Minggu, 16 September 2018

Renungan Harian GML : ENGKAU ADALAH MESIAS PUTRA ALLAH YANG HIDUP


 Salam jumpa saudari-saudara sekalian. Hari ini Minggu Biasa XXIV Tahun B. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk membuat penegasan atas pengenalan kita akan Yesus Kristus yang kita imani. Pertanyaan Yesus kepada murid-murid yang memuncak pada jawaban Petrus, menjadi pertanyaan yang harus kita jawab juga. “Kata orang, siapakah Aku ini? Tetapi meneurut kamu, siapakah Aku ini?” Mengenal Yesus, bisa dan boleh saja dari kata orang ataupun dari sharing orang lain. Namun menjadi murid Yesus harus menjadi sebuah keputusan pribadi dari hasil pengenalan akan Yesus secara mendalam dan menyeluruh. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana Petrus yang baru saja mendapatkan pujian oleh Yesus atas jawabannya yang tepat tentang Yesus, ia langsung juga dihardik oleh Yesus: “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Hal itu terjadi karena Petrus tidak mau terima bahwa Yesus. Mesias itu akan mengalami penderitaan. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama telah melukiskan bahwa Mesias itu akan taat setia kepada Allah, bahkan ketika Ia harus menanggung penderitaan atas orang-orang yang memukuli punggungnya dan mencabuti janggutnya (Yes 50: 5-6). Rasul Yakobus, dalam bacaan kedua, menyampaikan bahwa imn kepada Yesus itu harus konkrit; harus nyata di dalam sikap dan perbuatan-perbuatan. “Kalau seroang di antara kamu berkata saudara yang tidak punya pakaian dan kekurangan makanan: ‘selamat jalan saudara! Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang’ tetapi ia tiidak memberikan kepadanya apa yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya? Demikian pula jIka iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:16-17). Iman adalah keyakinan yang mendarah daging dan mempengaruhi sikap dan tingkah laku yang semakin sesuai dengan kehendak Allah. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus membantu kita untuk bertumbuh sebagai Kristus-Kristus kecil di dunia ini. 

Saudari-saudara sekalian, gambaran kita tentang Kristus ataupun Mesias akan mempengaruhi sikap dan tindakan hidup kita. Petrus dan para murid ditegur oleh Yesus supaya mereka tidak ‘memikirkan apa yang dipikirkan manusia’, yang menggambarkan Mesias sebagai raja besar yang kuasa, atau sebagai seorang nabi, atau seorang tokoh yang mengatur bidang politik. Sebaliknya Yesus menegaskan, bahwa Ia adalah Anak Manusia, yang justru harus menderita sengsara dan mati dibunuh, akan tetapi juga akan bangkit lagi. Kebangkitan Yesus tidak terlepas dari peristiwa penderitaan dan kematian-Nya. Bagaimana gambaran kita sendiri sekarang ini tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita? Bukankah bagi kita ini sebenarnya lebih mudah daripada murid-murid Yesus dahulu? Sebab kita mengenal Yesus sebagai Penyelamat yang sudah bangkit. Tetapi kenyataannya? Isi, bobot dan kadar iman kita akan Dia kerapkali tidak berbeda dari kepercayaan murid-murid Yesus sebelum Ia menderita, mati dan bangkit! Gambaran kita tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat sering bercorak duniawi, politis, megah, dan karenanya mengharapkan agar kebesaran Kristus dapat tampak dalam kesejahteraan, kemakmuran, kemegahan, kesembuhan, dan pengalaman mengagumkan. Apapun yang ada hubungannya nama kristiani harus tampak istimewa, terkenal, dikagumi, disegani daan dipuji orang. Semua itu baik adanya. Namun tidak boleh dilupakan bahwa kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati ataupun menunggu Kristus buat untuk kita. Kristus tinggal di dalam diri kita agar kita bersama-sama dengan Dia turut mengupayakan keadaan yang jaya itu. Proses untuk mencapai itulah yang berat ataupun menjadi salib bagi kita. 

Saudari-saudara, dalam tuntunan Gereja Lokal atau keuskupan, kita diajak untuk mewujudkan kehidupan iman kita di dalam perbuatan-perbuatan. Pengamalan Pancasila merupakan lahan dan sarana kita mewujudkan kehidupan iman itu di dalam dan bersama warga sesama anak bangsa. ‘Kita Bhinneka Kita Indonesia’ dan di tahun depan ‘Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat’ merupakan semboyan yang membutuhkan peran serta kita sekalian di dalam mengupayakan dan melaksanakannya. Merupakan tantangan besar membangun persatuan di tengah-tengah isu-isu primordialisme yang mengedepankan kepentingan tertentu seperti kepentingan politik dan golongan. Sebagai murid Yesus, kita harus sanggup. Salam Bhinneka salam Pancasila. (Rm.  Yohanes Purwanta MSC) 

0 komentar:

Posting Komentar