membawa Maria ke dalam rumahnya. Rumah, tidak lain adalah Gereja yang didirikan oleh Yesus. Sebagai ibu Yesus, Maria mendapat tempat terhormat. Maria juga menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dalam Gereja-Nya. Home, sweet home. (MS,www.berkat.id)

Jumat, 14 September 2018

Renungan Harian GML : TUHAN BEGITU MENCINTAI SAYA

Jumat, 14 Sept 2018, Pesta Salib Suci


BACAAN
Bil 21:4-9 – “Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga, ia akan tetap hidup”

Flp 2:6-11 – “Yesus telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan wafat di kayu salib”

Yoh 3:13-17 – “Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”

RENUNGAN
1.Nikodemus datang kepada Yesus untuk menemukan siapa sesungguhkan Dia itu. Yesus mengatakan kepadanya bahwa Ia adalah Anak Manusia dan Anak Allah. Ia datang dari surga dan akan kembali ke surga. Pernyataan Tuhan telah menarik perhatian Nikodemus. Dengan pernyataan tersebut, apa yang diharapkan Tuhan dari kita?

2.Ketika umat Israel berontak terhadap Allah di padang gurun, mereka dihukum oleh ular berbisa yang sangat ganas. Demi umatnya, Musa membuat patung ular tembaga yang ditinggikan di sebuah tiang dan siapa yang memandang ular itu diselamatkan. Yesus menyelamatkan manusia tidak dengan simbol yang ditinggikan pada sebuah tongkat, tetapi dengan mengurbankan diri-Nya dengan ditinggikan di kayu salib. Ia menyelamatkan kita tidak dari kematian duniawi, tetapi dari kematian kekal. Ia sungguh Sang Penyelamat yang lebih besar daripada Musa.

3.Seberapa besar cinta Allah kepada kita? Cinta-Nya tanpa batas. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Selayaknya kita selalu bersyukur, memuliakan-Nya dan membalas cinta-kasih-Nya. (MS,berkat.id)

Kamis, 13 September 2018

Renungan Harian GML : SEBUAH CITA-CITA YANG SANGAT TINGGI

Kamis, 13 Sept 2018, PW St. Yoh Krisostomus


BACAAN
1Kor 8:1b-7.11-13 – “Bila engkau melukai hati mereka yang lemah, engkau berdosa terhadap Kristus”

Luk 6:27-38 – “Hendaknya kamu murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya”

RENUNGAN
1.Khotbah di Bukit merupakan ajaran yang  revolusioner. Tak pernah terjadi sebelumnya, ideal cinta kasih ditempatkan sedemikian tinggi. Untuk pelaksanaannya pun diperlukan sikap heroic. Apa yang dituntut Yesus benar-benar membuat kia sering gusar, karena berlawanan dengan pandangan pada umumnya. Enak didengar, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Namun dalam Tuhan kita akan mampu melaksanakannya.

2.Yesus juga memberikan Peraturan Emas: perbuatlah kepada orang lain sebagaimana engkau menghendaki orang lain perbuat bagimu. Hal ini juga tidak mudah, karena kita suka menuntut orang lain mengikuti kemauan kita, suka egois, sombong dan arogan. Apa yang bisa membebaskan kita dari kedangkalan dan kepicikan ini?

3.Rencana Tuhan untuk kita sungguh mengagumkan. Tuhan mengatakan kepada kita untuk menjadi sempurna, tidak menurut ukuran manusia, tetapi menurut ukuran Allah sendiri; Panggilan kita adalah menjadi serupa dengan Allah. Yang harus kita buat adalah bekerjasama dengan Allah sendiri, mencari Dia lewat doa dan selalu mencari kehendak-Nya dalam hidup kita tiap hari. MS,berkat.id


Rabu, 12 September 2018

Renungan Harian GML : MENJADI BAHAGIA MENURUT KERAJAAN ALLAH

Rabu, 12 Sept 2018

BACAAN
1Kor 7:25-31 – “Dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu”

Luk 6:20-26 – “Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga”

RENUNGAN
1.Dalam perikope Injil hari ini, Yesus mengarahkan pandangan-Nya kepada para pengikut-Nya. Pada hari ini, Tuhan memandangi wajah kita dengan pandangan yang penuh kasih. Kita siap menerima apa yang Ia sabdakan, karena kita percaya bahwa Ia memiliki Sabda kehidupan abadi. Kalau kita mengalami kemiskinan, kelaparan, kepedihan, kesengsaraan dan hidup yang tersingkirkan karena Kristus, hal tersebut merupakan nilai-nilai hidup Kristus dan cukuplah bagi kita.

2.Yesus mendorong kita untuk mengusahakan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan membuang segala egoisme kita dan Ia akan memperhatikan dan memberi kompensasi kepada kita. Surga, tertawa dan suka cita, kepenuhan yang tak terduga menanti kita. Namun sangat sulit untuk tidak mencari “surga di bumi” dalam rupa kekayaan dan segala kesenangannya serta menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita. Masihkah kita memiliki visi iman dan ketekunan rohani?

3.Tuhan juga memberi peringatan-peringatan dengan kata-kata: “Celakalah …” sebagai lawan dari pujian: “Berbahagialah …” Jika langkah kita mengikuti jalan yang diperingatkan Tuhan, maka kita harus waspada: kemana jalan ini akan mengarahkan kita? Di mana hati kita, di situ harta kita. Apakah keinginan hati kita mengarah kepada yang ilahi dan kebahagiaan kekal atau kepada yang duniawi dan kesenangan-kesenangan sesaat? Kita harus berani memeriksa kembali semua motivasi atas keputusan dan tindakan kita dan berusaha untuk memurnikannya kembali. (MS,www.berkat.id)



Selasa, 11 September 2018

Renubgan Harian GML : ORA ET LABORA

Selasa, 11 Sept 2018


BACAAN
1Kor 6:1-11 – “Adanya perkara di antaramu saja, antara seorang saudara terhadap saudara yang lain, telah merupakan kekalahan bagimu”

Luk 6:12-19 – “Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah”

RENUNGAN
1.Sering kali Penginjil mengatakan bahwa Yesus berdoa  kepada Bapa-Nya. Untuk berdoa, Yesus pergi ke tempat yang cocok dan mengkhususkan waktu untuk berdoa. Ia “mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.” Dari sini kita dapat belajar dan mencontoh Tuhan, agar kehidupan doa kita semakin diperkaya.

2.Bagi Yesus, ketika ada keputusan penting yang harus dibuat, Ia selalu konsultasi kepada Bapa-Nya untuk mengetahui kehendak-Nya. Ia tidak pernah tiba-tiba ketika memanggil duabelas pengikut-Nya untuk menjadi rasul. Demikian pula ketika kita ditunjuk untuk tugas tertentu demi Kerajaan Allah, Ia pun meyakinkan bahwa tugas kita tersebut sesuai dengan rencana Bapa.

3.Yesus sungguh menyiapkan diri untuk aktifitas pada hari berikutnya. Dalam kesatuan dengan Bapa, Ia menyalurkan kebaikan-kebaikan Allah kepada mereka yang diperbudak oleh roh-roh jahat atau mereka yang membutuhkan kesembuhan. Yesus sungguh Allah sehingga Ia memiliki kekuatan dari diri-Nya sendiri. Tetapi tindakan Yesus ini, berdoa kepada Bapa-Nya, memberi sebuah contoh bagaimana kita menjadi ranting yang harus bersatu dengan pokok anggur untuk menghasilkan buah limpah sampai akhir hidup kita. Berdoa dan bekerja sampai akhir. Masihkah kita, setiap hari, mengkhususkan waktu untuk hening dan berdoa? (MS,www.berkat.id)

Senin, 10 September 2018

Renungan Harian GML : BERBUATLAH BAIK, SELALU DAN DI MANA SAJA

Senin, 10 September 2018


BACAAN
1Kor 5:1-8 – “Buanglah ragi yang lama; sebab Kristus, Anak Domba Paskah kita, telah disembelih”

Luk  6:6-11 – “Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat”

RENUNGAN
1.Ketika Yesus berbicara, Ia selalu meyakinkan orang-orang yang hadir. Mereka berkomentar bahwa Yesus berbicara dengan meyakinkan, tidak seperti orang-orang Parisi.  Hal ini karena Yesus  mengajarkan sesuai dengan apa yang Ia lakukan; Ia melakukan apa yang Ia ajarkan. Ialah Guru dan Tuhan kita, yang bicara dengan penuh belas kasih, yang merendahkan diri dengan mencuci kaki para murid, dengan harapan kita pun melakukan hal yang sama.

2.Yesus mahatahu. Ia tahu apa yang dipikirkan orang lain. Ia  mencaci  orang-orang Parisi karena  mereka picik dan banyak rewel. Mereka menuntun orang lain, tetapi tidak mengerti kebutuhan orang lain. Yesus mencari orang yang perlu Ia bantu. Walau pun orang-orang di sekitar-Nya mengkritik apa yang Ia katakan dan kerjakan, Ia tidak pernah berhenti melakukan perbuatan baik. Ketika orang lain mencemooh dan mengkritik kita, apakah kita masih akan terus melakukan perbuatan cinta kasih?

3.Budaya kematian dianut oleh orang-orang Parisi. Mereka menghakimi orang-orang yang tidak mengikuti hukum buatan mereka. Dengan sangat keras mereka mengecam Yesus karena dianggap melawan hukum Sabat. Sedangkan Yesus berbicara tentang Sabda Kehidupan. Ia memperkaya kehidupan dengan menyembuhkan banyak penyakit. Kita harus belajar dari Yesus, bagaimana menjadi cahaya dan kehidupan di tengah budaya yang memecah belah, egoisme, dan budaya kematian.

Sabtu, 08 September 2018

Renungan Harian GML : MAHAKARYA TUHAN: MENCIPTAKAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

Sabtu, 8-9-18, Pesta Kelahiran SP Maria

BACAAN
Mika 5:1-4a – “Tibalah saatnya perempuan yang mengandung itu melahirkan”

Mat 1:1-16.18-23 – “Anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”

RENUNGAN
1.Injil hari ini bercerita tentang misteri agung Inkarnasi. Mengapa Tuhan memilih menjadi salah satu dari kita? Dalam garis silsilah, kita jumpai orang yang baik dan jahat, orang beriman dan kafir, orang yang berguna dan tidak berguna. Mengapa Tuhan memilih yang cacat, bermutu rendah, dan diri-Nya berasal dari orang-orang seperti itu? Tuhan ingin selalu beserta kita.

2.Anna, isteri Yoakim, mandul sampai umur tuanya. Karena tidak memiliki keturunan, maka Yoakim dihina oleh orang-orang di sekitarnya. Karena hatinya terluka sangat dalam, ia pergi menggembalakan domba-domba di padang belantara dan tidak kembali kepada isterinya dalam jangka yang lama. Pada suatu hari, ia menerima penampakan dari malaikat yang mengatakan bahwa ia akan mempunyai keturunan. Maka kembalilah ia kepada isterinya di Betsaida. Ada harapan baru. Dari kata-kata malaikat, maka lahirlah Maria, yang lahir tanpa noda dosa. Tuhan mengambil yang tidak berguna dan menciptakannya Maria dikandung tanpa noda dosa.  Tuhan telah meninggikan yang rendah.

3.Tuhan mempunyai rencana untuk Maria: Ia minta kepadanya untuk mengandung Anak-Nya. Tuhan selalu membawa yang baik dan indah dan semua itu demi keselamatan semua orang. Dengan itu Tuhan merasuk ke dalam silsilah manusia yang tidak sempurna, dan Tuhan beserta kita. Tetapi karena keras hati, kita tidak mampu lagi merasakan dan mengalami penyertaan Tuhan. (MS)

Jumat, 07 September 2018

Renungan Harian GML: MENJADI CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS

Jumat, 7-9-2018


BACAAN
1Kor 4:1-5 – “Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati”

Luk 5:33-39 – “Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa”

RENUNGAN
1.Para ahli Kitab dan orang-orang Parisi selalu mengamat-amati apa yang diajarkan Yesus. Ketika Yesus dan Levi makan bersama, mereka menyatakan : “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang … Tetapi, murid-murid-Mu makan dan minum.” Mereka menuduh Yesus dan para murid-Nya melanggar hukum puasa. Dengan demikian Yesus dan para murid-Nya dinyatakan tidak suci. Seringkali kita juga mengadili orang lain ketika mereka tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.

2.Jawaban Yesus sederhana: ada saat dan tempatnya kapan harus puasa dan pesta. Dalam tradisi Gereja, tahun liturgi melengkapi kita dengan lingkaran sukacita dan pengampunan dosa. Ada saat sukacita, seperti Natal dan Paskah. Ada saat masa pertobatan, Prapaskah dan Adven, di mana kita melakukan penyucian diri lewat puasa dan pengakuan dosa. Pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh menjalani atau mengabaikannya? Apakah puasa dan pesta seperti diadakan oleh Gereja sungguh mempengaruhi hidup kita?

3.Kemudian Yesus menyampaikan sebuah tantangan dalam bentuk perumpamaan, yang menekankan  bahwa untuk memeluk pesan Yesus, kita harus hidup secara baru. Kita biasanya sudah nyaman dengan rutinitas, berpuas diri dan suam-suam kuku dalam iman; tidak ada pembaruan. Untuk mengikuti Kristus, kita harus meninggalkan diri kita yang lama dan menjadi ciptaan baru dalam Kristus (Kol 3:9-10). Bagi orang-orang Paris berarti meninggalkan formalisme hukum dan sikap mengadili orang lain. Biasanya kita msih memeluk cara hidup lama sekaligus memeluk cara hidup baru dalam Kristus. Nah, bagaimana ini? (MS

Kamis, 06 September 2018

Renungan Harian GML : KAGUM DAN SIAP DIUTUS

Kamis, 6-9-2018


BACAAN
1Kor 3:18-23 – “Semuanya itu milik kamu, tetapi kamu milik Kristus, dan Kristus milik Allah”

Luk 5:1-11 – “Mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus”

RENUNGAN
1.Yesus mengajar orang banyak di tepi danau. Bagi mereka, danau adalah segalanya: air, makanan, transportasi, dan tempat yang indah. Yesus mengambil sikap sebagai seorang Guru dan berbicara dari perahu para murid. Ia mengajar tidak hanya di Bait Allah, tetapi di setiap tempat di mana orang-orang mau mendengarkan.

2.Untuk menarik perhatian agar orang serius mendengarkan, tidak cukup hanya dengan cerita yang menarik. Bagi Yesus, memberi perhatian secara pribadi sangat penting. Ia naik ke dalam perahu Simon dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu sedikit jauh dari pantai. Tidak terlalu sulit untuk melakukannya. Tetapi ketika sudah lama bersama Yesus, Ia minta sesuatu yang membutuhkan iman dan terkadang berlawanan dengan keinginan kita: “Bertolaklah ke tempat yang dalam … “ Simon menggerutu karena sepanjang malam tidak memperoleh ikan seekor pun. Perintah Yesus memiliki kekuatan yang lebih besar bagi mereka daripada pengalaman frustrasi pada malam itu.

3.Masihkah kita terpesona ketika Tuhan berbuat sesuatu yang mengagumkan dalam hidup kita? Mungkin tidak, karena kita sering berpikir bahwa kesuksesan karena kemampuanku sendiri. Simon yang percaya akan kuasa Yesus, dan tahu siapa Dia, berkata: “Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa.” Petrus merasa sebagai orang yang tidak pantas. Yesus mengusir ketakutan Petrus: “Jangan takut!” Petrus takjub, terpesona atas kuasa Yesus. “Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” Untuk meneruskan Kabar Gembira, kita dipanggil untuk terlibat dalam tugas perutusan (MS)

Rabu, 05 September 2018

Renungan Harian GML : SURAT TAGIHAN DARI TUHAN

Rabu, 5-9-2018, Pekan Biasa XXII


BACAAN
1Kor 3:1-9 – Kami ini hanyalah kawan sekerja Allah; sedangkan kamu adalah ladang Allah dan bangunannya”

Luk 4:38-44 – “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil, sebab untuk itulah Aku diutus”

RENUNGAN
1.Penyembuhan mertua Simon yang menderita demam keras, nampak sepi, biasa-biasa saja, tidak ada kata-kata dari Yesus, tidak ada reaksi dari orang-orang yang menyertai-Nya. Padahal kita suka mukjizat yang heboh. Tuhan membuat mukjizat untuk kita melalui hal-hal yang biasa:  ketika kita berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi, bimbingan rohani, pemeriksaan batin secara rutin. Tetapi kita menganggap tindakan tersebut rutin belaka, biasa-biasa saja sehingga tidak merasakan adanya mukjizat.

2.Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dengan segera. Dan ibu mertua Simon tanpa ragu percaya  terhadap tindakan Tuhan. Ia percaya sepenuhnya, maka rahmat Tuhan bekerja secara efektif. Penyembuhan terjadi secara sempurna dan seketika melalui mukjizat yang nampak biasa.

3.Kita punya kebiasaan mendesak-desak, bahkan memaksa Tuhan untuk menyembuhkan penyakit kita, tapi kita mengelak kalau ada “tagihan” dari Tuhan yang berupa pelayanan terhadap orang lain. Berbeda dengan ibu mertua Simon. Begitu sembuh, ia segera melayani Tuhan, bahkan ia tidak memikirkan dirinya sendiri dan hanya focus pada kebutuhan orang lain. Tuhan Yesus membangkitkan kita dari kematian dosa dan memanggil kita untuk melayani. MS

Selasa, 04 September 2018

Renungan Harian GML : IA MENGAJAR DENGAN PENUH KUASA DAN WIBAWA

Selasa, 4-9-18, Pekan Biasa XXII


BACAAN
1Kor 2:10b-16 – “Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah”

Luk 4:31-37 – “Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa”

RENUNGAN
1.Kaparnaum, tempat tinggal Yesus, merupakan sebuah kota besar, tempat yang ideal untuk menyebarkan Injil, tempat di mana Tuhan Yesus menjalankan bagian terbesar dari perutusan-Nya.

2.Yesus memilih menyembuhkan seseorang pada hari Sabat, dan tak ada orang protes. Lain ketika hal tersebut terjadi di Yerusalem. Orang-orang di Kaparnaum memiliki iman yang sederhana, tidak begitu peduli terhadap peraturan dan ritual rumit yang dibuat oleh orang-orang Parisi. Yesus sendiri merasa at home dan diterima di Kaparnaum. Ia dengan bebas bisa berkhotbah, menyembuhkan, dan bekerja. Di sini Ia menemukan Petrus, Andreas, Matius, Yohanes, dan Yakobus. Di sini Ia menemukan iman di antara orang-orang penyembah berhala.

3.Orang-orang Kaparnaum kagum terhadap pengajaran Yesus, karena Ia menciptakan hatinurani yang kritis ketika harus berhadapan dengan para penguasa keagamaan, Ia mengajar dengan penuh kuasa berdasar pada pengalaman-Nya akan Allah dan kesaksian pribadi-Nya.

4.Masing-masing dari kita diberi kuasa tertentu: sebagai imam, orang tua, guru, orang yang berwenang dalam pekerjaan, … Marilah kita memastikan bahwa kita menggunakan kuasa tersebut hanya untuk meningkatkan kemampuan orang lain, bukan untuk mematikannya. (MS

Senin, 03 September 2018

Renungan Harian GML : HATI YANG TERBUKA TERHADAP PESAN TUHAN

Senin, 3-9-18, PW St. Gregorius Agung


BACAAN
1Kor 2:1-5 – “Aku mewartakan kepadamu kesaksian Kristus yang tersalib”

Luk 4:16-30 – “Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin”

RENUNGAN
1.Kita menerima pesan sangat terpengaruh dari siapa pesan itu datang. Nasehat dari orang yang tidak kita sukai langsung kita tolak atau delete. Kita banyak kali tidak memperhatikan terang dari Allah karena disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai. Orang Nasaret kecewa dan menolak Yesus, karena Dia hanya tetangga, “satu di antara mereka,” dan tidak mereka pilih. Padahal Dia adalah Mesias.

2.Yesus menyampaikan contoh  kisah janda di Sarfat (1Raj 17:7-16) dan Naaman orang Syria (2Raj 5:14) dengan maksud mengecam ketertutupan hati dan pikiran orang-orang Nasaret, karena mereka lebih mementingkan siapa yang menyampaikan pesan daripada pesan itu sendiri. Apakah hati kita juga keras dan tertutup ketika menerima pesan dari Tuhan?

3.Dalam pelayanan-Nya, Tuhan berkata: “Jika kamu tidak percaya kepada perkataan-perkataan-Ku, paling tidak kamu percaya akan apa yang Aku kerjakan.” Orang-orang Nasaret tidak percaya kedua-duanya, maka hampir tidak ada mukjijat yang terjadi di sana. Kita harus ingat, bahwa iman merupakan pemberian dari Allah, bukan karena jasa kita. Dari kita hanya dituntut keterbukaan hati dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Jesus, I trust in you.

Minggu, 02 September 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENYENANGKAN HATI ALLAH

HMB XXII, 2.9.18 – Hari Minggu KS Nasional


BACAAN
Ul 4:1-2.6-8 – “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya”

Yak 1:17-18.21b-22.27 – “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman, dan bukan hanya pendengar!”

Mrk 7:1-8.14-15.21-23 – “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”

RENUNGAN
1.Banyak orang, seperti orang-orang Parisi, juga kita, selalu sibuk mengamat-amati kekurangan dan kesalahan orang lain, tetapi tidak melihat kekurangan dan kesalahan sendiri. Apa pun yang dilakukan orang lain tak pernah ada benarnya, selalu salah. Mereka menganggap diri selalu beres dan paling benar. Kesombongan seperti ini telah mengotori hatinya.

2.Tuhan Yesus menghendaki sikap rendah hati. Karena, dengan rendah hati, kita mampu mengenal diri sendiri yang penuh cacat cela dan dosa, dan kemudian mengakuinya dan akhirnya memperbaikinya. Ini yang berkenan di hati Tuhan.

3.Namun kenyataannya, banyak hal nampak suci di dalam kehidupan kita, rajin ke gereja, tetapi tidak menyenangkan hati Allah, karena hidup kita: lain di bibir lain di hati. Banyak orang bermulut manis di depan kita, tetapi lidahnya bercabang di belakang kita. Hidup demikian tidak menyenangkan hati Allah, karena munafik dan tidak bernilai.

4.Tuhan menghendaki perbuatan yang muncul dari kemurnian hati, hidup yang mencintai  Tuhan dan sesama secara tulus. Tuhan lebih memperhatikan apa yang terjadi di dalam hati kita daripada yang terungkap lewat perbuatan namun tidak berdasarkan hati yang murni. Tuhan menghendak hati kita.

“Orang yang tidak tahu Kitab Suci berarti tidak tahu akan Kristus” (St. Hieronimus)

Sabtu, 01 September 2018

Renungan Harian GML : HIDUP YANG MENGHASILKAN BUAH


BACAAN
1Kor 1:26-31 – “Yang lemah dan tak berdaya dipilih Allah”

Mat 25:14-30 – “Karena engkau setia memikul tanggung-jawab dalam perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu”

RENUNGAN
1.Talenta merupakan harta kekayaan Kerajaan Allah yang diberikan kepada setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Tuhan memberi talenta yang kita perlukan untuk menghasilkan buah-buah bagi Kerajaan Allah, dan Allah mengharapkan kita bertanggungjawab atas talenta tersebut.

2.Hamba yang menggandakan talenta pemberian Tuhan memahami tujuan hidup mereka. Ia selalu murah hati, hidup berbagi, dan penuh kasih. Dan ia menerima hadiah dari Allah dan tanggungjawab yang lebih besar. Masing-masing dari kita juga diberi kesempatan untuk hidup dengan menggunakan talenta yang kita terima demi kemuliaan Allah dan membantu menyelamatkan jiwa orang lain. Setelah seharian kita bekerja, yakinkan diri kita bahwa Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia.”

3.Kita sering membandingkan diri dengan orang lain: orang lain diberi banyak, kita diberi sedikit. Ini menjadi alasan untuk malas menghasilkan buah-buah Kerajaan Allah. Allah tidak mengharapkan laba lima talenta kepada orang yang diberi satu talenta. Tetapi hamba yang malas lebih mengutamakan egoisme, cinta diri dan kemalasannya. Kita harus berketetapan untuk menggunakan talenta pemberian Allah dengan bijaksana agar menghasilkan buah berlipat.

MS,1.9.18,